Dr. Ir. Bisuk Siahaan


Bisuk Siahaan

Beruang Besar itu Bernama Proyek Asahanbisuk-siahaan

Ambisi yang diberkati Tuhan Debata dan empati yang menyesakkan hati menjadikan Bisuk Siahaan anak Batak yang pantas ditatahkan patung untuk merayakan jasanya: membangun Proyek Asahan. Dia nyaris mendekati manusia pilihan, mungkin. Sebab, di manakah ada pembangkit listrik tenaga air di dunia ini yang dikerjakan seorang insinyur sendirian. Proyek pembangkit listrik tenaga air di Sigura-gura, sumber energi untuk peleburan aluminium di Kuala Tanjung, nyaris dibangun Bisuk seorang diri.
Songon on ma panuturonna… Beginilah ceritanya. Pada usia 26 tahun, tak lama setelah dia diterima sebagai pegawai Departemen Perindustrian dan Pertambangan, insinyur kelahiran Balige lulusan Institut Teknologi Bandung, ini ditunjuk pemerintah memimpin pembangunan Proyek Asahan. Proyek yang sejak zaman Belanda didengung-dengungkan, kalau terlaksana, tidak hanya akan membikin Tanah Batak terang benderang. Bahkan seluruh Sumatera takkan mengenal malam.
“Sudah, berangkatlah kau ke Medan. Orang Rusia mau datang. Ingat, bukan orang Rusia itu yang menentukan, tapi kau,” begitu pesan Menteri Koordinator Chaerul Saleh kepadanya sebelum dia bertolak ke Medan tahun 1962.
Pada awal 1960-an itu, dia bersama tim ahli dari Uni Soviet berkeliling, masuk hutan keluar rimba, melakukan survei. Mencari lokasi terbaik untuk pabrik peleburan aluminium. Sumber tenaga listriknya sendiri sudah ada di Sigura-gura, tinggal mengubah derasnya air terjun menjadi tenaga. Seperti mencari intan yang menjanjikan, maka seluruh desa dan kampung di Sumatera Utara dia jelajahi bersama anggota tim, mulai dari Tanah Karo di Utara sampai Pulau Raja di Selatan.

Melonjur di tepi danau
Arkian, sampailah Bisuk dan anggota tim di sebuah kampung, dekat Balige, tanah tumpah darahnya, di pinggir Danau Toba. Ketika melintas dekat sekelompok ibu-ibu petani yang sedang istirahat, duduk berkeliling, terdengar sapaan mereka: ”Ai mau pergi ke mana Bapak-bapak ini?” Bisuk merapat dan memberitahukan bahwa dia dan koleganya sedang mencari lokasi yang tepat untuk pembangunan Proyek Asahan.
Mendengar ”Proyek Asahan,” wajah ibu-ibu itu seperti terpecut semangat baru. Bisuk bertanya, apakah mereka pernah mendengar Proyek Asahan? Ibu-ibu yang sederhana itu saling melihat satu-sama-lain. Seorang di antara mereka tiba-tiba berdiri. Dia menceritakan bagaimana sulitnya kehidupan di desa itu. ”Tanah kami tak seberapa luasnya, tak cukup untuk menghidupi keluarga. Kadang-kadang kami hanya makan satu dua kali sehari. Campuran nasi dan ubi kayu.”
Ibu itu mulai berlinang air mata ketika melanjutkan ceritanya bahwa tanah mereka yang tidak seberapa luasnya itu, nanti harus dibagi pula, kalau anak mereka berumahtangga. Katanya, kakeknya pernah bercerita kalau Proyek Asahan jadi dibangun, maka kampung mereka akan terang benderang dan rakyat akan makmur. ”Itulah sebabnya kami sangat senang dan gembira mendengar Bapak-bapak datang untuk membangun Proyek Asahan,” ujarnya sebagaimana yang ditirukan Bisuk Siahaan.
”Keluhan dan air mata ibu itu sangat mempengaruhi jalan hidup saya. Air mata mereka membulatkan tekad saya untuk berbuat sepenuh tenaga supaya masyarakat menjadi makmur,” demikian dia mengungkapkan perasaannya yang sudah lama terpendam, di rumahnya yang cukup besar, tertata rapi di Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Dua foto Danau Toba dengan warna hijau dan biru yang dominan, dalam ukuran besar, tergantung di kedua dinding ruangan tamunya. Kedua foto itu hasil pemotretan Bisuk Siahaan sendiri pada awal 1960-an dan diperbesar di Hong Kong. Satu lagi, yang lebih kecil, tergantung di sisi dinding yang lain, adalah foto pasangan muda yang sedang berada di atas angin, Bisuk Siahaan dan istrinya, Riste Tambunan, sedang melonjor di tepi di Danau Toba yang terhampar biru di belakang. Mereka berdua tampak seperti saling marhusip bertukar kata yang bermakna kasih sayang, tanggungjawab dan kesetiaan.

