ENSIKLOPEDIA TOKOH BATAK

Marandus Sirait

19 November 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Marandus Sang Pencipta Taman Eden

Saat tiba di Laguboti, Balige, tersiarlah kabar ada seorang penerima Kalpataru di sekitar daerah itu. Ini tentulah kabar yang sangat menggairahkan. Terusik keinginan untuk selekasnya mencari tahu sekaligus menemuinya. Tak sabar lagi untuk bersua dengannya. Kata banyak orang, penerima Kalpatrau ini juga membudidayakan tanaman yang sudah langka di bumi Batak.
Si penerima pohon kehidupan itu, namanya juga sudah sangat dikenal warga di sekitar Balige dan Porsea. Kalau ada orang yang masih asing dengan namanya, cukuplah menanyakan kepada kerumunan orang yang berada di terminal atau lapo, dan tanyakan di mana lokasi Taman Eden 100. Yang ditanya akan menunjukkan arah Lumbanjulu. Ya, di situlah ”markas besar” dari Marandus Sirait. Dusunnya bernama Lumban Rang, Desa Sionggang Utara, Kecamatan Lumbanjulu, Tobasa, sekitar 16 kilometer dari Parapat atau 40 km dari Balige.
Taman Eden 100 dan Marandus Sirait bagai pinang dibelah dua, karena dialah yang mengelola taman dengan konsep agrowisata itu. Lahannya seluas 40 hektar yang hanya diperuntukkan untuk konservasi lingkungan Danau Toba. Marandus Sirait dengan mudah ditemui di Taman Eden 100. Atau sebaliknya, kalau ke Taman Eden 100 pasti akan menjumpai Marandus Sirait. Sirait dan Eden jadi kata kunci.
Taman Eden 100, adalah karya nyata dan bukti perjuangannya bagi lingkungan. Dia melakukannya tanpabanyak basa-basi, seperti kebanyakan orang lain, yang hanya menanam pohon untuk pencitraan, semata-mata untuk mendongkel semakin naiknya popularitas. Marandus bukan seperti orang-orang kebanyakan. Sebuah apresiasi yang setinggi-tingginya layak diberikan kepadanya. Hingga Kalpataru datang menghampirinya. Dan penghargaan itu pun dinilai sangat wajar baginya. Dia adalah penerima Kalpataru untuk kategori Perintis Lingkungan tahun 2005, yang langsung diberikan oleh petinggi republik ini, Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Cipanas, Bogor. Saat menerima penghargaan tertinggi untuk upaya pelestarian lingkungan itu dia masih berusia cukup muda, 38 tahun, masih lajang. Dia barangkali termasuk kategori penerima Kalpataru yang termuda sampai sampai saat ini.

Pendeta Muhammad
Mengunjungi Taman Eden, buah karya Marandus Sirait, sangatlah mudah, karena pintu gerbangnya langsung berada pada sisi jalan di sebelah kiri, kalau tamu berangkat dari Parapat. Namun, karena pintu gerbang berada pas di tingkungan, maka sering tak terlihat. Mobil sering kelewatan dan alhasil terdampar di Polsek setempat, yang memang jaraknya tak jauh dari taman itu. Setelah tiba di pintu gerbang Taman Eden 100, ayunkanlah kaki melangkah masuk ke dalam, menempuh jalan yang sedikit menanjak. Jalan masuk adalah jalan berbatu, yang kalau kita tapaki maka batu-batu kecil pasti ikut tercampakkan ke sana-ke sini. Menarik, menyusuri jalan itu. Kita bisa melihat tanaman-tanaman yang sudah ditanam, juga melihat setiap tanaman itu yang sudah ada nama pemiliknya, nama si penanam dan tanggal saat tanaman itu dihunjamkan ke dalam tanah.
Seorang Pendeta bernama Muhammad pun pernah menanam pohon di situ, dan namanya langsung terlihat saat menyusuri jalan yang berbatu itu. Sampai di penghujung jalan, terdapat sebuah pos komando utama, sebuah rumah kayu yang terlihat sebagai tempat informasi sekaligus rumah tinggal. Dinding-dinding rumah itu, yang bertempelkan banyak guntingan-guntingan koran pun bercerita mengenai seorang sosok yang akan ditemui. Memang, sudah banyak media yang mengupas sosok yang satu ini.
Usai memanggil si empunya rumah, keluarlah seorang kakak, dan dia berkata, ”Abang sedang ke dalam, sedang mengantar pengunjung ke rumah Tarzan, silahkan menunggu sebentar.”
Pasti sudah terbayang rumah yang dimaksud tentulah sebuah rumah pohon. Karena, kabarnya Tarzan tinggal di pohon bukan di gua. Rumah Tarzan, air terjun dua tingkat, air terjun tujuh tingkat, gua kelelawar, bukit Manja, hingga hutan yang masih dihuni sepasang harimau, adalah daya tarik dari wisata di Taman Eden 100 ini. Kalau ingin menuju ke beberapa lokasi disediakan beberapa orang sebagai pemandu. Bila mau ke Bukit Manja maka akan menempuh jarak sekitar 5 kilometer atau sekitar 2,5 jam dari posko dengan berjalan kaki, menembus hutan, dengan jalanan yang menanjak. Tak berapa lama kemudian, seorang yang memakai kaus berwarna merah, bercelana pendek coklat dan bertopi rimba datang menghampiri. Dia mengiyakan sebagai orang yang tengah dicari.
Banyak yang mengagumi keberadaan Taman Eden 100, namun Marandus mengatakan, ”Sebenarnya, bagi saya ini belum selesai, semua masih berjalan, memang sudah terdapat 100 tanaman berbuah di sini. Namun, kami masih harus menambah beberapa fasilitas lain, seperti gua-gua penginapan, kolam pancing, tempat main untuk anak-anak. Juga kami mau coba mendatangkan kuda. Jadi bagi saya ini baru berjalan sekitar 50%.” Sebuah jawaban yang menarik, bahwa kerja kerasnya yang sudah membuahkan hasil ternyata masih belum berakhir. Dari brosur mengenai Taman Eden 100 ini, memang tertulis bila taman yang telah diupayakan sejak tahun 1999 itu ditargetkan semua akan tercapai pada tahun 2020.
Saat ini, di taman Eden 100 juga telah dibudidayakan tanaman-tanaman langka di bumi Batak, bahkan yang sudah jarang dijumpai lagi, seperti jabi-jabi, hariara, sampinur bunga, tahul-tahul dan tentu saja andaliman, yang sering diplesetkan menjadi ”keandalan iman.”
Di dalam taman terdapat area khusus untuk konservasi Anggrek Toba atau Orchid Park. Anggrek Toba di Taman Eden 100 ini merupakan satu-satunya taman konservasi anggrek hutan milik Sumatera Utara. Selain itu, sejak 29 September 2007 dan seterusnya, Marandus Sirait tengah mengupayakan Bank Pohon, yang dimaksudkan agar dapat menyuplai bibit-bibit ke kawasan Danau Toba yang lain, dengan niat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Dengan beragamnya tanaman di situ, maka wisata dengan konsep agrowisata lebih tepat diberikan ke Taman Eden 100 ini, meskipun taman ini juga kerap dijadikan sebagai wisata rohani. Sepertinya dia enggan untuk menambahkan fasilitas rumah ibadah seperti layaknya sebuah wisata iman di daerah Sidikalang yang memiliki empat rumah ibadah. Marandus hanya akan menambahkan gua-gua doa, yang akan diupayakannya sealami mungkin. Dan kemungkinan nantinya bisa digunakan oleh semua umat pemeluk beragama.
”Dikasi nama seratus itu memang agar ada seratus tanaman berbuah di sini, dan saya hitung-hitung ternyata sudah lebih. Sedangkan Taman Eden-nya ini diambil dari kitab Kejadian 2 ayat 15, yang bunyinya usahakan dan lestarikan bumi. Dulu kan di Taman Eden itu semua makhluk bisa hidup berdampingan, baik manusia, hewan, juga tanaman-tanaman. Semuanya hidup rukun,” katanya menguraikan. Dia pun mencoba menerangkan kembali makna dari taman yang dikelolanya ini. Sebuah harapan agar semua bisa rukun kembali di Taman Eden 100 ini. Tak berlebihan. Karena, meskipun namanya Taman Eden 100 yang cenderung Alkitabiah, namun ternyata yang pernah datang ke situ tidak hanya kaum kristiani, pendeta budhis pun pernah meditasi di taman ini.

Guru Musik
Marandus Sirait pada awalnya adalah seorang guru musik tamatan dari sekolah musik yang cukup terkenal di kota Medan, yaitu Medan Musik. Sebenarnya, dia sangat mencintai profesinya dan sudah ”cukup makan” dengan bidang yang digelutinya itu. Sejak tahun 1991, Marandus sudah menjadi guru musik di beberapa sekolah dan di gereja-gereja sekitar daerah Tobasa, malah sampai ke Pematang Siantar. Tak cuma itu, dia pun rela untuk mengasuh dan mengajarkan musik kepada para tuna netra di Panti Asuhan Hepata di daerah Laguboti.
Saat sembari mengajarkan musik itulah dia sering ”berkhotbah” tentang perlunya menjaga lingkungan hidup, karena itu adalah anugerah Tuhan yang diberikan kepada manusia, yang harus dijaga untuk generasi berikutnya. Khotbah itu yang selalu didengung-dengungkannya setiap kali mengajar, di setiap tempat, di setiap waktu. Dia pun gelisah karena ”khotbahnya” terasa seperti menjadi ”kering.” Karena itu, dia menginginkan khotbahnya itu menjadi ”daging,” menjadi sebuah karya yang nyata, dalam perbuatan dan sikap. Lantas anak ketiga dari sepuluh bersaudara ini pun mengusulkan kepada ayahnya, Leas Sirait, untuk memulai langkahnya mengupayakan 40 hektar areal keluarganya itu sebagai areal konservasi dengan konsep agrowisata. Gayung pun bersambut dari keluarga besar Sirait yang budiman ini. Lahan keluarga seluas 40 hektar ini berbatasan langsung dengan ribuan hektar hutan lindung milik pemerintah.
Dibuatlah konsep program Taman Eden 100 sejak tahun 1998. Tahun 1999 sudah mulai berjalan. Sejak Mei 2000 sudah disosialisasikan ke khalayak ramai dan ditargetkan akan selesai tahun 2020, dengan penambahan beberapa fasilitas yang memungkinkan. Mengupayakan dan mempertahankan areal konservasi seluas 40 hektar, yang merupakan lahan keluarga ini, hingga masih tetap bertahan bukan hal yang mudah. Tak lebih dan tak kurang juga membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Tiadanya bantuan pemerintah daerah setempat tidak membuat Marandus gentar sedikit pun. Semua hal telah dilakukannya. Katanya: ”Tak masalah kalo aku tak punya uang di kantong, asal taman ini tetap ada.”
Saat awal pembuatan taman ini, sekitar tahun 1998, dia pun menjual semua alat-alat band-nya untuk memulai langkah awal niatnya yang tulus. Semua penghasilannya dari seorang guru musik dan hasil penjualan dari alat-alat band-nya menjadi modal awal untuk membangun taman ini. Pastilah sangat berat bagi seorang guru musik saat memutuskan akan menjual semua alat-alat musik yang digemarinya. Kenangannya saat bersama alat-alat musik itu tentu menyesakkan dada. Namun, niat sudah dipancangkannya, langkah sudah diayunkannya.
Semuanya inisiatif sendiri, walau Marandus juga mengiyakan pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah, ”Dulu ada bantuan pemerintah. Tapi, dulu, dari dinas pariwisata, tapi ya, minimlah. Bagaimanapun sudah kita syukuri kan, masih ada yang bantu.”
Berjuang dan bersyukur terlihat jelas di wajah putra Batak yang satu ini. Nampak jelas dari sinar matanya, guratan wajahnya, dan pada setiap patah kata dari ucapan Bataknya yang sangat kental. Jenggotnya yang tidak terlampau lebat menyiratkan seorang pejuang lingkungan sejati. Sedikit pun tak kelihatan dia merasa lelah, meskipun baru saja keluar dari dalam hutan mengantar dan memandu tamu yang keluar masuk hutan, melihat rumah Tarzan dan air terjun dua tingkat.
Saat ini dia mengucapkan syukur kepada sang khalik, karena sekarang tempat ini sudah sering dikunjungi oleh beberapa wisatawan lokal dan mancanegara. Marandus dan Taman Eden juga bersyukur, saat ada pembuatan tali air dari program Dinas Pengairan pemerintah yang mengalirkan air terjun yang melewati tamannya dan mengalir ke sawah-sawah penduduk di daerah sekitar Lumbanjulu. Tali air yang menjulur ke bawah melewati Taman Eden ini ibarat sebuah durian runtuh bagi para petani setempat.
Rasa syukurnya itu juga ditunjukkan kepada para pengunjung yang datang ke Taman Eden 100. Taman ini tidak mengenakan pungutan terhadap pengunjung. Hanya diletakkan sebuah kotak besar terbuat dari kaca yang transparan, yang disediakan bagi para pengunjung yang ingin memberikan sumbangan untuk perawatan Taman. Karena kotaknya transparan maka uang pun terlihat. Tak banyak, paling hanya beberapa lembar uang kertas lima ribu perak, bahkan seribu perak. Pengunjung tidak dikenakan pungutan namun bila ingin menanam sebuah pohon maka akan dikenakan ”kutipan” sebesar Rp 20.000 untuk perawatannya. Biasanya pengunjung yang menanam pohon namanya akan tercantum di pohon. Rombongan keluarga maupun pelajar tidak kena pungutan atau restibusi apa pun.
Hutan mekar kembali di pegunungan yang pernah kering. Danau Toba menghijau kembali, burung-burung datang dan berkicau kembali. Itulah bukti nyata sumbangsih seorang putra Batak bernama Marandus Sirait, si penerima Kalpataru, yang mungkin juga penerima Kalpataru termuda dan orang kelima dari Sumatera Utara yang pernah menerima pohon kehidupan itu sejak tahun 1980. Dari guru musik Marandus menjelma menjadi penyelamat lingkungan hidup. Layaklah bagi siapa saja untuk belajar dari ajaran dan tindakan guru yang satu ini.
Sejak tahun 2008, sang ”Adam” sudah tidak sendirian lagi di Taman Eden 100 ciptaannya ini, karena Tuhan telah mendatangkan seorang ”Hawa,” seorang permaisuri di ”kerajaan” lingkungan itu, namanya Yohana boru Sitepu. Sehingga dia sudah tak gelisah karena sendirian di ”istananya” yang hijau, di Taman Eden 100 itu. *** Chris Poerba, sudah diterbitkan di majalahTAPIAN

.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aktivis

Nortier Simanungkalit

9 November 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Raja Mars dari Tarutungnortier simanungkalit

Nortier Simanungkalit (GATRA/Rachmat Hidayat)HIDUP Nortier Simanungkalit teratur seperti lagu-lagu mars dan himne ciptaannya. Delapan jam istirahat, delapan jam santai. Sisanya, berkarya. Hasilnya, meski Desember nanti akan memasuki usia 75 tahun, ia masih segar bugar dan menghasilkan lagu. Terakhir, ia menciptakan Mars Pemilu 2004.

Mars dan himne menjadi identitas pria kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, itu. Pembaca pasti masih ingat denting piano pada intro lagu Senam Kesegaran Jasmani pada 1980-an. Kalau partiturnya masih ada, di bawah judul mars tadi pasti tertulis nama N. Simanungkalit.

Di luar dua komposisi itu, masih ada ratusan, tepatnya 268, komposisi lain yang sudah dihasilkannya. Seluruhnya diciptakan ompung empat cucu itu sejak ia remaja, pada 1950-an. Sayang, pria yang tak punya latar belakang pendidikan khusus musik ini lupa judul mars perdananya.

Tapi untuk debutnya di luar mars dan himne, ia ingat betul. “Sekuntum Bunga di Taman,” kata suami Sri Sugiarti boru Simorangkir itu. Lagu itu berirama pop. Ditulis ketika Simanungkalit baru satu semester menuntut ilmu di Fakultas Pedagogi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Semangat mencipta lagunya makin menggebu ketika Sekuntum diputar RRI Yogyakarta. Lewat stasiun radio itu pula, guru seni suara sebuah SMA di Yogyakarta (1957-1964) itu mendengar siaran musik klasik kesukaannya. Kalau akhirnya ia lebih terpikat pada mars, tak lain karena menurut dia, “Mars adalah induk seluruh lagu.”

Karya cipta Simanungkalit tersebar sampai ke “negeri Paman Sam”. Lewat Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta, Palang Merah Amerika memesan sebuah himne dari dia pada 1999. Sebulan penuh dihabiskan Simanungkalit sebelum mendapatkan komposisi yang pas. Untuk keberhasilannya, ia mendapat medali jenis Special Recognition dari Palang Merah Amerika.

Nortier Simanungkalit; Induk Seluruh Lagu (GATRA/Rachmat Hidayat)Itu bukan pengalaman pertamanya dengan negeri Paman Sam. Pada 1972, Simanungkalit pernah bersantap siang dengan Presiden Richard Nixon. Ia berada di Amerika Serikat dalam rangka menjadi juri Festival Paduan Suara Mahasiswa Internasional. Kiprah dosen kor Akademi Musik Indonesia Yogyakarta (1964-1966) itu di pentas internasional tak sebatas menjadi juri. Selama periode 1968-1981, ia menjadi anggota International Music Council UNESCO.

