Prof. DR. Drs. Laurence A. Manullang


laurence_manullang
Teori Akuntansi dengan Pendekatan Peristiwa (Event Approach)
(Kasus Pengungkapan Korupsi)

Oleh:

Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang, MM, SE

Pidato Pengukuhan Guru Besar
Dalam Ilmu Akuntansi
Dalam Sidang Terbuka
Senat Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi IBEK

Kamis, 17 November 2005

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI IBEK

Jakarta @2005

Sidang Senat STIE–IBEK yang saya hormati, para dosen, alumni association, seluruh civitas akademia STIE–IBEK, para tamu, keluarga dan rekan-rekan saya dan para hadirin yang berbahagia.
Marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih oleh karena rahmat anugerahnyalah kita bisa melaksanakan kegiatan yang mulia pada hari ini.
Sidang Senat yang saya hormati,
Ijinkanlah saya memulai pidato ini dengan membacakan kutipan kata-kata mutiara dari seseorang yang penuh arif dan bijaksana, dimana kearifannya tersohor kemana-mana, dan semua teman dan musuhnya sangat mengaguminya yaitu Raja Salomo yang juga dikenal Nabi Sulaiman.
Seperti tertulis dalam Amsal 3:13 – 18:
(13) Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, (14) karena keuntungannya melebihi keuntungan perak dan hasilnya melebihi emas, (15) ia lebih berharga daripada permata; apapun yang dia inginkan, tidak dapat menyamainya, (16) umur panjang ada ditangan kanannya, ditangan kirinya kekayaan dan kehormatan, (17) jalannya adalah jalan penuh bahagia segala jalannya sejahtera semata-mata, (18) ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang akan disebut berbahagia.
Sidang senat yang saya hormati.
Adapun judul pidato pengukuhan yang saya pilih adalah:

Teori Akuntansi Dengan Pendekatan Peristiwa (Event Approach) – Case Study: Peristiwa Pengungkapan Korupsi KPU oleh KPK

Saya berangkat dari pendekatan dari proses pembentukan teori, pengembangan nalar, pergeseran pradigma, beberapa pendekatan yang telah baku dilakukan pada Teori Akuntansi dan alur pikir sampai pada kesimpulan rekomendasi dan saran.

1. Pendahuluan

Teori Akuntansi dapat didefinisikan sebagai seperangkat koherent prinsip-prinsip yang hipotesis, konseptual dan pragmatis yang membentuk suatu kerangka umum untuk menyelidiki sifat akuntansi (Webster:1961).
Pembentukan suatu teori umumnya berawal dari fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia. Fenomena yang menimbulkan suatu pertanyaan yang membutuhkan jawaban.
Lima pertanyaan dasar dirumuskan menjadi beberapa dimensi, yaitu (a) Dimensi ontologis pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui (knowable), atau apa sebenarnya hakikat dari suatu realitas (reality). Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata (what is nature of reality?). (b) Dimensi epistemologis oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dan object yang ditemukan (know atau knowable?). (c) Dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran-peran nilai-nilai dalam suatu kegiatan penelitian, (d) Dimensi retorika yang dipermasalahkan adalah bahasa yang digunakan dalam penelitian, (e) Dimensi metodologis, seorang ilmuwan harus menjawab pertanyaan: bagaimana cara atau metodologi yang dipakai seseorang dalam menemukan kebenaran? Jawaban terhadap kelima dimensi pertanyaan ini, akan menemukan posisi pradigma ilmu untuk menentukan paradigma apa yang akan dikembangkan seseorang dalam kegiatan keilmuan (Muh. Muslih:2004.93).
Teori harus diekspresikan dalam bentuk bahasa yang baik yang bersifat verbal dan matematis. Teori yang dapat dinyatakan dalam bentuk kata dan simbol, yang disebut dalam filsafat pengetahuan dengan istilah semiology. Semiology terdiri dari 3 unsur teori yaitu (a) Sintektik: Studi tentang tata bahasa atau hubungan antar simbol dengan simbol, (b) Semantik: menunjukkan makna atau hubungan antara kata, tanda atau simbol dengan objek yang ada didunia nyata. Kebenaran nilai atau keakuratan semantik suatu pernyataan ditentukan oleh keakuratan, deskriptif yang ada di dunia nyata. (c) Pragmatis: Hubungan pragmatis menunjukkan pengaruh kata-kata atau simbol terhadap seseorang. Dalam kaitannya dengan akuntansi, aspek pragmatis berkaitan dengan bagaimana konsep dan praktik akuntansi mempengaruhi perilaku seseorang (Anis Chariri, Imam Ghozali:2001:27-29).
Sebagai bahasa komunikasi, Teori Akuntansi telah didefinisikan oleh AICPA (1953) sebagai: Seni (art), mencetak, mengklarifikasikan dan meringkas transaksi atau peristiwa yang dilakukan sedemikian rupa dalam bentuk uang, atau paling sedikit tidak memiliki sifat keuangan dan menginterpretasikan hasilnya.
Penekanan definisi ini adalah pada art bukan sebagai body of knowledge, dalam artian bukan ilmu pengetahuan murni (science).
Kemudian AICPA (1966) mendefinisikan akuntansi itu sebagai: Proses mengidentifikasi, mengukur dan mengkomunikasikan informasi untuk membantu pemakai dalam membuat keputusan atau pertimbangan yang benar.
Definisi diatas menunjukkan bahwa akuntansi merupakan media/alat yang dapat digunakan sebagai informasi pada pemakai. Selanjutnya APB statement No. 4 (1970) menyatakan bahwa: Akuntansi adalah kegiatan jasa. Fungsinya adalah memberikan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas ekonomi, yang diharapkan bermanfaat bagi pengambilan keputusan ekonomi. Teori itu terus dievaluasi dengan menggunakan daya nalar yang berkembang.
Perumusan teori akuntansi timbul karena adanya kebutuhan untuk memberikan logika penalaran tentang apa yang dilakukan oleh akuntansi dan apa yang akan dilakukan oleh Akuntansi.
Kemudian Hendriksen (1982) menawarkan rumusan teori akuntansi sebagai suatu penalaran logis dalam bentuk seperangkat prinsip-prinsip yang saling terkait (coherent) yang bersifat hipotesis, konseptual dan pragmatis yang membentuk kerangka referensi umum, untuk mengevaluasi praktik akuntansi dan memberikan pedoman dalam mengembangkan praktik dan prosedur akuntansi yang baru.
Berbeda dengan ilmu pasti (natural science) dimana teori dikembangkan dari hasil observasi empiris, akuntansi cenderung dikembangkan atas dasar pertimbangan nilai (value judgement) yang dipengaruhi oleh lingkungan tempat akuntansi diaplikasikan.
Berdasarkan pada kecenderungan ini Chambers (1994:7) berpendapat bahwa akuntansi dikembangkan dari modul spesifik bukannya dikembangkan secara sistematik dari teori yang terstruktur. Selanjutnya Chambers mengemukakan: Akuntansi telah digambarkan sebagai a body of practice yang dikembangkan sebagai tanggapan terhadap kebutuhan praktik bukannya dikembangkan dari pemikiran yang sistematik dan terencana.
Teori akuntansi telah dikembangkan namun tidak satupun dari teori-teori tersebut yang mampu secara tuntas dan menyeluruh tentang apa yang dinamakan teori akuntansi. Belkaoui (1993:56) mengatakan: bahwa sampai saat ini tidak ada teori akuntansi yang bersifat komprehensif. Teori yang sekarang muncul dari pemakaian pendekatan yang berbeda, bukannya dihasilkan dari satu teori tunggal yang komprehensif.
Seperti Komite American Accounting Association (AAA,1977:1-2) telah mengadakan konfirmasi mengenai pendapat ini, dengan menandaskan tidak ada teori akuntansi tunggal yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan pemakai. Yang ada dalam literatur akuntansi keuangan bukanlah teori akuntansi, tetapi koleksi teori yang digambarkan sesuai dengan perbedaan pemakainya.

2. Perumusan Teori Akuntansi
Teori akuntansi ini dapat dirumuskan berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Sofyan S. Harahap (2001:116) telah mengembangkan penjelasan Belkaoui tentang perumusan teori akuntansi dengan dibagi dalam 2 (dua/segmentasi yaitu Pendekatan Informal dan Pendekatan Teoritis).
A. Pendekatan Informal. 1) Pragmatis, Praktis dan non teoritis, 2) Otoriter.
B. Pendekatan Teoritis, terdiri dari: 1) Deduktif, 2) Induktif, 3) Etika, 4) Sosiologis, 5) Ekonomi, 6) Eklektik

Ad.A. 1). Pendekatan non-teoritis.
Menurut pendekatan ini prinsip akuntansi yang dipakai adalah didasarkan pada kegunaannya bagi para pemakai laporan keuangan dan relevansinya dengan proses pengambilan keputusan. 2) Pendekatan Otoriter. Perumusan teori akuntansi adalah organisasi profesi yang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengatur praktik akuntansi.

Ad.B. 1). Deduktif
Langkah yang digunakan dalam merumuskan teori akuntansi, adalah:
1) Menentukan tujuan pelaporan keuangan. 2) Memilih postulate akuntansi sesuai dengan kondisi ekonomi, praktik dan sosiologi. 3) Menentukan prinsip akuntansi. 4) Mengembangkan teori akuntansi.
Keuntungan pendekatan deduktif adalah kemampuan untuk merumuskan struktur teori yang konsisten, terkoordinasi, lengkap dan setiap tahapan berjalan secara logis. Jika dalam pengujian teori ini diterima dalam praktik, maka teori itu verified, dan jika tidak diterima disebut fasified. Model yang dihasilkan dari pendekatan deduktif dapat digunakan sebagai standart dalam mengevaluasi induktif berbagai praktik akuntansi (Salomouson:1969).

