Harry Truman Simanjuntak


harry-truman-simanjuntak-pArkeologi disiplin ilmu boleh dibilang kurang diminati di Indonesia. Kalaupun adamenapak masa depannya pada bidang arkeologi, mungkin hanya kenekatan seseorang saja menggeluti disiplin ilmu konon katanya “kering”. Ataupun jiwa petualang mendominasi hidupnya untuk melakukan penelitian terhadap benda-benda purbakala atau artefak-artefak jaman batu. Atau orang batak mengatakan “ulaon na dila doi” (kerjaan orang gila). Sejauh inikah pesimistis yang terjadi terhadap ilmu mengutak-atik benda-benda tempo doeloe.

Untuk pemaparan tentang keberlangsungan sejarah suatu budaya harus didukung bukti-bukti otentik berupa perilaku adat, bahasa, aksara, ritus, artefak, wilayah, benda-benda purbakala pendukung lainnya. Dalam penemuan-penemuan terhadap benda purbakala, kita dapat menjadikan pertambahan nilai ilmiah bukti sejarah. Runtutan asal-muasal suatu bangsa dengan budayanya sedikit banyaknya terungkap jelas. Seperti kisah tenggelamnya kota Atlantis yang sampai sekarang masih banyak dibutuhkan kebenaran cerita itu fakta atau fiksi belaka. Diperlukan keahlian khusus dan kesabaran, ketelatenan untuk menentukan/mengidentifikasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan sejarah setempat serta budayanya sehingga ruang keragu-raguan (mitos) dapat dipersempit areanya.Tentunya basis disiplin ilmu harus benar-benar mutlak dikuasi para arkeolog. Walaupun terhadap suatu kasus belum dapat diprediksi secara eksata kebenaran sejarah itu dan cenderung masih dalam tataran sebuah ramalan. Bagaimana nilai sejarah ditentukan sebenarnya(tolak ukur). Ataukah pure historical culture, atau ada muatan sponsoring melalui media.

Ketika benda purbakala ditemukan dalam suatu situs yang diduga ada kaitannya dengan suatu sejarah, maka penelitian mendalam dengan seksama dikerjakan. Setiap benda purbakala harus dapat memberi jawaban antara artefak yang satu dengan yang lain yang saling berhubungan dalam membuka tabir sejarah yang masih gelap. Data-data yang masih ada kaitan dicoba jadi tali sambung atas sejarah yang terputus terhadap temuan artefak yang baru tadi. Permasalahannya sejauhmana modul ketepatan terukur dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Satu hal sifat dan karakteristik struktur pertanahan dalam ukuran korbon menetukan usia artefak itu sendiri. Lapisan tanah yang terkontur lapis per lapis menjadi standar penentuan usia/umur. Kajian ini diulang secara berkesinambungan sehingga bukti kongkrit pendukung usia dapat dipecahkan dengan ilmiah. Kecuali di artefak itu sendiri sudah ada data sejarah. Semisalnya tembikar dinasti Ming. Para arkeolog sudah fasih dalam hal demikian. Dunia arkeologi adalah dunia mengukapkan tabir rahasia sejarah yang mungkin telah terkubur ribuan tahunan bahkan jutaan tahun seperti Dinousorus.

Walaupun sudah banyak bukti-bukti peninggalan sejarah berupa tulang belulang binatang purbakala dibeberapa wilayah Asia, Amerika, Kutub, Afrika dll, namun kenyataan sampai kini belum ada kepastian kapan ada dan dimana wilayah/area keberadaan Dinosourus itu? Semua masih dugaan sekitar ribuan tahun yang lalu di daerah Amerika Latin atau Kutub Selatan. Sementara prakiraan musnahnya makhluk dunia akibat meletusnya Gunung Toba yang buangan gunung berapi Toba menyelimuti dunia, hingga mengalami kegelapan dan kedinginan yang luar biasa selama 10 (sepuluh) tahun. Apakah kegelapan itu semakin gelap dengan adanya temuan-temuan baru?

Iklan

3 thoughts on “Harry Truman Simanjuntak

  1. Arkeologi dapat dikatakan sebagai “one stop investigating”. Kenapa? Karena meneliti masa lampau berarti mengkait dengan penelitian berbagai aspek kehidupan yang sangat kompleks (dimensi bentuk). Arkeologi tidak hanya menyangkut budaya bendawi, tetapi juga budaya non-bendawi yang berupa ide, pemikiran, pranata-pranata dan perilaku. Arkeologi tidak hanya menyangkut aspek budaya, tetapi juga manusia sebagai aktor dan pemilik budaya serta lingkungan sebagai sarana dan sumberdaya yang memberikan kehidupan dan produk budaya. Sebagai konsekwensinya arkeologi selalu bersentuhan dengan berbagai disiplin, khususnya yang mengkait dengan manusia, budaya, dan lingkungannya.

    Dalam dimensi waktu, arkeologi berorientasi pada masa lampau sebagai kegiatan hulu, namun juga mengkait dengan kehidupan masa sekarang dan bahkan memberikan inspirasi dan proyeksi pada kehidupan masa datang (kegiatan hilir). Kenyataan bahwa masa sekarang tidak muncul begitu saja secara tiba-tiba, tetapi terbentuk dari proses yang panjang dari kehidupan masa lampau. Hal yang sama untuk masa depan, merupakan kelanjutan dari masa lalu dan masa sekarang. Singkatnya, lewat kearifan-kearifan dan keunggulan masa lampau, arkeologi harus memberikan pencerahan dan kontribusi bagi kehidupan yang lebih baik di masa sekarang dan masa datang.

    Itulah peran yang dituntut dari seorang arkeolog, “dunia” dengan spektrum yang luas dan yang sarat dengan dinamika dan keragaman. Dunia yang membutuhkan “passion” untuk menekuninya. Dunia yang menuntut kecintaan dan kegemaran akan petualangan dalam menelusuri rangkaian kehidupan yang jejak-jejaknya terpendam dalam lapisan tanah di dataran, bukit, gunung, dan dasar laut. Dan.. tentu dunia yang jauh dari tepuk tangan dan kemewahan.

    Saya mengapresiasi para arkeolog dengan dunianya itu, temasuk tokoh kita Simanjuntak. Harapan saya, kapan kita meneliti asal-usul dan perkembangan budaya Batak? Mengapa belum ada penelitian di bidang itu? Karena ketiadaan danakah? Jika ya.., barangkali ada pihak-pihak yang tertarik untuk mensponsorinya agar kita semakin memahami sejarah dan budaya kita, dan terlebih lagi.. keunggulan-keunggulan dan kearifan masyarakat Batak terdahulu untuk memberi motivasi dan inspirasi bagi kemajuan Batak di masa sekarang dan yang akan datang. Gorga

    • Terima kasih commentnya. Ya, arkeologi erat dengan kegemaran (passion) dan kepuasan (satisfaction). Kegemaran menjelajahi bukit, gunung, tempat terpencil dan lautan dan kepuasan jika menemukan data baru dan mengungkap cerita masa lampau.

      Memang sudah lama ada niat meneliti budaya Batak, tapi.. ya itu… sarana untuk melaksanakannya. Butuh dana untuk menelusuri lingkungan geografi Tano Batak dan “berdialog” dengannya untuk memahami dinamika budaya masa lampau. Ada yang tertarik mensponsorinya?

      Horas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s