DR. Ir. G.M. Tampubolon


download (1)
Nama:
DR. Ir. G.M. Tampubolongm-tampubolon1

Lahir:
Padang, 14 Mei 1933

Pendidikan:
– SD, SMP, dan SMA di Kota Padang
– Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1958
– Doktor H.C. dari Perguruan Tinggi Heidelberg, Amerika Serikat tahun 1985

Istri:
Tiara br. Siregar
Anak :
Lima orang, dua putra dan tiga putri:
1. Roberto Mangaradja Tampubolo/ Ade Amir Murtono
2. Dipl. Ing. Henry Pascal Tampubolon/ van Zanten
3. Ir. Juanita Tampubolon/ Zokanda Siahaan
4. Natasha Tampubolon, SE/ Dwi Sampurno Suparjo Rustam
5. Varina Tampubolon, SE
Jumlah cucu :
Sembilan orang
Orangtua:
Nama Ayah : Calvijn Bismarck Tampubolon gelar Ompu Boksa II, meninggal tahun
1989 dalam usia 91 tahun
Nama Ibu : Agustina br. Pardede, meninggal dunia tahun 1990 dalam usia 89 tahun
Saudara kandung:
Anak ketiga dari tujuh bersaudara, dua laki-laki dan lima perempuan

Pengalaman:

Bidang Organisasi:
1. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), tahun 1969-19884
2. Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO), tahun 1981-1982
3. Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik, tahun 1982-1984
4. Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia, tahun 1975-1993
5. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI), tahun 1985-Sekarang
6. Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), tahun 1998-Sekarang
7. Komite Kerja Kaukus Teknologi, tahun 2003-Sekarang

Bidang Lembaga Tinggi Negara:
1. Anggota DPR-GR/MPRS dan DPR/MPR-RI, tahun 196801992
2. Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI, tahun 1993-1998
3. Penasehat Presiden RI Bidang Teknik, tahun 199-2000
4. Anggota MPR-FUG, Penasehat, tahun 1999-2004

Bidang Pendidikan:
1. Ketua/Pendiri Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI)/ Institut Teknologi Indonesia (ITI), tahun 1985-Sekarang
2. Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985-1986
3. Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, tahun 1972-Sekarang

Bidang Media:
1. Pemimpin Umum Majalah Insinyur Indonesia, tahun 1971-1984
2. Pemimpin Umum Majalah TEKNOLOGI, tahun 1985-Sekarang

Penghargaan:
1. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1997, tahun 1997
2. Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/1995, tahun 1995

Alamat Rumah:
Jalan Tanjung Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat

Alamat Kantor:
GMT Building, Jalan Wijaya I No. 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

 

Insinyur yang Tak Henti Mencipta

Dia sangat terkenal sebagai mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Komisi V DPR RI. Teknokrat kaliber dunia ini 15 tahun memimpin PII dan berbagai organisasi insinyur tingkat dunia, serta 24 tahun sebagai politisi kawakan di DPR Senayan. Pria kelahiran Padang, tanggal 14 Mei 1933 yang sangat dekat Habibie itu adalah cucu seorang pendeta, sukses berbisnis lewat bendera GMT Group yang menjalin kerjasama dengan mitra Jepang.

Teknokrat bernama lengkap DR. Ir. Godefridus Mangaradja Tampubolon ini menjabat Ketua Umum PII tergolong lama, 15 tahun, antara 1969-1984. Sebagai tokoh organisasi insinyur kaliber dunia dia juga berkiprah sebagai Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO) pada tahun 1981-1982, Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik (FEISEAP) tahun 1982-1984, hingga ke tingkat dunia sebagai Anggota Perngurus/ Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia (WFEO) tahun 1975-1993.

Di legislatif dia kawakan berkiprah 24 tahun sejak tahun 1968 hingga 1992. Dia juga pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) sejak tahun 1985 hingga sekarang. Sejak tahun 1999 hingga 2004 dia kembali ke legislatif sebagai Anggota MPR RI Utusan Golongan Insinyur dan Ahli Teknik Indonesia.

