J.P. Sitanggang


J.P. Sitanggang: Raja Na Pogos si Parlente

J P Sitanggang

Dalam sebuah kitab suci ada ungkapan “manusia menajamkan manusia.” Sesungguhnya ungkapan itu bisa diartikan manusia belajar dari manusia yang lain. Orang yang sedang berjuang patut mencontoh mereka yang telah berhasil menggapai impianya. J.P. Sitanggang, sosok orang Batak yang telah berhasil dan layak menjadi inspirasi bagi generasi muda Batak.
Nama aslinya adalah Jan Piter Sitanggang. Dia turunan Raja Sitanggang Bau. Nenek moyangnya salah satu raja ihutan, raja yang diangkat Belanda sebagai raja yang diakui huta-huta kala itu di Samosir. Dia lahir 10 Oktober 1938, di kaki Pusuk Buhit di kampung Tiga Urat Buhit, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir dari pasangan Karel Sitangggang dan Sorta Hutauruk.

Hidup memang terkadang bisa kita pilih, namun jalan hidup seseorang tidak ada yang tahu. Demikian juga dengan J.P. Sitanggang. Ketika masih belia, umur 7 tahun, sosok kita ini sudah ditinggal bapaknya, Karel. Namun, kedudukannya sebagai anak yatim tidak membuat hubungannya dengan keluarga jadi patah arang. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dan hanya laki-laki satu-satunya, J.P. Sitanggang muda terus membantu ibunya, sibaso, bidan beranak di desanya. Dia tidak hanya dilahirkan tetapi juga dibentuk oleh tangan ibunya itu, tanpa mengenal ayah.

Dia dikenal sebagai orang yang gigih dengan etos kerja keras untuk mengubah kemiskinan menjadi dunia baru yang lebih nyaman. Pangkal perjalanan hidupnya dimulai ketika berkujung ke Donggala. Di tengah jalan dia berpapasan dengan sebuah pick-up. Di kaca depan mobil itu tertulis “Ala Ni Pogos”dengan huruf besar-besar sehingga seluruh sisi kaca tertutup tulisan. J.P. Sitanggang merenung seketika dan di dalam hati dia berkata bahwa pastilah pemilik mobil itu seorang pengusaha Batak dan sudah berhasil di Donggala. Kejadian itu menjadi sumber ilham bagi J.P. Sitanggang untuk berjuang mengubah hidupnya, dan ketika berhasil, dia menuliskannya dalam sebuah otobiogarafi berjudul “Ala ni Pogos.” Istrinya, Runggu boru Naibaho (seorang guru sekolah kepandaian putri SKP di Pangururan), menyarakan suaminya itu untuk mengganti judul itu menjadi Raja Na Pogos, karena konon ketika mahasiswa dia selalu dipanggil Raja Na Pogos, karena penampilannya yang selalu parlente.

Maka terbitlah buku riwayat hidupnya dengan judul Raja Na Pogos dan diterbitkan oleh Jala Permata Aksara. Dalam buku yang dikatakan sebagai biografi itu, J.P. Sitanggang banyak pula membahas budaya Batak, sedangkan tentang dirinya hanya beberapa halaman. Jadi, lebih terasa sebagai buku tentang adat Batak daripada riwayat hidup si Raja Na Pogos. Walau uraiannya tentang adat diakui banyak orang sangat terang-benderang.

Beberapa waktu lalu, buku itu diluncurkan berbarengan dengan seminar budaya Batak. Keren juga. Malamnya, acara itu disiarkan sebuah stasiun TV, juga RRI.

Ketika masih mahasiswa dia bukan orang yang tebal kantongnya. Tetapi, penampilan selalu keren, pakaiannya rapi. Walau celana hanya dua, tetapi terbuat dari bahan yang tahan lama dan tidak susah dicuci. Semua itu dia lakukan untuk menutupi kemiskinannya, menjaga imej, kata orang zaman sekarang, sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universiras Sumatera Utara.

Tahun 1960- an, JP Sitanggang sudah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Sumatera Utara, sudah merupakan keharusan untuk ikut memplonco calon mahasiswa baru. Masa itu, JP Sitanggang membuat heboh, karena putri gubernur Sumatera Utara yang sedang plonco, dia berinya nama “Si Mahal Boras” atau si mahal beras. Intinya semacam kritik, kebetulan waktu itu semua kebutuhan hidup selain sulit diperoleh dan harganya juga pasti mahal. Si Mahal Boras menjadi brand kritik terhadap pemerintah, termasuk kepada sang gubernur ayah dari si empunya nama. Oleh keisengan JP Sitanggang dia menjadi terkenal di kampusnya. Dan lulus menjadi insiniyur pertanian dari Fakultas Pertanian Sumatera Utara.