2). Induktif: Proses penalaran yang menggunakan pendekatan induktif didasarkan pada konklusi yang digeneralisasikan berdasarkan hasil observasi dan pengukuran yang terinci. a) Mengumpulkan semua observasi. b) Analisis dan golongan informasi berdasarkan hubungan yang berulang-ulang dan sejenis, seragam, mirip. c) Ditarik kesimpulan umum dan prinsip akuntansi yang menggambarkan hubungan yang berulang-ulang tadi. d) Kesimpulan umum diuji kebenarannya.
Beberapa pemikiran berkembang seperti Moonitz (1961) menyatakan bahwa observasi terhadap data akuntansi kelihatannya lebih tepat dengan menggunakan induktif. Schrader (1962:645) mendukung gagasan itu dengan statement bahwa perumusan teori akuntansi dapat dilakukan secara induktif dengan cara mengobservasi dalam keuangan yang dihasilkan dari transaksi bisnis. Littleton (1953) menyatakan bahwa prinsip akuntansi dapat dihasilkan secara induktif dengan melakukan pengujian empiris terhadap kegiatan akuntansi.
3). Pendekatan Etika. Pendekatan etika didasarkan pada konsep kebenaran (truth), keadilan (justice) dan kewajaran (fairness). Disajikan kebenaran dalam arti laporan yang benar dan akurat tanpa mengundang salah tafsir dan kewajaran dalam arti penyajiannya wajar, tidak bias dan tidak sebagian-sebagian. 4). Pendekatan Sosiologi: Socio responsibility accounting yang dicoba untuk dikembangkan, bertujuan untuk mendorong perusahaan akuntabel kegiatan usahanya pada lingkungan sosial melalui pengukuran, interudiksi dan pengungkapan dampak sosial dari kegiatan perusahaan dalam laporan keuangan.
5). Pendekatan Ekonomi: a) Teknik dan kebijaksanaan akuntansi harus dapat menggambarkan realitas ekonomi. b) Pilihan terhadap teknik akuntansi harus tergantung pada konsekuensi ekonomis.
6). Pendekatan Eklektik. Jika dalam perumusan teori akuntansi digunakan tidak hanya suatu pengetahuan, tetapi berbagai kombinasi pendekatan maka disebut eklektik. Pengetahuan mampu dikembangkan manusia disebabkan dua hal yakni pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatar belakangi informasi tersebut. Sebab kedua, adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu secara garis besar cara berpikir seperti itu disebut penalaran (reasoning power).
Penalaran adalah merupakan suatu proses berpikir dalam menarik satu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika. Ciri yang kedua dari penalaran adalah sifat analitik dari proses berfikirnya. Disamping itu masih ada ciri lain manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan Jakni; wahyu (Yujun S. Sumantri:2005:40-41).
Seiring dengan proses peradaban global yang mengalami 4 era, yaitu gelombang I dikenal sebagai era agriculture dimana Alvin Toffler menyebut gelombang ini merupakan peradaban global dan merupakan langkah signifikan dalam penanjakan perkembangan manusia serta bagian dari revolusi biologis, disusul oleh gelombang II yaitu era industri ditandai oleh konsep waktu yang tegas yang menuntut produktifitas yang efisien, era ke-3 (gelombang 3) disebut juga sebagai era informatika ditandai dengan ketelitian serta kecermatan dan dibarengi kecenderungan materialistis, persaingan yang kurang sehat karena berambisi saling menaklukkan. Namun dalam era ke-4 (gelombang ke-4) yaitu respritualisasi masyarakat yang mengedepankan pentingnya refleksi batin yang mendalam (a deep inner reflection) dan sering dibarengi oleh cooperation, dan competition tidak lagi mentoleransikan keserakahan (greedness) (Meyerand et. al. 1997), ternyata wawasan pemikiran berubah, bukan rasio dan logika saja yang menjadi landasan intelektual, melainkan juga inspirasi, kreativitas, moral, instituism (C. Semiawan. et. al. 2005), dan juga needs (kebutuhan)–(Manullang–2005).
Selaras dengan perkembangan era atau gelombang ini, teori akuntansi mengalami gelombang sesuai dengan needs dengan munculnya, a) Teori Pemilikan, menfokuskan analisa kekayaan neto pemilik, dengan rumus persamaan:
Asset (A) – Liabilities (L) = Equity (E).
Aktiva dinilai dan neraca disusun agar dapat mengukur perubahan hak milik dan kekayaan. Teori ini mengantar pada suatu kesimpulan apakah badan usaha itu memiliki Asset lebih dari Liabilities (negative asset). b) Teori Kesatuan, melihat bukan pemilik yang menjadi pusat perhatian tetapi satuan usahalah yang menjadi fokus konsentrasi, dengan persamaan:
A = L + E
Ini adalah yang diterapkan dalam konglomerasi Indonesia pada saat-saat awan kelabu membayangi perekonomian Indonesia. Sebab dibandingkan dengan teori pemilikan A – L = E, dapat dilihat perbedaan antara bumi dan langit.
Sebagai contoh: Konglomerasi memiliki Asset+Rp.100 m, dan Liabilities–Rp.200 m, maka Equitynya menjadi negatif Rp.100,- Bila dikembangkan pada kedua persamaan diatas, akan terlihat sbb:
I : A – L = E II : A = L + E
100 – 200 = -100 100 = 200 – 100
Dari persamaan diatas berdasarkan teori kepemilikan, maka konglomerasi itu sudah berada dalam posisi bangkrut, dan sebaiknya dibubarkan saja, sebab Equitynya cerminan milik bersih badan usaha itu menunjuk negatif Rp.100 m. Sebaliknya dengan memiliki teori kesatuan, fokus perhatian ditujukan pada Asset. Konglomerasi itu memiliki Asset Rp.100 m, tatkala badan usaha itu memohon suntikan dana dari bank, bank melihat wajar diberikan suntikan dana.
Pemilihan kedua teori ini mana yang akan diterapkan akan menghasilkan keputusan yang berbeda karena memakai map yang berbeda. Konglomerat hitam berkolaborasi dengan pihak bank dan kekuasaan menggunakan teori Kesatuan yang menjadi cikal bakal kehancuran sistim perbankan nasional. c) Teori dana: Dasar akuntansi bukanlah pemilik atau, satuan tetapi sekelompok Asset dan kewajiban-kewajiban yang bersangkutan serta batas-batasan yang mengatur pemakaian aktivalah yang menjadi dasar akuntansi.
Seperti Achmed Belkaoui, Terjemahan Erwan Dukat, dkk (1986) merumuskan teori dana mengatakan setiap dana yang berimbang menyebabkan pemisahan laporannya melalui pemisahan sistem akuntansi. Artinya jumlah dana yang dipergunakan oleh setiap lembaga yang bertujuan tidak untuk keuntungan akan tergantung kepada jumlah dan bentuk aktivitasnya sedang penggunaan aktiva yang dipercayakan kepadanya akan dibatasi oleh peraturan hukum.
Delapan macam dana (account) disarankan untuk ditetapkan pada pemerintahan yaitu:
(1). The General Fund, mengakun seluruh transaksi keuangan yang tidak tepat kalau di akun dengan dana yang lain. (2) Special Revenue Fund, mengakun hasil sumber penghasilan khusus (selain dari pembebanan khusus) atau membiayai aktivitas khusus sebagaimana yang dipersyaratkan hukum atau aturan administratif. (3) Debt Service Fund, mengakun pembayaran bunga dan pelunasan pokok pinjaman hutang jangka panjang selain pembebanan khusus dan obligasi berpenghasilan. (4). Capital Project Fund, mengakun penerimaan dan pengeluaran uang yang dipergunakan untuk pemberian fasilitas modal selain dari yang dibiayai oleh pembebanan khusus dan enterprise funds. (5), Enterprise Funds, mengakun pembiayaan pelayanan masyarakat umum yang seluruhnya atau sebagian terbesar dari biaya yang bersangkutan dibayar dalam bentuk beban-beban oleh para pemakai pelayanan tersebut. (6) Trust and Agency Funds, mengakun aktiva yang ditahan oleh suatu satuan pemerintah sebagai wali atau agen bagi perseorangan, organisasi swasta, dan satuan pemerintah lainnya. (7) Intragovernmental Service Funds, mengakun pembiayaan aktifitas khusus dan pelayanan khusus yang dilaksanakan oleh suatu satuan organisasi yang ditunjuk didalam daerah kekuasaan hukum suatu pemerintah bagi satuan organisasi lain yang masih berada dalam daerah kekuasaan hukum pemerintah yang sama. (8) Special Assessment Fund, mengakun pembebanan-pembebanan khusus yang dipungut untuk membiayai pelayanan umum atau perbaikan umum yang dipertimbangkan bermanfaat bagi kekayaan yang dipungut beban. (Belkaoui:1986)

Sifat-sifat Akuntansi

Teori Akuntansi ini yang rentan pada akomodasi dari multi lingkungan strategis, tetapi lembaga profesi telah berhasil untuk menformulasikan sifat-sifat dasar akuntansi itu, baik sebagai teori mampu–applikasinya, yaitu:
(1). Conservatism. Karena lingkungan mengandung aspek ketidakpastian (uncertainty), maka pencatatan transaksi dipilih angka yang paling rendah. Misalnya pendapatan belum bisa dicatat sebagai pendapatan apabila belum direalisasikan walaupun sudah ada gambaran yang mengandung kepastian bahwa bakal terjadi pendapatan, sedang biaya dapat dicatat sebagai biaya walaupun belum direlasir. (2) Measurement. Harus dapat diukur, dan alat pengukurnya jelas. (3) Verifiability. Harus dapat ditelusuri dan diuji sampai ke bukti-bukti pendukung dan sah. (4) Timeliness. Laporan keuangan harus bisa menyuguhkan period dan cut off date. (5) Consistency. Sistem dan metode yang digunakan harus konsisten dari waktu ke waktu. (6) Going concern. Memahami laporan akuntansi itu harus dengan asumsi bahwa entity akan terus beroperasi dengan berkesinambungan. (7) Materiality. Laporan keuangan hanya memuat informasi yang dianggap penting dan signifikan. (8) Netral. Akuntansi itu tidak memihak kecuali pada prinsip akuntansi sendiri. (9) Relevance. Relevan yang memiliki nilai prediktif. (10). Reliability. Dapat dipercaya kebenarannya. (11) Comparability. Dapat dibandingkan. (12) Predictivity. Dapat digunakan untuk meramalkan dan mengakomodasi trend yang bakal terjadi berdasarkan pengembangan asumsi-asumsi yang dapat dikembangkan oleh nalar dan analitikal, serta berdasarkan logika yang rationalistis.

FASB telah membangun pohon hierarchi, sbb:

OBJECTIVES
Provide information
1.Useful in investment
and credit decisions
2.Useful in assessing
future cash flows
3.About enterprise resources,
to resources, and changes
in them

QUALITATIVE
CHARACTERISTICS ELEMENTS
1.Primary qualities
A.Relevance 1.Assets
1.Productive value 2.Liabilities
2.Productive value 3.Equity
3.Timeliness 4.Investment by Owners
B.Reliability 5.Distribution to Owners
1. Verifiability 6.Comprehensive Income
2. Neutrality 7.Revenues
2.Secondary 8.Expenses
qualities 9.Gains
A.Comparability 10.Losses
B.Consistency

ASSUMPTIONS PRINCIPLES COSTRAINTS THIRD
1.Economic Entitiy 1.Historical cost 1.Cost-benefit LEVEL
2.Going concern 2.Revenue recognition 2.Materiality
3.Monetary unit 3.Matching 3.Industry practice
4.Periodicity 4.Full disclosure 4.Conservatism

Hierarchi Accounting Konseptual and Frame. FASB

Pendekatan Peristiwa
1. Alur Pikir
Pendekatan demi pendekatan telah diuraikan diatas dan tercantum dalam semua buku-buku teori akuntansi secara universal. Namun, sebuah pendekatan yang dapat dimasukkan menambah pendekatan yang diatas ialah pendekatan peristiwa (event approach). Beberapa literatur telah diterbitkan dengan judul Event Approach, tapi belum dimasukkan pendekatan peristiwa tersebut secara baku dalam teori akuntansi.
Dalam pidato pengukuhan ini, sorotan akan lebih dipertajam tentang pendekatan ini sebagai kontribusi ilmiah pada teori akuntansi. Adapun yang mengilhami pemikiran ini adalah pendapat Gulielmo Ferrero yang menyatakan:
“Teori yang memberi nilai dan signifikansi pada fakta-fakta, seringkali sangat bermanfaat sekalipun jika sebagian teori itu salah, karena teori itu menyoroti fenomena yang belum pernah diamati siapapun, teori ini mendorong dilakukannya pemeriksaan, baik sudut, atas faktor-faktor yang belum pernah diteliti atau dikembangkan lebih meluas oleh siapapun sampai sekarang ini, dan teori itu menumbuhkan minat untuk melakukan riset-riset yang lebih ekstensif dan lebih produktif”. (Gulielmo Ferrero:1956)
Struktur pengetahuan ilmiah

Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal diakui sebagai pernyataan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada. Sekiranya pengetahuan ilmiah itu kemudian dinyatakan salah oleh kelengahan dalam perjalanan prosesnya, maka pengetahuan itu akan sendirinya tersesat.
Tidaklah benar asumsi bahwa ilmu hanya dikembangkan oleh innovator yang genius seperti Einstein, Newton, dll, akan tetapi ilmu itu adalah secara kuantitatif dikembangkan oleh masyarakat.
Pengetahuan ilmiah itu pada dasarnya mempunyai 3 fungsi yaitu, Tantum, Possumus, Quantum Scimus (Francis Bacon) yaitu menjelaskan, meramalkan dan mengontrol.
Secara garis besar terdapat empat jenis pola penjelasan tentang ilmu yaitu: 1) Deduktif, 2) Probabilistik, 3) Fungsional atau Teologis dan 4) Genetik (Nagel:1961:20–26). Penjelasan deduktif mempergunakan cara berfikir deduktif dalam menjelaskan suatu gejala dengan menarik kesimpulan secara logis dari premis-premis yang telah ditetapkan sebelumnya, probabilistik merupakan penjelasan yang ditarik secara induktif dari sejumlah kasus yang dengan demikian tidak memberikan kepastian seperti penjelasan deduktif melainkan penjelasan yang bersifat seperti “kemungkinan”, kemungkinan besar atau “hampir” dapat dipastikan, sedangkan fungsional atau teleologis merupakan penjelasan yang meletakkan sebuah unsur dalam kaitannya dengan sistem secara keseluruhan yang mempunyai karakteristik atau arah perkembangan tertentu, sedang genetik mempergunakan faktor-faktor yang timbul sebelumnya dalam menjelaskan gejala yang muncul kemudian (Suriasumantri:2005). Kemudian untuk dapat melakukan kegiatan berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika, matematika dan statistika.
Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dimana bahasa merupakan alat berpikir dan alat komunikasi untuk menyampaikan jalan pikiran tersebut pada orang lain. Dilihat dari pola berpikirnya maka ilmu merupakan antara berpikir deduktif dan berpikir induktif. Untuk itu maka penalaran ilmiah menyadarkan diri kepada proses logika deduktif dan logika induktif. Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang-lambang matematika bersifat artifisial dan baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Tanpa itu, maka matematika hanya merupakan kesimpulan rumus yang mati (North). Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif.
Para pelopor statistika telah mengembangkan theory of error (Abraham Demoivra) dimana konsep sering dikaitkan dengan distribusi variable yang ditelaah dalam suatu populasi tertentu. Teknik kuadrat terkecil (least squares) simpangan baku, standard error of the mean dikembangkan Karl Friedrich Gaus (1777–1855), dan Ronald Plylmer Fisher (1880–1962) disamping analysis variance dan covariant, distribusi z, distribusi t, uji signifikan dan theory of estimation. Penelitian ilmiah, baik yang berupa survei maupun experimen, dilakukan dengan cermat dan teliti.
Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat faktual, dimana konsekuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan panca indera, maupun dengan menggunakan alat-alat membantu panca indera tersebut (Kneller:1964). Pengujian secara empiris merupakan salah satu mata rantai dalam metode ilmiah yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Pengujian mengharuskan kita menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individual. Kesimpulan mana berdasarkan logika induktif. Dipihak lain maka penyusunan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan pula yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan menggunakan deduksi. Kedua penarikan itu tidak bisa dicampur adukkan. Logika deduktif berpaling pada matematika, sedang logika induktif berpaling kepada statistika. (Suriasumantri:2005)
Para pengamat mengedepankan argumentasinya berdasarkan pengamatannya, seperti: Logika induktif dibenarkan oleh (Chalmers:1978), sedang Karl Popper tidak puas lalu memperkenalkan Falsificationism yang menyatakan bahwa tujuan penelitian ilmiah adalah membuktikan kesalahan (falsify) hipotesis, bukannya membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Selanjutnya Thomas Kuhn (1972) yang terkenal dengan pradigma dan revolusinya, menyatakan bahwa kemajuan pengetahuan bukan merupakan hasil evolusi seperti dianut oleh induktivisme dan falsifikasinisme. Kemajuan pengetahuan adalah merupakan hasil revolusi. Teori ini dapat diganti dengan teori lain yang tidak cocok dengan teori tersebut. Kemajuan pengetahuan merupakan kemajuan-kemajuan yang berakhir terbuka (open-ended progress).
Didalam akuntansi revolusi Kuhn hanya digunakan sebagai metode scientific dalam proyek riset. Wells (1976), Belkaoui (1981,1985) telah menggunakannya menggambarkan bahwa akuntansi sebagai multi-paradigm science. Namun banyak peneliti menganggap inducitivist interpretation merupakan filsafat ilmu yang relevan untuk akuntansi, karena peneliti merumuskan hipotesis dan berusaha membuktikan kebenaran hipotesis tersebut.
Argumentasi terbuka makin berkembang, sampai Wells (1976) dan Flamholtz (1979) berpendapat bahwa revolusi Kuhn sangat relevan untuk digunakan dalam memahami perkembangan akuntansi saat ini. Sebab Kuhn menyatakan bahwa revolusi science terjadi dalam lima tahap, yaitu: (1) Akumulasi anomali, (2) Periode krisis, (3) Perkembangan dan perdebatan alternatif ide, (4) Identifikasi alternatif dari pelbagai pandangan, (5) Pradigma baru yang mendunia.

