Edwin Pamimpin Situmorang


Dia Membuat Jubileum Lebih Besar

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol, S.Th.

Membahana sorak-sorai pernyataan suka-cita, ketika Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo Bambang Yudhoyono menutup kata-kata pujian dalam sambutannya di depan para undangan dan jemaat yang datang dari berbagai pelosok untuk merayakan Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan dengan seuntai pantun berbahasa Batak: “Sian Edwin P SitumorangTarutung tu Sihumalape mangalaosi huta jala harangan, molo tutu do huria ni HKBP da ingkon do marsihaholongan.” Kalau diterjemahkan dengan bebas lebih-kurang berarti, “Dari Tarutung ke Sihumalape melewati kampung, kalau memang benar-benar jemaat HKBP maka haruslah menunjukkan kasih.”

Di lapangan hijau yang menghampar di bawah, diiringi tepuk-tangan dari pelataran tribun dan bangku-bangku kehormatan, kemudian menghambur 1.000 Remaja/Naposo Bulung HKBP memperagakan tor-tor dan membentuk konfigurasi sebagai pernyataan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah dan karunia yang diberikan-Nya kepada gereja yang sedang merayakan hari lahir yang ke-150 bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, hari Minggu, 4 Desembar 2011.

​Dalam kesempatan yang terasa diagungkan dengan perasaan puji syukur yang tulus itu, sosok dalam posisi tertinggi dalam herarki gereja di seluruh Indonesia, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu, M.Th. memberikan sambutan yang meneduhkan hati tidak hanya untuk sekitar 100.000 undangan dan jemaat yang memadati kursi-kursi Stadion Utama. Gaung makna dari kata-katanya tentu juga menyentuh pikiran dan hati masyarakat cinta damai dan kasih yang berada di luar tempat upacara, di pantai, di gunung-gunung, ketika dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Khususnya saudara-saudara saya dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah atas semua kerjasama dan bantuannya kepada HKBP…. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.”

Sebelum Presiden dan Ephorus, dengan mengenakan setelan jas hitam, menyelempangkan selendang bertuliskan Panitia Nasional yang melingkar di lehernya, tampil Edwin Pamimpin Situmorang, S.H., M.H., untuk menyampaikan laporan dan sambutannya selaku Ketua Umum Panitia Nasional Jubileum 150 Tahun HKBP. Berkacamata minus dengan gagang hitam, tinggi 165 cm, Edwin terbilang berperawakan kecil dibandingkan dengan dua tokoh di atas, tetapi dialah yang telah membuat perhelatan keagamaan itu menjadi terasa lebih besar. Setelah selesainya acara yang semarak tersebut ada di antara koleganya yang mengatakan, “Walau bukan hasil kerjanya sendiri, pesta Jubileum 150 Tahun HKBP itu adalah sebuah sukses. Sejarah HKBP akan mencatatnya, mengenang nama Edwin.” Dengan keberhasilan pelaksanaan Jubileum tersebut majalah “Narwastu” memberikan penghargaan kepada Edwin Pamimpin Situmorang sebagai salah seorang tokoh Kristiani tahun 2011.

Sambil berjalan menuju podium Edwin kelihatan tersenyum sumringah. Dia membungkuk sebagai isyarakat permintaan izin dan hormat kepada Presiden Republik Indonesia dan Ephorus sebelum melangkah maju, berdiri di belakang podium, dan dengan tenang mengarahkan ucapannya kepada seluruh hadirin yang memenuhi stadion berbentuk temu-gelang yang dibangun setengah abad yang lalu itu. “Perayaan Jubileum 150 Tahun HKBP ini memiliki arti yang sangat besar dan berbeda dengan peringatan jubileum di masa lalu, karena Jubileum 150 Tahun HKBP tidak hanya diperuntukkan bagi warga HKBP, akan tetapi juga kita persembahkan untuk bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini,” katanya dengan wajah cerah yang mencerminkan keterbukaan hatinya, yang disambut sorak kebahagiaan oleh hadirin.   ​

