ENSIKLOPEDIA TOKOH BATAK

Gomar Gultom

5 Februari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Memperjuangkan Pluralisme Tanpa Gus Dur

Gomar Gultom


Gereja adalah ekklesia di mana umat yang dipanggil keluar dan masuk ke dalam terangnya yang ajaib. Itu artinya Gereja harus menjadi terang bagi kehidupan banyak orang. Namun, kerapkali Gereja tidak memberikan apa-apa bagi kehidupan banyak orang, padahal “Tuhan itu baik untuk semua orang.” Kita harus mampu mengimplementasikan bahwa Tuhan baik kepada semua orang, tidak hanya kepada PGI saja. Apakah dia Pentakosta atau Saksi Jehowa atau pun umat lain. Karena Tuhan juga baik terhadap mereka.

Demikian kata Sekretaris Jenderal Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia, Gomar Gultom, saat menerima TAPIAN di ruang kerjanya di Gedung PGI di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Dia baru saja terpilih menjadi sekretaris jenderal perhimpunan gereja-gereja di seluruh Indonesia. Huria Kristen Batak Protestan yang mencalonkannya.

Gomar adalah anak dari Teodosus Gultom, seorang pegawai di Departemen Agama, sementara ibunya adalah Ramean Siregar, seorang parrengge-rengge atau pedagang kata orang kebanyakan. Dia lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, pusat HKBP, yang merupakan sinode gereja terbesar di Asia Tenggara, pada tanggal 8 Januari 1959. Masa kecilnya, dilewatkan di kota tersebut hingga umur enam tahun. Baru kemudian pindah ke Medan mengikuti kepindahan ayahnya sebagai pegawai Departemen Agama. Sekolah dasarnya dia tamatkan di SD GKPI Air Bersih, Medan. Sedangkan sekolah menengah pertama lulus dari SMP Kristen III, Salatiga. Dia menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Kristen I PSKD, Jakarta. Lalu dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta. Saat ini, di kampus yang sama, dia sedang menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral di jurusan devinity atau pelayanan.

Perawakan kecil dengan visinya yang besar untuk kemajemukan bangsa. Gomar bergerak lincah melakukan tugas yang disebutnya sebagai ”pengabdian bagi Tuhan dan Negara.” Di Jakarta, sebagai anak dari vorhanger atau penatua di HKBP Pulo Asem, Gomar tentu aktif di gereja. Namun, menurutnya, ilham yang membuat dia tertarik menjadi pendeta adalah Alfred Simajuntak, pencipta lagu Bangun Pemuda-Pemuda, ketika sang komponis menjadi pengajar untuk para guru Sekolah Minggu di mana Gomar juga menjadi salah seorang tenaga pengajar. Alfred tidak saja menggugah batin, tetapi juga memberi semangat dan kemampuan bagi Gomar yang telah memutuskan untuk menjadi seorang Hamba Tuhan.

Gomar takkan lupa pada orang-orang yang telah turut mengantarnya sampai di puncak kariernya sekarang ini sebagai pengelola dari sekian banyak gereja dengan sekian banyak kecenderungan di seluruh negeri ini. “Melalui pengajaran, Simanjuntak mendorong saya untuk masuk sekolah teologia. Saya juga banyak dipengaruhi oleh pendeta Sahat Rajagukguk, seorang pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang adalah juga salah seorang pengurus PGI. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terjun dalam gerakan okumene. Selain itu, S.A.E. Nababan turut juga memberikan pengaruh pada saya. Dan, yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah ayah saya. Ayah saya dulu bekerja di Departemen Agama, dan duduk sebagai vorhanger di HKBP Pulo Asem.” Begitu dia melihat ke belakang, mengenang, menghitung orang-orang yang telah berjasa membawanya ke puncak yang menjadi dambaan semua orang yang telah berserah diri menjadi hamba Allah.

Cinta pertama
Lulus dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Desember 1983, dia lalu menjalani masa vikariat atau penggemblengan sebelum menjadi pendeta di Tongging, Tanah Karo, persis di bibir Danau Toba. Gomar tidak mau duduk di menara gading Gereja sebagai “amang pendeta” yang sabam hari mempersiapkan khotbah di mimbar. Buat di khotbah bukanlah rangkaian kata-kata yang dibiarkan kosong. Khotbahnya adalah tindakan langsung, dengan terjun mengurusi masalah-masalah sosial dan melakukan penyadaran hukum melalui Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM). Gomar mencoba melalui LSM tersebut menjalankan panggilan gereja untuk hadir bersama masyarakat miskin, lemah dan menderita. Gomar tidak pernah mematok gelanggang pelayanan hanya di gereja. Dia juga menjadi dosen bagi para calon pendeta di STT Nomensen, Pematang Siantar. Dia sempat juga memberikan pelayanan khusus untuk pemuda di HKBP Resor Petojo, Jakarta. Gomar juga yang menggagas penyelenggaraan Perkemahan Kerja Pemuda Gereja.

Sebagai pendeta dan juga aktivis dia bersentuhan dengan Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara, di Jakarta. Selain ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dia juga aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 1991, dia dipercaya menjadi Kepala Biro Pembinaan HKBP.
Masa mudanya dia lalui seperti air yang mengalir. Sebagaimana seorang pemuda dia juga mengalami cinta pertama dan sekaligus menjadi cinta terakhir bersama Loli Jendrianita Simanjuntak, seorang dokter spesialis ilmu penyakit dalam di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Kedua sejoli ini dipertemukan oleh pandangan pertama. Mereka berkenalan pada waktu Gomar duduk di bangku SMA, sedangkan Loli masih SMP ketika itu.

“Saya kenal dia waktu itu saat masih SMP. Saat itu, kita berkemah di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Pulang dari sana kita mampir di Cianjur, rumah sepupu dari salah satu teman. Di sinilah pandangan pertama itu menemukan mimpinya. Di situlah kami kenalan, dikenalkan saudara sepupu teman saya itu. Sejak itu, kita surat-menyurat. Lancar terus-menerus. Kita pacaran semenjak SMA hingga perguruan tinggi,” ujar Gomar mengenang masa-masa romantisnya sebelum membangun biduk rumahtangga. Tuhan mengaruniai pernikahannya seorang puteri, Agustina Marisi Nauli, yang saat ini menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

Sebelumnya, Gomar tidak pernah dijagokan untuk menempati posisi Seketaris Jenderal di PGI. Lima tahun lalu, Gomar dipercayakan sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, yang memberikan ruang lebar kepadanya untuk bisa melayani umat. Sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, dia amat aktif dan mendorong penegakan hukum dan hak-hak asasi manusia. Pada Sidang Raya di Mamasa, Sulawesi Tenggara, Gomar terpilih menjadi Sekretaris Jenderal mengantikan Richard Daulay dari Gereja Metodist Indonesia. Sedangkan ketua umum tetap berada dipundak A. A. Yewangoe.

PGI adalah organisasi gereja Protestan yang menaungi sekiatar 80-an Sinodal, dan itulah yang membuka wacana baru yang lebih luas bagi cakrawala pikiran Gomar tentang perlunya semangat pluralisme. Di PGI, Gomar merasakan sekali suasana yang saling menghargai yang menjadi esensi konstitusi tentang kebebasan beragama. Implemetansinya adalah menghargai orang yang berbeda agama. Yang harus dilakukan para pemimpin umat adalah membina umatnya sendiri supaya tidak tergoda dengan ajaran yang berbeda, demikian kata Gomar.

Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah-masalah konstitusi, gereja harus terus aktif berjuang agar penyelesaian masalah tidak dibelokkan oleh semangat sektarianisme. “Hukum adalah produk politik dan merupakan cerminan kemenangan dari kekuatan politik yang nyata. Di dalamnya termasuk penguasaan taktis legislasi, bukan hanya soal kekuatan jumlah. Oleh karena itu, gereja harus melibatkan diri di sini, walau berada dalam jumlah yang kecil, agar produk hukum tidak bias untuk kepentingan agama tertentu.”

Membela Ahmadiyah
Mengapa tertarik pada gerakan okumenis? “Gereja itukan ekumenis, artinya satu kesatuan. Gereja yang mula-mula sampai gereja yang sekarang harus okumenis. Di PGI gerakan itulah yang kita bangun. Saya ditugaskan HKBP untuk duduk di PGI. Tetapi jauh sebelum menjadi pendeta, semasih di STT Jakarta, saya sudah bergelut dalam gerakan ini. Pertama, di komisi pemuda ekomenis,” katanya. Dia pernah duduk sebagai Wakil Ketua Kelompok 17 yang menggagas pembinaan pelayanan pemuda di Biro Pemuda PGI.

“Banyak orang yang tidak tahu banyak apa yang dilakukan PGI. Banyak yang telah dilakukan, tentang legislasi nasional, tentang penegakan HAM, penegakan hukum di Indonesia. Misalnya membela Ahmadiyah. Nggak ada lembaga-lembaga gereja selain PGI yang berani membela Ahmadiyah, dalam rangka kebebasan beragama. Hanya saja media tidak pernah memberitakannya, mungkin karena PGI tidak seksi untuk diberitakan,” ujarnya terbahak-bahak.
Hubungan dengan agama lain? “PGI menjalin hubungan dengan agama-agama lain, dengan semua elemen bangsa, dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dengan Hindu, Budha, bahkan dengan Parmalim sekalipun. PGI konsisten dalam mengawal konsitusi kita. Belakangan ini konstitusi kita tergerus oleh semangat sekretarianisme, fundamentaslisme, yang ingin menggantikan konstitusi dengan syariah agama,” katanya menunjukkan.

Selain aktif di gereja, Gomar juga giat di dalam masyarakat, sebagai aktivis dalam pelayanan buruh melalui PMK HKBP, bersama Luhut Pangaribuan, Ade Rostina Sitompul, Asmara Nababan, Yoppie Lasut dan beberapa pengacara lainya dari Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara (LPHWN) di mana Gormar juga dipercaya sebagai sekretarisnya. Lewat lembaga ini pula, bersama teman-temannya, Gomar memberikan penyadaran hukum kepada para tahanan politik, terutama tahanan politik eks-PKI yang sangat rentan posisinya dan hampir terabaikan dalam aspek kehidupan selama rezim Orde Baru.

Tahun 1999-2004, Gomar juga aktif dalam pelayanan masyarakat Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK), dan jabatan terakhirnya adalah Direktur Program. JKLPK sendiri sangat aktif mengadvokasi pembentukan Kabupaten Mentawai. Juga mencarikan jalan damai bagi konflik di Papua dan Maluku.

Sedari dulu Gomar juga aktif membangun semangat kemajemukan. Pada aras gereja dia aktif dalam gerkanan oukumenis dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika bersama-sama dengan agama lain. Dia ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dan aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tungga Ika. Kedua lembaga ini, dengan semangat yang sama, bergerak melawan semangat sektarianisme, fundamentalisme, yang coba menggerus semangat keberagaman.

“Selama ini kita terkooptasi, terkotak-kotak. Pelarangan terhadap Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Medan, oleh jemaat HKBP ditentang oleh PGI. Saya sebagai sekretaris esekutif bidang Diakonia PGI ketika itu melakukan pertemuan dengan jemaat HKBP yang menentang berdirinya Ruma Parsaktian itu. PGI mendukung berdirinya Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih. Orang berhak mendirikan rumah ibadahnya. Yang kami perjuangkan adalah kebebasan beragama, bukan memperdebatkan masalah doktrin,” katanya menjelaskan.

Dia pendeta tulen sekaligus aktivis murni. Itu bisa terbaca beberapa waktu lalu, saat Gomar mengikuti pertemuaan lintas agama yang juga dihadiri Pangeran Charles dari Inggris. Gomar mengenakan baju tohonan, baju pendeta mirip baju koko, berwarna hitam. Sebagai aktivis, keberanian Gomar terlihat saat mimimpin demonstrasi anti-globalisasi di dekat Istana Malacanang, Manila, tahun 2003 lalu. Demikian pula, pada bulan Maret 2009 lalu, saat pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB) dan gedung Serbaguna HKBP di Jalan Pesanggarahan, Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok oleh Walikota Depok Nurmahmudi Ismail. Lewat keputusan Walikota Depok tersebut menyebabkan ditutupnya Gereja HKBP itu. Gomar melawan budaya otoriter tersebut. Dia memimpin doa keperihatinan.

Pembakaran rumah ibadah

Semangat perlawanan tersebut terinspirasi oleh keberanian Gus Dur yang mau berjuang untuk tegaknya kebebasan beragama. “Gus Dur telah memberikan pelajaran bagi kita. Dia selalu memasang badan untuk orang-orang yang berupaya memberangus kemajemukan, yang mencoba merongrong semangat kemajemukan tersebut. Kita tidak menafikan adanya gesekan selama ini. Tetapi, buah hidup yang diperjuangkan oleh Gus Dur selama ini sudah mulai bersemi. Kami sebenarnya mau pergi ke kuburan Gus Dur, tetapi oleh Gus Solah (Solahuddin, adik Gus Dur) meminta jangan dulu datang ke sana, sebab sampai hari ini masih berduyun-duyun orang datang ke kuburuannya.”

Menurut Gomar, dia beberapa kali bertemu dengan Gus Dur, di PGI, di Cigajur, rumah Gus Dur sendiri, bahkan tatkala sama-sama menjadi narasumber pada seminar atau diskusi tentang kebebasan beragama. “Kita kehilangan Gus Dur. Tetapi, melihat respon masyarakat terhadap kematian beliau, itu artinya bahwa ke depan kita tidak perlu takut terhadap benih pluralism yang mulai bersemi. Selama masyarakat memperjuangkan kemajemukan yang telah ditancapkan Gus Dur, asal selalu kita sokong, niscaya kebebasan beragama akan bersemi. Kita harus mandiri. Tanpa Gus Dur kita harus terus memperjuangkan pluralisme tersebut. Kita harus menjadi dewasa, dan terus merawat pluralime itu. Dengan PGI sendiri, Gus Dur sangat akrab. Bermula dari Sidang Raya PGI di Surabaya, ketika Gus Dur mengajak perserta sidang mengunjungi pesantren. Kita melihat figure Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang terus memperjuangkan kebebasan beragama,” ujar Gomar. Ini juga yang disampikan oleh Gomar pada saat pelucuran buku Sejuta Hati Untuk Gus Dur di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, awal Januari lalu.

