Bonar Simangunsong


Laksamana Pertama TNI (Purn) bonar-simangunsong1Bonar Simangunsong

Selalu Belajar untuk Melayani Sesama Lebih Baik

Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong adalah sosok manusia yang selalu ingin belajar. Kisah hidupnya sangat diwarnai proses belajar. Baginya belajar adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hidup. Ia memang telah mengecap sejumlah pendidikan di dalam maupun di luar negeri. Keinginan untuk terus belajar adalah kerinduannya untuk dapat berguna membawa suatu kehidupan masyarakat yang lebih baik dan memberkati orang lain dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepadanya. Lulus dari SMA 3B di Setia Budi, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Ketika perkuliahan tingkat III terjadi masalah dalam keluarga yang berdampak pada persoalan ekonomi dan pendanaan perkuliahan. Namun masalah itu tidak menghentikannya untuk melanjutkan perkuliahan. Sebuah penawaran beasiswa dari TNI-AL memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat terus belajar. Dari sekian banyak pendaftar, pria yang lahir 24 November 1938 ini, satu di antara 20% yang lulus dari seluruh pendaftar.

Walaupun beasiswa telah ia terima, namun itu hanya dapat membantu sebagian dari kebutuhan akedemis. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih sangat sulit. Namun, pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti,” kenangnya. Tiga bulan setelah itu, kembali tawaran datang dari TNI-AL kepadanya sebagai Pelajar Calon Perwira, untuk berkesempatan kuliah di luar negeri yaitu di Uni Soviet. Suatu tantangan yang ia inginkan untuk dapat berkunjung dan berkuliah di luar negeri, yang semasa kecilnya hanya dapat dibayangkan dan dibaca melalui buku-buku dan film. Dan pada tahun 1967 ia lulus dari Odessa Polyrechnical Institute dengan menyandang gelar Msc. Sebuah harapan yang Tuhan genapi di luar jangkauan dan kehendak manusia.

Sekembalinya dari Uni-Soviet, ia diterima di TNI-AL sebagai perwira Letnan Satu (Lettu). Ia pun sempat mengajar di Universitas Trisakti. Di masa dinasnya ini ia bertemu dengan seorang gadis Tapanuli, bernama Elizabeth Leistriana Siahaan, yang cantik dan juga yang mengasihi Tuhan. Maklum, gadis itu puteri pendeta W. Siahaan Perintis Gereja Pentakosta di Tapanuli. Mereka menikah pada tahun 1973 dan dianugerah tiga anak laki-laki.

Pada tahun 1974, kesempatan pendidikan di Amerika terbuka pula baginya sebagai mahasiswa bidang komputerisasi pertahanan di Monterey, California, AS. Saat itu ia sebagai dosen di Univesitas Kristen Indonesia. Masa pendidikan di Amerika memberikan wawasan baru dalam melayani bangsa dan negara Indonesia yang yang ia cintai ini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berdinas di lingkunagan TNI-AL, Bonar Simangungsong telah menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Lalu kembali ia mendapat kesempatan dari Dephankam untuk belajar di Australia untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga pendidikan staf dan kepemimpinan bergengsi di negeri itu yakni AACS. Lembaga ini dikenal meluluskan orang-orang terbaik di bidangnya. Setelah itu, empat tahun kemudian, lagi-lagi Dephankam memberikan kepercayaan baginya mengikuti pendidikan SESPA sebuah pendidikan bertaraf nasional sebagai pelengkap AACS. Ia pun lulus SESPA sebagai peringkat pertama. Berbekal pendidikan SESPA dan AACS tentulah ia seorang perwira yang profesional dan berwawasan kebangsaan dan internasional.

Kemudian tahun 1986, Bonar Simangungsong diundang untuk mengikuti pendidikan di Amerika Serikat di bidang Pendidikan Manajemen Pertahanan Internasional (IDMC). Di lembaga pendidikan ini, ia talah mengikuti pendidikan komputerisasi pada tahun 1973. Kali ini peserta IDMC datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Kuwait, Saudi Arabia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Ia adalah perwakilan dari Indonesia.

Kisah pendidikan Bonar bukan hanya itu. Pada tahun yang sama ia menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) dan memperoleh gelar Doktorandus. Selepas itu, ia pun mengajar sebagai staf dosen di situ. Sepanjang kariernya ia telah mengikuti bermacam-macam pelatihan, seminar, simposium, dan pendidikan lain yang ada di dalam dan luar negeri. Pengabdiannya kepada negara yang telah ia jalani puluhan tahun telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pionir komputerisasi di TNI-AL dan Dephankam. ”Semua itu adalah bekal untuk melayani Tuhan dan sesama,” tuturnya bersyukur.

Perubahan Besar

Pada saat Bonar berusia 51 tahun, tepatnya tahun 1989, secara tiba-tiba terjadi perubahan besar pada diri dan keluarganya. Tahun 1989 itu merupakan tahun pertobatan, sebagai tunrning point kehidupan rohaninya. Peristiwa ini terjadi akibat kematian anak bungsunya Gurindo Tri Wahyu Simangunsong pada usia 16 tahun. Kepergian Gurindo mencelikan mata rohaninya akan kemahakuasaan Allah sekaligus Kasih-Nya. Katanya, Tuhan berhak memberi dan mengambil”. Proses pertobatan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, namun juga oleh ketabahan isterinya tercinta yang terus mendoakan dan setia berharap bahwa Tuhan dapat menjamah sang suami. Pertobatan ini membawanya untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan karena ketetapan hatinya untuk melayani itu teruji Tuhan meggunakannya, sehingga dengan mujizat yang dari Tuhan, ia dipercayakan untuk bergabung dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sebagai anggota penyusun GBHN dan segala bentuk pengkajian tingkat Nasional untuk Presiden RI.

Pekerjaan tangan Tuhan tidak berhenti di situ saja, setelah diangkat dengan SK Mensekneg sebagai anggota penyusun GBHN dan berpangkat kolonel, di tahun 1992 oleh keputusan Presiden RI, ia pun diangkat menjadi Laksmana Pertama (Laksma TNI) dengan jabatan Eselon I. Ia pensiun sebagai perwira TNI-AL pada usia 55 tahun (1993) dan pesiun sebagai penjabat pemerintah pada usia 60 tahun (1998)

Kerinduan dalam melayani Tuhan, semakin memantapkannya untuk mencurahkan pehatian dalam membantu sesama. Ia melayani di gereja GBI sejak tahun 1989, dimulai sebagai petugas seksi dan mempelopori persekutuan di Wanhankamnas dan di dua jemaat GBI. Kemudian setelah setia selama 8 tahun melayani, gereja mengangkatnya sebagai pendeta muda yang membina koordinasi staf ahli GBI. Tiga bulan sebelum masa pensiunnya sebagai pejabat pemerintah, ia di angkat sebagai ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yaitu sebuah forum komunikasi antar gereja-gereja Jakarta yang berasal dari berbagai aliran gereja seperti, Katolik, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Ortodoks, Protestan, Pentakosta dan Injili. Forum ini berdiri berdasarkan kesadaran kesatuan Tubuh Kristus dan kesatuan Iman melalui kesaksian Roh Kudus.

Pada tahun 2000 lalu, ia diangkat sebagai pendeta oleh sinode GBI selaku anggota Badan pembinaan Rohani Sinode dan sebagai wakil ketua umum Asosiasi Yayasan untuk Bangsa (AYUB). Dan yang paling mengejutkan, di usianya yang ke-62 ia masih menyempatkan kuliah bidang teologia di Institut Filsafat Teologia dan Kepemimpinan Jafrray (IFTKJ) serta kuliah di Universitas Terbuka bersama isterinya. Secara ekonomi dan karir gelar tidak ada artinya, tetapi dapat memberikan motivasi kepada anak-anak dan siapapun, bahwa proses belajar tidak pernah berhenti sampai mati, tuturnya. Saat ini ia tetap aktif sebagai Pendeta di sinode GBI dan membantu Menteri Kelautan dan Perikanan selaku kordinator Pokja Penyusunan Sistem Hukum Kristiani dan sebagai Widyaiswara bagi Diklat kepemimpinan TK II serta SPAMEN.

Refleksi

Sebagai seorang perwira tinggi yang bertobat dan hidup dalam Kristus, Bonar Simangunsong dalam beberapa kali pertemuan menguraikan Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Indonesia.

Dalam hal Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Bonar mengatakan bagi seorang pengikut Kristus yang kodratnya manusia sosial, hidup dalam bermasyarakat harus menjadi garam seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 5:13). Yaitu menjadi garam bagi sekelilingnya, apapun agama orang lain itu. Demikian juga pada saat yang sama harus menjadi terang dunia (Matius 5 :14).

Kehidupan sosial seorang Kristen adalah bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menganggap milik pribadi menjadi milik bersama dan mereka disukai orang lain (Kis. 2:44-47).

Kalau umat Kristiani menjadi garam, maka sifat garam yang memberi rasa sedap, umat ini pun dapat memberi rasa suka cita kepada orang lain, bahkan mereka yang sedang stres, tertekan dan menderita apapun asal-usul, profesi atau agama orang tersebut. Ibarat garam yang larut tidak kelihatan dalam makanan yang digarami, umat Kristen dengan kasih Yesus yang ada padanya larut tidak kelihatan identitasnya, tetapi terasa kehadiran umat tersebut di tengah-tengah orang lain dan rasa nyaman pun terjadi.

Manfaat lain dari garam adalah mencegah pembusukan, mencegah kehancuran makanan yang digarami. Maka, menurut Bonar, umat Kristiani dapat bertindak seperti itu. Larut mencegah angkara murka, kebencian, keirihatian dan sebagainya. Tentu dengan pertolongan Tuhan.

Dengan perkataan lain, manusia Kristiani harus bergaul dengan masyarakat sekelilingnya, jangan ekslusif, jangan arogan atau menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Sebagai terang dunia Umat Kristiani dan lembaga-lembaga Kristiani harus menjadi contoh, suri tauladan, taat pada peraturan perundang-undangan, tidak melakukan KKN memberi sumbangan pemecahan pada sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, menguak yang tersembunyi yang jahat melalui terang tersebut yaitu kuasa Roh Kudus.

Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan hidup sebagai masyarakat lebih banyak dari pada sebagai bangsa, karena di dalam masyarakatlah muncul pribadi-pribadi, kehidupan sehari-hari, kegiatan-kegiatan dan interaksi sosial. Tentu ini berhubungan dengan perbuatan yang baik atau jahat, berkat atau dosa. Oleh karena itu umat Kristiani dinilai lebih banyak sebagai anggota masyarakat daripada sebagai bangsa.

Refleksi Berbangsa

Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke ditambah dengan etnik lainnya yang datang ke Indonesia dan menetap tinggal di negeri ini. Sebenarnya suku bangsa yang disebut asli inipun, juga datang dari negeri lain, seperti dari Yunan di dekat Kamboja, maka yang benar-benar asli tidak ada. Keberagaman suku dan etnik tersebut yang bersatu menjadi bangsa Indonesia, terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, suatu heteroginitas yang tinggi, namun dapat bersatu. Pernyataan kebangsaan ini dicanangkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang terdiri dari Yong Jawa, Yong Batak, Yong Sunda, Yong Ambon, Yong Aceh, Yong Bornea, Yong Celebes dan sebagainya, yang bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Sayangnya pada saat itu hanya suku yang muncul, agama tidak.

Penjajahan Belanda, mendorong masyarakat dan rakyat dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu melawan penjajahah, apalagi dengan adanya sependeritaan dan senasib yang kemudian mengkristal, sehingga masyarakat tersebut membentuk diri menjadi bangsa.

Satu hal yang patut diingat bahwa Tuhan menetapkan bila manusia bersatu (satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa), maka manusia menjadi kuat dan apapun yang direncanakan akan terlaksana (Kejadian 1 1:6) seperti yang terjadi di Babel itu yang kemudian Tuhan mengacaukan bahasa mereka, agar tidak bersatu. Tuhan tidak menginginkan mereka bersatu, karena melawan Tuhan.

Bagi umat Kristiani yang menjadi bagian integral dari bangsa seperti bangsa Indonesia, harus memahami hal ini, dan ikut serta membangun bangsanya, agar kuat dan maju. Nilai persatuan dan kesatuan sering dikumandangkan di bumi Indonesia, bukanlah sekedar retorika pidato, tetapi sesuai Firman Allah. Wawasan Nusantara adalah doktrin persatuan dan kesatuan Indonesia, bersama-sama dengan Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya suatu pijakan ampuh untuk membangun bangsa dan harus menjadi pegangan juga bagi umat Kristiani membangun bangsa Indonesia. Maka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristiani tidak boleh eksklusif dan tidak hidup sendiri tanpa memperhatikan bangsanya.

Refleksi Bernegara

Alkitab mengajarkan tentang kenegaraan sebagai berikut: (1) Harus jelas wilayah dan batas-batas negara; (2) Harus ada peraturan perundang-undangan; (3) Harus ada pemimpin negara dan aparat; (4) Pemerintah harus demokratis; (5) Harus ada pembagian tugas yang jelas; (6) Rakyat mempunyai rasa kebangsaan. Oleh karena itu, bagi umat Kristiani bukan hal asing bernegara dan bahkan karena ada pedoman di AIkitab, mereka harus menjadi warga negara yang baik. Seperti kata Tuhan Yesus, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini pengertian Kaisar adalah Pemerintah, yang dipimpin Presiden, seperti Indonesia, atau Perdana Menteri, seperti Kanada. Pengertian hak Kaisar, hak Pemerintah, sangat luas, meliputi hukum, politik, ekonomi, penegakan hukUm tentara dan sebagainya, tidak hanya pajak.

Kalau menyandingkan teori kenegaraan dari Alkitab dengan fakta yang ada sekarang di dunia, maka tidak ada yang bertentangan. Walaupun ada perbedaan, yang terutama ditentukan oleh geopolitik, yaitu paradigma kenegaraan dan kepentingan nasionalnya mengacu pada geopolitik tersebut, juga adanya perkembangan dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Namun Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnik, apa kata Firman Tuhan tentang hal tersebut? Yesaya 41:1-7, berbicara tentang pulau-pulau dan bangsa-bangsa. Sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana besar bagi Indonesia. asal mau berdiam diri untuk mendengarkan Tuhan selanjutnya berbicara dan tampil bersamsama-sama (ayat 1), kemudian harus bergerak dari Timur, berarti di Indonesia dari lrian Jaya, Maluku dan sekitarnya (ayat 2) menuju Barat membawa Firman Tuhan (disimbolkan pedang). Kemenangan rohani datang dari sana.

Indonesia adalah wilayah yang diberkati: pilihan Allah: karena pulau-pulaunya mengharapkan pengajaran dan kasih-Nya (hukum-Nya) akan diterapkan di sana (Yes. 42:4 ), yaitu berdasarkan kasih, saling menghormati dan saling tolong menolong. Indonesia yang tidak mengalami musim dingin tidak akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada waktu khotbah di Bukit Zaitun, yaitu siksaan yang belum pernah terjadi sejak awal dunia diciptakan Allah sampai sekarang (Markus 13: 18-19). Puji Syukur pada Tuhan. Maka Umat Kristiani yang dianugerahi negeri seperti Indonesia dan ikut menegara dengan umat lain dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berkorban untuk bangsa dan negaranya sebagai berikut:

1. Menjadi garam, yaitu bergaul dengan masyarakat sekeliling, menjadi berkat, membantu orang lain, peduli orang lain, rendah hati, larut, tidak arogan dan sombong.

2. Menjadi terang, yaitu memberi contoh yang baik, kalau menjadi pemimpin harus mengayomi, mempunyai pusat-pusat Kristen di daerah-daerah mayoritas Kristen.

3. Menjadi warga negara yang patuh akan peraturan perundang-undangan, mempunyai KTP, membayar pajak, berdisiplin di lalu lintas dan tempat pekerjaan, menjaga nama baiki negaranya

4. Menjaga kepentingan nasional Indonesia, tidak membawa uangnya, kalau ada, ke luar negeri, membangun perekonomian nasional, membangun negaranya.

5. Mendoakan dan menjadi berkat bagi masyarakat. bangsa dan negara Indonesia, serta yang terpenting mendoakan rakyat Indonesia lainya agar dipilih Tuhan menjadi pengikut-Nya.

6. Tidak perlu berusaha menjadikan Indonesia menjadi negara agama, umpama negara Nasrani, sebab Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa negara tidak mencampuri agama dan agama tidak mencampuri urusan negara. Hubungan keduanya dapat terjalin, melalui umat, disatu pihak sebagai orang yang beriman, dipihak lain sebagai anggota masyarakat, bangsa dan

Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong

Selalu Belajar Melayani Sesama


Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong adalah sosok manusia yang selalu ingin belajar. Kisah hidupnya sangat diwarnai proses belajar. Baginya belajar adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hidup. Ia memang telah mengecap sejumlah pendidikan di dalam maupun di luar negeri.

Keinginan untuk terus belajar adalah kerinduannya untuk dapat berguna membawa suatu kehidupan masyarakat yang lebih baik dan memberkati orang lain dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepadanya.