Nama besar
Ketika dia mengenang apa yang telah dia lakukan untuk suatu proyek yang berskala raksasa di Sumatera tersebut, insinyur par-Balige ini berbicara dengan halus, seperti berbisik, walau yang diungkapkannya adalah sesuatu yang layak dirayakan dengan semangat yang meletup-letup. Alur pikirannya tak banyak meminta bantuan pada gerak tangannya, sebagaimana orang yang sering canggung atau kehilangan kata-kata ketika menceritakan pengalaman yang panjang dan melelahkan.
Dia terkenang, di masa kecil dia gemar bergabung dalam kepanduan, berkemah di gunung. Dari dunia kanak-kanak, dia mendengar kisah yang kemudian tertancap dalam di hatinya. Anak-anak Indian, demikianlah cerita itu berkisah, memperoleh nama sesuai dengan hasil pekerjaan mereka beranjak dewasa. Kalau berburu yang didapat adalah binatang kecil, maka nama mereka pun sesuai dengan kecilnya binatang yang mereka tangkap. Semua anak-anak Indian berambisi untuk berburu dan menangkap binatang buruan sebesar mungkin. Beruang, misalnya, supaya memperoleh nama besar, dan dikenang seumur hidup.
”Cerita tentang orang Indian itu juga menjadi pegangan hidup saya,” kata Bisuk. Kalam dia lanjutkan: ”Kalau mau besar, saya harus berbuat sesuatu yang besar, bukan untuk diri saya sendiri, tetapi untuk menolong masyarakat. Karena itulah, ketika saya dituguskan untuk membangun Proyek Asahan, saya bertekad mati-matian untuk berbuat yang terbaik. Saya ingin berbuat sesuatu yang besar dalam hidup saya.”
Tetapi, sungguh tak mudah jalan menuju singgasana kebesaran. Akhir 1962, pemerintah memutuskan untuk menghentikan pembangunan Proyek Asahan. Kredit yang diperoleh untuk membangun proyek yang sudah melegenda itu dialihkan untuk membeli senjata. Keputusan itu amat memukul perasaan masyarakat Sumatera Utara. Apalagi para karyawan yang terlibat. Semangat mereka, sebagaimana yang dicatat Bisuk dalam memoarnya, ”menurun sangat drastis.” Karena pemerintah tidak lagi menyediakan anggaran. Kelesuan, bahkan keputusasaan, berjangkit seperti penyakit pes. Perasaan mereka terekan, terutama setelah melihat ahli-ahli Uni Soviet seorang-demi-seorang dipulangkan. Pekerjaan yang baru dalam taraf penelitian tinggal terbengkalai.