Sekarang, kebebasan beragama memang masih jauh dari harapan, masih ada riak-riak yang selalu membuat gesekan, misalnya penutupan bahkan pembakaran rumah ibadah. Tetapi, jika banyak sosok yang berjuang seperti Gomar Gultom, maka kebebasan beragama bukanlah cita-cita yang kosong. Kelak Indonesia tidak dinilai sebagai negara demokrasi yang abu-abu, tetapi negara demokrasi dengan jumlah penduduk yang besar yang menghargai kebebasan beragama bagi semua penganutnya.***Hotman J. Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agamawan · Aktivis
Ditandai:

T B Simatupang

5 Februari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama TB

Tahi Bonar Simatupang

Simatupang (lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 – meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 pada umur 69 tahun) adalah seorang tokoh militer dan Gereja di Indonesia. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Simatupang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana. Ayahnya Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, terakhir bekerja sebagai pegawai kantor pos. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Tarutung 1937, lalu ke AMS di Jakarta dan selesai pada 1940. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Simatupang mendaftarkan diri dan diterima di Koninklije Militaire Academie (KMA) – akademi untuk anggota KNIL, di Bandung dan selesai pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia yang kemudian merebut kekuasaan dari pihak Belanda.

Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954). Pada 1954-1959 ia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno waktu itu.

Simatupang pernah mengatakan bahwa ada tiga Karl yang mempengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20. Seluruh kehidupan Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dll.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya. Simatupang percaya bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang menguasai ilmu manajemen di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat.
Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari

Simatupang menikah dengan Sumarti Budiardjo yang adalah adik dari teman seperjuangannya Ali Budiardjo. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, salah seorang di antaranya meninggal
Karya tulis:

* Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956)
* Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit selama Perang Kemerdekaan (1960)
* Pemerintah, Masjarakat, Angkatan Perang: Pidato-pidato dan karangan-karangan 1955-1958 (1960)
* Tugas Kristen dalam Revolusi (1967)
* Capita Selecta Masalah Hankam (1967)
* Pengetahuan Militer Umum (1968)
* Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)
* Diskusi Tjibulan II: Dukungan dan Pengawasan Masjarakat dalam Pembangunan, 9-11 Djanuari 1970 (disusun bersama oleh Anwar Harjono, H. Rosihan Anwar, T.B. Simatupang) (1970)
* Kejakinan dan Perdjuangan: Buku Kenangan untuk Letnan Djenderal Dr. T.B. Simatupang (1972)
* Keselamatan Masakini [disusun oleh T.B. Simatupang, bersama S.A.E. Nababan dan Fridolin Ukur (1973)
* Buku Persiapan Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia, 1975 (1974)
* Ketahanan Nasional dalam Situasi Baru di Asia Tenggara: Ceramah pada tanggal 30 Juni 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta (1975)
* Ceramah Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. T.B. Simatupang di AKABRI Bagian Darat, tanggal 4 November 1981 [microform] (1981)
* Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981)
* Arti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan: Ceramah tanggal, 14 Oktober 1980 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta (1981)
* Iman Kristen dan Pancasila (1984)
* Harapan, Keprihatinan dan Tekad: Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985)
* Kehadiran Kristen dalam Perang, Revolusi dan Pengembangan: Berjuang Mengamalkan Pancasila dalam Terang Iman (1986)
* Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang (penyunting: H.M. Victor Matondang) (1986)
* Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980)
* Peranan Agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Negara Pancasila yang Membangun (1987)
* Dari Revolusi ke Pembangunan (1987)
* 70 tahun Dr. T.B. Simatupang: Saya adalah Orang yang Berhutang [penyunting: Samuel Pardede] (1990)
* Penghayatan Kesatuan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila Menuju Tinggal Landas (1990)
* Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos: Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa, dan Negara (1991)

Sumber:

http://id.wikipedia.org/wiki/T._B._Simatupang

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agamawan · Tokoh ABRI
Ditandai:

Ludovikus Simanullang, Dr. OFM Cap.

3 Februari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dr. Ludovikus Simanullang, OFMCap, pastor kelahiran Sogar, Barus,

Dr. Ludovikus Simanullang, OFMCap

Tapanuli Tengah, 23 April 1955 adalah Uskup Keuskupan Sibolga. Pengangkatannya secara resmi diumumkan Vatikan pada tanggal 14 Maret 2007 dan ditahbiskan pada Minggu, 20 Mei 2007.

Pusat Data Tokoh Indonesia dari Keuskupan Sibolga mencatat, sebagai pastor, Ludovikus Simanullang, OFM Cap. ditahbiskan Imamat pada bulan Juli 1983 dan memulai pengabdian di paroki Tarutung Bolak. Kemudian tahun 1988-1993 ia melanjutkan studi di Universitas Antonianum Roma. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali ke tanah air. Lalu tahun 1993-1997 ia menjabat Magister Postulan Mela sekaligus moderator Paroki Tarutung Bolak.

Kemudian terpilih menjadi Minister Provinsial di Propinsi Kapusin St. Fidelis (Sibolga) periode 1997-2003. Pada tahun 2006, terpilih lagi sebagai Minister Propinsial untuk ketiga kalinya. Selain itu, ia juga aktif sebagai formator para frater di STFT St. Yohanes Pematang Siantar.

Upacara penahbisannya sebagai Uskup Keuskupan Sibolga diselenggarakan pada hari Minggu, 20 Mei 2007 pukul 9.00 wib. Upacara itu dimulai dengan prosesi dari Katedral menuju tempat perayaan di lapangan Simaremare, Sibolga. Ia menerima tahbisan Episkopat dari Duta Besar Vatikan, Mgr. Leopoldo Girelli. (Sumber: Blasius S. Yesse Pr, Sekretaris Keuskupan Sibolga)

Acara Penahbisan

28 Uskup, 100 Pastor dan 8.000 Umat Katolik Hadiri Pentahbisan Uskup Mgr DR Ludovikus Simanullang OFMCap

Pentahbisan Uskup Keuskupan Sibolga Mgr DR Ludovikus Simanullang OFMCap olehDuta Vatikan di Indonesia Mgr Leopoldo Girelli dihadiri 28 Uskup se- Indonesia, 100 Pastor dan 8.000-an umat Katolik se- Keuskupan Sibolga, Minggu (20/5) di Lapangan Simare-mare Sibolga Jalan Sutomo Sibolga.

Pentahbisan ditandai pemakaian cincin, mitra (topi) dan tongkat kegembalaan dimana yang secara keseluruhan perayaan tersebut berlangsung aman dan lancar.

Ketua Panitia Perayaan Pastor R Daely OFMCap dalam laporannya mengatakan, seluruh umat Katolik di Keuskupan Sibolga sebanyak 210.000 jiwa tersebar di 7 kabupaten/kota yaitu Kota Sibolga, Tapteng, Kota Padang Sidempuan, Madina, Tapsel, Nias dan Nisel bergembira dan bersyukur atas pentahbisan ini karena sudah lebih 3 tahun Keuskupan Sibolga tidak memiliki Uskup.

Menurutnya, penghunjukkan Pastor Ludovicus menjadi Uskup Keuskupan Sibolga diumumkan tahta suci di Roma, Rabu (14/3) oleh Bapa Suci Sri Paus Benedictus XVI dan dilanjutkan ke Nuntius (Duta) Vatikan di Indonesia Mgr Leopoldo Girelli.

“Sejak Mgr DR Anesetus B Sinaga dihunjuk sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Medan bulan Februari 2004 lalu, Uskup di Keuskupan Sibolga menjadi lowong,” jelas dia seraya berharap kehadiran Uskup baru di Keuskupan Sibolga semakin menyadarkan existensi sebagai umat beriman untuk senantiasa bangkit dan bergerak demi habitus baru yang kita dambahkan bersama.

Walikota Sibolga Drs Sahat P Panggabean MM dalam sambutannya berharap, kerjasama Katolik dengan Pemerintah semakin berjalan baik untuk saling membantu dalam melaksanakan pembangunan.

“Peranan Katolik yang sangat besar dalam pembangunan di daerah ini adalah pendidikan dan pembangunan spritual,” katanya seraya menambahkan permasalahan rakyat yang sedang di hadapi saat ini seperti tekanan ekonomi, kekerasan dan pelanggaran hukum hingga perusakan lingkungan semakin rumit sehingga peranan Gereja sangat diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pada kesempatan tersebut Walikota Sibolga bersama unsur Muspida Plus Kota Sibolga di antaranya Ketua PN Sibolga Dj Pasaribu, Ketua DPRD Kota Sibolga Syahlul Situmeang dan Ketua TP PKK Sibolga Rumintang Uli Lumbantobing didampingi pimpinan instansi di lingkungan Pemko Sibolga dan sejumlah pejabat dari berbagai daerah di antaranya Wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha SH, mantan Bupati Simalungun Ir Jhon Hugo Silalahi, anggota DPD asal Sumut Parlindungan Purba mengalungkan bunga kepada para Uskup dan ulos kepada Uskup Mgr Ludovicus.

Sejumlah kebudayaan daerah di wilayah Keuskupan Sibolga juga ditampilkan pada perayaan tersebut di antaranya tarian dari Nias, Nias Selatan, Padang Sidempuan dan Pangaribuan dan upah-upah masing-masing dari etnis Nias, Batak dan Tionghoa.

Malam harinya usai perayaan, Walikota Sibolga menjamu makan malam bersama Duta Vatikan, para Uskup dan rohaniwan Katolik di Pendopo Rumah Dinas di Jalan Dr Ferdinan Lumbantobing Sibolga. (Sumber: SIB 21 Mei 2007) FOTO: http://frans.zai.web.id/wp-content/uploads/2007/10/mgr-ludovicus-simanullang.

Biodata:
Pastor. Dr. Ludovikus Simanullang, O.F.M. Cap.
Lahir:
Surabaya, 1 Oktober 1941
Agama:
Kristen
Jabatan:
- Uskup Keuskupan Sibolga
Pendidikan:
- Universitas Antonianum Roma, 1988-1993
Karir:
Pastor Imamat paroki Tarutung Bolak, 1983-1988
- Magister Postulan Mela sekaligus moderator Paroki Tarutung Bolak, 1993-1997
- Minister Provinsial di Propinsi Kapusin St. Fidelis (Sibolga) periode 1997-2003 dan 2006
- Formator para frater di STFT St. Yohanes Pematang Siantar
- Uskup Keuskupan Sibolga, sejak 20 Mei 2007

Alamat:
Keuskupan Sibolga
Jln. AIS Nasution No. 27, Sibolga 22513 Tlpn:0631-371761

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agamawan

A.E Manihuruk

28 Januari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Orang Batak tidak akan melupakan jasa-jasanya. Dialah satu-satunya

AE Manihuruk

orang yang bisa disebut pejabat “sukuisme” dalam arti yang positif. Katanya, dulu, setiap orang Batak yang melamar ke BAKN 90% pasti diterima, demikian pula jika melamar pegawai negeri, AE Manihuruk pasti memabuntu. Itu sebabnya, di masa dia menjabat orang Batak yang terbanyak menjadi pegawai negeri.

Kariernya dimulai dari tentara hingga pangkat terkahir Letnan Jenderal. Dia adalah Arsinius Elias Manihuruk, mantan Ketua Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN). Meninggal pada usia 82 tahun, pada hari Jumat (10/1) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

AE Manihuruk meninggalkan seorang istri, Rohim Boru Sihaloho (84), dan lima anak, Yeni Rita Manihuruk (58), Guntur Manihuruk (51), Posman Manihuruk (49), Sahala Manihuruk (47), dan Sahat Manihuruk (45).

Berlin Simarmata, dalam weblognya menyebut, di kampung kami beliau dikenal sebagai seorang pejuang,yang tadinya adalah seorang guru,lalu masuk TNI pada masa perjuangan.Disamping pejuang,beliau dikenal sebagai seorang yang berhati baik,suka menolong orang kampung kami,dalam batas-batas kemampuannya.

“Saat saya murid SMP di Pangururan-Samosir,saya satu kelas dengan putrinya Jeanny boru Manihuruk.Pada saat saya kuliah di ITB Bandung,saya dapat kesempatan berkenalan dengan keluarga beliau.Beliau berada di Bandung,karena mendapat tugas sebagai dosen Seskoad. Selama di Bandung beliau juga diangkat sebagai Penasehat Muda Mudi Silalahi Sabungan. Saya pun mengenal beliau secara dekat tatkala pernikahan Letnan Dua Tukang Simarmata, dengan Emmy boru Tobing.Beliau bertindak sebagai wali penganten laki-laki,dan saya sebagai panitia resepsi,” tulis Berlin.

“Nasehat beliau yang paling berkenan di hati saya adalah:Jangan melupakan kampung halaman atau bonapasogit.Beliau mengkritik Kolonel Maludin Simbolon dan Mayor Raja Permata alias Sangga Raja Simarmata,yang tidak mempedulikan pulau Samosir.Beliau masih berpangkat Letnan Satu,tatkala kedua nama yang disebut terdahulu sebagai Panglima Kodam Bukit Barisan dan Komandan Batalion di BB,” tambah Berlin mengenang AE Manihuruk.***Hotman J. Lumban Gaol

Biodata:
Letjen (Purn) AE Manihuruk
Lahir:
Lumban Suhi-suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara, 29 Februari 1920
Meninggal:
Jakarta 10 Januari 2003
Dikebumikan:
Samosir 16 Januari 2003
Agama:
Kristen
Isteri:
Rohim Boru Sihaloho
Anak:
Yeni Rita Manihuruk (58), Guntur Manihuruk (51), Posman Manihuruk (49), Sahala Manihuruk (47), dan Sahat Manihuruk (45)
Pangkat Terakhir:
Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir:
Ketua Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) tahun 1972-1987
Organisasi:
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golongan Karya (Golkar) periode tahun 1987-1992
Pemimpin Umum majalah Koppri, majalah gratis, tahun 1988

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pejabat · Tokoh ABRI

Torang Lumban Tobing

28 Januari 2010 · 1 Komentar

Kabupaten Tapanuli Utara adalah kabupaten induk dari empat

Torang Lumban Tobing

kabupaten (Dairi, Toba-Samosir, Samosir, Humbang-Hasundutan) di Sumatera Utara. Ibu kotanya berada di Tarutung. Memiliki wilayah seluas 10.605 km² dan penduduk diperkirakan lebih-kurang sekitar 750.000 jiwa. Masa pendudukan Belanda, Kabupaten Tapanuli Utara termasuk ke dalam Karesidenan Tapanuli yang berada di Sibolga.

