Grace Siregar


Grace
Penggagas Galeri Tondi :Barometer Bagi Para Perupa Sumut.

Dilatarbelakangi keprihatinan senirupa di Sumatera utara yang sepi dan tidak berkembang, membuat Grace Siregar (39) ingin memiliki wadah bagi para perupa- perupa di Ibu Kota Medan itu, maka berdirilah Galeri Tondi yang diprakasai Wanita Batak ini bersama suaminya yang bermodalkan tekad.
Galeri yang berdiri 18 April 2006 ini adalah hasil usaha yang keras bagi Elfrieda Solacratia Hanna Siregar, yang merupakan nama baptisnya, bagaimana tidak. Ketika kepulangannya dari Tobelo, Maluku. Grace melihat dunia senirupa di Medan sangat sepi. Bahkan tertidur. Melihat kenyataan seperti ini, dan tanpa mengenal siapapun di kota tersebut, Grace bertekad mendirikan Galeri Tondi, yang mana Galeri ini didanai sendiri dengan menyisihkan ¼ gaji dari suaminya yang berprofesi sebagai sutradara film dokumenter.
Hasilnya, galeri yang kini sebagai barometer para seniman di Sumut ini berkembang dengan baik bahkan kegiatan di galeri inipun sudah cukup padat hingga 2009 nanti, Grace sendiri sudah semakin disibukkan dengan berbagai macam kegiatan yang ada di Galeri Tondi itu.

Sarjana hukum menjadi perupa
Wanita kelahiran 16 April 1968 ini, sudah belajar seni rupa sejak berusia 6 tahun. Saat itu dirinya mendapati ilmu senirupa dari seniman keliling, pak Ahmad. Jasa pak Ahmad bagi diri Grace mungkin cukup besar. Pasalnya, inilah awal tonggak Grace belajar mengenai senirupa khususnya melukis. “Saya belajar melukis dengan pak Ahmad selama 8 tahun” ujarnya.
Belajar senirupa 8 tahun membuat Grace berkeyakinan untuk memperdalam bidang ini, karena bagi dirinya inilah bidang yang ia ingini. Maka tak salah ketika ia lulus smu ia memilih untuk masuk perguruan tinggi yaitu IKJ, “Jadi dulu setelah saya lulus smu saya ingin kuliah di IKJ, bersamaan juga saya mengisi PMDK untuk masuk hukum” jelasnya mencoba mengingat masa lalu.
Namun semua itu hanya harapan semu bagi Grace untuk masuk ke perguruan tinggi yang Ia impikan, karena kedua orangtuanya tidak yakin akan masa depan anaknya hanya sebagai perupa. Dan Grace tidak ingin membantah kedua orangtuanya akhirnya ia mengambil sarjana hukum itu, tetapi ternyata keinginannya yang kuat tidak mampu membendung niat Grace untuk menjadi perupa, karena selama Ia kuliah dan akhirnya bekerja, Grace menabung untuk belajar senirupa di Amsterdam, Belanda.
Dengan uang yang ditabung selama 2 tahun saat bekerja, akhirnya Grace berhasil menginjakkan kakinya di negeri bunga tulip itu. Untuk semakin memperdalam ilmu yang dicintainya itu, Ia memilih Jan Van Stolk, seorang keramikus yang tinggal di Hosdeback dekat Unum perbatasan dengan Jerman. “Dia mengajarkan drawing tetapi, sebenarnya seorang keramikus, dia menghidupi keluarganya dengan keramik karya-karya yang luar biasa” ceritanya bangga mengenai gurunya itu.
Berkat tangan keramikus, Jan Van Stolk selama tiga tahun, akhirnya Grace menyelenggarakan pameran perdananya. “saya pameran tunggal di Amsterdam, itu pameran saya pertama yang serius sebagai perupa” tukasnya menjelaskan pengalamannya mungkin tidak akan dilupakannya
Untuk tema dalam karyanya, Grace selalu melihat apa yang ada disekitar kehidupannya, bukan tema yang bersifat imajinatif, namun suatu tema yang benar-benar terjadi secara nyata. “Saya Mengangkat apa yang terjadi di sekitar saya mengenai perdamaian, mendukung perdamaian juga masalah situasi kita secara umum, tetapi selalu berangkat dari diri saya jadi perasaan saya selalu diutamakan terhadap apa yang terjadi disekeliling saya” jelasnya.
Misalnya, kekagumannya akan Tokoh HAM, Munir yang menginspirasikannya untuk membuat karya sebagai bentuk kehormatan terhadap tokoh tersebut. “Pada saat seseorang melakukan hal yang berbeda dari orang lain secara kemanusiaan yah kepada orang lain itukan mendapat nilai yang sangat jujur terhadap kita sebagai perupa kehilangan Munir sama saja kehilangan satu tokoh di jaman kita tokoh kemanusiaan apakah saya sebagai perupa yah mungkin Munir tidak mengenal saya siapa saya juga baru lihat istrinya tapi gak kenal saya tapi sebagai rasa kemanusian saya tersentuh ada suatu penghormatan dari kita terhadap perjuangannya untuk kemanusiaan jadi makanya karya itu saya angkat” ungkapnya.
Semenjak itu, Grace tidak berhenti berkarya dan melakukan pameran bersama-sama dengan para seniman di Belanda. Dan hasil karyanya pun sudah banyak