Untuk mengujudkan mimpi-mimpinya Sitanggang tidak surut langkah, dia berani terus mengibarkan layar masa depannya, sekali layar sudah dikibar pantang baginya untuk disurutkan. Sedecing jalan ke muka, setepak jalan ke belakang, demikianlah Sitanggang menghibur diri untuk terus berjuang.

Tahun 1965, dia memulai karier di PNP Aneka Tanam V (Antan) milik pemerintah sebagai pegawai biasa dengan golongan F2, di perusahaan milik negara ini JP Sitanggang ditempatkan di Kebun Tinjowan untuk menangani serangan hama ulat api, masa itu hanya dilakukan pemberantasannya dengan debu, sehingga harus dilakukan malam hari hingga pagi hari dimana embun sudah melekat di daun debu insektisida dapat melekat. Puncak karienya, tahun 1983, di PT PN II, JP Sitanggang sudah menjadi direktur produksi II (PTP II sejak 1996 bergabung dengan PTP IX menjadi PTPN II ) Tanjung Merawa.
Pergaulannya yang luwes, bisa bergaul dengan siapa saja. Dekat dengan siapa saja, termasuk dengan Probosutedjo, adek tiri mantan presiden Soeharto. Probosutedjo dikenal seorang guru pertama di Pematang Siantar dikemudian hari menjadi pengusaha terkenal, salah satu lembaga pendidikan yang didirikannya adalah Universitas Mercuabuana.

Ketika itu sudah masuk dalam lingkaran pejabat di perkebunan negara, dia bergabung dalam persatuan karyawan perusahaan perkebunan (PERKAPPEN) dan merupakan bagian dari sentral organisasi karyawan swadiri Indonesia (SOKSI). SOKSI sendiri kita tahu adalah sayap partai Golkar. Masuknya ke lingkungan Golkar juga bukan tanpa dasar, dia diajak temannya Probosutedjo. Awalnya saat kampanye, salah satu lapangan pasti dekat pabriknya PT. Kedaung di Tanjung Morawa, milik Probosutedjo. Setelah meninjau proses pembuatan piring gelas pabrik, para tokoh dan juru kampanye jalan kaki dari pabrik ke lapangan sekitar seratusan meter di seberangnya, dan disinilah JP Sitanggang selalu ikut mengiringi pejabat juru kampaye Golkar. Waktu itu dia sudah direktur produksi, tetapi ambisi untuk mencapai direktur utama tidak dia manfaatkan kedekatannya dengan kekuasaan.

Dia adalah orang punya karakter. Sebagai direktur perkebunan milik Negara, JP Sitanggang tentu hidup dan ekonominya diatas rata-rata, artinya bisa tergolong mewah. Tetapi kesan kesederhanaan itu terus menonjol. Tidak pernah merepotkan anak buah, terkesan sederhana. Dan itulah yang membuat dia banyak diterima masyarakat perkebunan. Semua pekerjaan butuh agenda dan prioritas, konsentrasi yang penuh etos tidak boleh dilupakan. Mengerjakan yang utama dari hal yang tidak terlalu penting.

Karena menurutnya, banyak pekerjaan terbengkalai karena sebagian orang memikirkan masalah yang remeh-temeh. Seringkali tidak ada prioritas kerja, sehingga terlihat mengerjakan sesuatu tanpa hasil. Sibuk tetapi tanpa hasil. Jika tidak ada konsentrasi, maka ketika ada “masalah” membuat permasalahan makin tali-temali. Untuk itu, perlu kemampuan “strategi atau konsep,” mencari benang kusut, untuk menyelesaikan masalah. Dan itu dibutuhkan komitmen yang kuat.
Dia mencontohkan, untuk berbagai kegiatan dan acara dalam masyarakat Batak, terpaksa dimajukan jamnya untuk mencoba agar bisa tepat waktu. Misalnya disebutkan, acara yang diadakan pukul 13.00. Dalam undangan, terpaksa ditulis pukul 12.00. “Ini namanya pembodohan,” katanya.