Pendekatan Peristiwa (Event Approach)
2. Analisis
A) Yang dimaksud dengan pendekatan peristiwa (event approach) adalah untaian kejadian yang diumumkan (published) terexpose secara nasional.
Pengujian pengendalian yang menguji apakah kejadian dipublikasikan berpengaruh signifikan terhadap peranan akuntansi dalam segmentasi pengendalian dan pemeriksaan. Sama halnya pengujian terhadap informasi untuk menguji pasar modal dalam bentuk setengah kuat, apakah berpengaruh signifikan terhadap harga saham.
Seperti Timbul tahun 2004 telah berhasil mengadakan penelitian dan merampungkannya dalam format disertasi tentang Efisiensi Pasar Modal Indonesia Menggunakan Pendekatan Multi-Event Sosial, Politik & Ekonomi. Timbul menganalisa 51 peristiwa terdiri dari 28 peristiwa sosial politik, 6 peristiwa itu dikategorikan sebagai good news, dan 22 bad news, dan 23 peristiwa ekonomi terdiri dari 14 good news dan 9 bad news.
B). Dengan meneliti pengaruhnya terhadap 85.5% jumlah saham yang beredar di BEJ, dan 80.04% kapitalisasi yang direpresentasikan oleh 46 perusahaan go public yang terdaftar di BEJ, Timbul menemukan bahwa pasar dengan cepat mengadakan reaksi secara signifikan positif dan negatif, dan beliau menemukan: bahwa Pasar Modal Indonesia disebut efisien, sesuai dengan teori yang mengatakan: “Jika pasar bereaksi cepat dan akurat dan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia dan relevan yang dipublikasikan, maka pasar seperti itu disebut efisien”.
Yang menarik dari hasil penelitian itu dapat ditemukan adalah implikasi ilmiahnya yaitu: bahwa tidak seluruhnya event good news menghasilkan abnormal return positif dan bad news menghasilkan abnormal return negatif. C). Karena disegmen sosial politik 5 (lima) peristiwa good news menghasilkan abnormal return negatif dan 2 (dua) bad news menghasilkan positive abnormal return, sedang disegmen ekonomi, 3 (tiga) peristiwa good news menghasilkan abnormal return negatif. Temuan ini sekaligus menggugat teori yang telah mendominasi pasar modal selama ini, yang menyimpulkan bahwa peristiwa good news akan menghasilkan abnormal return positif dan bad news menghasilkan abnormal return negatif.
Pendekatan kejadian ditetapkan pertama kali dengan tegas setelah suatu perbedaan pendapat diantara para anggota Komite The American Accounting Association yang menerbitkan Statement of Basic Accounting Theory tahun 1966. Sebagian besar anggota komite menyenangi pendekatan nilai terhadap akuntansi, hanya seorang anggota, Profesor Ilmu Akuntansi bernama George Sortev, mempertahankan pendekatan kejadian. Selanjutnya pendekatan kejadian mengusulkan bahwa tujuan akuntansi adalah memberikan informasi tentang kejadian ekonomi yang relevan yang dapat dimanfaatkan dalam pelbagai kemungkinan model-model keputusan. (Belkaoui/ Dukat:1986:44)
Pendekatan peristiwa (event approach) dalam pidato ini tidak seluruhnya sama dengan pendekatan yang diusulkan oleh George Sortev tahun 1966, sebab dalam usulnya itu , kecenderungan dapat dilihat kepada pendekatan nilai.
Pendekatan peristiwa ini adalah pendekatan peristiwa yang dipublikasikan seperti yang terungkap atas peristiwa penyogokan KPU atas BPK 8 April 2005 yang lalu.