Ada yang tak biasa dari Simanungkalit. Bila biasanya seorang komposer membangun sebuah komposisi lewat alat musik yang dikuasainya, tak demikian dengan komposer yang satu ini. Ia lebih sering membayangkannya terlebih dulu. Lalu nada-nada yang terlintas di kepala dituangkan ke atas secarik kertas. Biasanya, sebagian besar dari komposisi tadi sudah tercipta di luar kepala.

Untuk mendapatkan harmonisasi, atau agar tahu komposisi itu secara utuh, Simanungkalit menggunakan jasa orang lain. Misalnya saat mencipta Mars Pemilu 2004, ia menggunakan jasa seorang pianis di studio Monang Sianipar, Jakarta. “Di situlah kekuatan imajinasi dan seni,” kata bapak tiga anak itu.

Simanungkalit memperhatikan betul keselarasan lirik, yang senantiasa filosofis, dengan lagu ciptaannya. Empat unsur penting selalu diupayakan ada dalam tiap ciptaannya. Yaitu melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Kehati-hatian itulah yang membuat penerima penghargaan Lifetime Achievement dari Koalisi Media KPU dan SCTV itu enggan mengikuti lomba bila jurinya bukan maestro musik atau seorang musikolog.

Nortier Simanungkalit (GATRA/Rachmat Hidayat)Sebelum mencipta lagu, mantan anggota MPR-RI (1987-1992) itu selalu menjalani ritualnya: berdoa. “Tuntunlah saya supaya berhasil membahagiakan orang yang menerima lagu ini,” kata Simanungkalit, menirukan doanya. Setelah itu, ia melakukan perenungan. Kadang lirik yang lebih dulu muncul, baru lagu. Kadang sebaliknya. Inspirasi didapatnya dari sembarang tempat.

Ketika membuat mars dan himne SEA Games, yang dipesan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, Ketua KONI saat itu, ia mendapat idenya di atas bus kota. Tak tanggung-tanggung, ia mendapat dua lagu sekaligus dalam 30 menit perjalanan. “Lagunya khas Jawa. Laras pelog untuk mars, selendro buat himne,” kata penerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan I dan II itu. Mulai pukul dua siang sampai pukul 10 keesokan harinya, Simanungkalit mengutak-atik lagu tadi. “Sampai pegal tangan saya,” katanya.

Carry Nadeak dan Rachmat Hidayat
[Musik, GATRA, Edisi 23 Beredar Jumat 16 April 2004]

→ Tinggalkan KomentarKategori: Seniman

Trimedya Panjaitan

3 November 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Trimedya PanjaitanTrimedya Panjaitan
Trimedya Panjaitan, SH. lahir di Medan, 06 Juni 1966. Mantan Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004, periode 2004-2009 duduk sebagai Ketua Komisi III. Selain di Komisi, putra Batak ini juga menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PDIP dan Anggota Badan Legislasi (Baleg).
Biodata
Kelamin: Laki-laki
Tmp/Tgl Lahir: Medan, 06 June 1966
Agama: Kristen Protestan
Alamat Lengkap: Gd. DPR/MPR RI Nusantara I Lt. 05 R. 0514 Jl. Gatot Subroto
Cempaka putih barat 25 No.11 Rt 03/07
Jakarta
Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Indonesia
Telpon: 5756138, 5756139, 5715569, 5715864, 5756040
Istri: Jovita Eva Sasantisiwi
Anak: 3 (tiga) Orang
Masa Akhir Jabatan: June 2009
Riwayat Pendidikan
• SDN HKBP Medan 1979
• SMPN 5 Medan 1982
• SMAN 30 Jakarta 1985
• Fak. Hukum Universitas Pancasila Jakarta 1991
Riwayat Jabatan
• Pembela Umum LBH 1991-1993
• Pembela Umum YLBHI 1993-1996
• Pimpinan Law Office Trimedya panjaitan & Ass 1996-n/a
• Anggota DPR RI F-PDIP 1999-2004
Pengalaman Organisasi
• Anggota Dewan Mandiri, Perhimpunan Bantuan Hukum & HAM Indonesia 1996-1998
• Ketua Umum Serikat Pengacara Indonesia
• Anggota Tim Pembela Demokrasi Indonesia 1997-n/a
• Ketua Forum Pembela Demokrasi Indonesia

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pengacara · Politikus

Ir. RE Siahaan

2 November 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Ir. RE Siahaan adalah walikota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia, berpasangan dengan Drs Imal Raya Harahap sebagai wakil walikota. Ia menjabat walikota sejak tanggal 25 Agustus 2005. Sebelumnya ia menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Holtikultura Kabupaten Simalungun.RE Siahaan
DATA PRIBADI

Nama Lengkap : Ir. Robert Edison Siahaan
Tempat Lahir/Tgl. Lahir : Balige, 29 April 1959
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Jl. Sutomo No 10 Pematang Siantar – Sumatera Utara

DATA KELUARGA

Istri : Elfrida Dorowaty Hutapea (Sibolga, 7 Desember 1961)
Anak :
Fernando S.M. Siahaan (P.Siantar, 9 Maret 1984)
Sylvia M.E. Siahaan (P.Siantar, 28 April 1987)
Endang Sartika Siahaan (P.Siantar, 6 Oktober 1994)
Eric Julio Siahaan (P.Siantar, 13 Juli 1996)

PENDIDIKAN

Sekolah Dasar : SD Negeri 12 P. Siantar (1971)
Sekolah Menengah Umum : SMP Negeri 1 P. Siantar (1974)
Sekolah Menengah Atas :
SMA Negeri 2 P. Siantar (1977)
S1 Institut Pertanian Bogor (1982)
KARIR

1983 – 1987 Kepala Unit Pelaksana Proyek (UPP) PKKR Dolok Batu Nanggar Simalungun
1984 – 1987 Kepala Cabang VI Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Sumatera Utara di Siborong-borong
1994 – 1995 Kepala Cabang V Dinas Perkebunan Propinsi Dati I Sumatera Utara di Sidikalang
1995 – 2001 Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Simalungun
2001 – 2005 Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Simalungun
2005 – sekarang WALIKOTA PEMATANG SIANTAR
TANDA JASA / PENGHARGAAN
2005 : SATYALANCANA KARYA SATYA 20 TAHUN, Oleh Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
PENGALAMAN ORGANISASI
2006 – 2011 : Ketua DPC. Partai Demokrat Kota Pematang Siantar
PENGALAMAN LUAR NEGERI
April, 2007 : Bangladesh – Promosi Budaya dan Pariwisata Indonesia (Indonesia Night 2007)
http://www.resiahaan.info/?p=107

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pejabat

Tifatul Sembiring

23 Oktober 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nama Tifatul Sembiring
Lahir Bukittinggi, 28 September 1961Tifatul Sembiring
Istri Sri Rahayu
Anak 1. Sabrina Sembiring
2. Fathan Sembiring
3. Ibrahim Sembiring
4. Yusuf Sembiring
5. Fatimah Sembiring
6. Muhammad Sembiring
7. Abdurrahman Sembiring

Pengalaman Organisasi:
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),perioden 2005-2010
Pejabat Sementara Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),n Oktober 2004-April 2005
Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumateran
Humasn Partai Keadilan
Pendiri PartaiKeadlan (PK)n
Aktivis Pelajar Islamn Indonesia (PII)
Aktivis Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, 1990n
Aktivisn Korps Mubaligh Khairu Ummah

Pekerjaan:
n Direktur Asaduddin Press, Jakarta
PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jwa, Bali,n Madura 1982-1989

Pendidikan:
Sekolahn Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta
n International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan

Alamat Rumah:
Kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jawa Barat

Alamat Kantor:
Kantor Pusat DPP Partai Keadilan Sejahtera
Gedung Dakwah Keadilan
Jl. Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F
Jakarta Selatan, Indonesia
Telp +62-21-7995425
Fax +62-21-7995433

sumber:http://www.tifatul.info

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pejabat · Politikus

Sudi Silalahi, Letjen TNI (Purn.)

23 Oktober 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Letjen TNI (Purn.) Sudi Silalahi (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Sudi SilalahiUtara, 13 Juli 1949; umur 60 tahun) adalah Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Sekretaris Kabinet. Sudi lulus dari Akabri pada tahun 1972 dan mengakhiri karir militernya dengan pangkat Letnan Jenderal. Ia adalah sekretaris Susilo Bambang Yudhoyono saat Yudhoyono sedang menjabat sebagai Menko Polkam di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

* 1996-1997 Wakil Assospol Kasospol ABRI
* 1998 – Kepala Staf Kodam Jaya
* Oktober 1998 – Askomsos Kaster ABRI
* 1999 – Pangdam V Brawijaya, Surabaya
* Oktober 2001-Juli 2004 – Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dalam Kabinet Gotong Royong
* 2004-2009 – Sekretaris Kabinet dalam Kabinet Indonesia Bersatu
* 2009-sekarang – Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Indonesia Bersatu II

Pada tanggal 20 Januari 2005, dengan mengatasnamakan jabatannya sebagai Seskab, Sudi Silalahi mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri RI, dan meminta Menlu untuk merespons dan menerima presentasi dari manajemen PT Sun Hoo Engineering tentang rencana pembangunan gedung KBRI di Seoul, Korea Selatan. Surat ini kemudian disusul dengan surat kedua pada tanggal 21 Februari 2005, dengan isi yang sama, namun diperkuat dengan permintaan untuk ‘menindaklanjuti’ yang diberi penekanan dengan huruf miring. Surat ini juga melampirkan 4 berkas proposal dan dua maket. [1]

Surat-surat ini kemudian bocor ke tangan wartawan, dan dimuat di berbagai surat kabar setahun kemudian. Banyak pihak, antara lain mantan presiden RI Abdurrahman Wahid, koordinator ICW Teten Masduki serta kalangan anggota DPR menganggap apa yang dilakukan Sudi ini di luar batas-batas kepatutan sebagai pejabat negara.

Untuk meredam kasus ini, Sudi melaporkan anak buahnya, Aziz Ahmadi, sebagai orang yang dianggap telah memalsukan surat-surat tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, Aziz diberitakan pula telah mengaku menerima imbalan atas keluarnya surat tersebut.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pejabat · Tokoh ABRI

M.S. Hutagalung

14 Oktober 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Kehidupan adalah Jantung dari SastraMS Hutagalung.jpg
Oleh : Hotma D. L.tobing

KabarIndonesia – Mungkin generasi muda sekarang ini tidak banyak yang kenal dengan Mangasa Sotarduga Hutagalung. Beliau adalah M.S. Hutagalung pengarang buku sastra dan kritikus sastra. MS Hutagalung telah banyak memakan asam garam ikhwal sastra di Indonesia. Di masa mudanya di tahun 60-an, Hutagalung banyak menulis tentang kritik sastra terhadap siapa gitu. Ratusan kritik dan esai sastra yang telah ditulis dan dimuat di buku antologi sastra.

Pada tahun 1971 -1973 pernah belajar Fakultas Sastra Universitas Leiden dalam program Leiden, studi Pasca Sarjana dalam bidang linguistik Terkenal di kalangan masyarakat kesusasteraan Indonesia sebagai seorang ahli sastra yang telah banyak menulis buku tentang kesusasteraan ; banyak menulis artikel sastra dalam majalah dan suratkabar ibukota, banyak membawakan kerja keras dalam seminar-seminar sastra. Ia juga pernah duduk dalam Komisi bahasa Indonesia yang bertugas membantu penyusunan “Alkitab Terjemahan Baru”.

Tak kurang kurang dari 10 bukunya yang telah diterbitkan antara lain: Tanggapan Jalan tak ada Ujung Muchtar Lubis (Gunung Agung, cet. 2,1963), Tanggapan Dunia Asrul Sani ( Gunung Agung,1967 ), Hari Penentuan (BPK Gunung Mulia,1967), Memahami dan Menikmati Puisi (BPK Gunung Mulia 1971 ; mendapat penghargaan dari Departmen Pemuda ), Telaah Puisi (BPK Gunung Mulia 1973), Kritik atas Kritik atas Kritik (Tulila, 1975 ), Membina Kesusasteraan Indonesia Modern (Corpatarin utama 1988), Telaah Puisi Penyair Angkatan Baru (Tulila, 1989). Dalam buku ini termuat pembicaraannya tentang hampir semua penyair utama di Indonesia (Angkatan Baru ), mulai dari Toto Sudarto Bachtiar, Ajib Rosidi, Subagio Sastrowardoyo, Gunawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Popy M.Hutagalung, Fridolin Ukur dan lain-lain.

Kemudian dalam 2 tahun terakhir ini buku yang terbit adalah Perjalanan 40 tahun GKPI Jemaat Rawamangun bersaksi, PENATUA, Tugas dan Syarat, Menumbuh Kembangkan Jemaat (Kolportase GKPI Rawamangun, 2006). Pada mulanya MS menulis sajak dan cerpen dan disiarkan oleh RRI Medan. Setelah tamat dari Universitas Indonesia puluhan bukunya telah diterbitkan. Ratusan kritik dan esainya tersebar di koran dan majalah. M.S Hutagalung lahir di Tarutung, Sumut 8 Desember 1937, lulus tahun 1964 pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mengajar pada fakultas yang sama dengan mata kuliah kesusasteraan Indonesia. Pada tahun 1984 bertugas di Universitas Sains di Penang -Malaysia sebagai dosen tamu. Dia sempat mengenyam pendidikan S2 di Leiden bahkan selama 7 tahun mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Sains Penang, Malaysia. Sebelum pensiun, dia juga mengajar bahasa Indonesia Sastra Indonesia di Universitas Kristen Indonesia, Universitas Nasional, STT Jakarta dan STT Cipanas.

Puisi Penting, Tetapi Tak Laku

Dua puluh tahun lalu dia pernah berkomentar dalam bukunya Telaah puisi Penyair Angkatan Baru, dan itu juga yang diulanginya ketika saya bertemu dengannya dua bulan lalu di rumahnya bilangan Pemuda Asli, Rawamangun, Jakarta Timur : Saya heran kalau dikatakan bahwa puisi dirasakan penting, tetapi mengapa tidak laku? Disamping yang mendewa-dewakan atau memistik-mistikkan puisi atau sastra, tidak kurang juga banyaknya orang-orang yang melecehkan arti puisi. Bagi mereka puisi itu adalah ciptaan orang-orang yang suka melamun dan hanya berguna untuk orang-orang yang melamun juga. Sajak-sajak yang berserakan di mana-mana dan sajak cengeng dan seenaknya seakan memperkuat alasan mereka bahwa sajak sebenarnya adalah hasil pekerjaan orang-orang iseng yang mempermainkan kata-kata.

Kita harus mengakui bahwa zaman kita bukanlah zaman seni, tetapi zaman ilmu, tekonologi, ekonomi dan lain-lain. Tetapi zaman ini pulalah mulai terbukti bahwa apa yang telah agak lama dikahawatirkan orang-orang bijak: merosotnya nilai-nilai kemanusiaan. Tidak kurang dari seorang Menteri Agama kita sendiri berkata bahwa hidup tanpa seni adalah kekasaran. Memang untuk dapat melihat makna sesuatu untuk kehidupan, kita perlu mencoba membayangkan hidup kita tanpa seni. Sebab sesuatu itu mungkin tidak kita sadari lagi maknanya, karena sudah terlalu biasa seperti “udara”. Saya kira memang banyak orang yang sudah tak dapat hidup lagi tanpa musik kesayangannya, tanpa buku sastra, tanpa tari. Tapi tanpa sajak atau puisi? Sangat mengerikan. Anak-anak sekarang kita tidak lagi menyanyikan tentang Pelangi atau Bintang kecilnya Ibu Sud. Dapatkan dibayangkan, kebaktian di gereja akan hambar dan pembicaraan di pesta adat dan antara kita mungkin menjadi kurang semarak dan membosankan, karena tidak diselingi lagi oleh pepatah-petitih atau gaya khas yang kita pergunakan. Pada zaman ini hati kita semakin kebal. Rasa ibahati, belas kasihan, pengorbanan semakin hilang.

Di samping merangsang kepekaan kita pada keindahan, kesenian dan terutama sastra juga selalu merangsang hati kita terhadap kemanusiaan, kehidupan bahkan kepada alam sekeliling. Kehidupan memang adalah jantung dari sastra. Sastra merangsang kita untuk lebih memahami, menghayati kehidupan. Sastra bukan merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada kita, tetapi menampilkannya, mengkonkretkannya.

Meski Sakit di Usia Senja, Karya Tetap Eksis

Karena selama menjelang pensiun MS Hutagalung banyak berkiprah di llingkungan gereja, puisinya banyak becerminkan tentang hidup dan kehidupan yang menjadi renungan yang mendalam kepada yang membacanya. M.S. Hutagalung menempatkan masa lalu dengan optimisme yang penuh semangat. Harus diakui bahwa Hutagalung kini tidak lagi secara cermat mengikuti perjalanan kritik sastra Indonesia, karena matanya sudah rabun. Bahkan kini ia tengah bergulat dengan alat pencuci darah yang terpaksa dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Cairan harus segera dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. “Kita jalani sajalah dengan penuh syukur, apa yang terjadi kini”, kata Aksa Mary Tobing, belahan jiwanya yang setia mendampinginya.

Permata Kehidupan

Dua bulan lalu bersama Astar Siregar teman mahasiswa dan teman seasramanya di Daksinapati, Rawamangun, telah menerbitkan sebuah buku. Di dalam buku antologi puisi berjudul: Permata Kehidupan, Sajak-sajak Lansia bersampul luks ini, MS Hutagalung yang genap berusia 71 tahun 8 desember 2007 ini, menulis 31 judul sajak yang ditulis selama tahun 2007. Maka lahirlah perenungan di dalam relung-relung hati yang amat dalam.

