Tiurlan Basaria Sitompul


Nama:
Tiurlan Basaria Hutagaol, Sth, MA

Tgl Lahir:
9/05/1946

Suku Bangsa:
SUMUT

Agama:
KRISTEN PROTESTANTiurlan Hutagaol

Pendidikan Umum:
SLTA Malang (1964)
Ak.Adm Negara DIY (1967)
S1 STT Firman Hayat Ujung Pandang (1970)
S2 STT Doulos Jakarta Bidang Pastoral Konseling (1999)
S3 STT Doulos Jakarta Bidang Pastoral Konseling (2003)

TOTALITAS PENGABDIAN
HIDUP DIJALAN TUHAN

“Kulihat awan seputih kapas
Arak berarak dilangit luas
Kutahu tuhan ada disana kurindu datang
Kepada tuhan”

Sebait lirik lagu yang mengagungkan tuhan, diucapkan dari bibir seorang Tiurlan Basaria Sitompul yang merindukan kasih tuhan, dan seolah-olah mencerminkan perjalanan hidupnya yang selalu ingin dekat dengan tuhan yesus.

Kesan sosok tegas, penyabar, penuh kasih terhadap masyarakat kecil mencerminkan sosok keibuan di mata semua orang yang dekat dengan Tiurlan.

Tiurlan kecil menghabisi masa kanak-kanaknya di Ponorogo, seperti kita tahu, Ponorogo dikenal dengan julukan kota reog, karena daerah ini merupakan tempat lahirnya kesenian reog, yang kini menjadi ikon wisata Jawa Timur.

Setiap tanggal 1 Muharam Suro, kota Ponorogo diselenggarakan Grebeg Suro yang juga merupakan hari lahir Kota Ponorogo
“Kami sangat rukun persaudaraannya, sampai heran ibu saya bagaimana sampai mendidik kami ini bisa rukun-rukun saja,”kata perempuan kelahiran Ponorogo 9 Juli 1946.

Karena semasa kecilnya dilewati di Ponorogo, pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atasnya dilalui di daerah reog tersebut. Tiur dikenal orang yang pandai bergaul dan tidak canggung berteman dengan semua orang, karena pandai bergaul dirinya banyak dikenal oleh anak-anak pejabat pemerintah, bupati bahkan dokter.

Meskipun orang tua Tiurlan dikenal sebagai pimpinan Bank di daerah Ponorogo, dirinya serius mendalami seni tari maupun budaya setempat didaerah Jawa. “Disitu ada pendidikan budaya masyarakat ponorogo jadi saya menguasai banget tari bondan, serimpi, gamelan, dan saya juga mendalami banyak adat istiadat pulau jawa. Jadi kota dan ponorogo dengan reog baik budaya, tuturkata, melekat dengan baik dalam diri saya,”papar ibu yang memiliki 4 orang anak ini.

Saking cintanya sama tari-tarian, Tiur sudah mengenal berbagai tari sejak umur 5 tahun, bahkan saat itu, dirinya sudah mulai menunjukkan kebolehannya dihadapan Presiden RI Soekarno, saat berkunjung di Kabupaten Ponorogo. Hal itu memungkinkan dikarenakan status orang tuanya sebagai Kepala Bank di wilayah Ponorogo. “Peristiwa itu membuat saya bangga dan besar kepala sehingga kemudian saya belajar tari lainnya seperti tari Lenso hingga pernah menjadi juara Jawa Timur di Wilayah Surabaya,”katanya dengan nada bangga.

Sesudah Mahasiswa, dirinya semakin tenggelam dengan dunia tari menari dan dirinya pun telah menemukan keasikan di dalam pergelaran tari Opera atau drama kristen. Saat itu dirinya ingin menunjukkan perpaduan gembala-gembala dipadu dengan budaya setempat. “Sekarang kalau gembala dari sunda datangnya gimana, kalau gembala dari ponorogo itu datangnya eok, sumatera bagaimana,”terangnya.

Menurutnya, perbendaraan tari itu merupakan sarana bergaul dengan anak kecil, anak muda, dewasa orang tua. Itu adalah senjata sama dengan ketrampilan perempuan untuk kelengkapan senjata dalam bergaul dimana-mana itu dihormati dan dipuji.
Karena Pujian dan penghormatan merupakan musik didalam hidupnya. Menurut Tiur untuk dipuji dan dihormati oleh orang maka harus melengkapi diri dengan berbagai ketrampilan perempuan. “Saya senang sekali dikagumi dan menderita apabila dicuekin kalau saya dicuekin orang maka saya akan cari orang yang mengagumi saya,”kata Tiur sambil bercanda menanggapi ketrampilannya yang beraneka macam tersebut.

Selepas sekolah menengah atasnya, Tiurlan melanjutkan pendidikannya di Akademi Administrasi Negara (AAN) Yogyakarta karena dorongan dan kecintaannya terhadap seni dirinya kemudian merangkap sebagai mahasiswa seni dan film dibawah didikan Kusmah Sujarwadi dan juga Maruli sitompul sebagai guru atau dosen dibidang acting.

Keseriusan seorang Tiur, akhirnya berbuah manis, bakat berpadu dengan kecerdasan serta kepandaian membuat dirinya menjadi salah seorang pemain terbaik aktris dari teater drama saat itu. Karena bakatnya mulai membuahkan hasil manis dan sesuai dengan kecintaannya terhadap seni tari akhirnya dirinya melanjutkan sekolah di Akademi Teater dan Film (ATF) di Provinsi Bandung seusai menikah hingga lulus menempuh pendidikan teater dan film ditempat tersebut.

