Eka Sari Lorena Surbakti


Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Airlines, Eka Sari Lorena Surbakti Utamakan Kenyamanan Penumpang lorena


Oleh
Effatha Tamburian

Jakarta—Bekal pengalaman 38 tahun di bidang transportasi darat dan standar mutu internasional ISO 9001:2000 diyakini menjadi kekuatan utama perusahaan transportasi Lorena Group untuk ekspansi ke bidang transportasi udara.

Maskapai penerbangan Lorena Air terbang perdana pada minggu keempat April 2008 dan menjanjikan keamanan penumpang (safety) serta layanan premium, membidik pasar yang ingin menikmati layanan penuh (full service).
Lorena Air langsung masuk dalam jaringan sistem Abacus yang menjual tiket secara otomatis melalui internet atau elektronik tiket di sekitar 3500 agen. Lorena Air punya point of sales sendiri yang ditargetkan di sepuluh kota besar seperti Denpasar, Surabaya, Palembang, Pekan Baru, Bandung, dan Bogor.
Dari enam pesawat didatangkan tahun 2008, maskapai bermoto Excellent Way To Fly ini menargetkan keuntungan “hanya” US$ 1,5 juta (Rp 13,5 miliar) per tahun.

Presiden Direktur Lorena Air Eka Sari Lorena Surbakti (39) sangat menyadari hambatan di industri penerbangan sangat banyak dan memiliki aturan main yang sangat ketat (very high regulated). Sudah begitu, industri padat modal (capital intensive) ini memberikan marjin kecil, sekitar 2 persen.
Meskipun memiliki kesamaan konsep dengan transportasi darat, diakui Eka, terdapat beberapa peraturan udara yang lebih detail.
Namun sebagai perusahaan transportasi swasta yang sarat pengalaman, Lorena Group dengan Lorena Air-nya melihat hal di atas bukan sebagai sesuatu yang negatif.

“Bila dioperasikan secara masal, tetap bisa bertahan dan berkembang,” kata putri sulung GT Surbakti (pendiri Lorena Group-red) ini mantap.
Dalam perbincangannya dengan SH pekan lalu, Eka mengungkapkan keinginan Lorena Air untuk ikut mendorong Indonesia memasuki era globalisasi dimana orang-orang di seluruh dunia membutuhkan travel time yang cepat.

“Bukan hal yang mustahil mengingat semua orang perlu terbang di negara kepulauan ini,” tandasnya.

Ditegaskan, dalam pengelolaan bisnisnya Lorena Air akan mengutamakan komitmen manajemen terhadap safety disamping tentunya aspek financial atau manajemen arus kas (cashflow) yang harus dikelola secara profesional.
Ekspansi usaha Lorena Group ke bidang transportasi udara bukanlah suatu hal yang tidak direncanakan sebelumnya, sebab sesungguhnya semuanya sudah terjadwal tanpa percepatan. Persiapan peluncuran Lorena Air, seperti dituturkan Eka, telah memakan waktu kurang lebih 3 tahun sejak 2004. Waktu persiapan yang cukup lama diharapkan akan memperkecil masalah di kemudian hari.

“Saya tidak percaya dengan yang namanya karbitan. Momennya memang seperti kebetulan, ada yang stop operasi (Adam Air-red) dan kita baru mau terbang,” kata Eka.

Sementara itu, terkait persiapan yang telah dilakukan menjelang pemberian izin terbang, Eka memaparkan sejauh ini Lorena Air telah memasuki pemenuhan persyaratan ketiga untuk perolehan sertifikat operasi pesawat standar internasional, yaitu AOC (Aircraft Operation Certificate), persyaratan keempat dan kelima akan diberikan pada saat pesawat akan masuk ke Indonesia.

Baru kemudian diberi kode PK atau Papa Kilo sebagai kode izin penerbangan pesawat di Indonesia.

“Pesawat Lorena Air sudah mau masuk ke Indonesia, tetapi karena (pesawat tersebut-red) milik AS, kita harus mengurusnya ke FAA (Federal Aviation Agency). Dan sebelum diterbangkan ke Indonesia, terlebih dulu harus dilakukan pemeriksaan oleh Malaysia Airlines Engineering System di Subang, Malaysia, dan masih menggunakan kode penerbangan asing. Kita belum mendapatkan AOC jadi kita belum bisa terbangkan pesawat itu dengan izin kita,” ujar Eka.

