Laris Naibaho


L A R I S

Tak ada keadilan kecuali dalam kebenaran
Tak ada kebahagiaan kecuali dalam keadilanLaris Naibaho
(Emile Zola, Pengarang Prancis)

IA bukan pejabat. Bukan pula politikus. Dari sudut materi, pun dia bukan apa-apa dibanding orang-orang kaya yang bertaburan di negeri ini. Tapi ada sesuatu dalam dirinya, dan langkah hidupnya, yang membuat ia pantas diberi sedikit catatan.
Laris Naibaho, biasanya dipanggil Laris, sejatinya “cuma” seorang agen koran. Dan ia selalu bangga dengan profesinya itu. Lewat keagenannya, Friendship Services, ia melayani para pelanggan media cetak di sekitar Tebet – Manggarai, dan Depok. Tapi, tunggu, ia bukan sembarang tukang koran, karena ia lulusan Sekolah Tinggi Publisitik (STP) Jakarta dan Fakultas Hukum Univ. Kristen Indonesia.
Laris lahir di Pangururan, Samosir, Sumatera Utara, 1959. Sejak kecil ia konon sudah terbiasa dan pintar berdagang, membantu orangtuanya berdagang rengge-rengge di pasar. Di usia remaja, ia diajak kakaknya ke Jakarta, yang kuliah sambil membuka usaha agen koran di Manggarai. Tapi nasib tak bisa ditebak. Sang kakak meninggal karena sakit. Di usia amat belia, baru kelas 3 SLTA, Laris harus berjuang sendiri dengan tanggung jawab istri dan dua anak sang kakak, usaha keagenan koran dengan 11 orang loper, di sebuah rumah kontrakan.
Laris bekerja keras dan memeras otak. Tak lama, ia mampu membeli sebuah rumah, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus mengembangkan usaha keagenan. Satu persatu adiknya diajak ke Jakarta, membantu usaha keagenan sambil kuliah. Ia juga berusaha menambah ilmu dengan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik. Bukan karena ingin jadi wartawan, tapi karena ingin mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk media cetak. Ia juga kemudian kuliah di fakultas hukum. Bukan ingin jadi pengacara, tapi karena ingin menguasai aspek-aspek hukum dalam dunia usaha dan kehidupan.
Dari sudut itu, sepintas mungkin Laris terlihat sekedar tipikal anak-anak perantau dari Sumatera, yang gigih, egaliter, pantang mundur dan bertarung demi karir dan keluarga. Tapi tidak. Laris memiliki sesuatu yang lebih dari sekedar itu.
Dari perjalanan panjang sebagai agen, ia merasakan ketidakadilan dalam distribusi media cetak. Penerbit, bagian sirkulasi media cetak sering memperlakukan para agen seenaknya. Dimarah-marahi atau dihukum kalau salah. Padahal mereka tidak digaji, hanya sekedar komisi. Kalau oplag media cetak meningkat, bagian sirkulasi mendapat bonus. Usaha penerbitan berkembang jadi konglomerasi. Tapi para agen dan loper, yang berpanas berhujan, yang penghasilannya kecil, tak ada yang memperhatikan. “Kalau sakit atau kecelakaan, nggak ada yang memikirkan. Padahal mereka yang berjasa menyampaikan media itu ke pembaca. Kalau tidak didistribusikan para loper, Informasi dalam media cetak tak akan berharga sama sekali,” katanya.
Laris memendam geram. Lantas, ia mulai aktif menggalang para rekan agen untuk memperjuangkan keadilan. Ia menulis beberapa buku tentang kehidupan agen, loper, dan hubungan dengan penerbit, seperti Loper Menggugat, Bincang Canda Imajiner, Loperkita, dan sebagainya. Ia juga menerbitkan majalah AGEN, sebagai jembatan antara penerbit dan para agen. Sedikit banyak, penerbitan buku itu membuka mata para penerbit. Mereka mulai menempatkan para agen dan loper sebagai rekan.