Selain itu, Sitanggang dalam kehidupan sehari-hari tak luput dari kegiatan budaya dan adat Batak. Baginya, nilai-nilai yang dikandung dalam kekerabatan masyarakat Batak melalui Dalihan na Tolu mempunyai makna yang cukup dalam bila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Bukan hanya itu saja, bila nilai-nilai Dalihan na Tolu diterapkan dalam segala hal, baik dalam pemerintahan, kehidupan sehari-hari, maka kontrol dalam diri masing-masing akan berjalan. Jadi tidak ada lagi saling merasa paling hebat,” katanya.

Selain itu, kemampuan JP Sitanggang untuk mengaktualisasikan pesan kepada seluruh jajaran organisasi secara bertingkat merupakan kebutuhan yang harus dimiliki seorang pemimpin, dan itu ada pada sosoknya. Dia mampu, mengasah kepekaan dan kesabaran untuk mampu mendengarkan, bukan sekedar mendengar pendapat, persepsi dan keluh kesah bawahan tanpa hirau dari mana gagasan itu datang.

Salah satu dimensi lain yang membuat JP Sitanggang bisa diterima semua level, tertinggi hingga terrendah di perkebunan. Dimensi lagi yang dekat dengan personifikasi beliau adalah keberanian mengambil keputusan bisnis yang dinyakininya benar, meskipun belum tentu lingkungan perusahaan memahaminya secara utuh. Dia memang tipe pemimpin yang berani, mengambil risiko tidak populer jika hal itu dinyakininya merupakan keputusan yang benar. Dan, bertanggung-jawab tanpa keraguan sedikitpun atas keputusannya.

“Beliau selalu memberikan inspirasi dan dorongan kepada seluruh jajaran organisasi di PT. Perkebunan II Tanjung Morawa untuk selalu memperbaiki cara berpikir dan bertindak, serta memiliki komitmen yang kuat bagi organisasi perusahaan. Motivasi tersebut terbentuk melalui sosok beliau sebagai seorang pemimpin yang mampu menciptakan diri sebagai tokoh panutan, role-mode yang patut dicontoh, yang perilaku kepemimpinannya pantas menjadi pedoman (patterns of behavior). Pak JP Sitanggang berpikiran maju dan semangat appreciated terhadap generasi muda. Menjadikan bawahannya sebagai teman, tanpa memandang pangkat jabatan dan asal-usul,” ujar Dahlan Harahap, salah seorang rekan kerja dan stafnya.
“Dia berdiri teguh, penuh dengan petuah, etika dengan moral serta berserah kepada Tuhan dan tidak memegahkan diri,” ujar Bachtiar Sitanggang, mantan wartawan Suara Pembaruan, dalam kesan-dan-pesannya pada buku otobiografi JP Siatanggang.

Mendirikan Konsultan

Memang, seyogyanya seorang pemimpin (pejabat) tidak semata dilihat dan dinilai dari kecerdasanya gagasan yang dikemukakanya. Namun, yang terpenting adalah keberanian mengimplentasikannya tanpa keraguan. Terkadang dalam organisasi yang besar, cara pandang dan langkah-langkah harus diperjuangkan untuk mampu dipahami oleh kolega dan pemangku kepentingan. Dan hal itu tidaklah mudah, Sitanggang berani mengambil resiko meskipun mempertaruhkan reputasinya sebagai pimpinan.

Sesak memulai kariernya, dia bekerja di perkebunan negara. Tekadnya yang sangat kuat untuk menjadi orang sukses membawanya pada jabatan tertinggi, menjabat sebagai salah satu direktur di perkebunan tersebut. “Bila tanpa kegigihan tidak ada keberhasilan. Komitmen dengan terus berfokus pada tujuanlah yang membuat sesorang bisa berhasil,” pesan ompung delapan cucu ini dalam mengarungi kehidupannya.

Memang, semangat kerja itulah yang ditularkan pada keturunannya. Salah satu dasar bekerja yang selalu diterapkan hingga saat ini adalah disiplin dan kerja keras. “Bekerja adalah panggilan, maka sejak aku pensiun bekerja adalah bagian aktualisasi diri yang harus saya tunjukkan sebagai teladan untuk diperlihatkan pada anak-anak dan cucu. Itu sebabnya sejak pensiun saya bekerja sebagai konsultan perkebunan, itu yang selalu saya terapkan,” ceritanya.

Kini, gelar “raja Napogos” melekat pada pria tinggi besar. Baginya mengandung makna dan filosofi yang sangat berkesan bukan hanya sekedar sebutan tanpa kesan dan arti. “Bagi saya, hidup ini harus dinamis. Kemiskinan tidak boleh menyurutkan langkah kita untuk terus berusaha. Kemiskinan bukan nasib, tetapi keadaan dan keadaan itu bisa dirubah asal bisa untuk berusaha dan bekerja keras,” ujar pada penulis.