​Pada kesempatan itu Edwin mengajak semua pihak untuk coba merefleksikan kembali makna perayaan Jubileum 150 Tahun HKBP. Pertama, katanya menguraikan, Jubileum 150 Tahun mengandung makna akan iman di mana kita harus bersyukur dan bersukacita, karena begitu besar kasih-Nya, maka Tuhan telah memanggil nenek-moyang kita untuk menjadi milik Kristus. Tuhan telah mengutus gembala-Nya, misionaris dari Inggris, pada tahun 1824 untuk mengabarkan Injil Kabar Baik di Tanah Tapanuli. Pekabaran Injil di Tanah Tapanuli tidaklah mudah, karena nenek-moyang kita pada awalnya adalah para penyembah berhala. Namun, karena “Rencana Tuhan tetap selama-lamanya,” maka pada tahun 1857 kedatangan van Asselt telah mampu menaklukkan hati orang Batak, dan akhirnya empat tahun kemudian, yaitu 31 Maret 1861, Main Tampubolon dan Pagar Siregar menjadi orang Batak pertama yang menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Iman itu, semakin lama semakin bertumbuh, di mana pada tanggal 7 Oktober 1861, lahirlah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Dan iman itu, saat ini telah bertumbuh menjadi HKBP na bolon dengan 4,1 juta anggota jemaat HKBP yang tersebar dalam 26 distrik, 641 resort, 16 persiapan resort, 3.226 huria, 41 pos pelayanan, 25 pos pekabaran Injil, dan telah tersebar di seluruh pelosok Nusantara dan mancanegara.

Kedua, Jubileum 150 Tahun HKBP mengandung makna akan pengharapan, di mana perjalanan kehidupan HKBP beserta jemaatnya tidak luput dari setiap badai persoalan, percobaan, dan bahkan hampir mengarah pada kehancuran. Namun, ketekunan telah menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan kepada Kristus. Tuhan Allah tidak membiarkan umat-Nya hilang. HKBP akhirnya mampu melewati setiap badai yang ingin menghancurkan Rencana Tuhan.

Ketiga, Jubileum 150 Tahun HKBP mengandung makna akan kasih, di mana dengan kedatangan Injil di Tanah Batak, telah membebaskan orang Batak dari kegelapan dan dengan Kasih Tuhan Allah, telah menjadikan orang Batak menjadi salah satu di Nusantara ini yang mengalami perubahan dan kemajuan yang cukup cepat dalam peradaban dan kehidupannya. Generasi suku Batak telah berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan intelektual serta perekonomian yang baik, bahkan menjadi salah satu suku yang harus diperhitungkan di setiap sektor kehidupan.

Melalui Jubileum 150 Tahun HKBP ini, katanya menegaskan, kita diajak untuk menguji apakah iman, pengharapan, dan kasih telah kita implementasikan baik dalam kehidupan kita masing-masing maupun di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara? Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk bersatu-padu dan berpartisipasi aktif memikirkan HKBP, untuk menjadikan Huria ini menjadi Huria Na Bolon. Tidak saja besar secara kuantitas, tetapi juga harus besar dari sudut kualitas iman dan pelayanannya. Sebagai Gereja, HKBP harus mampu membangun jemaatnya menjadi jemaat yang beriman, handal, dan tangguh, sedangkan sebagai organisasi, HKBP harus mampu pula berperan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, menjadi garam dan terang dunia.

Seruan Edwin Pamimpin Situmorang itu menjadi sebuah ajakan yang dibawa pulang oleh jemaat untuk direnungkan. Untuk digapai. Ajakan itu agaknya bertambah bobotnya kalau diingat yang mengucapkan itu, selain seorang ketua panitia nasional jubileum, dalam kehidupan keseharian dia adalah Jaksa Agung Muda Intelijen, jabatan puncak di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Edwin Pamimpin Situmorang lahir di Laguboti, Kecamatan Toba Samosir, Sumatera Utara, 6 Oktober 1952. Sejumlah tokoh di bidang hukum yang mengenalnya dari dekat, menyebutkannya sebagai seorang “Penegak hukum yang tidak diskriminatif, konsisten, tuntas, dan tegas. Seorang abdi Negara yang tak kurang keyakinan religiusnya.” Di dalam komunikasi sehari-hari dia selalu mengingatkan akan kebesaran Tuhan, yang tampil dalam profil BlackBerry-nya, dan berbunyi, “Terima kasih, Tuhan…”

Ketika dia masih menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, yang berkedudukan di Palembang, Edwin berhasil mengungkap 28 kasus korupsi yang menyeret orang-orang pemerintah, swasta, dan pejabat badan usaha milik negara, yang diproses sampai ke pengadilan. Namun, tak selamanya tekad dan niat yang baik mencapai tujuan. Di kota tersebut pula Edwin sempat merasa seperti sendirian dalam upaya menegakkan keadilan, dalam memberantas korupsi yang merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Ketika itu, dia mengeluarkan surat penahanan terhadap seorang pejabat tinggi pemerintah di bidang pertanahan di daerah Sumatera Selatan, karena diduga terlibat dalam tindak pidana korupsi bernilai milyaran rupiah. Tetapi, langkahnya itu tersandung karena oleh pengacara tersangka, dan pemberitaan yang negatif oleh sebagian media massa lokal, yang menuduh dia telah melanggar hak-hak asasi seseorang karena melakukan penahanan secara tidak syah. Karena di dalam surat perintah penahanan tidak tercantum kata-kata “Jaksa Penyidik.” Masalah yang sebenarnya masih “debatable.” Ketika permohonan Pra Peradilan atas penahanan tersebut digelar di Pengadilan Negeri Palembang, Edwin Pamimpin Situmorang dikalahkan.

