Bonar Simangunsong


Laksamana Pertama TNI (Purn) bonar-simangunsong1Bonar Simangunsong

Selalu Belajar untuk Melayani Sesama Lebih Baik

Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong adalah sosok manusia yang selalu ingin belajar. Kisah hidupnya sangat diwarnai proses belajar. Baginya belajar adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hidup. Ia memang telah mengecap sejumlah pendidikan di dalam maupun di luar negeri. Keinginan untuk terus belajar adalah kerinduannya untuk dapat berguna membawa suatu kehidupan masyarakat yang lebih baik dan memberkati orang lain dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepadanya. Lulus dari SMA 3B di Setia Budi, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Ketika perkuliahan tingkat III terjadi masalah dalam keluarga yang berdampak pada persoalan ekonomi dan pendanaan perkuliahan. Namun masalah itu tidak menghentikannya untuk melanjutkan perkuliahan. Sebuah penawaran beasiswa dari TNI-AL memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat terus belajar. Dari sekian banyak pendaftar, pria yang lahir 24 November 1938 ini, satu di antara 20% yang lulus dari seluruh pendaftar.

Walaupun beasiswa telah ia terima, namun itu hanya dapat membantu sebagian dari kebutuhan akedemis. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih sangat sulit. Namun, pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti,” kenangnya. Tiga bulan setelah itu, kembali tawaran datang dari TNI-AL kepadanya sebagai Pelajar Calon Perwira, untuk berkesempatan kuliah di luar negeri yaitu di Uni Soviet. Suatu tantangan yang ia inginkan untuk dapat berkunjung dan berkuliah di luar negeri, yang semasa kecilnya hanya dapat dibayangkan dan dibaca melalui buku-buku dan film. Dan pada tahun 1967 ia lulus dari Odessa Polyrechnical Institute dengan menyandang gelar Msc. Sebuah harapan yang Tuhan genapi di luar jangkauan dan kehendak manusia.

Sekembalinya dari Uni-Soviet, ia diterima di TNI-AL sebagai perwira Letnan Satu (Lettu). Ia pun sempat mengajar di Universitas Trisakti. Di masa dinasnya ini ia bertemu dengan seorang gadis Tapanuli, bernama Elizabeth Leistriana Siahaan, yang cantik dan juga yang mengasihi Tuhan. Maklum, gadis itu puteri pendeta W. Siahaan Perintis Gereja Pentakosta di Tapanuli. Mereka menikah pada tahun 1973 dan dianugerah tiga anak laki-laki.

Pada tahun 1974, kesempatan pendidikan di Amerika terbuka pula baginya sebagai mahasiswa bidang komputerisasi pertahanan di Monterey, California, AS. Saat itu ia sebagai dosen di Univesitas Kristen Indonesia. Masa pendidikan di Amerika memberikan wawasan baru dalam melayani bangsa dan negara Indonesia yang yang ia cintai ini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berdinas di lingkunagan TNI-AL, Bonar Simangungsong telah menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Lalu kembali ia mendapat kesempatan dari Dephankam untuk belajar di Australia untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga pendidikan staf dan kepemimpinan bergengsi di negeri itu yakni AACS. Lembaga ini dikenal meluluskan orang-orang terbaik di bidangnya. Setelah itu, empat tahun kemudian, lagi-lagi Dephankam memberikan kepercayaan baginya mengikuti pendidikan SESPA sebuah pendidikan bertaraf nasional sebagai pelengkap AACS. Ia pun lulus SESPA sebagai peringkat pertama. Berbekal pendidikan SESPA dan AACS tentulah ia seorang perwira yang profesional dan berwawasan kebangsaan dan internasional.

Kemudian tahun 1986, Bonar Simangungsong diundang untuk mengikuti pendidikan di Amerika Serikat di bidang Pendidikan Manajemen Pertahanan Internasional (IDMC). Di lembaga pendidikan ini, ia talah mengikuti pendidikan komputerisasi pada tahun 1973. Kali ini peserta IDMC datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Kuwait, Saudi Arabia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Ia adalah perwakilan dari Indonesia.

Kisah pendidikan Bonar bukan hanya itu. Pada tahun yang sama ia menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) dan memperoleh gelar Doktorandus. Selepas itu, ia pun mengajar sebagai staf dosen di situ. Sepanjang kariernya ia telah mengikuti bermacam-macam pelatihan, seminar, simposium, dan pendidikan lain yang ada di dalam dan luar negeri. Pengabdiannya kepada negara yang telah ia jalani puluhan tahun telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pionir komputerisasi di TNI-AL dan Dephankam. ”Semua itu adalah bekal untuk melayani Tuhan dan sesama,” tuturnya bersyukur.

Perubahan Besar

Pada saat Bonar berusia 51 tahun, tepatnya tahun 1989, secara tiba-tiba terjadi perubahan besar pada diri dan keluarganya. Tahun 1989 itu merupakan tahun pertobatan, sebagai tunrning point kehidupan rohaninya. Peristiwa ini terjadi akibat kematian anak bungsunya Gurindo Tri Wahyu Simangunsong pada usia 16 tahun. Kepergian Gurindo mencelikan mata rohaninya akan kemahakuasaan Allah sekaligus Kasih-Nya. Katanya, Tuhan berhak memberi dan mengambil”. Proses pertobatan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, namun juga oleh ketabahan isterinya tercinta yang terus mendoakan dan setia berharap bahwa Tuhan dapat menjamah sang suami. Pertobatan ini membawanya untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan karena ketetapan hatinya untuk melayani itu teruji Tuhan meggunakannya, sehingga dengan mujizat yang dari Tuhan, ia dipercayakan untuk bergabung dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sebagai anggota penyusun GBHN dan segala bentuk pengkajian tingkat Nasional untuk Presiden RI.