Tapi Laris belum puas. Ia terus bergerak. Lewat proses panjang, ia mendirikan Yayasan Loper Indonesia (YLI), untuk menaungi dan memperjuangkan nasib para loper. Ia mengadakan Loper’s Day, semacam pesta untuk para loper. Dalam kegiatan itu, para loper dibagikan kaos, topi, makan siang, doorprice, transpor dan hiburan musik. Ia menghadirkan para petinggi penerbit dan pejabat, seperti gubernur dan menteri. Tujuannya, tiada lain, ingin membahagiakan teman-temannya loper, sekalgius agar profesi loper mendapat pengakuan. “Melihat teman-teman loper, yang sehari-hari bukan siapa-siapa, mengenakan kaos dan topi yang sama, makan sama-sama, gembira dan menari bersama-sama, bagi saya rasanya sebuah kesenangan dan keharuan yang luar biasa,” katanya.
Terakhir, dalam Loper’s Day ke-4, Juli 2008, di Pantai Festival Karnaval Ancol, yang dihadiri Wapres Jusuf Kalla, dibagikan doorprice 20 motor, 100 sepeda, dan 1.000 telepon genggam CDMA. Dalam acara yang dihadiri 50. 000 loper dan menghabiskan biaya milyaran itu, Jusuf Kalla memberi pernyataan, loper memang sepantasnya dihargai, karena mereka telah berjasa menjadi jembatan informasi. “Kalau guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa, maka loper adalah pahlawan informasi. Loper berkarya, bangsa membaca!” kata Yusuf Kalla.
Puaskah Laris? Belum. Ia mendambakan, para peloper bisa mendapat proteksi kesehatan, jaminan rawat inap kalau sakit, atau mendapat beasiswa untuk yang masih sekolah. Dan ia terus berjuang itu.
Selain itu, ia masih suka geram karena pihak ketertiban kota atau pengelola kawasan tertentu, seperti terminal, stasiun, masih sering mengejar-ngejar para loper. “Loper itu bukan penyakit sosial seperti gelandangan dan pengemis. Mereka itu justru orang-orang yang mandiri dan gigih, yang mencari nafkah dengan halal,” ujarnya, geram. Dengan modal sarjana hukumnya, Laris siap maju dan mau datang kemana saja untuk membela kalau ada loper yang menghadapi masalah seperti itu, baik perorangan maupun kelompok.
Ya, di sanalah letak perbedaan Laris. Di sanalah ia pantas diberi catatan. Ia berusaha berbuat sesuatu orang lain, meski untuk itu ia harus lelah, malah kadang jungkir balik. Banyak agen media cetak yang lebih kaya dan sukses dari Laris. Tapi tidak semua terpikir untuk membela nasib atau membahagiakan loper.
Seperti dikatakan Emile Zola, tak ada keadilan kecuali dalam kebenaran. Dan tak ada kebahagiaan kecuali dalam keadilan. Laris berusaha menegakkan kebenaran dan keadilan untuk para loper. Karena ia merasa bahagia dengan keadilan itu. *