Korupsi di Indonesia–Kasus Peristiwa–dalam Pendekatan
Peristiwa
Korupsi telah menjadi bagian dari hidup bangsa Indonesia. Walaupun tiap Ramadhan Masjid ramai, tiap tahun sekitar 200.000 warga Indonesia menjalankan ibadah haji. Gereja-gerejapun umumnya ramai dikunjungi umat Kristiani, begitu pula tempat ibadah lainnya. Oleh karena itu sering menyatakan diri sebagai bangsa yang religius. Namun, sebaliknya, negara kita di kawasan Asia dan dunia termasuk negara terkorup. Inilah satu dari sekian banyak paradoks bangsa kita (Salahuddin Wahid:2005).
Praktik korupsi di negara ini telah amat parah. Hasil penelitian Transparancy International tahun lalu menunjukkan menjadi negara kelima terkorup di dunia. Aturan-aturan perundang-undangan yang dibuat elite politik dan kekuasaan pada level manapun (Legislatif, Judikatif, Eksekutif) berubah menjadi strategi koruptif (Aloys Budi Purnomo:2005).
Undang-undang dan peraturan telah diterbitkan dan dihunjuk orang-orang sekaliber M. Hatta dan Jenderal A. H. Nasution dengan operasi budinya, namun korupsi tidak juga mereda malah berkembang di Indonesia.
Demokrasi di Indonesia telah diperkenalkan namun yang berhasil dalam demokratisasi baru korupsi. Rupanya demokrasi bukanlah suatu indikator bisa menghapuskan korupsi. Korupsi nampaknya berkorelasi dengan percepatan demokrasi. Dalam laporan Corruption Perception Index (CPI-1998) sejumlah negara demokratis di Asia tercatat sebagai negara korupsinya tinggi, misalnya Phillipina (urutan 57), Thailand (64), India (68), Indonesia (80) tingkat korupsinya tinggi. Sebaliknya negara yang tergolong berada dalam level demokrasi rendah, justru tingkat korupsinya rendah, seperti Singapura (7), Malaysia (29) dan China (52). Hanya satu negara di Asia dengan tingkat demokrasinya tinggi, tingkat korupsinya rendah (25) yaitu Jepang. Sedang negara-negara yang memproklamirkan diri sebagai negara demokratis tinggi seperti Amerika Serikat, tingkat korupsinya rendah (18), Inggris (13) dan Belanda (8). (Indria Piliang: 2005)
Dalam iklim korupsi dan kolusi yang sudah sedemikian sistimik dan endemik, terlalu sulit mencari calon pejabat yang steril dan terkontaminasi penyakit KKN di negeri ini. Karena itu Kompas menurunkan karikaturnya menggambarkan, bahwa bangsa ini hidup dalam Republik Maling (Kompas, 26.2.2005). salah satu perwujudannya adalah banyaknya isu mark–up yang dilakukan dalam penyusunan anggaran belanja negara/baik di tingkat pusat dan daerah. (J. Kristiadi:2005) Pemberitaan korupsi secara gencar diberitakan mass–media, tetapi koruptor jarang ditemukan di Indonesia, karena tatkala yang tersangka koruptor diadukan ke pengadilan apa yang terjadi hakim sering memutuskan para terdakwa di vonnis bebas.
Korupsi adalah kesalahan besar yang banyak terjadi ditengah kehidupan bangsa Indonesia sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau, namun mengapa sehingga bangsa Indonesia masih terus melakukan korupsi? Salah satu penyebab mendasar adalah bangsa Indonesia belum benar-benar mau belajar dari fakta-fakta pengalaman besar korupsi masa lampau. Fakta-fakta itu bukan diungkapkan sehingga bisa dijadikan pengalaman belajar baru yang memperbaiki pola pikir dan perilaku, tapi perlu ditutupi, direspress, dan dipaksakan untuk dilupakan (Satjipto Rahardjo:2005:12)
Dalam kerahasiaan dan untuk terus ditutupi, seperti pada pengaruh zaman VOC para pejabat publik merasa tidak mempunyai akuntabel moral dengan masyarakat. Birokrasi melihat diri sebagai ruling class yang secara hierarkis lebih tinggi dari masyarakat. Konsekuensinya apa yang mereka renungkan sebagai kepentingan Pemerintah boleh jadi tidak urusannya dengan kemaslahatan publik. Para pejabat mempunyai sejenis privasi yang tidak dapat dikorbankan meski untuk melindungi koruptornya lebih besar. Dengan mentalitas ini, pejabat publik tidak merasa perlu membuka diri dan memberi akses informasi kepada masyarakat. (Agus Sudibyo:2005)
Bangsa Indonesia dipaksa untuk jadi bangsa amnestik. Betapa tidak normalnya manusia yang mengalami amnesia retigrad. Dia seolah hidup tanpa kaitan sama sekali dengan deret fakta pengalaman masa lampau dan tidak bisa lagi belajar atau memetik hikmah dari fakta-fakta pengalaman itu. Betapa tidak normalnya bangsa Indonesia jika hamparan luas insan yang terangkum didalamnya dipaksa untuk melupakan fakta-fakta besar pengalaman korupsi yang terjadi pada kurun kehidupan mereka sebelum Desember 2002, dan hanya boleh mengingat pengalaman korupsi setelah Desember 2002. (Limas Sutanto:2005)
Disamping itu, aturan-aturan perundang-undangan yang dibuat elite politik dan kekuasaan pada level manapun (Legislatif, Judikatif dan Eksekutif) berubah menjadi strategi koruptif. Praktik korupsi secara genius mendapat legitimasi dari perundang-undangan yang dibuat sendiri. Bahkan gerakan dan komitmen melawan korupsi akhir-akhir ini justru berhadapan dengan “Solidaritas koruptif secara praktis”. (Aloys Budi Purnomo:2005)
Belum lagi rangsangan korupsi oleh karena belum terbangunnya rasa malu. Melihat kenyataan belum adanya perbaikan pada sistim hukum yang ada, mungkin sebaiknya direnungkan kembali tulisan terakhir almarhum (Prof. Dr. Charles Himawan:2002) mengatakan walaupun 98% rakyat Indonesia malu karena pengadilan kita dituduh mempraktikkan KKN, tetapi 2 persen rakyat Indonesia pemegang kekuasaan riil tidak malu, mustahil citra peradilan dapat diperbaiki. Sebaliknya jika yang 2 persen rakyat Indonesia pemegang kekuasaan riil untuk merasa malu dan mengambil konsekuensinya, harapan Indonesia memiliki peradilan yang mandiri mungkin tidak akan memakan waktu lama. (Harry Ponto:2005)
Karena itu terjadi pada bangsa Indonesia khususnya yang berada dalam circle kekuasaan penampilan muka tembok alias tidak ada rasa malu sedikitpun adalah merupakan suatu fenomena. Dapat dilihat dari laporan BPK selama pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Dalam 3 tahun berturut-turut, BPK mengeluarkan statement disclaimer hasil audit mereka lakukan. Namun tidak ada response penyelesaian dari Eksekutif dianggap itu seperti angin lalu. Juga peristiwa yang sama untuk periode 2004, BPK tidak bisa memberi penilaian (disclaimer) atas laporan keuangan Pemerintah Pusat tahun 2004. Dalam laporan BPK itu ditemukan banyak kelemahan sistim pengendalian internal keuangan, tidak sesuai dengan perundang-undangan dan masalah pada SAL (sisa anggaran lebih).
Kelemahan dalam sistim pengendalian internal keuangan negara antara lain: 1) Dalam bentuk prosedur penyusunan laporan keuangan tidak sesuai dengan sistim akuntansi yang ditetapkan, 2) Tidak sesuai dengan verifikasi dan rekonsiliasi pendapatan, 3) Hibah dan belanja negara tidak efektif, 4) Pengelolaan kas, investasi, asset tetap tidak memadai, 5) Organisasi APBN pada tingkat kementrian negara/lembaga belum seluruh direview oleh aparat pengawas internal. Padahal, aparat pengawasan internal di Indonesia cukup banyak, terdiri atas empat lapis dan termasuk sangat rumit, serta memiliki jumlah auditor, jaringan kantor, peralatan maupun anggaran yang sangat besar. Ditemukan penyimpangan pengeluaran anggaran untuk dana reboisasi dari rekening bendahara umum sebesar Rp.2.89 trilliun, dan eksekusi oleh Kejaksaan Agung uang pengganti Rp.6.67 trilliun (Anwar Nasution:Media Indonesia, 21/09/2005). Namun, response dari Eksekutif, Judikatif maupun Legislatif atas laporan ini hampir tidak muncul karena dianggap tidak membawa dampak apa-apa pada karir mereka.
Karena undang-undang yang dilanggar seharusnya semua yang kena negatif performance report baik dia Menteri, Irjen dan pimpinan lembaga lain harus diminta pertanggung jawaban. Andaikatapun itu sampai dihadapkan pada hukum, pelaku-pelakunya akan bisa menghindari jeratan hukum yang ada. Lebih canggih lagi, ada yang dari awal membuat desain untuk menjadikan hukum sebagai alat untuk membenarkan korupsi yang dilakukan tatkala hukum dijadikan alat kejahatan (law as tool of crime) semacam ini koruptor yang paling kakap sekalipun tidak mungkin dinyatakan bersalah, karena tindakannya tidak ada yang menyalahi hukum. (Nitibaskara:2005)
Karena semua permasalahan mengenai korupsi berputar-putar dan jalan ditempat, maka perlu dibuat UU yang baru menangani korupsi yang terkenal UU 30/2002 tentang Pembentukan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun ditemui masalah yaitu korupsi yang paling banyak terjadi adalah sepanjang tahun-tahun sebelum 2002, sedangkan UU 30/2002 itu tidak mengatur asas retroaktif. Dipihak lain para ahli hukum berpendapat pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam setiap putusannya tidak mengikat secara umum sehingga tidak perlu diikuti KPK. (Syamsuddin:2005)
Indikasi menunjukkan pada tahun 1998: Hutang luar negeri Rp.1400 trilliun termasuk 47.3% hutang swasta, kredit macet sejumlah bank Rp.450 trilliun, BPPN dibentuk dengan modal asset Rp.630 trilliun keberhasilan hanya 29%. Tahun 1999, BLBI Rp.144.3 trilliun tidak jelas penyelesaiannya. Pinjaman dalam negeri untuk rekapitalisasi perbankan Rp.650 trilliun dan pinjaman BUMN yang diduga kesemuanya angka-angka dan pengeluarannya terkandung unsur korupsi berupa mark–up dan konspirasi angka-angka. Alangkah sayangnya apabila KPK tidak memiliki landasan hukum untuk menelusurinya.
Dengan terkuaknya fakta-fakta ini secara induktif dan sudah “well documented” di kantor lembaga negara, seperti di DPR laporan BPK, di Archief Executive laporan BPKP dan laporan Irjen di setiap departemen, sampai berlapis-lapis, namun perubahan tidak juga muncul kearah perbaikan, sampai Wakil Presiden menyindir dengan kata-kata ironisnya: ”Hai Departemen Keuangan perhatikan jangan disclaimer melulu”. (Jusuf Kalla: Media Indonesia, 26/9/2005)
Terbentuknya KPK pada mulanya disikapi secara ironis, sebab 6 bulan pertama sejak pembentukan KPK hampir tidak berbuat sesuatu dan hanya sibuk untuk membicarakan anggaran untuk operasional belum turun, gaji pimpinan dan staff masih down payment, namun KPK dituntut undang-undang harus melaksanakan fungsinya.
KPK telah mengetahui tindakan korupsi ini. Tapi itu tidak cukup seperti Grethe berkata: ”Knowing is not enough, we must apply. Willing is not enough, we must do”, dan Sopocles menimpali: “One learns by doing the thing, for though you think you know it, you have no certainty until you try it”.
Apakah gagasan revolusioner Thomas Kuhn perlu diterapkan, dimana perubahan revolusioner itu terjadi setelah pradigma lama merebakkan anomali, dulu anomali merebakkan krisis, krisis memicu revolusi yang menumbangkan pradigma lama itu serta menggantinya dengan pradigma baru yang sama sekali berbeda dengan pradigma lama. (Limas Sutanto:2005)
Tapi kenapa pradigma lama dapat ditumbangkan di Indonesia sejak tahun 1998, sedang pradigma korupsi tetap bertahan, malah kian menggejala? Untuk menjawab pertanyaan itu kembali kita merujuk pemikiran Kuhn untuk menjawabnya.
Siklus penumbangan revolusioner pradigma lama dan pergerakan pradigma baru hanya terjadi jika ada tokoh yang sungguh bisa menjadi contoh atau panutan untuk menumbangkan pradigma lama dan penegakan pradigma baru: Siapakah tokoh itu? Disela-sela mencari tokoh panutan ini KPK harus berbuat sesuatu.
KPK tidak mampu mengadakan frontal attack terhadap pelaku korupsi itu sebab organisasi koruptor itu sudah sangat kuat, apa saja mereka bisa perbuat sampai mencelakakan penguasa sekalipun. Serangan mengapit (flanking attack), serangan mobile jangan tidak memiliki sarana yang cukup. KPK pilih serangan melingkar (encirclement attack) dimulai dari kelas teri strata korupsi itu yaitu investigasi KPU.
KPU yang menghabiskan anggaran Rp. 3.5 trilliun, telah ditangani oleh audit investigasi BPK, dimana hampir seluruh anggota KPU terlibat dalam pengadaan barang, antara lain: Maulana W. Kusuma bertanggung jawab pengadaan barang kotak suara Rp.361.5 miliar dan bilik suara senilai Rp.200 miliar, Chusnul Marijah dalam pengadaan surat suara (Rp.247.256 miliar), kertas kraft (Rp.4.124 miliar) dan teknologi informasi (Rp.295.332 miliar), Hamid Awaluddin dalam pengadaan kartu pemilih (Rp.70 miliar), Ramlan Surbakti untuk validasi surat suara (Rp.8 miliar). (Teten Masduki:2005)
Ditengah-tengah iklim negara memiliki auditor-auditor yang terkenal menyandang citra tukang sulap, karena tidak memiliki ketaatan (compliance) terhadap standard operating procedure dan kode etik auditor, juga dibarengi oleh integritas yang sangat rendah dan kepercayaan masyarakat telah terpuruk atas balas jasa para auditor menyulap laporan keuangan dengan imbalan jasa yang sangat menggiurkan, pada saat itulah KPK harus menunjukkan kinerja sesuai dengan amanat undang-undang.
Dalam strategi serangan melingkar (encirclement attack) seperti dijelaskan diatas, KPK mulai memikirkan penjebakan sebagai suatu rencana percobaan (pobing), mirip dengan FBI yang menyamar under cover yang terkenal sebagai operasi “Broken faith” di Washington D.C bulan Mei 1992. Maka pada tanggal 8 April 2005 terjadi penangkapan atas diri anggota KPU oleh KPK mengagetkan seluruh masyarakat. Jebakan yang berawal dari penyerahan uang suap oleh Sekjen kepada auditor BPK Khairiansyah Salman pada tanggal 3 April dan 8 April 2005 di Hotel Ibis, Jakarta Barat. Suatu peristiwa nasional telah terjadi menyangkut profile seorang yang terkenal ideologis, pejuang HAM yang gigih, kejadian di Room 609 Hotel Ibis, Slipi dengan jumlah jebakan suap Rp.150 juta. (8 April 2005)
Uang yang sangat sedikit jumlahnya dibandingkan dengan kejadian korupsi dan suap-menyuap ini merupakan satu snowball yang berjalan secara berantai dengan harapan ikan akan ditangkap satu persatu dari teri hingga yang kakap. Kenapa mulai dari teri? Sebab KPK memahami bahwa korupsi akan sulit terembus jika modusnya melibatkan sindikasi yang rumit, terlebih jika diback-up struktur kekuasaan politik yang kuat dan berlapis. Korupsi seperti sering tidak terjangkau oleh hukum (untouchable by law) karena 2 (dua) alasan:
Pertama, menggelandang koruptor kakap acap kali mengundang resiko yang tidak kecil baik pejabat penegak hukum maupun kepentingan masyarakat luas. Bentuk risiko yang diterimapun bervariasi, dari yang paling ringan, seperti ancaman teror hingga yang berat, seperti kekerasan, atau amuk massa, instabilitas sosial politik, sampai hilangnya nyawa, jadi ini kalkulasi untung rugi belaka. Kedua, mungkin ini menyangkut skala prioritas atau pemberantasan korupsi. Dulu kasus Mulyana (sekjen KPU), diandaikan memancing di air kolam yang tenang untuk menangkap ikan didalamnya, dan atas petunjuk ikan yang tertangkap, ikan-ikan lainnya juga akan tertangkap. (Masdar Hilmy:2005)
Pelaku korupsi telah tertangkap dilanjuti oleh proses hukum. Dengan membukakan peristiwa ini secara meluas diseluruh media cetak/elektronik, akan memberikan informasi pada masyarakat, sekaligus mendengar kehendak rakyat, walaupun itu sebatas, pertama: shock teraphy, namun penjatuhan pidana akan bermakna sangat besar. Pelaksana efek kejut ditakutkan berulang-ulang sebagai peristiwa akan menggentarkan, sehingga timbul efek jera dan daya tangkal (deterrent effect) bagi pelaku maupun calon-calon pelaku korupsi, kedua, memutus stensel dan mekanisme korupsi yang sudah berurat-berakar. Pemenjaraan dalam waktu relatif lama, akan memotong jalur-jalur korupsi yang terbangun bersama yang dikenai pidana itu.
Ada alasan lain, strategi penghukuman (punitive strategy), yang keras itu amat diperlukan, karena korupsi bukan merupakan penyimpangan perilaku (deviant behaviour).
Korupsi adalah tindakan yang direncanakan penuh perhitungan untung rugi (benefit cost ratio) oleh pelanggar hukum yang memiliki status terhormat (the honorable status of offender). Kejahatan yang dilakukan itu tidak hanya untuk mencari keuntungan material belaka, seperti pelaku kejahatan property crime yang diwarnai kekerasan banyak motif dalam korupsi, salah satunya bisa karena kepentingan-kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan politis. Semakin tinggi sasaran yang akan dicapai, semakin kompleks metode korupsi dilakukan. (Nitibaskara:2005)
Jadi peristiwa shock teraphy ini perlu dilakukan secara berulang-ulang sebagai informasi pada masyarakat, bahwa teori akuntansi yang menganut sifat-sifat etika independent, compliance test masih belum mati di Indonesia.
Situasi dugaan korupsi sebelum dan sesudah peristiwa 8 April 2005, dapat dilihat perbandingannya. Sebelum peristiwa itu walaupun skala besar tetapi penanganannya masih setengah hati, terbukti: Terdakwa BLBI yang masih sempat lari keluar negeri seperti: Bambang Sutrisno (BLBI di Bank Surya Rp.1.5 trilliun), Hendra Raharja, Sherny Kajongian, Eko Adi Putranto (BLBI di Bank BHS Rp.2.6 trilliun), Marie Pauline Lumowa (Kasus Pembobolan BNI–Rp.1.9 trilliun), Agus Anwar (BLBI Bank Pelita Rp.1.9 trilliun), Sudjiono Timan (BLBI Bank Modern Rp.169 miliar) David Nusa Widjaya (BLBI Sertivia Rp.1.29 trilliun). (Konstan, Edisi IX, 2005)
Kasus BLBI menurut BPK mengungkapkan hasil audit 2000 adanya penyimpangan dana BLBI Rp.138.4 trilliun dari total senilai Rp.144.5 trilliun. Sedang hasil audit yang dilakukan oleh BPKP terhadap 42 bank penerima BLBI, menemukan penyimpangan sebesar Rp.54.5 trilliun, dimana Rp.53.4 trilliun merupakan tindak pidana korupsi dan tindak pidana perbankan.
Proyek Balongan di Indramayu disebut-sebut mark–up terbesar di Pertamina. Bank Dunia menemukan mark–up US$591 juta (Rp.1.5 trilliun), dari total investasi US$1.999 miliar untuk 3 (Exor). (Konstan 2005: Edisi VIII)
Juga kerugian negara dalam praktik illegal lodging Rp.30 trilliun per tahun. Karena pembabatan hutan telah menjarah ke kawasan Taman Nasional seperti Gunung Leuser, Kerinci Sebelet, Barbak, Bukit Tiga Puluh, Bukit Dua Belas, Bukit Barisan Selatan, Way Kambas, Betung Kerihun Bentuang Karimun, Kanyan Mentarang, Tanjung Putong, Tn. Kutai, Tn. Lore Lindu di taman nasional Lorenz di wilayah Indonesia Timur.
Belum lagi pengusutan dugaan korupsi ditubuh BUMN yang berasset Rp.1.200 trilliun berupa mark–up dan penyelundupan. Mafia BBM mengalahkan Tim Pelaksana Penanggulangan Penyalahgunaan BBM (TP3 BBM), yang sudah menyelamatkan uang negara Rp.2.458 trilliun dari tahun 2000 s/d 2004, akhirnya harus dihentikan karena Presiden membubarkan TP3 BBM karena oknum mafia BBM tidak mau jika mafia minyak diawasi. Tapi sejak KPK dibentuk, dari Presiden SBY memback-up habis-habisan pemberantasan korupsi, muncullah usaha-usaha pemberantasan dengan upaya hukum menjerat, dan pemberitaan gencar diseluruh dunia, dipicu oleh peristiwa 8 April 2005, oleh kotak suara KPU. Illegal lodging telah menyelamatkan uang negara 2.5 trilliun dari Januari s/d Juni 2005, semua peralatan seperti alat-alat berat, tug boat, truck, dll disita.
Juga dihebohkan dengan praktik lama terbongkar penyelundupan BBM yang sebenarnya telah dimulai dari bulan Oktober 2004, oleh kapal MT Rejoice menyedot 2.500 ton minyak mentah dan 2600 ton bulan Desember 2004. Kapal MT Sunrise menyedot 2300 ton minyak mentah pada Maret 2005 dan 2400 ton pada bulan Juni 2005, bulan Agustus 21, 2005, KRI Multatuli menangkap kapal MT. Tionam dengan hasil sedotan 19.000 barrel berasal dari terminal Lawe-lawe, atau equivalent 2.881 ton minyak mentah.
Peristiwa penangkapan tersiar secara nasional dan diperkirakan telah merugikan negara Rp.8.8 trilliun satu tahun, yang bertindak sebagai broker adalah Freddy dan berhasil menemukan pembeli dari Singapura bernama Martinus alias Aliong alias Nur Lie bersedia membeli minyak mentah itu hanya dengan US$35 perbarrel.
Berbeda dengan sebelumnya, kini SBY Presiden yang jadi pilihan 200 juta rakyat Indonesia mengumandangkan pekik perang terhadap korupsi. Hampir setiap hari di mass media wajah-wajah koruptor diekspose, dimana pada periode dulu pantang dilakukan.
Namun, upaya dahsyat masih terlihat untuk menghambat jalannya pemberantasan korupsi itu di level penegak hukum. Tapi SBY telah berhasil mengadakan koordinasi dengan Tintastipikor, Jaksa Agung, Kapolri, KPTKP, BPK. Tinggal menunggu benteng terakhir dalam keadilan yaitu Mahkamah Agung ditunggu untuk mengeluarkan keputusan yang memihak pada rakyat, karena masih berjalan suatu kebiasaan untuk menvonnis segar para koruptor.