Pekerjaan tangan Tuhan tidak berhenti di situ saja, setelah diangkat dengan SK Mensekneg sebagai anggota penyusun GBHN dan berpangkat kolonel, di tahun 1992 oleh keputusan Presiden RI, ia pun diangkat menjadi Laksmana Pertama (Laksma TNI) dengan jabatan Eselon I. Ia pensiun sebagai perwira TNI-AL pada usia 55 tahun (1993) dan pesiun sebagai penjabat pemerintah pada usia 60 tahun (1998)

Kerinduan dalam melayani Tuhan, semakin memantapkannya untuk mencurahkan pehatian dalam membantu sesama. Ia melayani di gereja GBI sejak tahun 1989, dimulai sebagai petugas seksi dan mempelopori persekutuan di Wanhankamnas dan di dua jemaat GBI. Kemudian setelah setia selama 8 tahun melayani, gereja mengangkatnya sebagai pendeta muda yang membina koordinasi staf ahli GBI. Tiga bulan sebelum masa pensiunnya sebagai pejabat pemerintah, ia di angkat sebagai ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yaitu sebuah forum komunikasi antar gereja-gereja Jakarta yang berasal dari berbagai aliran gereja seperti, Katolik, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Ortodoks, Protestan, Pentakosta dan Injili. Forum ini berdiri berdasarkan kesadaran kesatuan Tubuh Kristus dan kesatuan Iman melalui kesaksian Roh Kudus.

Pada tahun 2000 lalu, ia diangkat sebagai pendeta oleh sinode GBI selaku anggota Badan pembinaan Rohani Sinode dan sebagai wakil ketua umum Asosiasi Yayasan untuk Bangsa (AYUB). Dan yang paling mengejutkan, di usianya yang ke-62 ia masih menyempatkan kuliah bidang teologia di Institut Filsafat Teologia dan Kepemimpinan Jafrray (IFTKJ) serta kuliah di Universitas Terbuka bersama isterinya. Secara ekonomi dan karir gelar tidak ada artinya, tetapi dapat memberikan motivasi kepada anak-anak dan siapapun, bahwa proses belajar tidak pernah berhenti sampai mati, tuturnya. Saat ini ia tetap aktif sebagai Pendeta di sinode GBI dan membantu Menteri Kelautan dan Perikanan selaku kordinator Pokja Penyusunan Sistem Hukum Kristiani dan sebagai Widyaiswara bagi Diklat kepemimpinan TK II serta SPAMEN.

Refleksi

Sebagai seorang perwira tinggi yang bertobat dan hidup dalam Kristus, Bonar Simangunsong dalam beberapa kali pertemuan menguraikan Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Indonesia.

Dalam hal Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Bonar mengatakan bagi seorang pengikut Kristus yang kodratnya manusia sosial, hidup dalam bermasyarakat harus menjadi garam seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 5:13). Yaitu menjadi garam bagi sekelilingnya, apapun agama orang lain itu. Demikian juga pada saat yang sama harus menjadi terang dunia (Matius 5 :14).

Kehidupan sosial seorang Kristen adalah bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menganggap milik pribadi menjadi milik bersama dan mereka disukai orang lain (Kis. 2:44-47).

Kalau umat Kristiani menjadi garam, maka sifat garam yang memberi rasa sedap, umat ini pun dapat memberi rasa suka cita kepada orang lain, bahkan mereka yang sedang stres, tertekan dan menderita apapun asal-usul, profesi atau agama orang tersebut. Ibarat garam yang larut tidak kelihatan dalam makanan yang digarami, umat Kristen dengan kasih Yesus yang ada padanya larut tidak kelihatan identitasnya, tetapi terasa kehadiran umat tersebut di tengah-tengah orang lain dan rasa nyaman pun terjadi.

Manfaat lain dari garam adalah mencegah pembusukan, mencegah kehancuran makanan yang digarami. Maka, menurut Bonar, umat Kristiani dapat bertindak seperti itu. Larut mencegah angkara murka, kebencian, keirihatian dan sebagainya. Tentu dengan pertolongan Tuhan.

Dengan perkataan lain, manusia Kristiani harus bergaul dengan masyarakat sekelilingnya, jangan ekslusif, jangan arogan atau menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Sebagai terang dunia Umat Kristiani dan lembaga-lembaga Kristiani harus menjadi contoh, suri tauladan, taat pada peraturan perundang-undangan, tidak melakukan KKN memberi sumbangan pemecahan pada sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, menguak yang tersembunyi yang jahat melalui terang tersebut yaitu kuasa Roh Kudus.

Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan hidup sebagai masyarakat lebih banyak dari pada sebagai bangsa, karena di dalam masyarakatlah muncul pribadi-pribadi, kehidupan sehari-hari, kegiatan-kegiatan dan interaksi sosial. Tentu ini berhubungan dengan perbuatan yang baik atau jahat, berkat atau dosa. Oleh karena itu umat Kristiani dinilai lebih banyak sebagai anggota masyarakat daripada sebagai bangsa.

Refleksi Berbangsa

Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke ditambah dengan etnik lainnya yang datang ke Indonesia dan menetap tinggal di negeri ini. Sebenarnya suku bangsa yang disebut asli inipun, juga datang dari negeri lain, seperti dari Yunan di dekat Kamboja, maka yang benar-benar asli tidak ada. Keberagaman suku dan etnik tersebut yang bersatu menjadi bangsa Indonesia, terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, suatu heteroginitas yang tinggi, namun dapat bersatu. Pernyataan kebangsaan ini dicanangkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang terdiri dari Yong Jawa, Yong Batak, Yong Sunda, Yong Ambon, Yong Aceh, Yong Bornea, Yong Celebes dan sebagainya, yang bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Sayangnya pada saat itu hanya suku yang muncul, agama tidak.