Menghantam bukit batu
”Untuk membangkitkan semangat, kepada para karyawan ketika itu saya katakan, ’Akan saya teruskan.’ Kita sudah punya pengalaman bekerjasama dengan para ahli dari Uni Soviet. Kita pasti bisa mengerjakannya dengan kemampuan kita sendiri,” katanya mengenang. Dan keputusan itu adalah prakarsa yang dia ambil sendiri, tanpa konsultasi dengan Jakarta.
Maka, terbentanglah tantangan yang hebat. Di lapangan, tak ada peralatan yang sangat diperlukan, seperti mesin bor dan berbagai alat berat yang lain. Pemerintah tidak menyediakan anggaran, maka tak mungkin membeli peralatan baru. Menyewa pun sudah tak mungkin. Supaya pekerjaan bisa merangkak terus, Bisuk meminjam peralatan kesana-kemari, atau memperbaiki alat yang rusak yang sudah tidak dipergunakan pemiliknya. Dia, kolega dan karyawan yang dia ajak berjibaku, bekerja selama selama 30 bulan, tanpa bantuan pemerintah.
Tanggal 23 Agustus 1963, Bisuk bertolak ke Simorea, di hulu air terjun Sigura-gura, untuk menyaksikan sampai di mana pekerjaan yang sudah dirampungkan oleh para ahli Uni Soviet. Karena proyek ditinggalkan, jalan masuk jadi tertutup ilalang. Hanya jalan setapak yang menandakan pernah ada kegiatan di situ. Bisuk dan tim kecilnya berada di situ sekitar dua jam. Menjelang tengah hari, awam hitam menyapu langit, dan rintik hujan mulai membasahi daun dan ranting. Jalan pun menjadi licin. Beberapa orang penduduk, yang kebetulan melintas di situ, menganjurkan agar Bisuk cs kembali saja ke Simangkuk, sebab hujan lebat segera tumpah ruah.
Sebagai tamu yang baik, Bisuk memerintahkan supaya tim mematuhi saran penduduk. Karena hujan, jalan pun tertutup semak. Tak bisa dibedakan antara bukit dan tegalan. Dalam keadaan meraba-raba, tiba-tiba jeep yang ditumpangi Bisuk menghantam bukit batu. Mobil dimundurkan untuk mencari ancang-ancang tancap gas dan berbelok menghindari bukit.
”Tetapi, kendaraan terlalu jauh mundur. Supir tidak melihat bahwa di belakang sudah menganga jurang yang dalamnya 200 meter. Ketika saya melompat, kendaraan terjungkal, melayang di atas jurang. Yang saya ingat, saya menghindar ke samping supaya tidak tertimpa mobil. Saya terjerembab jatuh. Saya tidak sadar di mana tersangkut. Ternyata saya sudah melayang terjun bebas jatuh ke dalam jurang, lebihkurang lima puluh meter. Sebongkah karang lapuk yang mencuat di tengah-tengah tebing yang terjal menahan tubuh saya, sehingga saya tidak terguling jatuh ke dalam sungai yang menganga di bawah,” Bisuk kelihatan agak emosional menceritakan episode menegangkan hampir setengah abad yang silam itu.
Semua diam
Bisuk ingat dia berteriak meminta tolong ketika itu. Tetapi, yang menyahut hanya sunyinya bukit terjal. Dia sempat melihat burung gelatik yang sedang melompat dari dahan ke dahan, yang tak bisa berbuat apa-apa. Dia menoleh ke bawah. Terlihatlah dasar jurang yang lebar mengancam. ”Bulu romaku berdiri, jantungku seakan-akan berhenti berdenyut. Tempatku tersangkut berada di dinding jurang lebihkurang 50 meter dari puncak bukit. Di situlah saya tersangkut. Tergantung antara langit dan bumi.” Begitu dia menorehkan kata dalam memoarnya.
Dua jam kemudian baru datang pertolongan. Bisuk diangkat dari tebing dan dilarikan ke rumahsakit Balige. Seminggu di situ, dia dipindahkan ke Medan, dan dua bulan kemudian diterbangkan ke Rumah Sakit Umum Pusat Jakarta. Tempurung kaki kirinya retak di tujuh tempat dan tulang tumit pecah berantakan, sehingga harus dioperasi. ”Saya harus bersabar sampai setahun supaya dapat berjalan,” katanya. Sementara itu, dia harus berjuang menelan kesediahan. Dua anggota timnya meninggal dalam kecelakaan dramatis itu.
Tetapi Bisuk sedang mengejar nama. Beruang besar dalam kisah tentang suku Indian yang dia dengar semaca dia kecil, seperti sedang bersembunyi di Sigura-gura, menunggu seorang pemburu yang sabar, yang sedang berjuang untuk mengukir nama besar. Dalam keadaan terpincang-pincang, dia berangkat ke Medan, bukan untuk beristirahat, berleha-leha dengan keluarga, tapi terus meluncur ke lapangan. Kemauan keras itu membawa hasil. Setelah 30 bulan bekerja, akhirnya seluruh penelitian selesai dan dituangkan dalam 12 jilid buku laporan. ”Tanpa bantuan uang dari pemerintah!” Bisuk menegaskan, tetap dalam nada suara yang rendah.
Suasana menyusul selesainya penyusunan laporan penelitian tersebut ternyata tidak membesarkan hati. Sejarah politik Indonesia membuka lembaran baru dengan meletusnya Gerakan Tiga-puluh September (G30S) 1965. Arah politik pemerintahan berubah dari kiri ke kanan. Semua proyek yang memperoleh bantuan Uni Soviet dihentikan. Proyek Asahan ditutup dan dilikuidasi.
Bisuk seperti melihat fajar sedang menyingsing menyambutnya ketika pemerintahan Orde Baru menerbitkan undang-undang penanaman modal asing. Dengan berbulat tekad dia memutuskan membuka kantor di Jalan Medan Merdeka Selatan dengan mempekerjakan empat pegawai. Semua biaya kantor dan gaji staf dia tanggung sendiri. Awal 1968 tersusunlah sebuah laporan kelayakan Proyek Asahan. Bisuk mengirimkan laporan tersebut ke berbagai negara untuk menjajaki apakah ada yang berminat. Tapi, tak satu pun yang memberikan reaksi. Semua diam. “Waktu itu hanya ada lima perusahaan aluminium di seluruh dunia. Tak ada yang ingin masuk ke Asahan, barangkali dengan pertimbangan proyek itu nantinya hanya akan menjadi saingan,” kata Bisuk.