Kesimpulan
Dalam pembahasan kajian ilmu, filsafat ilmu, serta teori yang dijelaskan diatas, bahwa Teori Akuntansi itu adalah:
1) Seni (art), bukan merupakan ilmu pengetahuan murni (sciences). 2) Terdiri dari seperangkat prinsip-prinsip yang saling terkait (coherent). 3) Konsep akuntansi mengakar pada sistim nilai masyarakat dimana akuntansi dipraktikkan. 4) Suatu koleksi teori yang digambarkan sesuai dengan kebutuhan pemakainya. 5) Akuntansi itu digambarkan sebagai a body of practice yang dikembangkan sebagai tanggapan kebutuhan praktik bukannya dikembangkan dari pemikiran yang sistematik dan terencana. 6) Teori akuntansi membahas masalah dan memberikan solusi. 7) Fungsi akuntansi adalah memberikan informasi kuantitatif terutama bersifat keuangan tentang entitas ekonomi yang diharapkan bermanfaat, bagi pengambilan keputusan. 8) Teori akuntansi dikembangkan dengan pendekatan-pendekatan yang mampu memberikan informasi, menegakkan sifat integritasnya, compliancenya pada hukum dan perundang-undangan dan prosedur yang berlaku dan memihak pada pengguna informasi.
Berdasarkan sifat dan nuansa Teori Akuntansi ini, maka saya dapat menyimpulkan bahwa Teori Akuntansi dapat diperkaya dengan Pendekatan Peristiwa (Event Approach) yang dipublikasikan secara meluas sebagai suatu penyuguhan informasi ekonomi dalam hal ini dengan mengambil case study peristiwa 8 April 2005 yang kronologisnya dapat dilihat dalam lampiran I sebagai pemicu significant pemberantasan korupsi kepada masyarakat yang memberi mandat pada Presiden untuk menyelenggarakan negara yang baik (good governance).
Semoga kontribusi ini dapat bermanfaat pada ilmu pengetahuan, dan merekomendasikan para peneliti mengadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam dikemudian hari.

Sidang Senat yang berbahagia,
Perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pada seluruh anggota Senat STIE–IBEK, Ketua STIE–IBEK Leonard S. Manullang, SE, MM, yang akan memangku tugas yang lebih berat lagi sebagai Ketua Yayasan IBEK, dalam waktu yang dekat didepan ini dan seluruh Puket, Direktur Pascasarjana, Ketua-ketua Jurusan dan khususnya Drs. M. Sitanggang, MBA, yang telah memberikan waktu dan mendesain langkah-langkah strategis membantu saya sampai dapat menyusun dengan seksama semua persyaratan yang dibutuhkan untuk jenjang jabatan akademik tertinggi ini yaitu Guru Besar penuh dalam Ilmu Akuntansi.
Kepada Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji, Koordinator Kopertis III, Drs. Samsu Makka, SE, Ak, Sekretaris Eksekutif Kopertis III dan seluruh jajarannya yang telah meluangkan waktu mengkoordinasikan pada Guru Besar penilai dari jajaran Kopertis III, dan dapat menghasilkan penelitian objektif atas kepangkatan akademik Guru Besar ini. Kepada Prof. Dr. Satryo Sumantri Brojonegoro, Dirjen Dikti dalam kapasitasnya sebagai Ketua Tim Penilai Kepangkatan Guru Besar Pusat beserta seluruh Tim Penilai Pusat atas waktu dan pikiran jernih memberikan penilaian yang murni profesional atas kepangkatan Guru Besar yang dianugerahkan pada saya.
Kepada yth Bapak Prof. Dr. Bambang Sudibyo, MBA,Ak, Menteri Pendidikan Nasional sebagai pemegang keputusan akhir atas nama Presiden RI yang telah memberikan persetujuannya atas Guru Besar yang telah melalui proses lengkap sebagaimana telah diisyaratkan oleh Undang-undang Pendidikan Nasional dan Peraturan yang berlaku, kepada Sekretaris Jenderal dan Trisno Djuardi, SH, MM, Karo Kepegawaian dalam menerbitkan SK Penetapan saya jadi Guru Besar.
Kepada Ayah yang saya hormati Darius Manail Manullang (alm. 1947) yang telah menjadi hero saya dan Ibunda Manonga Rumia Manullang boru Marpaung (alm. 1949) yang telah mengandung dan melahirkan saya dan mengasuh dengan penuh kasih sayang walaupun sangat singkat karena beliau sangat cepat meninggalkan saya dan adik saya. Khususnya saya menyampaikan rasa hormat yang setinggi-tingginya pada Ompung (nenek) saya Martalena Manullang boru Marpaung (alm. 1993) yang telah mengambil alih tanggung jawab merawat dan membesarkan saya sampai mengecap pendidikan tinggi. Kepada mertua saya Sutan Djaparramean Batubara (alm. 1986), atas doa dan nasihat serta berkat yang dilimpahkan pada saya semasih hidupnya.
Kepada adik saya Robert Manullang dan istrinya Rosdiana br Marpaung serta Gabriella Ruth Manullang, anak mereka satu-satunya saya tidak lupa mengucapkan penghargaan atas perhatian mereka pada saya selama berkecimpung dalam dunia pendidikan ini.
Kepada istri tercinta Beffie Lanny Manullang, SE, MM, yang dengan sabar telah mendampingi saya dan berbagi suka dan duka mengarungi bahtera keluarga dan mencapai yang ke 41 tahun ini. Berbahagialah seorang suami yang mempunyai seorang istri yang bijak dan setia memberikan tender loving care (TLC) kepada suami seperti istri saya. Dalam kehidupan saya selama 41 tahun berumah tangga saya mencatat saya sudah tiga kali sakit parah dan sangat kritis, dan kalau bukan karena perjuangan dan doa seorang istri yang kebetulan memulai karirnya sebagai perawat pada saya. Barangkali saya tidak bisa berada di forum ini.
Anak-anak saya, Leonora C. Manullang, anak sulung yang arif dan bijaksana, Leonard S. Manullang, yang pada saat ini sedang berjuang dalam meniti tatanan hidup dan karir kearah yang lebih solid, anak saya Darius Agusdjaja Satria Negara Manullang dan istrinya Rita Mary Manullang br Tampubolon yang tinggal di California, Rizal Ruben Manullang dan istrinya Rina Anastasia Bernadette Idroes Chaniago boru Marpaung yang sehari-harinya mengelola IBEK di Pangkal Pinang, Propinsi Kepulauan Bangka Belitung, Yolanda Puspasari Uli Artha Rumenta Manullang yang pada saat ini berdomisili di Loma Linda, California, atas perhatian mereka pada saya yang telah memilih dalam pengabdian dilapangan pendidikan, saya ucapkan terima kasih. Juga pada cucu-cucu saya yang manis-manis Pamela Abigail Febiola Laurent, Briggita Laurencia Geovana, Patricia Lorenza Desire Sabbathini, adalah mahkota saya yang telah memberikan motivasi yang luar biasa pada saya untuk lebih tekun mengabdi sampai mencapai jenjang kepangkatan akademik yang tertinggi ini.
Juga tidak lupa saya mengucapkan salut dan penghargaan saya yang tinggi pada mantan promotor dan co-promotor serta penguji saya waktu menyelesaikan Doktor Ekonomi dalam Ilmu Manajemen Akuntansi, a.l. Prof. DR. Ma’sud Machfoedz, MBA, Ak, Prof. DR. Sofyan Sjafri Harahap, MSc, Acc, Ak, Prof. Dr. Jogiyanto Hartono, MBA, Ak, Prof. Dr. Imam Ghozali, MSc.Com, Ak, Dr. Hadory Junus, MSc Com, Ak, Prof. DR. Subagyo Sastrodiningrat, MPA, Prof. DR. Charles Marpaung, Dr. Sumarno Zein, MBA, Ak, Prof. Supranto, MA, Prof. DR. Hamdy Hady atas berkenannya sharing kepintaran kearifan mereka.
Juga saya tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada mantan guru-guru saya dari SRVI s/d Perguruan Tinggi sampai Strata–1 yang berpengaruh dalam hidup saya seperti; Guru Osmar Manullang, Guru Hendrik Marpaung, Guru Willem Marpaung, Dr. R.A. Fighur, E.T. Mangunsong, Dr. B.A. Aaen, Kolonel (Purn) Bonifacius Siagian, MA, Dr. R.K. Kalangi, Dr. Percy Paul, Dr. Pangarisan Sitompul dan Gladys Macarewa, MA, A. P. Mamora, Soaloon Siagian, Dr. R.A. Nainggolan, Dumaria Tampubolon, MA, Edward Panjaitan, MBA, Prof. Gerald Thompson, Prof. A. Panggabean, MA, Hardy Siregar, MBA, Prof. Dr. Conny Semiawan, Drs. Manginar Manullang, Dr. R. H. Tauran, yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar pendidikan yang kuat bagi saya.
Para kolega/sesepuh saya dalam pekerjaan pertama s/d perusahaan selanjutnya, seperti W. L. Wicox, Gordon Bullock, J. Johnson, C. Oliver, Lie Hwa In, Dr. G. Coleman, P.L. Tambunan, Dr. Charles Martin, Dr. Alfarius Mamora, Dr. Lie Sek Hong (Liwidjaja), Dr. Jess C. Holmes MD, John T. Manullang, H. Mangkey, MEd, Alaistair Halliday, CPA, B. Benton, RAP Lbn Tobing, MA, S.F. Sitompul, John R. Steiger, T.M. Plowden, Thomas McQuire, Paul McQuinn, Dr. Brian Kane, Don Hibbard, Jim Cotter, John Scott, Jim Stretch, Edwardo Puno, Willy Siwu, John Edwards, E.T. Velasco, Peter Golberg, John Rush, E.D. Saban, John McIntyre.
Tidak juga saya melupakan teman-teman sejawat dalam seprofesi Financial Executive, seperti: Tanri Abeng, MBA, Subarto Zaini, MBA, Romeo Co, Robert Moore, Annibal Forchieri, Claude Ceasar, Hans Godefroid, Don Laurio, Rikkard Douglas, Dr. George Moller, Abdillah Toha, MBA, Theodorus Tuanakotta, MBA, Bambang Rachmadi, MBA, MSc, James Riady, Edward Suryajaya, Mugianto, Nurman Diah, Para Pengurus Ikatan Alumni Lemhannas dari IB Sujana, Hendro Prijiono, Jend (Purn) Agum Gumilar, serta teman-teman seperjuangan Lemhannas KRA XXIII/1990 seperti, Mayjen (Purn) E.E. Mangindaan, LetJen (Purn) Suryadi, Mayjen (Purn) Sukarno, Letjen (Purn) Moh. Ma’ruf, Mayjen (Purn) Chris Masengi, Mayjen (Purn) Freddy Tanjung, Marsda (Purn) F.X. Suyitno, Marsda (Purn) Sasmito, Letjen (Purn) Soeyono, Mayjen Marinir (Purn) Gafur Malik, Mayjen Pol (Purn). Drs. Arief Tawil, MM, Ir. Amir Harbani, WMP. Simanjuntak, Ak, Laksma (Purn) Adi Muljo, Mayjen (Purn) A. Pranowo, Letjen (Purn) AA. Nasution, Mayjen (Purn) Maman Herawan, Mayjen (Purn) Banser, Mayjen (Purn) Kojin, Mayjen Pol (Pur) Yusnan dan lain-lain yang tidak bisa saya sebut satu persatu.
Diantara keluarga yang berpartisipasi langsung atau tidak langsung berupa motivator dalam mengembangkan karir saya adalah: St. Galang S. M. Marpaung, Kostan Marpaung, A. Bongitan Marpaung, Drs. Marbun Batubara, Dr. Cosmas Batubara, Prof. Dr. John Batubara, Herbert Wolf, Eng.Dipl, Ir. Partumpuan Naiborhu, MM, Dr. Binsar Sianipar, John R. Manullang, Ir. Mangatas Manullang, Poltak Manullang, SE, MM, Ak, Fajar Suyanto, Drs. Missa Manullang, Drs. Hotman Manullang, SP. Gerhad Manullang, Purnamarea Sinambela, T. Tambunan, MA, Ir. Sophar Marpaung, Ungkap Hutapea, SE, Drs. Ojak Simorangkir, Darius Marpaung, Drs. Monang Sitorus, SH, Mayjen (Purn) Agus Marpaung, SH, Tuan M. H. Manullang, Th.D. Manullang, Gustaf Adolf Manullang, Dr. A.C. Manullang, Dr. KRH Tarnama Sinambela Kusumanegoro, Sahat & Ida Pola Nainggolan, Manson Marpaung, M. Fin, Deta Sinambela, Blihert Sihotang, Seluruh Pengurus Punguan Si Raja Oloan terdiri dari Keluarga Besar Raja Sisingamangaradja Pusat Bakara dan Jabotabek, Keluarga Besar Pamuharadja dan seluruh Pomparan Toga Manullang, dan Keluarga Besar Naibaho, Sihotang, Bakara, Sinambela, Sihite dan Raja Saidi Raja Si Jorat IX dan Dr. Thelmah Manullang. Juga Keluarga Besar Si Raja Si Jorat VII dan Keluarga Besar Raja Malaha Marpaung serta Keluarga Besar Baginda Paung, saya sangat hormati dan tidak pernah saya lupakan.
Kepada kolega-kolega yang telah ikut berpartisipasi dalam pengembangan STIE–IBEK suatu lembaga pendidikan tinggi yang mengajukan kepangkatan Guru Besar sini juga saya mengucapkan terima kasih yaitu: Dr. J.W. Limbong, Cyrus Manurung, MBA, Kol. Marinir Sugeng, Mardalena Marpaung dan kolega yang aktif mengisi pengembangan STIE–IBEK seperti Prof. Dr. Subur Budi Santosa, Prof. DR. M. Matondang, Prof. DR. Payaman Simanjuntak, Prof. DR. Sofyan Sjafri Harahap, MSc, Acc, Prof. DR. Soelaiman Sukmalana, MM, Prof. DR. W. Napitupulu, Mudjihandoko, Ph.D, MA, Hamongan Ritonga, Ph.D, MSc, Dr. Johor Ritonga, Dr. Togar Saragih, Budi Sitepu, MA, Ida Yuningsih, SE, MM, Dr. Agus M. Natasukarya, Dr. Sahala Sinurat, Dr. Gison Manullang, Dr. Narumi Lapoliwa, MM, MBA, Ak, Dr. Romulus Tampubolon, Drs. B.O. Harahap, MM, Drs. Martua Sitanggang, SE.Ak, Hirdinis SE, MM, Drs. Ridwan M. Pane, MM, Dr. Marihot Manullang, Johan Kartanajaya, MA, dll, Pengurus Alumni Association Sarjana & Pascasarjana STIE–IBEK seperti, Syamsul Bachri, SE, MM, E. Ribka M, SE, MM, Mariati Jahja, SE, Lenna Sentosa, SE, Lauw Giok Siu, SE, Kombes Untung, MM, Max Tjio, SE, Chris Warouw, SE, Tan Ting Ling (Rosana), SE, Rosdiana Mustafa, SE, Milatania, SE, Mayjen Pol (Purn). Drs. Arief Tawil, MM, Dr. John Pallinggi, dan seluruh Civitas Academia STIE–IBEK Jakarta & Pangkal Pinang, dll, sangat berperan menopang pengabdian saya dalam pendidikan.
Rekan seperjuangan saya seperti Drs. Sofyan Rebuin, MM, Drs. Zulkarnaen Karim, MM, Dr. Kinny, MM, Dr. Zaiful Karim, Drs. Effendy Hasjim, MM, Drs. Syamsul Bachri, MM, Ir. Tunggul Pakpahan, MM, Drs. Johan Murod, MM dan Ramli Ngadjum, SH, MM dan lain-lain yang belum sempat saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas motivasi yang diberikan pada saya.
Para Senior dan teman sejawat dalam profesi Indonesian Administration Society. banyak saya mendapat contoh dari mereka dan tidak lupa saya menyampaikan penghargaan, kepada a.l., Prof. H. Bintoro Tjokroamidjojo, MA, Prof. DR. Mustopadidjaja, AR, MPA, Drs. Frans Seda, Prof. DR. Ir. Ginandjar Kartasasmita, Dr. Sapta Nirwandar, Dr. Ir. Bima H. Wibasana, MSc, Dr. Mulia P. Nasution, Dr. J. Basuki, MPSi, Dr. Ir. Deddy S. Bratakusumah, Prof. DR. Said Zainal Abidin, Prof. DR. J.B. Kristiadi, Dr. Soebagijio Soemodihardjo, SH, Letjen (Purn) T.B. Silalahi, Dr. Andi Amir, Dr. Tuti Suryani, Dr. Andi Mallarangeng, Prof. DR. Sondang Siagian, MPA.
Para Senior dan teman sejawat dalam pengabdian profesi bisnis dan pengabdian masyarakat banyak sharing pengalaman yang saya sangat hargai langsung dan tidak langsung, a.l., Prof. DR. Suhardiman, SE, Oetojo Oesman, SH, Dr. Bomer Pasaribu, Dr. Thomas Suyatno, Dr. Wiratman, Ir. Arie Peju, MSc, Dr. A. Baramuli, Dr. Muchtar Riyadi, Ir. Ciputra, Ir. Aburizal Bakrie, Dr (HC) Jacob Utama, Sabam Siagian, Surya Paloh, Drs. Soy Pardede, Dr. Dewi Motik, Ir. Salahuddin Wahid, Drs. Thomson Manullang, Drs. Ardjuno, Kristia Kartika, SH, MH, Drs. Pudji Rahardjo, Ir. Muchayat, Prof. Dr. Sambas Wirakusumah, Prof. Dr. Malingkay, Prof. Dr. Arijatmo Tjokrodinegoro, Ph.D, Charles Mast, Dr. Hans Roden, Dr. Russel Cheetam, Dr. David Rockefeller, Dr. Andrew Steer, Drs. Santoso, MSc, Ak, Tommy Sihotang, LLM, La Rose, Samantha Ratno, Rahayu Effendy, Dr. Jusuf Anwar, Drs. J. Turangan, Drs. Hadi Purnomo, MBA, Jenderal (Purn) M. Panggabean, Mayjen (Purn) D.I. Panjaitan, Jend (Purn) Luhut B. Panjaitan, MA, Poltak Ruhut Sitompul, SH, Robin Simanullang, Harlan Bekti, Hasyim Ning, Sudarpo, Probo Sutejo, Sukamdani Gitosardjono, Letjen (Purn) Sahala RajaGuk-Guk, Jend (Purn) Eddy Sudrajat, Jend (Purn) Rudini, Letjen (Purn) Suprakto, Jend (Purn) Try Sutrisno, Laks (Purn) Sudomo, Prof. DR. Radius Prawiro, Drs. Rachmat Saleh, Dr. Arifin Siregar, Dr. Alex Alatas, Drs. Salamun A.T, Drs. Sutadi Sukarya, Jenderal (Purn) Benny Murdhani, Prof. DR. J.B. Sumarlin, Prof. DR. Emil Salim, Ir. Ary Wibowo, Drs. Mari’e Muhammad, Prof. DR. Widjojo Nitisastro, Prof. DR. Ali Wardhana, Jenderal (Purn) Agum Gumilar, Yapto Sumarno, SH, Drs. Syarifuddin Harahap, Sariati Pardede, Palti Siregar, SH, Ir. Akbar Tanjung, Prof. Bismar Siregar, SH, Prof. DR. Bagir Manan, SH, Ismail Saleh, SH, Dr. Paul Wolfowitz, Dr. Henry Kissinger, William Miller, John Holdridge, Robert Gelbard, Howard P. Jones, Marshall Green, Francis J. Galbraith, David D. Newson, Edward Master, John C. Manjo, Robert L. Bary, J. Stepleton Roy, Ralph L. Boyce, B. Lynne Pascou, J. A. Sereh, Dr. Albert Hasibuan, Maruli Simorangkir, SH, Ir. Agus Kartasasmita, Harvey Goldstein, Jimmy Castle, Jeffrey Jones, CPA, Prof. Dr. Anwar Nasution, Drs. Ari Sulendro, Ak, MPM, Drs. Taufiqurrohman Ruki, Dr. Todung Mulya Lubis, Prof. Ir. Eko Budi, Prof. Dr. Thoby Mutis, Prof. Dr. Hj. Farida Jaspar, ME, Prof. Dr. Tb. Ronny R. Nitibaskara, SH, Prof. Dr. Tadjuddin, MD, Dr. Pande Silalahi, Dr. Adnan Buyung Nasution, DR. Adjie Susanto, Dr. Matius, MBA, John Reed, Dr. Sabrina.
Kelompok kerohanian saya yang memberikan dorongan penguatan spiritual pada saya tidak lupa menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya, a.l. Albert Gulfan, MA, Dr. Benyamin D. Schoun, Dr. Clinton Shankel, Dr. Eddy Sarmun, Dr. Albert J. Pardede, Dr. Daniel & Dr. Sherly Injo, Dr. Sam Kwik, Dr. Parlin Napitupulu & Emmy Pardede, Dr. Canadian Panjaitan, Dr. Robert Walean, Dr. Urbanus Aritonang, Dr. R. A. Hutagaol, Dr. Parangin-angin, Jannus O. Hutapea, MSc, Lily Sitompul, H. E. Sinaga, M.Div. Bremen Panjaitan, M. Div. Kombes Jimmy Sinaga, Dr. Tagor Tambunan & Drg. Tuty Manullang, Brigjen David Hutapea, Dr. Gindo Sitorus, Dr. Victor Siagian, Dr. Albert L. Sondak, Dr. Albert Hutapea, Dr. H. Missah, Dr. J. Sitorus, Dr. BAF Simanjuntak, Dr. M. Sagala, Mahadin Panjaitan, MA, Dr. Bahasa Sumarna, Dr. John Pesolima, Dr. Lies Goei, Dr. Jonathan Kuntaraf, Dr. Emilkan Tambunan, Dr. Amos Simorangkir, Winker Sitanggang, Benny Tambunan, STh.MPTh, D. Rampen, STH, MTh, Dr. B. Laoh, Prof. DR. J. B. Sijabat, Dr. S.A.E. Nababan, Dr. Jan. Everet, Telly Lomboan.
Kelompok Pemimpin Masyarakat, yang rendah hati yang ikut bersama-sama berdoa dengan saya di Capitol Washington, D.C, saya sangat kagum atas dedikasi pelayanan mereka terhadap masyarakat banyak, seperti, Dr. Bill & Hillary Clinton, Albert Gore, Dr. Bob Dole, Dr. Octavianus, Drs. Rudolf Pardede, Hamilton Lee, Dr. Wayne Angel, Dr. Wilbur Wheaton, Mark Hatfield.
Kepada para mantan Presiden R.I yang telah memimpin negara R.I ke level yang disegani dunia menurut gaya kepemimpinannya masing-masing, a.l. Dr. (HC), Ir. Soekarno, Jenderal Besar Soeharto, Prof. DR. B.J. Habibie, Dr. (HC) K.H. Abdurrachman Wahid, MA, Dr. (HC) Megawati Soekarno Putri, juga merupakan motivator yang dahsyat bagi saya.

