Merdi Sihombing


Profil
Nama Lengkap: Midian Sernat Sihombing HutasoitMerdi Sihombing Profile
Nama Panggilan: Merdi Sihombing

Bona Pasogit
Lumban Pea, Siborong-borong, Tapanuli Utara

Lahir: Medan 21 Mei

Status
Menikah

Pendidikan:
• Fashion dari BUNKA School of Fashion Indonesia ESMOD Jakarta (short course)
• Jurusan Kria Tekstil dari Fakultas Seni Rupa di Universitas Kesenian Jakarta (UKJ)

Pengalaman Kerja:
• Asisten Disigner Chossy Latu
• Staf Khusus di majalah KARTIKA mengisi rublik tentang fashion
• Konsultan di majalah anak DREAM MAGAZINE

Organisasi:
• Anggota Indonesia Heritage Society
• Anggota pengurus Perhimpunan Pecinta Kain Adati Indonesia (Wastraprema) devisi Research and Develoment priode 2006-2007

Pencapaian:
1. Pemenang Kostum Terbaik di Grand Final Video Musik Indonesia priode VII pada 1999-2000
2. Kerjasama dengan kosmetik Ultima II tahun 2000
3. Art Song Series 2000-2002
4. Kerjasama dengan RCTI pada acara SLI 008 pada 2001
5. Appointed Disigner for Wold Harp Ensamble 2002 di Hotel Mulia Jakarta & Gedung Kesenian Jakarta
6. Coffee Morning ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2003
7. Pencak Silat Exhibition di Prancis tahun 2003
8. Fashion Show Tunggal “the Forbidden Baduy” tahun 2006
9. Best Disinger Gelar Tenun Tradisional Indonesia 2006 Kreasi Tenun Interior, Household, Gift.

Tentang Merdi Sihombing:

ULOS BATAK sebagai khasanah budaya menyatu dalam kehidupan sehari-hari orang Batak. Namun, seiring waktu, ulos ikut mengalami perubahaan. Bagi sebagian orang ulos dipuja-puji sebagai benda sakral, lalu ada segentir orang, aliran gereja, melabelkan ulos benda berhala dan memberangusnya dengan membakar. Artinya, banyak produk budaya hilang karena tidak dijaga dengan semestinya. Misalnya kain tenun patola di Nusa Tenggara Timur, kain patola hilang karena tidak boleh diproduksi besar-besar.

Merubah ulos yang lama menjadi bahan fashion memang menyingkirkan kearifan lokal. Yang baik adalah membuat khusus kain tenun Batak untuk bahan fashion. Hal itulah yang menginspirasi Merdi Sihombing seorang pemuda yang mengabdikan hidupnya mentransformasi kain tenun tersebut ke tempat yang lebih elegan,tanpa merusak tatanan yang ada. Pria bernama lengkap Midian Sefnat Sihombing Hutasoit dua tahun ini bersemangat mengarap ulos—dengan belajar filosofi budaya Batak dan melahap habis buku yang berhubungan kain tenun.

Demikian nasib ulos, ketika ulos menjadi rancangan baru bagi para disaigner untuk produk fashion. Misalnya, ketika banyak orang Batak memilih setelan jas berbahan ulos, demikian juga kebaya wanita dipadukan dengan motif ulos. Selama ini yang terjadi selalu menuai kontroversi. Lalu bagaimana menyingkapinya? Mengapa tidak dibuat kain tenun Batak khusus untuk dijadikan model-model baju, jas, rompi yang lebih pariatif. Di luar perhatiannya terhadap ulos, Merdi gundah melihat penenun ulos hidup dalam lingkaran kemiskinan. Masih menurut dia, hampir-hampir sebagian penenun ingin beralih profesi, sebab hidup mengandalkan tenunan tidak bisa mengangkat ekonomi mereka.

Dia layak disebut seorang icon muda perancang busana eknik. Bahkan, memungkinkannya bisa seperti desaigner handal seperti; Harry Darsono, atau Iwan Tirta, perancang etnik (batik) menjadikan batik medunia, hingga rancangannya dipakai kaum raja. Merdi begitu dia dipanggil teman-temanya, gundah melihat nasib ulos, prihatin terhadap kekayaan budaya etnik Batak.