Di awal republik ini berdiri hingga dicetuskannya PII pada 23 Mei 1952 di Kota Bandung, oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan kawan-kawan, jumlah insinyur masih mudah dihitung sebab tak lebih dari 52 orang. Padahal, kemerdekaan harus segera diisi dengan berbagai pembangunan fisik dan non fisik untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Ketika itu semua merasa bangga sebagai insinyur dan karenanya sifat keanggotaan stelsel passive artinya siapa saja kalau insinyur dia dapat langsung menjadi anggota PII.
“Gemar mencipta” adalah pesan penting Presiden R.I. pertama Bung Karno kepada PII saat beraudiensi di Istana Negara, Jakarta. Pesan tersebut masih segar dalam ingatan G.M. Tampubolon. Dan menurutnya, tetap sangat aktual dikedepankan terutama untuk membantu bangsa keluar dari krisis multidimensional yang berkepanjangan. Bung Karno termasuk orang yang sangat bangga akan kehadiran PII, maklum, presiden flamboyan ini adalah juga insinyur lulusan dari ITB Bandung.

”Saya pikir relevansi pernyataan Bung Karno itu masih berlaku segar sampai hari ini,” tegas Tampubolon. Dia masih ingat betul bahwa tugas pertama yang Bung Karno berikan kepada mereka adalah memperbaiki jalan Thamrin, Jakarta, yang berlubang-lubang. Memperoleh tugas seperti itu membingungkan. Sekolah tinggi-tinggi hingga insinyur tapi hanya disuruh menambal lubang jalan, oleh seorang Presiden pula. Apalagi jika yang disuruh itu adalah insinyur mesin, seperti dirinya.

“Tapi, Bung Karno punya pikiran lain: Tanamkan dulu suatu suasana perekat diantara insinyur untuk dapat dimobilisasi,” kenang dia. Mereka lalu belajar menutup lubang. Insinyur sekelas Sutami pun harus dikursus cara menutup lubang. Cara kerja mereka sangat serius bahkan hingga tiga shift sehari.

Bung Karno sangat antusias dengan pendirian PII. Tampubolon menyebutkan, setelah Pengurus PII dipanggil empat diantaranya dijadikan Menteri. Yaitu Ir. Slamet Bratanata sebagai Menteri Urusan Jalan Raya Sumatera, Ir. Sutami Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Harjo Sudarjo Menteri Pengairan, dan Ir. Soehadi sebagai Menteri LIPI. “Yang lucu, waktu dipanggil Presiden semua tidak siap. Ir. Slamet Bratanata itu datang menemui Presiden memakai jas yang saya pinjamkan,” ungkap Tampubolon.

Ketika itu GM Tampubolon adalah insinyur lulusan ITB Bandung, Jurusan Mesin, tahun 1958. Bersama kawan-kawan dia disuruh membangun sekaligus menentukan cetak biru organisasi para insinyur tersebut. Pada sekitar tahun 1960 itu, G.M. Tampubolon dan beberapa insinyur muda lainnya, dia adalah yang termuda, dipanggil oleh Ukat untuk diminta menyusun PII.

Mereka lalu membentuk pengurus pusat dan mulai meletakkan dasar-dasar administrasi. Tidak lama kemudian, pada tahun 1963 Tampubolon mulai diangkat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen). “Pikiran kita waktu itu hanya satu, bagaimana menyertakan insinyur dalam pembangunan. Itu saja,” kenangnya. PII lalu menyelenggarakan kongres berkali-kali, tahun 1963, 1967.

Pada kongres yang kesekian di tahun 1969, di Parapat, Sumatera Utara, Tampubolon terpilih menjadi ketua umum yang kelima setelah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (1952-1954), Ir. Kaslan Tohir (1954-1959), Ir. Umar Bratakusuma (1959-1961), dan Ir. Suratman Dharmaperwira (1965-1969).