Juga saya sangat terkesan atas kerendahan hati mereka dan dengan gaya kepemimpinan yang akomodatif, responsif, produktif, komunikatif, partisipatif, sebagai motivasi dalam pelayanan saya terhadap sesama, dari mereka seperti: Adam Malik, Jenderal Besar A. H. Nasution, Letjen (Purn) T. B. Simatupang, Letjen (Purn) Sarwo Eddy, Jend (Purn) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Drs. Yusuf Kalla, Ibu Kristina Herawati, Letjen (Purn) Sutiyoso, Letjen (Purn) Sudi Silalahi, Letjen (Purn) Ali Sadikin, sebagai pelayan masyarakat yang sangat dedikatif.
Pada akhirnya, saya sekali lagi memanjatkan syukur pada Tuhan karena kehendakNyalah semua ini terwujud.

Jakarta,

Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang, MM, SE

Referensi

1. Accounting Principles Board (APB), (1970), Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statements of Business Enterprises, Statement No. 4, NY: AICPA
2. Agus Sudibyo, (2005), Pemberantasan Korupsi dan Rezim Kerahasiaan, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 61
3. Alfred North Whitehead, The Aims of Education (New York, The Free Press)
4. Aloys Budi Purnomo, (2005), Uji Nyali Memberantas Korupsi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, Juli, hal. 23
5. American Accounting Association, (1977), Statement on Accounting Theory and Theory Acceptance (SATTA), Florida, AAA
6. American Institute of Certified Public Accountant (1966), Statement of Basic Theory, Evanston, IU: AAA
7. American Institute of Certified Public Accountant (1953), Review and Resume, Accounting Terminology, Buletin No. 1, NY:AICPA
8. Anis Chariri & Imam Ghozali, (2001), Teori Akuntansi, Edisi Pertama, Undip, hal. 27–29
9. Budi Purnomo Aloys, (2005), Uji Nyali Memberantas Korupsi, Penerbit Buku Kompas, Juli, hal. 23
10. Belkaoui A. 2. (1993), Accounting Theory, 3rd, Ed–Orlando: Harcourt Brace, Jovanovich
11. Chalmers A. F, (1928), What is Thing Called Science?, St. Lucia University of Quensland Press
12. Chambers, A.E and P.H. Pesman (1994), Timeliness of Reporting and the Stock Price Reaction to Earnings Announcements, Journal of Accounting Research, Spring, pp. 21–47
13. Charles Himawan, Rasa Malu, Penerbit Buku Kompas, 31/3/2002
14. Conny Semiawan, et.al. (2005), Panorama Filsafat Ilmu, Teraju (PT. Mizan Publika), Jakarta, hal. 13–14
15. Ernest Nagel (1961), The Struction of Science (New York: Harcourt, Brace & World, hal. 20–26
16. Erwan Dukat, dkk, (1986), Accounting Theory, Ak Group Yogyakarta, hal. 44, 142–143
17. FASB (1978), Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) No.5 Recognition and Measurement in Financial Statement of Business Enterprises.
18. Flamholtz, EG (1979), Developing Human Resources Accounting as Human Resources Decision Support System Accounting, Horizon, September, pp. 1–9
19. George F. Kneller, (1964), Introduction to the Philosoply of Education (New York: John Willey & Sons), hal. 4
20. Gugliemo Ferrero (1956), Les Lois Psychologiques due Symbolisme, p. VIII, used G Karl Jung on the Fly Leaf Introducing Part I of Symbol of Transformation (collected works, vol–5, New York: Pamthen Books), p. 2
21. Jujun S. Suriasumantri (2005), Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, Pustika Sinar Harapan, Jakarta, hal. 142, 215, 216
22. Harry Ponto (2005), Mengembangkan Rasa Malu, Penerbit Kompas, Jakarta, hal. 40–41
23. Hendriksen E. S (1982), Accounting Theory, 4th Ilinois: Richard D’Irwin
24. Hendriksen E. S & Michael (2000), F. Van Breda, Accounting Theory, hal. 23
25. Indria Piliang, (2005), Korupsi dan Demokrasi, Penerbit Buku Kompas, hal. 92
26. Kalla, Jusuf (2005), Disclamier, Media Indonesia, 26 September, Jakarta
27. Konstan, Majalah (2005), Volume I, Edisi VIII, September
28. Konstant, Majalah (2005), Volume I, Edisi IX, September
29. Kristiadi J (2005), Bukan Politik Dagang Sapi atau Arisan Politik, Penerbit Buku Kompas, hal. 81
30. Kuhn T. S (1962), The Structure of Scientific Revolution, Chicago: University of Chicago Press
31. Limas Sutanto (2005), Exemplars untuk Menumbangkan Korupsi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 128
32. Littheton, A.C. (1953), The Structure of Accounting Theory, American Accounting Association
33. Limas Sutanto (2005), Kita dipakai jadi Bangsa Amnestik; Penerbit Buku Kompas, Jakarta hal. 8
34. Manullang Timbul (2004). Efesiensi pasar modal Indonesia menggunakan Pendekatan Multi Event Sosial, Politik dan Ekonomi, Disertasi Doktor dalam Ilmu Akuntansi, UPI/YAI, Jakarta, hal. 366
35. Masdar Hilmy (2005)–Paradoks Pemberantasan Korupsi, Penerbit Buku Kompas, hal. 197
36. Mohammad Muslih (2004), Filsafat Ilmu, Kajian atas Asumsi Dasar, Pradigma dan Keluarga Teori Ilmu Pengetahuan, Penerbit Beluker, Yogyakarta, hal. 98
37. Meyerand et. al (1997)–The Fourth Wave, London, New York: Wiley
38. Moonitz M. (1961), The Basic Postulating of Accounting, Accounting Research Study No.1, New York: American Institute of Certified Public Accountant
39. Nasution Anwar (2005), Laporan Audit Keuangan Pemerintah Pusat, Media Indonesia, 21 September.
40. Nitibaskara TBR. (2005), Reformasi Perlakuan Bagi Koruptor, Penerbit Buku Kompas, hal. 27–28
41. Popper K (1968), The Structure of Scientific Revolution, Chicago: University of Chicago Press
42. Salahuddin Wahid (2005), Agama, Budaya dan Pemberantasan Korupsi Jihad Melawan Korupsi, PT. Buku Kompas, Jakarta, Juli, hal. 137
43. Salmonson, R. F (1969), Basic Financial Accounting Theory, Belmont – California: Wards – Worth Publishing, Co. Inc
44. Satjipto Rahardjo (2005), Mengadili Korupsi Mengapa Dipersulit, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 12
45. Schrader. W. J. (1962), An Inductive Approach to Accounting Theory, The Accounting Review, Volume 2, October
46. Syamsuddin Amir (2005), KPK dan Asas Retroaktif, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, hal. 14
47. Teten Masduki (2005), Kejutan MW+BP+KP, Penerbit Buku Kompas, hal. 190
48. Webster; Third New International Dictionary, Unbridged (Springfield Mass: G & C. Marriam, p. 237)