Setelah zaman kemerdekaan 5 Oktober 1945, Tapanuli dibagi tiga bagian Tapanuli Tengah (Sibolga), Tapanuli Utara (Tarutung), Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan) dengan masing-masing pejabat pemerintahan dipimpin bupati. Di Tapanuli Utara, bupati pertama adalah Cornelius Sihombing.

Kini, Kabupaten Tapanuli Utara dipimpin Torang Lumbantobing. Bupati yang telah menjabat dua periode ini dari (2004-2009) hingga (2009-2013). Bupati yang dinilai merakyat karena mau naik-turun gunung, menginap di rumah-rumah warga, demi merasakan apa keinginan warganya yang ada di pedalaman.

Torang lahir di Tapanuli Utara, 15 Agustus 1958. Menikah dengan Elly Marsaulina Manalu. Pasangan ini dianugerahkan Tuhan empat anak yaitu: Eduward Lumbantobing, Chrismanto Lumbantobing, Christin Lumbantobing, dan sibungsu Vanana Lumbantobing.

Memulai pendidikannya Sekolah Dasar di SD Bersubsidi HKI Tarutung. Lulus dari SD tahun 1973, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Tarutung. Lulus SMP tahun 1976, melanjutkan ke Sekolah Teknologi Mengah di STM Negeri Pansurnapitu, lulus tahun 1980.

Memulai kariernya dari bawa sebagai PNS di Kelurahan Hutatoruan VI- Tarutung. Lalu, sejak tahun1983-1984 berlahan memulai debutnya di organisasi dengan menjadi Bendahara Angkatan Muda Pembaharu Indonesia Tapanuli Utara. Dilanjutkan menjadi Ketua Ikatan Pemuda Karya Kabupaten Tapanuli Utara, sejak 1985-1992. Dari sinilah pertemanannya bersemi dengan Olo Panggabean, pendiri dari Ikatan Pemuda Karya, itu. Menjadi salah satu kepercayaan Olo memberikan kesempatan baginya menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah IPK Sumatera Utara, sejak tahun1992 hingga sekarang.

Tahun 1999-2004, Torang berhasil masuk menjadi DPRD II dari Partai Golkar sekaligus menjadi Ketua DPRD Tapanuli Utara 1999-2004. Dari situ kariernya meloncat naik menjadi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara,1999-2004. Dan kini, sebagai Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara. ***Hotman J. Lumban Gaol

Biodata
Torang Lumban Tobing
Tapanuli Utara, 15 Agustus 1958
Kristen Protestan

Kantor:
Jln. Jend. Suprapto No.1 Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara
Telp (0633) 21220 Fax (0633) 21440

Rumah:
Jln. Letjen S.Parman No.1 Tarutung
Telp:(0633) 21011

bupati@taputkab.go.id,
toluto@taputkab.go.id,
toluto58@yahoo.co.id,

Data Keluaga:

Nama Istri : ELLY MARSAULINA MANALU
Nama Putera/Puteri
1. Eduward Lumbantobing
2. Chrismanto Lumbantobing
3. Christin Lumbantobing
4. Vanana Lumbantobing

Pendidikan
SD Bersubsidi HKI Tarutung tahun 1973
SMP Neg. 2 Tarutung tahun 1976
STM Negeri Pansurnapitu tahun 1980

Riwayat Pekerjaan

1. PNS Kelurahan Hutatoruan VI- Tarutung
2. Bendahara AMPI Tapanuli Utara, 1983-1984
3. Ketua IPK Tapanuli Utara, 1985-1992
4. Wakil Ketua DPD IPK Sumatera Utara, 1992-Sekarang
5. Ketua DPRD Tapanuli Utara 1999-2004
6. Wakil Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara,1999-2004
7. Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara, 2004-sekarang
8. Bupati Tapanuli Utara, 2004-2009

Penghargaan

1. Lencana Panca Warsa III, Thn 2003, dari Kwartir Pramuka
2. Manggala Karya Kencana, Thn 2005, dari Kepala BKKBN

→ 1 CommentKategori: Pejabat

Johny Simanjuntak

21 Januari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Johny Simanjuntak, sesepuh Organisasi Non Pemerintah, yang akhirnya lolos menjadi salah seorang anggota Komnas HAM, dari 70 orang

Jhony Simanjuntak

lainnya yang menjadi pesaing ketat baginya, memberi jawab terhadap pertanyaan seputar penegakan hukum lingkungan sepanjang tahun 2007 dan harapannya terhadap putusan PN Jakarta Selatan atas kasus Walhi Vs Newmont, 18 Desember 2007, yang lalu.

Jawaban ini sekaligus dapat mewakili pemikiran Johny, sebagai aktifis yang sejak lama memilih untuk selalu kritis terhadap isu-isu strategis di tingkat nasional dan sekaligus responsif terhadap isu lokal. Khusus, mengenai penegakan hukum lingkungan, sebagai seorang ahli hukum, tentunya penting untuk menjadi bahan pemikiran bagi siapa saja yang memiliki kepedulian dalam pelestarian lingkungan di Indonesia.

Simak, pemikirannya :

Menurut saya, penegakan hukum lingkungan pada tahun 2007, masih jauh dari yang diharapkan. Bahkan, jika merujuk pada fakta lapangan tentang kerusakan lingkungan, penegakan hukum lingkungan sepertinya tidak pernah menjadi agenda utama pemerintah. Apa salahnya, jika penegakan hukum lingkungan dilakukan dengan tindakan ekstraodinary (luar biasa).

Misalnya, memperlakukan kejahatan lingkungan sebagai kejahatan yang sama dengan korupsi sehingga
ada kelembagaan yang memiliki wewenang luarbiasa seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Usulan ini,
sebenarnya bukan hal baru, karena semua orang sudah mengetahui bahwa banjir, bumi yang semakin panas, longsor, berbagai penyakit yang diderita rakyat, muncul, timbul atau terjadi karena adanya pelanggaran hukum lingkungan atau pengabaian hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Korban pelanggaran ini terutama adalah warga, lebih susah lagi adalah warga miskin. Sebenarnya Menteri Kehutanan tahu, Menteri Pertanian juga tahu, Menteri Lingkungan Hidup juga tahu, bahwa kejadian yang menimpa rakyat tersebut adalah akibat perusakan lingkungan hidup. Rupannya, mereka semua tunduk bertekuk lutut di bawah kaki pemilik modal.

Ini cerita alam yang harus dikhiri pada tahun 2008. Kita semua harus kerja keras agar penegakan hukum
ligkungan berlangsung dengan sesuai harapan demi anak cucu kita juga. Harapan saya adalah hakim mestinya mengedepankan pencapaian keadilan melalui putusan mereka, bukan pencapaian pelaksanaan aturan positip belaka. Hakim pemeriksa perkara memiliki otoritas untuk menggali nilai-nilai keadilan yang
hidup di masyarakat.

Memang dibutuhkan keberanian, kecerderdasan dan komitmen Hakim untuk mecapai keadilan yang didambakan semua masyarakat Indonesia. Hakim tidak boleh hanya sebagai corong Undang- Undang melainkan terutama sebagai corong keadilan.

Jaringan Advokasi Tambang

http://www.jatam.org

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aktivis

Baginda Lumban Gaol

19 Januari 2010 · & Komentar

Lumban Gaol Se-Jabodetabek Mendukung Baginda Menjadi Bupati

Baginda Lumban Gaol

Humbang-Hasundutan

Bona Taon adalah budaya Batak, khususnya Toba. Tidak jelas sejak kapan dan tak ada data yang menyebut awal mula perayaan Bona Taon dilaksanakan. Ada yang mengatakan tradisi Bona Taon berasal dari budaya Eropa, yang merayakan setiap awal tahun dengan berpesta bersama. Lalu misionaris Eropa membawanya ke Tanah Batak, menjadikannya bagian seremonial dalam mensyukuri awal tahun baru, dengan memperbarui semangat menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun, jika ditilik budaya Batak, sebelum Tanah Batak menjadi Kristen pun budaya itu sudah ada: yaitu Mangase Taon yang berarti merayakan syukuran mengawali tahun baru. Entah mana yang benar. Yang jelas Bona Taon telah menjadi budaya modern orang Batak di tanah perantauan seperti Jakarta, yang dilaksanakan oleh kumpulan marga. Umumnya perayaan ini berlangsung antara Januari sampai Juni.
Acara awal tahun semacam ini berintikan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atau berdoa bersama melalui pesta satu marga. Saat seperti inilah terlihat semangat kebersamaan satu marga atau yang diungkapkan dalam kata-kata tarida hasadaon ni roha. Hasadaon ni roha bukannya dilakukan para orangtua saja, atau yang sudah berkeluarga, juga ditekankan pada generasi muda dan anak-anak.

Generasi muda ini diharapkan bisa terus menjaga persaudaraan “namarhaha-marangi” pada generasi berikutnya, dan mampu bersaing pada zaman modern dengan tidak meninggalkan budaya Batak.
Karena semangat kebersamaan itulah punguan marga Lumban Gaol se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tidak menyurutkan langkah mereka untuk datang, walau diguyur hujan deras. Mereka terus berduyun-duyun, malah makin sore semakin terasa kehangatan persaudaraan tersebut menuju gelanggang perhelatan yang berlangung

Minggu, 17 Januari lalu, di Gelanggang Olahraga Remaja, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur. Temanya “Ai dihaholongi Debata do nalas roha mangalehon,” yang artinya Tuhan akan memberkati orang yang ikhlas memberi, dan sub-tema berbahasa Indonesia “Melalui pesta Bona Taon Kita Tingkatkan Pelayanan Pada Pomparan Raja Lumban Gaol Dohot Boruna,

Marga induk Lumban Gaol sendiri adalah Marbun, yaitu Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol. Di Jakarta, Bogor, Depok, Tengerang, dan Bekasi sendiri jumlah marga Lumban Gaol ada sekitar 1500 kepala keluarga. Punguan Lumban Gaol ini dipimpin oleh Bernard Lumban Gaol (Amani Boy).

Mendoakan Baginda
Di tengah-tengah acara berlangsung panitia menghibau bahwa Baginda Lumban Gaol saat ini ada bersama kit. Maka, pada sambutannya Bernard mengatakan. “Mari kita doakan amang Baginda sebagai ‘parhobas’ di Humbang-Hasundutan. Pertama kita sudah berangkatkan appara saya, sekretaris Lumban Gaol sekarang menjadi DPRD II di Humbang-Hasundutan. Dan kedua ini, demikian juga Baginda harus berhasil menjadi Bupati Humbang-Hasundutan memenangkan pilkada nanti, “demikian sambutan Ketua Umum Lumban Gaol se- Jabodetabek, ini.

Untuk peneguhan tersebut, seluruh keluarga besar Lumban Gaol, diminta berdiri serentak untuk mendoakan Baginda agar kuat dalam perjuangan. Serentak berdiri berdoa bersama. Intinya, semua usaha manusia sia-sia jika Tuhan tidak dilibatkan, dan tidak perlu takut jika Tuhan memberkati kita. Kita pomparan Raja Lumban Gaol harus maju, harus sejahtera, peduli, dan meningkatkan pelayanan baik dalam suka maupun duka serta berguna tidak hanya bagi Lumban Gaol, tetapi juga bagi Negara dan bangsa. Maka, jika ada yang mau maju harus kita dukung dan kita minta keluarga kita yang ada di Humbang-Hasundutan untuk memilih Baginda Lumban Gaol agar bisa terpilih menjadi bupati.

Di Humbang-Hasundutan sendiri, sudah santer dibicarakan sejumlah kandidat balon Bupati Humbahas periode 2010-2015. Yang sudah resmi menjadi calon adalah Maddin Sihombing, Bazoka Leo Togatorop, Maju Siregar, Sanggam Simamora dan Baginda Lumban Gaol. Baginda Lumban Gaol saat ini berpasangan dengan Saul Situmorang. Baginda adalah mantan Kajari Tapanuli Utara, Tarutung. Tahun 2005 lalu, Baginda ikut maju dalam Pilkada di Humbang-Hasundutan berpasangan dengan Jabangun Simamora, ketika itu. Namun itu belum waktunya, Baginda hanya meraih suara peringkat kedua dari lima kandidat ketika itu. Unutk kali ini Baginda-lah calon yang kuat berpeluang mengalahkan incumbent Maddin Sihombing. Hotman J. Lumban Gaol

→ 8 CommentsKategori: Pejabat

Marsilam Simanjuntak

14 Januari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Marsilam Simanjuntak (lahir di Yogyakarta, 23 Februari 1943; umur 66

Marsilam Simanjuntak

tahun) adalah Sekretaris Kabinet Januari 2000, Menteri Kehakiman Juni 2001, Jaksa Agung Republik Indonesia untuk periode Juli-Agustus 2001.

Pendidikan formalnya adalah di bidang kedokteran. Ia adalah alumni Fakultas Kedokteran UI (1971). Karier awalnya adalah sebagai dokter penerbangan di Maskapai Penerbangan Garuda, yang masih ditekuninya hingga sekarang. Namun demikian, masa kerjanya sempat ‘terpotong’ 17 bulan, karena pada tahun 1974 ia harus mendekam di rumah tahanan Militer Terlibat disangka setelah Peristiwa Malari. Penahanannya berakhir tanpa pernah diadili.

Selepasnya dari tahanan (1975) ia diangkat Sebagai Kepala Kesehatan. Hanya saja, ia harus menerima keputusan Kemudian Percepatan masa pensiun karena menolak menjadi anggota Korps Pegawai Negeri (Korpri) dan indoktrinasi P-4.

Sejak bulan Oktober 2006 Marsillam diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Agus Widjojo dan Edwin Gerungan, Sebagai staf presiden yang dinamakan Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R).

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aktivis · Pejabat

Saktiawan Sinaga

14 Januari 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kalau pecinta sepak bola pasti kenal Saktiawan Sinaga. Pria Batak

Sektiawan Sinaga

kelahiran Medan, Sumatera Utara, 19 Februari 1982 ini, adalah seorang pemain sepak bola nasional. Sakti sebagi pemain dilini depan, sebagi penyerang dengan tinggi badan 171 cm. Dia juga bermain untuk Tim Nasional sepak bola Indonesia.