Coba kita simak dalam puisinya berjudul Aku ingin menari seperti daun gugur: Aku ingin seperti daun itu/ menarikan tarian yang paling indah/ Atau menyanyikan sebauah lagu paling merdu/ Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah/ Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup atau “Aku Bergegas dan Tersandung”: yang dengan sederhana tetapi sedemikian rupa sanggup menohok kecendrungan manusiawi dan kefanaan kita. Kemudian kita lihat lagi karyanya dalam judul lain seperti “Kunjungan bunda, Cinta terpendam, Sajak untuk isteriku, Menempuh tahun 2007 dengan merangkak”dan lain-lain. Karyanya seperti berbicara langsung dengan Tuhannya : mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya.

Riris dan Maman Berkomentar

“Kumpulan sajak Permata Kehidupan yang ditulis oleh dua sahabat yang kebetulan pada masa produktifnya adalah pengajar di Universitas Indonesia, bukan hanya memberi pengalaman dan pengetahuan pada pembacanya, tetapi juga sekaligus dapat memberi kelegaan pada penulisnya.” kata Prof. Riris K Toha Sarumpaet, Ph.D dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Membaca sajak-sajak yang longgar namun sungguh dan tulus ciptaan M.S. Hutagalung ibarat membuku buku harian, atau laporan sederhana yang berkisah tentang misalnya dan lain-lain. Seperti berbicara langsung dengan Tuhannya, mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya, sang penyair berkata, “Seperti cuaca musim pancaroba/setiap saat bisa berubah, kalau menghadapi yang begini/Aku ingin kembali ke kelas katekisasi.” Penyesalan, pengakuan, dan penerimaan hidup secara berulang berkelebat dalam sajak sajak M.S. Hutagalung seperti tampak pada sajaknya “Permata dan Kerikil” atau “Ingin Jadi Orang Berhidmat dan lain-lain.” Mesin pencuci darah telah melahirkan pesimisme dalam menatap masa depan. Sesuatu yang sangat manusiawi. Segalanya habis. Tetapi kemudian, spirit istri, doa kerabat dan keteguhan iman, memberi penyadaran, bahwa itulah kehendakNya. Maka dengan kehendak-Nya pula, di depan terhampar kemenangan ; optimisme untuk bertahan, bercinta dengan gereja dan jemaatnya, dan bertegur sapa dengan manusia dan kemanusiaan.

Di hiruk pikuk kemajuan dan keblinger manusia, tidakkah pengucapan serupa ini merupakan pengucapan yang sangat pedih dan dengan cara sederhana sekalipun, mengingatkan dan mendidik kita akan harga sebuah kehidupan? Dengan cara inilah sajak menyapa manusia, dan dengan cara serupa pula penyair melepaskan risau dan gelisahnya, karena tahu dengan komunikasi ini, ia telah mengatakan dan menyuratkan bahkan berbuat sesuatu.

“Renungan tentang masa lalu yang mendominasi puisi M.S. Hutagalung dan tanggapan evaluatif atas kondisi masa kini kerap disampaikan, menjadikan antologi puisi ini seperti menawarkan dua semangat yang berorientasi pada dua masa yang berbeda”, kata Maman S. Mahayana M.Hum, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.” M.S. Hutagalung mencoba menghubungkan masa kini sebagai alat refleksi mengembalikan masa lalu sebagai renungan kontemplatif.

Sementara itu Astar Siregar menempatkan masa kini sebagai alat untuk memaknai posisi kekiniannya sebagai mahluk sosial. Ia begitu perduli pada problem sosial yang seperti memaksanya harus ikut menyuarakan kegelisahannya. Maka ia mencoba memberi penyadaran, betapa pentingnya menatap masa depan dengan gairah cinta kasih dan toleransi” Semangat kesetaraan dan pengagungan yang sejajar pada sesama umat beragama dan sesama manusia, tidak hanya memancarkan élan multikulturalisme dalam lingkup keindonesiaan, tetapi juga diyakini dapat membawa negeri ini pada dua kata kunci : damai dan sejahtera.

Dua minggu lalu, ketika saya besuk di RS. Cikini, penyakitnya semakin berat. M.S. Hutagalung tampak lemah. Wajahnya pucat pasi. Ketika tulisan ini dibuat, Beliau masih tetap dirawat meskipun sudah diijinkan pulang ke rumahnya di bilangan Rawamangun. Cairan infus harus selalu dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. Kiranya Tuhan senantiasa campur tangan dengan kehidupannya kini.

sumber; www.kabarindonesia.com

→ Tinggalkan KomentarKategori: Penulis, Sastrawan

Basyral Hamidy Harahap

6 Oktober 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Basyral Hamidy Harahap, lahir di desa Sihepeng, Kecamatan Siabu, bharahapMandailing Natal, 15 November 1940. *Pengajar tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1964-1975, *Tenaga honorer pada Lembaga Pers dan Pendapat Umum di Jakarta 1964-1965, *Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1965-1967,

*Pengajar pada Latihan Jabatan Lembaga Administrasi Negara 1965-1967, *Bibliografer Ikatan Penerbit Indonesia Pusat 1967-1969, *Tenaga honorer pada Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Jakarta 1969-1975, *Diperbantukan pada Rektor Universitas Indonesia untuk persiapan Perpustakaan Pusat UI 1970, *Wartawan Pendam V Jaya 1970, Perwakilan Pengadaan Publikasi Indonesia untuk Perpustakaan Universitas – Universitas Malaysia: UM, UKM, USM, UPM dan UTM 1970-1976, *Mengundurkan diri dari Pegawai Negeri 1975, *Pustakawan KITLV 1975-1995,

*Pengajar Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1976-1977, *Meneliti biografi dan karya Sati Nasution gelar Sutan Iskandar (Pidoli Lombang Maret 1840 – Amsterdam 8 Mei 1876) yang lebih terkenal dengan nama Willem Iskander, penyair dan pelopor pendidikan guru Indonesia yang mendirikan Kweekschool voor Inlandsch Onderwijzers di Mandailing tahun 1862. *Penelitian arsip tentang Willem Iskander di Belanda 1975, 1981, 1985, 1989 dan Juli-Agustus 2006. *Wartawan Selecta Group 1976-1985, *Ikut mendirikan Yayasan Adam Malik 1985, kemudian *Sekretaris Yayasan Adam Malik 1985-1998, *Pembantu Redaksi Masyarakat Indonesia: Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 1986-1987, *Anggota Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) 1992-1995, *Kepala Sekretariat Pengurus Besar IPI 1997-1998,

*Nara Sumber Badan Warisan Sumatera (Sumatra Heritage Trust ) sejak Oktober 1998 – sekarang, *Anggota Dewan Kelurahan Jati, Jakarta Timur 2001-2006. *Meneliti biografi dan karya Willem Iskander (1840-1876) di Negeri Belanda tahun 1975, 1981, 1985, 1989 dan Juli-Agustus 2006. *Menulis di berbagai media massa, buku, dan makalah tentang Willem Iskander dan masalah sosial budaya Tapanuli Selatan dan Mandailing-Natal, antara lain makalah berjudul The Political Trends of South Tapanuli and its Reflections in the General Elections 1955, 1971 and 1977 disampaikan pada International Interdisciplinary Symposium on Cultures and Societies of North Sumatra di Universität Hamburg, Jerman, November 1981, dimuat dalam buku Cultures and Societies of North Sumatra diterbitkan di Berlin oleh Dietrich Reimer Verlag tahun 1987, ISBN 3-496-00181-X. *Makalah berjudul Islam and Adat Among South Tapanuli Migrants in Three Indonesian Cities: Jakarta, Medan and Bandung disampaikan pada Tenth Annual Indonesian Studies Conference di Ohio University, Athens, USA, Agustus 1982, dimuat dalam buku Indonesian Religions in Transition diterbitkan di Tucson, Arizona, oleh The University of Arizona Press tahun 1987, ISBN 0-8165-1020-2. *Menulis Kumpulan Puisi: Perjalanan, diterbitkan oleh Penerbit Puisi Indonesia di Jakarta tahun 1984, antara lain berisi sajak berjudul New York diterjemahkan oleh John H. McGlynn yang diterbitkan dalam buku Manhattan Sonnet: Indonesian Poems, Short Stories, and Essays about New York diterbitkan di Jakarta oleh The Lontar Foundation, 2001. – ISBN 979-8083-40-7. – p. 44-45. *Sejak 1979 Asisten Prof. Dr. Bernhard Dahm penelitian tentang tradisi dan modernisasi masyarakat Tapanuli Selatan. Sudah melakukan penelitian lapangan pada tahun 1979, 1980, 1989, 1994. Anggota Tim Penyusun Buku 60 Tahun Indonesia Merdeka diterbitkan oleh Sekretariat Negara, Agustus 2006.

Web Site: http://basyral-hamidy-harahap.com

Beberapa Karya Tulis:

2006a: “Syekh Abdul Halim Hasan dan Perubahan Sosial” . – Dalam: Tafsir Al-Ahkam / oleh Syekh H. Abdul Halim Hasan Binjai. – Jakarta : Prenada Media Group, 2006. – pp. xlix – lv. – ISBN 979-3925-40-X [Peranan Ulama Mandailing di Sumatera Timur]

2006b “Ulama dan Perubahan Sosial”: makalah pada Seminar Peluncuran Tafsir Al-Ahkam [karya Syekh Abdul Halim Hasan Binjai] di Hotel Graduda Plaza Medan, 17 Juni 2006. – 12 p. – [Peranan Ulama Mandailing di Malaysia]”

2005a: Fakta dan Angka Statistik Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal 2005. – Panyabungan : Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, 2005. – xii, 88 p. – ISBN 979-99704-0-7.

2005b: Rakyat Mendaulat Taman Nasional Batang Gadis. – Panyabungan : Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, 2005. – xvi [16], 132 p. – ISBN 979-98376-1-8.

2004a: Pemerintah Kabupaten Madina Membangun Masyarakat Yang Madani: Suatu Studi Perbandingan. – Panyabungan : Pemerintah Daerah Kabupaten Mandina, 2004. – 424, [62] p. – ISBN 979-98376-0-X

2004b: Siala Sampagul : Nilai-Nilai Luhur Budaya Masyarakat Kota Padangsidimpuan. – Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan, 2004. – xvi, 203 p. – ISBN 979-98049-1-4.

2003: Pemerintah Kota Padangsidimpuan Menghadapi Tantangan Zaman. – Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan, 2003. – 241 p. – ISBN 979-98049-0-6.

2002a: Pengantar tesis Krismus Purba Opera Batak Tilhang Serindo Pengikat Budaya Masyarakat Batak Toba di Jakarta. – Yogyakarta : Kalika Budaya, 2002. – pp. vii – xvii. – ISBN 979-9420-13-X.

2002b: Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk / Willem Iskander ; pengantar dan terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap ; Edisi ke-3. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander, 2002. – 109 p. – ISBN 979-8067-01-0.

2001: Pengantar untuk Edisi Indonesia disertasi Lance Castles: Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra : Tapanuli 1915-1940 / Lance Castles. – Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia. – pp. vii – xxxi. – ISBN 979-9023-65-3.

2000: Resolusi Nuddin Lubis Tonggak Sejarah Demokrasi. – Jakarta : 2000. – xvii, 543 p. (Naskah siap cetak).

1998: Kejuangan Adam Malik (1917-1984). – Jakarta : Yayasan Adam Malik, 1998. – 64 p.

1997a: Mengenal Kaum Angkola-Mandailing / oleh Basyral Hamidy Harahap ; diadaptasi untuk khalayak Malaysia oleh Prof. Madya DR. H.M. Bukhari Lubis. – Kuala Lumpur : Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia, 1997.- 129 p.

1997b: “Orientasi Pembangunan Mandailing”. – Dalam: Derap Langkah Mandailing Natal: Sarasehan Masyarakat Mandailing di Hotel Kemang, 12 Juli 1997. – 58 p. – Jakarta : Himpunan Keluarga Mandailing (HIKMA), 1997.

1997c: Willem Iskander (1840-1876) Sebagai Pejuang Pendidikan dan Pendidik Pejuang Daerah Sumatera Utara. – Medan : Kanwil Depdikbud bekerjasama dengan Pemda Sumatera Utara, 1997. – 207 p. – (Naskah siap cetak).

1996: “Willem Iskander: Guru yang Terlempar Jauh ke Masa Depannya”. – Dalam: Nalar dan Naluri: 70 Tahun Daoed Joesoef / penyunting Kadjat Hartojo, Harry Tjan Silalahi, Hadi Soesastro. – Jakarta : CSIS, 1996. – pp.185 – 227. – ISBN 979-8026-44-6.

1993: Horja: Adat Istiadat Dalihan Na Tolu. – Jakarta. – xxxiii, 598, [60] p. – ISBN 979.8847-00-X.

1987a: Islam and Adat Among South Tapanuli Migrants in Three Indonesian Cities: Jakarta, Medan and Bandung disampaikan pada Tenth Annual Indonesian Studies Conference di Ohio University, Athens, USA, Agustus 1982, dimuat dalam buku Indonesian Religions in Transition diterbitkan di Tucson, Arizona, oleh The University of Arizona Press tahun 1987. – p. 221-237, Notes p 273. – ISBN 0-8165-1020-2.

1987b: Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola-Mandailing / oleh Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xvi, 344 p. – ISBN 979-8067-00-9.

1987c: The Political Trends of South Tapanuli and its Reflection in the General Elections 1955, 1971 and 1977 disampaikan pada International Interdisciplinary Symposium on Cultures and Societies of North Sumatra di Universität Hamburg, Jerman, November 1981, dimuat dalam buku Cultures and Societies of North Sumatra diterbitkan di Berlin oleh Dietrich Reimer Verlag.

http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/

→ Tinggalkan KomentarKategori: dosen

Amir Pasaribu

25 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Amir Pasaribu lahir tanggal 21 Mei 1915 di Siborong-borong. Dia adalah seorang musisi Indonesia. Amir Pasaribu
yang menikmati pendidikan di Sekolah Raja Balige, kemudian sekolah dasar Eropa milik misi Katolik, dan diteruskan ke HIS Hollands Inlandse School di Sibolga. Ia meneruskan sekolah di Mulo (=SMP) di Tarutung, dan diselesaikan di Padang. Pendidikan perguruan tinggi dijalaninya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung (dulu HIK); di sana ia juga mengembangkan pengetahuannya dalam bidang musik piano. Ia mendapat pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus; selanjutnya cello dari Nicolai Varvolomeyef dan Joan Giessens.

Biodata
• 1915 – 1935 sekolah dasar dan lanjutan di Sumatra Utara dan Tengah (Tarutung/Sibolga/Padang)
• 1935 – 1942 perguruan tinggi di Bandung
• 1942 – 1945 bekerja di bidang siaran radio di zaman pendudukan Jepang
• 1945 – 1952 bekerja di bidang siaran radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep), dan Orkes Studio Jakarta; kemudian RRI
• 1952 – 1954 tugas belajar di Belanda untuk mempersiapkan pembukaan program pendidikan musik di Indonesia
Pasaribu beberapa kali mengadakan kunjungan ke luar negeri antara lain Tiongkok, Jepang, Uni Soviet, Cekoslowakia, Jerman, Belanda dan Perancis dalam rangka tugas belajar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Departemen Pendidikan Nasional)
• 1954 – 1957 direktur Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta
• 1957 – 1968 direktur B1-kursus jurusan Seni Suara; Lembaga Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian ditingkatkan menjadi IKIP-UI (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia – kini Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta
• 1968 – 1980 guru piano dan cello pada Pusat Kebudayaan Suriname (Cultureel Centrum Suriname)
• 1980 – 1995 guru privat piano di Paramaribo
• 1995 kembali ke Indonesia
• 2002 dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Berbagai jabatan yang pernah disandang:
• Guru piano di Jakarta dan Paramaribo, Suriname
• Ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Cekoslowakia
• Pengimpor piano Petrof buatan Cekoslowakia
• Wirausaha bengkel & reparasi piano serta transportasi
Publikasi
1. Musik dan Selingkar wilayahnya, Kem. PPK 1955
2. Analisis Musik Indonesia (PT Pantja Simpati 1986)
3. Riwayat Musik dan Musisi (Gunung Agung, 1953)
4. Teori Singkat Tulisan Musik (NV Noordhof-Kolff)
5. Menudju Apresiasi Musik (NV Noordhof-Kolff)
6. Bernyanyi Kanon (Balai Pustaka, Kem.PPK 1955)
7. Lagu-lagu Lama Solo Piano I (Balai Pustaka 1952)
8. Lagu-lagu Lama Solo Piano II (Balai Pustaka, 1958)
9. Suka Menyanyi (Indira, 1955)
10. Tifa Totobuang
Artikel
1. Orkes Langgam Indonesia (Off beat – Tjintjang Babi!) – maret 1953
2. Kesaksamaan – juni 1953
3. Malam Musik di Geredja Paulus – oktober 1953
4. Lenong, Observasi MSDR Lenteng-Agung – Konfrontasi nr. 3 1954
Karya:
Musik untuk piano tunggal:
1. Capung kecimpung di Cikapundung
2. Rondino Capriccioso
3. 2 Sonata’s
4. Petruk, Gareng dan Bagong
5. Rabanara dances
6. Rabanara dances no. 7
7. Spielstuck
8. Puisi Bagor
9. Kesan langgar(Impressie Langgar)
10. Sampaniara no. 1 (Getek silam kali Ancol)
11. 6 Variasi Sriwijaya
12. Bongkok’s Bamboo-flute (Orpheus in de dessa)
13. Indihyang
14. Ball-dance of the river-fish princess/Tari Ikan Putri
15. Berceuse
16. Suite Villageoise
1. La flute d’un mendiant
2. Lullaby
3. Makam Achmad Sutisno
4. Beduk Puasa
17. Ole ole melojo-lojo
18. Variasi Es Lilin
19. Maswika Lily
Musik untuk string Quartet/Kwartet gesek:
1. Dua Resital Violis
2. Meditation
3. Hikayat Mas Klujur
4. Sunrise at Yang Tse,
5. Dr. Sun Yat Sen Memorial Hall,
6. Hang Tsu-Mountain and Creeks at Sundown,
7. Express Railroad Back Home
Musik untuk piano dan biola:
1. Clair de Lune
Musik hymne perjuangan ABRI:
1. Andhika Bhayangkari
Aktivitas musik yang terakhir dilakukan (hingga tahun 1995):
• Piano & biola ensemble di Paramaribo bersama Harry de la Fuënte
• Trio musik gesek di Paramaribo
• Piano pengiring untuk Paduan suara Maranatha di Paramaribo
• Piano pengiring sekolah balet di Paramaribo

Bersua dengan Amir Pasaribu
Oleh : Ananda Sukarlan

KabarIndonesia – Suatu hari datang satu e-mail dari seseorang bernama Nurman Pasaribu yang ditujukan ke saya. Sungguh suatu surprise!