LAMPIRAN I

Kronologi Kasus Korupsi KPU
11 Agustus 2004: Koalisi LSM untuk Pemilu Bersih mengadukan dugaan korupsi di lingkungan KPU.
18 Agustus 2004: Surat pimpinan KPU kepada pimpinan KPK berisi permintaan untuk klarifikasi atas Laporan Koalisi LSM untuk Pemilu Bersih.
25 Agustus 2004: Surat KPK kepada BPK meminta laporan hasil audit BPK atas kegiatan KPU atau temuan sementra BPK.
31 Agustus 2004: Pimpinan KPU mengklarifikasi laporan Koalisi LSM di kantor KPK.
14 Desember 2004: Terbit Surat Perintah Penyidikan tentang dugaan korupsi dalam pengadaan logistik Pemilu 2004 oleh KPU. Jangka waktu 20 hari kerja.
16 Desember 2004: Pertemuan pimpinan KPK dan Ketua BPK. Pembicaraan membahas hubungan kerja BPK-KPK dan selintas membicarakan pula audit BPK atas KPU.
20 Desember 2004: Pertemuan Ketua Tim Penyelidikan KPK dengan Penanggung Jawab Tim Pemeriksaan Operasional KPU, membicarakan temuan BPK sebanyak 49 buah.
5 januari 2005: BPK terbitkan Surat Tugas Audit Investigasi untuk pengadaan logistik pemilu KPU tahun 2004.
14 Januari 2005: Pimpinan KPK menerbitkan Perpanjangan Surat Perintah Penyelidikan selama 20 hari kerja lagi.
17 Januari 2005: Pembicaraan antara Penganggung Jawab Tim Audit Investigasi BPK dan Ketua Tim Penyelidik KPK mengenai perkembangan audit investigasi dan mengatur pertemuan antara tim BPK dan tim KPK.
Januari 2005-Pertengahan Maret 2005: Proses interaksi penyelidik KPK dan Tim Audit Investigasi BPK terkait pemeriksaan pengadaan logistik pemilu KPU.
Pebruari- Awal Maret 2005: Tim Audit Investigasi BPK temukan indikasi penyimpangan dalam pengadaan kotak suara dan dugaan adanya indikasi upaya penyuapan dari Panitia Pengadaan Kotak Suara KPU.
8 Maret 2005: MWK kirim SMS ke KS. Minta bertemu 10 Maret sambil membicarakan temuan hasil audit BPK. KS lalu ke KPK menjelaskan rencana pertemuan dengan MWK tersebut.
10 Maret 2005: MWK menelepon KS untuk bertemu di Restoran Jepang Miyama di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat. Ternyata MWK didampingi SS dan MBR. Pada pertemuan itu MBR menawarkan uang Rp.200 juta–Rp.300 juta untuk memperbaiki audit investigasi kotak suara.
15 Maret 2005: Pertemuan Tim Penyelidik KPK dengan Penanggung Jawab Audit Investigasi BPK Membicarakan perkembangan pemeriksaan dan rencana BPK dalam awal April 2005 melakukan pembahasan dengan anggota KPU dan diharapkan pemberiksaan lapangan akan selesai.
23 Maret–30 Maret 2005: Subtim Investigasi Kotak Suara BPK melakukan cek fisik ke Medan dan Surabaya.
29 Maret 2005: Pertemuan pimpinan KPK dengan anggota BPK soal dugaan upaya penyuapan MWK serta menyampaikan pendokumentasian fakta dan proses kejadian pertemuan antara KS dan MWK, SS, dan MBR di Hotel Borobudur.
30 Maret 2005: Penyelidik KPK menanyakan kepada KS perkembangan hasil audit dan dugaan indikasi upaya penyuapan MWK. Juga menyampaikan bahwa pimpinan KPK sudah bertemu dengan anggota BPK dalam rangka menyampaikan hasil pendokumentasian fakta dan proses kejadian di Borobudur.
31 Maret 2005: MWK menelepon KS untuk bertemu, lalu KS menelepon MWK untuk membicarakan waktu dan tempat pertemuan lalu KS sampaikan hasil pembicaraan dengan MWK ke Penyelidik KPK.
3 April 2005: MWK datang ke kamar 709 Hotel Ibis, Slipi, yang didalamnya sudah menunggu KS, MWK menyerahkan uang sebesar Rp.150 juta dan meminta kepada KS agar membuat laporan dengan lebih proporsional serta MWK kembali, uang yang diserahkan MWK kepada KS lalu diserahkan KS kepada penyelidik KPK. Pertemuan berikutnya direncanakan 4 April.
4 April 2005: KS pulang ke Kisaran, Sumatera Utara, menghadiri pemakaman ayahnya. KS lalu kirim SMS kepada MWK tentang pembatalan rencana pertemuan tanggal 4 April 2005 karena berada di Medan sampai tanggal 7 April 2005.
5 April – 7 April 2005: KS dan penyelidik KPK saling kontak. Pertemuan dengan MWK akan diadakan tanggal 8 April di Hotel Ibis, Slipi Jakarta. Pimpinan KPK mengeluarkan Surat Perintah Penyidikan KPK sekaligus menyiapkan Surat Perintah Penangkapan.
8 April 2005: MWK datang ke kamar 609 menemui KS. MWK menyerahkan uang tunai empat ikat uang pecahan seratus ribu rupiah dan dua ikat uang pecahan lima puluh ribu rupiah serta empat lembar traveller cheque @25 juta rupiah dengan cara meletakkan di tempat tidur. MWK juga menyampaikan amanat dari SS agar KS juga dapat membantu menyelesaikan permasalahan tinta sebagaimana dengan kotak suara. Penyidik KPK masuk ke kamar 609 dan menangkap MWK dan dibawa ke kantor KPK untuk diperiksa.
9 April 2005: Pemeriksaan dihentikan sementara untuk memberikan kesempatan MWK untuk beristirahat. MWK diberi kesempatan untuk menghubungi keluarga melalui telepon kantor KPK, Surat Perintah Penahanan MWK di Rumah Tahanan Salemba ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK.
10 April 2005: Penyusunan rencana penggeledahan Kantor KPU.
11 April 2005: Permintaan Izin Penggeledahan kepada Pengadilan Khusus Tipikor. Penyidik KPK melakukan penggeledahan Kantor KPU dalam rangka menemukan barang bukti. Di ruangan Hamdani Amin (HA), Kepala Biro Keuangan KPU, ditemukan sejumlah uang tunai dan traveller cheque senilai lebih kurang setara dengan Rp. 2 miliar, yang diakui oleh yang bersangkutan bukan dana APBN serta bukti peminjaman uang (traveller cheque) senilai RP.100 juta oleh MWK. Selain ruangan Hamdani, digeledah juga ruangan lainnya dan ditemukan bukti-bukti lain yang berkaitan dengan sumber dana yang digunakan untuk membantu MWK memberikan suap kepada KS.
12 April–15 April 2005: Pemeriksaan saksi-saksi, Sussongko, Mubari, Richard M. Purba, Nazaruddin Sjamsuddin. Disamping itu, penyidik KPK yang lainnya melakukan penggeledahan lanjutan di ruangan MWK serta tempat-tempat lain.
25–26 April 2005: Pemeriksaan lanjutan atas saksi-saksi rekanan pengadaan logistik KPU berkaitan dengan pengelolaan dana oleh HA yang diakuinya sebagai dana taktis KPU yang bersumber dari pemberian rekanan-rekanan.
26 April 2005: SS dinyatakan sebagai tersangka dalam kasus penyuapan terhadap KS.
27 April 2005: Penyelidikan dugaan korupsi dalam proses pengadaan barang/jasa berupa asuransi.
28 April 2005: Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan Buku Panduan KPPS dan Buku Keputusan KPU.
2 Mei 2005: Pemeriksaan saksi-saksi, baik pejabat KPU maupun rekanan-rekanan, terkait dengan penerimaan dana oleh Hamdani dari rekanan-rekanan KPU.
3 Mei 2005: Penyelidikan dugaan korupsi dalam pengadaan logistik (kotak suara, surat suara, tinta sidik jari, teknologi informasi dan sampul surat suara) Pemilu 2004.
4 Mei 2005: Penyidikan dugaan korupsi dalam pengadaan logistik Pemilu 2004 dengan tersangka Hamdani dan kawan-kawan.
6 Mei 2005: Pemeriksaan-pemeriksaan terus berlanjut.

Sumber: KPK, BPK, Kompas

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Data Pribadi
1. Nama : Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang,
MM, SE
2. Tempat/Tgl. Lahir: Porsea, 12 September 1941
3. Jenis Kelamin : Pria
4. Status Kawin : Kawin, 1 Istri, 5 orang anak, 3 cucu
5. Alamat : Jl. Trimaran Indah I Blok J1 No.6.
Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
Telepon: (021)-5884256
6. Data Keluarga :
No Nama Hub. Keluarga Pekerjaan
1. Beffie Lanny Manullang Istri Ex. Director
2. Leonora C. Manullang Anak Consultant
3. Leonard S. Manullang Anak Ketua Yayasan
STIE – IBEK
4. Darius A. Satrianegara Anak Home Care Specialist-California
5. Rizal R. Manullang Anak Ex. Director
6. Yolanda P. Manullang Anak Marketing Executive
7. Pamela Abigail Febiola Laurent Cucu SD Kelas V
8. Briggita Laurencia Geovana Cucu 3 ½ tahun
9. Patricia Desire Lorenza Sabbathini Cucu 1 ½ tahun

B. I. Pendidikan Formal
Universitas Fakultas Lulus Tahun
Strata–1 IKIP–Medan –
Ek. Perusahaan Sosial 1970
Strata–1
Strata–2 STIE–IBEK Jakarta – Akuntansi
STIE–IBEK Jakarta – Keuangan Sarjana Akuntansi
Program MM 1994

1996
Strata–3 Univ. Persada
Indonesia YAI –
Manaj. Akuntansi Pasca Sarjana 2004

II. Riwayat Pendidikan
– 1948–1954: SR VI Pardamean
– 1954–1957: SMP Negeri Narumonda
– 1957–1960: SMA Advent d/h namanya North Sumatera Training School, Pematang Siantar
– 1960–1963: Perguruan Tinggi Advent Bandung, B.A. Accounting

- 1968–1970: – IKIP Medan
– BA. Pendidikan, Jurusan Ekonomi Perusahaan
– Drs. Pendidikan, Jurusan Ekonomi Perusahaan
– 1994:Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Institute Bisnis, Ekonomi dan Keuangan, Lulus Summa Cumlaude
-1996:Magister Manajemen, Konsentrasi Manajemen Keuangan–Institute Bisnis Ekonomi dan Keuangan, Lulus Summa Cumlaude
– 2004: Doktor Ekonomi–Minat Jalur Utama–Manajemen Akuntansi–Universitas Persada Indonesia/YAI, Sidang Terbuka tanggal 12 Mei 2004, Judicium Sangat Memuaskan

III. Faktor Penunjang – Dalam Negeri
1. Manggala Nasional, tahun 1986
2. Lulusan Lemhannas KRA XXIII, tahun 1990

Pengalaman
A. Riwayat Pekerjaan
– 1963–1968: Indonesian Union Corporation
– Firstly: Accounting Manager
– Secondly: Auditor
– Thirdly: Secretary/Treasurer

- 1970: U.S. Embassy, Jakarta,
Position: Procurement Analyst–USAID
– 1971: Auditor Arthur Young, Jakarta
– 1972–1973: I.C.I (Export), Position: Accountant
– 1972–1980: PT. Richardson–Merrel Indonesia
Position: – Firstly: Accounting Manager
– Secondly: Finacial Controller
– Thirdly: Finance Director
– 1980–1982: Widjojo Group
Position: Group Vice President Finance
– 1982–1984: Wirontono Group
Position: Group Vice President Finance
– 1985–Sekarang: PT. Artha Borindo Persada
Position: President Director
– 1987–1992: STIE – IBEK Ketua/Dosen
– 1993–2001: Dosen S–1 STIE–IBEK
– 2002–2004: Dosen Tetap Pascasarjana STIE–IBEK
– 2003–Sekarang:PT. IBEK Network–Business Intelegent Service
Position: President Director
– 2005 – Sekarang: Ketua STIE – IBEK/Guru Besar – Per SK. Mendiknas No. 48818/A2.7/KP/2005, tanggal 31 Agustus 2005, efektif tanggal 1 September 2005

B. Di Bidang Riset/Penelitian
1. The changing role of the controller

2. Krisis ekonomi dapat diatasi dengan menggunakan
pendekatan Grand Strategy
3. World monetary system
4. Inflation accounting dan beberapa pendekatan
serta implikasinya
5. Pemahaman Manager Keuangan terhadap Perbankan di Indonesia
6. Bank sebagai Agent of Trust dan Agent of Development
7. Leasing sebagai salah satu sumber pendanaan
8. Economic Value added (EVA) alternatif metode penilaian kinerja perusahaan
9. Kredit bermasalah
10. Motivasi sebagai sumber instrument mengkritik kinerja perusahaan
11. Mewaspadai pergeseran pradigma pembangunan ekonomi dan manajemen korupsi sebagai kendala pembangunan
12. Analisis Efisiensi Pasar Modal Indonesia menggunakan Multiple Event Sosial, Politik dan Ekonomi dalam bentuk Disertasi Doktor Ilmu Ekonomi

C. Di Bidang Pendidikan
I. Jakarta
1. 1972–1987 – Akademi Pariwisata Indonesia – Dosen
2. 1987–Sekarang – STIE IBEK, Dosen STIE–IBEK
3. 2005– Guru Besar dalam Ilmu Akuntansi–Kopertis III/STIE–IBEK
Pada tanggal 12 September 2005, Tim Penilaian Pusat untuk Guru Besar dalam rapat lengkapnya menyatakan Prof. Dr. Drs. Laurence A. Manullang, MM. SE telah memenuhi segala persyaratan menjadi Guru Besar dalam Ilmu Akuntansi. SK Pengangkatan No. 48818/A2.7/KP/2005 mulai tanggal 31 Agustus 2005, berlaku efektif tanggal 1 September 2005.