Untuk mensejajarkan diri dengan organisasi profesi insinyur lain di luar negeri, yang peran dan fungsinya sama-sama sangat strategis dalam membangun setiap bangsa, sejak tahun 1975 PII menjadi anggota Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia, organisasi yang selanjutnya menempatkan Tampubolon sebagai Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia tahun 1975-1993. Tepat dua tahun kemudian, di tahun 1979 PII menjadi tuan rumah Kongres Insinyur Se Dunia yang mengangkat tema pangan, energi, dan transportasi yaitu sektor yang sangat relevan untuk segera dibangun di Indonesia ketika itu.

Di bawah kepemimpinan Tampubolon yang selalu titik perhatian PII adalah bagaimana agar para insinyur bisa berperan aktif dalam setiap proses pembangunan. Sehingga, meski kata “evaluasi” tidak begitu disukai oleh Presiden Suharto, namun setiap tahun PII selalu mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan.

Sebuah langkah maju pernah dilakukan PII, ketika di tahun 1977 mereka mengajukan sebuah konsep GBHN yang sudah lengkap dan matang untuk diperdebatkan di forum sidang umum majelis MPR. Tentang naskah GBHN itu, ungkap Tampubolon, “Jadi, hanya ada dua naskah, satu pemerintah, satunya lagi PII.” PII adalah salah satu organisasi profesi yang cukup disegani di era pembangunan. Bukan hanya tampil mengajukan konsep pemikiran membangun bangsa melalui sebuah naskah GBHN tadi, namun, berani pula bersikap berbeda terhadap pimpinan nasional.

Di tahun 1977 itu, kata Tampubolon, kepada Presiden Soeharto yang menerima mereka berdiskusi sejak pukul 10.00 pagi hingga 14.00 sore di Istana Negara, PII mengusulkan bahwa pembangunan itu haruslah seimbang. Antara pembangunan sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta pertahanan harus seimbang. “Boleh salah satu menonjol, tapi kalau sektor itu naik, semuanya juga harus naik. Tidak boleh timpang,” kata Tampubolon tanpa bermaksud mendikte Pak Harto, ketika itu.

Cucu Pendeta
Walau sebagai putra Batak, namun dia lahir di Padang, pada tanggal 14 Mei 1933 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Calvijn Bismarck (CB) Tampubolon gelar Ompu Boksa II (meninggal tahun 1989 dalam usia 91 tahun) dan ibunya, Agustina br. Pardede (meninggal setahun kemudian, tahun 1990 dalam usia 89 tahun), sudah lama merantau ke Padang menggeluti usaha perbengkelan mobil dan jual-beli kendaraan angkutan.

Keluarga CB Tampubolon oleh pemuka masyarakat setempat pernah diangkat menjadi Warga Kehormatan Kota Padang. Mereka sekeluarga pandai sekali berbahasa Padang dan menjadikannya bahasa ibu, jauh lebih mahir dibanding berbahasa Batak. Tampubolon meninggalkan kota Padang saat mulai kuliah di ITB Bandung, dan dalam masa perkuliahan itulah dia bertemu dan menikah dengan gadis muda nan cantik jelita yang sangat diidamkannya bernama Tiara br. Siregar, yang kini memberinya dua orang putra dan tiga putri serta sembilan orang cucu.

Kakeknya adalah pendeta, namanya Pendeta Mangaradja Enos Tampubolon. Jika ditarik ke atas lagi kakek buyutnya bernama Hiskia. Ayah Hiskia adalah Ompu Boksa, titisan nama inilah yang lalu dipakai ulang sebagai gelar kehormatan Ompu Boksa II bagi C.B. Tampubolon, ayahnya

Hiskia pernah berjasa besar menyelamatkan seorang misionaris asing bernama Tuan Pilgramm. Pilgramm, yang karena tugas panggilan penginjilan dia memberitakan kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus Tuhan ke Tanah Batak, yang saat itu dominan masih menganut paham animisme. Pilgramm lalu dicari-cari dan hendak dibunuh oleh Panglima Raja Sisingamangaradja XII, bernama Sarbut Tampubolon.