Galeri Tondi
Kepulangannya ke Indonesia, 1998, ternyata semakin memantapkan niat Grace untuk menjadi seorang perupa. Kedatangannya ke Medan, 4 April 2006, sungguh mengagetkan dirinya, Grace melihat senirupa di Medan sangat jauh berbeda dengan apa yang dilihatnya di Jawa dan Bali. “saya melihat dunia senirupa di Medan secara khusus, dan Sumatra Utara secara umum, sangat sepi dan tertidur. Untuk ukuran sebagai propinsi no.3 terbesar di Indonesia, hal ini sangat mengagetkan saya sebagai seniman” jelas wanita yang menghabiskan masa kecilnya di Bangka Belitung ini.
Menurut Grace, nama Tondi merupakan bahasa batak yang berarti roh atau jiwa dimana diharapkan roh dan jiwa senirupa Sumatra Utara akan terus hidup dan berinovatif terus seperti galeri-galeri senirupa di Jawa dan Bali.
Galeri yang beralamatkan JL. Keladi Buntu No. 6 Medan. Merupakan suatu terobosan baru dan jawaban selama ini bagi perupa di Sumut. Karena adanya galeri ini para perupa-perupa tersebut bisa memamerkan karya mereka dengan leluasa tanpa di pungut biaya sedikitpun. “Tondi tidak memungut biaya apapun untuk bisa berpameran. Para seniman hanya berkosentrasi kepada karya-karya yang akan dipamerkan.” Tambahnya lagi.
Sejak itu, Tondi dijadwalkan pameran setiap harinya non-stop, dimana Tondi lebih mengutamakan para perupa-perupa Sumut dan juga diselingi dengan pameran-pameran di luar perupa Sumut.
Untuk kegiatan Tondi ini, bermacam-macam, pameran setiap bulan baik tunggal, duo, atau bergroup. Karya-karya yang dipamerkan adalah : Video instalasi, instalasi, lukis, patung, sketsa, fotografi, karya-karya bumi, komik/ karya-karya mangga, disain grafis, stensil, dll. Di pembukaan tidak ada pidato tetapi dibuka dengan karya-karya dari seni yang lainnya misalnya, tari-tarian (tradisional dan kontemporer), karya gerak tubuh, teater, pembacaan karya-karya sastra dan puisi batak (tradisional dan Kontemporer) maupun karya-karya-karya sastra dan puisi nasional lainnya oleh penulisnya, pembacaan monolog berbahasa batak maupun berbahasa indonesia, pertunjukan musik tradisional batak maupun kontemporer, pembukaan oleh group rapper batak, dan pertunjukkan band seni.
Hingga saat ini, kegiatan Tondi cukup padat hingga 2009. selain itu juga Grace disibukkan dengan mencari perupa-perupa muda yang berbakat. “Selain berkarya, saya juga mencari perupa-perupa muda didaerah-daerah yang berbakat tetapi tidak mempunyai kesempatan untuk memamerkan karya-karya mereka untuk masyarakat umum atau pencinta senirupa. Misalnya saya sudah pergi ke Tarutung, Sipoholon, Balige, Samosir, Parapat, Porsea, Brastagi, Kaban Jahe, Binjai, Dolok Sanggul, dan daerah-daerah disekitar Medan” ceritanya.
Karena Grace ingin Galeri Tondi yang dibangun olehnya, dapat terus berkembang bahkan setaraf seperti galeri-galeri seni lainnya yang berada di Jawa dan Bali. Bukan itu saja, Grace berharap para perupa-perupa Batak yang diluar Sumut dapat mengadakan pameran di kotanya sendiri.
“Saya juga ingin agar setiap perupa-perupa yang berasal dari tanah batak ataupun yang berasal dari Sumatra Utara yang tinggal diperantauan bisa pulang kampung berpameran di propinsinya sendiri, Sumatra Utara. Supaya masyarakatnya sendiri bisa menikmati karya-karya mereka langsung bukan hanya membaca dan melihat karya-karya mereka di media-media saja. Tondi siap melaksanakan pameran perupa-perupa yang merantau ini” harapannya.
Disinggung mengenai hambatan bagi perupa-perupa di Sumut, menurutnya hambatan yang dihadapi oleh para perupa-perupa itu adalah adalah kesempatan dimana kesempatan seharusnya diberikan kepada perupa-perupa dalam sama rata seimbang dan tentunya di sini Grace mengharapkan para perupa-perupa muda harus berinovatif dan karya-karyanya tidak abstrak melainkan konkrit dan nyata.

