Leo Nababan

Menyongsong Jubileum 150 Tahun HKBP: “Peneguhan Iman Kristiani dan Jati Diri Bangso Batak yang Berbudaya”

Oleh Ir. Leo Nababan

Sejarah mencatat bahwa sebelum Kekristenan menjamah Tanah Batak, para nenek moyang kita hidup dalam agama Animisme dan dinamisme dengan ritual penyembahan berhala hasipelebeguon. Sungguh suatu kehidupan yang diliputi kegelapan ditambah sering terjadinya permusuhan antar kampung dalam rangka memperoleh status kehormatan “hasangapon” dan kekuasaan atas sumberdaya ekonomi khususnya tanah “hamoraon”. Konflik itu tak jarang mengandalkan kekuatan magis “hadatuon” yang kerap berakibat pada pembunuhan dan terjadi saling balas dendam secara turun-temurun.
Meskipun pada awal proses Kekristenan di Tanah Batak penuh dengan tantangan dan pergumulan, namun yang pasti bahwa Kekristenan telah membawa Tanah Batak menuju terang. Kita patut berterimakasih kepada para Penginjil dimana lewat tugas panggilan misionarisnya membebaskan Tanah Batak dari kegelapan. Adalah Ompui Ingwer Ludwig Nommensen sebagai Misionaris legendaris Tanah Batak, melalui panggilan hidupnya yang lahir pada tanggal 6 Februari 1834 di Nordstrand, Distrik Holstein, Jerman, menjalankan panggilan hidupnya sebagai Penginjil di Tanah Batak sampai Tuhan memanggilnya di Sigumpar Toba Samosir pada tanggal 23 Mei 1918.
Meskipun bukan sebagai Misionaris pertama di Tanah Batak, metode dan pembawaan misi Ompui IL Nomensen di Tanah Batak lebih diterima oleh orang Batak dibanding Misionaris-misionaris sebelumnya. Terkait dengan hal ini, penulis mencoba menyimpulkan bahwa ada dua pendekatan yang diterapkan oleh Ompui dalam menjalankan misinya sehingga lebih cepat dipahami dan diterima oleh orang Batak waktu itu. Pertama, Ompui IL Nommensen menggunakan pendekatan humanis yakni upaya perbaikan taraf hidup orang Batak waktu itu.
Ketika penulis berkunjung ke tanah kelahiran Ompui IL Nommensen di Nordstrand Jerman, betapa kagumnya penulis melihat model perkampungan di kampung halaman Ompu i yang memiliki prototype yang mirip dengan perkampungan Batak “Bona Pasogit”. Satu hal yang paling berkesan adalah model kompleks gedung gereja di Nordstrand yang memiliki areal/pekarangan untuk tempat becocok tanam, gedung sekolah, gedung pelayanan kesehatan dan areal untuk peternakan.
Mungkin penulis berfikir bahwa model yang demikianlah yang ditransfer Ompu i ke Tanah Batak. Misi-misi Kekristenan yang dijalankan Ompu i di Tanah Batak tidak serta-merta hanya melakukan pewartaan Injil an sich, namun juga disertai dengan misi-misi Kemanusiaan. Hal ini dapat kita lihat dari pembagunan Gereja di Huta Dame dengan areal yang disediakan untuk aktivitas kemanusiaan atau yang dikenal dengan pargodungan.
Mengenai tempat bersekolah, bangunan sekolah-sekolah di areal Kompleks Gereja di Nordstrad telah mengispirasi Cendekia Jerman waktu itu yakni Hubber Alles yang mempropagandakan betapa ilmu pengetahuan yang diperoleh anak-anak di bangku sekolah berperan besar dalam membangun peradaban manusia Jerman yang waktu itu telah maju dan unggul di kawasan Eropa. Prinsip inilah yang kemudian hari disalah pahami yang memunculkan paham rasialisme Jerman khususnya di era Hitler berkuasa. Terlepas dari itu, kegiatan belajar-mengajar di sekolah yang terdapat di Pargodungan Gereja sebagai buah karya penggembalaan Ompui IL Nommensen di Tanah Batak telah menginspirasi seniman besar Nahum Situmorang dalam menciptakan lagu monumentalnya “Anakhon hi do hamoraon di au.” Berkat upaya Ompui Nommensen yang menekankan pentingnya pendidikan dan membangun sekolah-sekolah di Pargodungan Gereja membangkitkan orang Batak dengan jerih payah untuk menyekolahkan anak-anaknya.
Dari gambaran diatas dapat kita pahami bahwa Gereja dan Pargodungan memiliki fungsi yang teramat signifikan dalam membentuk Iman Kristen dan meningkatkan taraf hidup Suku Batak dimana Gereja menjadi sentral Revolusi Iman lewat persekutuan dan pewartaan Injil, sementara pargodungan menjadi sentral perubahan taraf hidup dimana disana terjadi aktivitas transfer pengetahuan lewat sekolah, pelayanan kesehatan, pembelajaran bercocok tanam dan beternak serta pengasahan keterampilan.
Pendekatan kedua yang diterapkan Ompu i dalam pewartaan Injil di Tanah Batak adalah menggunakan pendekatan Budaya dan Tradisi. Sebelum melakukan pewartaan Injil, Ompu i mencoba memahami hakekat karakter, tradisi dan budaya Orang Batak waktu itu dengan terlebih dahulu mempelajari Bahasa Batak Toba. Model seperti ini kurang lebih hampir sama dengan penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa oleh para Wali Songo. Dalam konteks ini upaya pewartaan Injil yang dilakukan Ompui i tidak menimbulkan penghilangan atau penghapusan nilai-nilai budaya dan tradisi Batak namun yang cenderung terlihat adalah bahwa nilai-nilai Agama dan kebudayaan saling membutuhkan dimana prinsip ajaran ke-Kristen-an diinternalisasikan lewat tradisi dan budaya. Tentu dalam hal ini ada upaya yang dilakukan untuk perbaikan nilai-nilai Budaya Batak yang bertentangan dengan prinsip ke-Kristen-an.
Begitulah cara Tuhan membawa orang Batak keluar dari kegelapan menuju terang lewat hambanya yang setia mewartakan Kerajaan Surgawi sampai ke ujung dunia. Saat ini, menjadi penting untuk membahas dua pertanyaan dan sekaligus menjadi bahan refleksi khususnya menjelang peringatan Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dan sekaligus juga momentum peringatan pewartaan Injil di Tanah Batak. Pertama, apakah sesungguhnya Tanah Batak sudah menerima Injil keselamatan itu? Kedua, bagaimana kita menghubungkan Injil dan Budaya Batak ditengah gempuran budaya global saat ini? Kedua persoalan inilah yang menjadi pergumulan penulis saat ini yang kerap memunculkan keresahan.