Tuan Pilgramm melarikan diri dan terdampar di sebuah tepian Danau Toba dekat desa Sibolahotang, sebuah desa kecil yang menjadi asal muasal marga Tampubolon. Mengetahui misionaris Jerman itu dalam keadaan bahaya Hiskia yang menemukan Pilgramm terdampar lemah lalu menawarkan jasa untuk menyembunyikan Tuan itu ke loteng rumah adat Batak tempat kediaman mereka sehari-hari.

Sang panglima, yang dalam setiap pertempuran selalu melakukan praktek bumi hangus yaitu setiap daerah yang ditaklukkan harus dibakar habis hingga hancur, mengetahui buruannya ada di daerah kampung asal dia sendiri yaitu desa Lumban Julu, Sibolahotang. Akhirnya dia mengurungkan niat mencari Tuan Pilgramm. Jadilah Tuan Pilgramm selamat untuk selanjutnya meneruskan kembali misi penginjilan di Tanah Batak hingga wafat dan dimakamkan di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.

Ingat pesan Bung Karno bahwa insinyur harus gemar mencipta, demikian pula Tampubolon dalam setiap langkah pengabdian terhadap bangsa dan negara yang sangat dicintainya. Dia, yang dalam usia muda 30-an tahun telah pernah dipercaya menjadi direksi PN Gaya Motor, sebuah perusahaan otomotif patungan antara pemerintah dan swasta, memang bukan menciptakan barang atau komoditi perdagangan sebagai hasil penelitian dan inovasi. Melainkan, sebagai teknokrat atau pemikir tidak pernah berhenti menggagas ide, pemikiran, dan jasa pengabdian sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, untuk tetap menjaga kiprahnya mengisi pembangunan selepas ketua umum dari PII di tahun 1985 Tampubolon bersama kawan-kawannya kembali membentuk sebuah organisasi profesi baru yang cakupannya lebih luas, yaitu Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI). Organisasi inilah yang di tahun 1999 menghantarkannya ke keanggotaan MPR RI mewakili utusan golongan para ahli teknik dari segala strata pendidikan dan keahlian yang jumlahnya sekitar 15,3 juta orang. Sebagai salah seorang pendiri dia terpilih pula sebagai Ketua Umum PATI, tahun 1985 hingga sekarang.

Hampir bersamaan waktunya di tahun 1985, masih bersama kawan-kawan diantaranya Prof. B.J. Habibie, Ir. Hartarto, Ir. Erna Witoelar, Ir. Humuntar Lumbangaol dan lain-lain dia mendirikan Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), sekaligus sebagai ketuanya hingga sekarang. YPTI adalah pemilik dan pengasuh Institut Teknologi Indoneisa (ITI), berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten. ITI adalah sebuah perguruan tinggi keteknikan swasta terkemuka dan modern di tanah air.

Perjuangan Tampubolon tergolong luar biasa saat mendirikan YPTI, bahkan, sebuah rumahnya di Jalan Sutan Syahrir, Menteng, Jakarta Pusat harus dia agunkan ke bank untuk menambah dana pendirian YPTI dan kampus ITI. Padahal dalam setiap berusaha, dia, adalah “haram” hukumnya meminjam dana ke bank sebab khawatir hidup tidak tenang sebab setiap bangun pagi yang pertama kali terpikir adalah hutang yang terus bertambah. Dia percaya bunyi firman Tuhan, “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada”.

Di kampus tersebut, peraih gelar doktor kehormatan honoris causa dari Perguruan Tinggi Heidelberg di tahun 1985 ini pernah diangkat sebagai Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985. Pelayanan membangun dunia pendidikan sebelumnya telah dia lakukan ketika menjadi Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, Jakarta, sejak tahun 1972 hingga sekarang.