Penjajahan Belanda, mendorong masyarakat dan rakyat dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu melawan penjajahah, apalagi dengan adanya sependeritaan dan senasib yang kemudian mengkristal, sehingga masyarakat tersebut membentuk diri menjadi bangsa.

Satu hal yang patut diingat bahwa Tuhan menetapkan bila manusia bersatu (satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa), maka manusia menjadi kuat dan apapun yang direncanakan akan terlaksana (Kejadian 1 1:6) seperti yang terjadi di Babel itu yang kemudian Tuhan mengacaukan bahasa mereka, agar tidak bersatu. Tuhan tidak menginginkan mereka bersatu, karena melawan Tuhan.

Bagi umat Kristiani yang menjadi bagian integral dari bangsa seperti bangsa Indonesia, harus memahami hal ini, dan ikut serta membangun bangsanya, agar kuat dan maju. Nilai persatuan dan kesatuan sering dikumandangkan di bumi Indonesia, bukanlah sekedar retorika pidato, tetapi sesuai Firman Allah. Wawasan Nusantara adalah doktrin persatuan dan kesatuan Indonesia, bersama-sama dengan Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya suatu pijakan ampuh untuk membangun bangsa dan harus menjadi pegangan juga bagi umat Kristiani membangun bangsa Indonesia. Maka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristiani tidak boleh eksklusif dan tidak hidup sendiri tanpa memperhatikan bangsanya.

Refleksi Bernegara

Alkitab mengajarkan tentang kenegaraan sebagai berikut: (1) Harus jelas wilayah dan batas-batas negara; (2) Harus ada peraturan perundang-undangan; (3) Harus ada pemimpin negara dan aparat; (4) Pemerintah harus demokratis; (5) Harus ada pembagian tugas yang jelas; (6) Rakyat mempunyai rasa kebangsaan. Oleh karena itu, bagi umat Kristiani bukan hal asing bernegara dan bahkan karena ada pedoman di AIkitab, mereka harus menjadi warga negara yang baik. Seperti kata Tuhan Yesus, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini pengertian Kaisar adalah Pemerintah, yang dipimpin Presiden, seperti Indonesia, atau Perdana Menteri, seperti Kanada. Pengertian hak Kaisar, hak Pemerintah, sangat luas, meliputi hukum, politik, ekonomi, penegakan hukUm tentara dan sebagainya, tidak hanya pajak.

Kalau menyandingkan teori kenegaraan dari Alkitab dengan fakta yang ada sekarang di dunia, maka tidak ada yang bertentangan. Walaupun ada perbedaan, yang terutama ditentukan oleh geopolitik, yaitu paradigma kenegaraan dan kepentingan nasionalnya mengacu pada geopolitik tersebut, juga adanya perkembangan dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Namun Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnik, apa kata Firman Tuhan tentang hal tersebut? Yesaya 41:1-7, berbicara tentang pulau-pulau dan bangsa-bangsa. Sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana besar bagi Indonesia. asal mau berdiam diri untuk mendengarkan Tuhan selanjutnya berbicara dan tampil bersamsama-sama (ayat 1), kemudian harus bergerak dari Timur, berarti di Indonesia dari lrian Jaya, Maluku dan sekitarnya (ayat 2) menuju Barat membawa Firman Tuhan (disimbolkan pedang). Kemenangan rohani datang dari sana.

Indonesia adalah wilayah yang diberkati: pilihan Allah: karena pulau-pulaunya mengharapkan pengajaran dan kasih-Nya (hukum-Nya) akan diterapkan di sana (Yes. 42:4 ), yaitu berdasarkan kasih, saling menghormati dan saling tolong menolong. Indonesia yang tidak mengalami musim dingin tidak akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada waktu khotbah di Bukit Zaitun, yaitu siksaan yang belum pernah terjadi sejak awal dunia diciptakan Allah sampai sekarang (Markus 13: 18-19). Puji Syukur pada Tuhan. Maka Umat Kristiani yang dianugerahi negeri seperti Indonesia dan ikut menegara dengan umat lain dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berkorban untuk bangsa dan negaranya sebagai berikut:

1. Menjadi garam, yaitu bergaul dengan masyarakat sekeliling, menjadi berkat, membantu orang lain, peduli orang lain, rendah hati, larut, tidak arogan dan sombong.

2. Menjadi terang, yaitu memberi contoh yang baik, kalau menjadi pemimpin harus mengayomi, mempunyai pusat-pusat Kristen di daerah-daerah mayoritas Kristen.

3. Menjadi warga negara yang patuh akan peraturan perundang-undangan, mempunyai KTP, membayar pajak, berdisiplin di lalu lintas dan tempat pekerjaan, menjaga nama baiki negaranya

4. Menjaga kepentingan nasional Indonesia, tidak membawa uangnya, kalau ada, ke luar negeri, membangun perekonomian nasional, membangun negaranya.

5. Mendoakan dan menjadi berkat bagi masyarakat. bangsa dan negara Indonesia, serta yang terpenting mendoakan rakyat Indonesia lainya agar dipilih Tuhan menjadi pengikut-Nya.

6. Tidak perlu berusaha menjadikan Indonesia menjadi negara agama, umpama negara Nasrani, sebab Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa negara tidak mencampuri agama dan agama tidak mencampuri urusan negara. Hubungan keduanya dapat terjalin, melalui umat, disatu pihak sebagai orang yang beriman, dipihak lain sebagai anggota masyarakat, bangsa dan

Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong

Selalu Belajar Melayani Sesama


Laksamana Pertama TNI (Purn) Bonar Simangunsong adalah sosok manusia yang selalu ingin belajar. Kisah hidupnya sangat diwarnai proses belajar. Baginya belajar adalah sebuah proses yang terjadi sepanjang hidup. Ia memang telah mengecap sejumlah pendidikan di dalam maupun di luar negeri.