Debut pertamanya di Tim Senior di Piala Tiger 2004. Anak dari Sudin Sinaga dan Sulastri ini. Ayah dari dua anak bersama istrinya, Nadila Soraya Lubis, mereka adalah Sheva Nazua Sinaga, 4 tahun, dan Deryl Syuza, 5 bulan. Biasanya, orang-orang menyebutnya Sakti atau Wawan.

Tanggal 5 Mei 2009 lalu bergabung dengan Persik Kediri melawan Persija Jakarta, tiba-tiba ia jatuh pingsan dan meregang ke tepi lapangan. Dia masih tak sadarkan diri di 2 menit sehingga ia dibawa ke rumah sakit sempit, RSUD Gambiran. Pada mendiagnosis, ia merasa serangan jantung karena penyakit, kolesterol tinggi dan terlalu lelah karena ia bermain dengan Persik Kediri melawan Deltras Sidoarjo pada 1 Mei 2009.

Karier: Dengan PSMS Medan, Dengan Tim Nasional (U-23), Dengan Tim Nasional Senior, SEA Games 2003 (U-23 tim), Piala Tiger 2004 (tim senior), SEA Games 2005 (U-23 tim), Piala AFF 2007 (tim senior)

Prestasi Dengan PSMS Medan 3 kali memenangkan Piala Emas Bang Yos (2004, 2005, 2006). Dengan Tim Nasional (U-23) 4 Tempat di SEA Games 2005 di Manila, Filipina, mengalahkan malaysia (3rd Places) 0-1. Dengan Tim Nasional Senior , Runner Up Piala Tiger 2004, mengalahkan Singapura (aggregat kalah 2-5, kalah 1-2 di rumah pertandingan dan kalah 1-3 di pertandingan).***Hojot Marluga

→ Tinggalkan KomentarKategori: Selebritis

Miranda Gultom

29 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perjuangkan Kesempatan Perempuan, Bukan Hanya Jatah

Perspektif

Miranda Gultom

Tak bisa dipungkiri jika kita bicara tentang emansipasi wanita di Indonesia maka nama Kartini akan menjadi referensi utama, sehingga hari Kartinipun identik dengan kemajuan perempuan Indonesia. Di hari Kartini, Perspektif Wimar menghadirkan Deputi Gubernur Senior merangkap Pjs Gubernur BI, Prof.Dr. Miranda Gultom dengan ditemani Agni Pratistha sebagai co host.

Miranda berpendapat kalau sekarang bukan seperti zaman Kartini atau Indira Gandhi lagi dimana tema pendidikan yang setara antara pria dan wanita menjadi isu utama. ”Perempuan harus membuktikan kalau pendidikan yang ada harus menghasilkan perempuan yang sama atau bahkan lebih baik dari lelaki”, ujar Miranda.

Mengenai perjuangan feminisme, dia juga menganggap hal itu boleh saja, asal harus benar. Karena di saat keadaan masyarakat yang masih ’membeda-bedakan’ gender, memang perlu adanya perjuangan. Jadi perempuan bukan hanya menunggu jatah. Tapi jangan lupa juga, bahwa perempuan harus menjalankan program-programnya seperti ngurus suami, dll.

Selain ahli moneter, Miranda Gultom ternyata juga disibukan dengan program golf goes to school miliknya.Dimana kegiatannya melatih para pelatih (trainning for trainners), menyiapkan paket manajemen golf yang mengutamakan kejujuran, serta silabus materi-materi teknik permainan. Pendukung setia Manchaster United ini ternyata juga pecinta kesenian dengan mengetuai Yayasan Nusantara yang menaungi Nusantara Symphonic Orchestra dan ketua Yayasan Paduan Suara Anak Indonesia

Tentang kasus yang menimpa Burhanuddin Abdullah, perempuan yang dijuluki ’Miss telat’ ini mengaku prihatin, sedih dan terpukul dengan adanya dugaan itu. ”Saya harus positif dan kita harus membuktikan diri bahwa tidak semua anggota BI itu jelek”. Sebagai perempuan yang menempati salah satu jabatan terpenting di Bank Sentral, Miranda yang pernah menjadi dosen FE UI ini bersyukur diberi kesempatan sebagai akademisi dan juga praktisi. Dia pun meyadari bahwa sering kali teori-teori yang ada tidak berhubungan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Polemik tentang proses pemilihan Gubernur BI antara DPR dan pemerintah juga tak luput dari perbincangan. Perempuan pertama yang menjabat Deputi Gubernur Senior BI ini menilai sebetulnya DPR bukan tempat Fit and Proper Test melainkan hanya sebagai lembaga yang mengkonfirmasi calon gubernur atau deputi gubernur senior yang diajukan Presiden. Kenyataannya forum di DPR seakan-akan jadi ajang penentuan. Yaah mungkin ini bentuk konsekuensi dari begitu kuatnya posisi parlemen dalam sistem politik kita sekarang. Meskipun dua calon yang diajukan Presiden SBY memang banyak dikritik berbagai kalangan.
Padahal banyak juga anggota DPR yang belum tentu ngerti masalah moneter. Yang penting Vokal!!

→ Tinggalkan KomentarKategori: Ekonom

Abdul Harris Nasution

29 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Harris Nasution (lahir di Kotanopan,

A. H Nasution

Sumatera Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani Nasution.

Sebagai seorang tokoh militer, Nasution sangat dikenal sebagai ahli perang gerilya. Pak Nas demikian sebutannya dikenal juga sebagai penggagas dwifungsi ABRI. Orde Baru yang ikut didirikannya (walaupun ia hanya sesaat saja berperan di dalamnya) telah menafsirkan konsep dwifungsi itu ke dalam peran ganda militer yang sangat represif dan eksesif. Selain konsep dwifungsi ABRI, ia juga dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.

Tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia, ia ikut mendaftar. Ia kemudian menjadi pembantu letnan di Surabaya. Pada 1942, ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eks-PETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Pada Maret 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi III/Priangan. Mei 1946, ia dilantik Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jendral Soedirman). Sebulan kemudian jabatan “Wapangsar” dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, Nasution dianugerahi pangkat Jendral Besar bintang lima. Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto pada 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Tokoh ABRI

Hotmangaraja Panjaitan

29 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Hotmangaraja Panjaitan

Hotmangaraja Panjaitan

Mayor Jendral TNI Hotmangaradja Pandjaitan (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 14 Oktober 1953; umur 56 tahun) adalah Panglima Komando Daerah Militer XI/Udayana yang menjabat dari Juni 2008. Hotmangaraja merupakan putra dari Pahlawan Revolusi D.I. Pandjaitan. Ia berasal dari kesatuan Infanteri – Baret Merah angkatan 1977.
[sunting] Karir

* Atase Militer di Republik Federal Jerman (pangkat kolonel)
* Komandan Group 2/Kopassus (kolonel)
* Komandan Resort Militer 163/Wirasatya – Bali Kodam IX/Udayana (kolonel)
* Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (brigadir jendral)
* Wakil Asisten Pengamanan KASAD (brigadir jendral)
* Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (mayor jendral)
* Asisten Teritorial KASAD (mayor jendral)
* Panglima Daerah Militer IX/Udayana (mayor jendral)

http//id.wikipedia.org

→ Tinggalkan KomentarKategori: Tokoh ABRI

Sintong Hamonangan Panjaitan

29 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Mayor Jenderal (Purn) TNI Sintong Hamonangan Panjaitan (lahir di

Sintong Panjaitan

Sumatera Utara, 4 September 1940; umur 69 tahun) adalah seorang purnawirawan TNI lulusan Akademi Militer Nasional (kini Akademi Militer) tahun 1963. Ia menerima 20 perintah operasi/penugasan di dalam dan luar negeri selama karir militernya. Pencopotan jabatannya sebagai pangdam akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, 11 November 1991 banyak dianggap sebagai awal dari kemunduran karirnya di bidang militer sebelum ia menjadi Purnawirawan dengan pangkat Letnan Jendral.

Sintong dilahirkan di Tarutung, sebagai anak ketujuh dari 11 bersaudara. Saudara-saudaranya bernama: Johan Christian, Nelly, Humalatua, Hiras, Erne, Wilem, Tiurma, Dame, Anton dan Emmy. Ayahnya, Simon Luther Panjaitan (sebelumnya bernama Mangiang Panjaitan) adalah seorang Mantri di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (RSU) Semarang. Ibunya, Elina Siahaan adalah puteri dari seorang raja di Aek Nauli, Raja Ompu Joseph Siahaan. Keduanya menikah di Semarang, pada tahun 1925. Minat Sintong pada bidang militer muncul saat berumur tujuh tahun rumahnya terkena bom P-51 Mustang Angkatan Udara Kerajaan Belanda. Sintong mulai memanggul senjata di bangku Sekolah Menengah Atas (1958) saat ia mengikuti latihan kemiliteran 3 bulan yang dilaksanakan gerakan PRRI di bawah pimpinan Kolonel M. Simbolon.

Sintong mulai mencoba memasuki dunia militer saat mencoba melamar masuk Akademi Angkatan Udara di tahun 1959. Saat menunggu hasil lamarannya tadi, Sintong juga mengikuti ujian masuk Akademi Militer Nasional di tahun 1960, dan lulus sebagai bagian dari 117 taruna AMN angkatan V. Sintong lulus dari AMN pada tahun 1963 dengan pangkat Letnan Dua. Selanjutnya ia mengikuti sekolah dasar cabang Infantri di Bandung dan lulus pada tanggal 27 Juni 1964 dan ditempatkan sebagai perwira pertama Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), pasukan elit TNI Angkatan Darat (kini bernama Komando Pasukan Khusus – Kopassus).

Pada periode Agustus 1964-Februari 1965 Sintong menerima perintah operasi tempur peramanya di dalam Operasi Kilat penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sejak Februari 1965, Sintong mengikuti pendidikan dasar komando di Pusat Pendidikan Para Komando AD di Batujajar. Ia memperoleh atribut Komando di Pantai Permisan, 1 Agustus 1965, dan kembali ke Batujajar untuk pendidikan dasar Para dan mengalami 3 kali terjun. Setelah itu ia menerima perintah untuk diterjunkan di Kuching, Serawak, Malaysia Timur sebagai bagian dari Kompi Sukarelawan Pembebasan Kalimantan Utara dalam rangka Konfrontasi Malaysia.

Terjadinya Gerakan 30 September (G30S) membatalkan rencana penerjunan di atas. Sintong sebagai bagian dari Kompi yang berada di bawah pimpinan Lettu Feisal Tanjung kemudian berperan aktif dalam menggagalkan G30S. Sintong memimpin Peleton 1 untuk merebut stasiun / kantor pusat Radio Republik Indonesia (RRI), yang memungkinkan Kapuspen-AD, Brigjen TNI Ibnu Subroto menyiarkan amanat Mayjen TNI Soeharto. Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua di Lubang Buaya. Setelah itu Sintong menerima tugas operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, untuk memimpin Peleton 1 di bawah kompi Tanjung beroperasi memberantas pendukung G30S di Semarang, Demak, Blora, Kudus, Cepu, Salatiga, Boyolali, Yogyakarta hingga lereng timur Gunung Merapi.

Pada tahun 1969 Kapten Feisal Tanjung mengikutsertakan Sintong dalam upaya membujuk kepala-kepala suku di Irian Barat untuk memilih bergabung bersama Indonesia dalam Penentuan Pendapat Rakyat. Berbagai prestasi Sintong di kesatuan khusus TNI-AD ini mengantarkannya ke kursi Komandan Kopassandha di periode 1985-1987, menggantikan Brigjen. Wismoyo Arismunandar.

Keterlibatannya dalam operasi militer di daerah Timor Timur kemudian menjadi salah satu penyebab diangkatnya Sintong menjadi Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana yang mencakup Provinsi Timor Timur. Sintong kemudian dicopot dari jabatannya sebagai pangdam akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, 11 November 1991, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Beberapa pihak menyatakan bahwa peristiwa ini turut mengakhiri karir militer Sintong.[7] Akibat keterlibatannya dalam insiden tersebut ia dituntut pada 1992 oleh keluarga seorang korban jiwa dan divonis, pada 1994, untuk membayar ganti rugi sebanyak total 14 juta dollars AS.

Menristek Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie menunjuk Sintong sebagai penasihat bidang militer di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1994. Sejak saat itu Sintong menjadi penasihat kepercayaan Habibie hingga Habibie menjadi Presiden Indonesia di tahun 1998 dimana Sintong duduk sebagai penasihat Presiden di bidang Militer. Sebuah sumber menyatakan bahwa Habibie berdiskusi secara mendalam dengan Sintong, Jendral Wiranto (Panglima ABRI dan Menhankam) dan Yunus Yosfiah (Menteri Penerangan) sebelum mengijinkan referendum Timor Timur bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan apakah Timor Timur akan tetap bergabung dalam Republik Indonesia atau menjadi negara sendiri.

Buku

Pada Maret 2009, Sintong menerbitkan bukunya yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Buku tersebut menuai kontroversi karena menuduh Prabowo Subianto yang pada Maret 1983 berpangkat kapten hendak melakukan upaya kudeta dengan menculik beberapa perwira tinggi ABRI. Buku yang diterbitkan menjelang Pemilu Legislatif 2009 itu memberikan kredit kepada Luhut Panjaitan yang waktu itu berpangkat mayor yang disebutkan menggagalkan upaya yang mengarah kepada kudeta tersebut.
sumber:http//id.wikipedia.org

→ Tinggalkan KomentarKategori: Tokoh ABRI

Choky Sitohang

28 Desember 2009 · & Komentar

Choky,Si Gartip Pahoppu Panggoaran

Choky Sitohang


Doli-doli parlente, pintar bicara, ini bernama lengkap Binsar Choky Victory Sitohang. Ketika berumur empat tahun sudah gartip, alias bawel. Tak heran, masih belia ia sudah pintar bicara. Bakatnya berkobar waktu umurnya 17. Dia lahir di Bandung, 10 Juli 1982.
Choky memulai karir sebagai wartawan lepas (pembaca berita) di salah satu stasiun TV swasta. Dia membawakan acara Good Morning on The Weekend. Dari sana karirnya menanjak cepat. Sukses yang dititinya itu dia lalui penuh liku selama delapan tahun.

Pernah gagal casting, jatuh sakit, dan sempat mencoba berbagai profesi, tetapi semangatnya tak pernah padam. Dia tahu meniti karier itu penuh perjuangan.