Orang Dekat Habibie
Dia tidak pernah berhenti berkarya dan mencipta khususnya melahirkan ide-ide baru yang segar agar para insinyur dan ahli teknik tetap dapat berperan dalam arus perjalanan bangsa. Gagasan-gagasannya sebagai teknokrat keteknikan semakin memperoleh pembenaran sekaligus pengakuan dari semua pihak tatkala Ketetapan MPR menggariskan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan nasional. Demikian pula yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Sejak tahun 1998 hingga sekarang Tampubolon adalah pendiri sekaligus Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), sebuah institusi nirlaba yang secara khusus bekerja mengkaji dan mendalami pengembangan teknologi dan industri di tanah air.

Bersama kawan-kawan dia aktif menggelorakan betapa pentingnya peranan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan agar semua pihak bisa memanfaatkan kapabilitas teknologi untuk membantu menyelesaikan sebagian persoalan bangsa. Seperti, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran, dan memberi nilai tambah yang sangat signifikan dalam setiap proses produksi barang dan jasa supaya bernilai ekonomis. Dia kampanye menemui pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, pimpinan partai-partai politik berpengaruh, LSM dan organisasi profesi, termasuk institusi pers dan berbagai institusi lain untuk diseminasi informasi.

Keanggotaannya di MPR RI Periode 1999-2003 yang mewakili Utusan Golongan Ahli Teknik, dia manfaatkan pula untuk menggalang kekuatan para anggota majelis yang berprofesi insinyur dan ahli teknik dari lintas partai. Mereka lalu dimobilisasi untuk menunjukkan kepedulian dan keprihatinan atas semakin lemahnya kapabilitas teknologi di Indonesia. Mereka sepakat membentuk Komite Kerja Kaukus Teknologi sejak 2003, hingga sekarang. G.M. Tamnpubolon adalah Penasehat Fraksi Utusan Golongan MPR RI 1999-2004.

Organisasi profesi keteknikan dan lembaga legislatif adalah dua ladang pengabdian dia sebagai teknokrat. Dan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 1968 saat masih bernama DPR-GR dan MPRS. Keanggotaannya di DPR/MPR tidak pernah kosong hingga berakhir di tahun 1992. Di dua periode terakhir pengabdiannya itu dia dipercaya sebagai Ketua Komisi V DPR yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana pembangunan seperti transportasi, pelabuhan, telekomunikasi, energi, perumahan rakyat, pariwisata, pos, pekerjaan umum, dan lain-lain. Ketika itu nama dia cukup populer di kalangan masyarakat sebab sebagai Ketua Komisi V DPR kebijakan yang dia tetaskan sangat berpengaruh strategis terhadap kehidupan masyarakat.

Misalnya, ketika dia harus menolak atau menyetujui kenaikan tarif tol yang diajukan oleh Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto yang mengelola jalan tol Cawang-Grogol, lewat bendera usaha PT Citra Marga Nusaphala Persada di awal dekade 1990-an. Rakyat dan lembaga swadaya masyarakat tentu saja menolak usul kenaikan tarif sehingga muncul polemik luas dan berkepanjangan di media massa.

Tampubolon baru masuk kembali ke gelanggang Senayan sebagai Utusan Golongan di MPR sejak tahun 1999 hingga 2004. Setelah tidak terpilih kembali menjadi anggota DPR RI di tahun 1993, oleh Pemerintah dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI di bawah kepemimpinan Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Pangkopkamtib dan Menko Polkam. Namun justru di masa keanggotaan DPA itulah segala kiprah, jasa dan pengabdiannya sebagai teknokrat di bidang keteknikan secara resmi diakui pantas untuk dihargai.

Penghargaan itu pertama kali dia rasakan tahun 1995 saat memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/Tahun 1985 dari Pemerintah RI, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Selempang penghargaan itu disematkan langsung oleh sahabatnya Menristek Prof. B.J. Habibie, dalam sebuah upacara peringatan Hari Kemerdekaan R.I di halaman upacara Kantor Menristek, Jakarta.