Lulus dari SMA 3B di Setia Budi, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Ketika perkuliahan tingkat III terjadi masalah dalam keluarga yang berdampak pada persoalan ekonomi dan pendanaan perkuliahan. Namun masalah itu tidak menghentikannya untuk melanjutkan perkuliahan. Sebuah penawaran beasiswa dari TNI-AL memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat terus belajar. Dari sekian banyak pendaftar, pria yang lahir 24 November 1938 ini, satu di antara 20% yang lulus dari seluruh pendaftar.

Walaupun beasiswa telah ia terima, namun itu hanya dapat membantu sebagian dari kebutuhan akedemis. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih sangat sulit. “Namun, pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti,” kenangnya.
Tiga bulan setelah itu, kembali tawaran datang dari TNI-AL kepadanya sebagai Pelajar Calon Perwira, untuk berkesempatan kuliah di luar negeri yaitu di Uni Soviet. Suatu tantangan yang ia inginkan untuk dapat berkunjung dan berkuliah di luar negeri, yang semasa kecilnya hanya dapat dibayangkan dan dibaca melalui buku-buku dan film. Dan pada tahun 1967 ia lulus dari Odessa Polyrechnical Institute dengan menyandang gelar Msc. Sebuah harapan yang Tuhan genapi di luar jangkauan dan kehendak manusia.

Sekembalinya dari Uni-Soviet, ia diterima di TNI-AL sebagai perwira Letnan Satu (Lettu). Ia pun sempat mengajar di Universitas Trisakti. Di masa dinasnya ini ia bertemu dengan seorang gadis Tapanuli, bernama Elizabeth Leistriana Siahaan, yang cantik dan juga yang mengasihi Tuhan. Maklum, gadis itu puteri pendeta W. Siahaan – Perintis Gereja Pentakosta di Tapanuli. Mereka menikah pada tahun 1973 dan dianugerah tiga anak laki-laki.

Pada tahun 1974, kesempatan pendidikan di Amerika terbuka pula baginya sebagai mahasiswa bidang komputerisasi pertahanan di Monterey, California, AS. Saat itu ia sebagai dosen di Univesitas Kristen Indonesia. Masa pendidikan di Amerika memberikan wawasan baru dalam melayani bangsa dan negara Indonesia yang yang ia cintai ini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berdinas di lingkunagan TNI-AL, Bonar Simangungsong telah menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Lalu kembali ia mendapat kesempatan dari Dephankam untuk belajar di Australia untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga pendidikan staf dan kepemimpinan bergengsi di negeri itu yakni AACS. Lembaga ini dikenal meluluskan orang-orang terbaik di bidangnya. Setelah itu, empat tahun kemudian, lagi-lagi Dephankam memberikan kepercayaan baginya mengikuti pendidikan SESPA sebuah pendidikan bertaraf nasional sebagai pelengkap AACS. Ia pun lulus SESPA sebagai peringkat pertama. Berbekal pendidikan SESPA dan AACS tentulah ia seorang perwira yang profesional dan berwawasan kebangsaan dan internasional.

Kemudian tahun 1986, Bonar Simangungsong diundang untuk mengikuti pendidikan di Amerika Serikat di bidang Pendidikan Manajemen Pertahanan Internasional (IDMC). Di lembaga pendidikan ini, ia talah mengikuti pendidikan komputerisasi pada tahun 1973. Kali ini peserta IDMC datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Kuwait, Saudi Arabia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Ia adalah perwakilan dari Indonesia.
Kisah pendidikan Bonar bukan hanya itu. Pada tahun yang sama ia menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara – Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) dan memperoleh gelar Doktorandus. Selepas itu, ia pun mengajar sebagai staf dosen di situ. Sepanjang kariernya ia telah mengikuti bermacam-macam pelatihan, seminar, simposium, dan pendidikan lain yang ada di dalam dan luar negeri. Pengabdiannya kepada negara yang telah ia jalani puluhan tahun telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pionir komputerisasi di TNI-AL dan Dephankam. ”Semua itu adalah bekal untuk melayani Tuhan dan sesama,” tuturnya bersyukur.

Perubahan Besar
Pada saat Bonar berusia 51 tahun, tepatnya tahun 1989, secara tiba-tiba terjadi perubahan besar pada diri dan keluarganya. Tahun 1989 itu merupakan tahun pertobatan, sebagai tunrning point kehidupan rohaninya. Peristiwa ini terjadi akibat kematian anak bungsunya Gurindo Tri Wahyu Simangunsong pada usia 16 tahun. Kepergian Gurindo mencelikan mata rohaninya akan kemahakuasaan Allah sekaligus Kasih-Nya. Katanya, “Tuhan berhak memberi dan mengambil”. Proses pertobatan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, namun juga oleh ketabahan isterinya tercinta yang terus mendoakan dan setia berharap bahwa Tuhan dapat menjamah sang suami. Pertobatan ini membawanya untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan karena ketetapan hatinya untuk melayani itu teruji Tuhan meggunakannya, sehingga dengan mujizat yang dari Tuhan, ia dipercayakan untuk bergabung dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sebagai anggota penyusun GBHN dan segala bentuk pengkajian tingkat Nasional untuk Presiden RI.
Pekerjaan tangan Tuhan tidak berhenti di situ saja, setelah diangkat dengan SK Mensekneg sebagai anggota penyusun GBHN dan berpangkat kolonel, di tahun 1992 oleh keputusan Presiden RI, ia pun diangkat menjadi Laksmana Pertama (Laksma TNI) dengan jabatan Eselon I. Ia pensiun sebagai perwira TNI-AL pada usia 55 tahun (1993) dan pesiun sebagai penjabat pemerintah pada usia 60 tahun (1998)

Kerinduan dalam melayani Tuhan, semakin memantapkannya untuk mencurahkan pehatian dalam membantu sesama. Ia melayani di gereja GBI sejak tahun 1989, dimulai sebagai petugas seksi dan mempelopori persekutuan di Wanhankamnas dan di dua jemaat GBI. Kemudian setelah setia selama 8 tahun melayani, gereja mengangkatnya sebagai pendeta muda yang membina koordinasi staf ahli GBI.

Tiga bulan sebelum masa pensiunnya sebagai pejabat pemerintah, ia di angkat sebagai ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yaitu sebuah forum komunikasi antar gereja-gereja Jakarta yang berasal dari berbagai aliran gereja seperti, Katolik, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Ortodoks, Protestan, Pentakosta dan Injili. Forum ini berdiri berdasarkan kesadaran kesatuan Tubuh Kristus dan kesatuan Iman melalui kesaksian Roh Kudus.

Pada tahun 2000 lalu, ia diangkat sebagai pendeta oleh sinode GBI selaku anggota Badan pembinaan Rohani Sinode dan sebagai wakil ketua umum Asosiasi Yayasan untuk Bangsa (AYUB). Dan yang paling mengejutkan, di usianya yang ke-62 ia masih menyempatkan kuliah bidang teologia di Institut Filsafat Teologia dan Kepemimpinan Jafrray (IFTKJ) serta kuliah di Universitas Terbuka bersama isterinya. “Secara ekonomi dan karir gelar tidak ada artinya, tetapi dapat memberikan motivasi kepada anak-anak dan siapapun, bahwa proses belajar tidak pernah berhenti sampai mati,” tuturnya.

Saat ini ia tetap aktif sebagai Pendeta di sinode GBI dan membantu Menteri Kelautan dan Perikanan selaku kordinator Pokja Penyusunan Sistem Hukum Kristiani dan sebagai Widyaiswara bagi Diklat kepemimpinan TK II serta SPAMEN.

Refleksi
Sebagai seorang perwira tinggi yang bertobat dan hidup dalam Kristus, Bonar Simangunsong dalam beberapa kali pertemuan menguraikan Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Indonesia.
Dalam hal Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Bonar mengatakan bagi seorang pengikut Kristus yang kodratnya manusia sosial, hidup dalam bermasyarakat harus menjadi garam seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 5:13). Yaitu menjadi garam bagi sekelilingnya, apapun agama orang lain itu. Demikian juga pada saat yang sama harus menjadi terang dunia (Matius 5 :14).
Kehidupan sosial seorang Kristen adalah bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menganggap milik pribadi menjadi milik bersama dan mereka disukai orang lain (Kis. 2:44-47).
Kalau umat Kristiani menjadi garam, maka sifat garam yang memberi rasa sedap, umat ini pun dapat memberi rasa suka cita kepada orang lain, bahkan mereka yang sedang stres, tertekan dan menderita apapun asal-usul, profesi atau agama orang tersebut. Ibarat garam yang larut tidak kelihatan dalam makanan yang digarami, umat Kristen dengan kasih Yesus yang ada padanya larut tidak kelihatan identitasnya, tetapi terasa kehadiran umat tersebut di tengah-tengah orang lain dan rasa nyaman pun terjadi.
Manfaat lain dari garam adalah mencegah pembusukan, mencegah kehancuran makanan yang digarami. Maka, menurut Bonar, umat Kristiani dapat bertindak seperti itu. Larut mencegah angkara murka, kebencian, keirihatian dan sebagainya. Tentu dengan pertolongan Tuhan.
Dengan perkataan lain, manusia Kristiani harus bergaul dengan masyarakat sekelilingnya, jangan ekslusif, jangan arogan atau menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Sebagai terang dunia Umat Kristiani dan lembaga-lembaga Kristiani harus menjadi contoh, suri tauladan, taat pada peraturan perundang-undangan, tidak melakukan KKN memberi sumbangan pemecahan pada sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, menguak yang tersembunyi yang jahat melalui terang tersebut yaitu kuasa Roh Kudus.
Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan hidup sebagai masyarakat lebih banyak dari pada sebagai bangsa, karena di dalam masyarakatlah muncul pribadi-pribadi, kehidupan sehari-hari, kegiatan-kegiatan dan interaksi sosial. Tentu ini berhubungan dengan perbuatan yang baik atau jahat, berkat atau dosa. Oleh karena itu umat Kristiani dinilai lebih banyak sebagai anggota masyarakat daripada sebagai bangsa.

Refleksi Berbangsa
Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke ditambah dengan etnik lainnya yang datang ke Indonesia dan menetap tinggal di negeri ini. Sebenarnya suku bangsa yang disebut asli inipun, juga datang dari negeri lain, seperti dari Yunan di dekat Kamboja, maka yang benar-benar asli tidak ada. Keberagaman suku dan etnik tersebut yang bersatu menjadi bangsa Indonesia, terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, suatu heteroginitas yang tinggi, namun dapat bersatu. Pernyataan kebangsaan ini dicanangkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang terdiri dari Yong Jawa, Yong Batak, Yong Sunda, Yong Ambon, Yong Aceh, Yong Bornea, Yong Celebes dan sebagainya, yang bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Sayangnya pada saat itu hanya suku yang muncul, agama tidak.
Penjajahan Belanda, mendorong masyarakat dan rakyat dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu melawan penjajahah, apalagi dengan adanya sependeritaan dan senasib yang kemudian mengkristal, sehingga masyarakat tersebut membentuk diri menjadi bangsa.
Satu hal yang patut diingat bahwa Tuhan menetapkan bila manusia bersatu (satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa), maka manusia menjadi kuat dan apapun yang direncanakan akan terlaksana (Kejadian 1 1:6) seperti yang terjadi di Babel itu yang kemudian Tuhan mengacaukan bahasa mereka, agar tidak bersatu. Tuhan tidak menginginkan mereka bersatu, karena melawan Tuhan.
Bagi umat Kristiani yang menjadi bagian integral dari bangsa seperti bangsa Indonesia, harus memahami hal ini, dan ikut serta membangun bangsanya, agar kuat dan maju. Nilai persatuan dan kesatuan sering dikumandangkan di bumi Indonesia, bukanlah sekedar retorika pidato, tetapi sesuai Firman Allah. Wawasan Nusantara adalah doktrin persatuan dan kesatuan Indonesia, bersama-sama dengan Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya suatu pijakan ampuh untuk membangun bangsa dan harus menjadi pegangan juga bagi umat Kristiani membangun bangsa Indonesia. Maka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristiani tidak boleh eksklusif dan tidak hidup sendiri tanpa memperhatikan bangsanya.

Refleksi Bernegara
Alkitab mengajarkan tentang kenegaraan sebagai berikut: (1) Harus jelas wilayah dan batas-batas negara; (2) Harus ada peraturan perundang-undangan; (3) Harus ada pemimpin negara dan aparat; (4) Pemerintah harus demokratis; (5) Harus ada pembagian tugas yang jelas; (6) Rakyat mempunyai rasa kebangsaan.

Oleh karena itu, bagi umat Kristiani bukan hal asing bernegara dan bahkan karena ada pedoman di AIkitab, mereka harus menjadi warga negara yang baik. Seperti kata Tuhan Yesus, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini pengertian Kaisar adalah Pemerintah, yang dipimpin Presiden, seperti Indonesia, atau Perdana Menteri, seperti Kanada. Pengertian hak Kaisar, hak Pemerintah, sangat luas, meliputi hukum, politik, ekonomi, penegakan hukUm tentara dan sebagainya, tidak hanya pajak.

Kalau menyandingkan teori kenegaraan dari Alkitab dengan fakta yang ada sekarang di dunia, maka tidak ada yang bertentangan. Walaupun ada perbedaan, yang terutama ditentukan oleh geopolitik, yaitu paradigma kenegaraan dan kepentingan nasionalnya mengacu pada geopolitik tersebut, juga adanya perkembangan dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia.

Namun Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnik, apa kata Firman Tuhan tentang hal tersebut? Yesaya 41:1-7, berbicara tentang pulau-pulau dan bangsa-bangsa. Sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana besar bagi Indonesia. asal mau berdiam diri untuk mendengarkan Tuhan selanjutnya berbicara dan tampil bersamsama-sama (ayat 1), kemudian harus bergerak dari Timur, berarti di Indonesia dari lrian Jaya, Maluku dan sekitarnya (ayat 2) menuju Barat membawa Firman Tuhan (disimbolkan pedang). Kemenangan rohani datang dari sana.

Indonesia adalah wilayah yang diberkati: pilihan Allah: karena pulau-pulaunya mengharapkan pengajaran dan kasih-Nya (hukum-Nya) akan diterapkan di sana (Yes. 42:4 ), yaitu berdasarkan kasih, saling menghormati dan saling tolong menolong. Indonesia yang tidak mengalami musim dingin tidak akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada waktu khotbah di Bukit Zaitun, yaitu siksaan yang belum pernah terjadi sejak awal dunia diciptakan Allah sampai sekarang (Markus 13: 18-19). Puji Syukur pada Tuhan.

Maka Umat Kristiani yang dianugerahi negeri seperti Indonesia dan ikut menegara dengan umat lain dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berkorban untuk bangsa dan negaranya sebagai berikut:

1. Menjadi garam, yaitu bergaul dengan masyarakat sekeliling, menjadi berkat, membantu orang lain, peduli orang lain, rendah hati, larut, tidak arogan dan sombong.
2. Menjadi terang, yaitu memberi contoh yang baik, kalau menjadi pemimpin harus mengayomi, mempunyai pusat-pusat Kristen di daerah-daerah mayoritas Kristen.
3. Menjadi warga negara yang patuh akan peraturan perundang-undangan, mempunyai KTP, membayar pajak, berdisiplin di lalu lintas dan tempat pekerjaan, menjaga nama baiki negaranya
4. Menjaga kepentingan nasional Indonesia, tidak membawa uangnya, kalau ada, ke luar negeri, membangun perekonomian nasional, membangun negaranya.
5. Mendoakan dan menjadi berkat bagi masyarakat. bangsa dan negara Indonesia, serta yang terpenting mendoakan rakyat Indonesia lainya agar dipilih Tuhan menjadi pengikut-Nya.
6. Tidak perlu berusaha menjadikan Indonesia menjadi negara agama, umpama negara Nasrani, sebab Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa negara tidak mencampuri agama dan agama tidak mencampuri urusan negara. Hubungan keduanya dapat terjalin, melalui umat, disatu pihak sebagai orang yang beriman, dipihak lain sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara. *** (Tokoh Indonesia)

Rendahnya SDM di Laut

“Kendala Pembangunan Kelautan”

Tingkat pendidikan yang rendah cenderung menimbulkan masalah yang tidak sederhana dalam proses pembangunan kelautan Indonesia.

Hampir satu tahun sudah Tujuh Tenaga Ahli Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) dibentuk. Tenaga Ahli ini bertugas membantu Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia dalam merumuskan dan mengkaji permasalahan kelautan nasional yang selanjutnya untuk diserahkan kepada Presiden agar diimplementasikan pada sektor terkait di bidang kelautan. Kajian-kajian itu yakni bidang SDM dan IPTEK, perikanan, pelayaran, pariwisata bahari, hukum dan kelembagaan, lingkungan laut, dan energi dan sumberdaya mineral.

Fakta menunjukan kondisi kelautan nasional masih belum beranjak dari keterpurukannya walau gong kebangkitan telah ditabuh sejak masa reformasi dengan dicanangkannya Deklarasi Bunaken pada 1998 sampai dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan serta Dewan Kelautan Indonesia (awalnya Dewan Maritim Indonesia) pada tahun 1999.

Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Prof. Dr. Rizald Max Rompas selalu mengingatkan bahwa, hal yang mendasar dari keterpurukan itu yakni masih menganutnya pola daratan dari para pemangku negeri ini, khususnya di jajaran birokrasi, mulai dari staf sampai eselon I.

Nah, terkait dengan persoalan ini Dewan Kelautan Indonesia merasa membutuhkan sebuah think tank bagi upaya percepatan pembangunan kelautan nasional dengan membentuk para Tenaga Ahli tersebut. Dengan itu, paling tidak dapat diketahui apa dan bagaimana seharusnya Presiden menata bidang kelautan ini. “Ini menjadi penting bagi Presiden, dan dengan demikian menjadi tahu prioritas serta permasalahan yang mendasar dibidang kelautan nasional,” kata Rompas.

Terlepas dari penting dan mendasarnya semua kegiatan ekonomi, politik dan sosial budaya di bidang kelautan, Sumberdaya Manusia dan IPTEK rupanya hal yang paling pokok dari semua permasalahan pokok. Sebab semua soal tak akan bisa selesai tanpa kehadiran SDM dan IPTEK. Ir. Laksma (Purn) Bonar Simangunsong, M.Sc, sebagai Tenaga Ahli bidang SDM dan IPTEK Dewan Kelautan Indonesia, menyebutkan bahwa kondisi SDM kebaharian di negeri ini menjadi kunci penting dalam pembangunan kelautan nasional.

“Namun sayang dan harus kita akui kondisi ini masih jauh dari harapan. Dengan demikian perlu sebuah gerakan dalam meningkatkan SDM kelautan kita, baik itu pada sektor perikanan, pelayaran, sampai pengoptimalan energi dan sumberdaya mineral, khususnya di laut,” kata Bonar Simangunsong kepada Maritim Indonesia, beberapa waktu lalu.

Minim kualitas dan kuantitas

SDM kelautan nasional baik kualitas maupun kuantitas memang masih sangatlah kurang. Hal ini menyebabkan lambatnya pembangunan di bidang ini. Padahal berkembang dan stagnasinya suatu bangsa ditentukan kesiapan atau tidaknya sumberdaya manusianya. Di bidang kelautan nasional, melihat peluang dan tantangan yang sangat besar, SDM dan IPTEK adalah syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Misal, bagaimana mengoptimalkan sumberdaya mineral dan gas di lepas pantai. Coba saja, berdasarkan data geologi, diketahui Indonesia memiliki lebih dari 60 cekungan minyak di dasar laut yang belum dieskplorasi. Tentu ini selain membutuhkan IPTEK juga SDM yang handal di bidangnya.

Di bidang Perikanan pun demikian. Dan sayang seribu kali sayang, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan DKP, sumberdaya manusia yang berkecimpung di sektor ini lebih dari 50 (2006) adalah lulusan sekolah dasar, yakni untuk SDM pelaku perikanan tangkap sebesar 56 berpendidikan SD. Untuk pen-didikan SLTP sebesar 26, tidak tamat SD sebesar 6. Sisanya SLTA dan sarjana.

Tentu saja rendahnya SDM perikanan berdampak pada rendahnya investasi dan rendahnya pendapatan di sektor ini. Akibatnya daya serap SDM perikanan pun menjadi terbatas Dari sisi pendapatan, untuk perikanan tangkap sebagian besar atau sekitar 44 berpenghasilan Rp. 800 ribu hingga Rp1,5 juta. Di bawah Rp. 800 ribu sebesar 36 dan sisanya atau sekitar 20 dengan gaji lebih dari Rp. 1,5 juta.

Sementara untuk perikanan budidaya lulusan SD sebesar 41, SLTP dan SLTA 24, sisanya tidak tamat SD dan sarjana. Dari sisi pendapatan sebagian besar 39,3 berpenghasilan Rp. 800 ribu sampai Rp1,5 juta, di bawah Rp. 800 ribu 28, dan sisanya berpenghasilan di atas Rp. 1,5 juta.

ILO (International Labour Organization) memang tidak begitu memberikan peraturan yang ketat terhadap nasib para pelaku perikanan di setiap negara. ILO cukup memberikan toleransi dalam menetapkan standar gaji terhadap para pelaku usaha ini. Pasalnya hampir sebagian besar terutama di Indonesia para pelaku perikanan adalah nelayan tradisional.

Artinya kebijakan pengupahan para pelaku perikanan diserahkan kepada kebijakan negara masing-masing. ILO memang telah menetapkan gaji pelaku perikanan modern pada Januari 2008 sebesar US$ 530 atau sekitar Rp. 4,7 juta dan pada akhir 2008 (31 Desember 2008) ILO menetapkan US$ 545 atau sekitar Rp. 4,9 juta.

Di dalam negeri nelayan tradisional terkooptasi dalam sistem bagi hasil yang tidak adil. Sehingga kemiskinan struktural nelayan sulit diselesaikan. Untuk itu ke depan perlu adanya bagi hasil agar nelayan mampu menaikan produktivitas serta mengangkat daya saing perikanan Indonesia.

Sementara permasalahan mendasar dari otonomi daerah adalah keterbatasan sumberdaya manusia yang kompeten khususnya di daerah. Banyak kepala dinas yang tidak memiliki latar belakang akademis dibidang perikanan. Kekurangan aparatur teknis seperti penyuluhan di daerah yang bersentuhan langsung di daerah pun sama kurangnya. Nah, terkait dengan ini, adalah, sekali lagi, mutlak dan wajib bagi pemerintah untuk meningkatkan SDM dan IPTEK bagi pembangunan kelautan nasional.

Rendahnya sumberdaya manusia kelautan nasional tidak saja menimpa sektor perikanan. Demikan halnya dengan SDM energi dan sumberdaya mineral serta industri maritim lainnya yang umumnya hanya berpendidikan rendah serta kurang mengusai IPTEK. Nah, Bonar Simangunsong menilai perlunya reformasi hukum dan SDM dikalangan birokrat di seluruh instansi pemerintah yang terkait dengan pengelolaan SDM kelautan.

Pilar penting

Sumberdaya manusia memang menjadi kunci utama dalam pembangunan di segala bidang, tak terkecuali di bidang kelautan nasional. Maka mengembangkan dan meningkatkan SDM kebaharian merupakan sebuah keharusan demi tercapainya sasaran pembangunan kelautan. Rendahnya SDM kebaharian Indonesia baik kualitas maupun kuantitas yang menyebabkan belum mampunya memenuhi kualifikasi standar internasional, disebabkan oleh kebijakan pemerintah tentang sistem pendidikan yang belum memberikan porsi maksimal bagi bidang ini. Faktor lainnya, tentu, paradigma aparatur maupun non aparatur yang masih berparadigma darat. “Sumberdaya manusia merupakan bagian terpenting dalam pembangunan, sehingga peningkatan kemampuan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut mutlak diprioritaskan oleh setiap daerah yang menjadikan pesisir dan laut sebagai tumpuan pertumbuhan daerah,” pinta Bonar.

Sumberdaya manusia Indonesia secara umum memiliki ciri antara lain memiliki jumlah yang sangat besar dengan pertumbuhan dan penyebaran yang tidak merata serta terpusat di daerah tertentu. Tingkat pendidikan yang rendah, serta kebijakan tenaga kerja di berbagai sektor masih belum terpadu sehingga cenderung menimbulkan masalah yang tidak sederhana dalam proses pembangunan kelautan Indonesia.

“Perlu ada upaya serius dari pemerintah untuk meningkatkan peranan SDM dan IPTEK untuk mendayagunakan sumberdaya lautan agar industri-industri perikanan, perhubungan laut, dan maritim perkapalan terangkat,” katanya. Untuk hal ini Bonar menambahkan agar meningkatkan anggaran pada masing-masing sektor untuk upaya pengembangan sumberdaya manusia dan IPTEK.

Jelas saja bangsa ini membutuhkan SDM dan tenaga profesional yang mengusai IPTEK untuk dapat mengisi kebutuhan tersebut. Sementara sekolah kejuruan baik negeri maupun swasta belum mampu mencukupi kebutuhan yang diinginkan. Di sisi lain asosiasi profesional belum efektif dalam merangsang, memacu, dan mengangkat kualitas SDM Indonesia secara profesional yang kredibel, bankable baik untuk pasaran kerja dalam negeri maupun internasional. (Majalah Maritim Indonesia).

Iklan

Eka Sari Lorena Surbakti


Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Airlines, Eka Sari Lorena Surbakti Utamakan Kenyamanan Penumpang lorena


Oleh
Effatha Tamburian

Jakarta—Bekal pengalaman 38 tahun di bidang transportasi darat dan standar mutu internasional ISO 9001:2000 diyakini menjadi kekuatan utama perusahaan transportasi Lorena Group untuk ekspansi ke bidang transportasi udara.

Maskapai penerbangan Lorena Air terbang perdana pada minggu keempat April 2008 dan menjanjikan keamanan penumpang (safety) serta layanan premium, membidik pasar yang ingin menikmati layanan penuh (full service).
Lorena Air langsung masuk dalam jaringan sistem Abacus yang menjual tiket secara otomatis melalui internet atau elektronik tiket di sekitar 3500 agen. Lorena Air punya point of sales sendiri yang ditargetkan di sepuluh kota besar seperti Denpasar, Surabaya, Palembang, Pekan Baru, Bandung, dan Bogor.
Dari enam pesawat didatangkan tahun 2008, maskapai bermoto Excellent Way To Fly ini menargetkan keuntungan “hanya” US$ 1,5 juta (Rp 13,5 miliar) per tahun.

Presiden Direktur Lorena Air Eka Sari Lorena Surbakti (39) sangat menyadari hambatan di industri penerbangan sangat banyak dan memiliki aturan main yang sangat ketat (very high regulated). Sudah begitu, industri padat modal (capital intensive) ini memberikan marjin kecil, sekitar 2 persen.
Meskipun memiliki kesamaan konsep dengan transportasi darat, diakui Eka, terdapat beberapa peraturan udara yang lebih detail.
Namun sebagai perusahaan transportasi swasta yang sarat pengalaman, Lorena Group dengan Lorena Air-nya melihat hal di atas bukan sebagai sesuatu yang negatif.

“Bila dioperasikan secara masal, tetap bisa bertahan dan berkembang,” kata putri sulung GT Surbakti (pendiri Lorena Group-red) ini mantap.
Dalam perbincangannya dengan SH pekan lalu, Eka mengungkapkan keinginan Lorena Air untuk ikut mendorong Indonesia memasuki era globalisasi dimana orang-orang di seluruh dunia membutuhkan travel time yang cepat.

“Bukan hal yang mustahil mengingat semua orang perlu terbang di negara kepulauan ini,” tandasnya.

Ditegaskan, dalam pengelolaan bisnisnya Lorena Air akan mengutamakan komitmen manajemen terhadap safety disamping tentunya aspek financial atau manajemen arus kas (cashflow) yang harus dikelola secara profesional.
Ekspansi usaha Lorena Group ke bidang transportasi udara bukanlah suatu hal yang tidak direncanakan sebelumnya, sebab sesungguhnya semuanya sudah terjadwal tanpa percepatan. Persiapan peluncuran Lorena Air, seperti dituturkan Eka, telah memakan waktu kurang lebih 3 tahun sejak 2004. Waktu persiapan yang cukup lama diharapkan akan memperkecil masalah di kemudian hari.

“Saya tidak percaya dengan yang namanya karbitan. Momennya memang seperti kebetulan, ada yang stop operasi (Adam Air-red) dan kita baru mau terbang,” kata Eka.

Sementara itu, terkait persiapan yang telah dilakukan menjelang pemberian izin terbang, Eka memaparkan sejauh ini Lorena Air telah memasuki pemenuhan persyaratan ketiga untuk perolehan sertifikat operasi pesawat standar internasional, yaitu AOC (Aircraft Operation Certificate), persyaratan keempat dan kelima akan diberikan pada saat pesawat akan masuk ke Indonesia.

Baru kemudian diberi kode PK atau Papa Kilo sebagai kode izin penerbangan pesawat di Indonesia.

“Pesawat Lorena Air sudah mau masuk ke Indonesia, tetapi karena (pesawat tersebut-red) milik AS, kita harus mengurusnya ke FAA (Federal Aviation Agency). Dan sebelum diterbangkan ke Indonesia, terlebih dulu harus dilakukan pemeriksaan oleh Malaysia Airlines Engineering System di Subang, Malaysia, dan masih menggunakan kode penerbangan asing. Kita belum mendapatkan AOC jadi kita belum bisa terbangkan pesawat itu dengan izin kita,” ujar Eka.

Eka menargetkan pada April ini Lorena Air dengan jenis pesawat Boeing 737 Seri 300 akan melakukan penerbangan pesawat pertamanya dengan rute Jakarta-Surabaya dan pesawat keduanya Jakarta-Pekanbaru dan Jakarta-Palembang.
“Dalam satu hari terdapat 8 kali penerbangan, dan tahun ini berencana sampai 6 pesawat dengan tipe yang sama karena jika jenisnya sama, sifat dan karakter serta jumlah penumpangnya sama sehingga akan memudahkan manajemen mempersiapkan budget planning untuk maintenance dengan lebih optimal,” kata Eka.

Eka menjamin SDM Lorena Air memiliki latar belakang penerbangan yang baik dengan jumlah karyawan 50-65 untuk 1 pesawat, sedangkan jumlah kru pesawat mengikuti standar internasional, yaitu 3,5 set untuk 1 pesawat di mana 1 set terdiri dari 1 pilot, 1 kopilot, dan 4 pramugari. (SINARHARAPAn 31/3/08)

BERITA:

Eka Sari Lorena Surbakti

Bermula dari dua unit bus yang melayani transportasi para pekerja di Jakarta yang tinggal di Bogor, Lorena Group berkembang menjadi perusahaan transportasi dan jasa logistik yang menggurita. Eka Sari Lorena Surbakti menjadi saksi hidup pertumbuhan bisnis yang dirintis ayahnya, G.T. Surbakti, pada 1970 dan sudah merambah ke Medan.

EKA Sari Lorena Surbakti tidak pernah melupakan dari mana dahulu Lorena dirintis. Masih jelas ingatannya saat dirinya masih kecil di kantor Lorena di Bogor. ”Dulu kalau ke kamar mandi tidak ada atapnya, jadi harus dipayungi Ibu karena Bogor sering hujan,” kenang Eka saat ditemui di kantornya Rabu.
Kini, Lorena Group telah memiliki dan mengoperasikan 500 bus besar, 250 truk, dan 57 armada busway. Jika ditambah dengan kendaraan-kendaraan kecil, total ada sekitar 1.000 kendaraan yang dioperasikan.

Lorena Group juga telah memiliki 667 kantor di seluruh tanah air. ”Jadi, sekarang dari Sabang sampai Merauke, Lorena ada benderanya,” kata peraih master of business and administration dari University of San Francisco, California, AS, tersebut.

Kesuksesan bisnis transportasi tidak terlepas dari peran strategis sektor tersebut terhadap perekonomian. Eka mengibaratkan sarana transportasi itu darah dalam tubuh. ”Saya percaya transportasi itu seperti da rah. Ketika tersumbat, orang bisa kena stroke,” kata ibu dua anak tersebut. Jika sarana transportasi tidak terbangun dengan baik, menurut Eka, gelombang urbanisasi akan meningkat.

”Orang akan memilih hidup di Jakarta, Surabaya karena pembangunannya tidak dialirkan ke daerahnya,” kata ketua DPP Organda tersebut. Berangkat dari pemikiran itu, Lorena Group mengembangkan diri tidak hanya melayani transportasi orang, namun juga barang. Karena itu, muncul layanan jasa logistik seperti ESL Express. ”Transportasi ini kan memengaruhi bisnis secara menyeluruh. Punya bisnis, tetapi tidak ada yang membawa ya tidak bisa. Punya padi, tetapi tidak ada yang mengantarkan, ya busuk jadinya,” ungkapnya.

Eka menyebutkan, salah satu alasan utama produk pertanian Indonesia yang lebih mahal jika dibandingkan dengan produk impor adalah mahalnya biaya transportasi. ”Itu karena infrastrukturnya yang belum mendukung,” katanya.

Padahal, lanjut dia, 91 persen logistik nasional masih ditopangang kutan jalan raya. Rata-rata di dunia 70 persen hingga 94 persen memang juga dilayani angkutan jalan raya. ”Nah, kalau tidak ada darahnya, numplek semua menjadi urbanisasi,” ujar nya.

Lantas, bagaimana kiat Lorena Group sehingga bisa sebesar sekarang? Menurut Eka, Lorena memiliki prinsip sederhana. ”Dulu kan PO, perusahaan otobus. Itu juga singkatan dari Pakai Otak,” ujar Eka seraya tersenyum. Selain PO, konsep lain adalah menjaga hati dan pantang menyerah.