Mengapa terjun ke bidang publik speaking? Pria ganteng ini lugas menjawab: “Bakat saya di publik speaking, bakat saya di dunia bicara. Saya menyukai pekerjaan ini. Selain kepuasan batin yang saya dapat, saya juga menghibur dan memberi inspirasi kepada banyak orang.”
Ia mengakui peran keluarga dalam kariernya besar, terutama ibunya, Diana Napitupulu dan (almarhum) bapaknya, Poltak Sitohang, juga kedua adik perempuanya.

Sebagai pekerja profesional, Choky mengelola sendiri jadwal kesibukannya. Jika ada yang ingin mengundang harus lewat manajer. “Karena ini pekerjaan saya, maka saya kerjakan secara profesional. Ada tim yang khusus menyusun dan menerima undangan. Soal tarif, saya tidak mau menyebut angka. Kenapa? Karena etika. Saya punya tanggung jawab moral pada klien. Apa yang diberikan kepada saya harus memperoleh sesuatu dari saya.”

Tidak terlalu pasif berbahasa Batak, namun Choky bangga menjadi orang Batak. “Saya bangga menjadi orang Batak. Karena itu, on air saya berani berkata ini Choky Sitohang. Meskipun saya tidak terlalu terbiasa berbahasa Batak, bahkan nyaris tidak bisa. Tetapi, darah saya darah orang Batak. Ibu saya boru Napitupulu. Kakek nenek saya semua orang Batak. Ompung saya Kolonel MC Sitohang alamarhun begitu baik pada saya,” ujar pahoppu panggoaran (cucu pertama dari anak pertama) ini. Hotman J. Lumban Gaol

→ 2 CommentsKategori: Selebritis

Saut Sirait

28 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Saut Sirait: Khotbah Panjang dan Berani

oleh: Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Saut Hamonangan Sirait

Saut Hamonangan Sirait memang bukan selibritis, dan tidak suka entertainment, tetapi di dunia para aktivis sosok ini bukan muka baru. Dia semacam aktor yang selalu dicari wartawan untuk ditanyakan pendapatnya. Apa arti Saut Hamonangan Sirait? William Shakespeare mengatakan, “Apalah arti sebuah nama nama?” Tapi, apa salahnya sekedar bertanya. Barangkali nama memang punya arti. Paling tidak untuk yang memberikan atau yang memilikinya. Saut dalam bahasa Batak berarti “jadi” sedangkan Hamonangan adalah “orang yang selalu menang” dan Sirait adalah marganya.

Sejak masih bayi dia sudah ditempa oleh getirnya kehidupan. Saut kecil, tidak pernah merasakan dekapan seorang ayah, karena saat umur empat bulan, ayahnya meninggal. Praktis sejak kecil dia dididik seorang ibu beserta delapan kakak-kakaknya. Saut Sirait adalah anak siampudan atau anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara. Putra dari pasangan Constan Sirait dan Cornelia boru Marpaung.

Dia lahir di Paparean, Porsea, 24 April 1962. Disanalah dia dibesarkan hingga kelas tiga sekolah dasar. Lalu kelas empat SD hingga kelas dua SMA ditempuhnyanya di Pontianak. Dia ke Pontianak ikut sang Abang tertua yang adalah seorang jaksa yang bertugas di daerah tersebut. Kemudian, dari sana, dia pindah ke Tanjung Karang, Lampung, hingga lulus SMA.

Saut Sirait menikah dengan Agustina Veronica boru Silalahi yang sekarang berusia 35 tahun. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di organisasi Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saut aktivis dan duduk dalam kepengurusan organisasi tersebut. Dia didaulat sebagai senior oleh teman-temannya. Sedangkan Agustina adalah alumni Universitas Brawijaya, Malang, jurusan administrasi negara dan aktif dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Malang. Juga giat di PIKI.

Ada momen yang membahagiakan. Waktu itu, Agustinai menjadi anggota panitia dari pelaksana kongres PIKI. Tak dinyana, dari pertemuan pertama keduanya berteman, berpacaran hingga yang berakhir di pelaminan. Walau terpaut umur yang agak jauh, 13 tahun, tetapi kalau cinta sudah sor tidak ada yang bisa menghalangi. Keduanya sepakat menikah. Dari pernikahan mereka, Tuhan mengaruniakan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. si sulung, Saulina Hariarany Tabita boru Sirait, 8 tahun dan Sampurna Cavin Timoty Sirait, 7 tahun. Keduanya duduk di bangku sekolah dasar.

Sebenarnya, sejak kecil Saut bercita-cita menjadi seorang taruna Akabri. Namun, suratan tangan berkata lain, karena beberapa alasan yang berat hatinya untuk mengatakannya, dia kemudian mengurungkan niat itu dan mendaftar ke Sekolah Tinggi Teologia Jakarta.

Ketika masih duduk di SMA di Tanjung Karang, Saut aktif dalam kepemudaan gereja, dan terpilih menjadi wakil ketua pemuda HKBP Tanjung Karang. Dia juga aktif dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

“Sejak kecil saya bercita-cita masuk Akabri. Itulah sebabnya, sampai saat ini saya hafal pangkat-pangkat, dari perwira terendah hingga tertinggi. Saya sudah siapkan diri, tetapi karena satu hal, saya urungkan niat untuk masuk. Pendeta menjadi pilihan saya, karena sejak di Pontianak saya sudah aktif di gereja sebagai guru sekolah Minggu,” kata Saut mengenang.

Tidak jujur
Jiwa aktivis turun dari sang Abang, Pahotan Sirait, alumni Institut Pertanian Bogor. Pahotan adalah aktivis di tahun 1966. Maka, ketika menjadi mahasiswa, Saut tidak ketinggalan, dia aktif di senat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa STT Jakarta. Di luar kampus, dia jatuh-bangun sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Organisasi ini membuka pintu baginya untuk banyak bergaul dengan aktivis pemuda, seperti Anas Urbaningrum dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Anas ketika itu adalah ketua HMI. Saat ini dia duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Saut kemudian aktif di organisasi gereja, di bawah sayap PGI, sebagai Sekretaris Pokja Pemuda PGI. Pernah pula menjadi Ketua Panitia Nasional Perkemahan Kerja Pemuda PGI (1985-1990). Lalu, Ketua DPP Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), dan DPP Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saat ini dia adalah Sekretaris Ikatan Alumni STT Jakarta.

Untuk apa dia banyak berkecimpung dalam begitu banyak organisasi? Menurut dia, kemajemukan harus juga dipahami sebagai ruang untuk pelbagai kelompok-kelompok, baik itu didasarkan etnis, pola kebudayaan, dan agama. Dari banyak interaksi itulah sikap kritis seseorang dipertajam. Keberbagaian merupakan kenyataan yang harus diterima dan sikap saling-menerima harus dipupuk. Maka, organisasi itu, katanya, adalah jembatan untuk mengenal orang lain.

Saut ikut menjadi salah satu pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) yang terdiri dari 13 organisasi massa pemuda dan mahasiswa. Tahun 1996, dia termasuk salah satu deklarator Komite Independen Pemantau Pemilu bersama-sama Nurcholis Madjid, Goenawan Muhammad, Mulyana Kusumah, Budiman Sudjatmiko.

Tahun 2004-2009, dia aktif dalam Forum Peduli Nusantara. Waktu itu dia diserahi tanggungjawab untuk duduk dalam Presidium dan Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tahun 2002-2007, dia menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Komaruddin Hidayat yang duduk sebagai ketua. Di Panwaslu, Saut bersikap tegas. Dia mengatakan tidak akan berkompromi dengan para pelanggar aturan pemilu. Dan tidak takut melaporkan tindakan politik yang tidak jujur yang dilakukan oleh partai dalam kampaye maupun kaitannya dalam pemilu.

Saat sekarang ini, Saut adalah Ketua DPP Partisipasi Kristen Indonesia, yang disingkat Parkindo. Sudah dua periode dia memangku jabatan itu. “Bagi sebagian orang, Parkindo adalah partai. Ada yang menyebutnya sebagai sayap PDI-Perjuangan, karena pernah dipimpin Sabam Sirait yang notabene adalah fungsionaris PDI-Perjuangan. Padahal, tidak ada hubungannya sama sekali. Parkindo bukan partai,” ujarnya Saut saat menerima TAPIAN di kantor Parkindo, di Jalan Matraman 10, Jakarta, baru-baru ini.

Tahun 1992, Saut ditahbiskan menjadi pendeta Huria Kristen Batak Protestan. Di masa itu, gereja yang terbesar di Asia Tenggara tersebut sedang “ribut.” Dia pun tidak pasif, karena kedudukannya sebagai Direktur Departemen Pemuda di HKBP selama 5 tahun, sejak tahun 1991-1996. Departemen pemuda ini semacam Ansor di Nahdatul Ulama.

Mengapa terjun ke dunia LSM? Tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi, begitu jawabnya. “Pemahaman yang menganggap bahwa ruang duniawi harus dipisahkan dengan yang surgawi adalah salah. Pendeta mengurusi surga sementara aktivis mengurusi dunia. Ini seolah-olah tidak ada hubungan, padahal keduanya saling-tergantung.”

Ketidak-adilan merajalela
Saut menambahkan, tidak mungkin ada roh tanpa pewadahan dalam bentuk tubuh. Dan tidak ada gunanya surga jika tidak ada realitas dunia. Itulah yang disebut interdependesi atau saling-ketergantungan. Pertautan antara hal-hal yang bersifat dunia dan yang bersifat rohani. Itu sama sekali tidak boleh dipisah, katanya.

“Kasus KPK dan Polri sekarang ini menunjukkan kemunafikan kita. Semua mengatakan demi Allah. Tempat-tempat peribahan kita, seperti gereja, masjid, wihara, klenteng semua penuh. Semua dengan antusiasme memuliakan agama dari luar. Tetapi, kenyataanya korupsi dan ketidak-adilan merajalela. Yang salah adalah Senin sampai Sabtu menjadi aktivis, lalu Minggu menjadi pendeta. Keduanya harus jalan bersama. Misalnya, Yesus tidak pernah memisahkan dirinya dengan dunia. Dia datang ke dunia ‘Allah yang menjadi manusia.’ Dia yang terbaik yang disebut reinkarnasi yang masuk ke lorong-lorong kehidupan. Jadi tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi,” kata Saut.

Sang pendeta sekaligus aktivis ini pernah ditembak, tetapi tidak kena. Tidak jera pula, malah makin berani. Menurutnya, sebagai aktivis sudah biasa mengadapi hal demikian. Dipukul, ditangkap, bahkan dipenjara sekali pun adalah hidupnya para aktivis. Maka, kalah adalah juga hidupnya. Sementara menang hanyalah bonus. Jadi mengapa harus takut? Begitu dia bertanya tanpa mengharapkan jawab.

Ada satu peristiwa yang membuat Saut tidak lagi takut menghadapi apa pun, kematian pun tidak. Masa HKBP bergejolak, Saut bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengatur gereja dengan mengangkat seorang “ephorus” puncuk pimpinan tertinggi di HKBP, hanya dengan Surat Keputusan dari Kodam Bukit Barisan. Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun, dari tahun 1992-1998.

Sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP ketika itu, Saut mendeklarasikan perlawanan, dengan mendukung orang yang dizolimi dan terlibat langsung dalam gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). Inilah awal Saut menelusuri lorong-lorong kegelapan HKBP dan sampai pada kesimpulan bahwa pemerintahlah yang mengintervensi HKBP.

“Pemicu utama saya untuk terjun menjadi aktivis adalah ketika kasus seorang panglima Kodam Bukit Barisan mengangkat ’ephorus’ pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui sk-nya. Dari situ mata saya terbelalak melihat betapa selama ini rezim otoriter telah menina-bobokan rakyat, ” ujar pendeta yang menghabiskan masa kecilnya di wilayah pemukiman di lembah Bukit Barisan.

Tahun 1993, masa genting yang dialami HKBP, jemaat yang menentang intervensi pemerintah mendirikan parlape-lapean, semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah. Pada waktu itu Setia Sampai Akhir (SSA) mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Narumonda, Kabupaten Toba-Samosir, yang dihadiri ephorus Dr. SAE Nababan yang diakui SSA.

Saut menggerakkan seluruh “ruas” atau jemaat dari Tarutung, Humbang, Siborongborong, Sigumpar, Laguboti, hingga ke Balige. Di tengah jalan, di Sitoluama, daerah Laguboti, Saut berserta para peserta KKR, dihadang oleh Brimob yang muncul dengan memegang senjata api laras panjang.

Membangkang terhadap penghadangan, Saut memimpin warga untuk melawan. Maka terjadi huru-hara antara Brimob dan ruas SSA. Saut ditembak dari jarak enam meter, tetapi tidak kena. Lalu, dikeroyok sembilan anggota Brimob hingga babak belur, mukanya memar.

“Kejadian itu membuat saya tiba pada titik kulminasi, tidak ada lagi rasa takut. Perasaan takut sudah putus. Saya punya kesimpulan, jika Tuhan izinkan saya ditanggkap atau dipukuli, itu artinya Tuhan memberikan kemampuan kepada saya untuk mengalami semua itu. Tetapi, kalau saya lolos, saya tidak tertembak, itu juga rencana Tuhan,” katanya mencurahkan perasaannya seperti sedang berkhotbah.

Empek-empek Megaria
Sebagai seorang pendeta yang tahu dan merasakan betul dampak yang timbul dari krisis HKBP itu, Saut pun tidak mau berlama-lama pada ketidaknyamanan itu. Dia tampil menjadi salah seorang rekonsiliator.

Saut menjadi Sekretaris Tim Rekonsiliasi Konflik HKBP. Pada akhirnya, tahun 1998, terpilihlah Dr. Jr. Hutauruk sebagai ephorus (1998-2004) yang oleh “Sinode Godang Rekonsiliasi.” Dan inilah akhir dari sejarah kelam HKBP.

Ada lagi cerita yang tak kalah seru. Oleh aktivitasnya di bidang politik, Saut menjadi orang yang masuk daftar merah, daftar pencarian orang (DPO). Tahun 1999, dua truk tentara menyisir seluruh bangunan STT Jakarta, kampus yang membesarkannya sebagai manusia. Ketika itu, Saut mengambil gelar master dalam etika politik. Saut lapar luar biasa. Dia kemudian keluar kampus, pergi mencari empek-empek kesukaannya semasa di Tanjung Karang, terletak di bioskop Megaria, dekat kampusnya.