Ternyata Beliau adalah putra dari komponis yang selama ini karya-karyanya saya kagumi dan sering dimainkan, tetapi saya selalu mengira Beliau sudah meninggal (Amir Pasaribu lahir pada tahun1915).

Nurman sendiri telah berkeluarga dan tinggal di Belanda. Dari Latifah Kodijat, seorang pengajar senior di Jakarta, beberapa tahun lalu saya mendapatkan banyak partitur dari Amir Pasaribu. Dua sonata untuk piano (yang no. 2 hanya bagian pertamanya saja yang partiturnya saya miliki), karya-karya kecil lainnya seperti The juggler’s meeting, Puisi Bagor, Capung Kecimpung di Cikapundung dan Variasi Sriwijaya. Dari karya-karya tersebut, ada sekitar 5 karya yang saya terus mainkan di berbagai penjuru dunia, sedangkan yang lainnya tersimpan di perpustakaan saya karena banyak not-not yang salah kutip ataupun meragukan.

Sejak email pertama dari Nurman, saya kemudian banyak bertukar e-mail dengannya, juga dengan putrinya, Gonny Pasaribu. Kebetulan, bulan Desember lalu saya diundang oleh Medan Musik untuk menjadi juri Samick Piano Competition di Medan. Nurman langsung menganjurkan saya untuk menyempatkan diri berkunjung ke rumah Amir Pasaribu. “Datang saja”, kata Nurman lewat telpon, “Tidak usah telpon dulu. Pappie (sebutannya untuk ayahnya) sudah di kursi roda, dan tidak pernah kemana-mana, dan pasti senang dikunjungi Ananda. Beliau sering menyebut nama anda.”

Ternyata, pernah ada satu artikel yang ditulis kritikus dan musikolog Bintang Prakarsa di satu harian di Indonesia yang menyebutkan bahwa saya adalah satu-satunya pianis Indonesia yang tetap memainkan karya-karyanya di luar negeri. Apa itu benar, saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu, ya itu tadi, saya selalu memainkan karya komponis dari negeri saya yang saya kira sudah masuk club yang saya bisa namakan “Dead Composers Society” yang anggota-anggotanya bisa disebut dari Beethoven, Bach, sampai Toru Takemitsu atau Mochtar Embut.

Jadilah hari Minggu pagi itu, setelah saya tiba di Medan hari sebelumnya, saya bersama teman & manager saya, Chendra, naik taxi dari hotel menuju ke Karya Wisata, alamat yang kami dapat dari Nurman. Rencananya kami hanya akan sebentar saja. Setelah agak berputar-putar Medan dan bertanya-tanya (saya sebenarnya cukup kaget karena orang Medan, termasuk para siswa/i musik, tidak mengenal namanya. Itulah nasib seorang seniman musik sastra di Indonesia!).

Akhirnya kami tiba, dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ketuk lagi. Sama saja. …. “Tuh, mungkin sedang ke gereja,” kata Chendra. Saya tidak menyerah. Mengetuk lagi. Tidak ada reaksi. Kami kemudian berputar, ingin bertanya ke tetangga apa benar ini rumah Amir Pasaribu. Ketika kami sampai di pintu gerbang, tiba-tiba pintu rumah bergoyang-goyang. Tapi tidak terbuka! Situasi ini mungkin hanya memakan waktu satu menit, tapi rasanya lama sekali karena kami bingung, kok surealis banget! Akhirnya, pintu terbuka, dan kami jadi mengerti kenapa hal itu terjadi. Muncul seseorang tua di kursi roda, memakai kaos oblong putih dan sarung. Langsung saya datangi.
“Pak Amir Pasaribu?”
“Siapa anda?” teriaknya.
“Saya Ananda Sukarlan, Pak.”
“Siapaaa?” “
Ananda Sukarlan, seorang pianis, Pak.”
“Siapaaa?”

Membaca situasi lebih cepat dari saya, Chendra mendekati telinganya, dan berteriak “Ananda Sukarlan Pak, pianis yang tinggal di Spanyol!”
“Ooooooh!”
Kegembiraan terpancar di wajahnya yang tadinya kelihatan galak. Beliau langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Ik ken jouw naam (saya tahu nama anda)!” dan setelah Chendra memperkenalkan dirinya juga, kami duduk dan mengobrol di teras.

Terus terang, saya selalu grogi bertemu dengan orang baru, apalagi ini seseorang yang saya selalu kagumi, senior, dan notabene sudah tuli. Saya membayangkan menit-menit keheningan pasti akan terjadi, di mana saya tidak tahu harus omong apa. Ternyata, pak Amir orangnya banyak bicara, dan antusias sekali. Beliau lebih fasih berbahasa Belanda, jadi akhirnya percakapan berganti bahasa. Chendra yang tidak mengerti satu kata pun jadi gelisah, dan akhirnya mengambil kamera. Ceklak, ceklek … Daripada nganggur dan tidak mengerti!

Sambil mendengarkannya berbicara, saya mengamati fisiknya. Luar biasa sekali orang ini. Umurnya 92 tahun, karakternya yang kuat masih bersinar di wajahnya. Yang menarik perhatian saya adalah telinganya yang besar, yang mengingatkan saya ke komik Tintin tentang patung-patung bertelinga panjang di Pulau Paskah. Masih ada sangat sedikit rambut putih dipotong pendek sekali walaupun sebagian besar sudah botak, dan sudah ompong. Kelihatan sekali bahwa pak Amir adalah orang yang tidak doyan berkompromi, keras dan punya pendapat yang kokoh dan sulit dibengkokkan tentang banyak hal.

“Saya menderita Alzheimer”, katanya. Wow, saya hampir tidak percaya. Banyak sekali yang Beliau masih ingat. “Gimana guru anda, Oey Tjong Lee?” tanyanya.
“Sudah meninggal, Pak” (Tjong Lee adalah Rudy Laban, mantan guru saya di Jakarta sebelum saya meninggalkan tanah air). “Ooooh”, kegetiran, seperti semua ekspresi yang dirasakannya, langsung terpancar kuat. Raut wajahnya memang ekspresif sekali. “Usianya masih sangat muda.” Kemudian, Pak Amir juga menyebut tentang “Tisna” (alm. Ny. Charlotte Sutisna, yang ditahun 60-an sangat berdedikasi untuk memainkan karya-karyanya.

Rekamannya dari banyak karyanya yang dibuat di RRI akan sangat membantu saya untuk merekam kembali karya-karya tersebut, kali ini dengan teknik digital yang tinggi dan mikrofon serta studio yang 100x lebih canggih dan betapa Beliau kehilangan setelah ia meninggal.

“Kawan-kawan saya terdekat kini sudah meninggal. Itulah kalau orang bertahan sampai usia lanjut, jadinya kesepian.” Saya jadi ingat pernah membaca bahwa Stravinsky, semakin lanjut usianya, karya-karyanya semakin banyak yang berjudul “In Memoriam”. Sebut saja: I.M. Aldous Huxley, Dylan Thomas … itu semua ditulisnya saat ia berusia sekitar 80 tahun.

Saya juga kaget Pak Amir tahu tentang Michael Jackson. “Musik jaman sekarang, tambah lama tambah jelek (“verschikelijk”). Itu bukan seni. Itu bikin masyarakat tambah tolol”. Terus terang, saya ada setujunya dengan pendapat ini, walaupun tentu saja saya tidak setuju tentang Michael Jackson, terutama hasil karyanya sewaktu ia masih berkulit hitam di tahun 80-an. “Beethoven, Brahms, Bartok, sudah tidak ada lagi komponis-komponis seperti mereka zaman sekarang. Musik pop dan rock itu sudah tidak dapat disebut musik lagi”. Wah, Pak, untungnya tidak sempat mengenal musik-musik avant-garde model Stockhausen dan Boulez; kalau musik pop saja sudah tidak bisa disebut musik, lalu musik avant-garde disebut apa???

Beliau banyak tahu tentang saya. Salah satu buktinya seperti di atas, Beliau mengetahui dengan siapa saja saya telah berguru. Satu anjurannya (yang tentu saja saya sudah turuti) adalah “Blijf buitenland” (tetaplah tinggal di luar negeri). “Di sini seniman tidak dihargai,” ujarnya. Beliau juga menyayangkan banyak partiturnya yang tersebar dan hilang, karena sering pindah rumah dan juga rumahnya pernah kemasukan maling. Andaikan saja maling itu tahu betapa berharganya kertas-kertas yang dicurinya!

Sulit sekali untuk pamit. Beliau sangat menikmati kunjungan dari siapa pun. Senang mengobrol, dan yang diajak mengobrol pun ketagihan. Tapi akhirnya kami pun harus balik ke hotel. Yang jelas, saya sudah mendapatkan izinnya untuk merekam seluruh karya musiknya. Lebih dari izin, Beliau “lega bahwa musik saya ada di tangan yang baik” (dalam dunia piano, kalimat ini bisa diterjemahkan secara harafiah). Pertanyaan terakhir dari Beliau, “Kapan saya bisa dengar rekaman permainan kamu? Jangan lupa, saya tidak punya banyak waktu lagi.” Saya hanya bisa menjawab “Iya, Pak” …. Dan pamit pulang.

Yang masih merupakan misteri untuk saya adalah mengapa Amir Pasaribu berhenti berkarya pada tahun 70-an, di saat Beliau berumur 60-an? Usia itu, untuk jaman sekarang, relatif muda untuk berhenti berkarya. Inspirasi kering? Motivasi kurang? Bagaimana pun, tidak seperti Jean Sibelius yang berhenti berkarya saat usia 50 tahun tapi hingga kini tetap beredar gossip-gossip bahwa ada karya-karya yang ditulis setelahnya (seperti Simfoni no. 8), dalam hal Amir Pasaribu cukup jelas.

Beliau memang telah berhenti berkarya sejak lama. Sebetulnya yang saya lebih sayangkan adalah partitur-partitur yang hilang entah kemana. Sewaktu saya bilang bahwa putranya telah berhasil mengumpulkan sekitar 25 karya untuk piano, pak Amir berkata “Sebetulnya sangat lebih dari segitu. Tapi, ada di mana musik-musik itu, tidak ada yang tahu. Sudah, lupakan saja.” Wah, maaf Pak, tidak bisa saya lupakan. Itu aset negara sebetulnya. Sayangnya, hanya beberapa orang saja yang sadar betapa bernilainya itu. Sayangnya, nilainya bukan berupa uang, dan kalau bukan uang, di abad 21 ini namanya bukan nilai …..

Dari Ananda Sukarlan, seorang pianis.

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Bersua+dengan+Amir+Pasaribu&dn=20071129074704

→ Tinggalkan KomentarKategori: Seniman

Luhut Panjaitan

25 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Nama:
Jenderal TNI (Purn) Luhut PanjaitanLuhut Panjaitan
Lahir:
Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947
Agama:
Kristen
Isteri:
Devi boru Simatupang
Anak:
- Paulina Panjaitan (Maruli Simanjuntak)
- David Panjaitan
- Paulus Panjaitan
- Karri Panjaitan

Pendidikan:
- SMA Penaburan, Bandung
- Akademi Militer 1970

Karir:
- Kopassus (Komando Pasukan Khusus)
- Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung
- Asisten Operasi di Markas Kopassus
- Komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81
- Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung
- Komandan Korem di Madiun
- Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung

Kegiatan Lain:
- Pendiri Sekolah Politeknik DEL di Balige

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional, ini lulusan terbaik Akademi Militer angkatan 1970. Jenderal TNI (Purn) kelahiran Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947 ini, mengabdi di kesatuan baret merah Kopassus (Komando Pasukan Khusus), yang bermarkas di Cijantung, selama 23 tahun. Dia Komandan pertama Detasemen 8, sekaran Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81.

Penerima penghargaan Adimakayasa (penghargaan terhormat di Akademi Militer), ini selepas pendidikan dari Akademi Militer dengan pangkat letnan dua, langsung bertugas di Kopassus.

Di Kopassus, Luhut Panjaitan pernah menjabat Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung, Asisten Operasi di Markas Kopassus serta Komandan pertama Detasemen 81 yang sekarang disebut Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81. Suatu detasemen yang sangat disegani dan secara khusus menangani masalah teroris. Luhut yang membangun detasemen ini mulai dari nol, saat Panglima ABRI dijabat Jenderal Benny Moerdani.

Suami dari Devi boru Simatupang, ini juga pernah menjadi Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung. Saat menjabat Komandan Korem di Madiun, dia meraih prestasi sebagai Komandan Korem terbaik.

Luhut mendapat promosi pangkat jenderal berbintang tiga, kala dipercaya sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung. Kemudian saat menjabat menteri, dia dianugerahi pangkat jenderal berbintang empat purnawirawan.

Pada saat muda, Luhut aktif sebagai atlet renang karate, judo dan erjun payung. Bahkan sebagai atlet renang dari Provinsi Riau, dia pernah meraih medali di PON di Bandung. Kemudian dia rajin mengikuti olahraga karate dan judo serta terjun payung.

Setelah tidak lagi menjabat menteri, dia merasa punya banyak waktu serta merasa memahami masalah olahraga, sehingga memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi Ketua Umum KONI Pusat. Namun, dia harus mengakui dan menghormati pilihan peserta Kongres Koni yang memilih Agum Gumelar.

Sebelum menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan reformasi, Luhut Panjaitan, dia aktif sebagai pedagang (pengusaha). Kemudian dia mendirikan sekolah Politeknik DEL di Balige. Pada awal mendirikan sekolah ini, Luhut mengundang para duta besar negara-negara sahabat seperti Duta Besar Amerika, Australia dan Singapura untuk melihatnya.

Perkenalannya dengan Devi boru Simatupang berawal ketika bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas di Bandung. Ketika itu, Luhut sekolah di SMA Penaburan dan Devi di SMA Kristen, Bandung. Hubungan mereka berlangsung hingga ke pernikahan, dikaruniai empat orang anak, yakni Paulina Panjaitan (menikah dengan Kapten Inf Maruli Simanjuntak), David Panjaitan, Paulus Panjaitan, dan Karri Panjaitan.

sumber:http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/l/luhut-panjaitan/index.shtml

→ Tinggalkan KomentarKategori: Intrepeneur · Tokoh ABRI

PANTUR SILABAN

25 September 2009 · & Komentar

PANTUR SILABAN – Dari Snellius ke EinsteinPantur Silaban
SEKALI peristiwa di awal dasawarsa lima puluhan. Seorang murid SMP di Sidikalang terpana pada keterangan guru ilmu alamnya. “Sinar yang masuk dari udara ke dalam air selalu dibelokkan.” Laki-laki remaja itu pun bertanya: mengapa? Tak ada jawaban memadai.
Hukum Snellius mengenai pembiasan itu merupakan pintu masuk bagi Pantur Silaban mencintai fisika. Karena tak ada jawaban jitu dari sang guru, ia pun bernazar akan menggeledah rahasia alam melalui studi fisika di kemudian hari.
Dalam perjalanan ruang-waktu, minat Pantur melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi setelah lulus SMA ikut pula bergerak. Selain mendalami fisika, ia berhasrat pula mempelajari teologi. Meninggalkan Sumatera selepas sekolah lanjutan atas, pria kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 itu mampir di Jakarta membekali diri mengikuti ujian saringan masuk sekolah tinggi teologi. “Anehnya, saya sakit selama di Jakarta mempersiapkan diri masuk ke sana,” katanya. Perjalanan diteruskan ke Bandung. Tujuannya satu: kuliah fisika di ITB. Dia diterima di sana.
Waktu pilih Fisika, tak ada masalah dengan orangtua?
“Ayah saya yang pedagang dan buta huruf hanya mengatakan, Kamu terserah pilih apa“. Kami hanya bisa membantu menyekolahkan. Saran saya ambil bidang yang kamu suka.’ Tak disuruh pilih yang menghasilkan uang sekian,” kata Pantur mengenai kebebasan yang ia peroleh dari ayahnya, Israel Silaban, memilih jurusan.