Keinginan untuk terus belajar adalah kerinduannya untuk dapat berguna membawa suatu kehidupan masyarakat yang lebih baik dan memberkati orang lain dengan talenta yang Tuhan telah berikan kepadanya.

Lulus dari SMA 3B di Setia Budi, Jakarta, ia melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Ketika perkuliahan tingkat III terjadi masalah dalam keluarga yang berdampak pada persoalan ekonomi dan pendanaan perkuliahan. Namun masalah itu tidak menghentikannya untuk melanjutkan perkuliahan. Sebuah penawaran beasiswa dari TNI-AL memberikan kesempatan kepadanya untuk dapat terus belajar. Dari sekian banyak pendaftar, pria yang lahir 24 November 1938 ini, satu di antara 20% yang lulus dari seluruh pendaftar.

Walaupun beasiswa telah ia terima, namun itu hanya dapat membantu sebagian dari kebutuhan akedemis. Sementara kebutuhan hidup sehari-hari masih sangat sulit. “Namun, pertolongan Tuhan tidak pernah berhenti,” kenangnya.
Tiga bulan setelah itu, kembali tawaran datang dari TNI-AL kepadanya sebagai Pelajar Calon Perwira, untuk berkesempatan kuliah di luar negeri yaitu di Uni Soviet. Suatu tantangan yang ia inginkan untuk dapat berkunjung dan berkuliah di luar negeri, yang semasa kecilnya hanya dapat dibayangkan dan dibaca melalui buku-buku dan film. Dan pada tahun 1967 ia lulus dari Odessa Polyrechnical Institute dengan menyandang gelar Msc. Sebuah harapan yang Tuhan genapi di luar jangkauan dan kehendak manusia.

Sekembalinya dari Uni-Soviet, ia diterima di TNI-AL sebagai perwira Letnan Satu (Lettu). Ia pun sempat mengajar di Universitas Trisakti. Di masa dinasnya ini ia bertemu dengan seorang gadis Tapanuli, bernama Elizabeth Leistriana Siahaan, yang cantik dan juga yang mengasihi Tuhan. Maklum, gadis itu puteri pendeta W. Siahaan – Perintis Gereja Pentakosta di Tapanuli. Mereka menikah pada tahun 1973 dan dianugerah tiga anak laki-laki.

Pada tahun 1974, kesempatan pendidikan di Amerika terbuka pula baginya sebagai mahasiswa bidang komputerisasi pertahanan di Monterey, California, AS. Saat itu ia sebagai dosen di Univesitas Kristen Indonesia. Masa pendidikan di Amerika memberikan wawasan baru dalam melayani bangsa dan negara Indonesia yang yang ia cintai ini.

Setelah lebih dari sepuluh tahun berdinas di lingkunagan TNI-AL, Bonar Simangungsong telah menjadi Letnan Kolonel (Letkol). Lalu kembali ia mendapat kesempatan dari Dephankam untuk belajar di Australia untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga pendidikan staf dan kepemimpinan bergengsi di negeri itu yakni AACS. Lembaga ini dikenal meluluskan orang-orang terbaik di bidangnya. Setelah itu, empat tahun kemudian, lagi-lagi Dephankam memberikan kepercayaan baginya mengikuti pendidikan SESPA sebuah pendidikan bertaraf nasional sebagai pelengkap AACS. Ia pun lulus SESPA sebagai peringkat pertama. Berbekal pendidikan SESPA dan AACS tentulah ia seorang perwira yang profesional dan berwawasan kebangsaan dan internasional.

Kemudian tahun 1986, Bonar Simangungsong diundang untuk mengikuti pendidikan di Amerika Serikat di bidang Pendidikan Manajemen Pertahanan Internasional (IDMC). Di lembaga pendidikan ini, ia talah mengikuti pendidikan komputerisasi pada tahun 1973. Kali ini peserta IDMC datang dari berbagai negara seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, Jerman, Kuwait, Saudi Arabia, dan negara-negara Asia Pasifik lainnya. Ia adalah perwakilan dari Indonesia.
Kisah pendidikan Bonar bukan hanya itu. Pada tahun yang sama ia menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara – Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) dan memperoleh gelar Doktorandus. Selepas itu, ia pun mengajar sebagai staf dosen di situ. Sepanjang kariernya ia telah mengikuti bermacam-macam pelatihan, seminar, simposium, dan pendidikan lain yang ada di dalam dan luar negeri. Pengabdiannya kepada negara yang telah ia jalani puluhan tahun telah menempatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pionir komputerisasi di TNI-AL dan Dephankam. ”Semua itu adalah bekal untuk melayani Tuhan dan sesama,” tuturnya bersyukur.