Eka menargetkan pada April ini Lorena Air dengan jenis pesawat Boeing 737 Seri 300 akan melakukan penerbangan pesawat pertamanya dengan rute Jakarta-Surabaya dan pesawat keduanya Jakarta-Pekanbaru dan Jakarta-Palembang.
“Dalam satu hari terdapat 8 kali penerbangan, dan tahun ini berencana sampai 6 pesawat dengan tipe yang sama karena jika jenisnya sama, sifat dan karakter serta jumlah penumpangnya sama sehingga akan memudahkan manajemen mempersiapkan budget planning untuk maintenance dengan lebih optimal,” kata Eka.

Eka menjamin SDM Lorena Air memiliki latar belakang penerbangan yang baik dengan jumlah karyawan 50-65 untuk 1 pesawat, sedangkan jumlah kru pesawat mengikuti standar internasional, yaitu 3,5 set untuk 1 pesawat di mana 1 set terdiri dari 1 pilot, 1 kopilot, dan 4 pramugari. (SINARHARAPAn 31/3/08)

BERITA:

Eka Sari Lorena Surbakti

Bermula dari dua unit bus yang melayani transportasi para pekerja di Jakarta yang tinggal di Bogor, Lorena Group berkembang menjadi perusahaan transportasi dan jasa logistik yang menggurita. Eka Sari Lorena Surbakti menjadi saksi hidup pertumbuhan bisnis yang dirintis ayahnya, G.T. Surbakti, pada 1970 dan sudah merambah ke Medan.

EKA Sari Lorena Surbakti tidak pernah melupakan dari mana dahulu Lorena dirintis. Masih jelas ingatannya saat dirinya masih kecil di kantor Lorena di Bogor. ”Dulu kalau ke kamar mandi tidak ada atapnya, jadi harus dipayungi Ibu karena Bogor sering hujan,” kenang Eka saat ditemui di kantornya Rabu.
Kini, Lorena Group telah memiliki dan mengoperasikan 500 bus besar, 250 truk, dan 57 armada busway. Jika ditambah dengan kendaraan-kendaraan kecil, total ada sekitar 1.000 kendaraan yang dioperasikan.

Lorena Group juga telah memiliki 667 kantor di seluruh tanah air. ”Jadi, sekarang dari Sabang sampai Merauke, Lorena ada benderanya,” kata peraih master of business and administration dari University of San Francisco, California, AS, tersebut.

Kesuksesan bisnis transportasi tidak terlepas dari peran strategis sektor tersebut terhadap perekonomian. Eka mengibaratkan sarana transportasi itu darah dalam tubuh. ”Saya percaya transportasi itu seperti da rah. Ketika tersumbat, orang bisa kena stroke,” kata ibu dua anak tersebut. Jika sarana transportasi tidak terbangun dengan baik, menurut Eka, gelombang urbanisasi akan meningkat.

”Orang akan memilih hidup di Jakarta, Surabaya karena pembangunannya tidak dialirkan ke daerahnya,” kata ketua DPP Organda tersebut. Berangkat dari pemikiran itu, Lorena Group mengembangkan diri tidak hanya melayani transportasi orang, namun juga barang. Karena itu, muncul layanan jasa logistik seperti ESL Express. ”Transportasi ini kan memengaruhi bisnis secara menyeluruh. Punya bisnis, tetapi tidak ada yang membawa ya tidak bisa. Punya padi, tetapi tidak ada yang mengantarkan, ya busuk jadinya,” ungkapnya.

Eka menyebutkan, salah satu alasan utama produk pertanian Indonesia yang lebih mahal jika dibandingkan dengan produk impor adalah mahalnya biaya transportasi. ”Itu karena infrastrukturnya yang belum mendukung,” katanya.

Padahal, lanjut dia, 91 persen logistik nasional masih ditopangang kutan jalan raya. Rata-rata di dunia 70 persen hingga 94 persen memang juga dilayani angkutan jalan raya. ”Nah, kalau tidak ada darahnya, numplek semua menjadi urbanisasi,” ujar nya.

Lantas, bagaimana kiat Lorena Group sehingga bisa sebesar sekarang? Menurut Eka, Lorena memiliki prinsip sederhana. ”Dulu kan PO, perusahaan otobus. Itu juga singkatan dari Pakai Otak,” ujar Eka seraya tersenyum. Selain PO, konsep lain adalah menjaga hati dan pantang menyerah.