Orangtua Pantur, pasangan Israel Silaban dan Regina br. Lumbantoruan, adalah pedagang yang berhasil. Pendek cerita, keluarga ini tergolong berada di lingkungan Sidikalang dan sekitarnya.
Dalam tempo enam setengah tahun, waktu optimal pada zaman itu merampungkan kuliah tingkat sarjana, Pantur lulus pada tahun 1964 dan berhak menyandang gelar doktorandus dalam fisika. Ia langsung diterima sebagai anggota staf pengajar Fisika ITB.
Selama kuliah kecenderungannya pada bidang tertentu dalam fisika mulai terbentuk. Pantur amat menggandrungi matematika murni dan mata kuliah yang tergolong dalam kelompok fisika teori, seperti mekanika klasik lanjut, teori medan elektromagnetik, mekanika kuantum, dan teori relativitas Einstein. Maka, ketika datang kesempatan studi lanjut di Amerika Serikat pada tahun 1967, tujuannya sudah jelas. “I go there just for the General Relativity Theory, no other things,” katanya. “Itu yang ada di benak saya waktu itu.”
Siapakah fisikawan yang paling tepat menuntunnya belajar Relativitas Umum Einstein di tingkat doktor? Dan di perguruan tinggi manakah fisikawan-fisikawan itu bermarkas di Amerika Serikat?
Albert Einstein (1879-1955) pada saat itu sudah 12 tahun di alam baka. Tapi, semasa hidupnya ia salah satu pendiri sekolah –semacam fakultas—yang menjadi tempat khusus mempelajari teori gravitasi dan Relativitas Umum Einstein. Sekolah itu berada di bawah Universitas Syracuse, New York dan termasyhur sebagai pusat studi gravitasi dan Relativitas Unum yang pertama dan terkemuka di dunia, bahkan sampai saat ini. Di sana mengajar teman-teman dan murid-murid dekat Einstein, antara lain Peter Gabriel Bergmann. Dia fisikawan pertama yang menulis buku daras tentang Relativitas Umum Einstein.
Karya Bergmann itu, Introduction to the Theory of Relativity, mendapat tempat khusus di kalangan fisikawan teoretis dengan spesialisasi teori gravitasi atau Relativitas Umum. Selain dianggap sebagai salah satu buku babon tentang relativitas, kitab inilah satu-satunya tempat di mana Einstein pernah menulis kata pengantar.
Pantur diterima di sekolah itu. Tentang pentingnya kedudukan sekolah gravitasi Universitas Syracuse itu, Dr. Clifford M. Will dari Universitas Washington di St. Louis seperti dikutip The New York Times (23 Oktober 2002) ketika menurunkan obituari atas Peter G. Bergmann menulis sebagai berikut: “Pada masa-masa akhir 1940an Syracuse adalah tempat yang tepat untuk bekerja dalam Relativitas Umum karena tak ada tempat lain di dunia yang melakukannya.”
Untung baginya sebab Bergmann bersedia menjadi ko-pembimbing untuk disertasinya. Dengan demikian, Pantur merupakan fisikawan Indonesia yang berguru langsung kepada murid dan kolega Einstein dalam Relativitas Umum. Ia merupakan satu dari 32 mahasiswa dari seluruh dunia yang mempelajari Relativitas Umum di Syracuse dengan Bergmann sebagai pembimbing atau ko-pembimbing dalam kurun tahun 1947-1982. Tak salah kalau orang menyebutnya sebagai cucu murid Einstein.
Adapun pembimbing utamanya lebih muda dari Bergmann, tapi juga raksasa dalam Relativitas Umum. Dialah Joshua N. Goldberg. Nama-nama itu terasa Yahudi. Universitas Syracuse memang didominasi oleh orang-orang Yahudi, baik dosen maupun mahasiswanya. Sekali waktu dalam sebuah kuliah, Pantur menggambarkan almamaternya itu dengan lelucon segar yang tentu saja didasarkan pada fakta: “Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di Syracuse. Yang pertama Yahudi, yang kedua adalah orang pintar. You tahu, saya bukan Yahudi.”
Di Syracuse selain mendalami fisika teoretis, Pantur juga menyerap etos belajar dan etos kerja orang-orang Yahudi di sana. Meski inteligensi mereka relatif tinggi-tinggi, mahasiswa-mahasiswa Yahudi menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar kuliah untuk belajar, belajar, dan belajar. Demikian pula dosen-dosennya. Lampu kamar kerja dosen di sana masih benderang sampai pukul sembilan malam. Kerja keras semacam itu plus otak cemerlang barangkali yang menjelaskan betapa orang-orang berdarah Yahudi menempati jumlah terbanyak dalam daftar peraih Nobel Fisika.
Pantur menyerap pola belajar dan pola kerja seperti itu selama kuliah di sana. Tapi, sekali waktu Pantur ada keperluan pulang lebih lekas ke tempat tinggalnya. Tak enak baginya ketahuan pulang lebih awal. “Akhirnya saya terapkan kelihaian yang khas Indonesia,” katanya sambil tersenyum. “Saya biarkan lampu kamar kerja saya menyala, sementara saya pulang ke tempat tinggal saya.”
Tentu perbuatan ini tak berulang. Sebab bila terulang, niscaya Pantur akan kesulitan memenuhi ajakan Goldberg dan Bergmann ikut dalam upaya mendamaikan Teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum demi menemukan Teori Kuantum Gravitasi, teori yang diimpikan semua fisikawan teoretis sedunia, yang memerlukan ketekunan bagi disertasinya. Berbulan-bulan menguantisasi Relativitas Umum supaya akur dengan Medan Kuantum; Pantur, Goldberg, dan Bergmann gagal membidani Teori Kuantum Gravitasi. Fisikawan-fisikawan di Institute for Advanced Studies di Princeton mengingatkan mereka bahwa proyek itu adalah pekerjaan kolektif dalam skala besar yang membutuhkan waktu 25 tahun.
Alih-alih berkeras mendapatkan kuantum gravitasi, akhirnya Pantur mengikuti saran Goldberg. Dengan saran itu, ia pun mengalihkan topik untuk disertasinya: mengamputasi prinsip Relativitas Umum dengan menggunakan Grup Poincare untuk menemukan kuantitas fisis yang kekal dalam radiasi gravitasi. Temuan ini mengukuhkan keberpihakannya kepada Dentuman Besar (Big Bang) sebagai model pembentukan Alam Semesta ketimbang model-model lain.
Pekerjaan itu selesai pada tahun 1971 dan mengukuhkan Pantur Silaban sebagai Ph.D. dengan disertasi berjudul Null Tetrad Formulation of the Equations of Motion in General Relativity. Garis-garis besar mengenai apa yang dicapai dalam disertasinya ini tercantum dalam Dissertation Abstracts International, Volume: 32-10, Seksi: B, halaman: 5963 .
Tiga tahun kemudian Joshua Goldberg—yang banyak menghasilkan risalah penting fisika yang dimuat di jurnal utama seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Journal of Geom. Physics—merujuk pekerjaan Pantur ini dalam risalahnya, Conservation Equations and Equations of Motion in the Null Formalism, yang diterbitkan General Relativity and Gravitation, Volume 5, halaman 183-200. Karya lain yang menjadi rujukan dalam risalah ini adalah dari dua orang mahafisikawan dunia, Hermann Bondi dan Roger Penrose. Jadi, dapatlah ditebak tempat Pantur dalam Relativitas Umum.
Setahun setelah menyelesaikan disertasinya, Pantur kembali di Bandung pada tahun 1972 dan mengajar di Jurusan Fisika ITB. Orang pertama Indonesia yang mendapat doktor dalam Relativitas Umum itu adalah orang Sumatera pertama—tidak sekadar orang Batak pertama—yang mendapat Ph.D. dalam fisika. Sebuah risetnya setelah disertasi ini dimuat di Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian makalahnya mengenai teori gravitasi dan fisika partikel elementer dimuat di berbagai prosidings dalam dan luar negeri. Ya, sebagai seorang fisikawan teoretis, Pantur juga menggumuli fisika partikel elementer.
Beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP) yang didirikan fisikawan Pakistan pemenang Nobel Fisika, Abdus Salam, Pantur selalu mencermati indikasi akan keberhasilan ditemukannya Teori Kuantum Gravitasi. Katanya suatu kali dalam sebuah kolokium di Jurusan Fisika ITB, “Dengan menganggap partikel sebagai titik, upaya menguantumkan Relativitas Umum berhadapan dengan singularitas yang tak bisa dihilangkan.” Itu sebabnya ketika teori string—yakni teori fisika yang menganggap partikel sebagai seutas string, bukan titik sebagaimana diasumsikan sejak zaman Democritus (460-370 SM)—menghangat pada pertengahan 1980an hingga awal 1990an, Pantur menggumulinya dan bekerja untuk mendapatkan Teori Kuantum Gravitasi.
“Timbul pula masalah yang tak kalah besarnya,” katanya. “Kita berhadapan dengan perumusan grup simetri yang parameternya sampai 496. Waduh, payah ini.”
Singkat kata, baik dengan memandang partikel terkecil sebagai titik maupun sebagai seutas tali (string), Teori Kuantum Gravitasi yang didamba-dambakan itu masih saja belum berhasil ditemukan. “Jadi, sebetulnya masih banyak proyek dalam fisika teori,” kata Pantur.
Peran sentral Pantur membangun komunitas fisika teori di Indonesia, yang antara lain beranggotakan fisikawan Hans Jacobus Wospakrik (almarhum) yang adalah muridnya semasa S-1, tidak diragukan lagi. “Sulit membayangkan kehadiran fisika teori di Indonesia tanpa Pak Silaban,” kata Triyanta, mantan ketua Departmen Fisika ITB, yang adalah muridnya dan menyelesaikan Ph.D. dari Universitas Tasmania, Australia dalam fisika teoretis.
Sebagai seorang dosen, Pantur adalah komunikator ulung. Ia hadir di kelas dengan membawa kapur saja sebab, “Setiap kali masuk kelas, seorang dosen harus siap dengan bahan yang akan ia ajarkan, sesulit apa pun kuliah yang ia berikan. Tapi, itu tidak menjamin bahwa setiap pertanyaan mahasiswa bisa kita jawab.” Selalu saja ada ilustrasi-ilustrasi yang mudah dikenang dalam kuliahnya untuk memudahkan mahasiswa menangkap konsep fisika yang rumit-rumit. Yang juga tak pernah ketinggalan dalam setiap kuliahnya adalah humor-humor yang segar dan tampaknya autentik. “Beberapa fisikawan di Maryland pernah menghitung temperatur surga dan neraka dengan menggunakan statistik Boltzman, Bose-Einstein, dan Fermi Dirac,” katanya dalam sebuah kuliah. “Ternyata suhu neraka sedikit lebih rendah daripada suhu surga. Itu sebabnya orang lebih banyak berbuat jahat karena neraka ternyata lebih sejuk.”
Karena referensi dalam bahasa Indonesia untuk fisika teori sangat minim, Pantur Silaban pada tahun 1979 menerbitkan buku daras Teori Grup dalam Fisika. Kemudian ia menerbitkan buku Tensor dan Simetri. Pertengahan 1980an, bekerja sama dengan Penerbit Erlangga, dia menerjemahkan banyak buku daras teknologi mesin, elektroteknik, dan matematika yang dipakai perguruan-perguruan tinggi terbaik dunia.
Pantur Silaban dikukuhkan sebagai guru besar ITB dalam fisika teoretis pada Januari 1995. Ia memasuki masa pensiun per 11 November 2002. Tapi, ketua Jurusan Fisika waktu itu, Pepen Arifin, mempertahankannya untuk terus mengajar. “Kalau Jurusan kekurangan ruang kerja, saya sediakan kamar saya untuk beliau,” kata Freddy P. Zen, ketua Kelompok Bidang Keahlian Fisika Teori ITB memperkuat tawaran Pepen Arifin.
Sebagai penghormatan kepada Pantur yang telah memasuki masa pensiun, murid-muridnya mengadakan Seminar Sehari A Tribute to Prof. P. Silaban pada 20 Februari 2003 di ruang kuliah bersejarah Jurusan Fisika ITB, Ruang 1201. Di sana hadir civitas academica dari Jurusan Fisika dan jurusan-jurusan lain di ITB yang mengenal Pantur dengan baik. Beberapa komentar yang terungkap dalam seminar itu antara lain berasal dari guru besar Matematika ITB, M. Ansjar, dan guru besar Fisika ITB, The Houw Liong.
“Bila suasana akademis di ITB dan Indonesia memadai, bukan tak mungkin Pak Silaban menghasilkan kontribusi yang sangat berarti dalam fisika,” kata M. Ansjar sebagaimana dibacakan Freddy P. Zen.
“Yang selalu saya ingat dari Pak Silaban adalah pernyataannya bahwa segala sesuatu, termasuk ruang dan waktu, akan berakhir,” kata The Houw Liong. “Yang tidak berakhir adalah hukum alam.”
Rektor ITB ketika itu, Kusmayanto Kadiman, dan Ketua Departemen Fisika saat itu, Pepen Arifin, pada 30 Agutus 2004 mendaulat Pantur Silaban menggelar kuliah umum populer Umur Alam Semesta di sebuah ruang kuliah Fisika ITB. Seperti dilaporkan Kompas keesokan harinya, ceramah itu dihadiri sekitar 300 orang dari berbagai kalangan, termasuk mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Panjaitan, geologiman M.T. Zen, Presiden Direktur ESQ Ary Ginanjar Agustian, beberapa orang dari kalangan agamawan, dan beberapa guru SMA.
Dengan mendasarkan perhitungan umur Alam Semesta pada Teori Dentuman Besar, Pantur waktu itu dikutip Kompas mengatakan, “Alam masih miliaran tahun, silakan terus berinvestasi.”
Rupanya laporan surat kabar itu menarik perhatian sebuah keluarga Batak. Tak lama sesudah itu, bertepatan dengan lepas sidi salah satu anaknya, Edward Nababan yang sehari-hari bekerja sebagai salah satu petinggi Perusahaan Jawatan Kereta Api mengundang Pantur Silaban menggelar ceramah fisika di rumahnya di bilangan Jatibening, Jakarta Timur.
Yang menarik, acara yang dimulai sore itu—sebab lepas sidi diadakan di Bandung, lalu keluarga ini langsung menuju Jakarta—diawali dengan ceramah fisika. Inti perayaan lepas sidi bagi putri keluarga Nababan itu adalah ceramah Pantur. Acara adat hanya penyerahan tudu-tudu sipanganon dan dengke, itu pun dilaksanakan setelah acara inti berakhir. Hadir antara lain mantan Eforus HKBP S.A.E. Nababan, aktivis organisasi nonpemerintah abang-beradik Indera Nababan dan Asmara Nababan, Panda Nababan, dan Hotasi Nababan yang sekarang presiden direktur PT Merpati Nusantara Airlines.
TATAP menjumpai fisikawan teoretis ini untuk sebuah wawancara pertengahan Januari lalu di ruang kerjanya di Fisika ITB yang masih seperti dulu: papan tulis penuh dengan relasi-relasi matematis fenomena alam. Suami dari Rugun br. Lumbantoruan, ayah dari empat putri ini—Anna, Ruth, Sarah, dan Mary— serta mertua dari tiga menantu dan kakek empat cucu ini rupanya baru saja kembali dari wisata ke Israel.
“Menantu saya yang orang Swiss itu yang membiayai perjalanan kami,” katanya sambil menjelaskan sedang mempersiapkan buku kuliah untuk beberapa perguruan tinggi di Australia yang tertarik dengan kuliah yang pernah ia berikan di Melbourne beberapa waktu lalu: teori medan kuantum yang diselusuri dari teori Newton. “Rupanya mereka tertarik dengan pendekatan saya ini,” katanya.
Bagaimana minat orang Batak menjadi fisikawan sekarang ini?
Beberapa murid pintar SMA dari kalangan Batak rupanya pernah datang kepadanya ingin belajar serius fisika. “Penghalang mereka jutru orangtua mereka sendiri,” kata Pantur. “Kalau lulus, kamu mau makan apa. Paling jadi guru. Begitu ancaman orangtua mereka. Dari situ kelihatan, profesi guru dilecehkan, padahal yang menentukan maju-tidaknya sebuah bangsa adalah guru.”
Selama orang Batak masih kukuh dengan hamoraon dalam segitiga hasangapon, hamoraon, hagabeon, menurut Pantur Silaban, sulit mengharapkan orang Batak menonjol dalam ilmu-ilmu murni, seperti fisika dan biologi molekuler, dua bidang sains yang masing-masing merupakan primadona ilmu dalam abad 20 dan abad 21.
Menjelang kami berpisah, dalam sesi memotret, Pantur menganjurkan supaya dia dipotret bersama mobil Toyota-Corollla keluaran 1984 itu. “Ini mobil saya yang pertama dan terakhir, tidak akan pernah saya ganti,” kata Pantur seraya mengingatkan bahwa “Einstein selama hidupnya tidak pernah punya mobil.”*
Penulis : P. HASUDUNGAN SIRAIT & NABISUK NAIPOSPOS
Sumber : Majalah TATAP edisi V, Jan-Feb 2008

http://www.silaban.net/2008/03/04/pantur-silaban-dari-snellius-ke-einstein/

→ 5 CommentsKategori: Ilmuwan

Tuanku Rao

24 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Keturuanan Dinasti Sisingamangaraja, Panglima Perang Padri

Oleh : Hotman Jonathan LumbangaolRAO

KabarIndonesia – Polemik tentang Tuanku Rao sebagai salah satu keturunan Dinasti Sisingamangara adalah bermula dari buku Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar yang berjudul “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833”. Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao alias Umar Katab adalah anak hasil perkawinan incest antara putri Sisingamangaraja IX, Putri Gana Sinambela dengan saudara laki-laki-nya Prince Gindoporang Sinambela. Gana seharusnya memangil uda pada Gindoporang, sedangkan Gindoporang memangil Gana boru. (Tuanku Rao, hal. 59. M.O Parlindungan, 2007). Mohammad Said dalam bukunya “Si Singamangaraja XII” menjelaskan, bahwa Tuanku Rao adalah Orang Padang Matinggi dan bukan orang Batak (lihat Sisingamangaraja XII, Mohammad Said, hal 77-78). Hal itu pula yang dikatakan Buya Hamka. Gara-gara buku tersebut Buya Hamka menulis buku sangahan. Buku melahirkan buku.