Perubahan Besar
Pada saat Bonar berusia 51 tahun, tepatnya tahun 1989, secara tiba-tiba terjadi perubahan besar pada diri dan keluarganya. Tahun 1989 itu merupakan tahun pertobatan, sebagai tunrning point kehidupan rohaninya. Peristiwa ini terjadi akibat kematian anak bungsunya Gurindo Tri Wahyu Simangunsong pada usia 16 tahun. Kepergian Gurindo mencelikan mata rohaninya akan kemahakuasaan Allah sekaligus Kasih-Nya. Katanya, “Tuhan berhak memberi dan mengambil”. Proses pertobatan ini bukanlah terjadi dengan sendirinya, namun juga oleh ketabahan isterinya tercinta yang terus mendoakan dan setia berharap bahwa Tuhan dapat menjamah sang suami. Pertobatan ini membawanya untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dan karena ketetapan hatinya untuk melayani itu teruji Tuhan meggunakannya, sehingga dengan mujizat yang dari Tuhan, ia dipercayakan untuk bergabung dengan Dewan Pertahanan dan Keamanan Nasional sebagai anggota penyusun GBHN dan segala bentuk pengkajian tingkat Nasional untuk Presiden RI.
Pekerjaan tangan Tuhan tidak berhenti di situ saja, setelah diangkat dengan SK Mensekneg sebagai anggota penyusun GBHN dan berpangkat kolonel, di tahun 1992 oleh keputusan Presiden RI, ia pun diangkat menjadi Laksmana Pertama (Laksma TNI) dengan jabatan Eselon I. Ia pensiun sebagai perwira TNI-AL pada usia 55 tahun (1993) dan pesiun sebagai penjabat pemerintah pada usia 60 tahun (1998)

Kerinduan dalam melayani Tuhan, semakin memantapkannya untuk mencurahkan pehatian dalam membantu sesama. Ia melayani di gereja GBI sejak tahun 1989, dimulai sebagai petugas seksi dan mempelopori persekutuan di Wanhankamnas dan di dua jemaat GBI. Kemudian setelah setia selama 8 tahun melayani, gereja mengangkatnya sebagai pendeta muda yang membina koordinasi staf ahli GBI.

Tiga bulan sebelum masa pensiunnya sebagai pejabat pemerintah, ia di angkat sebagai ketua umum Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) yaitu sebuah forum komunikasi antar gereja-gereja Jakarta yang berasal dari berbagai aliran gereja seperti, Katolik, Advent, Bala Keselamatan, Baptis, Ortodoks, Protestan, Pentakosta dan Injili. Forum ini berdiri berdasarkan kesadaran kesatuan Tubuh Kristus dan kesatuan Iman melalui kesaksian Roh Kudus.

Pada tahun 2000 lalu, ia diangkat sebagai pendeta oleh sinode GBI selaku anggota Badan pembinaan Rohani Sinode dan sebagai wakil ketua umum Asosiasi Yayasan untuk Bangsa (AYUB). Dan yang paling mengejutkan, di usianya yang ke-62 ia masih menyempatkan kuliah bidang teologia di Institut Filsafat Teologia dan Kepemimpinan Jafrray (IFTKJ) serta kuliah di Universitas Terbuka bersama isterinya. “Secara ekonomi dan karir gelar tidak ada artinya, tetapi dapat memberikan motivasi kepada anak-anak dan siapapun, bahwa proses belajar tidak pernah berhenti sampai mati,” tuturnya.

Saat ini ia tetap aktif sebagai Pendeta di sinode GBI dan membantu Menteri Kelautan dan Perikanan selaku kordinator Pokja Penyusunan Sistem Hukum Kristiani dan sebagai Widyaiswara bagi Diklat kepemimpinan TK II serta SPAMEN.

Refleksi
Sebagai seorang perwira tinggi yang bertobat dan hidup dalam Kristus, Bonar Simangunsong dalam beberapa kali pertemuan menguraikan Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Indonesia.
Dalam hal Refleksi Kristiani dalam Bermasyarakat, Bonar mengatakan bagi seorang pengikut Kristus yang kodratnya manusia sosial, hidup dalam bermasyarakat harus menjadi garam seperti yang Tuhan Yesus ajarkan (Matius 5:13). Yaitu menjadi garam bagi sekelilingnya, apapun agama orang lain itu. Demikian juga pada saat yang sama harus menjadi terang dunia (Matius 5 :14).
Kehidupan sosial seorang Kristen adalah bersekutu dan saling tolong menolong, bahkan menganggap milik pribadi menjadi milik bersama dan mereka disukai orang lain (Kis. 2:44-47).
Kalau umat Kristiani menjadi garam, maka sifat garam yang memberi rasa sedap, umat ini pun dapat memberi rasa suka cita kepada orang lain, bahkan mereka yang sedang stres, tertekan dan menderita apapun asal-usul, profesi atau agama orang tersebut. Ibarat garam yang larut tidak kelihatan dalam makanan yang digarami, umat Kristen dengan kasih Yesus yang ada padanya larut tidak kelihatan identitasnya, tetapi terasa kehadiran umat tersebut di tengah-tengah orang lain dan rasa nyaman pun terjadi.
Manfaat lain dari garam adalah mencegah pembusukan, mencegah kehancuran makanan yang digarami. Maka, menurut Bonar, umat Kristiani dapat bertindak seperti itu. Larut mencegah angkara murka, kebencian, keirihatian dan sebagainya. Tentu dengan pertolongan Tuhan.
Dengan perkataan lain, manusia Kristiani harus bergaul dengan masyarakat sekelilingnya, jangan ekslusif, jangan arogan atau menempatkan diri lebih tinggi dari orang lain. Sebagai terang dunia Umat Kristiani dan lembaga-lembaga Kristiani harus menjadi contoh, suri tauladan, taat pada peraturan perundang-undangan, tidak melakukan KKN memberi sumbangan pemecahan pada sekelilingnya yang penuh dengan kegelapan, menguak yang tersembunyi yang jahat melalui terang tersebut yaitu kuasa Roh Kudus.
Dalam Alkitab, Tuhan mengajarkan hidup sebagai masyarakat lebih banyak dari pada sebagai bangsa, karena di dalam masyarakatlah muncul pribadi-pribadi, kehidupan sehari-hari, kegiatan-kegiatan dan interaksi sosial. Tentu ini berhubungan dengan perbuatan yang baik atau jahat, berkat atau dosa. Oleh karena itu umat Kristiani dinilai lebih banyak sebagai anggota masyarakat daripada sebagai bangsa.