“Kalau kita lihat dengan batik Jawa atau dengan songket Palembang, mengapa ulos dan songket Batak masih belum banyak yang diperkenalkan. Ulos itu merupakan satu bagian dari budaya yang harus dilestarikan dan saya akan aplikasikan dalam bentuk fashion,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Beberapa bulan lalu, (9/5), Merdi bekerja sama dengan perusahaan Lenzing PT South Pasifik Viscosl dari Austria bertempat di Hotel Mulia. Meluncurkan semua produk disaign ulos dan songket Batak yang dia buat. “ Mengapa songket Palembang begitu diminati para ibu-ibu Batak, sedangkan songket Batak tidak? Kalau songket Palembang bisa terkenal begitu rupa, mengapa kain tenun dan songket Batak tidak bisa terkenal,” ujar anak mantan polisi ini.

Dalam penelusuran-nya, banyak pengrajin ulos meninggalkan kebiasaan mewarnai alam. Padahal, walau pengerjaannya lebih lama tetapi tidak merusak lingkungan. Daripada memakai perwarnaan kimia, walau waktu lebih cepat,warna-warni yang dihasilkan beragam tetapi merusak ekosistim. Memang dulu pengrajin kurang begitu setuju usulannya untuk kembali ke pewarnaan alam. “Mereka komplain karena merasa dengan warna benang yang saya perlihatkan berbeda. Tetapi saya katakan kepada mereka, itu lah benang merahnya dengan pewarnaan alami, setelah ditenun dan dikombinasikan dengan benang metalik,” kata pengurus Research dan Develoment Wastraprema ketika membujuk penenun kembali kepewarnaan alam. Wastraprema adalah oraganisasi pencita kain tenun.

Kemudian, Merdi aktif berkunjung ke tempat pembuatan ulos dan songket Batak, hingga mengantarnya mengenal lika-liku problem kain tenun. Misalnya, untuk mendapatkan ulos narara (baca;ulos merah) dibuat dari akar mengkudu, warna biru atau hitam dari salaon dan itom dalam bahasa Latin disebut indigodera. Pengetahuannya ia dapat lewat proses pembelajaran panjang menelusuri huta-huta di Bona Pasogit.

Tepikat kain tenun Batak
Lama sebelum menjadi perancang kain tenun ulos dan songket Batak, pria lajang ini malah terlebih dahulu mendalami kain tenun etnik Badui, selama hampir tiga tahun. Dengan fokus, lalu ia tanpa sungkan pulang pergi Jakarta-Baten demi mendalami kekayaan kain tradisional. Memang kita akan penasaran melihat kemampuan pria berdarah campur Batak dan Ambon ini. Orang akan terkesima dari ceritanya mengunjungi kampung di Tapanuli. Ia tak sungkan-sungkan naik turun gunung, keluar masuk dusun demi sebuah obsesi. Masih menurutnya, Ia telah menjelajahi seluruh pusat pembuatan kain tenun ulos. Dari Meat, Samosir, Laguboti, Tarutung, Sipirok dan daerah lain di Tano Batak. Untuk bertemu para penenun, dengan wawancara, memotivasi malah ada yang dibantunya dengan alat tenun yang didiversivikasi. Rahasianya semata-mata karena kecintaan terhadap kain tenun Batak—sembari memperdalam pengetahuannya terhadap khasanah budaya tersebut.

Maklum, si doli ini punya jadwal relatif tetap ke Tapanuli, diwujudkan dengan, akan membuka sentra tenun di Tapanuli prosesnya lagi berjalan. Kini untuk meneguhkan obsesinya, pria pecinta travelling adventure dan bernyayi ini mengoleksi warisan budaya berupa ornamen-ornamen Batak, seperti tunggal panaluan dan ulos-ulos yang relatif tua.

Obsesi mulia
Dulu keinginannya menjadi penyanyi, terbukti ia beberapa kali di tahun 90-an juara Bintang Radio dan TV di Sumut. Malah di Jakarta bersama Yuni Shara dan Reni Siregar salah satu personil Trio RNB, sempat merilis album Batak. Namun masyarakat kurang merespon, akhirnya cita-cita penyanyi kandas di tengah jalan. Nasib berkata lain profesi perancang busana membawanya lebih happy, akhirnya malang-melintang di dunia fashion. Keputusan sebagai designer khusus etnik, diwujudkannya menimba ilmu design lewat pendidikan formal pada Fashion & Tekstil di BUNKA Sechool of Fashion Indonesia, ESMOD Jakarta dengan kursus pendek. Lalu dilanjutkan ke Fakultas Seni Rupa di Institute Kesenian Jakarta (IKJ) dengan fokus Kria Tekstil.