Dengan memaksimalkan kecerdasan sumber daya manusia, rencana bisnis bisa dijalankan dengan optimal. Eka menyebutkan langkah besar Lorena yang mulai melayani trayek bus ke Jawa Timur pada 1980-an. ”Dulu kami paling jauh itu ke Surabaya,” katanya. Ekspansi ke Jawa Timur tersebut menjadi tonggak pesatnya laju pertumbuhan bisnis Lorena. Menurut Eka, itu juga disebabkan per tim bangan bisnis yang matang. Jawa Ti mur dinilai memiliki pertumbuhan ekonomi diatas rata-rata. Penduduknya juga berpenghasilan lumayan. ”Selain itu, suka bepergian,” ujar Eka.

Saking besarnya di Jawa Timur, kala itu banyak yang mengira Lorena berpusat diprovinsi tersebut. ”Kami dulu dikira dari Jawa Timur. Dikira arek Suroboyo,” kata Eka. Eka menambahkan, Lorena juga tidak ingin sendirian bertumbuh. Untuk merangsang tumbuhnya minat berbisnis hingga ke daerah-daerah, Lorena membuat franchise untuk ESL Express. ”Jadi, siapapun bisa membuka ESL Express dengan biaya terjangkau,” imbuhnya.

Eka mengatakan bahwa pengembangan bisnis transportasi bukan hal yang mudah. In frastruktur masih menjadi kendala terbesar. Jika masa lah itu ditambah dengan kenaikan harga BBM, beban jasa transportasi akan bertambah. ”Kalau harga BBM naik, ya tinggal dihitung saja nanti untuk bus besar, Rp1.500 kali 120 liter sekali jalan,” kata Eka. Namun, menurut dia, jalan keluar kendala-kendala itu tetap harus dicari. (sof/c6/dos)

TENTANG LORENA GROUP

Lorena Group (berdiri 1970) adalah kelompok usaha yang awalnya bergerak dibidang usaha transportasi. Lorena Group telah berekspansi di industri logistik melalui holding company PT Lorena Karina. Holding ini memiliki sejumlah anak usaha. Di antaranya, PT Eka Sari Lorena Transport dan PT Ryanta Mitra Karina atau lebih dikenal dengan sebutan Lorena-Karina. Itu merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa angkutan darat antarkota antarprovinsi (AKAP). Di industri logistik, ada PT Eka Sari Lorena ESL Express dan PT Eka Sari Lorena Logistics. Ada pula PT Sari Lorena Charter & Rental dan PT Trans Jakarta Busway.

NAMA PEREMPUAN LEBIH MENJUAL

MENJADI anak sulung membuat Eka Sari Lorena memiliki privilege khu sus. Kasih sayang dari orang tua tentu dibagi sama rasa dengan dua adiknya. Tetapi, ada yang beda. Ka rena lahir lebih dahulu, nama Eka menjadi brand perusahaan yang dibangun ayahnya. ”Saya kan ma sih bayi, jadi tidak bisa maksamak sa nama saya dipakai,” ujarnya seraya tersenyum.

Menurut Eka, penggunaan namanya lebih karena anggapan bahwa na ma perempuan cenderung lebihla ku. Lorena juga berkesan dari nama asing. ”Padahal, itu asal ka ta nya dari Batak,” kaya Eka. Kini, Lo rena lebih menonjolkan brand ESL.

Dalam berbisnis, Eka selalu diberi ni lai-nilai dasar oleh ayahnya, G.T. Soerbakti. ”Kami selalu diajarkan bahwa hidup ini seperti lomba lari. Ja di, harus menang. Kalau ka lah melulu, jadi bete,” ujar nya.

Karena sejak kecil terlibat dalam ke seharian usaha ayahnya, Eka lebih mudah menyesuaikan diri ketika menekuni bisnis transportasi. (sof/c6/dos)

Sumber:

http://www.hariansumutpos.com/2012/04/31425/po-yang-pakai-otak#ixzz2hIGZwrWD

Iklan

7 Comments

  1. ini kami cucu nya bolang kami mudun tarigan girsang dari simpang sinaman ingin ketemu sama bolang di bogor apa bisa ketemu kami sama bolang kami kalo bisa ini nomor ponsel saya dari cucunya mudun tarigan girsang (0852) 61325914 mohon harap di hubungi bolang surbakti yang kampung nya dulu di simpang 4 surbakti di tunggu telpon bolang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s