Sewaktu Edwin tiba di Palembang untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi, beliau melihat masyarakat Sumatera Selatan begitu mendambakan adanya penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku korupsi. Hal ini dia terjemahkan sebagai harapan akan adanya tindakan hukum yang kongkrit yang dilakukukan oleh aparat penegak hukum terhadap pelaku korupsi, seperti melakukan penahan sejak tahap penyidikan. Kemudian beliau memberikan instruksi kepada jajaran Kejaksaan di Sumatera Selatan untuk melakukan penahanan terhadap setiap tersangka tindak pidana korupsi, apabila dalam tahap penyidikan sudah ditemukan bukti yang kuat. Inilah yang kemudian menjadi dasar pengusutan korupsi di bidang pertanahan pada saat mana Edwin melakukan penahanan terhadap tersangkanya. Melalui penasihat hukumnya, tersangka mengajukan permohonan untuk mem-Pra Peradilankan surat penahanan tersebut. Hakim Pra Peradilan mengabulkan permohanan tersebut dan menyatakan surat perintah penahanan tadi tidak syah, kerena penandatanganan surat perintah hanya mencantumkan jabatan struktural, tidak mencantumkan kedudukan sebagai Jaksa Penyidik. Edwin dengan segera melaporkan masalah yang dia hadapi ke Kejaksaan Agung di Jakarta, dan menyarankan penajaman dalam setiap surat perintah penahanan yang dikeluarkan Kejaksaan untuk mencantumkan sebutan “Jaksa Penyidik.”

Edwin tidak melaksanakan putusan Pra Peradilan tadi. Dia tidak melepaskan tersangka dari tahanan. Bukan karena beliau tidak taat hukum atau tidak menghormati putusan pengadilan. Di tengah kedongkolannya, dia menemukan adanya peluang hukum yang bisa memberikan alsan kepadanya untuk tidak melaksanakan keputusan tadi. Putusan Pra Peradilan tersebut dikeluarkan sesudah selesainya masa berlakunya penahanan yang 20 hari. Dengan surat perintah penahanan yang baru dan lengkap, pejabat pemerintah di bidang pertanahan yang menjadi tersangka itu kemudian diproses dan berkasnya dilimpahkan ke pengadilan. Namun, upaya Edwin untuk menjerat tersangka dikandaskan oleh lembaga hukum yang lain. Terdakwa dibebaskan oleh pengadilan…

Pengalaman memberikan Edwin pelajaran untuk sampai pada satu kesimpulan bahwa tiadanya kesamaan sikap dan langkah dari aparat penegak hukum menjadi kendala dalam memerangi korupsi. Menurut dia, ada dua kemungkinan penyebab mengapa para pejabat yang menduduki posisi tinggi dalam pengelolaan negara tidak terjamah dalam kasus dugaan korupsi. Pertama, secara hukum pejabat tinggi yang bersangkutan tidak terbukti terlibat. Kemungkinan kedua, pejabat tersebut terlibat korupsi, tetapi belum ditemukan alat buktinya.

​Tentang perjalanan karier Edwin, Antonius Sujata, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, yang kemudian memangku jabatan Ketua Komisi Ombudsman Nasional, mengatakan: “Yang saya lihat pada Edwin adalah bahwa dia mengerjakan lebih dari yang diminta pimpinannya. Saya pikir ini syarat bagi seseorang yang ingin berhasil. Kalau mau berhasil dalam karier, dalam apa pun, kiatnya adalah mengerjakan lebih dari yang semestinya. Orang yang punya karakter seperti inilah yang punya modal untuk sukses. Itulah Edwin.” Ketika Antonius Sujata duduk sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, Edwin Pamimpin Situmorang adalah Asisten Intelijennya.

Antonius Sujata gemar bersenda-gurau. Kalau ada petemuan di Kejaksaan, dia selalu mengatakan Edwin itu kelak akan menjadi pemimpin, “Karena memang namanya Pamimpin. Saya kira kerinduan akan menjadi pemimpin itu sudah ada sejak kedua orangtuanya memberikan nama Edwin Pamimpin Situmorang kepadanya.”