Antara B.J. Habibie dan G.M. Tampubolon terdapat sebuah hubungan persahabatan yang sangat dalam, sebagai sesama anak bangsa yang menggeluti bidang keteknikan. Bukan hanya keduanya terlibat di berbagai institusi yang dibangun bersama-sama, seperti di Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI) yang mendirikan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI), sebuah perguruan tinggi keteknikan terlengkap dan termodern di Indonesia yang dibangun persis berdekatan dengan Puspiptek Serpong.

Keduanya sudah saling menopang sejak dari institusi PII hingga ke PATI. Terlebih di awal-awal kedatangan Habibie dari Jerman dan mulai dipercaya sebagai Menteri Negara Ristek di tahun 1978, Habibie banyak memperoleh dukungan dari kalangan insinyur yang bergabung di PII. PII menjadi basis dukungan massa yang dimobilisasi untuk menjalankan program-program Habibie membangun industri-industri strategis di Indonesia. Dan G.M. Tampubolon ada di belakang layar itu semua.

Bahkan ketika tampil sebagai Ketua Umum ICMI sekalipun, seperti pengakuan Ir. Tadjudin Noor Said, seorang politisi kawakan sekaligus vokalis dari Golkar asal Sulawesi Selatan, kini menjadi Anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), menyebutkan, praktis hanya G.M. Tampubolon satu-satunya warga bangsa non ICMI yang masih tetap bisa berdekatan dengan B.J. Habibie ketika itu.

Bukti lain kedekatan mereka adalah, ketika tampil sebagai Presiden R.I ketiga menggantikan Pak Harto, Habibie membentuk sebuah institusi baru di lingkungan kepresidenan yaitu Penasehat Presiden R.I Bidang Keteknikan. Dan sudah pasti adalah G.M. Tampubolon satu-satunya nama yang dipercaya menduduki jabatan tersebut.

Hubungan keduanya tidak putus kendati Habibie sudah bukan lagi presiden, lalu memilih tinggal menetap di Jerman. Sebab, jika setiap kali menginjakkan kaki di Indonesia keduanya pasti akan berkangen-kangenan. Menjelang Pemilu 2004 saat Habibie mulai lebih sering bermukim di Indonesia dan menemui tokoh-tokoh partai politik dan calon-calon pemimpin bangsa, pertemanan dan pertemuan mereka juga semakin erat dan intens.

Habibie, yang menyatakan diri kembali bersedia memimpin Republik Indonesia jika diminta oleh rakyat dan istrinya yang masih terbaring sakit di Jerman bisa sembuh total, barangkali, patut menjagokan tokoh pemikir kawakan G.M. Tampubolon sebagai tim sukses kampanye kepresidenan agar kejadian di tahun 1999 tidak terulang dimana Habibie memperoleh resistensi tinggi dari kalangan masyarakat.

Berselang dua tahun setelah menerima selempang Bintang Jasa Utama, di tahun 1997 G.M. Tampubolon akhirnya memperoleh penghargaan tertinggi sebagai putra terbaik bangsa, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1987. Kali itu disematkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta.

Apakah Tampubolon berhenti menggagas ide setelah menjadi mahaputra terbaik bangsa dan usianya sudah memasuki masa awal anugerah 70 tahun lebih, jawabannya tidak. Energinya tetap terjaga selalu meningkat dan semakin membara. Tantangan yang dia hadapi masih banyak. Misalnya, bagaimana mengamankan kelanjutan kerjasama bisnisnya dengan mitra asing yang telah puluhan tahun dibangun dengan baik.

Dengan bendera GMT Group di tangan, dia bekerjasama dengan Shimizu Corp. sebuah kontraktor multinasional asal Jepang untuk membentuk PT Dextam Contractor. Dextam adalah perusahaan kontraktor yang sudah menorehkan banyak catatan emas membangun gedung-gedung bertingkat di Jakarta.