Setelah melangkah keluar dari bendul kampusnya, dua truk tentara datang mau menangkap Saut yang sudah lama mereka cari. Tak ditemukan. Maka, dosen, staf, dan mahasiswa pun diintrogasi. Yang dicari tidak ada. Akhirnya tentara “mulak balging,” pulang tanpa hasil.

Begitu tentara keluar dari lingkungan kampus, tak berapa lama kemudian, Saut pun kembali tanpa kekurangan satu apa pun. Begitu memasuki pintu kampus, dia melihat semua penghuni kampus keluar. Saut malah bertanya, ada apa? Inilah jalan Tuhan. Semua yang menyaksikan kejadian itu seakan tidak percaya.

Menurut Saut banyak orang yang telah membentuk dan memberikan kekuatan kepadanya dalam berjuang, terutama sahabat-sahabatnya. Dari persahabatan itu dia banyak mengenal manusia. Di antara banyak orang yang memberikan semangat, ada satu sosok yang sangat mempengaruhinya: Moxa Nadeak. Moxa dia kenal semasa aktif di GMKI dan GAMKI. Moxa adalah seniornya di dua organisasi ini. Baginya, Moxa adalah sahabat sekaligus abang, kalau tidak bisa dibilang bapak penganti.

“Dia sudah almarhum. Dialah seorang sahabat. Lebih dari abang kandung saya. Satu yang tidak pernah saya lupakan nasihatnya, kesederhanaan dan idealisme. Kelebihannya adalah keteguhannya dalam prinsip. Dia ditawarkan wakil pemimpin redaksi ’Suara Pembaruan’ ketika muncul kasus ’Sinar Harapan.’ Tetapi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, Moxa tidak menerima tawaran itu.

Menurut dia, Moxa merasa ”Lebih baik saya menjadi seorang reporter asal koran ini dibaca pengambil keputusan di negeri ini, ketimbang saya menjadi wapemred, tetapi koran ini tidak bisa memberikan pengaruh untuk negeri ini.” Jadi, menurut Saut, dari dialah dia belajar mengenai prinsip. Moxa Henry Nadeak meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Senin, 24 Mei 1999.

Sebagaimana mottonya sebagai aktivis, “Kekalahan adalah bagian hidup, sementara kemenangan adalah bonus,” maka Saut mencoba “ruang-ruang” baru yang bisa memberikan kontribusi pada masyarakat luas. Misalnya, ikut mencalonkan diri waktu pemilihan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode tahun 2007-2012. Saut mendaftar.

Namun kalah suara. Dia hanya di peringkat delapan, sedangkan anggota KPU hanya tujuh orang. Demikian juga pada pemilu lalu, Saut maju dalam pemilihan DPD DKI dengan nomor urut 36. Namun, gagal, tidak mendapat suara yang berarti untuk bisa menjadi Dewan Perwakilan Daerah dari pemilihan Jakarta Timur.

Walupun dia terjun ke politik, tetapi ikut partai tidak cocok bagi Saut. Lebih cocok independen. Memang, pernah ikut mendirikan partai PUDI bersama 13 tokoh, namun menurut Saut, ketika dibentuk, PUDI bukan partai yang disiapkan berjuang dalam pemilu. Tetapi, dia didirikan untuk menjatuhkan rezim berkuasa Suharto. Sesudah Suharto tumbang, seharusnya PUDI bubar, dan 12 tokoh sepakat partai tersebut membubarkan diri. Tapi, Sri Bintang Pamungkas, salah satu pendiri PUDI, berkehendak lain. Dia mendirikan PUDI sebagai partai politik yang ingin bertarung dalam pemilu. Hasilnya, semua orang ingat, tidak lolos di KPU.

Apakah gereja bisa berpolitik? Warga gerejalah yang berpolitik. Menurut Saut, harus ada keseimbangan. Ada relevansi nilai-nilai yang dianut dalam agama. “Gereja terlalu lama dalam zona abu-abu. Ada yang menyebut ‘gereja ya gereja, politik ya politik.’ Gereja harus terlibat dalam politik, tetapi mempersiapkan jemaatnya. Organisasi gereja tidak boleh berpolitik apalagi mendirikan partai.” Tegas seperti batu dia berpendirian itu.

Tambahnya lagi, selama gereja apolitis dan umatnya yang apolitis, kita tidak menjadi garam. Gereja memiliki tanggung-jawab politik. Kalau politik menindas dan merusak masyarakat, gereja harus melawan. Jika belajar sejarah gereja, seorang pendeta juga pernah menjadi seorang perdana menteri Belanda (1901-1905), Abraham Kuyper, lulusan sekolah teologia dan seorang pendeta. Sebelumnya, ada juga Jhon Calvin, dia presiden Swiss. Dia menjadikan aparatus gereja, dan juga aparat negara.

Untuk mengasah jiwa kepemimpinannya, Saut mengecap berbagai pengalaman, salah satunya partnership consultation di Dusseldorf pada tahun 1995, pelatihan monitoring pemilu di Bangkok (1996), pemantauan pemilu di Kamboja (1998), serta koordinator KIPP untuk pemantauan jajak pendapat Timor Timur (1999).

Kini, selain pendeta di HKBP Bandung, Saut juga menjadi narasumber pendidikan politik organisasi gereja di PGI. Tahun 1999, dia memperoleh gelar magister teologia di bidang etika politik dari STT Jakarta. Tesisnya tentang politik gereja dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku, diberi judul Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis 21. Buku ini dianggap sebagai buku refrensi untuk memahami politik Kristen di Indonesia.

Almarhum Eka Darmaputera, guru dan seniornya, dalam kata sambutannya untuk buku itu menyebut Saut Sirait berbeda dari dari aktivis kebanyakan. “Saudara Saut Sirait berbeda. Dia mengambil rute yang sebaliknya……Dia mengawali karirnya dari dunia pergerakan, baru kemudianlah dia melanjutkan studi, sampai meraih gelah Strata Dua. Ia, berbeda dengan yang lain, agaknya ingin memberikan pondasi teoritis yang lebih teguh bagi kegiatan-kegiatan perjuangan……Ia tidak mau ternggelam dalam kekenesan akademis, tetapi sebaliknya juga tidak mau terjerat oleh kesibukan aktivisme semata.” *** Hotman J. Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Agamawan · Politikus

Sakti Naibaho

28 Desember 2009 · 1 Komentar

Sakti, Master of Number Junior
The Master Junior 2 adalah ajang pencari bakat bagi pesulap anak-anak, umur delapan hingga 14 tahun. Program TV ini merupakan kelajutan dari The Master Junior 1 yang disiarkan langsung RCTI setiap Sabtu dan Minggu sore.

Gara-gara ibunya, Sakti Naibaho melambung namanya. Ceritanya, Tahelena boru Hutapea mendaftarkan nama anaknya begitu mendengar ada audisi The Master Junior 2 di Radio Cardova, Medan, audisi perdana di Sumatera Utara pertengahan Oktober lalu. Boru Hutapea tahu benar akan kemampuan anaknya, karena itu dia tak berpikir panjang untuk mendaftarkan Si Sakti. Walau seleksi berlangsung ketat sekali, Sakti Sahatma Samudra Naibaho, kelahiran Medan, 5 Desember 1997, terpilih mewakili kota kelahirannya.
Sakti kini dijuluki Master of Number Junior. Julukan itu sesuai permainan sulapnya yang mengandalkan matematika sehingga banyak orang terinspirasi dan bersemangat mempelajari matematika.

“Matematika bagi saya dia bisa mengembangkan pikiran kita. Dengan permainan sulap lewat matematika ini, saya juga mau menyemangati orang untuk selalu belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan,” ujar anak dokter Binsar Naibaho, 38 tahun, asal Panguguran, Somosir. Sakti memang sakti dalam soal hitung-hitungan. Waktu kelas 1 SMP dia masuk dalam Tim Olimpiade Matematika mewakili sekolahnya.
Usia 12 tahun, dia sudah menjadi siswa kelas 3 Sekolah Menengah Pertama Methodis 2, Medan. Mulai belajar sulap semenjak kelas 4 SD. Trik sulap pertama yang dipelajarinya adalah penggunaan kartu. Ini dia pelajari dari buku-buku sulap dan juga latihan langsung dari ayahnya. Menurut Sakti, ayahnya bisa mengajarkan trik, tapi cuma berteori tidak bisa praktek. Sehari-hari, Sakti suka membantu orang lain dengan memilih kesibukan di klinik pengobatan cuma-cuma milik orangtunya.

Apa motif mengikuti ajang lomba ini? “Saya mengikuti acara ini, syukur kalau bisa menjadi juara. Saya ingin membanggakan keluarga dan marga Naibaho, terutama warga Sumatera Utara.” Tambanya pula: “Selain menghitung, saya juga suka nyanyi. Pernah ranking tiga di sekolah. Selain itu, saya hobi catur. Harapan saya, bisa membanggakan orang Medan dan keluarga terutama marga Naibaho,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini.

→ 1 CommentKategori: Selebritis

Kastorius Sinaga (tulisan)

10 Desember 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Melihat Ormas dari Monas

Kartorius Sinaga


SETELAH dicerca karena kasus Kampus UNAS dan dianggap melakukan “politik pembiaran” pada insiden Monas, polisi kembali mendapat pujian. Operasi penangkapan massa FPI serta penetapan status tersangka terhadap Ketua FPI yang dilakukan secara maraton oleh Polri telah melegakan semua pihak.

Dugaan bahwa polisi tidak serius karena dianggap memiliki hidden agenda di balik aksi dan keberadaan FPI sirna sudah. Seperti kita ketahui, polisi memang benar-benar melakukan penegakan hukum secara proporsional. Bahkan operasi gabungan tersebut tidak menimbulkan ekses kekerasan baru di lapangan seperti diperkirakan banyak pihak sebelumnya.

Satu agenda yang tersisa dari rangkaian peristiwa tersebut adalah risalah pembubaran FPI selaku ormas yang dipandang meresahkan masyarakat. Bagaimana seluk beluk keberadaan ormas di era reformasi saat ini ?
Organisasi massa adalah wahana wajar dan halal dari masyarakat untuk berhimpun dan mengorganisasikan dirinya sendiri (self-governing) dalam rangka mencapai tujuan yang dirumuskan oleh para pendiri dan anggotanya.

Di alam demokrasi, hampir setiap individu/kelompok terpaut dengan keberadaan ormas/LSM, entah itu dalam bentuk organisasi profesi, hobi, politik, keagamaan, kekerabatan, atau bahkan kepedulian sosial.

Kultur dan cakupan demokrasi akan mencapai bentuknya yang paling ideal bila keberadaan ormas/LSM cukup mengakar dan berkembang sehat di masyarakat. Ormas/LSM secara langsung turut menjalankan fungsi mediasi, artikulasi, pendidikan dan komunikasi politik tanpa mengejar keuntungan (nirlaba) ataupun terjebak pada arus politik praktis. Secara sosiologis, ormas/LSM menjadi sektor ketiga (third sector) yang bermanfaat bagi individu/kelompok masyarakat di dalam mengembangkan diri dan potensinya, di samping dua sektor konvensional lainnya, yaitu birokrasi negara dan sektor (perusahaan) swasta.

Hampir semua ormas eksis di dalam ruang publik (public sphere). Bahkan ormas mendapat legitimasi untuk melakukan mobilisasi sumberdaya dari publik itu sendiri, seperti keuangan, kelembagaan, maupun massa keanggotaan. Karenanya, interaksi antara ormas dan publik (baca: kepentingan publik) menjadi sebuah titik krusial di dalam penyelenggaraan kegiatan.

Kita juga melihat bahwa rezim Orde Baru tumbang di tahun 1998, sebagian besar atas jasa perjuangan sebagian ormas/LSM yang “pro-reformasi” yang tidak kenal lelah dan takut memperjuangkan kebebasan politik dari sistem penetrasi negara. Tahun 1985, almarhum Presiden Suharto telah mengantisipasi sepak-terjang para ormas pro-demokrasi ini dan lalu mengeluarkan UU no. 8/1985 tentang Pembinaan Ormas/LSM. Namun, seperti kita ketahui, UU ini lebih eksis di atas kertas dan hanya efektif mengatur, membina, dan mengendalikan ormas/LSM yang berinduk-semang pada politik pemerintah, dalam hal ini Departemen Dalam Negeri pada saat itu.

Datangnya era reformasi telah membawa euforia demokrasi yang merangsang pertumbuhan ormas/LSM “bak jamur di musim hujan”. Bentuk deprivatif ormas/LSM bermunculan setiap hari dengan tonasi atribut pengerahan massa seperti istilah Front, Aksi, Aliansi, Forum atau Laskar Komando –semuanya lengkap dengan atribut fisik dan modus gerakan yang menyeramkan.

Sebagian dari mereka memakai agama sebagai basis kohesitas di samping banyak juga menggunakan sentimen kedaerahan sebagai tameng gerakan. Lemahnya kemampuan birokrasi negara, vakumnya ruang publik akibat kepemimpinan yang tidak solid, serta meretasnya “nilai-nilai kebersamaan” membuat ormas/LSM menjadi lahan baru yang menggairahkan para petualang politik untuk bermanuver dan meraup rente ekonomi dari situasi instabilitas transisi politik kita.

Dalam konteks demikian, kita menyaksikan bahwa keberadaan sebagian ormas/LSM menjadi “antagonis” dan “asimetris” terhadap kepentingan publik yang sesungguhnya. Bukan hanya kenyamanan dan keamanan publik yang terganggu. Tetapi juga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam makna public sphere, seperti toleransi, solidaritas, dialog, akal-sehat dan pluralisme turut terancam oleh hiruk-pikuk gerakan liar ormas/LSM di hampir semua bidang dan wilayah Indonesia. Insiden Monas kemarin adalah satu contoh dari situasi liar tak terkendali dari ormas/LSM yang memang sudah seringkali berulang di berbagai daerah.
Di titik inilah kita menjadi sadar bahwa di balik tuntutan pembubaran FPI, hal yang sangat urgen dilakukan adalah penataan kembali regulasi terhadap ormas/LSM di Indonesia.