Nama yang terdengar seperti sebuah keinginan yang kuat untuk mengejar sebuah cita-cita yang tinggi itu telah menempuh jalan hidupnya sendiri. Mencari nama bagi sepasang suami-istri yang sedang menunggu lahirnya seorang bayi, agaknya lebih sulit daripada menemukan jarum dalam timbunan sekam. Banyak nama yang kedengarannya indah dan mengandung makna yang kuat, namun memerlukan kebijaksanaan, nilai kepatutan, bahkan keberanian mental untuk memilihnya. Apalagi nama itu menyiratkan tentang seseorang yang akan menjadi penunjuk jalan menuju kebenaran kepada para pengikutnya. Mungkin dia seorang yang jadi idola. Tetapi, sebuah nama tidak hanya sebagai pembeda antara seseorang dengan yang lain. Dia sesungguhnya adalah doa dan harapan. Dengan kesadaran seperti itulah pedagang kain yang sedang menanjak bisnisnya dari Laguboti, Misaraem Alfred Situmorang dan istrinya, Paulina boru Pangaribuan,  memberikan nama Pamimpin kepada anak mereka yang kesebelas. Anak laki-laki. Nama itu selengkapnya berbunyi: Pamimpin Parluhutan Hasudungan. Kalau diterjemahkan dengan bebas ke dalam Bahasa Indonesia, maka ketiga rangkaian kata dalam Bahasa Batak itu berarti Pemimpin Yang Istimewa. Anak kesebelas yang didoakan dan diharapkan ketika dewasa, dan selama menempuh jalan hidupnya, akan membawa berkah untuk keluarga dan orang banyak.

​Orangtua hanya bisa berharap dan berdoa akan hari depan yang baik bagi anaknya. Namun, apa daya. Ketika sudah beranjak akil balig, sang anak yang harus menyandang nama itu bukannya merasa seperti sedang memikul beban harapan, tetapi malah merasa risih. Sejujurnya, dia tidak menyukai nama itu. Buat dia nama besar itu justeru kedengarannya “kampungan,” sebagaimana yang dia akui sendiri. Di dalam lingkungan keluarga dan teman-teman dia memang dikenal dengan nama Pamimpin. Tetapi, dalam bersenda-gurau, sering pula teman-temannya mengolok-olok dia dengan mengatakan, “Ah, Pamimpin apa kau…?”Mereka memanggilnya dengan sebutan “Itpin” atau “Pippin.” Sama seperti semua remaja yang ingin disebut dengan panggilan yang sedap didengar dan serasi dengan selera seorang anak yang sedang mekar, maka diam-diam, dengan siasatnya sendiri, dia mengubah dan mempercantik nama panggilan Ippin, yang diberikan teman-temannya itu, menjadi Eppin. Nama inilah yang menjadi panggilannya ketika dia masuk sekolah menengah atas di Balige, sebuah kota kecil yang menengger di tepi Danau Toba, di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Dia menempuh sekolah menengah pertama di kota kelahirannya, Laguboti. Prestasinya menonjol dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Edwin kecil terutama unggul dalam mata pelajaran kewarganegaraan, berkat kegemarannya menyimak bahan bacaan yang tersedia dengan cukup di rumah orangtuanya yang berusaha di bidang penerbitan. Karena merasa gelisah melihat gadis-gadis teman sepermainannya yang sudah duduk di kelas yang lebih tinggi, Edwin yang mulai beranjak remaja, sengaja tidak naik ke kelas tiga SMP, tetapi langsung melompat ke kelas satu di SMA HKBP di Balige. Untuk menutupi kekurangan karena tidak meliki ijazah sekolah menengah pertama, maka bersamaan dengan ujian naik kelas dua SMA, dia mengikuti ujian ekstra atau ujian persamaan SMP, dan dia lulus. Kemajuan yang dia raih ketika duduk di kelas dua sekolah menengah atas tidak sebagaimana yang diharapkan. Oleh ibunya dia dipindahkan ke Bandung. Dia dititipkan pada abangnya yang bertempattinggal di kota itu. “Pembuangan” itu membuka kesempatan baginya untuk melakukan pergeseran terhadap nama yang dia rasa terus mengganjal di hati. “P” pada Edpin, yang membuat nama itu kedengaran murahan, kemudian dia gantikan dengan “V” yang terasa lebih berwibawa. Maka lahirlah sebuah nama baru, EDVIN. Lantas, kekacauan administratif di Sekolah Menengah Atas Badan Usaha Rakyat (BUR) di Bandung menyempurnakan cita-citanya untuk memperoleh nama yang sesuai dengan kemauannya. Ketika dia menerima surat tanda lulus sekolah menengah atas, entah bagaimana, di ijazah itu namanya malahan menjadi lebih membahagiakan hatinya: Edwin Pamimpin Situmorang. Sementara kata-kata dalam nama Parluhutan dan Hasudungan, yang menjadi bagian dari doa dan harapan yang tertumpang pada nama yang diberikan kedua orangtuanya tempo hari, sudah tersingkir.