Demikian pula dengan Kinden Corp. dari Jepang, sejak 12 September 1974 dia membentuk PT Rakintam sebagai perusahaan kontraktor mekanikal dan elektrikal. Di perusahaan penangkapan ikan PT Toyo Fishing Corp. (Tofico) berbasis di Indonesia Bagian Timur dia bermitra dengan Seven Ocean Corp. dari Jepang.

Karena kerjasama itu rata-rata dibangun di tahun 1974 dan berjangka 30 tahun, maka, tahun 2004 adalah masa-masa penting bagi Tampubolon untuk meyakinkan mitra asingnya bahwa melanjutkan usaha patungan di Indonesia masih tetap sangat prospektif.

Dari sebuah gedung GMT Building miliknya di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, dia sehari-hari mengendalikan grup usahanya bernama GMT Group. Perusahaan yang masuk dalam grup itu, selain yang sudah disebut di atas antara lain adalah PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT), PT Godi Maran Tiara, PT Gofri Megah Tiara, PT Kujang Tiara Lapi, PT Inti Era Cipta, PT Dharma Yasamas Teknindo, PT Rakintam Nusa, PT Asianenco Consult, dan lain-lain.

Di kantor GMT Building itu pula dia setiap hari Jumat berkumpul bersama puluhan karyawannya yang kristiani, berikut istri anak dan anggota keluarga dekat lainnya. Mereka melakukan ibadah kebaktian rutin Jumat siang untuk menghimpun kekuatan energi mengucap puji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa yang selalu memberinya pertolongan, perlindungan, dan penghiburan sekaligus berkat-berkat berlimpah yang tiada tara. Kekuatan Tuhan itulah yang mampu menopang dia tetap bertahan di tengah gelombang arus perubahan zaman. Baik sebagai teknokrat, politisi, pengusaha, dan pelayan masyarakat luas.

Tampubolon tetap berkarya di semua zaman kepresidenan. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur sahabatnya sebagai sesama anggota Fraksi Utusan Golongan MPR sebelum terpilih menjadi presiden. Dan kini Megawati. Pada masanya Tampubolon malah dijuluki sebagai king maker di kalangan insinyur dan ahli teknik. Sebutan itu malah menjurus ke arah sebagai master mind dalam setiap mutasi dan promosi seseorang untuk menempati posisi dan jabatan tertentu di pemerintahan atau direksi di BUMN yang dia bidangi. Connection yang dia bangun di antara sesama kolega memang solid.

About these ads

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) adalah seorang jurnalis. Saat ini Redaktur Pelaksana di tabloid REFORMATA. Telah terlibat menulis delapan (8) buku: Judul: (1) "Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal" (2) Sang Apostel Batak, Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen (3) Menyebarkan Virus Etos. (4) PAMIMPIN Nama Pemberian Tuhan (Biografi Edwin Pamimpin Situmorang, S.H, M.H, Jaksa Agung Muda Intelijen 2010-2012). Selain itu, dia juga penyumbang beberapa tulisan di buku diantaranya: buku (5) Ir Leo Nababan "Mahasiswa Pejuang, Pejuang Mahasiswa", buku (6) Si Murai dan Orang Gila. Editor buku (7) Sian Tano Parserahan Tu Bagas Parsadaan. (8) Editor buku "Karyaku Dicatat Sorga: Biografi Pdt Ev Renatus Siburian." Dan, beberapa buku akan terbit dalam waktu dekat. Mendirikan situs ini sejak Tahun 2008. Sebelumnya dimulai dari mengkliping profil-profil Tokoh Batak. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia kini bergelut di dunia penulisan biografi, siap dikontak. Pendiri CV Halibutongan Publishing, penerbit buku ini, bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau E_mail: astephen.hojotmarluga@gmail.com. E_mail: hojotmarluga78@gmail.com. Facebook: Hojot Marluga. Twitter: HojotMarluga2.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Pionir. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s