Saut Sirait


Saut Sirait: Khotbah Panjang dan Berani

oleh: Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Saut Hamonangan Sirait

Saut Hamonangan Sirait memang bukan selibritis, dan tidak suka entertainment, tetapi di dunia para aktivis sosok ini bukan muka baru. Dia semacam aktor yang selalu dicari wartawan untuk ditanyakan pendapatnya. Apa arti Saut Hamonangan Sirait? William Shakespeare mengatakan, “Apalah arti sebuah nama nama?” Tapi, apa salahnya sekedar bertanya. Barangkali nama memang punya arti. Paling tidak untuk yang memberikan atau yang memilikinya. Saut dalam bahasa Batak berarti “jadi” sedangkan Hamonangan adalah “orang yang selalu menang” dan Sirait adalah marganya.

Sejak masih bayi dia sudah ditempa oleh getirnya kehidupan. Saut kecil, tidak pernah merasakan dekapan seorang ayah, karena saat umur empat bulan, ayahnya meninggal. Praktis sejak kecil dia dididik seorang ibu beserta delapan kakak-kakaknya. Saut Sirait adalah anak siampudan atau anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara. Putra dari pasangan Constan Sirait dan Cornelia boru Marpaung.

Dia lahir di Paparean, Porsea, 24 April 1962. Disanalah dia dibesarkan hingga kelas tiga sekolah dasar. Lalu kelas empat SD hingga kelas dua SMA ditempuhnyanya di Pontianak. Dia ke Pontianak ikut sang Abang tertua yang adalah seorang jaksa yang bertugas di daerah tersebut. Kemudian, dari sana, dia pindah ke Tanjung Karang, Lampung, hingga lulus SMA.

Saut Sirait menikah dengan Agustina Veronica boru Silalahi yang sekarang berusia 35 tahun. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di organisasi Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saut aktivis dan duduk dalam kepengurusan organisasi tersebut. Dia didaulat sebagai senior oleh teman-temannya. Sedangkan Agustina adalah alumni Universitas Brawijaya, Malang, jurusan administrasi negara dan aktif dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Malang. Juga giat di PIKI.

Ada momen yang membahagiakan. Waktu itu, Agustinai menjadi anggota panitia dari pelaksana kongres PIKI. Tak dinyana, dari pertemuan pertama keduanya berteman, berpacaran hingga yang berakhir di pelaminan. Walau terpaut umur yang agak jauh, 13 tahun, tetapi kalau cinta sudah sor tidak ada yang bisa menghalangi. Keduanya sepakat menikah. Dari pernikahan mereka, Tuhan mengaruniakan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. si sulung, Saulina Hariarany Tabita boru Sirait, 8 tahun dan Sampurna Cavin Timoty Sirait, 7 tahun. Keduanya duduk di bangku sekolah dasar.

Sebenarnya, sejak kecil Saut bercita-cita menjadi seorang taruna Akabri. Namun, suratan tangan berkata lain, karena beberapa alasan yang berat hatinya untuk mengatakannya, dia kemudian mengurungkan niat itu dan mendaftar ke Sekolah Tinggi Teologia Jakarta.

Ketika masih duduk di SMA di Tanjung Karang, Saut aktif dalam kepemudaan gereja, dan terpilih menjadi wakil ketua pemuda HKBP Tanjung Karang. Dia juga aktif dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

“Sejak kecil saya bercita-cita masuk Akabri. Itulah sebabnya, sampai saat ini saya hafal pangkat-pangkat, dari perwira terendah hingga tertinggi. Saya sudah siapkan diri, tetapi karena satu hal, saya urungkan niat untuk masuk. Pendeta menjadi pilihan saya, karena sejak di Pontianak saya sudah aktif di gereja sebagai guru sekolah Minggu,” kata Saut mengenang.

Tidak jujur
Jiwa aktivis turun dari sang Abang, Pahotan Sirait, alumni Institut Pertanian Bogor. Pahotan adalah aktivis di tahun 1966. Maka, ketika menjadi mahasiswa, Saut tidak ketinggalan, dia aktif di senat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa STT Jakarta. Di luar kampus, dia jatuh-bangun sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Organisasi ini membuka pintu baginya untuk banyak bergaul dengan aktivis pemuda, seperti Anas Urbaningrum dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Anas ketika itu adalah ketua HMI. Saat ini dia duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Saut kemudian aktif di organisasi gereja, di bawah sayap PGI, sebagai Sekretaris Pokja Pemuda PGI. Pernah pula menjadi Ketua Panitia Nasional Perkemahan Kerja Pemuda PGI (1985-1990). Lalu, Ketua DPP Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), dan DPP Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saat ini dia adalah Sekretaris Ikatan Alumni STT Jakarta.