Sekarang, ketika dia sudah mencapai kedudukan tertinggi, yang untuk pertama kali bisa digapai seorang jaksa karier berdarah Batak dan Kristen, di Kejaksaan Agung Republik Indonesia, yaitu sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dan kemudian dimutasi menjadi Jaksa Agung Muda Intelijen, kalau bercerita tentang riwayat hidupnya, terutama kisah tentang namanya itu, Edwin Pamimpin Situmorang kelihatan menahan nafas sesaat. Dia seperti sedang menyesali diri, mengenang muslihat yang telah dia lakukan untuk mengubah nama yang diberikan orangtuanya, dulu. Dia memang merasa, nama yang diciptakannya sendiri itu sudah menjadi jodoh dalam perjalanan hidupnya yang getir sampai bisa menapak di jalan emas. “Namun, saya merasa bersalah pada orangtua saya, karena telah mengaburkan nama yang telah mereka berikan kepada saya waktu saya kecil dulu. Saya harus akui nama Pamimpin yang diberikan orangtua saya telah banyak memberikan keberuntungan. Saya sadar, Tuhanlah yang telah memberikan nama itu kepada orangtua saya. Berkat merekalah saya bisa mencapai apa yang telah saya miliki sekarang,” katanya dengan tatapan mata yang jauh, di ruangan kantornya yang tenang di lantai III gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pusat perbelanjaan Blok M dan terminal bus dalam kota yang selalu riuh-rendah hanya sepelemparan batu jauhnya. Dia duduk menghadap meja kerja yang terletak di sudut ruangan yang sejuk, seluas 100m2. Dari situlah dia mengendalikan jalannya tugas sehari-hari dengan bantuan sejumlah staf yang menempati beberapa ruangan terpisah. Di sebelah kirinya berdiri seperangkat televisi 32 inci yang acapkali menayangkan acara pertandingan golf internasional, yang memberikan kesempatan baginya untuk mengendurkan tekanan dari pekerjaan yang harus dia pikul. Melalui seperangkat kamera khusus, dari tempat duduknya itu dia juga bisa mengamati gerak-gerik mereka yang lalu-lalang di sekitarnya.

“Pujangga Inggris William Shakespeare mempertanyakan apalah arti sebuah nama. Memang, kalau kita hanya melihat sepenggal nama, maka seolah-olah nama itu tidaklah penting. Tetapi, pada akhir perjalanan karier saya, saya menyadari bahwa sesungguhnya nama telah mendatangkan banyak berkah kepada saya. Saya bersyukur kepada kedua orangtua saya yang telah memberikan sebuah nama kepada saya. Dan saya yakini bahwa nama itu adalah nama yang diberkati oleh Tuhan. Nama itu adalah rencana Tuhan untuk hidup saya,” ucapnya dengan takzim.

​Edwin adalah seorang yang mudah bergaul. Dan Pamimpin yang menjadi suku kata kedua dari namanya itu membuat dia mudah dikenang. Kalau ada pertemuan, koleganya akan merasa kehilangan kalau dia belum terlihat. “Mana Pemimpin kita?” tanya mereka sambil memandang berkeliling mencari yang punya nama. “Karena nama itu khas, seluruh jajaran Kejaksaan di seluruh Indonesia mengenal nama saya itu. Kalau saya mengikuti berbagai kursus dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kejaksaan, nama itu semakin booming. Ketika saya mengikuti pendidikan di luar Kejaksaan, seperti Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan Sekolah Khusus Pendidikan Administrasi Nasional (Sespanas) saya selalu diingat teman-teman saya, karena nama saya itu. Waktu kecil saya amat membenci nama itu, tetapi sekarang saya sadari bahwa orangtua tidak sembarangan memberikan nama untuk anaknya,” katanya mengenang kebesaran jasa kedua orangtuanya yang telah memberikan pelita untuk menerangi perjalanan hidupnya melalui sebuah nama.