“Salah satu teman saya saat itu adalah Hidayat dan Nani Wijaya yang menjadi rekan bermain teater, bahkan Dedi Soetomo saat itu kita bisa saling gentian menyutradarai pentas drama,”terang perempuan bergelar doktor dari Daulos, Jakarta ini.

Salah satu yang menonjol dari seorang Tiur adalah kemampuannya komunikasinya dihadapan jemaat dan masyarakat sekitar. Bakat tersebut sudah terlihat semenjak dirinya aktif di kegiatan kemahasiswaan. Semasa kuliah dirinya pernah menjuarai lomba deklamasi untuk seluruh mahasiswa Indonesia.

Selain seni dan budaya, kecintaan terhadap tuhan rupanya sudah terpatri dalam hidup Tiurlan kecil. Semenjak berumur 17 tahun, bahkan dirinya sudah mengajar disekolah minggu. Sekolah minggu merupakan pendidikan usia dini di gereja.

Semasa kecil dirinya juga sudah bertekad menjadi pendeta bahkan disaat waktu senggang, dirinya seringkali senang jika menyapu gereja dan apabila ada pendeta bercerita tentang sosok Samuel yang dipanggil kesisi tuhan. Tiur kecil tiba-tiba memacu sepedanya sekuat tenaga kemudian menuju sumur dan berusaha menimbahkan air untuk pendeta. “Perasaan saya saat itu seolah-olah saya menjadi Samuel, dan apabila saya duduk di lapangan begitu ada jajaran langit merasa bahwa langit itu merupakan alas kaki allah dan merasakan kerinduan yang besar terhadap tuhan,”paparnya.

Seusai menyelesaikan pendidikan akademi teater dan film, karena dorongan hati akhirnya Tiurlan melanjutkan pendidikan teologi hal itu semata-mata untuk berjuang dijalan tuhan. Dia merasa ketika itu pengetahuan dan ilmunya tidak sesuai dengan kebutuhan jemaat. “pendidikan teologi saya bertujuan memenuhi kebutuhan jemaat yang mengagumi saya agar mereka tidak kecewa didalam pelayanan saya terhadap mereka,”tutur Tiurlan dengan bangga.

Dirinya juga tertarik dalam bidang perbaikan kesejahteraan perempuan karena banyak sekali perempuan yang terpuruk membuat dia terdorong merubah nasib kaum perempuan yaitu dengan pengembangan kepribadian, seperti masak memasak, salon, tata rias dan sebagainya.

Sebagai seorang istri polisi, Tiurlan dikenal aktif dalam organisasi bhayangkari dan mengabdikan dirinya untuk masyarkat sekitar dengan mengembangkan pendidikan kepribadian seperti membuka salon yang dapat digunakan meningkatkan ketrampilan bagi para perempuan. “Saya juga pernah diangkat oleh depdiknas menjadi penatar nasional, karena pada saat itu kurikulum belum teratur karena belum mempunyai kurikulum. Saya bersama teman saya ahli kecantikan mulai menyusun kurikulum dari dasar, terampil hingga mahir sampai dengan penatar nasional sehingga kurikulum tersebut dapat menjadi suatu ilmu yang dapat dipelajari dan disebarluaskan kepada masyarakat,”terangnya.

Berjuang Bagi Perempuan
Tiurlan dikenal sebagai pemerhati perempuan Indonesia, dengan bekal ilmu dibidang ketrampilan seperti kecantikan, masak-memasak maupun pengembangan kepribadian, dia telah membuka cakrawala perempuan Indonesia sehingga dapat memperoleh pekerjaan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Hal tersebut bertujuan meningkatkan taraf hidup perempuan Indonesia sehingga dapat mandiri membantu para suaminya.

Melalui ketrampilannya dan aktivitasnya didunia seni maupun pelayanan terhadap jemaat membuat dirinya dikenal oleh semua orang. Awal perjuangan Tiur di Dewan bermula saat perjumpaannya dengan salah seorang pendiri Partai PDS Ruyandi Hutasoit. Saat itu dirinya diajak untuk bergabung dan berjuang melalui bendera Parpol.

Perjuangan Tiur tidak sia-sia, pada periode 2004 dirinya dipercaya menjadi caleg untuk Provinsi DKI Jakarta yaitu Dapil I, Jakarta Utara dan kepulauan seribu yang dikenal sulit dan bahkan mustahil dirinya menjadi seorang anggota DPR. Karena kepribadian dan karakternya akhirnya masyarakat mempercayai dirinya untuk duduk sebagai wakil rakyat.

“Saya salah satu perintis PDS dari mulai tidak punya gedung kemudian saya berjuang hingga dicalonkan di Dapil I Jakarta Utara dan kepulauan seribu, karena sudah ada dipelayanan di daerah tersebut kurang lebih 30 tahun lebih melayani jemaat, akhirnya saya mendapat pengagum dari jemaat saya hingga mereka mempercayakan saya sebagai anggota DPR,”katanya dengan nada bangga.

Kecintaan dirinya untuk mengabdi kepada nusa dan bangsa juga tidak terlepas dari sang Suami yang pernah 2 periode menjabat sebagai anggota Dewan. Jabatan pertama melalui Fraksi ABRI (saat itu) dan kemudian periode selanjutnya melalui Partai Golkar. “Jadi melihat suami saya bisa menjadi anggota DPR kenapa saya tidak bisa,”katanya.

Tiur selalu berpedoman dalam mengerjakan permasalahn bangsa harus dilakukan secara bersama-sama, kebersamaan golongan itu sangat diperlukan dalam mengerjakan sesuatu. Menjadi seorang anggota dewan, prinsipnya harus sudah memiliki cukup materi sehingga tidak boleh dirinya mencari uang dalam memperkaya dirinya karena sudah menjdi orang yang matang.

Iklan

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s