MO Parlindungan menulis, karena aib itu, Ompu Sohalompoan Sisingamangaraja IX terpaksa mengusir mereka. Keduanya lari misir, menyelamatkan diri ke Singkil, Aceh. Disana lahirlah Pongkinangolgolan yang berarti menunggu terlalu lama dipengusian. Prince Gindoporang Sinambela bergabung dengan pasukan Aceh, berganti nama menjadi Muhammad Zainal Amiruddin, dan menikahi putri raja Barus. Sejak itu, Gana Sinambela membesarkan putranya seorang diri. Sepuluh tahun kisah itu Sisingamangaraja IX wafat dan digantikan anaknya, Ompu Tuan Nabolon, adek laki-laki dari Gana Sinambela menjadi Sisingamangaraja X. Aib itu sudah dilupakan, Gana dan Pongkinangolgolan diundang kembali pulang ke Bakkara.

Namun, kehadiran mereka tidak direstui tiga orang datu bolon (dukun) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manullang. Dukun itu meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh Singamangaraja X, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman pada bere yang disayanginya. Tetapi Sisingamangara X tidak tega, lalu membuat sandiwara, Pongkinangolngolan dieksekusi dilakukan dengan pura-pura ditenggelamkan ke Danau Toba. Pongkinangolngolan diikat pada sebatang pohon, lalu tali dilonggarkan dengan Gajah Dompak, sembari menyelipkan satu kantong kulit uang perak ke balik bajunya, sebagai bekal hidup.

Kemudian, Pongkinangolngolan dibawa solu (rakit) ke tengah danau dan dijatuhkan ke dalam air. Sudah pasti Pongkinangolngolan terapung hingga arus air membawanya terdampar di sungai Asahan. Tak pelak, ia ditolong dan diangkat menjadi anak oleh seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Kira-kira umur 20 tahun, ia merantau ke Angkola dan Sipirok. Merasa masih trauma dengan masa lalunya, Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau. Di sana ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda.

Sementara, Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan gerakan Mazhab Hambali, meminta pada Datuk Bandaharo Ganggo untuk menyerahkan Pongkinangolngolan untuk didik. Apalagi desas-desus silsilah dari Pongkinangolngolan sebagai keturunan dinasti Sisingamangaraja telaha diketahui. Tuanku Nan Renceh menyusun siasat untuk mengIslamkan Tanah Batak. Tahun 1804, Pongkinangolngolan masuk Islam dan berganti nama Umar Katab, Katab jika dibalik terbaca Batak. Umar Katab dikirim ke Mekkah dan Syria untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mengikuti pendidikan kemiliteran sebagai kavaleri Janitsar Turki.

Tahun 1815, Umar Katab pulang dari Mekkah dan ditabalkan menjadi panglima tentara Padri dan diberi gelar Tuanku Rao, oleh Tuanku Nan Renceh. Ada yang menyebut Tuanku Rau.

Azas Manfaat

Perang Padri berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama di Sumatera Barat. Semangat Padri lahir dari beberapa tokoh Islam yang mendalami Mazhab Hambali, dan ingin menerapkan di Sumatera Barat. Dalam agama Kristen, Mazhab Hambali bisa disebut mirip gerakan puritan, aliran yang memengang teguh kemurniaan ajarannya, namun tidak sama.

Pasukan Padri mengunakan pakaian warna putih-putih. Pasukan Padri yang dipimpin Tuanku Rao bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan dan Utara. Penyerbuan pertama Padri ke Tanah Batak dimulai dengan meluluhlantahkan benteng Muarasipongi yang dikuasai Marga Lubis. Diperkirakan pasukan Padri 5.000 orang pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri. Seluruh penduduk Muarasipongi dibabat habis. Basyral Hamidy Harahap yang menulis buku Greget Tuanko Rao menyebutnya mirip holocaust. Setelah Selatan dikuasai Padri, mereka hendak ke Utara yang dikuasai Sisingamangaraja. Perang ini dimamfaatkan Klan Siregar, atas dendam mereka terhadap dinasti Sisingamangaraja. Salah satu keturunan Klan Siregar adalah Jatengger Siregar bergabung dengan pasukan Padri.

Tahun 1819, dari Selatan pasukan Padri berajak ke Utara untuk menyerang kerajaan Singamangaraja X di Bakkara. Perang ke Utara dimamfaatkan beberapa pihak. Terutama bagi Klan Siregar sebagai kesempatan balas dendam. Konon, Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, pernah menyerbu pemukiman Marga Siregar di Muara. Dalam perang tanding itu Klan Siregar kalah, Raja Porhas Siregar sebagai pemimpin tewas. Sejak saat itu dendam kusumat terus terngiang pada keturunan Raja Porhas Siregar. Memang banyak yang menyebut hal itu impossible, dendam berkepanjangan sampai 26 generasi. Serangan Padri ke Dinasti Sisingamangaraja dimafaatkan Jatengger Siregar sebagai ajang balas dendam. Jatengger menyasar Singamangaraja X dan membunuhnya. Kepalanya dipenggal, ditusukkan dan ditancapkan ke tanah. Sementara, Tuanku Rao tidak terbetik menggagalkan pembunuhan terhadap tulangnya itu.

Tahun 1820, pasukan Paderi minggir dari Tanah Batak karena terjangkit virus kolera dan epidemi penyakit pes. Ada asumsi virus itu muncul sebab terlalu banyak mayat membusuk tidak sempat dikuburkan. Dari 150.000 orang tentara Padri, yang selamat hanya tersisa sekitar 30.000 orang. Lebih banyak meninggal karena virus tersebut.

Ada tiga asumsi yang bisa diambil dari kisah tersebut. Pertama perang Padri yang ingin menyebarkan agama Islam. Kedua, Klan Siregar yang memamfaatkan perang Padri membalas dendam terhadap Sisingamangara. Terakhir, ramalan datu Amantogar Manullang yang mengatakan, “Tuanku Rao akan membunuh Sisingamangaraja X terbukti, walau tidak langsung dilakukan Tuanku Rao. Tetapi Jatengger Siregar sebagai anak buah Tuanku Rao.”

*)Penulis adalah pewarta di majalah budaya Batak, tinggal di Bekasi

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Keturuanan+Dinasti+Sisingamangaraja%2C+Panglima+Perang+Padri&dn=20081008131645

→ Tinggalkan KomentarKategori: 1

Joey Bangun

24 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Bernama lengkap Joey Adi Citra Bangun dikenal sebagai sebagai Senimanseniman serba bisa. Joey Bangun lahir di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 9 September 1979.

Sejak kecil sudah terlihat minat Joey pada sastra. Kegemarannya membaca buku-buku dan mengoleksinya, menjadikan perpustakaan pribadi di kamarnya ketika masih duduk di SMP. Bakatnya pada seni sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu hobinya melukis. Hobinya itu membuatnya mengikuti lomba lukis anak-anak tingkat daerah. Sarjana Teknik Elektro ini mengenal drama saat SMP. Ketika itu gereja tempatnya beribadah akan membuat sebuah pargelaran seni. Dan setelah di casting, akhirnya dia terpilih menjadi pemeran utama. Penampilannya di pargelaran itu mendapat pujian banyak orang.

Duduk di bangku kuliah, Joey menyelami dunia model. Berbagai penghargaan pemilihan model tingkat daerah maupun nasional dia raih. Selain itu, dia menjadi icon untuk produk iklan rokok Djarum Coklat dan terpilih sebagai Sang Lelaki Indosiar.

Keinginannya memperdalam dunia drama membuatnya menimba ilmu di acting course Studiklub Teater Bandung (STB) tahun 2002. STB adalah sebuah kelompok teater profesional di Bandung dan termasuk kelompok teater tertua di Indonesia.

Tekadnya untuk mengembangkan bakatnya di dunia seni peran sudah bulat. Tanggal 24 Mei 2003 diia mendirikan kelompok teater yang diberi nama Teater Topeng di kampusnya Universitas Kristen Maranatha Bandung dan menjadi pimpinan kelompok seni tersebut. Sejak itu dia aktif menulis karya drama dan kemudian menyutradarainya. Dia juga memperdalam karya sastra dramawan dunia seperti William Shakespeare, Johann Wolfgang Goethe, Samuel Beckett, dan sebagainya.

Lepas dari Teater Topeng yang memang kelompok itu sudah milik Universitas Kristen Maranatha, lalu dia mendirikan Teater Aron di Bandung tahun 2006. Hingga saat ini dia menjadi pimpinan dan berkarya di komunitas ini.

Joey kemudian memperdalam ilmu sinematografi penyutradaraan di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Setelah itu dia banyak membuat film sinetron produksi Multivison Plus dan MD Entertainment.

Daya hayal dan imajinasinya yang mulai berkembang membuat Joey menulis banyak cerita fiksi yang telah dimuat di berbagai media. Hasilnya, 2 buku kumpulan puisi dan cerita pendeknya telah diterbitkan. Joey juga menulis banyak artikel di berbagai media. Tulisan-tulisannya banyak menyorot tentang perkembangan seni dan budaya, terutama etnis Karo.

Talentanya dalam seni peran, menulis, melukis, bermain musik, telah berpadu dalam satu wadah seni yang disebut Teater.

*

PENDIDIKAN

- TK Fajar, Medan (1984)

- SD St Antonius II, Medan (1985)

- SMP Putri Cahaya, Medan (1991)

- SMU Immanuel, Medan (1994)

- Teknik Elektro, Universitas Kristen Maranatha, Bandung (1997)

- Teknik Elektro, Universitas Kebangsaan, Bandung (2005)

- Acting Course Studiklub Teater Bandung (STB) (2002)

- Sinematografi Pusat Perfilman SDM Citra Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) (2007)

*

WORKSHOP & SEMINAR

Workshop Teater PEKAN PERFORMING ART NASIONAL Teater Orok Universitas Udayana Denpasar, Bali 24 – 28 Mei 2004

Workshop Teater SERAT SARWA SATWA Selaser Sunaryo Art Space, Main Teater Bandung & Melbourne Juni – Juli 2004

KONGRES KESENIAN INDONESIA II Padepokan Pencak Silat Indonesia, Jakarta 26-30 September 2005

Workshop THE ART OF FILM MAKING AND EDITING Lasalle College International 26 Agustus 2006

Workshop International THE ECONOMY OF CINEMA & TELEVISON Fakultas Film dan Televisi – Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Faculte du Cinema et de L’Audiovisuel Uversite de Paris 3/ Sorbonne Nouvelle 16 – 20 April 2007

Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya, Yayasan Kelola dan Lembaga PPM, 12-16 Mei 2008

ORGANISASI

2003 – 2004 : Ketua Teater Topeng Bandung

2006 –2011 : Kepala Departemen Seni, Budaya, dan Pariwisata DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI)

2006 – sekarang : Direktur Artistik Teater Aron

2007 – sekarang : Pokja Komunikasi Internal dan Administrasi/Tim Website Masyarakat Film Indonesia (MFI) www.masyarakatfilmindonesia.org

sumber:http://joeybangun.wordpress.com

→ Tinggalkan KomentarKategori: Seniman

Masri Singarimbun

24 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

In Memoriam Masri Singarimbun (1931-1997)

Oleh Frans HüskenHüskenAA

Masih penuh rencana penelitian baru dan sibuk menyiapkan publikasi baru, Masri Singarimbun, profesor antropologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Indonesia) meninggal dunia pada tanggal 25 September 1997. Selama beberapa bulan dia telah menjalani pengobatan untuk berbagai leukemia yang banyak berharap ia akan bertahan hidup, tetapi yang akhirnya terbukti berakibat fatal. Kematiannya pada usia 66, daun kekosongan baik di Indonesia dan masyarakat akademik pada umumnya ketika ia berada di antara beberapa ulama Indonesia dengan reputasi internasional.

Sejak ia mendirikan Pusat Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1973, ia terkenal karena karyanya dalam demografi sosial, antropologi, dan studi pembangunan. Namun, sebagai orang yang energik dan antusias dia, dia adalah seorang pengamat dan analis tertarik dari berbagai isu-isu sosial dan akademis. Karya awalnya difokuskan pada sosio-antropologis klasik studi tentang Batak Karo-sistem kekerabatan untuk mana ia menerima gelar PhD di Australian National University di 1966 (setelah anda menyelesaikan gelar BA dalam Pendidikan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959). Kemudian ia pindah ke demografi di ANU untuk Sekolah Penelitian Ilmu Sosial, hingga ia memutuskan (pada 1972) bahwa setelah lebih dari sebelas tahun di Canberra ia harus kembali ke Alma Mater di Yogyakarta. Di sana ia menjadi sangat terlibat dalam penelitian tentang pengendalian kelahiran dan keluarga berencana di berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar itu ia bertindak sebagai penasihat kritis kepada pemerintah Indonesia yang pada saat itu telah terlibat dalam program perencanaan keluarga dalam upaya habis-habisan untuk memecahkan masalah penduduk negara itu. Masri’s rekomendasi tidak selalu diterima secara positif saat ia memenangkan bersikeras atas kerjasama dan penerimaan dari program dari masyarakat lokal, sementara lembaga-lembaga pemerintah terobsesi oleh angka-angka target dan kesuksesan cepat, dan dengan berbuat begitu mudah terpaksa tekanan politik pada populasi.

Nya sikap kritis juga membawa dia untuk menarik perhatian pada masalah kemiskinan pedesaan dan melalui penelitian jangka panjang proyek, yang dimulai bersama dengan David Penny pada tahun 1969 di Desa Sriharjo (di bagian selatan Yogyakarta provinsi), ia mampu menunjukkan bahwa angka-angka resmi pada pemberantasan kemiskinan di Indonesia pada umumnya terlalu optimis. Bahan nya di Sriharjo, sebuah desa yang ia kembali berkali-kali, memberikan Fundgrube bagi sejarah sosial pedesaan Jawa di abad ke-20.

Masri kembali ke Indonesia pada tahun 1972 tidak hanya menandai awal karir akademis yang mengesankan tetapi juga awal yang sangat sukses pusat penelitian di mana beberapa generasi ilmuwan sosial Indonesia menerima pelatihan intelektual mereka. Bangunan kecil dari yang ia mulai telah tumbuh menjadi salah satu pusat-pusat akademik di Universitas Gadjah Mada dengan jauh terbaik dilengkapi perpustakaan ilmu sosial dan suasana terbuka di mana mahasiswa, staf, dan (banyak) mengunjungi sarjana dari Indonesia dan luar negeri bertemu. Dunia menyenangkan ini telah menghasilkan sejumlah besar peneliti yang berdedikasi menggabungkan komitmen sosial dengan ketelitian ilmiah dan membuka pikiran. Yang sama jumlah besar peneliti asing sangat diuntungkan dari dukungan dan infrastruktur dari Pusat Studi Kependudukan menyediakan mereka dengan tantangan intelektual dan diskusi yang tajam serta relaksasi dari tekanan kerja lapangan.

Ketika pada tahun 1996, Masri pensiun dari kursinya di UGM Departemen Antropologi, ia tetap aktif dalam proyek-proyek penelitian dari Pusat Studi Kependudukan dan pembimbing tesis. Ia ditawari kursi baru dalam metodologi penelitian di Universitas Atma Jaya Yogyakar-ta, dan terus pada penelitian penerbitan baik melalui jurnal akademik dan (sangat luas) melalui kolom dalam pers Indonesia, mengomentari topik beragam seperti etnisitas, pedesaan kemiskinan, sosio-linguistik, seksualitas, dan AIDS.
Tiga puluh tahun setelah ia menerima gelar PhD di Canberra, ANU menawarkan kehormatan doktor pada tahun 1996. Masri merasa, tentu saja, dihormati oleh tanda-tanda ini pengakuan internasional dari karyanya, tapi ia terkejut pada saat yang sama, tidak sedikit pun karena dia, dilatih sebagai seorang pendidik dan antropolog, dan dipekerjakan di departemen demografi dan ekonomi, yang ditemukan dirinya untuk menjadi lld pada akhirnya.
Masri Singarimbun, yang meninggalkan seorang istri, Irawati, dan tiga anak perempuan, akan dirindukan oleh banyak teman dan kolega di seluruh dunia.

[Sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisan Masri Singarimbun dapat ditemukan di: Agus Dwiyanto et al. (eds), Penduduk dan Pembangunan, Population Studies Center, Yogyakarta 1996, hal. 413-424]

Prof Frans Hüsken melekat kepada Lembaga Budaya dan Sosial Antropologi, Universitas Katolik Nijmegen (Belanda) dan ketua Dewan IIAS.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Pedagog (pengajar

Zulkifli Nasution

24 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Zulkifli, Petakan Tanah di Tapanuli Tengah

Kawasan Danau Toba yang kini wilayahnya masuk dalam tujuh kabupaten di Sumatera Utara itu memiliki 11 iklim. Ada 272 sungai yang melingkupinya, tetapi hanya 11 sungai di antaranya yang mengalirkan air. Jika hulu sungai digunduli, sebanyak 11 sungai itu pun tak akan bisa mengalirkan air lagi.

oleh Aufrida Wismi Warastri

Semua itu ada dalam salah satu hasil penelitian yang dilakukan Prof Ir Zulkifli Nasution MSc PhD (48), ahli tanah dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Dekan Fakultas Pertanian USU. Penelitiannya bersama Titin Prihatin dan Bintang Sitorus juga menemukan kenyataan, selama 10 tahun (1983-1993), daya dukung kawasan tangkap hujan Danau Toba menurun hingga 73 persen. Angka itu didasarkan pada nilai critical population density (CPD) yang terus meningkat.