KATA KUNCI: Dari 3H Menjadi 5H
Seiring dengan pesatnya kemajuan zaman, budaya global kecenderungan mengarahkan eksistensi manusia untuk pemenuhan dan pemuasan aspek materialistis saja. Orang Batak juga sepertinya terikut-ikut dalam arus ini yang ditandai dengan penguatan falsafah ‘3 H’ yakni Hamoraon (kekayaan), Hagabeon (keturunan/generasi) dan Hasangapon (kehormatan). Eksistensi manusia dapat dikatakan sempurna apabila memiliki ketiga unsur H ini. Prinsip 3 H inilah yang kerap menjadi motivasi utama orang Batak dalam perjalanan hidupnya. Target pencapaian/pemenuhan 3 H kerap telah menyebabkan orang Batak ‘menghalalkan’ segala cara. Persaingan yang muncul dalam upaya pencapaian 3 H ini juga kerap memunculkan sikap HOTEL (Hosom, Teal, Elat, Late) antar sesama orang Batak.
Oleh sebab itulah falsafat ‘3 H’ inilah yang tanpa kita sadari menjadi tantangan dan godaan bagi orang Batak dalam peneguhan Iman Kekristenannya saat ini. Dalam konteks ini bukannya penulis bermaksud menyatakan bahwa prinsip ‘3 H’ itu tidak penting. Sebagai manusia biasa, penulis menyatakan bahwa falsafah ‘3 H’ itu tetap penting namun bukan yang terpenting dalam motivasi hidup. Sudah saatnya kita merubah falsafah ‘3 H’ menjadi falsafah ‘5 H’ dengan mereposisi prinsip ‘3 H’ tersebut diurutan terbelakang dengan demikian urutan falsafahnya menjadi: 1) Haporseaon (Iman Kepercayaan), 2) Hadameon (Kasih), 3) Hamoraon (Kekayaan), 4) Hagabeon (Keturunan/generasi) dan 5) Hasangapon (kehormatan). Falsafah nomor 1 dan 2 terletak dalam dimensi vertikal dan falsafah 3, 4 dan 5 terletak dalam dimensi horizontal, suatu penggambaran dan pemaknaan Salib Kristus.
Ditengah-tengah kondisi yang memperlihatkan terjadinya Krisis Iman dan degradasi nilai-nilai Budaya dan Adat Istiadat Batak, HKBP yang akan menyongsong 150 tahun Jubileum terpanggil untuk lebih meneguhkan jati dirinya sebagai Gereja yang bertubuhkan Kristus, hidup dalam penggembalaan semua bangsa khususnya orang Batak yang berjati diri dalam Budaya dan Adat Istiadat Batak. Selamat Menyongsong Jubileum 150 Tahun HKBP.

Tentang Hotmanjlumbangaol

Hotman J. Lumban Gaol, STh (Hojot Marluga) penulis/wartawan pada REFORMATA. Juga bergelut dalam penulis buku biografi. Diantaranya buku yang ditulis sendiri "Sang Apostel Batak: Dari Munson-Lyman Hingga Nommensen" lalu juga ikut menulis buku bertajuk Sitor Situmorang: Mitos Dari Lembah Kekal. Membangun situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini juga karena kecintaan belajar dari para orang sukses, mengapresiasi orang-orang Batak yang berprestasi. Selain itu, dia juga menulis cerpen. Salah satu cerpennya telah dibukukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sebagai kumpulan cerpen komunitas berjudul Sigumoang. Selain bergelut di dunia tulis-menulis dia juga berkecimpung dalam pelatihan-pelatihan motivasi. Dia bisa dihubungi di HP: 081316518619 & 085710186058 atau email: astephen.hojotmarluga@gmail.com, seratusorangbatak.sukses@gmail.com. Atau di facebook dengan nama: Hojot Marluga.
This entry was posted in Tak terkategori. Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s