Dengan memaksimalkan kecerdasan sumber daya manusia, rencana bisnis bisa dijalankan dengan optimal. Eka menyebutkan langkah besar Lorena yang mulai melayani trayek bus ke Jawa Timur pada 1980-an. ”Dulu kami paling jauh itu ke Surabaya,” katanya. Ekspansi ke Jawa Timur tersebut menjadi tonggak pesatnya laju pertumbuhan bisnis Lorena. Menurut Eka, itu juga disebabkan per tim bangan bisnis yang matang. Jawa Ti mur dinilai memiliki pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata. Penduduknya juga berpenghasilan lumayan. ”Selain itu, suka bepergian,” ujar Eka.

Saking besarnya di Jawa Timur, kala itu banyak yang mengira Lorena berpusat diprovinsi tersebut. ”Kami dulu dikira dari Jawa Timur. Dikira arek Suroboyo,” kata Eka. Eka menambahkan, Lorena juga tidak ingin sendirian bertumbuh. Untuk merangsang tumbuhnya minat berbisnis hingga ke daerah-daerah, Lorena membuat franchise untuk ESL Express. ”Jadi, siapapun bisa membuka ESL Express dengan biaya terjangkau,” imbuhnya.

Eka mengatakan bahwa pengembangan bisnis transportasi bukan hal yang mudah. In frastruktur masih menjadi kendala terbesar. Jika masa lah itu ditambah dengan kenaikan harga BBM, beban jasa transportasi akan bertambah. ”Kalau harga BBM naik, ya tinggal dihitung saja nanti untuk bus besar, Rp1.500 kali 120 liter sekali jalan,” kata Eka. Namun, menurut dia, jalan keluar kendala-kendala itu tetap harus dicari. (sof/c6/dos)

TENTANG LORENA GROUP

Lorena Group (berdiri 1970) adalah kelompok usaha yang awalnya bergerak dibidang usaha transportasi. Lorena Group telah berekspansi di industri logistik melalui holding company PT Lorena Karina. Holding ini memiliki sejumlah anak usaha. Di antaranya, PT Eka Sari Lorena Transport dan PT Ryanta Mitra Karina atau lebih dikenal dengan sebutan Lorena-Karina. Itu merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa angkutan darat antarkota antarprovinsi (AKAP). Di industri logistik, ada PT Eka Sari Lorena ESL Express dan PT Eka Sari Lorena Logistics. Ada pula PT Sari Lorena Charter & Rental dan PT Trans Jakarta Busway.

NAMA PEREMPUAN LEBIH MENJUAL

MENJADI anak sulung membuat Eka Sari Lorena memiliki privilege khu sus. Kasih sayang dari orang tua tentu dibagi sama rasa dengan dua adiknya. Tetapi, ada yang beda. Ka rena lahir lebih dahulu, nama Eka menjadi brand perusahaan yang dibangun ayahnya. ”Saya kan ma sih bayi, jadi tidak bisa maksamak sa nama saya dipakai,” ujarnya seraya tersenyum.

Menurut Eka, penggunaan namanya lebih karena anggapan bahwa na ma perempuan cenderung lebihla ku. Lorena juga berkesan dari nama asing. ”Padahal, itu asal ka ta nya dari Batak,” kaya Eka. Kini, Lo rena lebih menonjolkan brand ESL.

Dalam berbisnis, Eka selalu diberi ni lai-nilai dasar oleh ayahnya, G.T. Soerbakti. ”Kami selalu diajarkan bahwa hidup ini seperti lomba lari. Ja di, harus menang. Kalau ka lah melulu, jadi bete,” ujar nya.

Karena sejak kecil terlibat dalam ke seharian usaha ayahnya, Eka lebih mudah menyesuaikan diri ketika menekuni bisnis transportasi. (sof/c6/dos)

Sumber:

http://www.hariansumutpos.com/2012/04/31425/po-yang-pakai-otak#ixzz2hIGZwrWD

Harry Truman Simanjuntak


harry-truman-simanjuntak-pArkeologi disiplin ilmu boleh dibilang kurang diminati di Indonesia. Kalaupun adamenapak masa depannya pada bidang arkeologi, mungkin hanya kenekatan seseorang saja menggeluti disiplin ilmu konon katanya “kering”. Ataupun jiwa petualang mendominasi hidupnya untuk melakukan penelitian terhadap benda-benda purbakala atau artefak-artefak jaman batu. Atau orang batak mengatakan “ulaon na dila doi” (kerjaan orang gila). Sejauh inikah pesimistis yang terjadi terhadap ilmu mengutak-atik benda-benda tempo doeloe.

Untuk pemaparan tentang keberlangsungan sejarah suatu budaya harus didukung bukti-bukti otentik berupa perilaku adat, bahasa, aksara, ritus, artefak, wilayah, benda-benda purbakala pendukung lainnya. Dalam penemuan-penemuan terhadap benda purbakala, kita dapat menjadikan pertambahan nilai ilmiah bukti sejarah. Runtutan asal-muasal suatu bangsa dengan budayanya sedikit banyaknya terungkap jelas. Seperti kisah tenggelamnya kota Atlantis yang sampai sekarang masih banyak dibutuhkan kebenaran cerita itu fakta atau fiksi belaka. Diperlukan keahlian khusus dan kesabaran, ketelatenan untuk menentukan/mengidentifikasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah setempat serta budayanya sehingga ruang keragu-raguan (mitos) dapat dipersempit areanya.Tentunya basis disiplin ilmu harus benar-benar mutlak dikuasi para arkeolog. Walaupun terhadap suatu kasus belum dapat diprediksi secara eksata kebenaran sejarah itu dan cenderung masih dalam tataran sebuah ramalan. Bagaimana nilai sejarah ditentukan sebenarnya(tolak ukur). Ataukah pure historical culture, atau ada muatan sponsoring melalui media.

Ketika benda purbakala ditemukan dalam suatu situs yang diduga ada kaitannya dengan suatu sejarah, maka penelitian mendalam dengan seksama dikerjakan. Setiap benda purbakala harus dapat memberi jawaban antara artefak yang satu dengan yang lain yang saling berhubungan dalam membuka tabir sejarah yang masih gelap. Data-data yang masih ada kaitan dicoba jadi tali sambung atas sejarah yang terputus terhadap temuan artefak yang baru tadi. Permasalahannya sejauhmana modul ketepatan terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Satu hal sifat dan karakteristik struktur pertanahan dalam ukuran korbon menetukan usia artefak itu sendiri. Lapisan tanah yang terkontur lapis per lapis menjadi standar penentuan usia/umur. Kajian ini diulang secara berkesinambungan sehingga bukti kongkrit pendukung usia dapat dipecahkan dengan ilmiah. Kecuali di artefak itu sendiri sudah ada data sejarah. Semisalnya tembikar dinasti Ming. Para arkeolog sudah fasih dalam hal demikian. Dunia arkeologi adalah dunia mengukapkan tabir rahasia sejarah yang mungkin telah terkubur ribuan tahunan bahkan jutaan tahun seperti Dinousorus.

Walaupun sudah banyak bukti-bukti peninggalan sejarah berupa tulang belulang binatang purbakala dibeberapa wilayah Asia, Amerika, Kutub, Afrika dll, namun kenyataan sampai kini belum ada kepastian kapan ada dan dimana wilayah/area keberadaan Dinosourus itu? Semua masih dugaan sekitar ribuan tahun yang lalu di daerah Amerika Latin atau Kutub Selatan. Sementara prakiraan musnahnya makhluk dunia akibat meletusnya Gunung Toba yang buangan gunung berapi Toba menyelimuti dunia, hingga mengalami kegelapan dan kedinginan yang luar biasa selama 10 (sepuluh) tahun. Apakah kegelapan itu semakin gelap dengan adanya temuan-temuan baru?

Sumita Tobing


Sumita-Tobing-300x241Nama:
Sumita Tobing, Ph.D
Lahir:
Medan, 10 Oktober 1946
Agama:
Kristen
Suami:
Hutagalung
Anak:
Bambang Hutagalung

Pendidikan:
SMA, di Medann
S-1, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU), Medann
S-2, Ohi University, bidang journalism, AS, 1983n
S-3, Ohio University, bidang mass communication, AS, 1992n

Pengalaman Kerja:
Sekretaris, Pimpinan Redaksi harian ‘Waspada’, Medann
Reporter, TVRI Stasiun Medan, 1970n
Kepala Departemen English News Service, TVRI Stasiun Pusat Jakarta, 1983n
Editorial Director, PT Surya Persindo, 1989n
Mendirikan ‘Cakrawala’, di ANTV, 1991n
General Manager Divisi Pemberitaan SCTV, mendirikan ‘Liputan6’ SCTV,n 1993
Direktur MetroTV, 1999n
Direktur Utama Perjan TVRI, Februari 2001n

Hobi:
Berenang

Alamat:
Komplek Perumahan TVRI, Kemandoran, Jakarta

Di tangannya, TVRI bangkit kembali menarik perhatian pemirsa di tengah persaingan dengan televisi swasta. Dialah Direktur Utama TVRI pertama setelah diubahnya menjadi Perjan. Jurnaslis dan praktisi pertelevisian pertama Indonesia lulusan S-3 bidang komunikasi massa dari Ohio University, AS, kelahiran Medan 10 Oktober 1946, ini adalah broadcaster sejati. Dia juga yang membidani lahirnya siaran berita Liputan 6 SCTV dan ikut membidani lahirnya MetroTV.

Wanita pekerja keras yang getol mencari ilmu ini hidup dari lingkungan keluarga mapan dan relatif kaya. Saat duduk di bangku SMA ia sudah nyambi bekerja di sebuah pabrik di Medan. Ia terbiasa bekerja tanpa mengenal batasan waktu dan lingkungan pergaulan. Setamat SMA ia melanjutkan studi ke Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara (FH-USU), Medan, dan nyambi sebagai Sekretaris Pemimpin Redaksi Harian Umum ‘Waspada’, Medan.

Merasa bosan dan tak puas hanya sebagai sekretaris Ita bergerak menjadi wartawan di koran yang sama, ‘Waspada’. Ia sangat menikmati pekerjaannya hingga bergabung dengan TVRI Stasiun Medan, sejak tahun 1970. Selama tujuh bulan pertama Ita menjalani masa pelatihan tentang editing film, shooting, dan segala teknik pertelevisian. Ia menjadi ahli dan menguasai ilmu berikut software pertelevisian. Untuk membuat film apapun karena sudah menjadi majornya mudah saja ia lakukan. TVRI, kata Ita adalah stasiun televisi milik 250 juta rakyat Indonesia. Tahun 1983 Sumita Tobing diangkat menjadi Kepala Departemen English News Service, berkedudukan di TVRI Stasiun Pusat Jakarta. Bersamaan itu ia pindah menetap ke Jakarta, di sebuah kompleks perumahan TVRI Kemandoran, Jakarta. Hingga menjadi Direktur Utama TVRI Ita tetap bermukim di ‘istananya’ yang sederhana itu.

Masih di tahun sama, 1983, Ita meraih gelar S-2 bidang jurnalisme dari Ohio University, AS. Tahun 1989 Ita bergerak menjadi Editorial Director pada PT Surya Persindo, sebuah perusahaan induk harian ‘Media Indonesia’ milik Surya Dharma Paloh tokoh pers nasional asal Serbelawan, Sumatera Utara. Pria berdarah Aceh itu sudah 35 tahun dikenalnya. Tahun 1991 Ita sudah bertengger di ANTV merilis program berita ‘Cakrawala’. Setahun kemudian, 1992 Ita Tobing berhasil menggondol gelar Ph.D dari Ohio University, AS.

Tahun 1993 Ita bergabung dengan SCTV sebagai General Manager Departemen Pemberitaann. Ia mendirikan program berita yang hingga kini masih menjadi kebanggaan stasiun ini, “Liputan 6”. Dua presenter berita televisi berhasil ia bentuk, Ira Kusno dan Arief Suditomo. Sayangnya, sejak Minggu malam 17 Mei 1998, Ita memilih memutuskan berhenti dari SCTV. Ia diancam dikenakan skorsing sebagai dampak wawancara Ira Kusno dengan Sarwono Kusumaatmaja, mantan Menteri Lingkugan Hidup di siang harinya yang dinilai terlalu keras mengkritik Presiden Soeharto, yang kata Sarwono ibaratnya negara sedang mengalami sakit gigi maka untuk menyembuhkan gigi harus dicabut. Perintah itu hanya lewat secarik memo yang disampaikan oleh Pieter F. Gontha, presiden komisaris SCTV.

Sejak tahun 1999, Ita memulai pekerjaan baru, mendirikan MetroTV, milik Surya Dharma Paloh. Paloh sesungguhnya enggan mendirikan stasiun tv dengan alasan tak punya uang. Tapi Ita berhasil meyakinkan sohib lamanya. Anaknya semata wayang Bambang Hutagalung harus ambil cuti kuliah untuk ikut dilibatkan merealisasikan gagasan pendirian Metro TV, mulai perizinan hingga pengadaan peralatan. Namun persoalan baru muncul sebab Bimantara, sebuah kelompok usaha milik Bambang Soeharto masuk sebagai investor. Ita ingat pernah tersandung di SCTV. Hingga pelaksanaan rapat ketiga dengan Bimantara, Ita akhirnya berkekuatan dan berhasil memutuskan keluar dari jabatan Direktur Metro TV.

Kembali ke TVRI
Sejak Februari tahun 200, oleh Menko Perekonomian Rizal Ramli, Ita dikembalikan ke habitat aslinya di TVRI sebagai direktur utama. Ia pemimpin atas 29 stasiun TVRI lokal di seluruh Indonesia, menghidupi 7.200 karyawan, memiliki 400 transmitter, namun hanya dibekali pemerintah anggaran Rp 135 miliar yang separuhnya digunakan untuk menggaji karyawan.

Idealnya TVRI membutuhkan anggaran tahunan Rp 1,35 triliun, atau sepuluh kali lipat dari anggaran pemerintah. Ita sendiri hanya menyebutkan, TVRI membutuhkan biaya operasi tak kurang dari Rp 800 miliar. Kondisi serba berkekurangan itulah yang didorong Sumita untuk menggeser status TVRI menjadi berorientasi komersial berbentuk Perseroan Terbatas atau PT. Maklum, selain anggaran pemerintah terbatas, ketentuan keharusan stasiun televisi swasta menyetor 12,5 persen dari pendapatan iklan ke TVRI, totalnya berjumlah Rp 300 miliar sebagai kompensasi TVRI tidak menayangkan iklan, sudah mulai tak dipatuhi.

Alasannya sederhana. TV swasta mengalami kemunduran akibat terpaan badai krisis. Ketentuan iuran masyarakat, apalagi, sudah tak dipatuhi sebab lebih suka menonton tv swasta dibanding stasiun TVRI yang sudah memasuki usia dekade kelima. Di tangan Ita TVRI masih berstatus Perjan (Perusahaan Jawatan), berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 36 dan No. 37 tahun 2000.

Ita merencanakan TVRI harus menjadi perusahaan holding yang memiliki sejumlah anak perusahaan, antara lain bergerak di bidang rumah produksi dan rekaman. Jumlah karyawan yang dipertahankan cukup 30 persen namun tanpa perlu melakukan PHK. Karyawan digeser bergerak di anak-anak perusahaan mensuplai program-program berita dan hiburan. Dalam kalkulasi Ita, untuk merealisasikan rencananya dibutuhkan dana Rp 1 triliun yang dia harapkan dengan optimis sudah akan kembali dalam waktu tiga tahun.

Untuk membuktikan gagasannya dengan segera nan radikal, Sumita Tobing merombak manajemen. TVRI harus dikelola profesional. Program-program baru yang menarik segera dimunculkan. Seperti acara musik ‘Dansa Yo Dansa’ yang dikomandani selebritis veteran Kris Biantoro, atau ‘Blues Night’, program diskusi ‘Debat Mahasiswa’, program berita ‘Halo Metro Indonesia’, talk show ‘Dialog Interaktif’, dan beragam acara menarik lain.

Secara teknis agar suara dan gambar bisa dinikmati sekualitas tv swasta Ita mendirikan stasiun transmisi baru di Gunung Tela Bogor, bediri setinggi 800 meter, berkekuatan 80.000 watt, berdayajangkau luas mencakup seluruh Jabotabek dan sekitar hingga Merak dan Kepulauan Seribu.

Ita bergerak sangat cepat bahkan terlalu cepat yang membuatnya tersandung. Ia terbentur pada sejumlah persoalan kecil yang sesungguhnya tak perlu menjadi persoalan. Ita menengarai perbaikan program acara dan memperkuat daya pancar sangat tidak disukai pihak-pihak tertentu yang tak menginginkan TVRI sehat dan besar. Sehari sebelum perubahan status menjadi PT (Persero) TVRI 15 April 2003, sejak 14 April 2003 nama Sumita Tobing sudah tergantikan oleh Hari Sulistyono, mantan petinggi USI Jaya/IBM. Total Sumita Tobing menghabiskan waktu 26 tahun bekerja bersama TVRI, 22 bulan diantaranya sebagai direktur utama.

Jejak ‘Liputan6’
Pada 10 Oktober 2004 genap sudah usia Ita Tobing 58 tahun. Tergolong tua untuk ukuran perempuan Indonesia. Namun Ita mengaku masih mampu berenang sejauh 2.000 meter. Penampilannya masih energik dan oke. Cantik pula. Sebagai broadcaster sejati di antara 26 tahun pengabdianya Sumita berkesempatan sebagai pimpinan tertinggi televisi rakyat selama 22 bulan.