Dari gedung yang berdiri kokoh di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta itu, tumpah darahnya, sebuah kota kecil yang bernama Laguboti jauh di mata, namun tetap dekat di hati Edwin Pamimpin Situmorang, sekalipun dia sudah terbang memikul tugasnya sebagai Jaksa mulai dari Jakarta, ke Kupang, Semarang, Pekalongan, Makale, Pontianak, Palembang, sampai Jayapura. Di Laguboti gondang kehidupannya mula pertama ditabuh. Dia anak kesebelas dari dua belas bersaudara. Kuasa Tuhan yang menentukan jalan hidup seseorang, sebuah keluarga. Dari selusin putra-putri Misaraem Alfred Situmorang dan istrinya Paulina boru Pangaribuan, hanya sepuluh orang yang terus tumbuh mencapai usia dewasa. Manisnya senda-gurau dengan dua orang kakak perempuannya hanya berlangsung sekejap. Keduanya meninggal ketika dia masih kecil.“ Kalau memperkenalkan keluarga, yang sepuluh yang hidup itu sajalah yang kami sebutkan. Jarang kami menyebutkan nama dua almarhum saudara yang telah mendahului kami itu,” kenang Edwin.

​Kakaknya yang tertua adalah perempuan, bernama Lince Elfrida. Adik Lince, seorang lelaki, Saut Pardamean. Kakaknya yang ketiga juga perempuan: Nurmala. Yang keempat meninggal sebelum mencapai usia lima tahun. Kakaknya yang kelima adalah Tiurma Halomoan. Keenam, abang lelaki: Rusman Timbul. Ketujuh, Patar Souaon. Kedelapan, kakak perempuannya yang bernama Tianna. Kesembilan perempuan lagi, namanya Riama. “Lalu, di bawah kakak perempuan saya Riama ini, jadi anak yang kesepuluh, ada lagi perempuan yang  bernama Rusti, yang meninggal waktu dia masih bayi. Kesebelas barulah saya. Di bawah saya, sebagai anak kedua belas, adalah Netty Evelina.”

​Kesedihan karena kehilangan saudara kandung yang dia sayangi mewarnai perjalanan hidup Edwin.“Praktis, sekarang kami kakak-beradik yang hidup tinggal enam orang. Enam dari dua belas,” katanya. Rusman Timbul Situmorang meninggal dalam kecelakaan pesawat Garuda, September 1997.  Jauh di dalam hatinya, dia menginginkan kebahagiaan, yang dia yakini hanya bisa diraih dengan susah-payah berkat bimbingan tangan Tuhan, bisa pula dinikmati, paling tidak disaksikan, oleh kesebelas saudara kandungnya, tetapi nasib berkata lain.

Edwin selalu menjaga hubungan baik dengan saudara-saudara sekandungnya sampai pun ketika dia sudah berada dalam puncak karier. Acara keluarga, sekecil apa pun, selalu dia hadiri. Kalau acara bertabrakan dengan waktu dinasnya, dia akan bertanya apakah ada kemungkinan waktunya diundur atau dimajukan, supaya dia bisa hadir. Dia mengenal suami atau istri saudara-saudaranya dengan baik. Lince Elfrida, kakaknya yang sulung, menikah dengan pria bermarga Simanjuntak; Saut Pardamean menikah dengan boru Harahap; Nurmala menikah dengan pria bermarga Aruan; Tiurma Halomoan menikah dengan pria bermarga Saragih; Rusman Timbul menikah dengan boru Sianturi; Patar Souaon menikah dengan boru Pangaribuan; Tianna menikah dengan pria bermarga Manurung; Riama menikah dengan pria bermarga Hutapea; dan Netty Evelina menikah dengan pria bermarga Sibarani.

Perhatiannya yang besar tidak hanya tertumpah pada keluarganya sendiri, tetapi juga keluarga dari pihak istri, Rumondang Linda Astuty br. Pasaribu. Nama mertua lelakinya Marisi Marulitua Pasaribu, mantan pejabat di PTP IV, sementara mertua perempuannya Lijah br. Siahaan. Dan dengan mudah dia mengingat pasangan dari abang-abang serta adik istrinya itu. Dohar Pasaribu menikah dengan boru Hutabarat; Bobby Pasaribu dengan boru Simanjuntak; Jimmy Pasaribu dengan boru Tambunan; Hendri Pasaribu dengan boru Hasibuan; Anto Pasaribu dengan boru Sihombing; Golfrid Pasaribu dengan boru Sinaga; Timbul Pasaribu dengan boru Siahaan; dan Ellen Pasaribu dengan Sitorus.***

22

Biodata

Edwin Pamimpin Situmorang, SH, MH​

Tempat/tanggal lahir:      : Laguboti, 6 Oktober 1952

Pendidikan:                       : Strata 1 Hukum, Universitas Negeri Padjajaran, 1977