II. Bangka Belitung
1. Pendiri STIE IBEK, Bangka – Belitung, Program DIII, S1

D. Di Bidang Kemasyarakatan
1. 1970–1975: Sekretaris Pengurus Warga Perantauan yang berdomisili di Tomang
2. 1976–1977: Executive Secretary – Indonesia Financial Executive Institute (IFEI)
3. 1977–1978: Vice President – Indonesia Financial Executive
Institute (IFEI)
: Vice Chairman Membership Committee
International Association Financial Executive Institute
4. 1978–1980: President Indonesia Financial Executive Institute
: Chairman International Association of Financial
Executive Institutes (IAFEI) For ASSEAN
5. 1980–1983: Vice President of International Association of Financial Executives Institutes

6. 1984: Chairman for Planning Committee International
Association of Financial Executives Institutes
7. 1984–1988: Ketua IV Persatuan Sarjana Administrasi Indonesia (Persadi)
8. 1988–1994: Ketua IV Persadi Hubungan Luar Negeri
9. 1989–1993: Ketua Umum Gerakan Cendikiawan Swadiri Indonesia
10. 1989–Sekarang: Ketua Harian Keluarga Besar Keturunan Si Raja Oloan
11. 1994–1998: a). Ketua IV – Persadi
b). Wakil Ketua Umum Inkindo (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia)
c). Ketua Harian Yayasan Pengembangan SDM Kadin Pusat
12. 1998–2004: 1). Wakil Ketua Umum Persadi
2). Anggota Badan Pengkajian Strategis Inkindo
13. 1998–2001: Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Konsultan Pajak
14. 1998–Sekarang: Presiden People to People International
15. 2001–Sekarang: Ketua Umum Persatuan Marga Manullang se-Jabotabek
16. 2005 – 2009: Ketua II, PERSADI

E. Di Bidang Internasional
1. 1972 (Aug):Controller’s Conference di Singapore oleh Richardon Merrell, Inc
2. 1973 (April): Cost Accounting Conference di Manila oleh Richardson Merrell, Inc
3. 1973 (Aug): Budget Control Conference di Bangkok oleh Richardson Merrell, Inc (RMI)
4. 1974 (Mar): Financial Strategy Conference di Manila oleh RMI
5. 1975 (Aug): Financial Strategy di Rey Town – New York, untuk Divisi Asia Timur Jauh dan Latin American oleh Richardson Merrell, Inc
6. 1976 (Apr): Management By Objective – Rey Town, Hilton, New York (RMI)
7. 1976 (Oct): International Currency, Exposure Management – Kuala Lumpur oleh Richardson Merrell, Inc
8. 1977 (Mar): Management Information System – Honolulu, oleh Richardson – Merrell, Inc
9. 1977: Sebagai delegasi dari Indonesia pada World Congress International Association of Financial Executives Institutes, dipilih sebagai Vice Chairman of Membership Committee, Dublin, Irlandia
10. 1977 (Sept): Financial Disclosured Policies – Mexico (Richardson – Merrel, Inc)
11. 1978: Buiness Aires Argentina menjadi Keynote Speaker, Topik: How Indonesia Overcome Inflation Pressure from 635% to 10% pa, pada World Congress International Association of Financial Executive Institutes di Buiness Aires.
12. 1978 (Aug): Management By Objective di Rio de Jeneiro, RMI
13. 1978 (Sept): International Conference di New York oleh Richardson–Merrell, Inc, pulangnya di Argentina
14. 1979 (April): International Financial and Top Management Exposure di Honolulu oleh Richardson–Merrell, Inc
15. 1979:Sebagai Panelist di World Conference of International Association of Financial Executives Institutes, Atlanta
16. 1980:Sidney.Memimpin delegasi Indonesia pada International Association of Financial Executives Institutes dan terpilih menjadi Vice President untuk 1980 – 1983 dari ahli keuangan sedunia itu.
17. 1980 (Oct): Division Conference di Dominican Republic oleh Richardson – Merrell, Inc
18. 1981: Mexico memimpin delegasi Asia Pasifik ke Congress sedunia IAFEI
19. 1982: Madrid–Memimpin delegasi Asia Pasifik ke Spanyol dan berhasil memasukkan Ir. Suhartoyo Ketua BKPM sebagai Keynote Speaker memaparkan: Investment Opportunities in Indonesia. Kepergian beliau adalah atas usaha B.J. Habibie meminta izin Presiden RI.
20. 1983: Jakarta: Menyelenggarakan World Congress IAFEI di Jakarta. Berhasil mengumpulkan 385 eksekutif dari 6 benua. Pembicara seperti Henry Kissinger, William Miller, MenKeu AS, Paul McKracken – Chairman of Security Council AS Chairman Hoda, President Citibank, President Merryl Lynch. Juga tercatat sebagai keynote speaker seperti MenKeu, Menteri/Bappenas Chairman of BKPM. Congress ini dibuka oleh Wakil Presiden RI
21. 1984: Manila – Delegasi Indonesia menghadiri Professore Congress
22. 1986: 1). Kansas: Diundang menjadi pembicara dibeberapa Universitas di AS yang tergabung dalam American Leque of Colleges and Universities di AS. Dianugerahkan Doctor Honoraris Cause in Humen Letters oleh OTTAWA University.
2). Mengadakan penelitian dalam rangka Penelitian Kultur antar Bangsa ke Yunani, Roma, Belanda, Inggris, AS, Korea, Jepang, Phillipine.
23. 1989: Bangkok. Menyampaikan pidato pengukuhan Profesor dihadapan para cendikiawan di Bangkok, pada saat yang sama Prof. DR. Don Wilson, President Pittsburg State University, AS memberikan surat ketetapan menjadi visiting Professor perguruan tinggi bergengsi itu untuk negara bagian Kansas.
24. 1990: Manila – Mengadakan wisata studi ke Clark dan Cubic basis sebagai peserta KRA XXIII Lemhannas
25. 1990: Beijing: ikut rombongan Menteri PU mengadakan studi banding ke Beijing dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua Umum Inkindo
26. 1995: Sebagai delegasi Indonesia ke Konferensi Fidic International di Istanbul, Turky
1997: Sebagai delegasi Indonesia ke Konferensi Fidic International di Edinburg, Scotlandia.
27. 2002: Diundang sebagai pembicara tunggal di Arkansas, oleh warga AS yang berasal dari Indonesia, dimana topik pembicaraan adalah hasil penelitian kultur yang masih harus dilanjutkan, bahwa orang Batak itu bersama Bugis, Komering, Toraja, adalah satu garis keturunan Iberani dari anaknya Ishak, cucunya Esau yang mengadakan perkawinan dengan wanita Palistim (Palestina)
28. 2003:Menghadiri Asian Dr. Accounting Consortium di Seoul, Korea

F. Di bidang Organisasi Profesi
1. 1975–1980:Indonesian Financial Executive Institute (IFEI)
Position:- Firstly: Executive Secretary
– Secondly: Vice President
– Thirdly: President
2. 1977–1984: International Association of Financial Executive Institutes (IAFEI)
Position:
– 1977:Terpilih sebagai Vice Chairman Membership Committee di IAFEI World Congress Dublin, Irlandia
– 1978:Terpilih sebagai Main Speaker dalam IAFEI World Congress yang diselenggarakan di Buiness Airies, Argentina.
– 1979:Terpilih sebagai Chairman of IAFEI for Asean, pemilihan diadakan di World Congress di Atlanta
– 1980:Terpilih sebagai Vice President of International Assosiation of Financial Executive Institute (IAFEI) keputusan diambil dalam World Congress in Sidney
-1981: Memimpin Delegasi Asia Pasifik ke World Congress di Mexico
-1982: Memimpin delegasi Asia Pasifik ke World Congress di Madrid, Spain
-1983: Sebagai Principal dan World Congress of IAFEI di Jakarta.
-1984–1985:Sebagai Vice Chairman Planning Committee of IAFEI
3. 1988–1998:Persatuan Sarjana Administrasi Indonesia (PERSADI)
Position:Wakil Ketua Umum membidangi luar negeri
4. 1989–1992:SOKSI PUSAT
Position:- Ketua Litbang
– Ketua Umum GECSI (Gerakan Cendikiawan Swadiri Indonesia)
5. 1994–1999: Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO), Position: Wakil Ketua Umum Urusan Luar Negeri
6. 1998–Sekarang: Persatuan Administrasi Indonesia (PERSADI)
Position: Wakil Ketua Umum
7. 1999–Sekarang: Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO)
Position: Anggota Badan Strategis
8. 1996–1999: KADIN Indonesia Pusat
Position:Ketua Harian Yayasan Pengembangan SDM Kadin Pusat (dibantu oleh Suhely Kalla-Bukaka dalam daily operating activities)
9. 1997–Sekarang:People To People International, Honorary Chairman: George Bush
Position: President for Indonesia

G. Di bidang Organisasi Politik
1. Partai Republik: Position: Ketua I membidangi Ekuin
2. 17 Juni 1999: Mengundurkan diri sebagai pengurus sekaligus sebagai anggota
3. 5 April 2004:Direkrut Partai Patriot Pancasila sebagai Anggota Dewan Pakar dan Caleg melalui daerah pemilihan Bali – Tidak dapat Threeshold

H. Penghargaan yang pernah diterima
1. 1988: – Penyerahan kunci kota Colombia Kansas oleh Walikota atas jasa-jasa kemanusiaan
– Penyerahan kunci County Boone atas jasa-jasanya untuk kepentingan orang banyak
2. 1984: Bulang-bulang (Raja Adat) oleh keturunan Si Raja Oloan di Bakara, SRO adalah Eyang Raja Sisingamangaraja
3. 1997: Bulang-bulang (Raja Adat) oleh Clan Manullang di Bakara
4. 2003: The Best Participant, Asian Dr. Accounting Consortium di Seoul, Korea Selatan

I. Pengalaman lain-lain yang bermanfaat secara berarti bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan dan perdamaian
1. Aktif dalam dialog antara agama
2. Diundang sebagai pembicara dalam forum budaya agama
3. Memotivasi mahasiswa agar tetap menjaga kenetralan
4. Diundang oleh Kongres AS mengadakan doa syafaat bersamaan dengan Presiden AS, Wakil Presiden, para Senator bersama-sama dengan utusan negara-negara di dunia dengan latar belakang agama yang berbeda, seperti, Islam, Jews, Budha, Hindu, Kristen, Katholik, dll

Jakarta, 17 November 2005

Prof. DR. Drs. Laurence A. Manullang

 

About these ads

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) adalah seorang jurnalis. Saat ini Redaktur Pelaksana di tabloid REFORMATA. Telah terlibat menulis delapan (8) buku: Judul: (1) "Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal" (2) Sang Apostel Batak, Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen (3) Menyebarkan Virus Etos. (4) PAMIMPIN Nama Pemberian Tuhan (Biografi Edwin Pamimpin Situmorang, S.H, M.H, Jaksa Agung Muda Intelijen 2010-2012). Selain itu, dia juga penyumbang beberapa tulisan di buku diantaranya: buku (5) Ir Leo Nababan "Mahasiswa Pejuang, Pejuang Mahasiswa", buku (6) Si Murai dan Orang Gila. Editor buku (7) Sian Tano Parserahan Tu Bagas Parsadaan. (8) Editor buku "Karyaku Dicatat Sorga: Biografi Pdt Ev Renatus Siburian." Dan, beberapa buku akan terbit dalam waktu dekat. Mendirikan situs ini sejak Tahun 2008. Sebelumnya dimulai dari mengkliping profil-profil Tokoh Batak. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia kini bergelut di dunia penulisan biografi, siap dikontak. Pendiri CV Halibutongan Publishing, penerbit buku ini, bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau E_mail: astephen.hojotmarluga@gmail.com. E_mail: hojotmarluga78@gmail.com. Facebook: Hojot Marluga. Twitter: HojotMarluga2.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Ekonom. Tandai permalink.

4 Balasan ke Prof. DR. Drs. Laurence A. Manullang

  1. wilam berkata:

    Prof Dr..gelarnya, tapi CV nya sebagian ingris sebagian Indo, ngga yakin gelarnya ah

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s