Nestor Rico Tambunan

Loper ke ISTANA, sebuah Khayalan?
Dari Rantau

Laris Naibaho, Penglaris Media Massa
Pemikiran kritis Laris Naibaho terhadap nasib para loper media cetak Ibu Kkota, dituliskannya dalam berbagai buku maupun tulisan. Antara lain “Bincang Canda Imajiner Dengan Sang Guru,” “LOPERTIKA,” dan “Loper Menggugat” yang diterbitkan dalam rangka Loper’s Day keempat 30 Juli tahun lalu.
Loper’s Day keempat dicatat MURI karena berhasil mendatangkan 100.000 loper media cetak, padahal undangan yang diedarkan waktu itu cuma 50.000. Mereka berkumpul dan tumpah di pantai Carnaval, Ancol, Jakarta. Waktu itu Presiden SBY dan beberapa tokoh media ikut hadir. Tak sampai setahun kemudian, tepatnya 26 Maret 2009, di Balai Sudirman, Jakarta, Yayasan Loper Indonesia kembali menggelar acara yang diberi judul “Senandung rindu Bonapasogit.”Acara ini dihadiri ribuan orang di samping para loper, agen, tokoh media cetak. Beberapa tokoh masyarakat Batak juga hadir, antara lain Letnan Jenderal Purn TB Silalahi, St KM Sinaga dan istri, Leo Batubara, Wakil ketua Dewan Pers Nasional, tokoh bisnis Rudolf Sinaga dan banyak lagi.
Laris Naibaho adalah figur yang memegang peran besar di balik lahirnya Yayasan Loper Indonesia dan Loper’s Day. Pria kelahiran Panguruan Samosir 4 Oktober 1959, in, memulai karirnya sebagai loper. Bermula dari keingintahuannya menelusuri bagaimana lintasan proses sebuah peristiwa menjadi berita dalam sebuah media cetak. Akhirnya membawa Laris Naibaho menempuh pendidikan formal di Sekolah Tinggi Publisistik tahun 1979-1984. Dia membekali diri dengan bidang lain dan memutuskan studi di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia tahun 1984-1989. Dia tetap menjadi loper, profesi yang ditekuninya sejak 1975 dan mengurus YLI. Sekarang dia menyempatkan diri mengajar di Politeknik Negeri Jakarta. Berikut wawancara dengannya:
Tanya: Apa landasan pemikiran di balik berdirinya Yayasan Loper Indonesia ini?
Jawab: Sudah ada beberapa perkumpulan penerbit, antara lain IKAPI, KAFI, FPPI, dan Togol. Ada Koperasi /Asosiasi Agen media cetak Indonesia (Kopamici) dan yang terakhir yang saya bentuk, Yayasan Loper Indonesia. Saya katakan terakhir karena sampai saat ini belum ada lagi lahir organisasi yang baru di lapangan media cetak. Waktu pertama kali YLI dibentuk para penasihatnya dari kalangan petinggi pers, antara lain Agung Adi Prasetyo dari KOMPAS.
Mungkin orang akan bertanya-tanya mengapa harus yayasan Loper? Di sana ada unsur loper yang lebih dominan, tentunya. Menurut teori flow of news” loper adalah orang yang menyampaikan produk dari produsen hingga sampai kepada pelanggan. Loper adalah pelayan produsen. Katanya, loper jadi jembatan antara produsen dan pelanggan. Apa yang harus dibuat, memang harus dibuat. Maka saya buatlah Loper’s Day pertama tanggal 19 Maret2005 di Istora Senayan yang kemudian diselenggarakan setiap tahun.
Loper adalah pelayan dan ujung tombak media cetak. Katakanlah pelayanan sebuah restoran. Kita tahu costumer is the king, kalau pelayanan terhadap costumer itu bagus, ya baguslah perusahaan atau restoran itu. Tapi, itu hanya retorika saja. Dalam prakteknya tidak. Kalau ada koran atau majalah yang sukses, bisanya mereka lupa pada loper.
Bukan mau mengatakan siapa yang paling berperan dalam memasarkan produk itu, tapi paling tidak, loper mempunyai peran cukup penting dalam menjangkau pelanggan. Padahal mereka tidak punya hubungan kerja yang mengikat, mereka bukan karyawan dan bukan buruh. Maka hargailah mereka, paling tidak buatlah hubungan kerja yang sedikit mengikat. Jangan hanya dijadikan pengumpul uang. Waktu Loper’s Day di Ancol tahun lalu, Yusuf Kalla secara resmi mengatakan loper adalah pahlawan Reformasi. YLI ini berdiri agar loper mendapat perhatian dari masyarakat, kendati penghasilan mereka itu kecil. Loper kan bukanlah pengamen, bukanlah pengemis, bukan juga penganggur.
Tanya: Apa ada hubungannya dengan lapangan kerja?
Jawab: Pasti! Pasti ada hubungannya dengan lapangan kerja. Mereka kan bekerja, meski cuma loper. Jadi, semua media atau perusahaan pers yang mempekerjakan loper harus memberi perhatian. Dari bekerja sebagai loper itu, ternyata mereka bisa menghidupi dirinya dan keluarganya, bisa menyekolahkan anak-anaknya, meskipun pas-pasan. Bahkan menghidupkan perusahaan orang lain. Tapi, mereka bukan karyawan.
Tanya: Mengapa tidak bergabung dengan serikat buruh?
Jawab: Karyawan, bukan. Buruh pun tidak. Kalau buruh tentu sudah dapat dilindungi dengan undang-undang perburuhan, dan jelas statusnya. Mengapa bukan buruh? Karena loper bukan pekerja pers yang digaji perusahaan pers. Mereka bekerja pada agen yang sebagian besar belum berbadan hukum. Hanya ada satu dua agen berbadan hukum dan itu pun tak jelas ikatan kerjanya. Pada saat merekrut loper hanya atas dasar suka-sama-suka, di mana setiap saat seorang loper bisa saja hengkang dari agen, karena tanpa ikatan kerja. Yang pasti, dia bukan penyandang masalah kesejahteraan sosial, seperti gelandangan atau pengemis, tapi mereka dibutuhkan dan disukai oleh masyarakat.