Refleksi Berbangsa
Bangsa Indonesia terdiri dari suku-suku bangsa yang mendiami pulau-pulau dari Sabang sampai Merauke ditambah dengan etnik lainnya yang datang ke Indonesia dan menetap tinggal di negeri ini. Sebenarnya suku bangsa yang disebut asli inipun, juga datang dari negeri lain, seperti dari Yunan di dekat Kamboja, maka yang benar-benar asli tidak ada. Keberagaman suku dan etnik tersebut yang bersatu menjadi bangsa Indonesia, terkenal dengan Bhinneka Tunggal Ika, suatu heteroginitas yang tinggi, namun dapat bersatu. Pernyataan kebangsaan ini dicanangkan dalam Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang terdiri dari Yong Jawa, Yong Batak, Yong Sunda, Yong Ambon, Yong Aceh, Yong Bornea, Yong Celebes dan sebagainya, yang bersumpah satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, Indonesia. Sayangnya pada saat itu hanya suku yang muncul, agama tidak.
Penjajahan Belanda, mendorong masyarakat dan rakyat dari Sabang sampai Merauke untuk bersatu melawan penjajahah, apalagi dengan adanya sependeritaan dan senasib yang kemudian mengkristal, sehingga masyarakat tersebut membentuk diri menjadi bangsa.
Satu hal yang patut diingat bahwa Tuhan menetapkan bila manusia bersatu (satu bangsa, satu nusa dan satu bahasa), maka manusia menjadi kuat dan apapun yang direncanakan akan terlaksana (Kejadian 1 1:6) seperti yang terjadi di Babel itu yang kemudian Tuhan mengacaukan bahasa mereka, agar tidak bersatu. Tuhan tidak menginginkan mereka bersatu, karena melawan Tuhan.
Bagi umat Kristiani yang menjadi bagian integral dari bangsa seperti bangsa Indonesia, harus memahami hal ini, dan ikut serta membangun bangsanya, agar kuat dan maju. Nilai persatuan dan kesatuan sering dikumandangkan di bumi Indonesia, bukanlah sekedar retorika pidato, tetapi sesuai Firman Allah. Wawasan Nusantara adalah doktrin persatuan dan kesatuan Indonesia, bersama-sama dengan Bhinneka Tunggal Ika sebenarnya suatu pijakan ampuh untuk membangun bangsa dan harus menjadi pegangan juga bagi umat Kristiani membangun bangsa Indonesia. Maka sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia, umat Kristiani tidak boleh eksklusif dan tidak hidup sendiri tanpa memperhatikan bangsanya.

Refleksi Bernegara
Alkitab mengajarkan tentang kenegaraan sebagai berikut: (1) Harus jelas wilayah dan batas-batas negara; (2) Harus ada peraturan perundang-undangan; (3) Harus ada pemimpin negara dan aparat; (4) Pemerintah harus demokratis; (5) Harus ada pembagian tugas yang jelas; (6) Rakyat mempunyai rasa kebangsaan.

Oleh karena itu, bagi umat Kristiani bukan hal asing bernegara dan bahkan karena ada pedoman di AIkitab, mereka harus menjadi warga negara yang baik. Seperti kata Tuhan Yesus, berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi haknya. Dalam hal ini pengertian Kaisar adalah Pemerintah, yang dipimpin Presiden, seperti Indonesia, atau Perdana Menteri, seperti Kanada. Pengertian hak Kaisar, hak Pemerintah, sangat luas, meliputi hukum, politik, ekonomi, penegakan hukUm tentara dan sebagainya, tidak hanya pajak.

Kalau menyandingkan teori kenegaraan dari Alkitab dengan fakta yang ada sekarang di dunia, maka tidak ada yang bertentangan. Walaupun ada perbedaan, yang terutama ditentukan oleh geopolitik, yaitu paradigma kenegaraan dan kepentingan nasionalnya mengacu pada geopolitik tersebut, juga adanya perkembangan dari zaman ke zaman, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia.

Namun Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan etnik, apa kata Firman Tuhan tentang hal tersebut? Yesaya 41:1-7, berbicara tentang pulau-pulau dan bangsa-bangsa. Sesungguhnya Tuhan mempunyai rencana besar bagi Indonesia. asal mau berdiam diri untuk mendengarkan Tuhan selanjutnya berbicara dan tampil bersamsama-sama (ayat 1), kemudian harus bergerak dari Timur, berarti di Indonesia dari lrian Jaya, Maluku dan sekitarnya (ayat 2) menuju Barat membawa Firman Tuhan (disimbolkan pedang). Kemenangan rohani datang dari sana.

Indonesia adalah wilayah yang diberkati: pilihan Allah: karena pulau-pulaunya mengharapkan pengajaran dan kasih-Nya (hukum-Nya) akan diterapkan di sana (Yes. 42:4 ), yaitu berdasarkan kasih, saling menghormati dan saling tolong menolong. Indonesia yang tidak mengalami musim dingin tidak akan mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus pada waktu khotbah di Bukit Zaitun, yaitu siksaan yang belum pernah terjadi sejak awal dunia diciptakan Allah sampai sekarang (Markus 13: 18-19). Puji Syukur pada Tuhan.