Strata 2 Hukum, Universitas Negeri Tanjungpura, 2004

Pendidikan Kedinasan:

PendidikanPembentukan Jaksa                      : 1980

Kursus Penyuluhan Hukum                            : 1983

Sussar Intelijen ( BAIS ABRI)                          :1985

Kursus Perdata dan Tata Usaha Negara    : 1992

SekolahPimpinanMadya (Sepadya): 1993

SekolahStafdanPimpinanNasional (Sespanas): 1995

LEMHANNAS, KursusRegulerAngkatanXXXII (KRA32):1999

Riwayat Jabatan:

Kasi Hukum & Perundang-Undangan Kejaksaan Agung : 1979

Kasi Sosbud pada Asisten intelijen Kejati NusaTenggaraTimur: 1982

Kasi Khusus pada Asisten Intelijen Kejati Nusa Tenggara Timur: 1984

Kasi Administrasi Intelijen pada Asisten Intelijen Kejati Jawa Tengah         : 1986

Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Pekalongan: 1990

Kepala Kejaksaan Negeri Makale: 1993

Asisten Intelijen Kejati Irian Jaya: 1995

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Sumatera Selatan: 1996

Wakil Kepala Kejati Sulawesi Utara: 1998

Asisten Umum Jaksa Agung RI: 2000

Kepala Kejati Kalimantan Barat: 2001

Direktur Ekonomi & Keuangan pada Jaksa Agung Muda Intelijen: 2003

Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan: 2005

Sekretaris Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara : 2007

Deputi  Menko Polhukam Bidang Koordinasi Hukum dan HAM  : 2008

Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara : 2008

Jaksa Agung Muda Intelijen Kamis, 27 Mei 2010 – Rabu, 31 Oktober 2012

Penugasan Khusus:

KetuaUmumKonferensi ke-7 PersatuanJaksa (International Association of Prosecutors) se-Asia PasifikdanTimur Tengah, 16-19 Maret 2011

Ketua Tim JaksaPengacara Negara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden RI/Wakil Presiden RI periode 2009-2014 di Mahkamah Konstitusi

Sekretaris Jenderal Tim Gabungan Pemberantasan Korupsi (TGPK) tahun 2000

Organisasi:

KetuaUmumGerakan Moral Anti KorupsiMasyarakat Sumatera Selatan, 2005-2007

KetuaUmum Pengurus Pusat PersatuanJaksa Indonesia, 2009-2012

KetuaUmum Panitia Nasional Jubileum 150 Tahun HKBP, 2009-2011

Ketua Umum Badan Pengelola Sopo Marpingkir

Purna Jabatan Rabu, 31 Oktober 2012

 

BERITA:

Jakarta, BPC

Penegakan hukum masih sangat memprihatinkan. Hal ini sangat mempengaruhi kemajuan dan perkembangan segala bidang di Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi adalah, masyarakat semakin tidak peduli dengan kondisi bangsa dan Negara.

    kondisi lembaga penegak hukum di Indonesia saat ini  memprihatinkan dalam rangka penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi. Bahkan, sistem hukum banyak sekali mengandung kelemahan. Demikian dikatakan mantan Jaksa Agung Muda Intelejen, Edwin Pamimpin Situmorang baru-baru ini saat membuka kantor baru pengacara di Ratu Plaza, Jakarta Selatan.

Lebih jauh dijelaskan,  pelaksanaan hukum sampai saat ini belum menggembirakan bahkan cenderung memprihatinkan termasuk bermuara pada tuntutan rasa keadilan untuk masyarakat dan sistem hukum belum mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan ketatanegaraan yang baik.

Menurutnya,  sistem hukum yang ada saat ini banyak sekali mengandung titik kelemahan sehingga dalam berbagai hal selalu berpotensi melanggar hukum seperti , seseorang yang akan berkecimpung  dalam kancah partai politik harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak sebagai titik kelemahan hukum.  “Inilah yang mungkin akan menimbulkan korupsi,” katanya.

Pada hal katanya, kepastian dan penegakan hukum merupakan kunci penentu di segala hal seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Sebab dalam ekonomi,  memerlukan kepastian dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Walaupun program lain sudah mempunyai  konsep-konsep dan  sudah lengkap, namun penegakan hukum belum seperti yang diharapkan, menyebabkan konsep-konsep itu tidak bias berjalan semestinya dengan baik.

Yang pasti dikatakan, korupsi merajalela di Indonesia karena hukum tidak ditegakkan dengan baik. Bila hukum ditegakkan dengan baik, tidak akan seorang pun yang berani korupsi. “Karena itu, 2013 adalah tahun politik, semoga tidak ada lagi penegakan hukum yang kendur, justru harus bisa menata sistem hukum yang baik,” katanya.