Tanya: Bagaimana YLI menyikapi peraturan daerah tentang penertiban yang sudah di keluarkan Pemerintah Daerah DKI?
Jawab: Kami baru bertemu dengan pejabat PJKA (perusahaan jawatan kereta api), dalam pertemuan itu kami membuat Memorandum of Understanding (kesepakatan), untuk menertibkan loper yang berjualan di lingkungan PJKA. Nanti, kita akan melihat di stasiun Bekasi loper diberi atribut khusus, seperti sepatu, celana hitam, topi dan kostum dengan sponsor PJKA. Kemarin, kami baru melakukan penertiban bersama PJKA.
Berbicara mengenai penertiban, apa artinya penertiban? Saya bukan tidak mendukung penertiban. Menanggapi Peraturan Daerah itu kami mau bertemu Gubernur Fauzy Bowo, miliknya loper juga. Kami ingin berdialog mengenai hak dan hukum. Penertiban bukan berarti dengan membredel kami. Sebab mampukah media cetak berjalan tanpa loper? Karena media cetak itu bukan seperti produk-produk lainnya yang masih bisa dijual esok harinya. Koran tidak demikian. Begitu dipakai selesai, nggak bisa ditunda atau ditunggu pembelinya berjam-jam, sampai besok hari masih bisa dijual.
Nah, membuat ketertiban itu kalau loper bisa berjualan. Kalau loper tidak bisa berjualan, itu bukan tertib namanya. Karena apa? Seluruh warga negara adalah tanggung jawab negara, dalam hal ini pemerintah. Kalau ada warganya yang jadi pengemis, itu baru tidak tertib. Loper bukan pengemis. Mereka bekerja, jadi harus dilindungi. Kalau para Loper tidak bisa berjualan, maka akan banyak pengangguran, kalau banyak pengangguran akan banyak kekerasan, kalau banyak kekerasan maka negara akan bangkrut. Sebenarnya sudah banyak jasa yang diberikan loper kepada negara, karena loper juga ikut mencerdaskan bangsa. Nah, kalau bangsa Indonesia itu cerdas, maka negara juga ikut makmur, karena tidak ada lagi pengangguran, tidak ada lagi kekerasan.
Tanya: Apa hubungan acara “Senandung Rindu Bona Pasogit”dengan program YLI?
Jawab: Senandung Rindu Bona Pasogit itu artinya kan rindu kampung halaman. Jadi, bisa saja suatu saat nanti acara YLI berjudul “Senandung Rindu Kampuang Halaman” untuk warga Minang, seperti Pak Tarman Azzam. Sebagai orang Batak, tentu saya mempunyai alasan tersendiri. Saya ingin memperlihatkan betapa lembutnya orang Batak itu. Lihatlah kami yang datang dari berbagai latar belakang etnis dan budaya ini, ada Betawi, orang Sulawesi, orang Jawa, orang Padang dan lain sebagainya, bisa duduk bersama-sama. Mereka sudah tahu itu apa Yayasan Loper Indonesia. Tumbuh saling mangulopi (memperlihatkan) kelembutan. Bagi saya, adalah kebanggaan jadi orang Batak yang bisa memperlihatkan betapa lembutnya kesenian etnis Batak itu. Banyak orang selama ini beranggapan bahwa orang Batak itu kasar dan tak memiliki nilai seni yang bisa dibanggakan.
Apa yang salah kalau orang Batak itu cinta tanah leluhurnya, toh mereka tidak mungkin kembali hidup di kampung lagi. Kami merasa lebih baik hidup bersakit-sakit di perantauan daripada berantam dengan keluarga sendiri, memperebutkan warisan yang tak seberapa. Biarlah kami hidup di mana saja, tapi cinta tanah leluhur. Sebagaimana orang Tionghoa, tanah leluhur mereka ya, di Tiongkok sana. Orang Arab tanah leluhurnya ya di Arab sana. Orang Batak ya tanah leluhurnya ya di Tanah Batak. Siapa yang mengatakan manusia itu berbeda. Apa yang berbeda? Pada dasarnya semua manusia itu sama. Orang Batak yang sudah besar di luar itu apakah kembali ke Tanah Batak dan meminta-minta di sana? Tidak. Simbol peti mati yang muncul pada tragedi Provinsi Tapanuli Maret lalu, bukan aspirasi orang Batak. Siapa yang suka kekerasan? Hanya segelintir orang Batak yang melakukan kekerasan. Nah, ini yang ingin saya tunjukan dalam acara itu.
Tanya: Berapa jumlah orang Batak yang jadi agen dan loper?
Jawab: Belum ada data yang pasti. Tapi, waktu ketemu Wakil Presiden Yusuf Kalla di Istana, dia mengatakan begini: ” Negara sangat beruntung karena masih ada orang Batak, yang mau jadi loper koran.” Lalu saya jawab: “Sudah menjadi prinsip orang Batak untuk bekerja. Datang pun dari kampung sana bukan untuk mencari kekayaan, tapi untuk anaknya. Bekerja keras bukan untuk kekayaan, tapi untuk sekolah anak dan kecerdasan. Nah, sampai di Jakarta ini, namanya juga tidak ada uang, cuma itulah yang bisa kami lakukan untuk menghidupi anak istri kami. Tapi, anak-anak kami sekolah sampai perguruan tinggi, karena kami senang membaca. Jadi, banyak dari kami itu yang menjadi sarjana-sarjana dari universitas kehidupan, termasuk saya,”saya bilang begitu. “Saya ini seorang loper, tapi sudah sebelas buku saya terbitkan, Pak.” Begitulah yang kukatakan pada Wakil Presiden saat itu. *** Jeffar Lumban Gaol

 

Iklan

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s