Danau Toba juga memiliki lahan gambut dataran tinggi di Lintong Nihuta. Di Indonesia tercatat hanya dua kawasan yang memiliki lahan gambut dataran tinggi, yakni Danau Toba dan Papua. Berdasarkan penelitian Zulkifli, ada pula kawasan di Danau Toba yang potensial untuk pengembangan gandum (Triticum aestivum).

Puluhan penelitian Zulkifli ikut mendukung pengembangan pertanian dan perkebunan di Sumut. Penelitian seputar Danau Toba juga banyak dilakukannya. “Terutama karena Danau Toba masih laku dijual,” katanya.

Tak urung, pemikiran Zulkifli juga menembus batas negara. “Secara ilmu pengetahuan, hasil penelitian harus digunakan. Saya senang ada yang menggunakan hasil penelitian saya. Namun, kadang masih ada yang menggunakan hasil penelitian untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan untuk kepentingan pribadi,” tutur Zulkifli saat ia menyiapkan tulisan The Ecology of Lake Toba Catchment Area for Suistainable Agriculture Development yang akan dibawanya dalam sebuah seminar internasional.

Ia lebih senang mengikuti dan menjadi pembicara dalam seminar di luar negeri daripada di dalam negeri. Alasannya, di luar negeri penyelenggara dan peserta sangat serius, dan hasil serta tindak lanjut seminar itu juga jelas.

Baginya, bicara tanah tak lepas dari masalah ekologi sebagai salah satu dasar konsep manajemen tanah. Pengembangan lahan berdasarkan ekologi sudah dilakukan Belanda, tetapi ditinggalkan pemerintah Republik, terutama saat Indonesia memilih membangun teknologi lebih dulu pada 1980 hingga masa reformasi. Akibatnya, lahan-lahan subur tertimpa bangunan.

Padahal, salah satu hal yang sudah dilakukan Belanda adalah membuat pemetaan lahan, misalnya tembakau deli dikembangkan di Sumut antara Sungai Ular dan Sungai Wampu, gula ada di Jawa, dan sagu di Maluku.

“Kita justru mundur setelah zaman Belanda. Dulu Belanda punya rencana penggunaan tanah, kita tidak begitu,” ujarnya.

Sejarah penggunaan tanah di Indonesia salah satunya ada dalam catatan Kim H Tan (81), dalam buku Soils in the Humid Tropics and Monsoon Region of Indonesia, Their Origin, Properties, and Land Use yang diterbitkan The University of Georgia, Athens, 2007.

Tapanuli Tengah

Satu kerja yang Zulkifli selesaikan adalah memetakan tanah di Tapanuli Tengah. Ia golongkan tanah di Kabupaten Tapanuli Tengah dalam berbagai klasifikasi yang cocok untuk tanaman tertentu.

Tanah di Kecamatan Maduma hingga Sibolga, misalnya, masuk golongan MA 233, artinya tak baik untuk kelapa sawit, karet, kopi, dan cokelat. Sementara golongan tanah AF 112 bisa ditanami karet, baik untuk cokelat, kapuk, dan sangat baik untuk kelapa sawit. Di kabupaten ini terdapat 47 jenis tanah.

“Kita telah memilih teknologi maju, tetapi pilihan kita salah. Ketika kita mau balik lagi sudah sulit karena lahan itu sudah terpakai,” kata Zulkifli. Jutaan hektar lahan subur sudah terkonversi menjadi rumah atau untuk perluasan kota.

Pengembangan Kota Medan adalah contoh konkret. Tanah perkebunan untuk pengembangan tembakau deli sudah habis. “Kita tak mungkin melebarkan tanah tembakau deli karena sudah menjadi gedung,” katanya.

Tukang listrik

Zulkifli tak bercita-cita menjadi ahli tanah, ia ingin menjadi tukang listrik. Itu karena setiap sore dia melihat petugas listrik mengontrol lampu jalan di Kisaran tahun 1967. Ia hanya tak percaya pada lagu Koes Plus, Kolam Susu, yang menggambarkan betapa suburnya Indonesia.

“Kalau tanahnya subur, tak mungkin rakyat melarat,” kenang Zulkifli. Buktinya, produksi aren sang ayah, seorang pembuat gula aren di Kisaran, tak pernah meningkat. Produksi padi di daerahnya juga rendah. Pemikiran itu membuat dia memilih jurusan tanah pada Fakultas Pertanian USU.

Katanya, Indonesia yang terletak di kawasan tropis tidak subur karena unsur haranya rendah, hanya mineralnya bagus dan airnya cukup.

Saat kuliah, baju yang dimiliki Zulkifli cuma empat lembar. Ia juga mengajar untuk membiayai kuliah. “Mungkin karena saya suka makan makanan bergizi kalau ada kenduri sebab saya rajin membantu orang memasak untuk pesta,” cerita Zulkifli yang pernah menang lomba mengaji tingkat Sumut itu.

Zulkifli rela bekerja dan belajar keras sebab niatnya hanya satu, yakni mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Ia tak peduli apakah hasil kerjanya mendapat penghargaan atau tidak.

Sesungguhnya, kata Zulkifli, untuk memajukan bangsa, kemampuan ilmuwan Indonesia mencukupi. Namun, tanpa pemimpin yang mampu berpikir jernih, mau memikirkan kesejahteraan rakyat dan kelestarian ekologi, kekuatan ilmu tidak akan berarti karena tak ada yang bisa diterapkan di sini.***

sumber: http://202.146.5.33/kompas-cetak/0712/06/Sosok/4045782.htm

→ Tinggalkan KomentarKategori: dosen

Eka Dimitri Sitorus

21 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Perawakan dan penampilannya sederhana saja. Tak ada sedikit pun kesan glamour pada diri Eka. Eksentrik juga tidak. Walau dunia pria yang lahir di Bandung l 7 Agustus 1960 ini, setiap hari selalu Eka Siraitbersinggungan dengan seni peran, menulis skenario film maupun sinetron. Dunia yang selalu diasosiakan dengan hidup yang gemerlapan.
Eka adalah salah satu tokoh kunci, di balik sukses dan kontraversi film “Ekskul” di ajang Festival Film Indoneisa 2006 lalu. Film yang mengambil setting cerita kekerasan di kalangan pelajar itu, berhasil keluar sebagai peraih film terbaik. Dikatakan sukses karena menjadi film terbaik dan menangguk banyak penonton. Disebutkan kontraversi karena kemenangan itu dianulir kembali oleh BP2N (Badan Pemantau Perfiliman Nasional). Alasan BP2N menganulir film tersebut karena dianggap bermuatan kekerasan yang tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia.
Namun, keputusan BP2N itu tidak sosialisasikan dengan baik kepada publik luas, sehingga sampai saat ini, Eka Sitorus menganggap keputusan itu tidak fair dan menyisakan persoalan. Memang, pada saat dewan juri mengumumkan Ekskul sebagai film terbaik, banyak kalangan praktisi dan pemerhati Film nasional angkat bicara. Bahkan beberapa peraih piala citra FFI, terutama generasi FFI 2004, mengembalikan piala yang telah mereka raih. Persoalan tersebut pun berkembang dan sempat terjadi polemik yang cukup ramai antara Seno Gumira Adjidarma dan Yudhistira Massardi dalam sebuah media cetak Jakarta.
Pada saat itu, bukan hanya Nayato Fio Nuala sebagai sutradara yang diserang, juga Eka Dimitri Sitorus sebagai penulis skenario dan pelatih akting, yang telah melibatkan seluruh muridnya dalam produksi itu, juga tak luput dari serangan. Eka tidak habis pikir, orang-orang yang mempersoalkan film tersebut justru orang-orang berpendidikan, sedangkan cara-cara yang mereka tempuh justru cara-cara orang yang tidak berpendidikan. Menggunakan kekerasan dengan kata-kata. Sebagai contoh, katanya, mereka menyerang wilayah pribadi Eka. Padahal itu tak ada relevansinya dengan karya dan kreativitas seorang Eka Sitorus.
“Mereka tidak gentlemen. Mereka kan tahu etika dan budaya, bagaimana menyampaikan pendapat maupun pikiran. Tetapi, mereka justru menunjukkan sikap-sikap yang tidak berbudaya. Sejak awal, ketika film Ekskul masuk nominasi, seharusnya mereka sudah mempersoalkannya, bukan ketika dewan juri sudah mengumumkannya sebagai pemenang,” keluh Eka dengan nada kecewa.
Agnes Monica
“Lihatlah akibatnya, sejak saat itu dunia perfilman kita jadi kurang sehat,” lanjutnya lagi, berapi-api. Sebagai pelatih akting dan penulis skenario film tersebut, Eka telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi keberhasilan film tersebut. Tetapi, justeru perannya yang besar itulah yang membuat para pemerotes menyerang ruang pribadi Eka. “Aku nggak habis pikir, apa sih mau mereka? Mau menghancurkan aku?” tanyanya agak sengit.
Dia terpukul. Jalan keluarnya, dia mengurung diri selama empat bulan untuk mengatasi dampak kehebohan tersebut terhadap pikiran dan batinnya. Sekarang, pria yang masih melajang ini, sudah bekerja normal kembali. Sehari-hari dia menghabiskan waktu di Sakti Aktor Studio, bersama murid-muridnya. Walau sempat diserang kanan-kiri, orang tak pernah lupa dia telah melahirkan banyak aktor dan aktris. Sebutlah nama merekla dengan jujur, seperti Agnes Monica, Ariyo Wahab, Winky Wiryawan, dan Ahmad Zaki. Sementara buat dirinya sendiri, dia tak pernah lupa akan bapaknya, Masito Sitorus, seorang aktor yang telah menemukan bakat dan melapangkan jalan untuk karier anaknya itu.
Sang bapak, Masito Sitorus, adalah pemegang Piala Citra FFI 1978 berkat penampilannya sebagai pemeran pembantu pria dalam film “Jakarta-Jakarta.” Kembali ke sang anak, tokoh kita. Pada usia 12 tahun, Eka kecil sering diajak sang ayah ke lokasi shooting. Nasib yang baik menyambut si kecil di dunia film. Pada suatu saat seorang sutradara memberi Eka peran dalam sebuah film. Sejak saat itu, pengagum sutradara besar, Wong Kar Way, ini sering main sandiwara di TVRI Jakarta. Biasanya, dia ikut produksi grup Teater Kecil, yang disutradara Arifin C Noer. Eka kemudian menyadari, bahwa jalan hidupnya tak jauh beda dari bapaknya, bergelut dalam dunia akting.
Pada tahun 1983, Eka berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar seni peran pada American Academy of Dramatic Arts, Pasadena. Dia sepenuhnya didukungan oleh tulang (paman dari garis ibu)-nya. Untuk melanjutkan studi seni peran itu, dia mengusahakan sendiri biaya kuliah dan pemondokannya. Tahun 1987-1990 Eka melanjutkan studi ke California State University, kemudian ke University of Warwic di Coventry, Inggris, pada tahun (1993- 1994).
Sepulang dari Amerika, Eka tak sempat lama menganggur. Dengan dukungan Tatik Malyati WS, salah seorang dosen Institut Kesenian Jakarta, dia menemukan pintu untuk menyalurkan pengetahuannya di lembaga pendidikan kesenian tersebut. Dia mengajar di situ dan dalam jangka waktu beberapa lama kemudianu dia diangkat menjadi ketua jurusan teater (1995-2000). Pada Saat mengajar di jurusan teater IKJ inilah Eka banyak memproduksi pementasan teater. Hampir setiap malam Eka dan mahasiswanya latihan sampai menjelang pagi. Manakala para mahasiswa dan dosen lain sudah sudah pulang ke rumah, Eka biasanya kembali lagi ke kampus yang berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya. Rumah orang tuanya memang tak jauh dari kampus IKJ, sehingga membuatnya dekat dengan kampus dan para mahasiswanya.
Olah tubuh
Naskah-naskah yang sudah pernah disutradarainya antara lain: A Mid Summer Night Dream karya Wiliam Shakespiere, tahun 1993, dipentaskan di Graha Bhakti Budaya TIM. The Zoo Story ciptaan Edwar Albe, tahun 1999, dipanggungkan di Solo, Bandung, dan Jakarta. No Exit tulisan Jean Paul Sartre, tahun 1999, dipagelarkan di Bandung dan Jakarta. Deadwatch and the Maids karya Jean Ganet, tahun 2000, dipanggungkan di Jakarta.
Eka menjalani kehidupan dan bukan sandiwara. Dia menemukan kenyataan bahwa hidup tak lepas dari dinamika. Perbedaan prinsipil dengan beberapa staf pengajar di IKJ membuat dia tak betah lagi mengajar di sana. Dan dia putuskan. Pertengahan tahun 2000, selepas masa jabatannya sebagai ketua jurusan teater, Eka mengundurkan diri.
Berhenti sebagai pengajar di IKJ, tak membuat Eka kehilangan aktivitas. Dia langsung terikat kontrak dengan rumah produksi Prima Entertainment. Di rumah produksi inilah dia berkenalan dengan berbagai pekerja profesional televisi komercial maupun film. Dia mulai menjadi pelatih akting yang laris dan terlibat dalam berbagai produksi. Antara lain “Sebening Hati Wanita,” “Juara,” “Beth,” “Ada Apa Dengan Cinta,” “Panggil Namaku 3X,” “Gotcha,” “Ekskul,” “Cinta Pertama,” “I Love You Om,” dan ”The Wall.” Karena permintaan untuk memberikan workshop seni peran semakin banyak, maka pada tahun 2002 Eka mendirikan Sakti Aktor Studio seorang diri. Pada saat awal sekolah seni peran itu didirikan, dia dibantu oleh Gita Asmara untuk pelajaran olah tubuh. Setelah itu, Eka kembali lagi sendirian mengelola sekolah yang menempati salah satu gedung di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. “Gedung yang di pakai sebagai kelas sekaligus tempat pertunjukkan ini adalah sumbangan dari beberapa muridku yang sudah berhasil,” katanya kepada wartawan TAPIAN.
Kembali ke “Ekskul” yang jadi bahan perdebatan yang sengit maupun pergunjingan di cafe-cafe beberapa waktu lalu. Begini. Enison Sinaro, seorang sutradara yang juga pemerhati film nasional mengatakan bahwa sebagai anggota BP2N dia tak diajak rapat, tau-tau sudah keluar keputusan yang menganulir seluruh penghargaan yang diraih“Ekskul.” Katanya: “Seharusnya BP2N melakukan sidang pleno lebih dulu dengan para anggotanya, barulah keputusan serta langkah-langkah yang komperhensif diputuskan. Sebab apa yang salah dengan penyutradaraan Nayoto?!” tanya Enison Sinaro. “Kalau piala citra untuk penata musik, mungkin masuk akal dianulir,” katanya meluruskan. Enison pernah duduk sebagai ketua Karyawan Film dan Televisi.
Lebih jauh Enison Sinaro mengatakan bahwa menyerang kepribadian Eka jauh keluar dari konteks masalah film. Dan itu tak pantas dilakukan. Cuma dia masih ingat ketika itu tim juri memang terbelah dua. Yang satu berfikir film terbaik harus punya identitas ke-Indonesiaan, sementara kubu yang satu lagi tidak membatasi gagasan maupun tehnik pembuatan. Menurut beberapa pengamat, cerita di dalam skenario film tersebut tak jauh dari pengalaman hidup Eka Dimitri Sitorus sendiri bersama bapaknya, Masito Sitorus.
Obsesi
Di samping terus membangun Sakti Aktor Studio, Eka tidak menolak bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional untuk memberikan pelatihan ke daerah-daerah. Bengkel kerja atau workshop itu bertujuan untuk meningkatkan keterampilanl para guru-guru sekolah formal di daerah. Membantu para guru bagaimana menemukan cara mengajar yang baik. Kerjasama itu sudah berlangsung kesekian kalinya. Kegiatan tersebut juga dilakukannya untuk memantau seberapa jauh apresiasi masyarakat di daerah terhadap teater dan seni peran.
Menurut dia, belajar seni peran bukan hanya sebagai persiapan untuk seorang (calon) aktor saja, tapi bisa juga diaplikasikan pada bidang-bidang lain. Katanya, adakalanya dalam perjalanan ke daerah dia bertemu dengan anak-anak muda berbakat. Namun, mereka tak mempunyai biaya untuk dudukdi kelas seni peran di Sakti Aktor Studio Jakarta. Kalau sudah begini, biasanya hati Eka terketuk untuk membantu. Dia bersedia memberikan bea-siswa bagi mereka. Bea-siswa yang diberikan mencakup kursus paket tiga bulan, asalkan yang menerima bea-siswa tersebut lulus tes serta menanggung biaya perjalanan, pemondokan, dan akomodasi selama belajar di Sakti Aktor Studio Jakarta.
Sudah jauh dia menempuh jalan di dunia yang sudah jadi pilihannya, yang dituntun oleh bapaknya, ada satu obsesi yang berkejaran di dalam pikiran Eka Dimitri Sitorus: mendirikan akademi seni peran yang terpandang sebagaimana banyak ibukota dunia memilikinya. Pusat pendidikan itu akan menjadi kancah pembelajaran dan latihan bagi anak-anak muda berbakat, berkemauan bekerja keras. Dia yakin tanpa regenerasi, teater di negeri ini akan runtuh. *** Jeffar Lumban Gaol

→ Tinggalkan KomentarKategori: Seniman

Murniwati Harahap

16 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Murniwati boru Harahap ini lahir 31 Agustus 1944 di Rantau Parapat, Sumatera Utara.