Jejak langkah sang broadcaster sejati ini sangat berbekas di SCTV. Dialah yang menelurkan program berita ‘Liputan6’ dipersiapkan sejak tahun 1994. Lewat Liputan6, Ita berhasil melahirkan nama Ira Kusno dan Arief Suditomo sebagai salah satu icon pembaca berita paling digemari. Rating iklannya mencapai harga tertinggi Rp 15 juta per 30 detik.

Ira adalah salah satu contoh proses kreatif bagaimana seseorang yang sama sekali tidak berlatar belakang jurnalis, bahkan tak pernah berpengalaman bekerja di televisi, bisa ditangani, dilatih, dibentuk, dan dioperasikan di tangan sang broadcaster sekelas Ita Tobing. Ira menjalani pelatihan secara khusus selama tiga bulan penuh sebelum mampu ‘berhadap-hadapan’ dengan penyiar perempuan dari stasiun tv lain yang lebih dahulu hadir.

Ita punya kiat, saat mengadakan dialog tatap muka langsung face-to-face dengan narasumber ia menyelipkan sebuah microphone kecil di kuping Ira Kusno maupun Arief Suditomo. Dari master control, Ita memantau dan menyampaikan perintah mengajukan pertanyaan ke narasumber. Dengan body language yang sudah diatur sedemikian rupa, Ira dan Arief secara cerdas dan kreatif tampak ‘mencerca’ narasumber dengan berbagai pertanyaan menarik sekualitas seorang Larry King di Larry King Show di Amerika. Ira Kusno dan Arief berhasil mengangkat naik pamor program berita di televisi.

Bermodalkan keberhasilannya itu, Ita menjadi berani berdebat dengan Henry Pribadi maupun Peter F. Gontha, dua petinggi pemilik SCTV tentang bagaimana membuat berita televisi yang baik dan menghasilkan uang agar dapat mengembalikan modal dalam waktu singkat.

Sebagai wanita yang getol mencari ilmu, sarjana hukum FH-USU ini hafal luar kepala setiap butir KUH Pidana dan KUH Perdata. Baik itu berbahasa Latin atau Inggris. Itu masih ditambah kuatnya pendalaman akan ilmu filsafat Socrates, Plato, Aristoteles. Ita meneruskan pendidikan S-2 tingkat master of science dengan major jurnalisme, di Amerika Serikat.

Keluarga
Ita menikah dengan seorang pria Batak, marga Hutagalung tahun 1971 dalam usia 25 tahun. Keluarga ini dikaruniai seorang anak semata wayang, Bambang Hutagalung. “Mana sempat bikin anak,” ucap Ita, menjelaskan betapa sibuknya ia bekerja dan sekolah. Bukan hanya bekerja dan sekolah, Ita juga ‘sibuk’ membangun reputasi sebagai seorang berpendidikan, berlatar belakang keluarga terpandang, berhasrat kuat membangun karir profesional hingga tuntas mencapai puncak tertinggi.

Bangga berasal dari keluarga baik-baik, ayah Ita terbiasa membaca alkitab dalam dua bahasa Belanda dan Batak. Ibunya yang rajin berdoa adalah pengiring musik orgel di gereja. Semua anggota keluarga sekolah di sekolah berbahasa Inggris. Namun ayahnya yang membaca alkitab dalam dua bahasa, demikian pula ibunya pemain orgel gereja yang rajin berdoa, itu dilihat Ita hanya sesekali ke gereja. Bahkan orangtua itu tak pernah mengajak anak-anaknya di sekolah pergi ke gereja apalagi mengajarkan kebenaran firman Tuhan. Ita dan anggota keluarga cukup diajarkan bagaimana mempertahankan reputasi sebagai keluarga baik-baik dan terpandang.

Tahun 1983, Sumita Tobing berangkat ke Amerika memperdalam studi komunikasi massa. Ketika kuliah, setiap kali mengambil lima kredit, ia harus menghabiskan 400 judul buku. Selama satu semester yang berjangka tiga bulan penuh, Ita harus menyelesaikan tiga mata pelajaran. Sehingga untuk 15 kredit, Ita harus menghabiskan waktu 90 hari dengan membaca total 3 x 400 judul buku yang setelah diseleksi akhirnya bacaan wajib minimal hanya 600 judul buku. Dia harus menyelesaikan 145 kredit untuk meraih gelar Ph.D.

Ketergantungan narkotika
Semua pergulatan hidup di negeri rantau, Ita lewati mengandalkan kecerdasan intelektual semata. Tanpa doa tanpa meminta pertolongan Tuhan. Bahkan tanpa sekalipun mengunjungi gereja. Apalagi untuk membaca alkitab berisi firman Tuhan. Sebab, Ita merasakan diri sebagai wanita baik-baik yang tak kurang suatu apapun bahkan dibekali tingkat kecerdasan tinggi. Ribuan bahkan belasan ribu judul buku sudah pernah ia baca terutama komunikasi massa. Ilmu itu bisa membuatnya dengan mudah melatih orang menjadi penyiar, public relation, ahli berdebat, melakukan kampanye, penerangan, persuasi, propaganda, dan agitasi hingga indoktrinasi. Ia juga berkemampuan menyulap seorang biasa menjadi bintang, produk dibeli orang, atau apapun yang berkaitan dengan komunikasi massa.

Anaknya semata wayang yang menghabiskan pendidikan SMP dan SMA di Amerika ikut diboyong kembali ke Jakarta. Bambang, anaknya itu ingin selalu dekat dengan ibunya. Sejak tahun 1995 pada usia 21 tahun, Bambang anak yang sangat disayangi itu kuliah di Universitas Indonesia (UI), Depok sambil menjalankan bisnis. Bambang berusaha dengan memanfaatkan jalur-jalur bisnis koneksi Amerika yang sudah menjadi habbit-nya. Anak yang bagi orang Batak adalah segala-galanya, harta termahal, dalam idealisasi dan ambisi seorang Ita Tobing haruslah melebihi pencapaiannya. Minimal menyamai. Jika Ita seorang Ph.D si anak harus melebihi minimal setingkat Ph.D.

Namun apa lacur. Ketika menjalani pergulatan hidup di Jakarta, anaknya yang tidak pernah diajari berdoa, tidak pernah diajak berbakti ke gereja, karena memang Ita tak pernah ke gereja, teridentifikasi kecanduan narkotika. Si anak terpaksa harus ditaruh di kamar disiplin di bawah pengawasan kepolisian.

Sumita Tobing yang bos ‘Liputan6’ SCTV berkesempatan membesuk anak hanya dua kali seminggu. Jarak ruang besuk dengan ruangan kamar Bambang dibatasi sebuah lapangan sepakbola. Jika membesuk, Ita segera selalu memanggil nama anak kesayangannya itu. Sambil menunggu kedatangan Bambang, Ita selalu pula menutup mata untuk bernyanyi sejadi-jadinya sambil meyakini kebenaran kuasa dalam doa dan nyanyian yang berbunyi, “Kumenang, kumenang, bersama Yesus Tuhan, Kumenang, kumenang, di dalam peperangan…”

Usai nyanyikan sebait lagu itu berulang-ulang tiba-tiba saja anaknya sudah berada di depan mata, menyapa, dan memanggil lembut, “Nyokap…”. Kejadian itu berlangsung berulang-ulang selama tiga bulan penuh.

Sumita tetap berhasrat mencari di mana tempat terbaik pengobatan kecanduan narkotika untuk anaknya. Ita lalu berkesempatan berkenalan dengan seorang pendeta, asal India yang spontan menyatakan ingin berdoa untuk Ita. Di situ, Ita merenungi perjalanan hidupnya. Ia akhirnya menemukan ada sebuah rasa sakit hati yang sangat dalam terhadap diri suaminya. Suami yang tak pernah mencemburui istrinya bekerja di koran dan televisi hingga malam hari berteman-kerja dengan banyak laki-laki pula.

Suaminya tak pernah mempedulikan atau sekedar bertanya hendak kemana dan dari mana. Tak kuatir Sumita pergi sekolah seorang diri. Suami yang menikahinya tanpa lebih dahulu menjalani masa pacaran itu lebih sayang dan memperhatikan keluarga Hutagalung. Keponakannya dicari-cari pesta perkawinan Hutagalung diurusin.

Terhadap anak semata wayang yang sakit pun, suami berkomentar sinis, “Jika punya anak hanya satu saja dan ternyata kecanduan narkotika, mendingan tidak punya anak.” Hati Ita meringis mendengarnya. Ita sadar ia adalah wanita Batak dan anak adalah segala-galanya. Jika Sumita seorang Ph.D maka anaknya harus Ph.D. Pemberontakan terhadap suami semakin menjadi-jadi.

Di mata orang lain kehidupan rumahtangga mereka sesungguhnya baik-baik saja. Sebab tidak pernah diisi ‘acara’ berkelahi, berantam, atau ribut-ribut. Sumita menghindari itu demi menjaga nama baik dan kehormatan keluarga.

Profesi sebagai wartawati memberi Ita ruang pergaulan sangat luas. Pelarian yang ditempuh adalah pelarian yang baik-baik. Salah satunya sekolah ke luar negeri. Akan tetapi yang terjadi dalam biduk rumahtangga mereka sejatinya adalah Sumita yang merasa tidak berguna, useless. Ia ‘melarikan diri’ mengambil pendidikan master dan doktor di luar negeri untuk mengisi kesibukan. “I feel pain, very deep paining in my heart,” aku Sumita Tobing kepada pendeta asal India, yang membantunya melepaskan diri dari ikatan rasa dendam di hati yang mengikat.

Bisa disembuhkan
Ita kemudian membawa anaknya berobat ke dokter Al Bahri. Dokter justru mengembalikan pengobatan kepada Ita. Dokter menyakinkan hanya ibu si anak yakni Sumita Tobing yang bisa menyembuhkan ketergantungan Bambang. Dokter memastikan Ita dengan memberi retorika untuk mencari bukti apakah lebih manis ibu atau narkotika bagi Bambang. Lebih percaya kepada ibunyakah atau narkotikanya. Kata dokter, jika anak masih lebih bersikap kepada ibu maka siapapun anak sekalipun sudah sangat kecanduan pasti akan bisa melepaskan ketergantungan.

Mendapat penjelasan panjang lebar tentang narkotika dibantu dengan rumusan jurnalistik 5W+1H Ita menyadari ketergantungan anaknya sudah sangat parah. Di mobil dalam perjalanan pulang ia menangis sejadi-jadinya meneteskan air mata. Batinnya memberontak. Kalau bisa menyembuhkan sendiri kenapa anak mesti dibawa ke dokter.

Sesampai di rumah Ita mencari tahu bagaimana cara menyembuhkan anaknya. Kali ini ia mencari ilmu itu di alkitab, sebuah kitab suci berisi firman Tuhan yang penuh kuasa. Sebuah buku yang sebelumnya tak pernah dibuka. Ita ketemu dengan firman di Matius 7 ayat 7, “Mintalah maka akan diberi, ketuklah maka pintu akan dibuka…” Dengan firman itu Ita merasakan ada sebuah kekuatan penyembuhan ilahi. Terasa begitu mudah. Ita sadar pantas saja dokter dengan enteng menyuruh menyembuhkan sendiri anaknya. Berawal dari Matius 7:7 Ita semakin memperdalam isi firman Tuhan. Ia lalu ingin menjadi pelaku firman. Ia mempelajarinya dengan pendekatan table of content, sebagaimana biasa ketika masih studi di Amerika.

Setiap hari pukul tujuh malam kurang lima menit ia selalu menghentikan rapat redaksi pemberitaan ‘Liputan6’ SCTV, untuk dilanjutkan kembali pada pukul sembilan malamnya. Ita menghentikan rapat sebab akan pergi mendengar pemberitaan firman Tuhan ke tempat di mana ada pendeta berkotbah.

Saat mendengar firman Ita sesungguhnya masih saja mengkritisi berceloteh dalam hati tentang pendeta yang monoton berkotbah, yang intonasi, artikulasi, dan body language-nya kurang bagus. Namun sedikit demi sedikit firman itu mulai masuk dan bekerja dalam hatinya. Setahun penuh Ita diproses untuk siap menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang hidup. Anaknya sendiri pada akhirnya menjalani proses rehabilitasi di Penang, Malaysia hingga sembuh dan diteruskan ke Singapura untuk sekolah mengambil manajemen dan teologi.

Persis sejak tahun 1996 Sumita Tobing mengubah hidupnya menjadi lahir baru. Dia adalah ciptaan baru dan yang lama telah berlalu. Ia menjadi orang bijaksana yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya. Tentang ilmu pengetahuan dari ribuan buku dan gelar Ph.D, ternyata, “It’s doesn’t give me a power, tidak. Kalau bukan karena Yesus Kristus ‘Liputan6’ SCTV itu tidak bisa saya bikin,” aku Sumita Tobing, bersaksi tentang pergulatan kehidupan spiritualnya yang memberinya kekuatan melahirkan SCTV tahun 1994.

Jenderal-jenderal Batak


Jenderal TNI (Hor) Luhut Binsar Panjaitan


Luhut Binsar Panjaitan
Tempat Tanggal Lahir : Simanggala Tapanuli 28 September 1947
Angkatan : 1970
Kesatuan : Infanteri – Baret Merah
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat
Keterangan : Jenderal Kehormatan

Karir
Kolonel :
Komandan Group 3 Kopassus

Brigadir Jenderal :
Wakil Komandan Pusat Persenjataan Infanteri

Mayor Jenderal :
Komandan Pusat Persenjataan Infanteri

Letnan Jenderal :
Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat

Letnan Jenderal TNI Cornel Simbolon


Cornel Simbolon
Tempat Tanggal Lahir :
Angkatan : 1973
Kesatuan : Infanteri – Baret Hijau
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Wakil Kepala Staf Angkatan Darat

Karir
Kolonel :
Komandan Brigade Infanteri 13/ Kostrad

Brigadir Jenderal :
Wakil Asisten Operasi KASAD

Mayor Jenderal :
Asisten Operasi KASAD
Panglima Daerah Militer IV/Diponegoro

Letnan Jenderal :
Komandan Kodiklat
Wakil Kepala Staf Angkatan Darat

Letnan Jenderal TNI Sudi Silalahi


Sudi Silalahi
Tempat Tanggal Lahir : Pematang Siantar 13 Juli 1949
Angkatan : 1972
Kesatuan : Infanteri
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Sekertaris Menkopolhukam

Karir
Kolonel :

Brigadir Jenderal :
Wakil Asisten Sosial Politik Kassospol ABRI – Jakarta
Kepala Staf Komando Daerah Militer Jaya – Jakarta

Mayor Jenderal :
Asisten Sosial Politik Kepala Staf Teritorial ABRI – Jakarta
Panglima Daerah Militer V/Brawijaya

Letnan Jenderal :
Sekertaris Menkopolhukam

Letnan Jenderal TNI Amir Sembiring


Amir Sembiring
Tempat Tanggal Lahir :
Angkatan : 1970
Kesatuan : Infanteri – Baret Hijau
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Komandan KODKLAT

Karir
Kolonel :

Brigadir Jenderal :

Mayor Jenderal :
Panglima Komando Daerah Militer XVII/Trikora – Jayapura
Asisten Operasi KASAD – Jakarta

Letnan Jenderal :
Komandan KODKLAT

Mayor Jenderal TNI Hotmangaraja Panjaitan


Hotmangaraja Panjaitan
Tempat Tanggal Lahir : Palembang 14 Oktober 1953
Angkatan : 1977
Kesatuan : Infanteri – Baret Merah
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Mayor Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Panglima Daerah Militer IX/Udayana

Karir
Kolonel :
Komandan Group 2/Kopassus
Komandan Resort Militer 163/Wirasatya – Bali Kodam IX/Udayana

Brigadir Jenderal :
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat
Wakil Asisten Pengamanan KASAD

Mayor Jenderal :
Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat
Asisten Teritorial KASAD
Panglima Daerah Militer IX/Udayana



Mayor Jenderal TNI Syamsir Siregar


Syamsir Siregar
Tempat Tanggal Lahir : Pematang Siantar 23 Oktober 1941
Angkatan : 1965
Kesatuan : Infanteri – Baret Hijau
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Mayor Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Kepala Badan Intelejen ABRI

Karir
Kolonel :
Komandan Brigade Infanteri 9/Kostrad Jember
Komandan Brigade Infanteri Kodam Jaya
Komandan Resort Militer 142 pare-pare
Kepala Staf Divisi Infanteri I/Kostrad

Brigadir Jenderal :
Kepala Staf Daerah Militer III/Siliwangi

Mayor Jenderal :
Panglima Daerah Militer II/Sriwijaya
Kepala Badan Intelejen ABRI



Mayor Jenderal TNI Sintong Panjaitan


Sintong Panjaitan
Tempat Tanggal Lahir : Tarutung 4 September 1941
Angkatan : 1963
Kesatuan : Infanteri – Baret Merah
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Mayor Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Panglima Daerah Militer IX/ Udayana

Karir
Kolonel :
Komandan Grup III Kopasshanda
Komandan Pusat Pendidikan Sandi Yudha Lintas Udara di Batujajar