Selembar koran tua
April 1968, dia menghubungi Marvin Lee, Wakil Presiden Kaiser Alumium International di Oakland, Amerika Serikat. Lee adalah bekas instruktur yang membimbingnya ketika dia menempuh pendidikan dan latihan di Pabrik Peleburan Aluminium milik Kaiser Aluminium. Marvin Lee kemudian mengirimkan tiga orang ahli ke Sumatera Utara untuk mempelajari kemungkinan pembangunan peleburan aluminium. Sayang, Kaiser Aluminium akhirnya mundur karena tak mampu membangun pembangkit listrik tenaga air untuk mensuplai energi ke pusat peleburuan aluminum di Kuala Tanjung. ”Dengan demikian pembangunan Proyek Asahan tertunda lagi. Saya hampir putus asa!” Begitu Bisuk mengenang perjalanan nasibnya. Dia yang sedang mencoba menyelematkan sebuah proyek besar, yang diharapkan bisa membawa kemakmuran bagi masyarakat sebagaimana yang didambakan ibu miskin yang dia jumpai di Balige ketika sedang melaksanakan survei dulu.
”Tukang insinyur” dari Balige itu sudah seperti pemburu yang tidak melihat buruan barang seekor pun di kaki langit. Proyek Asahan hanya tinggal nama. Karena semua usahanya untuk mempromosikan proyek tidak bersambut. ”Kepada pegawai sudah saya sampaikan bahwa kantor kemungkinan besar akan ditutup.” Bisuk merendah, tak berkenan menyebutkan berapa banyak biaya yang sudah dia keluarkan untuk membuka kantor dan mengkampanyekan Proyek Asahan ke selruuh dunia. Dia cuma menelan liur, mungkin ingin mengisyaratkan bahwa dia bukanlah orang yang mabuk nama.
Pada suatu ketika, mata tokoh kita ini tertumbuk pada sebuah artikel yang dimuat selembar koran tua, tentang pabrik peleburan aluminium di Ghana yang dibiayai Bank Dunia. Terilhami koran tua itu, suatu hari Bisuk berangkat ke kantor perwakilan Bank Dunia di Jakarta. Di situ dia sempat patah hati. Kepala perwakilan Bank Dunia itu mengatakan bahwa dia tak bisa memberikan bantuan kepada pribadi atau organisasi ”yang tidak diketahui siapa dan di mana induknya.”
Bisuk menjelaskan bahwa proyek itu sudah dilikuidasi pemerintah. Tapi, dia bergerak sendiri untuk meneruskannya demi kemaslahatan masyarakat Sumatera Utara yang sudah mengukir impian tentang kemakmuran yang pasti datang bersama proyek itu. Dengan kecewa dia mohon diri. Tepai, belum sempat meninggalkan bendul pintu, Bernard Bell, kepala perwakilan Bank Dunia itu meminta tamunya untuk duduk kembali. Dia tertarik dengan uraian Bisuk dan meminta laporan kelayakan Proyek Asahan supaya dia bisa membantu melaksanakan lelang. Bisuk memenuhi permintaan Bell. Lima belas perusahaan luar negeri diundang turut dalam pelelangan. Tujuh menyatakan bersedia. Tertapi, sampai pada saat penutupan tender, ternyata tak ada penawaran yang kunjung tiba. Bisuk kembali menelan ludah pahit.