Kini masih banyak obsesi mulia yang harus dikejarnya. Pria parlente ini, kini ia terobsesi kelak ulos bisa diterima suku lain di luar suku Batak sama seperti posisi batik. Dan kalau Tuhan berkehendak ulos dan songket Batak mudah-mudah bisa mendunia, kesannya menutup perbincangan.***ditulis, Hotman J. Lumban Gaol

Merdi Sihombing: Cinta ulos hingga tetes darah terakhir
Kecintaan Merdi Sefnat Sihombing atau Merdi Sihombing, seorang putra daerah Sumatera Utara yang juga desainer terhadap hasil tekstil Sumut tidak perlu diragukan. Penerima rekor Musium Rekor Indonesia atas rekor penemuan Teknik Tenun dengan pewarna alam fibre microtencel dan penemu Tenun Kristal Motif Tradisional ini memang syarat prestasi. Karyanya menjadi satu-satunya karya anak bangsa yang dipamerkan di Musium Swarosky di Austria. Kepada Waspada Online, Merdi mengungkapkan kisahnya.

Kok bisa mengangkat etnis batak, padahal selama ini tidak banyak, jika tidak bisa dibilang tidak ada yang melirik tekstil asal Sumut?

Faktor pertama adalah bisnis. Jika belum banyak dikenal dan digali sebagai pelaku bisnis nama yang pertama membumikan akan selalu diingat dan dicari masyarakat. Selain itu keberadaan kain Sumut amat indah dan memiliki filosofi di dalamnya.


Selain bisnis, apalagi yang membuat anda tertarik pada tekstil dan motif Sumut?

Sebagai putra daerah saya merasa ini adalah tugas saya untuk menggali dan memperkenalkan potensi Sumut. Karena keahlian saya adalah desain, maka saya mencoba menggali tekstil dan motif asli Sumut. Apalagi setiap motif di dalam ulos dan songket yang ada di Sumut memiliki kisah didalamnya. Kisah ini amat menarik untuk dipelajari.

Apa saja kesulitan saat menggali motif dan tekstil Sumut?

Wah itu sih panjang ceritanya. Misalnya motif Potani ini (Merdi menunjukkan sebuah ulos indah berwarna putih) motifnya harus saya cari hingga Thailand, karena ternyata di Tapanuli Selatan sendiri sebagai asal motif ini, tidak ada satupun peninggalan sejarahnya. Motif Potani telah hilang dari Indonesia. Untuk menggalinya saya harus ke Thailand karena disana ada banyak sekali motif Potani yang tercampur dalam kain tradisional mereka.

Berapa lama Anda menggali motif-motif ulos dan songket Sumut ini?

Saya melakukan riset selama 2 tahun. Dari Samosir, Tobasa, Tapanuli Utara hingga Selatan. Berbagai rintangan saya alami. Kami pernah hampir hilang saat gempa Sipetang. Belum lagi kendala alam yang harus dihadapi. Tapi semua sebanding dengan keindahan yang saya peroleh disana.

Apa harapan Anda terhadap desainer muda dan kain asli Sumut?

Saya saat ini sendirian di jalur tekstil dan motif Sumut. Tapi saya yakin kerja keras saya tidak akan sia-sia. Saya harap generasi muda Indonesia khususnya Sumut lebih mencintai budayanya. Saya hanya berbuat karena yakin ini akan berhasil. Mungkin tidak sekarang mungkin nanti. Tapi jika tidak mulai dari sekarang, maka kapan lagi.

Sumber:

http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=62985:merdi-sihombing-cinta-ulos-hingga-tetes-darah-terakhir&catid=47&Itemid=130

Baca juga di sini tentang Merdi…

http://internasional.kompas.com/read/2008/05/11/01453764/Ulos.Partonun.Merdi.Sihombing

Iklan

7 Comments

  1. Ping balik: Kebaya Yuni Shara - Sepatu Adalah Bagian Dari Fashion

  2. Ping balik: Model Kebaya Yuni Shara - Tips Memilih Baju Kebaya

  3. Ping balik: Kain Ulos Dari Batak - Fashion dan Belanja Jadi Satu

  4. Ping balik: Model Kebaya Yuni Shara - Sepatu Adalah Bagian Dari Fashion

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s