Tahun 1998, dia pensiun sebagai pejabat di PTPN II sebagai direktur produksi, saat itu umurnya sudah 60 tahun. Secara materi JP Sitanggang tidaklah kekurangan tetapi karena semangat kerja dan tidak ingin menganggur di masa pesiun-nya dia kemudian mendirikan lembaga konsultan. Perusahaan yang pertama mengunakan jasa konsultan lembaga ini adalah perusahaan perkebunan Astra Agro Lestrai Tbk, di mana perusahaan meminta pada lembaga tersebut memberikan pelatihan In House Traning (IHT).

Sebagai seorang konsultan baginya, disiplin membuat seseorang akan lebih bermakna dalam hidup dan mampu meraih sukses. “Persoalannya penerapan disiplin ini dalam segala lini sangat kurang sekarang ini, terutama di kalangan masyarakat Batak. Sebab ada istilah gira tudia dalam masyarakat Batak,” tambahnya lagi. “Secara faktual, orang yang menghadapi persoalan berat, atau menghadapi tekanan. Baik karena tekanan pekerjaan atau masalah apapun. Dalam keadaan itulah seseorang diuji. Kedewasaan, kecakapan, dan karakternya akan terlihat saat menghadapi masalah tersebut. Kecakapan seseorang menghadapi masalah seperti tungku perapian, yang membakar emas. Emas yang murni akan terlihat keasliannya saat dibakar diatas tungku itu, demikianlah menghadapi masalah. Orang yang menghadapi masalah dengan santai, dan mencari jalan keluar adalah orang yang lulus dari tungku perapian,” ujarnya memotivasi.

JP Sitanggang adalah salah seorang yang berupaya untuk mengembalikan jati diri adat dan budaya Batak. Di masa tuanya JP Sitanggang menjadi Ketua Punguan Pomparan Raja Sitempang Sitanggang, dan menulis buku. Masa tua sebagai masa emas untuk meninggalkan bekal bagi generasi muda.***Hotman J. Lumban Gaol

About these ads

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) adalah seorang jurnalis. Saat ini Redaktur Pelaksana di tabloid REFORMATA. Telah terlibat menulis delapan (8) buku: Judul: (1) "Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal" (2) Sang Apostel Batak, Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen (3) Menyebarkan Virus Etos. (4) PAMIMPIN Nama Pemberian Tuhan (Biografi Edwin Pamimpin Situmorang, S.H, M.H, Jaksa Agung Muda Intelijen 2010-2012). Selain itu, dia juga penyumbang beberapa tulisan di buku diantaranya: buku (5) Ir Leo Nababan "Mahasiswa Pejuang, Pejuang Mahasiswa", buku (6) Si Murai dan Orang Gila. Editor buku (7) Sian Tano Parserahan Tu Bagas Parsadaan. (8) Editor buku "Karyaku Dicatat Sorga: Biografi Pdt Ev Renatus Siburian." Dan, beberapa buku akan terbit dalam waktu dekat. Mendirikan situs ini sejak Tahun 2008. Sebelumnya dimulai dari mengkliping profil-profil Tokoh Batak. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia kini bergelut di dunia penulisan biografi, siap dikontak. Pendiri CV Halibutongan Publishing, penerbit buku ini, bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau E_mail: astephen.hojotmarluga@gmail.com. E_mail: hojotmarluga78@gmail.com. Facebook: Hojot Marluga. Twitter: HojotMarluga2.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Intrepeneur, Profesional. Tandai permalink.

8 Balasan ke J.P. Sitanggang

  1. Laris Naibaho berkata:

    Saya menyukai pak Sitanggang ini.

  2. boru regar berkata:

    horas bapatua, au br guru tahan siregar siantar, gbu

  3. boru regar berkata:

    horas bapatua, au boru guru tahan siregar siantar, GBU

  4. juan sitanggang berkata:

    horas opung…! au sitanggang sian siantar parluasan, semoga smakin jaya. GBUs

  5. Ping balik: J.P. Sitanggang:Raja Na Pogos si Parlente « Franche Sitanggang

  6. sodugaon sitanggang berkata:

    mantap bang..abang mangido tarombo majo au,,tarombo ni si opat ama

  7. sangat menginspirasi bwt ku yg lgi putus asa, :)
    terimakasih bwt yg posting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s