Ongkos sendiri
Bisuk teringat H. Sugano, Vice President Sumitomo Chemicals, yang pernah datang dan mengadakan penelitian di Kuala Tanjung dan Sigura-gura. Dia menanyakan apakah Jepang masih berminat untuk melanjutkan proyek itu? Pada awal 1972 atau akhir 1971 — tak ada catatan yang tepat di saku Bisuk — Sugano mengundangnya datang ke Kyoto, bertemu di sebuah restoran di pinggir kota tua itu. Aku akan memetik hasil, pikirnya. ”Tapi, tunggu-punya tunggu, Sugano tak mengeluarkan kata barang sepatah pun tentang Proyek Asahan. Dia hanya bercerita tentang lukisan tua di dinding restoran dan nostalgia pada pegalaman kami di lapangan tempo hari. Habis duit saya membeli tiket Jakarta-Tokyo pergi-pulang… Keeseokan harinya saya putuskan pulang kembali ke Jakarta.”
Tak jelas apa yang ada di hati Sugano di restoran kota tua itu.Tiba-tiba sebulan kemudian orang Jepang itu mengirimkan kabar tentang rencana kedatangan pimpinan lima perusahaan alumunium Jepang ke Jakarta untuk menjajaki kemungkinan pembangunan Proyek Asahan.
Sampailah Bisuk pada titik perjuangannya yang terakhir. Yang dia hadapi adalah kenyataan pahit ini. Tidak ada departemen yang mau membantunya untuk merealisasikan rencana bantuan Jepang tersebut. Semua mengatakan Proyek Asahan sudah ditutup, dilikuidasi dan ”sudah dicoret dari daftar proyek Repelita.”
Perundingan dengan pihak Jepang berlangsung selama tiga tahun. Pelakaanaan perundingan dilakukan secara bergantian antara Tokyo dan Jakarta. Dan dahsyatnya kemauan Bisuk, dia sendiri yang membiayai ongkos pergi-pulang delegasi Indonesia yang jumlahnya belasan sekali duduk berunding, sejak 1972 sampai 1975.
Riste Tambunan, istrinya, sempat marungut-rungut dengan mangatakan, ”Mengapa proyek Negara kita yang harus mengeluarkan biaya?” Tetapi, sang istri bisa diyakinkan Bisuk sebagaima dulu dia bisa meyakinkan lulusan fakultas ekonomi Universtas Indonesia itu, bahwa dialah pria yang paling tepat untuk pasangan hidupnya. Tidak puitis, namun cukup untuk meluluhkan perasaan Riste, katanya: ”Penduduk sudah terlanjur menghias mimpinya bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai kemakmuran hanyalah kehadiran ProyekAsahan. Mereka sudah mencamkan dalam sanubari, tanpa kehadiran proyek, kemakmuran tidak akan pernah datang.”
Bisuk selalu merendah. ”Tanpa istri saya, tak mungkin saya bisa menyelesaikan pekerjaan itu. Cita-cita saya adalah untuk membawa kemakmuran bagi masyarakat.”
Dua orang yang melekat betul dalam hatinya, selain istrinya tentu, yang mendampingi dan mendorongnya untuk ngotot menyelesaikan Proyek Asahan yang diresmikan Presiden Suharto tahun 1982. Mereka adalah Profesor Sadli yang menjadi ketua tim perundingan dan Sugano dari Jepang.