Brigadir Jenderal :
Komandan Kopassus

Mayor Jenderal :
Panglima Daerah Militer IX/ Udayana

Mayor Jenderal TNI Hotma Marbun


Hotma Marbun
Tempat Tanggal Lahir :
Angkatan : 1977
Kesatuan : Infanteri – Baret Merah
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Mayor Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Asisten Operasi KASAD

Karir
Kolonel :
Komandan Resimen Infanteri Kodam VI/ Tanjungpura
Komandan Komando Resort Militer 091/Aji Surya Natakesuma Kodam VI/Tanjungpura – Kaltim
Komandan Group Kopassus

Brigadir Jenderal :
Wakil Komandan Jenderal Kopassus
Wakil Asisten Pengamanan KASAD

Mayor Jenderal :
Wakil Komandan Kodiklat
Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI AD
Asisten Operasi KASAD

Mayor Jenderal TNI Mahidin Simbolon


Mahidin Simbolon
Tempat Tanggal Lahir : Sumatera Utara 5 Mei 1951
Angkatan : 1974
Kesatuan : Infanteri – Baret Merah
Pangkat Terkahir Militer Aktif : Mayor Jenderal TNI
Jabatan Terakhir Militer : Inspektur Jenderal Angkatan Darat

Karir
Kolonel :
Komandan Satgas Intelijen Kopassus (SGI) – Timor Timur
Komandan Komando Resort Militer 164/WiraDharma Kodam IX/Udayana – Timor-Timor

Brigadir Jenderal :
Kepala Staf Daerah Militer IX/Udayana – Denpasar

Mayor Jenderal :
Panglima Komando Daerah Militer XVII/Trikora – Jayapura
Inspektur Jenderal Angkatan Darat – Jakarta

RO Tambunan, SH


RO Tambunan, SH

Sang Pembela Demokrasi

ro-tambunan
Advokat kawakan yang juga makan asam garam dalam pentas politik ini, pernah duduk di kursi DPR dari Golongan Karya. Tapi ia mengalami psikosomatik dan konflik batin yang dahsyat. Maka ketika Megawati Soekarnoputri ditindas dan berani tampil melawan, ia pun bersedia memimpin Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) tanpa pamrih. Kendati ia sendiri tidak bersimpati kepada PDIP. Lalu, Sang Pembela Demokrasi ini mendirikan Partai Pilihan Rakyat (ikut Pemilu 1999). Kemudian, karena persyaratan electoral treshold 2%, ia mendeklarasikan Partai Kemerdekaan untuk ikut Pemilu 2004 demi mewujudkan obsesinya membela kepentingan rakyat tanpa determinasi agama, suku dan golongan.

Ia menyatakan Partai Kemerdekaan tidak akan pernah menjual janji. “Yang kami inginkan adalah menjadikan partai ini sebagai partai pembela rakyat,” katanya dalam percakapan dengan Wartawan Tokoh Indonesia DotCom. “Artinya, ketika rakyat menderita, kita harus berani membelanya, sehingga partai ini mau terus berada di barisan rakyat dan memperjuangkan apa yang mereka tuntut sekarang ini.”

Ia juga tidak mau berjanji, apa yang ia janjikan pasti terjadi. Tetapi minimum ia tidak mau membohongi rakyat dan tidak akan meninggalkan rakyat. Sebab, banyak yang sudah menduduki jabatan meninggalkan rakyat sehingga tidak heran ada gap antara rakyat dengan pemimpin.

Ia yakin dengan strategi yang seperti itu, rakyat akan terpanggil untuk mengerti apa yang ia maksud. “Saya tidak pernah mengecap jabatan apapun, sehingga sekarang saya dapat berani mengatakan kalau saya tidak pernah mengkhianati rakyat dan membohongi rakyat. Inilah modal yang kami sampaikan kepada rakyat,” ujarnya.

Jadi, dengan berbagai kebohongan publik dan penderitaan di tengah-tengah rakyat, minimal kehadiran Partai Kemerdekaan masih bersih, belum cacat. Dengan demikian ada keyakinan baginya bahwa rakyat akan memilih partai yang belum memiliki dosa. Partai Kemerdekaan ini sebagai partai yang belum memiliki dosa.

Apakah pernyataan ini hanya sebuah manuver politik, seperti lazimnya perangai beberapa politisi di negeri ini? Track record advokat yang politisi ini menjadi jawaban.

Ketika tampil sebagai Ketua Tim Pembela Demokrasi yang beranggotakan 1.500 pengacara dan advokat, orang pun berspekulasi. Manuver politik apa gerangan yang akan diperankan RO Tambunan. Banyak pihak mereka-reka, kader Golkar ini bakal come back ke panggung politik dengan menumpang “sampan” Partai Demokrasi Indonesia (PDI).

Tapi, dugaan itu melenceng. Tambunan tidak ikut memperkuat barisan PDI Perjuangan ketika partai ini naik daun. Padahal dia juga tidak menerima bayaran ketika memimpin Tim Pembela Demokrasi Indonesia, yang ketika itu tampil di depan membela Megawati Soekarnoputri dan partainya dari tekanan pemerintah Orde Baru.

Ia malah mendirikan Partai Pilihan Rakyat pada tahun 1999. Kemudian mendeklarasikan Partai Kemerdekaan untuk ikut Pemilu 2004. Kenapa tidak masuk PDIP yang dibelanya ketika mendapat tekanan?

Karena dia semata-mata bukan untuk membela kepentingan Mega dan partainya. Tapi, untuk membela kepentingan rakyat, bangsa dan negara, kepentingan demokrasi dan kepentingan hak asazi manusia yang tertindas.

“Yang dirampas adalah hak-hak rakyat untuk berpolitik untuk menentukan pilihan. Hak-hak rakyat untuk berserikat dan berkumpul,” kata Tambunan. Menurutnya, Mega hanya salah satu korban dari penguasa otoriter.

Ia memang seorang politisi yang memiliki garis politik yang jelas. Dia berada di dalam partai politik yang berasaskan nasionalisme, bukan berasaskan agama, kesukuan dan kelompok ras.

Nama besar RO Tambunan telah terukir dalam dunia advokat dan politik. Ia pengacara kawakan yang selalu diperhitungkan. Ia juga seorang politisi yang mempunyai visi dan prinsip yang jelas. Putera bangsa kelahiran 24 Juli 1935 ini, pernah menjadi kader militan Golongan Karya, partai yang pernah berkuasa lebih dari tiga dasawarsa. Sedikit-banyak, ia punya andil dalam membesarkan Sekretaris Bersama (Sekber) Golkar, yang kemudian menjadi Golkar pada tahun 1970-1971.

Namun di tengah militansi dan loyalitasnya kepada Golkar, dia tidak bisa menerima praktek licik yang dimainkan organisasi politik ini untuk memenangkan Pemilu. Dia sering berseberangan jalan dengan garis partai. Sampai akhirnya dia dicap sebagai orang yang membahayakan partai. Tapi, semua ini tak menghambat karirnya di panggung politik, dan profesinya sebagai pengacara.

Karir politik anak bangsa kelahiran Sigorong, desa terpencil di Tapanuli Utara, sekitar 300 Km dari Medan, ini dirintisnya sejak berusia 18 tahun. Di usia yang relatif muda dia sudah terjun dalam kancah politik, menjadi Pengurus Nasional Gerakan Pemuda Sosialis yang berada di dalam Partai Sosialis Indonesia pimpinan Sultan Syahrir.

Di tahun 60-an, dia membawa organsisasi Gerakan Pemuda Sosialis ke dalam Sekber Golkar bergabung ke dalam koordinasi pemudanya. Pada waktu Sekber Golkar berkantor di Menteng 31 dipimpin Dr Sulastomo, dia menjadi sekretaris.

Jerih payahnya tak sia-sia. Sebagai kader Golkar, ia dicalonkan menjadi anggota DPR, dan akhirnya menjadi anggota DPR dari wilayah pemilihan Kabupaten Bogor.

Namun, sejak dia masuk Golkar dan mengikuti kampanye Pemilu pertama 1971, sudah terjadi konflik batin dalam dirinya. Pasalnya, Tambunan tidak bisa menerima praktek yang dijalankan Golkar untuk memenangkan Pemilu. Dia menentang ketika Golkar melakukan sistem kampanye yang curang, tidak fair dengan mendapat backing dari tentara dan pemerintah daerah serta pusat.

Pada saat itu, Golkar mengklaim satu-satunya yang dapat menyelamatkan Pancasila dan UUD 45 hanyalah Golkar. Sedangkan yang lain tidak bisa dipercaya. Jadi, kalau Golkar tidak menang, negara ini bisa hancur. Mereka berkata, oleh karena itu, dengan bagaimanapun dan dengan cara apapun, Golkar harus menang. Akibatnya terjadilah kecurangan. “Mulai dari lurah, camat, bupati, komandan Kodim, komandan Korem, semua ikut kampanye, semua ikut konsolidasi,” kata Tambunan mengenang masa lalunya.

Tidak sampai batas itu, kata Tambunan, kecurangan tersebut juga dirasakan rakyat dalam bentuk tekanan. Misalnya, ketika masa kampanye terdapat sepuluh partai yang ikut pemilu, jika ada salah satu partai yang sedang kampanye, pada saat yang bersamaan dan tempat yang hampir berdekatan, Golkar mengadakan kegiatan kerja bakti. Bagi masyarakat yang tidak ikut kerja bakti, namanya akan dicatat.

Dalam rapat-rapat kampanye, dia sudah mulai tidak disukai oleh kader dan fungsionaris Golkar, karena sikapnya yang kontroversial. Tambunan menginginkan Golkar menang dengan cara jujur dan fair. Sebaliknya Golkar menempuh jalan curang untuk meraih kemenangan. “Ini yang bertentangan dengan hati nurani saya,” ujarnya.

Tetapi, sikapnya yang keras yang tak mentolerir adanya kecurangan, tak menghalanginya untuk maju menjadi anggota DPR di tahun 1971. Lalu, selama menjadi anggota DPR, di sinilah dia menyaksikan berbagai praktek kotor yang dilakukan pihak eksekutif dan legislatif. Sementara dia sebagai wakil rakyat, tak bisa berbuat apa-apa.

Pada tahun pertama menjadi anggota legislatif, dia mengalami tekanan yang sangat berat. Kesehatannya terganggu, badannya menjadi kurus kering karena sakit-sakitan. Anehnya, dia tidak mengidap penyakit. Belakangan baru diketahui. Dokter yang memeriksanya mengatakan dia mengalami apa yang disebut psikosomatik, yaitu suatu perasaan berdosa dan bersalah.

“Pada waktu itu saya merasa bersalah kepada masyarakat,” kata Tambunan. Sebab, sebagai wakil rakyat dia tidak bisa memperjuangkan kepentingan rakyat. Yang mereka perjuangkan adalah kepentingan diri, kelompok dan golongan.

Pertentangannya dengan fungsionaris Golkar semakin tajam, ketika Tambunan menarik garis merah. Dia mengambil sikap tegas tidak tunduk dengan garis Golkar, karena partai ini telah dijadikan alat untuk kepentingan penguasa. Yang ada dalam benak Tambunan adalah berjuang untuk kepentingan rakyat. Ketegasan sikapnya inilah yang selalu menyulut pertentangannya dengan suara mayoritas dalam rapat fraksi.

Biasanya pertentangan itu diakhiri dengan ancaman recall. Sebaliknya dia juga menantang minta di-recall.

Puncak pertentangannya dengan Golkar terjadi ketika kasus korupsi di Bulog terangkat ke permukaan. Diawali terkuaknya kasus korupsi Kepala Dolog Kalimantan Timur, Budi Adji. Ketika kasus ini terangkat, Tambunan duduk di Komisi III DPR yang menangani masalah hukum. Posisi ini cocok baginya, karena dia paling tidak suka dengan korupsi.

Ini yang mendorongnya membentuk Tim Investigasi DPR untuk mengusut kasus tersebut. Pada saat yang bersamaan diadakan rapat dengan Kepala Bulog Bustamil Arifin. Kepada Bustanil, dia menjelaskan terjadinya korupsi di jajaran Bulog, dan dia memiliki bukti autentik.

Bustanil menjawab enteng, “Saya akan menerima bukti-bukti saudara, dan kita dapat mengadakan pembicaraan empat mata.” Rapat memberikan persetujuan pertemuan itu dilakukan. Pembicaraan berlangsung di kamar kerja Ketua Fraksi Golkar. Tambunan memberkan bukti-bukti korupsi. Selain itu dia juga menanyakan tentang rencana impor beras dari Burma, Thailand dengan nilai Rp 900 juta.

Entah apa sebabnya, Bustanil menanggapi laporan itu dengan nada emosi. “Anda tidak mengerti. Korupsi di Bulog karena Golkar mengadakan kampanye dan kegiatan lainnya dengan meminta saya untuk menyediakan duit. Jadi, partai Anda sendiri yang membuat itu,” kata Tambunan mengutip ucapan Bustanil.

“Waktu itu saya terkejut dan tersinggung sekali. Sebab, apa yang sedang saya berantas ternyata datang dari organisasi politik di mana saya ada yaitu Golkar,” ujar Tambunan.

Suatu ketika dia bertemu dengan Ketua Umum Golkar. Dia bertanya; “Bagaimana hasil pembicaraan dengan Kepala Bulog?”.

“Ah.. persetan. Ternyata Golkar yang melakukannya. Partai ini hidup dari hasil korupsi,” jawab Tambunan ketus.

Sejak itu konflik Tambunan dengan Golkar semakin tajam. Untungnya dia mendapat dukungan dari Ketua Fraksi, Drs Sumiskun, seorang yang jujur. Dialah yang menahan agar Tambunan tidak keluar dari partai, sampai berakhir masa bhaktinya tahun 1977.

Berseberangan
Selama lima tahun menjadi anggota DPR, dia pernah menjadi Ketua Tim Penyelidikan Penyelundupan Mobil-mobil Mewah dan memberantas para pejabat yang terlibat. Karena sepak-terjangnya yang bersebarangan, dia dipandang sebagai orang yang anti pemerintah dan Golkar. Ibarat pepatah klasik; “anjing menggongong, kafilah berlalu,” Tambunan tak menghiraukan tudingan itu.

Meskipun dia terlanjur dicap sebagai orang yang berseberangan dengan partai, pada Pemilu 1977, Golkar mencalonkannya kembali sebagai anggota DPR untuk wilayah Kalimantan Timur dengan urutan calon keempat. Ternyata perolehan suara di Kalimantan Timur anjlok, hanya mendapat tiga kursi. Ini yang membuatnya tidak duduk di legislatif, tapi duduk sebagai anggota MPR.

Meskipun tak lagi duduk di DPR, dia tak berhenti mengeluarkan kritikan tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilanya merugikan bangsa dan negara.

Ketika terjadi pembahasan RUU KUHP di DPR, yang menurut Moejono SH, waktu itu sebagai Menteri Kehakiman, RUU itu sebagai karya agung, ternyata di sana-sini banyak bopengnya. Karena di dalam RUU itu tak tercantum produk hukum menyangkut hak azasi manusia (HAM).

Melihat ketimpangan ini, hati nuraninya terpanggil. Dia bersama Buyung Nasution spontan membentuk Komite Pembela Pancasila, untuk meluruskan adanya ketimpangan. Sebab, menurut penilaian Tambunan dan Buyung, RUU KUHP yang diajukan ke DPR adalah produk tipu muslihat dan harus dirombak.

Tindak lanjut dari penolakan itu, Tambunan dan Buyung bersama pengacara lainnya menggelar aksi demo ke DPR. Yang jadi sasaran demo adalah Fraksi Golkar.

Ketika Ketua Fraksi Golkar angkat bicara, tudingan langsung ditujukan kepada Tambunan. Katanya; “Fraksi Golkar tidak setuju jika saudara RO Tambunan yang notabene orang Golkar, tetapi menentang Golkar.”

Tapi Tambunan merasa dirinya sebagai pengacara memiliki kewajiban untuk membela kebenaran.

Ungkapan Ketua Fraksi Golkar, menurut penilaian Tambunan, mengindikasikan semakin mengkristalnya kebencian fungsionaris Golkar kepadanya. Padahal waktu itu ada upaya untuk mengangkat dia kembali menjadi anggota DPR, menggantikan anggota dewan yang dipromosikan menjadi Bupati Kabupaten Tanah Progo.

Tapi, karena sikapnya yang menentang RUU tersebut, kursi anggota DPR untuk Kaltim dibiarkan kosong selama empat tahun. “Tujuannya agar saya tidak masuk,” ujar Tambunan.

Menurutnya, inilah pertama kali dalam sejarah DPR di Indonesia, di mana jatah satu propinsi sengaja dikosongkan. Sementara menurut undang-undang dialah yang harus menggantikannya. “Saya dianggap orang yang berbahaya bagi Golkar, sehingga tidak memasukkan saya pada posisi tersebut,” katanya.

