Frenrik Silaban


Sang Arsitek Istiglal

Ale Tuhan lehon matua roha nauli, asa jujur ahu mabbagun naso bagas joro mi. (Tuhan berikan aku hati yang jernih. Agar aku jujur mendirikan gedung ibadah yang bukan Gereja)

Kira-kira begitulah kata-kata yang keluar dari Sang Arsitek Istiglal. Selama ini kita tidak pernah menyadari bahwa arsitek Mesjid Istigral adalah dirancangF Silaban. Ia lahir di Donan Dolok, Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan. Mesjid yang terbesar di Asia Tenggara ini sampai saat ini berdiri tegak ditengah-tengah ibu Kota Jakarta. Buah dari pemikiran Silaban palig fenomenal. Sebab bukan saja karena Mesjid Istiglal mengunakan stainless steel agar tahan 1000 tahun. Tetapi, karena ia seorang Nasrani yang taat—bisa dengan totalitas memberikan segenap kemampuanya untuk mempersembahkan karya terbaiknya. Selain Istiglal manumen nasional (Monas) dan gedung olahraga (Gelora) adalah anak bathinya.
Ide pembangunan ini berawal masjid dimulai saat penyerahan kedaulatan dari Belanda pada 1949. saat itu Menteri Agama K.H Wahid Hasyim mengusulkan pembangunan sebuah masjid bernafaskan semangat kemerdekaan. Tidak saya digunakan untuk ibadah saja—tetapi merupakan lambang kemerdekaan. Lokasinya harus diwilayah bekas istana Taman Wilhelmina, dekat ke Istana Negara.
Lalu, Soekarno kala itu mendukung sepenuhnya gagasan tersebut. Direalisasikan dengan dibentuknya Yayasan Masjid Istiglal yang dikomandani Anwar Cokroaminoto. Kemudian, untuk mencari arsiteknya—diadakan lomba desain yang dibuka pada 1954. tim juri terdiri dari Prof Ir Rooeno, Ir H. Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H. Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin. Tim diketuai presiden Soekarno yang juga seorang Arsitek. Dari tigapuluh peserta, dewan juri memutuskan lima finalis, yakni Friedrich Silaban dengan tema “Ketuhanan”, R. Oetoyo mengusung (Istigfar) Hans Groenewegen bertajuk “Salam” lima mahasisiwa ITB bertema “Ilham” dan tiga mahasiswa ITB lainya mengusungsandi (Khatulistiwa)
Tim juri menganggap desain Friedrich Silaban layak untuk menang, karena menerapkan minimalis. Penataan ruangan yang terbuka di kiri-kanan bagunanan utama dengan tiang lebar, memudahkan perputaran udara dan pecahaan alami, membuat hasil karyanya sangat cocok untukmasjid berdaya tampung besar.

Ia sendiri kaget setengah mati akan kemenangannya. Pada saat itulah terjadi pergulatan batin yang keas. Ale Tuhan lehon matua roha nauli, asa jujur ahu mabbagun naso bagas joro mi. (Tuhan berikan aku hati yang jernih. Agar aku jujur mendirikan gedung ibadah yang bukan seiman dengan saya).
Mesjid Istiglal memang merupakan gedung megah total luas lantainya 7,2 hektare atau sekitar tujuh kali lapangan sepak-bola, luas atapnya 2,1 hektare. Kubah utamanya berdiameter 45 meter dengan berat 86 ton disangga 12 tiang setinggi 26 meter dengan garis tengah 2,6 meter. Tinggi manaranya 66,66 meter—melambangkan ayat dalam kitab suci Al-Quran. Istiglal berkapasitas seratus ribu jemaah. Dan menghabiskan biaya Rp 7 miliar yang berasal dari APBN plus US$ 12 juta.
Selain itu, Silaban tetap pada pendirian fungsi semula. Masjid Istiglal dibangun tanpa menggunakan AC, ia memang anti-AC selain memacu pemanasan global juga merupakan pemborosan. Hotman J.Lumbangaol

Selasa, 13 Mei 2008 | 03:00 WIB
Jakarta, Kompas – Rumah keluarga Friedrich Silaban di Jalan Gedung Sawah, Bogor, Jawa Barat, dijadikan ajang telaah para praktisi arsitektur yang tergabung dalam modern Asian Architecture Network (mAAN) Indonesia.
Pihak mAAN bekerja sama dengan Universitas Tarumanagara (Untar), Jakarta, akhir pekan lalu meluncurkan buku Rumah Silaban berisi dokumentasi dan telaah kritis mengenai rumah arsitek kenamaan yang merancang antara lain bangunan monumental Masjid Istiqlal semasa pemerintahan presiden pertama RI, Soekarno. Buku yang sama juga diluncurkan di Unika Soegiyapranata, Semarang, Sabtu (10/5).
Acara diawali dengan workshop di rumah keluarga F Silaban, Juli 2007, yang juga diikuti peserta dari Jepang dan Kamboja. Center for Sustainable Urban Regeneration (cSUR) Universitas Tokyo bertindak selaku sponsor.
Secara simbolik, buku Rumah Silaban diserahkan Mieke Choandi, penanggung jawab kegiatan dari Jurusan Arsitektur Untar, kepada Dekan Fakultas Teknik Untar dan keluarga besar F Silaban yang diwakili Panogu Silaban. Juga dilakukan kupasan buku oleh Prof Josef Priyotomo dari ITS dan Ahmad Djuhara, Ketua IAI.
Priyotomo mengatakan, selain modern, rumah F Silaban juga mengingatkan pada rumah Batak sebagai salah satu khazanah arsitektur Nusantara. Djuhara menuturkan, F Silaban bisa disejajarkan dengan tokoh arsitektur dunia seperti Frank Lloyd Wright di AS dan Le Corbusier di Perancis yang diakui sebagai pahlawan di bidang arsitektur di negaranya.
Sutrisno Murtiyoso, Sekretaris Umum Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia, menegaskan, rumah F Silaban mendemonstrasikan modernitas dalam bentukan luar, sekaligus sarat budaya dan adat setempat. ”Sikap ini sangat kita butuhkan untuk menuju Arsitektur Indonesia yang kita cita-citakan,” katanya.
F Silaban lahir 16 Desember 1912 di Bonandolok, Tapanuli, Sumatera Utara. Seusai HIS di Tapanuli, ia belajar ke Koningin Wilhelmina School, Jakarta, belajar ilmu bangunan (bouwkunde), lulus 1931. Antara 1947-1965 dia mengabdikan diri ke Departemen Pekerjaan Umum. Arsitek kesayangan Presiden Soekarno ini meninggal di usia 72 tahun (1984) sebelum rumah yang dirancang semalam dan dibangun setahun, 1958-1959, itu direnovasi. (POM)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s