Untuk apa dia banyak berkecimpung dalam begitu banyak organisasi? Menurut dia, kemajemukan harus juga dipahami sebagai ruang untuk pelbagai kelompok-kelompok, baik itu didasarkan etnis, pola kebudayaan, dan agama. Dari banyak interaksi itulah sikap kritis seseorang dipertajam. Keberbagaian merupakan kenyataan yang harus diterima dan sikap saling-menerima harus dipupuk. Maka, organisasi itu, katanya, adalah jembatan untuk mengenal orang lain.

Saut ikut menjadi salah satu pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) yang terdiri dari 13 organisasi massa pemuda dan mahasiswa. Tahun 1996, dia termasuk salah satu deklarator Komite Independen Pemantau Pemilu bersama-sama Nurcholis Madjid, Goenawan Muhammad, Mulyana Kusumah, Budiman Sudjatmiko.

Tahun 2004-2009, dia aktif dalam Forum Peduli Nusantara. Waktu itu dia diserahi tanggungjawab untuk duduk dalam Presidium dan Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tahun 2002-2007, dia menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Komaruddin Hidayat yang duduk sebagai ketua. Di Panwaslu, Saut bersikap tegas. Dia mengatakan tidak akan berkompromi dengan para pelanggar aturan pemilu. Dan tidak takut melaporkan tindakan politik yang tidak jujur yang dilakukan oleh partai dalam kampaye maupun kaitannya dalam pemilu.

Saat sekarang ini, Saut adalah Ketua DPP Partisipasi Kristen Indonesia, yang disingkat Parkindo. Sudah dua periode dia memangku jabatan itu. “Bagi sebagian orang, Parkindo adalah partai. Ada yang menyebutnya sebagai sayap PDI-Perjuangan, karena pernah dipimpin Sabam Sirait yang notabene adalah fungsionaris PDI-Perjuangan. Padahal, tidak ada hubungannya sama sekali. Parkindo bukan partai,” ujarnya Saut saat menerima TAPIAN di kantor Parkindo, di Jalan Matraman 10, Jakarta, baru-baru ini.

Tahun 1992, Saut ditahbiskan menjadi pendeta Huria Kristen Batak Protestan. Di masa itu, gereja yang terbesar di Asia Tenggara tersebut sedang “ribut.” Dia pun tidak pasif, karena kedudukannya sebagai Direktur Departemen Pemuda di HKBP selama 5 tahun, sejak tahun 1991-1996. Departemen pemuda ini semacam Ansor di Nahdatul Ulama.

Mengapa terjun ke dunia LSM? Tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi, begitu jawabnya. “Pemahaman yang menganggap bahwa ruang duniawi harus dipisahkan dengan yang surgawi adalah salah. Pendeta mengurusi surga sementara aktivis mengurusi dunia. Ini seolah-olah tidak ada hubungan, padahal keduanya saling-tergantung.”

Ketidak-adilan merajalela
Saut menambahkan, tidak mungkin ada roh tanpa pewadahan dalam bentuk tubuh. Dan tidak ada gunanya surga jika tidak ada realitas dunia. Itulah yang disebut interdependesi atau saling-ketergantungan. Pertautan antara hal-hal yang bersifat dunia dan yang bersifat rohani. Itu sama sekali tidak boleh dipisah, katanya.

“Kasus KPK dan Polri sekarang ini menunjukkan kemunafikan kita. Semua mengatakan demi Allah. Tempat-tempat peribahan kita, seperti gereja, masjid, wihara, klenteng semua penuh. Semua dengan antusiasme memuliakan agama dari luar. Tetapi, kenyataanya korupsi dan ketidak-adilan merajalela. Yang salah adalah Senin sampai Sabtu menjadi aktivis, lalu Minggu menjadi pendeta. Keduanya harus jalan bersama. Misalnya, Yesus tidak pernah memisahkan dirinya dengan dunia. Dia datang ke dunia ‘Allah yang menjadi manusia.’ Dia yang terbaik yang disebut reinkarnasi yang masuk ke lorong-lorong kehidupan. Jadi tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi,” kata Saut.