Dijelaskan, dari kemajuan-kemajuan dalam bidang penegakan hukum akhir-akhir ini, tetap terjadi ketidakpuasan di masyarakat. “Pada titik tertentu memang ada kemajuan, tetapi pekerjaan rumah masih banyak dan itu tidak akan habis selama pemerintahan masih berjalan,” katanya.

Itulah yang diupayakannya melalui kantor pengacara yang dibangunnya bersama, Galumbang Simanjuntak dan Patuan Siahaan. “Jadi saya bukan mencari uang atau menghabiskan waktu melalui EPS Law & Firm, tetapi ingin membantu masyarakat yang tertindas,” tegasnya.

Melalui kantor barunya ini dikatakan, bukan hanya sekedar melakukan pembelaan dalam upaya penegakan hukum, tetapi juga melakukan pengkajian hukum dengan mengajak para pakar hukum ikut bergabung di kantornya. Batakpos.com

Sumber: http://batakmedia.com/news/politik-nusantara/item/91-penegakan-hukum-untuk-perubahan.html

 

About these ads

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) adalah seorang jurnalis. Saat ini Redaktur Pelaksana di tabloid REFORMATA. Telah terlibat menulis delapan (8) buku: Judul: (1) "Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal" (2) Sang Apostel Batak, Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen (3) Menyebarkan Virus Etos. (4) PAMIMPIN Nama Pemberian Tuhan (Biografi Edwin Pamimpin Situmorang, S.H, M.H, Jaksa Agung Muda Intelijen 2010-2012). Selain itu, dia juga penyumbang beberapa tulisan di buku diantaranya: buku (5) Ir Leo Nababan "Mahasiswa Pejuang, Pejuang Mahasiswa", buku (6) Si Murai dan Orang Gila. Editor buku (7) Sian Tano Parserahan Tu Bagas Parsadaan. (8) Editor buku "Karyaku Dicatat Sorga: Biografi Pdt Ev Renatus Siburian." Dan, beberapa buku akan terbit dalam waktu dekat. Mendirikan situs ini sejak Tahun 2008. Sebelumnya dimulai dari mengkliping profil-profil Tokoh Batak. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia kini bergelut di dunia penulisan biografi, siap dikontak. Pendiri CV Halibutongan Publishing, penerbit buku ini, bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau E_mail: astephen.hojotmarluga@gmail.com. E_mail: hojotmarluga78@gmail.com. Facebook: Hojot Marluga. Twitter: HojotMarluga2.
Galeri | Tulisan ini dipublikasikan di Pejabat, Pengacara, Seniman. Tandai permalink.

9 Balasan ke Edwin Pamimpin Situmorang

  1. masnida situmorang berkata:

    nde na mansai menyentuh jala boi gb inspirasi di akka prsikkola n mangaranto sian bona pasogit

  2. berlin sihombing berkata:

    amang, bisa minta alamat e-mailnya??? mauliate amang

  3. bima pangaribuan berkata:

    jala boa mambaritahon huta t disaat dmna dia berada

  4. steven mc tobe berkata:

    imada tutu amang…………..di umur na 60 tahun…………..rohahon hamuna kabupaten tapanuli utara, asa transpransi dan akuntabel di roda pemerintahan dan birokrasi…………..asa unang gabe mundur hian luatta………….salah benar disalahkan…………..salah unang di ampinin….masa tugas dan jabatan serta komersial jabatan ada batas………….Wisata rohani dan kaitan Kantor HKBP..?

  5. Ping-balik: Edwin Pamimpin Situmorang - NSSA Sejabodetabek

  6. edwar berkata:

    aku sangat setuju gaya kepemimpinan Bang Edwin Pamimpin Situmorang, horas bah.

    dari Edwar sagala Wartawan Sumatera Ekspres Group Jawa Pos

  7. Marangkup Manik berkata:

    Dalam darah amang ini ada tulisan HKBP. Sebagai ketua Jubileum Nasional HKBP 150 tahun dan ketua Badan Pelaksana Pembangunan Sopo Marpingkir maka doa seluruh warga HKBP patut disampaikan agar amang ini dapat terpilih sebagai anggota DPR RI dalam pemilu 2014. Beliau mencalonkan diri dari Partai Nasdem dari Dapil II Sumut. Amang inang dohot naposo bulung ni HKBP na adong di Dapil II Tapanuli, Humbang, Samosir, Nias asa rap hita pasada suara ta tu amang tokoh terbaik HKBP Edwin Pamimpin Situmorang sian Partai Nasdem.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s