UU Ormas no 8/1985, tampaknya, sudah tidak relevan dengan kondisi faktual kehidupan sosial dan politik kita di tahun 2008 ini dan ke depan. Karenanya, pesan inti dari insiden Monas kemarin adalah kesigapan dan kesiapan dari Pemerintah serta DPR selaku pemangku otoritas legislasi nasional untuk mengadakan revisi total terhadap UU 5/1985 sehingga kita memiliki regulasi tentang ormas/LSM yang secara efektif dapat mengembangkan ormas/LSM yang sehat dan beradab. ***
Penulis adalah Dosen Pascasarjana UI

Si Abang, Riwayatmu Kini (2)

Dr. Kartorius Sinaga
ADNAN Buyung Nasution kembali menjadi sumber berita sekaligus pergunjingan di kalangan aktivitas prodemokrasi. Tokoh flamboyan yang selama dua dekade terakhir ibarat setali tiga uang dengan perjuangan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia di tanah air, kali ini mendapat sorotan sumir atas predikatnya sebagai pendekar demokrasi.
Pasalnya, Buyung–yang sejak “pensiun” dari Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mendirikan kantor pengacara komersial–sebagai kuasa hukum PT IPTN, sedang mengangkat kapak peperangan melawan The Jakarta Post, sebuah koran nasional berbahasa Inggris. Seperti diketahui, koran tersebut sedang nahas akibat human error wartawannya dalam melaporkan peristiwa jatuhnya CN 235 di Serpong, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.

Meskipun ralat berita dan permintaan maaf telah dilansir oleh koran itu pada hari berikutnya, dan oleh banyak ahli komunikasi seperti Prof. A. Muis, sebenarnya sudah cukup memadai untuk menjernihkan situasi sebagaimana bunyi pasal 11 Kode Etik Jurnalis Indonesia, Buyung tetap berkeras, atas kuasa hukumnya, B.J. Habibie selaku Direktur Utama IPTN, mengambil langkah-langkah legal action.

Bahkan, somasi berikut prasyarat-prasyarat penyelesaian masalah dengan The Jakarta Post sudah resmi dilayangkan. Malah, tak tanggung-tanggung, somasi itu kemudian dirilis ke publik, sebuah langkah unik yang jarang dilakukan dalam penanganan perkara hukum.
Masyarakat umum pun bertanya-tanya tentang gejala contradiction-in-habitus yang menghinggapi pribadi Buyung yang populer dipanggil “Abang” itu. Yaitu, mengapa si Abang, pendekar demokrasi dan pembela kebebasan pers, yang pada tahun 1994 dengan galak memimpin demonstrasi pembredelan Tempo, Editor dan Detik, sekarang berada “di seberang” dan berkukuh mengadili pers nasional yang selama ini terkesan powerless itu?

Entah secara kebetulan atau tidak, yang juga menarik adalah soal sifat hubungan Buyung-Habibie yang sekalipun asimetris, namun saling menyambung dengan konteks kejadian. Tahun 1994, Buyung berhadapan melawan B.J. Habibie yang sewaktu itu bertanggung-jawab atas pembelian 31 kapal perang eks Jerman Timur, kasus yang kemudian kita ketahui turut menjerat TEMPO ke liang kubur. Lalu tahun ini, Buyung berada di kubu Habibie berhadapan melawan pers, dalam hal ini The Jakarta Post.

Lalu, di awal tahun 1990-an, Buyung turut menjadi “konsultan hukum” dari LSM prodemokrasi yang menggugat Habibie ke pengadilan karena pemakaian dana penghijauan hutan tropis untuk keperluan IPTN. Hal ini dianggap dapat memanipulasi penggunaan uang rakyat untuk proyek elite IPTN. Lantas, tahun ini Buyung menjadi kuasa hukum IPTN yang hendak menggugat Jakarta Post karena pemberitaan jatuhnya CN 235.

Agak mirip ketika orang meributkan manuver politik Gus Dur yang “berbulan madu politik” dengan Mbak Tutut, dalam konteks yang berbeda, giliran “bulan madu” Buyung dan Habibie menjadi teka-teki politik. Situasi tersebut bahkan membuat masalah inti berupa human error yang menimpa The Jakarta Post dan keberatan Habibie atas kesalahan jurnalis itu menjadi relatif dan kurang menarik dibanding gejala perubahan karakter politik dari seorang Adnan Buyung Nasution.
Pasang surut gelombang gerakan prodemokrasi di Indonesia sangat erat berhubungan dengan pasang surut penokohan aktor intelektual di belakangnya. Itu berbeda dengan gerakan demokrasi di negara lain, seperti Thailand, Filipina dan bahkan Burma.

Di tiga negara itu, gerakan prodemokrasi lebih bertumpu pada aliansi kekuatan yang secara populer berbasis di masyarakat bawah untuk melawan totalitarisme sistem kekuasaan. Di Indonesia, gerakan itu lebih banyak muncul sebagai intelectual excercise dari beberapa tokoh kelas menengah — yang kebetulan menempati posisi pinggiran atau bahkan di luar sistem.

Karenanya, “kepemimpinan”, “organisasi” dan bahkan “personifikasi” menjadi sangat sentral dalam ritus perjuangan demokratisasi di negara ini.
Gerakan demokratisasi di Indonesia terkesan telah menjadi “proyek” dari segelintir “tokoh masyarakat” berasal dari kelas menengah perkotaan agar tetap dapat eksis di tataran opini publik. Sehubungan dengan itu, lembaga yang menggerakkannya juga menjadi terkesan sekadar melayani selera dan personal interest para public figure pejuang demokrasi itu.

Akibatnya, lembaga tersebut menjadi tertutup, kurang demokratis, dan bahkan lebih tampak sebagai “milik” individual/kelompok daripada menjadi muara aliansi kekuatan arus bawah alias “lokomotif demokrasi”. Situasi seperti itu pulalah yang mewarnai kemelut YLBHI di tahun lalu, dan yang kemudian kita ketahui melahirkan keretakan internal serta disintegrasi para pengurusnya, yang sebenarnya tidak lain adalah juga kader-kader Buyung sendiri.

Dengan konteks situasi demikian, kekuatan figur Buyung sebagai pemimpin gerakan prodemokrasi, sebenarnya, bukanlah berdiri tegak di atas massa. Dalam pandangan masyarakat awam, memang terkesan seolah-olah ia menaruh loyalitas terhadap masyarakat. Sebenarnya, kekuatan itu hanya eksis di tataran “simbol” yang tidak lain adalah hasil pemberitaan pers yang menokohkan Buyung demi tegaknya pilar demokratisasi.

Maka, Buyung dan massa aktivis prodemokrasi menjadi ibarat dua kutub magnet yang sebenarnya saling menolak. Soalnya, karakter keduanya menjadi sangat kontras: yang satu bersifat flamboyan dengan gaya hidup metropolis yang “pragmatis”, sementara itu, yang lain adalah massa aktivis yang “populis” dan terkesan “ultraidealis”.

Maka, tak mengherankan bila aktivis muda seperti Nuku Suleman dan Tri Agus Susanto, tokoh aktivis Pijar, dari balik penjara berkali-kali memaki-maki kedekatan Buyung dengan kekuasaan sebagai bentuk pengkhianatan atas perjuangan. Kedudukan Buyung sebagai kuasa hukum IPTN dan sejumlah perusahaan industri strategis yang dikelola Habibie juga telah dilihat sebagai bagian dari bertolakbelakangnya Buyung dan aktivis prodemokrasi.

Kiranya, lewat kasus The Jakarta Post, Adnan Buyung Nasution hendak memberi pesan bahwa orang bisa berubah, sedangkan “kepentingan” itu abadi.
*)D&R, 28 Juni 1997
Ket:
Kastorius Sinaga
Pengajar Pascasarjana bidang Ilmu Sosial UI

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pedagog (pengajar

Marandus Sirait

19 November 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Marandus Sang Pencipta Taman Eden

Marandus Sirait


Saat tiba di Laguboti, Balige, tersiarlah kabar ada seorang penerima Kalpataru di sekitar daerah itu. Ini tentulah kabar yang sangat menggairahkan. Terusik keinginan untuk selekasnya mencari tahu sekaligus menemuinya. Tak sabar lagi untuk bersua dengannya. Kata banyak orang, penerima Kalpatrau ini juga membudidayakan tanaman yang sudah langka di bumi Batak.
Si penerima pohon kehidupan itu, namanya juga sudah sangat dikenal warga di sekitar Balige dan Porsea. Kalau ada orang yang masih asing dengan namanya, cukuplah menanyakan kepada kerumunan orang yang berada di terminal atau lapo, dan tanyakan di mana lokasi Taman Eden 100. Yang ditanya akan menunjukkan arah Lumbanjulu. Ya, di situlah ”markas besar” dari Marandus Sirait. Dusunnya bernama Lumban Rang, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Tobasa, sekitar 16 kilometer dari Parapat atau 40 km dari Balige.
Taman Eden 100 dan Marandus Sirait bagai pinang dibelah dua, karena dialah yang mengelola taman dengan konsep agrowisata itu. Lahannya seluas 40 hektar yang hanya diperuntukkan untuk konservasi lingkungan Danau Toba. Marandus Sirait dengan mudah ditemui di Taman Eden 100. Atau sebaliknya, kalau ke Taman Eden 100 pasti akan menjumpai Marandus Sirait. Sirait dan Eden jadi kata kunci.
Taman Eden 100, adalah karya nyata dan bukti perjuangannya bagi lingkungan. Dia melakukannya tanpabanyak basa-basi, seperti kebanyakan orang lain, yang hanya menanam pohon untuk pencitraan, semata-mata untuk mendongkel semakin naiknya popularitas. Marandus bukan seperti orang-orang kebanyakan. Sebuah apresiasi yang setinggi-tingginya layak diberikan kepadanya. Hingga Kalpataru datang menghampirinya. Dan penghargaan itu pun dinilai sangat wajar baginya. Dia adalah penerima Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan tahun 2005, yang langsung diberikan oleh petinggi republik ini, Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Cipanas, Bogor. Saat menerima penghargaan tertinggi untuk upaya pelestarian lingkungan itu dia masih berusia cukup muda, 38 tahun, masih lajang. Dia barangkali termasuk kategori penerima Kalpataru yang termuda sampai sampai saat ini.

Pendeta Muhammad
Mengunjungi Taman Eden, buah karya Marandus Sirait, sangatlah mudah, karena pintu gerbangnya langsung berada pada sisi jalan di sebelah kiri, kalau tamu berangkat dari Parapat. Namun, karena pintu gerbang berada pas di tingkungan, maka sering tak terlihat. Mobil sering kelewatan dan alhasil terdampar di Polsek setempat, yang memang jaraknya tak jauh dari taman itu. Setelah tiba di pintu gerbang Taman Eden 100, ayunkanlah kaki melangkah masuk ke dalam, menempuh jalan yang sedikit menanjak. Jalan masuk adalah jalan berbatu, yang kalau kita tapaki maka batu-batu kecil pasti ikut tercampakkan ke sana-ke sini. Menarik, menyusuri jalan itu. Kita bisa melihat tanaman-tanaman yang sudah ditanam, juga melihat setiap tanaman itu yang sudah ada nama pemiliknya, nama si penanam dan tanggal saat tanaman itu dihunjamkan ke dalam tanah.
Seorang Pendeta bernama Muhammad pun pernah menanam pohon di situ, dan namanya langsung terlihat saat menyusuri jalan yang berbatu itu. Sampai di penghujung jalan, terdapat sebuah pos komando utama, sebuah rumah kayu yang terlihat sebagai tempat informasi sekaligus rumah tinggal. Dinding-dinding rumah itu, yang bertempelkan banyak guntingan-guntingan koran pun bercerita mengenai seorang sosok yang akan ditemui. Memang, sudah banyak media yang mengupas sosok yang satu ini.
Usai memanggil si empunya rumah, keluarlah seorang kakak, dan dia berkata, ”Abang sedang ke dalam, sedang mengantar pengunjung ke rumah Tarzan, silahkan menunggu sebentar.”
Pasti sudah terbayang rumah yang dimaksud tentulah sebuah rumah pohon. Karena, kabarnya Tarzan tinggal di pohon bukan di gua. Rumah Tarzan, air terjun dua tingkat, air terjun tujuh tingkat, gua kelelawar, bukit Manja, hingga hutan yang masih dihuni sepasang harimau, adalah daya tarik dari wisata di Taman Eden 100 ini. Kalau ingin menuju ke beberapa lokasi disediakan beberapa orang sebagai pemandu. Bila mau ke Bukit Manja maka akan menempuh jarak sekitar 5 kilometer atau sekitar 2,5 jam dari posko dengan berjalan kaki, menembus hutan, dengan jalanan yang menanjak. Tak berapa lama kemudian, seorang yang memakai kaus berwarna merah, bercelana pendek coklat dan bertopi rimba datang menghampiri. Dia mengiyakan sebagai orang yang tengah dicari.
Banyak yang mengagumi keberadaan Taman Eden 100, namun Marandus mengatakan, ”Sebenarnya, bagi saya ini belum selesai, semua masih berjalan, memang sudah terdapat 100 tanaman berbuah di sini. Namun, kami masih harus menambah beberapa fasilitas lain, seperti gua-gua penginapan, kolam pancing, tempat main untuk anak-anak. Juga kami mau coba mendatangkan kuda. Jadi bagi saya ini baru berjalan sekitar 50%.” Sebuah jawaban yang menarik, bahwa kerja kerasnya yang sudah membuahkan hasil ternyata masih belum berakhir. Dari brosur mengenai Taman Eden 100 ini, memang tertulis bila taman yang telah diupayakan sejak tahun 1999 itu ditargetkan semua akan tercapai pada tahun 2020.
Saat ini, di taman Eden 100 juga telah dibudidayakan tanaman-tanaman langka di bumi Batak, bahkan yang sudah jarang dijumpai lagi, seperti jabi-jabi, hariara, sampinur bunga, tahul-tahul dan tentu saja andaliman, yang sering diplesetkan menjadi ”keandalan iman.”
Di dalam taman terdapat area khusus untuk konservasi Anggrek Toba atau Orchid Park. Anggrek Toba di Taman Eden 100 ini merupakan satu-satunya taman konservasi anggrek hutan milik Sumatera Utara. Selain itu, sejak 29 September 2007 dan seterusnya, Marandus Sirait tengah mengupayakan Bank Pohon, yang dimaksudkan agar dapat menyuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba yang lain, dengan niat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan beragamnya tanaman di situ, maka wisata dengan konsep agrowisata lebih tepat diberikan ke Taman Eden 100 ini, meskipun taman ini juga kerap dijadikan sebagai wisata rohani. Sepertinya dia enggan untuk menambahkan fasilitas rumah ibadah seperti layaknya sebuah wisata iman di daerah Sidikalang yang memiliki empat rumah ibadah. Marandus hanya akan menambahkan gua-gua doa, yang akan diupayakannya sealami mungkin. Dan kemungkinan nantinya bisa digunakan oleh semua umat pemeluk beragama.
”Dikasi nama seratus itu memang agar ada seratus tanaman berbuah di sini, dan saya hitung-hitung ternyata sudah lebih. Sedangkan Taman Eden-nya ini diambil dari kitab Kejadian 2 ayat 15, yang bunyinya usahakan dan lestarikan bumi. Dulu kan di Taman Eden itu semua makhluk bisa hidup berdampingan, baik manusia, hewan, juga tanaman-tanaman. Semuanya hidup rukun,” katanya menguraikan. Dia pun mencoba menerangkan kembali makna dari taman yang dikelolanya ini. Sebuah harapan agar semua bisa rukun kembali di Taman Eden 100 ini. Tak berlebihan. Karena, meskipun namanya Taman Eden 100 yang cenderung Alkitabiah, namun ternyata yang pernah datang ke situ tidak hanya kaum kristiani, pendeta budhis pun pernah meditasi di taman ini.