Sang pendeta sekaligus aktivis ini pernah ditembak, tetapi tidak kena. Tidak jera pula, malah makin berani. Menurutnya, sebagai aktivis sudah biasa mengadapi hal demikian. Dipukul, ditangkap, bahkan dipenjara sekali pun adalah hidupnya para aktivis. Maka, kalah adalah juga hidupnya. Sementara menang hanyalah bonus. Jadi mengapa harus takut? Begitu dia bertanya tanpa mengharapkan jawab.

Ada satu peristiwa yang membuat Saut tidak lagi takut menghadapi apa pun, kematian pun tidak. Masa HKBP bergejolak, Saut bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengatur gereja dengan mengangkat seorang “ephorus” puncuk pimpinan tertinggi di HKBP, hanya dengan Surat Keputusan dari Kodam Bukit Barisan. Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun, dari tahun 1992-1998.

Sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP ketika itu, Saut mendeklarasikan perlawanan, dengan mendukung orang yang dizolimi dan terlibat langsung dalam gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). Inilah awal Saut menelusuri lorong-lorong kegelapan HKBP dan sampai pada kesimpulan bahwa pemerintahlah yang mengintervensi HKBP.

“Pemicu utama saya untuk terjun menjadi aktivis adalah ketika kasus seorang panglima Kodam Bukit Barisan mengangkat ’ephorus’ pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui sk-nya. Dari situ mata saya terbelalak melihat betapa selama ini rezim otoriter telah menina-bobokan rakyat, ” ujar pendeta yang menghabiskan masa kecilnya di wilayah pemukiman di lembah Bukit Barisan.

Tahun 1993, masa genting yang dialami HKBP, jemaat yang menentang intervensi pemerintah mendirikan parlape-lapean, semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah. Pada waktu itu Setia Sampai Akhir (SSA) mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Narumonda, Kabupaten Toba-Samosir, yang dihadiri ephorus Dr. SAE Nababan yang diakui SSA.

Saut menggerakkan seluruh “ruas” atau jemaat dari Tarutung, Humbang, Siborongborong, Sigumpar, Laguboti, hingga ke Balige. Di tengah jalan, di Sitoluama, daerah Laguboti, Saut berserta para peserta KKR, dihadang oleh Brimob yang muncul dengan memegang senjata api laras panjang.

Membangkang terhadap penghadangan, Saut memimpin warga untuk melawan. Maka terjadi huru-hara antara Brimob dan ruas SSA. Saut ditembak dari jarak enam meter, tetapi tidak kena. Lalu, dikeroyok sembilan anggota Brimob hingga babak belur, mukanya memar.

“Kejadian itu membuat saya tiba pada titik kulminasi, tidak ada lagi rasa takut. Perasaan takut sudah putus. Saya punya kesimpulan, jika Tuhan izinkan saya ditanggkap atau dipukuli, itu artinya Tuhan memberikan kemampuan kepada saya untuk mengalami semua itu. Tetapi, kalau saya lolos, saya tidak tertembak, itu juga rencana Tuhan,” katanya mencurahkan perasaannya seperti sedang berkhotbah.

Empek-empek Megaria
Sebagai seorang pendeta yang tahu dan merasakan betul dampak yang timbul dari krisis HKBP itu, Saut pun tidak mau berlama-lama pada ketidaknyamanan itu. Dia tampil menjadi salah seorang rekonsiliator.

Saut menjadi Sekretaris Tim Rekonsiliasi Konflik HKBP. Pada akhirnya, tahun 1998, terpilihlah Dr. Jr. Hutauruk sebagai ephorus (1998-2004) yang oleh “Sinode Godang Rekonsiliasi.” Dan inilah akhir dari sejarah kelam HKBP.

Ada lagi cerita yang tak kalah seru. Oleh aktivitasnya di bidang politik, Saut menjadi orang yang masuk daftar merah, daftar pencarian orang (DPO). Tahun 1999, dua truk tentara menyisir seluruh bangunan STT Jakarta, kampus yang membesarkannya sebagai manusia. Ketika itu, Saut mengambil gelar master dalam etika politik. Saut lapar luar biasa. Dia kemudian keluar kampus, pergi mencari empek-empek kesukaannya semasa di Tanjung Karang, terletak di bioskop Megaria, dekat kampusnya.