Ibu Murni01Murniwati, dari Nol Mencintai Bakau

Oleh: AMIR SODIKIN

Di belakang kawasan perumahan Pantai Indah Kapuk atau PIK Jakarta Utara, tak jauh dari pantai yang kini sudah menjadi rimba beton (dan akan masih bertambah), ada sebuah jalan tanah ke arah pantai. Di ujung jalan itu, kontras dengan rimba beton PIK yang mewah, terdapat hutan mangrove. Taman Wisata Alam Angke Kapuk namanya.

Kawasan itulah yang dikelola Murniwati, yang biasa dipanggil Ibu Murni. Di kawasan seluas 99,82 hektar itu terdapat vegetasi pepohonan mangrove atau pohon bakau. Ekosistem hutan mangrove ini makin parah kerusakannya, dipicu era reformasi yang kebablasan tahun 1998. Taman wisata alam (TWA) pun ikut dijarah dan lahannya dikapling-kapling petambak liar.

Saat ini, di kawasan itu terlihat banyak pohon bakau yang berumur sekitar 2,5 tahun. Masih muda untuk ukuran bakau. Sekitar 40 persen kawasan sudah ditanami. Rumah-rumah bambu berarsitektur khas didirikan untuk menjadikannya sebagai kawasan pendidikan lingkungan bagi anak-anak sekolah dan masyarakat umum.

Hutan bakau menjadi perhatian berbagai pihak karena ekosistem bakau yang terjaga memiliki fungsi yang sangat berguna. Mulai dari fungsi penentu produktivitas perairan, penyediaan habitat satwa, pengatur hidrologi, penjaga kualitas air, penjaga sistem dan proses alami, hingga pencegah bencana alam.

Saat banjir besar tahun lalu atau ketika air laut pasang naik (rob) yang mengakibatkan kawasan Jakarta Utara kebanjiran beberapa waktu lalu, kawasan TWA Angke Kapuk—juga PIK—tak terkena banjir.

“Airnya hanya naik, tetapi sekadar pasang alami, tidak meluap seperti tempat lain. Hutan bakau efektif menjadi benteng pertahanan terakhir dari ancaman banjir dan rob,” kata Murniwati, pengelola kawasan wisata itu.

Di tempat itu, seorang ibu rumah tangga sejak 1998 telah bergulat mempertahankan kawasan tersebut untuk tetap bertanam bakau. Selain telah menanam ribuan pohon bakau, ia juga masih menyemaikan ribuan bibit bakau. Ada yang baru disemai, ada pula yang sudah siap tanam.

Hobi “aneh”

Di kalangan ibu rumah tangga, hobi Murni menanam bakau dianggap banyak kalangan sebagai hobi “aneh”. “Iya, banyak yang bilang begitu. Kalau mau cari duit, ya harusnya saya nanam tanaman hias berharga mahal atau bikin vila di Bandung,” kata Murni yang sejak umur 16 tinggal di Bandung, Jawa Barat.

Untung saja hobi “aneh” itu didukung keluarga, termasuk suami. Murni menegaskan, dia bukan ahli bakau, bahkan dulu, saat berencana menanam bakau, ia tak paham apa fungsi bakau. Ia baru tahu saat berkunjung ke Benoa, Bali, dan melihat tanaman bakau yang bagus. “Mulai dari situ timbul keinginan saya untuk menanam bakau,” ucapnya.

Dengan bantuan berbagai pihak, Murni dan PT Murindra Karya Lestari selaku swasta mendapatkan hak pengusahaan TWA Angke Kapuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 537/Kpts-II/1997. TWA secara administrasi di bawah pengawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan (Dephut).

Kawasan ini ditetapkan sebagai kawasan hutan wisata yang akan dimanfaatkan untuk kegiatan penghutanan kembali atau rehabilitasi hutan mangrove dan kegiatan pariwisata alam (ekowisata). Sampai akhir April 2006, sekitar 40 hektar kawasan itu telah direhabilitasi dan ditanami kembali dengan berbagai pepohonan mangrove.

“Saya hanya ibu rumah tangga yang mencintai mangrove sejak lama. Jangan tanya saya jenis-jenis mangrove karena saya enggak tahu,” ujarnya. TWA yang dikelolanya terbuka untuk masyarakat umum yang ingin menanam bakau.

“Saya paling suka kalau yang datang siswa sekolah dasar. Mereka senang menanam, bahkan enggak mau disuruh gurunya berhenti,” cerita Murni. Anak- anak taman kanak-kanak juga sering mengunjungi tempat itu untuk menyemai. Masyarakat umum juga dipersilakan menanam.

Persoalan serius

Pedih hati Murni menyaksikan puing-puing arang bekas kantin yang dibakar orang. Pada Kamis (29/11) malam, fasilitas yang pertama kali dibangunnya untuk memulai menjalankan program ekowisata hutan mangrove itu ludes dilalap api.

“Tidak tahu siapa yang membakar. Sakit hati rasanya. Saya dengan penuh cinta menjaga tempat ini, menanaminya dengan bakau yang bermanfaat, tetapi tetap saja ada yang mengganggu,” kata Murni.

Kantin bambu itu merupakan bagian dari fasilitas yang ada di jalur trekking wisata pendidikan hutan bakau. Beberapa kali daerah itu digunakan masyarakat umum yang peduli lingkungan untuk gerakan menanam bakau.

TWA memang punya masalah dengan para petambak ilegal yang ingin kembali dan menguasai kawasan konservasi itu. Pikiran Murni lalu kembali tertuju pada awal-awal reformasi. Tahun 1998, ketika Murni baru menyemai bakau, ratusan orang menyerbu membawa golok.

“Saya diusir dan saya lari. Mereka juga menimbun 50.000 bibit mangrove yang saya tanam. Sekarang yang tersisa hanya satu rumpun bakau yang saya biarkan besar menjadi kenang-kenangan,” tuturnya. Ada puluhan petambak ilegal di lahan konservasi milik Dephut itu. Mereka tampaknya ingin kembali menguasai lahan tersebut.

Murni sempat berhenti mengurusi TWA. Tahun 2004, istri dari Bambang Haryo Soesilo ini kembali menanam bakau. Dengan dana dan kekuatan sendiri, ia sempat menjual beberapa barang berharga miliknya. Murni sampai mengerahkan pembantu rumah tangga dan tukang kebun yang saat itu total berjumlah 10 orang untuk menanam mangrove.

“Kami semua tak ada yang mengerti apa itu mangrove dan bagaimana cara menanamnya. Jadi, cuma ditanam sebisanya saja menggunakan rakit. Akhirnya, keponakan saya membuatkan sistem bronjong yang dilapisi karung, diisi lumpur, dan ditancapkan menggunakan patok,” katanya.

Belakangan para petambak kembali lagi menguasai lahan itu. Tanpa mengaitkan peristiwa pembakaran kantin, Murni berharap petambak ilegal bisa ditertibkan. Para petambak ilegal yang sudah membuat gubuk-gubuk itu ada yang nakal, mereka memotongi akar bakau hingga pohon itu layu. “Akar bakau dipotong karena mempersempit area tambak,” ujarnya.

Murni mengatakan, pada mulanya ada petambak yang ingin mengambil bandeng untuk keperluan sehari-hari. “Saya biarkan mereka mengambilnya. Tetapi, lama-lama mereka juga menguasai lahan dan mengancam bakau-bakau muda hingga banyak yang mati.”

“Ke mana lagi saya harus mengadu? Tidak kuat lagi saya kalau harus membuat surat kepada pejabat hanya untuk meminta bantuan. Sudah berkali-kali seperti ini, apa fungsinya pertemuan di Bali jika masalah kecil seperti ini masih belum bisa diselesaikan?” kata Murni.

Sumber: Kompas, Sabtu 8 Desember 2007

→ Tinggalkan KomentarKategori: Aktivis

Elias Tobing, DR

15 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

Elias Tobing, nama lengkapnya ialah Elias Lodewyk Lumban Tobing dilahirkan di Pakkat, Sumatera Utara, 14 Juli 1942 dari perkawinan JL eliasTobing dengan Erika boru Parapat. Naluri bisnisnya diasah sejak kecil dengan membantu orang tuanya yang membuka warung nasi. Dari hasil warung nasi itulah ia mampu bersekolah sampai tamat SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) di desanya. Itu pun ujiannya tidak di Pakkat. Sebab murid-murid SMEP Pakkat dan Dolok Sanggul, ujiannya di Siborong-borong. Dari 300 siswa yang mengikuti ujian, maka yang lulus hanya Elias Tobing.

SMEA ditempuh tidak di desanya, melainkan di Medan. Ia sekolah di SMEA Negeri Medan. Kemudian dilanjutkan ke Akademi Pimpinan Perusahaan dan Akuntansi Universitas Nommensen. Kurang dari setahun ia kuliah, kiriman wesel dari orangtuanya terhenti karena warung nasi yang dahulu dikelola Elias Tobing tidak terurus. Akhirnya ia hijrah ke Jakarta.

Seperti orang Batak lainnya, di Jakarta Elias Tobing mencari boru Tobing lainnya untuk numpang hidup. Ia bekerja di lapo tuak milik keluarga Tobing sebagai tukang cuci piring, pelayan dan koki dengan dasar pengalamannya membantu orang tua mengelola warung nasi di kampungnya. Kemudian dia berkenalan dengan keluarga Simanungkalit untuk kemudian bekerja di angkutan sayur mayur dari Bandung ke Jakarta dan dari Jakarta mencari muatan lain untuk dibawa ke Bandung. Tetapi enam bulan ia bekerja di angkutan ini, ia jatuh sakit. Tenaganya tidak kuat untuk bekerja terus-menerus seperti itu. Di rumah sakit ia merenungkan dan akhirnya berkesimpulan untuk kuliah lagi. Pertanyaannya ialah darimana uang untuk kuliah?

Dengan doa yang terus-menerus kepada Tuhan dan tekad yang bulat, Elias menemui Mr Rafinus L Tobing yang tinggal di Jl Sam Ratulangi 19 Jakarta Pusat. Padahal ia tidak kenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya. Mr Rafinus L Tobing menerima baik kedatangan Elias Tobing dan memberi surat pengantar untuk bekerja di Badan Musyawarah Pengusaha Swasta Nasional (Bamunas). Akhirnya, Elias bekerja di sini pada tahun 1964. Setahun bekerja di sini dengan gaji yang dikumpulkannya, Elias melanjutkan kuliah di jurusan politik ekonomi Fisipol Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Jakarta dan mampu menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun.

Ia bekerja sebagai guru di SMEA Negeri 8 Jl Abdul Muis 44 Jakarta dengan memberi mata pelajaran Organisasi Teknik Perdagangan (OTP). Ia sempat menulis buku “Tanja Djawab Organisasi Teknik Perniagaan/Hukum Dagang dan Prosedur Pelaksanaan Perdagangan Internasional” .

Kenal Dunia Usaha

Selama bekerja di Bamunas, Elias sudah berkenalan dengan dunia usaha dan pengusaha. Naluri bisnisnya mulai terasah. Bamunas ini kemudian berganti menjadi Konfederasi Kamar Dagang dan Industri (KKDI). Elias keluar dari KKDI di tahun 1970 dan bekerja di Gabungan Produser Film Indonesia (Gadrofin). Di tahun yang sama, ia bersama Hasan, seorang pengusaha keturunan Tionghoa mendirikan PT Putra Tolhas yang semula bergerak dalam produksi perfilman.

Tetapi karena kurang menguntungkan, akhirnya bergerak menjadi perusahaan pengadaan barang. Ia semakin mengetahui perilaku bisnis pengusaha Tionghoa Indonesia untuk mendapatkan kredit modal usaha dari perbankan (terkadang melalui jalan pintas). Perusahaan ini terus berkembang dan akhirnya di tahun 1985 ia memutuskan untuk berhenti menjadi guru SMEA Negeri 8 Jakarta.

Elias Tobing bergabung dengan Putra Group yang memiliki sejumlah anak perusahaan, seperti PT Sarana Karya Sandang Indah (SKSI) yang bergerak di bidang produksi dan ekspor sweater (baju hangat) dan PT Putra Daya Perkasa yang bergerak di bidang kawasan industri.

Elias pernah menjadi Direktur Utama PT Putra Daya Perkasa yang memiliki 100 ha Kawasan Industri Pasar Kemis Tangerang dan memelopori berdirinya Himpunan Kawasan Industri di tahun 1983.

Demikian pula di PT SKSI, ia pernah menjadi direktur utama. Tahun 1989, ia mulai mandiri dengan mendirikan BPR Makmur Merata di Ciledug Tangerang dengan modal setor Rp 50 juta.

Tahun 1998, ia nekat keluar dari Putra Group, kemudian mendirikan PT Eltora, industri kecil pembuatan sweater di kawasan industri Tangerang dengan modal awal 15 unit mesin rajut senilai Rp 60 juta. Nama Eltora merupakan perpaduan antara Elias Tobing dengan nama istrinya, Ratna Parapat.

Usaha sweater ini berkembang terus hingga memiliki 50 unit mesin dan mengekspor sendiri bermitra dengan PT Sentrako. Karena maju pesat maka PT Eltora dirubah menjadi PT Eltora Karya Mandiri. Saat ini telah memiliki 448 unit mesin dengan omzet Rp 5 miliar /tahun.

Elias Tobing meraih gelar Doctor of Business Management dari Adam Smith University of America, New York AS pada Oktober 1995. Pernah mengikuti misi perundingan kuota tekstil di AS, Denmark dan Kanada. Pernah menjadi delegasi investasi BKPM ke Korea, Hong Kong dan Thailand.

by parhusip
Sumber: http://www.pakkatnews.com/tokoh-kita/dr-elias-tobing

→ Tinggalkan KomentarKategori: Intrepeneur

Nadya Hutagalung

9 September 2009 · 1 Komentar

Nama Lengkap : Nadya Yuti Hutagalung
Pekerjaan : Model, Mantan VJ MTV Asia
Negara Asal : Australia – Indonesia
Tempat/Tanggal Lahir : Sydney, 28 Juli 1974
Nadya Hutagalung konsisten memilih salah satu negara Asia, menetap di Singapura. Nadya perempuan seksi dan paling cantik adalah salah satu MTV Asia’s legendaris asli VJ’s, yang mencapai posisi teratas dengan gampang, memenangkan-nya tahun 1997 Best Light Entertainment Presenter Award di Asian Television Awards untuk menghibur 70 juta rumah tangga di seluruh Asia.
Dia memulai dunia modeling di usia 12 tahun, dimulai di Tokyo, dan telah menempuh perjalanan sekitar Asia Tenggara dan Australia. Atas penampilannya, penerbitan pers internasional menyebutnya berpenampilan berbeda dan berkepribadian bersemangat.

Nadya mendapatkan semuanya karena kerja keras. Dia terpilih sebagai salah satu Asia’s Leading Trendmakers oleh majalah Asiaweek, di samping Dalai Lama, Michelle Yeoh dan Chow Yun Fatt, atas kemampuan khusus untuk mengilhami dan mempesona banyak orang. Pada tahun yang sama, ia juga terpilih Showtime Personality of the Year oleh Singapore’s The New Paper, dan Singapura’s Most Gorgeous Woman oleh pembaca majalah Female. Nadya juga disebut sebagai salah satu dari sepuluh “Shining Stars” di Televisi Indonesia oleh publikasi Indonesia, Bintang.
Gairah hidup telah memberinya dorongan untuk menawarkan bantuan di mana dan kapan diperlukan sehingga amal-nya telah mengambil kursi depan juga. Ia membagi waktu senggang, apa pun dia antara membela pelestarian spesies langka, lukisan untuk amal pameran seni untuk menyebabkan seperti Dana Bantuan Tsunami dan relawan, baik secara fisik dan penggalangan dana bantuan (untuk bom Bali dan korban gempa Jogakarta). Hojot Marluga

→ 1 CommentKategori: Selebritis

Ramlan Surbakti

9 September 2009 · Tinggalkan sebuah Komentar

ramlan_surbakti
Lahir:Tanah Karo, 20 Juni 1953

Istri:
Ny. Dra. Psi Veronika Suprapti MS Ed
Anak:
dua orang

Pekerjaan:
Wakil Ketua KPU
Guru Besar FISIP Unair
Kepala Pusat Kajian Pengembangan Otonomi Daerah, Kantor Meneg Otoda
Pendidikan:

- 1959-1971, Sekolah Rakyat

- SMU di Kabupaten Tanah Karo (Sumut)

- 1972-1977, (S-1) Fakultas Sospol (Ilmu Pemerintahan) UGM

- 1981-1982, (S-2/Master Ilmu Politik), Ohio University USA

- 1988-1991, doktor (S-3), di Northern Illnois University, AS, dengan

disertasi berjudul Interrelation Between Religious and Political

Power Under New Order Government of Indonesia

Email :
ramlan_surbakti@kpu.go.id

→ Tinggalkan KomentarKategori: Politikus · dosen