Tondi dan Keluarga
Kesibukannya di Tondi, lantas tak membuat Grace lupa akan keluarganya. Wanita yang menikah dengan sutradara film dokumeter yang berkebangsaan Inggris, Alexander Tristan Davey, pada 18 Agustus 1998,dan telah diangkat marga Sibarani ini lebih mementingkan keluarga diatas segala-galanya. Ditambah dengan kehadiran anak perempuan semata wayang, Rachel Anastasia Sibarani (7), yang membuat Grace harus mengorbankan tidak berkarya selama satu tahun.
“Kita harus mengorbankan siapa yang harus dikorbankan cara mengaturnya yah dengan cara bagi waktu antara anak saya dan kesenian saya, saya tidak berkarya sudah satu tahun dan tidak berpameran. Bagaimana kita berpameran pada saat kita mendirikan Tondi. Jadi konsentrasinya penuh sekali tak ada karya satupun” jelasnya.
Suaminya yang kini bekerja di NGO International World Vision ITR di Banda Aceh, tak menjadi hambatan bagi Grace untuk selalu mempunyai waktu kebersamaan dengan keluarga kecilnya itu, baginya untuk keluarga tak mengenal kata kompromi.
Kini, konsentrasinya hanyalah Tondi dan keluarganya, namun suatu keriduan untuk berpameran lagi masih menjadi harapan yang harus diwujudkannya. Karena cita-cita Grace untuk Sumut, dalam bidang senirupanya adalah, Sumut dapat menjadi kantong senirupa yang dapat diperhitungkan di Indonesia.
“Saya ingin Sumatra Utara menjadi kantong senirupa yang diperhitungkan di Indonesia dan didunia internasional. Langkahnya sudah tepat, yang penting berpameran terus dan tidak mengalami kevakuman lagi. Mudah-mudahan akan muncul galeri-galeri yang baru dengan berbagai warna dan bentuk di propinsi SUMUT ini” keinginan Grace. (Merryna Sitompul/ Thompson Hutasoit)

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) adalah seorang jurnalis. Saat ini Redaktur Pelaksana di tabloid REFORMATA. Telah terlibat menulis delapan (8) buku: Judul: (1) "Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal" (2) Sang Apostel Batak, Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen (3) Menyebarkan Virus Etos. (4) PAMIMPIN Nama Pemberian Tuhan (Biografi Edwin Pamimpin Situmorang, S.H, M.H, Jaksa Agung Muda Intelijen 2010-2012). Selain itu, dia juga penyumbang beberapa tulisan di buku diantaranya: buku (5) Ir Leo Nababan "Mahasiswa Pejuang, Pejuang Mahasiswa", buku (6) Si Murai dan Orang Gila. Editor buku (7) Sian Tano Parserahan Tu Bagas Parsadaan. (8) Editor buku "Karyaku Dicatat Sorga: Biografi Pdt Ev Renatus Siburian." Dan, beberapa buku akan terbit dalam waktu dekat. Mendirikan situs ini sejak Tahun 2008. Sebelumnya dimulai dari mengkliping profil-profil Tokoh Batak. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia kini bergelut di dunia penulisan biografi, siap dikontak. Pendiri CV Halibutongan Publishing, penerbit buku ini, bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau E_mail: astephen.hojotmarluga@gmail.com. E_mail: hojotmarluga78@gmail.com. Facebook: Hojot Marluga. Twitter: HojotMarluga2.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Seniman. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s