Setelah melangkah keluar dari bendul kampusnya, dua truk tentara datang mau menangkap Saut yang sudah lama mereka cari. Tak ditemukan. Maka, dosen, staf, dan mahasiswa pun diintrogasi. Yang dicari tidak ada. Akhirnya tentara “mulak balging,” pulang tanpa hasil.

Begitu tentara keluar dari lingkungan kampus, tak berapa lama kemudian, Saut pun kembali tanpa kekurangan satu apa pun. Begitu memasuki pintu kampus, dia melihat semua penghuni kampus keluar. Saut malah bertanya, ada apa? Inilah jalan Tuhan. Semua yang menyaksikan kejadian itu seakan tidak percaya.

Menurut Saut banyak orang yang telah membentuk dan memberikan kekuatan kepadanya dalam berjuang, terutama sahabat-sahabatnya. Dari persahabatan itu dia banyak mengenal manusia. Di antara banyak orang yang memberikan semangat, ada satu sosok yang sangat mempengaruhinya: Moxa Nadeak. Moxa dia kenal semasa aktif di GMKI dan GAMKI. Moxa adalah seniornya di dua organisasi ini. Baginya, Moxa adalah sahabat sekaligus abang, kalau tidak bisa dibilang bapak penganti.

“Dia sudah almarhum. Dialah seorang sahabat. Lebih dari abang kandung saya. Satu yang tidak pernah saya lupakan nasihatnya, kesederhanaan dan idealisme. Kelebihannya adalah keteguhannya dalam prinsip. Dia ditawarkan wakil pemimpin redaksi ’Suara Pembaruan’ ketika muncul kasus ’Sinar Harapan.’ Tetapi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, Moxa tidak menerima tawaran itu.

Menurut dia, Moxa merasa ”Lebih baik saya menjadi seorang reporter asal koran ini dibaca pengambil keputusan di negeri ini, ketimbang saya menjadi wapemred, tetapi koran ini tidak bisa memberikan pengaruh untuk negeri ini.” Jadi, menurut Saut, dari dialah dia belajar mengenai prinsip. Moxa Henry Nadeak meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Senin, 24 Mei 1999.

Sebagaimana mottonya sebagai aktivis, “Kekalahan adalah bagian hidup, sementara kemenangan adalah bonus,” maka Saut mencoba “ruang-ruang” baru yang bisa memberikan kontribusi pada masyarakat luas. Misalnya, ikut mencalonkan diri waktu pemilihan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode tahun 2007-2012. Saut mendaftar.

Namun kalah suara. Dia hanya di peringkat delapan, sedangkan anggota KPU hanya tujuh orang. Demikian juga pada pemilu lalu, Saut maju dalam pemilihan DPD DKI dengan nomor urut 36. Namun, gagal, tidak mendapat suara yang berarti untuk bisa menjadi Dewan Perwakilan Daerah dari pemilihan Jakarta Timur.

Walupun dia terjun ke politik, tetapi ikut partai tidak cocok bagi Saut. Lebih cocok independen. Memang, pernah ikut mendirikan partai PUDI bersama 13 tokoh, namun menurut Saut, ketika dibentuk, PUDI bukan partai yang disiapkan berjuang dalam pemilu. Tetapi, dia didirikan untuk menjatuhkan rezim berkuasa Suharto. Sesudah Suharto tumbang, seharusnya PUDI bubar, dan 12 tokoh sepakat partai tersebut membubarkan diri. Tapi, Sri Bintang Pamungkas, salah satu pendiri PUDI, berkehendak lain. Dia mendirikan PUDI sebagai partai politik yang ingin bertarung dalam pemilu. Hasilnya, semua orang ingat, tidak lolos di KPU.

Apakah gereja bisa berpolitik? Warga gerejalah yang berpolitik. Menurut Saut, harus ada keseimbangan. Ada relevansi nilai-nilai yang dianut dalam agama. “Gereja terlalu lama dalam zona abu-abu. Ada yang menyebut ‘gereja ya gereja, politik ya politik.’ Gereja harus terlibat dalam politik, tetapi mempersiapkan jemaatnya. Organisasi gereja tidak boleh berpolitik apalagi mendirikan partai.” Tegas seperti batu dia berpendirian itu.