Tak banyak type orang seperti dia. Meskipun dirinya dianiaya oleh partai di mana dia ikut membesarkan, dia tak pernah menuntut balik. Mungkin, kalau orang lain sudah meributkannya. “Bagi saya jika masalah pengangkatan tersebut menyangkut diri saya, jangan sampai disangkutpautkan dengan kepentingan pribadi. Bagi saya, perjuangan dapat dilakukan tanpa harus menjadi anggota DPR,” katanya.

Akhirnya, ia memilih jalan sendiri. Setelah jabatannya sebagai anggota MPR berakhir tahun 1982, dia memutuskan keluar total dari Golkar.

Diakuinya, ketika berada dalam struktur organisasi Golkar, sejak awal selalu terjadi konflik. Sebab, apa yang diperjuangkan Golkar bertentangan dengan hati nuraninya, bertentangan dengan hukum, dan bertentangan dengan hati nurani masyarakat banyak.

Ketika dia ikut mendirikan Sekber Golkar bersama rekan-rekan lainnya, perjuangannya masih murni. Tujuan utamanya membentuk kekuatan politik dalam membendung pengaruh PKI. “Itu tujuan awal terbentuknya Sekber Golkar,” kata Tambunan. Tapi, ketika berubah menjadi Golkar, di situlah mulainya kerusakan itu. Dia pun mulai tidak betah di dalam. “Dengan idelisme dan cita-cita yang murni, saya tetap berjuang dari dalam hingga ketika saya keluar dari Golkar,” katanya.

Modal nekad
Nama besar yang disandangnya saat ini, baik kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Kemerdekaan, ataupun kapasitasnya sebagai pengacara kawakan, dirintisnya dengan perjuangan yang cukup panjang dan berliku.

Ia lahir dari keluarga miskin di Sogorong, Kabupaten Tapanuli Utara. Dia menamatkan pendidikan SMP di Tarutung, ibukota kabupaten. Setelah lulus dari SMP, orang tuanya tak sanggup membiayai sekolah.

Pada Januari 1954 dia memutuskan untuk merantau ke Jakarta. Dia lari dari desa di mana dia dibesarkan. Modalnya nekad dan keberanian. Dengan menumpang Kapal Koanmaru, dia menginjakkan kakinya di pulau Jawa.

Setelah menetap di pulau Jawa, dia tinggal di Bogor. Nasib baik, diterima bekerja sebagai petugas pos muda (klerek) di Kantor Pos Bogor. Dasar Tambunan yang tak mengenal menyerah, dia pun melanjutkan studinya ke SMA Kristen Samratulangi. “Jadi, pagi kerja, siang sekolah,” katanya mengenang masa lalu.

Setelah lulus SMA, dia pun mendaftar kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tapi tak pernah mengecap di bangku kuliah, karena yang dilakukannya sebatas mendaftar saja. Dia pun akhirnya terjebak dalam dunia politik.

Persisnya sekitar tahun 1956. Ketika dia keliling di sekitar Terminal Lapangan Banteng, perhatiannya tertuju kepada sebuah buku berjudul “Sejarah Perjuangan Pemuda” karangan Dr. Abu Hanifah. Buku yang banyak menceritakan perjuangan pemuda Indonesia, sehingga mereka menjadi tokoh yang berhasil, seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

Di tempat terminal bus ini jugalah ia berkenalan dengan Sekjen PSI, Lindong Sitorus SH. Pertemuan itu berlanjut dengan pembicaraan yang panjang, sampai akhirnya membawanya ke panggung politik.

Pada waktu itu, ia tak pernah absen dalam berbagai kegiatan PSI. Sampai akhirnya di tahun 1960, dia menikah dan tinggal di Bogor. Lalu, tahun 1967 dia menyelesaikan studinya dari Universitas Jayabaya. Ia pun menjadi pengacara.

Selama karirnya di politik maupun sebagai pengacara, ia selalu membela kepentingan rakyat kecil. Sebab, sejak kecil dia telah melihat adanya ketidakadilan di sistem negara. Terjadi jurang pemisah yang sangat dalam antara yang miskin dan kaya. “Hal inilah yang tidak bisa dibiarkan,” ujarnya.

Menurutnya, jika melihat latarbelakang keluarganya yang miskin, tak pernah terbayangkan dia bisa hidup di ibukota dengan kondisi seperti sekarang. Kemiskinan, penderitaan dan ketidakadilan itulah menjadi modal dan semangat yang menjiwainya untuk melawan ketidakadilan.

Keperpihakannya kepada masyarakat bawah, membantu masyarakat yang teraniaya, tertindas dan tersingkirkan, terdorong karena dia dilahirkan dalam keluarga yang miskin dan yang merasakan ketidakadilan. Jadi, kehidupannya selalu diarahkan untuk membantu orang yang miskin dan tertindas. “Itu sebabnya saya tidak bisa menjadi hakim, karena saya adalah orang yang mudah berpihak kepada yang lemah. Kalau jadi pengacara, cocoklah,” ujarnya.

Ia adalah anak berdarah Batak tulen. Lahir dan dibesarkan di tanah Batak. Namun, tanpa bermaksud menghilangkan rasa cinta tanah tumpah darah, suku dan agama Kristen yang dipeluknya, boleh dibilang 99 persen kehidupannya bersama suku dan kelompok lain.

Itu yang membuat dia prihatin dengan banyaknya muncul kelompok-kelompok yang muncul hanya membela kepentingan kelompok agama, suku dan rasnya saja. “Saya tidak pernah merasa seperti orang Batak, tetapi saya adalah orang Indonesia. Dan saya tidak pernah merasa sebagai orang Kristen,” tegas Tambunan.

Garis hidupnya adalah bagaimana membentuk sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang utuh. Tidak terkotak-kotak. Jika ada perbedaan harus dicari persamaan. Jangan oleh karena perbedaan kita menggunakan perbedaan sebagai alat perpecahan. Biarlah persamaan dalam perbedan yang ditonjolkan.

Ironisnya, katanya, dalam kondisi negara seperti tercabik-cabik karena adanya perbedaan, tokoh-tokoh bangsa, apakah itu tokoh politik maupun tokoh agama, justru menonjolkan perbedaan.

“Saya pikir, jika bangsa ini ingin menjadi bangsa yang besar, harus mempuyai sikap menghargai perbedaan. Berani berkorban mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan,” katanya. Inilah yang perlu ditanamkan kepada seluruh lapisan bangsa.

Ia memang mengaku diajarkan oleh ibunya bagaimana menghormati agama lain, golongan lain. Menghormati orang yang berbeda dengan kita, apakah berbeda agama, suku, ras dan apapun juga. Menurut dia, agama dapat berbeda, namun perbedaan itu tidak membuat permusuhan.

Ini dipraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dia tak pernah mempersoalkan perbedaan agama dan suku. “Saya paling tidak suka jika ada pihak-pihak tertentu yang menjelek-jelekan agama dan suku,” katanya.

Dalam menggerakkan roda partainya, ia juga menanamkan filosofi hidupnya. Sehingga sikap politiknya jelas. Dia hanya mau mau berada di dalam partai politik yang berasaskan nasionalisme, bukan berasaskan agama, kesukuan dan kelompok ras. Karena dia melihat, masalah agama dan latarbelakang seseorang adalah hak azasi manusia.

Nama:
RO Tambunan, SH
Lahir:
Tapanuli Utara 24 Juli 1935
Pendidikan:
Fakultas Hukum Universitas Jayabaya
Profesi:
Advokat – Politisi
Jabatan:
Ketua Umum Partai Kemerdekaan

DR. Ir. G.M. Tampubolon


download (1)
Nama:
DR. Ir. G.M. Tampubolongm-tampubolon1

Lahir:
Padang, 14 Mei 1933

Pendidikan:
– SD, SMP, dan SMA di Kota Padang
– Institut Teknologi Bandung, lulus tahun 1958
– Doktor H.C. dari Perguruan Tinggi Heidelberg, Amerika Serikat tahun 1985

Istri:
Tiara br. Siregar
Anak :
Lima orang, dua putra dan tiga putri:
1. Roberto Mangaradja Tampubolo/ Ade Amir Murtono
2. Dipl. Ing. Henry Pascal Tampubolon/ van Zanten
3. Ir. Juanita Tampubolon/ Zokanda Siahaan
4. Natasha Tampubolon, SE/ Dwi Sampurno Suparjo Rustam
5. Varina Tampubolon, SE
Jumlah cucu :
Sembilan orang
Orangtua:
Nama Ayah : Calvijn Bismarck Tampubolon gelar Ompu Boksa II, meninggal tahun
1989 dalam usia 91 tahun
Nama Ibu : Agustina br. Pardede, meninggal dunia tahun 1990 dalam usia 89 tahun
Saudara kandung:
Anak ketiga dari tujuh bersaudara, dua laki-laki dan lima perempuan

Pengalaman:

Bidang Organisasi:
1. Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), tahun 1969-19884
2. Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO), tahun 1981-1982
3. Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik, tahun 1982-1984
4. Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia, tahun 1975-1993
5. Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI), tahun 1985-Sekarang
6. Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), tahun 1998-Sekarang
7. Komite Kerja Kaukus Teknologi, tahun 2003-Sekarang

Bidang Lembaga Tinggi Negara:
1. Anggota DPR-GR/MPRS dan DPR/MPR-RI, tahun 196801992
2. Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI, tahun 1993-1998
3. Penasehat Presiden RI Bidang Teknik, tahun 199-2000
4. Anggota MPR-FUG, Penasehat, tahun 1999-2004

Bidang Pendidikan:
1. Ketua/Pendiri Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI)/ Institut Teknologi Indonesia (ITI), tahun 1985-Sekarang
2. Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985-1986
3. Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, tahun 1972-Sekarang

Bidang Media:
1. Pemimpin Umum Majalah Insinyur Indonesia, tahun 1971-1984
2. Pemimpin Umum Majalah TEKNOLOGI, tahun 1985-Sekarang

Penghargaan:
1. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1997, tahun 1997
2. Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/1995, tahun 1995

Alamat Rumah:
Jalan Tanjung Nomor 10, Menteng, Jakarta Pusat

Alamat Kantor:
GMT Building, Jalan Wijaya I No. 5, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

 

Insinyur yang Tak Henti Mencipta

Dia sangat terkenal sebagai mantan Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Komisi V DPR RI. Teknokrat kaliber dunia ini 15 tahun memimpin PII dan berbagai organisasi insinyur tingkat dunia, serta 24 tahun sebagai politisi kawakan di DPR Senayan. Pria kelahiran Padang, tanggal 14 Mei 1933 yang sangat dekat Habibie itu adalah cucu seorang pendeta, sukses berbisnis lewat bendera GMT Group yang menjalin kerjasama dengan mitra Jepang.

Teknokrat bernama lengkap DR. Ir. Godefridus Mangaradja Tampubolon ini menjabat Ketua Umum PII tergolong lama, 15 tahun, antara 1969-1984. Sebagai tokoh organisasi insinyur kaliber dunia dia juga berkiprah sebagai Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur ASEAN (AFEO) pada tahun 1981-1982, Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Asia Pasifik (FEISEAP) tahun 1982-1984, hingga ke tingkat dunia sebagai Anggota Perngurus/ Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia (WFEO) tahun 1975-1993.

Di legislatif dia kawakan berkiprah 24 tahun sejak tahun 1968 hingga 1992. Dia juga pendiri dan Ketua Umum Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI) sejak tahun 1985 hingga sekarang. Sejak tahun 1999 hingga 2004 dia kembali ke legislatif sebagai Anggota MPR RI Utusan Golongan Insinyur dan Ahli Teknik Indonesia.

Di awal republik ini berdiri hingga dicetuskannya PII pada 23 Mei 1952 di Kota Bandung, oleh Ir. Djuanda Kartawidjaja dan kawan-kawan, jumlah insinyur masih mudah dihitung sebab tak lebih dari 52 orang. Padahal, kemerdekaan harus segera diisi dengan berbagai pembangunan fisik dan non fisik untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan yaitu memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Ketika itu semua merasa bangga sebagai insinyur dan karenanya sifat keanggotaan stelsel passive artinya siapa saja kalau insinyur dia dapat langsung menjadi anggota PII.
“Gemar mencipta” adalah pesan penting Presiden R.I. pertama Bung Karno kepada PII saat beraudiensi di Istana Negara, Jakarta. Pesan tersebut masih segar dalam ingatan G.M. Tampubolon. Dan menurutnya, tetap sangat aktual dikedepankan terutama untuk membantu bangsa keluar dari krisis multidimensional yang berkepanjangan. Bung Karno termasuk orang yang sangat bangga akan kehadiran PII, maklum, presiden flamboyan ini adalah juga insinyur lulusan dari ITB Bandung.

”Saya pikir relevansi pernyataan Bung Karno itu masih berlaku segar sampai hari ini,” tegas Tampubolon. Dia masih ingat betul bahwa tugas pertama yang Bung Karno berikan kepada mereka adalah memperbaiki jalan Thamrin, Jakarta, yang berlubang-lubang. Memperoleh tugas seperti itu membingungkan. Sekolah tinggi-tinggi hingga insinyur tapi hanya disuruh menambal lubang jalan, oleh seorang Presiden pula. Apalagi jika yang disuruh itu adalah insinyur mesin, seperti dirinya.

“Tapi, Bung Karno punya pikiran lain: Tanamkan dulu suatu suasana perekat diantara insinyur untuk dapat dimobilisasi,” kenang dia. Mereka lalu belajar menutup lubang. Insinyur sekelas Sutami pun harus dikursus cara menutup lubang. Cara kerja mereka sangat serius bahkan hingga tiga shift sehari.

Bung Karno sangat antusias dengan pendirian PII. Tampubolon menyebutkan, setelah Pengurus PII dipanggil empat diantaranya dijadikan Menteri. Yaitu Ir. Slamet Bratanata sebagai Menteri Urusan Jalan Raya Sumatera, Ir. Sutami Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Harjo Sudarjo Menteri Pengairan, dan Ir. Soehadi sebagai Menteri LIPI. “Yang lucu, waktu dipanggil Presiden semua tidak siap. Ir. Slamet Bratanata itu datang menemui Presiden memakai jas yang saya pinjamkan,” ungkap Tampubolon.

Ketika itu GM Tampubolon adalah insinyur lulusan ITB Bandung, Jurusan Mesin, tahun 1958. Bersama kawan-kawan dia disuruh membangun sekaligus menentukan cetak biru organisasi para insinyur tersebut. Pada sekitar tahun 1960 itu, G.M. Tampubolon dan beberapa insinyur muda lainnya, dia adalah yang termuda, dipanggil oleh Ukat untuk diminta menyusun PII.

Mereka lalu membentuk pengurus pusat dan mulai meletakkan dasar-dasar administrasi. Tidak lama kemudian, pada tahun 1963 Tampubolon mulai diangkat menjadi Sekretaris Jenderal (Sekjen). “Pikiran kita waktu itu hanya satu, bagaimana menyertakan insinyur dalam pembangunan. Itu saja,” kenangnya. PII lalu menyelenggarakan kongres berkali-kali, tahun 1963, 1967.

Pada kongres yang kesekian di tahun 1969, di Parapat, Sumatera Utara, Tampubolon terpilih menjadi ketua umum yang kelima setelah Ir. H. Djuanda Kartawidjaja (1952-1954), Ir. Kaslan Tohir (1954-1959), Ir. Umar Bratakusuma (1959-1961), dan Ir. Suratman Dharmaperwira (1965-1969).

Untuk mensejajarkan diri dengan organisasi profesi insinyur lain di luar negeri, yang peran dan fungsinya sama-sama sangat strategis dalam membangun setiap bangsa, sejak tahun 1975 PII menjadi anggota Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia, organisasi yang selanjutnya menempatkan Tampubolon sebagai Anggota Pengurus/Wakil Ketua Umum Federasi Organisasi Insinyur Se Dunia tahun 1975-1993. Tepat dua tahun kemudian, di tahun 1979 PII menjadi tuan rumah Kongres Insinyur Se Dunia yang mengangkat tema pangan, energi, dan transportasi yaitu sektor yang sangat relevan untuk segera dibangun di Indonesia ketika itu.

Di bawah kepemimpinan Tampubolon yang selalu titik perhatian PII adalah bagaimana agar para insinyur bisa berperan aktif dalam setiap proses pembangunan. Sehingga, meski kata “evaluasi” tidak begitu disukai oleh Presiden Suharto, namun setiap tahun PII selalu mengadakan evaluasi terhadap pelaksanaan pembangunan.

Sebuah langkah maju pernah dilakukan PII, ketika di tahun 1977 mereka mengajukan sebuah konsep GBHN yang sudah lengkap dan matang untuk diperdebatkan di forum sidang umum majelis MPR. Tentang naskah GBHN itu, ungkap Tampubolon, “Jadi, hanya ada dua naskah, satu pemerintah, satunya lagi PII.” PII adalah salah satu organisasi profesi yang cukup disegani di era pembangunan. Bukan hanya tampil mengajukan konsep pemikiran membangun bangsa melalui sebuah naskah GBHN tadi, namun, berani pula bersikap berbeda terhadap pimpinan nasional.

