Maraden Panggabean


Jenderal_TNI_Maraden_PanggabeanNama:
Maraden Panggabean
Nama Lengkap:
Jenderal TNI (Purn) Maraden Saur Halomoan Panggabean
Lahir :
Tarutung, Sumatera Utara, 29 Juni 1922
Meninggal:
Jakarta, 28 Mei 2000
Agama:
Kristen Protestan
Isteri:
Meida Seimima Tambunan
Anak:
Empat orang

Pendidikan:
= MULO
= Sekolah Pegawai Tinggi Jepang
= SMA: Militer Jepang
= Latihan Chandradimuka, Bandung
= INF off Adv. Course di AS (1957)
= Seskoad

Karir:
= Kepala Schakelschool di Tarutung
= Pelatih Militer di Sibolga (1945)
= Kastaf BN I Res IV Div X Sumatera (1945-1949)
= Kastaf Res Brigade Tapanuli
= KMD Sektor IV/Sub Terr VII Sum-Ut (1950-1959)
= KMD BN 104 Waringin TT I
= Komandan Resor 5 TT II
= Kastaf Koanda IT merangkap Hakim Perwira Tinggi Makassar
= Panglima Mandala II
= Wapangad (1966)
= Panglima AD (1969)
= Pangkopkamtib (1969)
= Menteri Negara urusan Hankam merangkap Wapangab/Pangkopkamtib (1971)
= Menhankam/Pangab Kabinet Pembangunan II (1974-1978)
= Menko Polkam Kabinet Pembangunan III (1978-1983)
= Ketua DPA (1983-1988)

Kegiatan lain:
= Anggota Dewan Pembina DPP Golkar (1973)
= Ketua Dewan Pembina Golkar (1974-1978)
= Wakil Ketua Dewan Pembina/Ketua Presidium Harian Dewan Pembina Golkar (1979-1988)
= Ketua Penasihat Lembaga Permufakatan Adat dan Kebudayaan Batak-LPAKB (1985)
= Pembina Yayasan Bina Bona Pasogit (1989-2000).

Alamat Rumah :
Jalan Teuku Umar 21, Jakarta Pusat

Guru yang Jadi Jenderal

Mantan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (1983-1993) dan Menhankam/Pangab (1974-1978), ini lebih dulu berprofesi guru sebelum meniti karir militer. Putera Batak bernama lengkap Maraden Saur Halomoan Panggabean, kelahiran Tarutung, Sumatera Utara, 29 Juni 1922, ini meninggal dunia dalam usial 78 tahun, Minggu 28 Mei 2000 pukul 18.50 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, setelah dirawat sekitar satu bulan akibat stroke. Jenazah jenderal bintang empat ini disemayamkan di rumah kediaman Jalan Teuku Umar No 21 Jakarta Pusat, dan dilangsungkan upacara adat Batak dan upacara gereja. Kemudian diserahkan kepada pemerintah untuk dimakamkan di TMP Kalibata dengan upacara militer. Dia meninggalkan seorang isteri Meida Seimima Tambunan dan empat orang anak.

Ayah mertua perancang mode Ghea Panggabean (isteri Baringin Panggabean, putera ketiga), ini mengawali karier militer ketika Jepang datang ke Indonesia. Dia meninggalkan profesi guru (bahkan sempat menjabat Kepala Schakelschool di Tarutung), kebanggan masyarakat Batak waktu itu, dengan masuk sekolah militer. Dia pun terlibat aktif dalam pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (1945-1946). Sebagai mantan guru, dia pun dipercaya menjadi Pelatih Militer di Kotapraja Sibolga (1945) dan Kastaf BN I Res IV Div X Sumatera (1945-1949). Kemudian menjabat Kastaf Res Brigade Tapanuli, KMD Sektor IV/Sub Terr VII Sum-Ut (1950-1959). Pada masa ini, dia pun mengikuti pendidikan Infantry Officer’s Advance Course USA (1957). Lalu, dia menjabat KMD BN 104 Waringin TT I, Komandan Resor 5 TT II, Kastaf Koanda IT merangkap Hakim Perwira Tinggi Makassar, dan Panglima Mandala II, saat meletusnya G-30-S/PKI (1965).

Kemudian, karier politiknya menanjak menjadi Wapangad (1966) dan Panglima AD (1969). Setelah itu, ia pun menjabat Pangkopkamtib (1969), sebuah jabatan yang paling disegani pada masa Orde Baru. Lalu, dia pun mencapai karier militer tertinggi sebagai Menhankam/Pangab (1974-1978). Setelah itu, dia memasuki jabatan politik sebagai Menko Polkam Kabinet Pembangunan III (1978-1983). Kemudian pada tahun 1983-1988) dia menjabat Ketua DPA menggantikan KH Idham Chalid.

Sebagai seorang tokoh militer yang dekat dengan Presiden Soeharto, dia pun aktif dalam kegiatan organisasi di Golkar, kendaraan politik Orde Baru. Di Golkar, dia menjadi anggota Dewan Pembina (1973), Ketua Dewan Pembina Golkar (1974-1978), dan Wakil Ketua Dewan Pembina/Ketua Presidium Harian Dewan Pembina Golkar (1979-1988). Selain itu, dia juga aktif membina komunitas masyarakat Batak, sebagai Ketua Penasihat Lembaga Permufakatan Adat dan Kebudayaan Batak (LPAKB) dan Pembina Yayasan Bina Bona Pasogit (1989-2000) yang pendiriannya dilatarbelakangi penanggulanagn bencana alam gempa di Tarutung.***

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s