Maka Umat Kristiani yang dianugerahi negeri seperti Indonesia dan ikut menegara dengan umat lain dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia harus rela berkorban untuk bangsa dan negaranya sebagai berikut:

1. Menjadi garam, yaitu bergaul dengan masyarakat sekeliling, menjadi berkat, membantu orang lain, peduli orang lain, rendah hati, larut, tidak arogan dan sombong.
2. Menjadi terang, yaitu memberi contoh yang baik, kalau menjadi pemimpin harus mengayomi, mempunyai pusat-pusat Kristen di daerah-daerah mayoritas Kristen.
3. Menjadi warga negara yang patuh akan peraturan perundang-undangan, mempunyai KTP, membayar pajak, berdisiplin di lalu lintas dan tempat pekerjaan, menjaga nama baiki negaranya
4. Menjaga kepentingan nasional Indonesia, tidak membawa uangnya, kalau ada, ke luar negeri, membangun perekonomian nasional, membangun negaranya.
5. Mendoakan dan menjadi berkat bagi masyarakat. bangsa dan negara Indonesia, serta yang terpenting mendoakan rakyat Indonesia lainya agar dipilih Tuhan menjadi pengikut-Nya.
6. Tidak perlu berusaha menjadikan Indonesia menjadi negara agama, umpama negara Nasrani, sebab Tuhan Yesus mengajarkan, bahwa negara tidak mencampuri agama dan agama tidak mencampuri urusan negara. Hubungan keduanya dapat terjalin, melalui umat, disatu pihak sebagai orang yang beriman, dipihak lain sebagai anggota masyarakat, bangsa dan negara. *** (Tokoh Indonesia)

Rendahnya SDM di Laut

“Kendala Pembangunan Kelautan”

Tingkat pendidikan yang rendah cenderung menimbulkan masalah yang tidak sederhana dalam proses pembangunan kelautan Indonesia.

Hampir satu tahun sudah Tujuh Tenaga Ahli Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) dibentuk. Tenaga Ahli ini bertugas membantu Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia dalam merumuskan dan mengkaji permasalahan kelautan nasional yang selanjutnya untuk diserahkan kepada Presiden agar diimplementasikan pada sektor terkait di bidang kelautan. Kajian-kajian itu yakni bidang SDM dan IPTEK, perikanan, pelayaran, pariwisata bahari, hukum dan kelembagaan, lingkungan laut, dan energi dan sumberdaya mineral.

Fakta menunjukan kondisi kelautan nasional masih belum beranjak dari keterpurukannya walau gong kebangkitan telah ditabuh sejak masa reformasi dengan dicanangkannya Deklarasi Bunaken pada 1998 sampai dibentuknya Departemen Kelautan dan Perikanan serta Dewan Kelautan Indonesia (awalnya Dewan Maritim Indonesia) pada tahun 1999.

Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Prof. Dr. Rizald Max Rompas selalu mengingatkan bahwa, hal yang mendasar dari keterpurukan itu yakni masih menganutnya pola daratan dari para pemangku negeri ini, khususnya di jajaran birokrasi, mulai dari staf sampai eselon I.

Nah, terkait dengan persoalan ini Dewan Kelautan Indonesia merasa membutuhkan sebuah think tank bagi upaya percepatan pembangunan kelautan nasional dengan membentuk para Tenaga Ahli tersebut. Dengan itu, paling tidak dapat diketahui apa dan bagaimana seharusnya Presiden menata bidang kelautan ini. “Ini menjadi penting bagi Presiden, dan dengan demikian menjadi tahu prioritas serta permasalahan yang mendasar dibidang kelautan nasional,” kata Rompas.

Terlepas dari penting dan mendasarnya semua kegiatan ekonomi, politik dan sosial budaya di bidang kelautan, Sumberdaya Manusia dan IPTEK rupanya hal yang paling pokok dari semua permasalahan pokok. Sebab semua soal tak akan bisa selesai tanpa kehadiran SDM dan IPTEK. Ir. Laksma (Purn) Bonar Simangunsong, M.Sc, sebagai Tenaga Ahli bidang SDM dan IPTEK Dewan Kelautan Indonesia, menyebutkan bahwa kondisi SDM kebaharian di negeri ini menjadi kunci penting dalam pembangunan kelautan nasional.

“Namun sayang dan harus kita akui kondisi ini masih jauh dari harapan. Dengan demikian perlu sebuah gerakan dalam meningkatkan SDM kelautan kita, baik itu pada sektor perikanan, pelayaran, sampai pengoptimalan energi dan sumberdaya mineral, khususnya di laut,” kata Bonar Simangunsong kepada Maritim Indonesia, beberapa waktu lalu.

Minim kualitas dan kuantitas

SDM kelautan nasional baik kualitas maupun kuantitas memang masih sangatlah kurang. Hal ini menyebabkan lambatnya pembangunan di bidang ini. Padahal berkembang dan stagnasinya suatu bangsa ditentukan kesiapan atau tidaknya sumberdaya manusianya. Di bidang kelautan nasional, melihat peluang dan tantangan yang sangat besar, SDM dan IPTEK adalah syarat mutlak yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Misal, bagaimana mengoptimalkan sumberdaya mineral dan gas di lepas pantai. Coba saja, berdasarkan data geologi, diketahui Indonesia memiliki lebih dari 60 cekungan minyak di dasar laut yang belum dieskplorasi. Tentu ini selain membutuhkan IPTEK juga SDM yang handal di bidangnya.

Di bidang Perikanan pun demikian. Dan sayang seribu kali sayang, berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pengembangan SDM Kelautan dan Perikanan DKP, sumberdaya manusia yang berkecimpung di sektor ini lebih dari 50 (2006) adalah lulusan sekolah dasar, yakni untuk SDM pelaku perikanan tangkap sebesar 56 berpendidikan SD. Untuk pen-didikan SLTP sebesar 26, tidak tamat SD sebesar 6. Sisanya SLTA dan sarjana.