Di tahun 1977 itu, kata Tampubolon, kepada Presiden Soeharto yang menerima mereka berdiskusi sejak pukul 10.00 pagi hingga 14.00 sore di Istana Negara, PII mengusulkan bahwa pembangunan itu haruslah seimbang. Antara pembangunan sosial, ekonomi, budaya, dan politik serta pertahanan harus seimbang. “Boleh salah satu menonjol, tapi kalau sektor itu naik, semuanya juga harus naik. Tidak boleh timpang,” kata Tampubolon tanpa bermaksud mendikte Pak Harto, ketika itu.

Cucu Pendeta
Walau sebagai putra Batak, namun dia lahir di Padang, pada tanggal 14 Mei 1933 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Calvijn Bismarck (CB) Tampubolon gelar Ompu Boksa II (meninggal tahun 1989 dalam usia 91 tahun) dan ibunya, Agustina br. Pardede (meninggal setahun kemudian, tahun 1990 dalam usia 89 tahun), sudah lama merantau ke Padang menggeluti usaha perbengkelan mobil dan jual-beli kendaraan angkutan.

Keluarga CB Tampubolon oleh pemuka masyarakat setempat pernah diangkat menjadi Warga Kehormatan Kota Padang. Mereka sekeluarga pandai sekali berbahasa Padang dan menjadikannya bahasa ibu, jauh lebih mahir dibanding berbahasa Batak. Tampubolon meninggalkan kota Padang saat mulai kuliah di ITB Bandung, dan dalam masa perkuliahan itulah dia bertemu dan menikah dengan gadis muda nan cantik jelita yang sangat diidamkannya bernama Tiara br. Siregar, yang kini memberinya dua orang putra dan tiga putri serta sembilan orang cucu.

Kakeknya adalah pendeta, namanya Pendeta Mangaradja Enos Tampubolon. Jika ditarik ke atas lagi kakek buyutnya bernama Hiskia. Ayah Hiskia adalah Ompu Boksa, titisan nama inilah yang lalu dipakai ulang sebagai gelar kehormatan Ompu Boksa II bagi C.B. Tampubolon, ayahnya

Hiskia pernah berjasa besar menyelamatkan seorang misionaris asing bernama Tuan Pilgramm. Pilgramm, yang karena tugas panggilan penginjilan dia memberitakan kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus Tuhan ke Tanah Batak, yang saat itu dominan masih menganut paham animisme. Pilgramm lalu dicari-cari dan hendak dibunuh oleh Panglima Raja Sisingamangaradja XII, bernama Sarbut Tampubolon.

Tuan Pilgramm melarikan diri dan terdampar di sebuah tepian Danau Toba dekat desa Sibolahotang, sebuah desa kecil yang menjadi asal muasal marga Tampubolon. Mengetahui misionaris Jerman itu dalam keadaan bahaya Hiskia yang menemukan Pilgramm terdampar lemah lalu menawarkan jasa untuk menyembunyikan Tuan itu ke loteng rumah adat Batak tempat kediaman mereka sehari-hari.

Sang panglima, yang dalam setiap pertempuran selalu melakukan praktek bumi hangus yaitu setiap daerah yang ditaklukkan harus dibakar habis hingga hancur, mengetahui buruannya ada di daerah kampung asal dia sendiri yaitu desa Lumban Julu, Sibolahotang. Akhirnya dia mengurungkan niat mencari Tuan Pilgramm. Jadilah Tuan Pilgramm selamat untuk selanjutnya meneruskan kembali misi penginjilan di Tanah Batak hingga wafat dan dimakamkan di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara.

Ingat pesan Bung Karno bahwa insinyur harus gemar mencipta, demikian pula Tampubolon dalam setiap langkah pengabdian terhadap bangsa dan negara yang sangat dicintainya. Dia, yang dalam usia muda 30-an tahun telah pernah dipercaya menjadi direksi PN Gaya Motor, sebuah perusahaan otomotif patungan antara pemerintah dan swasta, memang bukan menciptakan barang atau komoditi perdagangan sebagai hasil penelitian dan inovasi. Melainkan, sebagai teknokrat atau pemikir tidak pernah berhenti menggagas ide, pemikiran, dan jasa pengabdian sebagai wujud pelayanan kepada masyarakat.

Karena itu, untuk tetap menjaga kiprahnya mengisi pembangunan selepas ketua umum dari PII di tahun 1985 Tampubolon bersama kawan-kawannya kembali membentuk sebuah organisasi profesi baru yang cakupannya lebih luas, yaitu Perhimpunan Ahli Teknik Indonesia (PATI). Organisasi inilah yang di tahun 1999 menghantarkannya ke keanggotaan MPR RI mewakili utusan golongan para ahli teknik dari segala strata pendidikan dan keahlian yang jumlahnya sekitar 15,3 juta orang. Sebagai salah seorang pendiri dia terpilih pula sebagai Ketua Umum PATI, tahun 1985 hingga sekarang.

Hampir bersamaan waktunya di tahun 1985, masih bersama kawan-kawan diantaranya Prof. B.J. Habibie, Ir. Hartarto, Ir. Erna Witoelar, Ir. Humuntar Lumbangaol dan lain-lain dia mendirikan Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI), sekaligus sebagai ketuanya hingga sekarang. YPTI adalah pemilik dan pengasuh Institut Teknologi Indoneisa (ITI), berlokasi di Serpong, Tangerang, Banten. ITI adalah sebuah perguruan tinggi keteknikan swasta terkemuka dan modern di tanah air.

Perjuangan Tampubolon tergolong luar biasa saat mendirikan YPTI, bahkan, sebuah rumahnya di Jalan Sutan Syahrir, Menteng, Jakarta Pusat harus dia agunkan ke bank untuk menambah dana pendirian YPTI dan kampus ITI. Padahal dalam setiap berusaha, dia, adalah “haram” hukumnya meminjam dana ke bank sebab khawatir hidup tidak tenang sebab setiap bangun pagi yang pertama kali terpikir adalah hutang yang terus bertambah. Dia percaya bunyi firman Tuhan, “Dimana hartamu berada, di situ hatimu berada”.

Di kampus tersebut, peraih gelar doktor kehormatan honoris causa dari Perguruan Tinggi Heidelberg di tahun 1985 ini pernah diangkat sebagai Wakil Rektor/Dekan Institut Teknologi Indonesia, tahun 1985. Pelayanan membangun dunia pendidikan sebelumnya telah dia lakukan ketika menjadi Anggota Pengurus Yayasan Pendidikan dan Universitas Pancasila, Jakarta, sejak tahun 1972 hingga sekarang.

Orang Dekat Habibie
Dia tidak pernah berhenti berkarya dan mencipta khususnya melahirkan ide-ide baru yang segar agar para insinyur dan ahli teknik tetap dapat berperan dalam arus perjalanan bangsa. Gagasan-gagasannya sebagai teknokrat keteknikan semakin memperoleh pembenaran sekaligus pengakuan dari semua pihak tatkala Ketetapan MPR menggariskan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan nasional. Demikian pula yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Sejak tahun 1998 hingga sekarang Tampubolon adalah pendiri sekaligus Ketua Dewan Direksi Center for Technology and Industry Development (CTID), sebuah institusi nirlaba yang secara khusus bekerja mengkaji dan mendalami pengembangan teknologi dan industri di tanah air.

Bersama kawan-kawan dia aktif menggelorakan betapa pentingnya peranan teknologi sebagai elemen kunci pembangunan agar semua pihak bisa memanfaatkan kapabilitas teknologi untuk membantu menyelesaikan sebagian persoalan bangsa. Seperti, meningkatkan produktivitas, menciptakan lapangan kerja baru untuk mengurangi pengangguran, dan memberi nilai tambah yang sangat signifikan dalam setiap proses produksi barang dan jasa supaya bernilai ekonomis. Dia kampanye menemui pimpinan lembaga tertinggi dan tinggi negara, pimpinan partai-partai politik berpengaruh, LSM dan organisasi profesi, termasuk institusi pers dan berbagai institusi lain untuk diseminasi informasi.

Keanggotaannya di MPR RI Periode 1999-2003 yang mewakili Utusan Golongan Ahli Teknik, dia manfaatkan pula untuk menggalang kekuatan para anggota majelis yang berprofesi insinyur dan ahli teknik dari lintas partai. Mereka lalu dimobilisasi untuk menunjukkan kepedulian dan keprihatinan atas semakin lemahnya kapabilitas teknologi di Indonesia. Mereka sepakat membentuk Komite Kerja Kaukus Teknologi sejak 2003, hingga sekarang. G.M. Tamnpubolon adalah Penasehat Fraksi Utusan Golongan MPR RI 1999-2004.

Organisasi profesi keteknikan dan lembaga legislatif adalah dua ladang pengabdian dia sebagai teknokrat. Dan itu sudah berlangsung lama sejak tahun 1968 saat masih bernama DPR-GR dan MPRS. Keanggotaannya di DPR/MPR tidak pernah kosong hingga berakhir di tahun 1992. Di dua periode terakhir pengabdiannya itu dia dipercaya sebagai Ketua Komisi V DPR yang membidangi pembangunan sarana dan prasarana pembangunan seperti transportasi, pelabuhan, telekomunikasi, energi, perumahan rakyat, pariwisata, pos, pekerjaan umum, dan lain-lain. Ketika itu nama dia cukup populer di kalangan masyarakat sebab sebagai Ketua Komisi V DPR kebijakan yang dia tetaskan sangat berpengaruh strategis terhadap kehidupan masyarakat.

Misalnya, ketika dia harus menolak atau menyetujui kenaikan tarif tol yang diajukan oleh Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut, putri sulung Presiden Soeharto yang mengelola jalan tol Cawang-Grogol, lewat bendera usaha PT Citra Marga Nusaphala Persada di awal dekade 1990-an. Rakyat dan lembaga swadaya masyarakat tentu saja menolak usul kenaikan tarif sehingga muncul polemik luas dan berkepanjangan di media massa.

Tampubolon baru masuk kembali ke gelanggang Senayan sebagai Utusan Golongan di MPR sejak tahun 1999 hingga 2004. Setelah tidak terpilih kembali menjadi anggota DPR RI di tahun 1993, oleh Pemerintah dia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI di bawah kepemimpinan Laksamana (Purn) Sudomo, mantan Pangkopkamtib dan Menko Polkam. Namun justru di masa keanggotaan DPA itulah segala kiprah, jasa dan pengabdiannya sebagai teknokrat di bidang keteknikan secara resmi diakui pantas untuk dihargai.

Penghargaan itu pertama kali dia rasakan tahun 1995 saat memperoleh Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama, berdasarkan Keppres R.I. Nomor 063/TK/Tahun 1985 dari Pemerintah RI, yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Selempang penghargaan itu disematkan langsung oleh sahabatnya Menristek Prof. B.J. Habibie, dalam sebuah upacara peringatan Hari Kemerdekaan R.I di halaman upacara Kantor Menristek, Jakarta.

Antara B.J. Habibie dan G.M. Tampubolon terdapat sebuah hubungan persahabatan yang sangat dalam, sebagai sesama anak bangsa yang menggeluti bidang keteknikan. Bukan hanya keduanya terlibat di berbagai institusi yang dibangun bersama-sama, seperti di Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia (YPTI) yang mendirikan kampus Institut Teknologi Indonesia (ITI), sebuah perguruan tinggi keteknikan terlengkap dan termodern di Indonesia yang dibangun persis berdekatan dengan Puspiptek Serpong.

Keduanya sudah saling menopang sejak dari institusi PII hingga ke PATI. Terlebih di awal-awal kedatangan Habibie dari Jerman dan mulai dipercaya sebagai Menteri Negara Ristek di tahun 1978, Habibie banyak memperoleh dukungan dari kalangan insinyur yang bergabung di PII. PII menjadi basis dukungan massa yang dimobilisasi untuk menjalankan program-program Habibie membangun industri-industri strategis di Indonesia. Dan G.M. Tampubolon ada di belakang layar itu semua.

Bahkan ketika tampil sebagai Ketua Umum ICMI sekalipun, seperti pengakuan Ir. Tadjudin Noor Said, seorang politisi kawakan sekaligus vokalis dari Golkar asal Sulawesi Selatan, kini menjadi Anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha), menyebutkan, praktis hanya G.M. Tampubolon satu-satunya warga bangsa non ICMI yang masih tetap bisa berdekatan dengan B.J. Habibie ketika itu.

Bukti lain kedekatan mereka adalah, ketika tampil sebagai Presiden R.I ketiga menggantikan Pak Harto, Habibie membentuk sebuah institusi baru di lingkungan kepresidenan yaitu Penasehat Presiden R.I Bidang Keteknikan. Dan sudah pasti adalah G.M. Tampubolon satu-satunya nama yang dipercaya menduduki jabatan tersebut.

Hubungan keduanya tidak putus kendati Habibie sudah bukan lagi presiden, lalu memilih tinggal menetap di Jerman. Sebab, jika setiap kali menginjakkan kaki di Indonesia keduanya pasti akan berkangen-kangenan. Menjelang Pemilu 2004 saat Habibie mulai lebih sering bermukim di Indonesia dan menemui tokoh-tokoh partai politik dan calon-calon pemimpin bangsa, pertemanan dan pertemuan mereka juga semakin erat dan intens.

Habibie, yang menyatakan diri kembali bersedia memimpin Republik Indonesia jika diminta oleh rakyat dan istrinya yang masih terbaring sakit di Jerman bisa sembuh total, barangkali, patut menjagokan tokoh pemikir kawakan G.M. Tampubolon sebagai tim sukses kampanye kepresidenan agar kejadian di tahun 1999 tidak terulang dimana Habibie memperoleh resistensi tinggi dari kalangan masyarakat.

Berselang dua tahun setelah menerima selempang Bintang Jasa Utama, di tahun 1997 G.M. Tampubolon akhirnya memperoleh penghargaan tertinggi sebagai putra terbaik bangsa, yaitu Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama berdasarkan Keppres R.I. Nomor 073/TK/Tahun 1987. Kali itu disematkan oleh Presiden Soeharto di Istana Negara, Jakarta.

Apakah Tampubolon berhenti menggagas ide setelah menjadi mahaputra terbaik bangsa dan usianya sudah memasuki masa awal anugerah 70 tahun lebih, jawabannya tidak. Energinya tetap terjaga selalu meningkat dan semakin membara. Tantangan yang dia hadapi masih banyak. Misalnya, bagaimana mengamankan kelanjutan kerjasama bisnisnya dengan mitra asing yang telah puluhan tahun dibangun dengan baik.

Dengan bendera GMT Group di tangan, dia bekerjasama dengan Shimizu Corp. sebuah kontraktor multinasional asal Jepang untuk membentuk PT Dextam Contractor. Dextam adalah perusahaan kontraktor yang sudah menorehkan banyak catatan emas membangun gedung-gedung bertingkat di Jakarta.

Demikian pula dengan Kinden Corp. dari Jepang, sejak 12 September 1974 dia membentuk PT Rakintam sebagai perusahaan kontraktor mekanikal dan elektrikal. Di perusahaan penangkapan ikan PT Toyo Fishing Corp. (Tofico) berbasis di Indonesia Bagian Timur dia bermitra dengan Seven Ocean Corp. dari Jepang.

Karena kerjasama itu rata-rata dibangun di tahun 1974 dan berjangka 30 tahun, maka, tahun 2004 adalah masa-masa penting bagi Tampubolon untuk meyakinkan mitra asingnya bahwa melanjutkan usaha patungan di Indonesia masih tetap sangat prospektif.

Dari sebuah gedung GMT Building miliknya di Jalan Wijaya I, Jakarta Selatan, dia sehari-hari mengendalikan grup usahanya bernama GMT Group. Perusahaan yang masuk dalam grup itu, selain yang sudah disebut di atas antara lain adalah PT Inti Karya Persada Tehnik (IKPT), PT Godi Maran Tiara, PT Gofri Megah Tiara, PT Kujang Tiara Lapi, PT Inti Era Cipta, PT Dharma Yasamas Teknindo, PT Rakintam Nusa, PT Asianenco Consult, dan lain-lain.

Di kantor GMT Building itu pula dia setiap hari Jumat berkumpul bersama puluhan karyawannya yang kristiani, berikut istri anak dan anggota keluarga dekat lainnya. Mereka melakukan ibadah kebaktian rutin Jumat siang untuk menghimpun kekuatan energi mengucap puji syukur kepada Tuhan Allah Yang Maha Kuasa yang selalu memberinya pertolongan, perlindungan, dan penghiburan sekaligus berkat-berkat berlimpah yang tiada tara. Kekuatan Tuhan itulah yang mampu menopang dia tetap bertahan di tengah gelombang arus perubahan zaman. Baik sebagai teknokrat, politisi, pengusaha, dan pelayan masyarakat luas.

Tampubolon tetap berkarya di semua zaman kepresidenan. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Habibie, Gus Dur sahabatnya sebagai sesama anggota Fraksi Utusan Golongan MPR sebelum terpilih menjadi presiden. Dan kini Megawati. Pada masanya Tampubolon malah dijuluki sebagai king maker di kalangan insinyur dan ahli teknik. Sebutan itu malah menjurus ke arah sebagai master mind dalam setiap mutasi dan promosi seseorang untuk menempati posisi dan jabatan tertentu di pemerintahan atau direksi di BUMN yang dia bidangi. Connection yang dia bangun di antara sesama kolega memang solid.