Guru Musik
Marandus Sirait pada awalnya adalah seorang guru musik tamatan dari sekolah musik yang cukup terkenal di kota Medan, yaitu Medan Musik. Sebenarnya, dia sangat mencintai profesinya dan sudah ”cukup makan” dengan bidang yang digelutinya itu. Sejak tahun 1991, Marandus sudah menjadi guru musik di beberapa sekolah dan di gereja-gereja sekitar daerah Tobasa, malah sampai ke Pematang Siantar. Tak cuma itu, dia pun rela untuk mengasuh dan mengajarkan musik kepada para tuna netra di Panti Asuhan Hepata di daerah Laguboti.
Saat sembari mengajarkan musik itulah dia sering ”berkhotbah” tentang perlunya menjaga lingkungan hidup, karena itu adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Khotbah itu yang selalu didengung-dengungkannya setiap kali mengajar, di setiap tempat, di setiap waktu. Dia pun gelisah karena ”khotbahnya” terasa seperti menjadi ”kering.” Karena itu, dia menginginkan khotbahnya itu menjadi ”daging,” menjadi sebuah karya yang nyata, dalam perbuatan dan sikap. Lantas anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini pun mengusulkan kepada ayahnya, Leas Sirait, untuk memulai langkahnya mengupayakan 40 hektar areal keluarganya itu sebagai areal konservasi dengan konsep agrowisata. Gayung pun bersambut dari keluarga besar Sirait yang budiman ini. Lahan keluarga seluas 40 hektar ini berbatasan langsung dengan ribuan hektar hutan lindung milik pemerintah.
Dibuatlah konsep program Taman Eden 100 sejak tahun 1998. Tahun 1999 sudah mulai berjalan. Sejak Mei 2000 sudah disosialisasikan ke khalayak ramai dan ditargetkan akan selesai tahun 2020, dengan penambahan beberapa fasilitas yang memungkinkan. Mengupayakan dan mempertahankan areal konservasi seluas 40 hektar, yang merupakan lahan keluarga ini, hingga masih tetap bertahan bukan hal yang mudah. Tak lebih dan tak kurang juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Tiadanya bantuan pemerintah daerah setempat tidak membuat Marandus gentar sedikit pun. Semua hal telah dilakukannya. Katanya: ”Tak masalah kalo aku tak punya uang di kantong, asal taman ini tetap ada.”
Saat awal pembuatan taman ini, sekitar tahun 1998, dia pun menjual semua alat-alat band-nya untuk memulai langkah awal niatnya yang tulus. Semua penghasilannya dari seorang guru musik dan hasil penjualan dari alat-alat band-nya menjadi modal awal untuk membangun taman ini. Pastilah sangat berat bagi seorang guru musik saat memutuskan akan menjual semua alat-alat musik yang digemarinya. Kenangannya saat bersama alat-alat musik itu tentu menyesakkan dada. Namun, niat sudah dipancangkannya, langkah sudah diayunkannya.
Semuanya inisiatif sendiri, walau Marandus juga mengiyakan pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, ”Dulu ada bantuan pemerintah. Tapi, dulu, dari dinas pariwisata, tapi ya, minimlah. Bagaimanapun sudah kita syukuri kan, masih ada yang bantu.”
Berjuang dan bersyukur terlihat jelas di wajah putra Batak yang satu ini. Nampak jelas dari sinar matanya, guratan wajahnya, dan pada setiap patah kata dari ucapan Bataknya yang sangat kental. Jenggotnya yang tidak terlampau lebat menyiratkan seorang pejuang lingkungan sejati. Sedikit pun tak kelihatan dia merasa lelah, meskipun baru saja keluar dari dalam hutan mengantar dan memandu tamu yang keluar masuk hutan, melihat rumah Tarzan dan air terjun dua tingkat.
Saat ini dia mengucapkan syukur kepada sang khalik, karena sekarang tempat ini sudah sering dikunjungi oleh beberapa wisatawan lokal dan mancanegara. Marandus dan Taman Eden juga bersyukur, saat ada pembuatan tali air dari program Dinas Pengairan pemerintah yang mengalirkan air terjun yang melewati tamannya dan mengalir ke sawah-sawah penduduk di daerah sekitar Lumbanjulu. Tali air yang menjulur ke bawah melewati Taman Eden ini ibarat sebuah durian runtuh bagi para petani setempat.
Rasa syukurnya itu juga ditunjukkan kepada para pengunjung yang datang ke Taman Eden 100. Taman ini tidak mengenakan pungutan terhadap pengunjung. Hanya diletakkan sebuah kotak besar terbuat dari kaca yang transparan, yang disediakan bagi para pengunjung yang ingin memberikan sumbangan untuk perawatan Taman. Karena kotaknya transparan maka uang pun terlihat. Tak banyak, paling hanya beberapa lembar uang kertas lima ribu perak, bahkan seribu perak. Pengunjung tidak dikenakan pungutan namun bila ingin menanam sebuah pohon maka akan dikenakan ”kutipan” sebesar Rp 20.000 untuk perawatannya. Biasanya pengunjung yang menanam pohon namanya akan tercantum di pohon. Rombongan keluarga maupun pelajar tidak kena pungutan atau restibusi apa pun.
Hutan mekar kembali di pegunungan yang pernah kering. Danau Toba menghijau kembali, burung-burung datang dan berkicau kembali. Itulah bukti nyata sumbangsih seorang putra Batak bernama Marandus Sirait, si penerima Kalpataru, yang mungkin juga penerima Kalpataru termuda dan orang kelima dari Sumatera Utara yang pernah menerima pohon kehidupan itu sejak tahun 1980. Dari guru musik Marandus menjelma menjadi penyelamat lingkungan hidup. Layaklah bagi siapa saja untuk belajar dari ajaran dan tindakan guru yang satu ini.
Sejak tahun 2008, sang ”Adam” sudah tidak sendirian lagi di Taman Eden 100 ciptaannya ini, karena Tuhan telah mendatangkan seorang ”Hawa,” seorang permaisuri di ”kerajaan” lingkungan itu, namanya Yohana boru Sitepu. Sehingga dia sudah tak gelisah karena sendirian di ”istananya” yang hijau, di Taman Eden 100 itu. *** Chris Poerba, sudah diterbitkan di majalahTAPIAN

.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aktivis

Nortier Simanungkalit

9 November 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Raja Mars dari Tarutung

Notier Simanungkalit

Nortier Simanungkalit (GATRA/Rachmat Hidayat)HIDUP Nortier Simanungkalit teratur seperti lagu-lagu mars dan himne ciptaannya. Delapan jam istirahat, delapan jam santai. Sisanya, berkarya. Hasilnya, meski Desember nanti akan memasuki usia 75 tahun, ia masih segar bugar dan menghasilkan lagu. Terakhir, ia menciptakan Mars Pemilu 2004.

Mars dan himne menjadi identitas pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, itu. Pembaca pasti masih ingat denting piano pada intro lagu Senam Kesegaran Jasmani pada 1980-an. Kalau partiturnya masih ada, di bawah judul mars tadi pasti tertulis nama N. Simanungkalit.

Di luar dua komposisi itu, masih ada ratusan, tepatnya 268, komposisi lain yang sudah dihasilkannya. Seluruhnya diciptakan ompung empat cucu itu sejak ia remaja, pada 1950-an. Sayang, pria yang tak punya latar belakang pendidikan khusus musik ini lupa judul mars perdananya.

Tapi untuk debutnya di luar mars dan himne, ia ingat betul. “Sekuntum Bunga di Taman,” kata suami Sri Sugiarti boru Simorangkir itu. Lagu itu berirama pop. Ditulis ketika Simanungkalit baru satu semester menuntut ilmu di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Semangat mencipta lagunya makin menggebu ketika Sekuntum diputar RRI Yogyakarta. Lewat stasiun radio itu pula, guru seni suara sebuah SMA di Yogyakarta (1957-1964) itu mendengar siaran musik klasik kesukaannya. Kalau akhirnya ia lebih terpikat pada mars, tak lain karena menurut dia, “Mars adalah induk seluruh lagu.”

Karya cipta Simanungkalit tersebar sampai ke “negeri Paman Sam”. Lewat Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Palang Merah Amerika memesan sebuah himne dari dia pada 1999. Sebulan penuh dihabiskan Simanungkalit sebelum mendapatkan komposisi yang pas. Untuk keberhasilannya, ia mendapat medali jenis Special Recognition dari Palang Merah Amerika.

Nortier Simanungkalit; Induk Seluruh Lagu (GATRA/Rachmat Hidayat)Itu bukan pengalaman pertamanya dengan negeri Paman Sam. Pada 1972, Simanungkalit pernah bersantap siang dengan Presiden Richard Nixon. Ia berada di Amerika Serikat dalam rangka menjadi juri Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional. Kiprah dosen kor Akademi Musik Indonesia Yogyakarta (1964-1966) itu di pentas internasional tak sebatas menjadi juri. Selama periode 1968-1981, ia menjadi anggota International Music Council UNESCO.

Ada yang tak biasa dari Simanungkalit. Bila biasanya seorang komposer membangun sebuah komposisi lewat alat musik yang dikuasainya, tak demikian dengan komposer yang satu ini. Ia lebih sering membayangkannya terlebih dulu. Lalu nada-nada yang terlintas di kepala dituangkan ke atas secarik kertas. Biasanya, sebagian besar dari komposisi tadi sudah tercipta di luar kepala.

Untuk mendapatkan harmonisasi, atau agar tahu komposisi itu secara utuh, Simanungkalit menggunakan jasa orang lain. Misalnya saat mencipta Mars Pemilu 2004, ia menggunakan jasa seorang pianis di studio Monang Sianipar, Jakarta. “Di situlah kekuatan imajinasi dan seni,” kata bapak tiga anak itu.

Simanungkalit memperhatikan betul keselarasan lirik, yang senantiasa filosofis, dengan lagu ciptaannya. Empat unsur penting selalu diupayakan ada dalam tiap ciptaannya. Yaitu melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kehati-hatian itulah yang membuat penerima penghargaan Lifetime Achievement dari Koalisi Media KPU dan SCTV itu enggan mengikuti lomba bila jurinya bukan maestro musik atau seorang musikolog.

Nortier Simanungkalit (GATRA/Rachmat Hidayat)Sebelum mencipta lagu, mantan anggota MPR-RI (1987-1992) itu selalu menjalani ritualnya: berdoa. “Tuntunlah saya supaya berhasil membahagiakan orang yang menerima lagu ini,” kata Simanungkalit, menirukan doanya. Setelah itu, ia melakukan perenungan. Kadang lirik yang lebih dulu muncul, baru lagu. Kadang sebaliknya. Inspirasi didapatnya dari sembarang tempat.

Ketika membuat mars dan himne SEA Games, yang dipesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua KONI saat itu, ia mendapat idenya di atas bus kota. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat dua lagu sekaligus dalam 30 menit perjalanan. “Lagunya khas Jawa. Laras pelog untuk mars, selendro buat himne,” kata penerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II itu. Mulai pukul dua siang sampai pukul 10 keesokan harinya, Simanungkalit mengutak-atik lagu tadi. “Sampai pegal tangan saya,” katanya.

Carry Nadeak dan Rachmat Hidayat
[Musik, GATRA, Edisi 23 Beredar Jumat 16 April 2004]

→ Tinggalkan KomentarKategori: Seniman

Trimedya Panjaitan

3 November 2009 · 1 Komentar

Trimedya Panjaitan

Trymedia Panjaitan


Trimedya Panjaitan, SH. lahir di Medan, 06 Juni 1966. Mantan Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004, periode 2004-2009 duduk sebagai Ketua Komisi III. Selain di Komisi, putra Batak ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PDIP dan Anggota Badan Legislasi (Baleg).
Biodata
Kelamin: Laki-laki
Tmp/Tgl Lahir: Medan, 06 June 1966
Agama: Kristen Protestan
Alamat Lengkap: Gd. DPR/MPR RI Nusantara I Lt. 05 R. 0514 Jl. Gatot Subroto
Cempaka putih barat 25 No.11 Rt 03/07
Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Indonesia
Telpon: 5756138, 5756139, 5715569, 5715864, 5756040
Istri: Jovita Eva Sasantisiwi
Anak: 3 (tiga) Orang
Masa Akhir Jabatan: June 2009
Riwayat Pendidikan
• SDN HKBP Medan 1979
• SMPN 5 Medan 1982
• SMAN 30 Jakarta 1985
• Fak. Hukum Universitas Pancasila Jakarta 1991
Riwayat Jabatan
• Pembela Umum LBH 1991-1993
• Pembela Umum YLBHI 1993-1996
• Pimpinan Law Office Trimedya panjaitan & Ass 1996-n/a
• Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004
Pengalaman Organisasi
• Anggota Dewan Mandiri, Perhimpunan Bantuan Hukum & HAM Indonesia 1996-1998
• Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia
• Anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia 1997-n/a
• Ketua Forum Pembela Demokrasi Indonesia

→ 1 CommentKategori: Pengacara · Politikus