Tambahnya lagi, selama gereja apolitis dan umatnya yang apolitis, kita tidak menjadi garam. Gereja memiliki tanggung-jawab politik. Kalau politik menindas dan merusak masyarakat, gereja harus melawan. Jika belajar sejarah gereja, seorang pendeta juga pernah menjadi seorang perdana menteri Belanda (1901-1905), Abraham Kuyper, lulusan sekolah teologia dan seorang pendeta. Sebelumnya, ada juga Jhon Calvin, dia presiden Swiss. Dia menjadikan aparatus gereja, dan juga aparat negara.

Untuk mengasah jiwa kepemimpinannya, Saut mengecap berbagai pengalaman, salah satunya partnership consultation di Dusseldorf pada tahun 1995, pelatihan monitoring pemilu di Bangkok (1996), pemantauan pemilu di Kamboja (1998), serta koordinator KIPP untuk pemantauan jajak pendapat Timor Timur (1999).

Kini, selain pendeta di HKBP Bandung, Saut juga menjadi narasumber pendidikan politik organisasi gereja di PGI. Tahun 1999, dia memperoleh gelar magister teologia di bidang etika politik dari STT Jakarta. Tesisnya tentang politik gereja dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku, diberi judul Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis 21. Buku ini dianggap sebagai buku refrensi untuk memahami politik Kristen di Indonesia.

Almarhum Eka Darmaputera, guru dan seniornya, dalam kata sambutannya untuk buku itu menyebut Saut Sirait berbeda dari dari aktivis kebanyakan. “Saudara Saut Sirait berbeda. Dia mengambil rute yang sebaliknya……Dia mengawali karirnya dari dunia pergerakan, baru kemudianlah dia melanjutkan studi, sampai meraih gelah Strata Dua. Ia, berbeda dengan yang lain, agaknya ingin memberikan pondasi teoritis yang lebih teguh bagi kegiatan-kegiatan perjuangan……Ia tidak mau ternggelam dalam kekenesan akademis, tetapi sebaliknya juga tidak mau terjerat oleh kesibukan aktivisme semata.” *** Hotman J. Lumban Gaol

About these ads

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) adalah seorang jurnalis. Saat ini Redaktur Pelaksana di tabloid REFORMATA. Telah terlibat menulis delapan (8) buku: Judul: (1) "Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal" (2) Sang Apostel Batak, Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen (3) Menyebarkan Virus Etos. (4) PAMIMPIN Nama Pemberian Tuhan (Biografi Edwin Pamimpin Situmorang, S.H, M.H, Jaksa Agung Muda Intelijen 2010-2012). Selain itu, dia juga penyumbang beberapa tulisan di buku diantaranya: buku (5) Ir Leo Nababan "Mahasiswa Pejuang, Pejuang Mahasiswa", buku (6) Si Murai dan Orang Gila. Editor buku (7) Sian Tano Parserahan Tu Bagas Parsadaan. (8) Editor buku "Karyaku Dicatat Sorga: Biografi Pdt Ev Renatus Siburian." Dan, beberapa buku akan terbit dalam waktu dekat. Mendirikan situs ini sejak Tahun 2008. Sebelumnya dimulai dari mengkliping profil-profil Tokoh Batak. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia kini bergelut di dunia penulisan biografi, siap dikontak. Pendiri CV Halibutongan Publishing, penerbit buku ini, bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau E_mail: astephen.hojotmarluga@gmail.com. E_mail: hojotmarluga78@gmail.com. Facebook: Hojot Marluga. Twitter: HojotMarluga2.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Agamawan, Politikus. Tandai permalink.

2 Balasan ke Saut Sirait

  1. Lambok sirait berkata:

    Doa adalah kuncinya pak tua.

  2. steven mc tobe berkata:

    horasan di hamuna da…………….sehat selalu……lagian didia ma nuaeng melayani……………..nga tumigon mulak tu kantor pusat………………membidangi biro budaya dan kemasyarakatan……..untuk mempersiapkan generasi muda warga HKBP di segala aspek berbangsa dan bernegara……………by st mismis (082174051962),syaloom-amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s