Tentu saja rendahnya SDM perikanan berdampak pada rendahnya investasi dan rendahnya pendapatan di sektor ini. Akibatnya daya serap SDM perikanan pun menjadi terbatas Dari sisi pendapatan, untuk perikanan tangkap sebagian besar atau sekitar 44 berpenghasilan Rp. 800 ribu hingga Rp1,5 juta. Di bawah Rp. 800 ribu sebesar 36 dan sisanya atau sekitar 20 dengan gaji lebih dari Rp. 1,5 juta.

Sementara untuk perikanan budidaya lulusan SD sebesar 41, SLTP dan SLTA 24, sisanya tidak tamat SD dan sarjana. Dari sisi pendapatan sebagian besar 39,3 berpenghasilan Rp. 800 ribu sampai Rp1,5 juta, di bawah Rp. 800 ribu 28, dan sisanya berpenghasilan di atas Rp. 1,5 juta.

ILO (International Labour Organization) memang tidak begitu memberikan peraturan yang ketat terhadap nasib para pelaku perikanan di setiap negara. ILO cukup memberikan toleransi dalam menetapkan standar gaji terhadap para pelaku usaha ini. Pasalnya hampir sebagian besar terutama di Indonesia para pelaku perikanan adalah nelayan tradisional.

Artinya kebijakan pengupahan para pelaku perikanan diserahkan kepada kebijakan negara masing-masing. ILO memang telah menetapkan gaji pelaku perikanan modern pada Januari 2008 sebesar US$ 530 atau sekitar Rp. 4,7 juta dan pada akhir 2008 (31 Desember 2008) ILO menetapkan US$ 545 atau sekitar Rp. 4,9 juta.

Di dalam negeri nelayan tradisional terkooptasi dalam sistem bagi hasil yang tidak adil. Sehingga kemiskinan struktural nelayan sulit diselesaikan. Untuk itu ke depan perlu adanya bagi hasil agar nelayan mampu menaikan produktivitas serta mengangkat daya saing perikanan Indonesia.

Sementara permasalahan mendasar dari otonomi daerah adalah keterbatasan sumberdaya manusia yang kompeten khususnya di daerah. Banyak kepala dinas yang tidak memiliki latar belakang akademis dibidang perikanan. Kekurangan aparatur teknis seperti penyuluhan di daerah yang bersentuhan langsung di daerah pun sama kurangnya. Nah, terkait dengan ini, adalah, sekali lagi, mutlak dan wajib bagi pemerintah untuk meningkatkan SDM dan IPTEK bagi pembangunan kelautan nasional.

Rendahnya sumberdaya manusia kelautan nasional tidak saja menimpa sektor perikanan. Demikan halnya dengan SDM energi dan sumberdaya mineral serta industri maritim lainnya yang umumnya hanya berpendidikan rendah serta kurang mengusai IPTEK. Nah, Bonar Simangunsong menilai perlunya reformasi hukum dan SDM dikalangan birokrat di seluruh instansi pemerintah yang terkait dengan pengelolaan SDM kelautan.

Pilar penting

Sumberdaya manusia memang menjadi kunci utama dalam pembangunan di segala bidang, tak terkecuali di bidang kelautan nasional. Maka mengembangkan dan meningkatkan SDM kebaharian merupakan sebuah keharusan demi tercapainya sasaran pembangunan kelautan. Rendahnya SDM kebaharian Indonesia baik kualitas maupun kuantitas yang menyebabkan belum mampunya memenuhi kualifikasi standar internasional, disebabkan oleh kebijakan pemerintah tentang sistem pendidikan yang belum memberikan porsi maksimal bagi bidang ini. Faktor lainnya, tentu, paradigma aparatur maupun non aparatur yang masih berparadigma darat. “Sumberdaya manusia merupakan bagian terpenting dalam pembangunan, sehingga peningkatan kemampuan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut mutlak diprioritaskan oleh setiap daerah yang menjadikan pesisir dan laut sebagai tumpuan pertumbuhan daerah,” pinta Bonar.

Sumberdaya manusia Indonesia secara umum memiliki ciri antara lain memiliki jumlah yang sangat besar dengan pertumbuhan dan penyebaran yang tidak merata serta terpusat di daerah tertentu. Tingkat pendidikan yang rendah, serta kebijakan tenaga kerja di berbagai sektor masih belum terpadu sehingga cenderung menimbulkan masalah yang tidak sederhana dalam proses pembangunan kelautan Indonesia.

“Perlu ada upaya serius dari pemerintah untuk meningkatkan peranan SDM dan IPTEK untuk mendayagunakan sumberdaya lautan agar industri-industri perikanan, perhubungan laut, dan maritim perkapalan terangkat,” katanya. Untuk hal ini Bonar menambahkan agar meningkatkan anggaran pada masing-masing sektor untuk upaya pengembangan sumberdaya manusia dan IPTEK.

Jelas saja bangsa ini membutuhkan SDM dan tenaga profesional yang mengusai IPTEK untuk dapat mengisi kebutuhan tersebut. Sementara sekolah kejuruan baik negeri maupun swasta belum mampu mencukupi kebutuhan yang diinginkan. Di sisi lain asosiasi profesional belum efektif dalam merangsang, memacu, dan mengangkat kualitas SDM Indonesia secara profesional yang kredibel, bankable baik untuk pasaran kerja dalam negeri maupun internasional. (Majalah Maritim Indonesia).

Iklan

1 Comment

  1. Apa Tidak ada Biografi sebagai Sumber Refrensi Pejuang Koperasi Indonesia Alm.Drs.T Ferdinand Simangunsong,Ketua Pembina SIMANGUNSONG se Dunia&Mantan Waketum Dekopin.Anggota MPR-RI 1999-2004…….Tolong ditindaklanjuti Admin..Tks Horas!!1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s