Mangula so margaji
Selama lima tahun Bisuk Siahaan diangkat pemerintah sebagai diplomat di Kedutaan Bersar Indonesia di Washinghon DC. Jabatannya yang terakhir adalah staf ahli Menteri Prindustrian dan Perdagangan. Tetapi, barangkali, jatuh bangun dalam perjuangan untuk tetap menghidupkan Proyek Asahan itulah kenangan yang berada di atas angin. Apalagi pemerintah sudah memutuskan untuk meninggalkan sebuah tanda bahwa Proyek Asahan tak bisa dilepaskan dari nama Bisuk Siahaan. Pemerintah daerah Kabupaten Tobasa diminta untuk merealisasikan penghargaan tersebut. Karena Sigura-gura terletak di Kabupaten Tobasa.
Diputuskan, Bisuk Siahaan akan diabadikan dalam bentuk patung seukuran badan, dan diletakkan dalam sebuah cungkup di pelataran pembangkit listrik tenaga air Sigura-gura pada akhir Agustus 2008 ini. Tapi, Bisuk menolak! ”Saya sendirian tak bisa mengerjakan proyek sebesar itu,” katanya, lagi-lagi merendah. Maka, disepakatilah yang dipahatkan adalah sosok Sadli, Bisuk Siahaan dan Sugano, saling berjabatan tangan sedang maju melangkah bersama-sama.
Dalam perencanaan pembuatan patung tiga serangkai itu, pematung Dolorosa Sinaga, setelah mendengarkan kisah pergulatan suami Riste Tambunan tersebut, memutuskan untuk menatahkan patung Bisuk Siahaan dan menempatkannya agak sedikti di depan dari dua tokoh yang lain. Sehingga terbacalah bahwa Bisuk, yang sekarang bersusia 73 tahun, bagaimanapun, pernah sendirian di depan mendorong kemauannya untuk membangun sebuah proyek raksana sekaligus mengukirkan nama besar yang dicita-citakannya, sebagaimana yang selalu dimimpikan anak-anak Indian yang tergores dalam di hatinya. Suatu penafsiran yang pas sebagai penghargaan yang tepat untuk perjuangan spartan, berkorban tanpa pamrih, mangula so margaji, yang ditunjukkan anak Balige itu.***
Martin Aleida

12 thoughts on “Dr. Ir. Bisuk Siahaan

  1. Seandainya di negara kita ini banyak orang-orang seperti beliau yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat, pasti rakyat akan lebih sejahtera dibanding sekarang. Salam.

  2. Bangga punya orang batak seperti beliau, semoga makin banyak pengikut2 beliau yg masih mau memikirkan kepentingan masyarakat miskin yg jumlahnya banyak di Indonesia. Horas GBU Ir Bisuk Siahaan

  3. Sangat berprestasi tapi rendah hati, kalau mungkin yg lain pelopor pembangunan Proyek Sigura-gura mungkin sudah kemana-mana beritanya
    tapi beliau tidak terlalu memikirkan itu.Beginilah sesungguhnya calon petinggi Negara dan Bangsa.

  4. Salah satu legenda Teknik Kimia ITB dan naposobulung HKBP Kby Baru🙂 Tutur kata beliau dan pemikirannya menggambarkan namanya “Bisuk” yg berarti “Bijaksana”. Semoga Amang Bisuk dikaruniai kesehatan beserta Inang dan umur panjang. Gbu.

  5. Kisah yang luar biasa menginspirasi. Di dalamnya terkandung kepelayanan, kerja keras, komitmen dan dedikasi yang tinggi dari seorang ‘pemimpi’ sehingga akhirnya mampu mewujudkannya. Ini adalah sebuah contoh kepemimpinan yang sangat baik.

  6. Saya mngharapkan,maunya ada yg ngikuti jejak Bapak Bisuk siahaan orang Tapanuli,yg mau mengorbankan Fisik.Materi dan keluarga demi masyarakat banyak. Mardeka !!!!
    Horas Ibapai. HGU

  7. Aku salut akan prestasi Tulangku ini luwar biasa…semasa dijalan radio 28 ketika ompung jaksa JB.Siahaan [ayahanda dari beliau] masih hidup, ompung juga adalah seorang pekerja keras, da. tidak heran dari pendidikan ompung memotivasi Tulang untuk gigih mempertahankan proyek raksasa ini dan tentunya Tulangku ini senantiasa minta penyertaan Debata sehingga keluarga Tulang ini menjadi Keliuarga Yang disertai Tuhan, suksees Tulang GBU Horasss

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s