Edward Sirait


PAWANG SINGA DARI PORSEA
“Sekilas saja, Lion Airlines adalah maskapai swasta yang paling

Edward Siarait

fenomenal saat ini. Berawal dari perusahan biro perjalanan, Lion Tours, yang selama 13 tahun malang-melintang di bisnis wisata ini. Berbekal pengalaman itu dua saudara Kusnan dan Rusdi Kirana membangunnya menjadi perusahaan maskapai penerbangan yang handal, dengan nama Lion Air. Lion yang berarti singa, sekaligus menjadi logo dari perusahaan yang didirikan bulan Oktober tahun 1999 itu. Mulai beroperasi Juni 2000. Oktober lalu, maskapai ini mendatangkan delapan unit pesawat baling-baling jenis ATR 72-210. Sejak tahun 2005, Lion Air memiliki 24 pesawat terbang yang terdiri dari 19 seri MD80 dan lima pesawat DHC-8-301.”
Tak banyak yang tahu di balik kemajuan maskapai penerbangan itu adalah anak Batak: Edward Sirait, yang sekarang duduk sebagai Direktur Umum.
Bersahabat. Low profile. Begitulah kesan pertama saat menemuinya di kantornya, Gedung Lion Air lt 5, di bilangan Gajah Mada, Jakarta Pusat. Sebelum di Lion Air, Edward bekerja di PT Merpati Arlines sebagai General Manager Internal Logistik. Tiga belas tahun dia habiskan di maskapai berplat merah ini.
Panggilannya Edo. Edo kecil lahir di Jabu Bolon (rumah adat Batak), di Dolok Nauli, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba-Samosir, 11 Oktober 1962, sebagai pahompu panggoaran. Dalam tradisi Batak pahompu panggoaran adalah anak dari anak sulung. Juga disebut siboan goar atau putra mahkota, membawa nama bagi orangtuanya dan kakek-neneknya. Ini berarti setelah dia lahir maka ayah dan kakeknya harus berganti nama menjadi Ompu Edward dan Amani Edward. Di Tanah Batak, umumya, sebelum anak panggoaran dilahirkan, diadakan selamatan yang disebut “manaruhon aek ni unte.” Saat si anak lahir, bukan kepalang kebahagiaan keluarga, terutama sang Ompung.
Tumbuh di lingkungan alam yang sejuk, di pinggir Danau Toba, dalam bimbingan orangtua pedagog (pengajar), Ibunya, S Sitorus, guru SD dan ayahnya, J. Sirait, guru di SMP Narumonda, Kecamatan Porsea. Tamat dari SD, Edward melanjutkan SMP dan SMA di Jakarta. Sejak kecil tema kehidupan yang diberikan ayahnya adalah disiplin.
“Orangtua mengajarkan yang paling utama adalah disiplin untuk bertanggung jawab pada diri sendiri. Mandiri. Maka sejak kecil saya sudah terbiasa diberikan tanggung jawab mengelola warung kecil. Bagi saya, orangtua saya bukan hanya sekedar guru, tetapi guru kehidupan saya,” ujar sulung dari delapan bersaudara, lima laki-laki dan tiga perempuan ini.
Di kampung halamanya, Narumonda, Porsea, Edo mengeyam pendidikan hingga lulus SD. Umur 12 tahun, Edo kecil diboyong pamannya ke Jakarta. Di Jakarta, tahun 1975, Edo melanjutkan SMP di bilangan Bulungan, Jakarta Selatan, kemudian dilanjutkan ke SMA 56 Kuningan, juga di Jakarta Selatan. Lalu dia melajutkan kuliah di Universitas Kristen Indonesia (UKI) jurusan ekonomi manajemen. Lulus tahun 1987 dari UKI tidak serta-merta membuat Edo bebas mencari kerja. Selama kuliah Edo menerima beasiswa, dan sebagai balas jasa, Edo harus menjadi dosen di alumninya itu.
Manakala setelah dua tahun dia mengajar, dia membaca koran sore, yang memuat informasi tentang adanya lowongan di sebuah perusahaan negara. Tanpa berlama-lama, Edward mengirim lamaran. Beberapa kali tes, “pucuk dicinta ulam pun tiba,” dia diterima di perusahaan penerbangan yang bernama Merpati. Dia tak menyangka akan menempuh karier di maskapai tersebut.
Puncak karier sudah dia daki. Namun, sebagai orang Batak yang lahir di bona pasogit (kampung halaman), besar di tano pangarattoan (tanah perantauan) tak terbetik niat di hati Edo untuk meninggalkan adat Batak.
Ketika ditanya apakah dia masih sering mengikuti acara adat Batak, dia mengatakan: “Saya pikir acara seperti itu baik. Dari sisi sosial itu positif. Sebenarnya, kalau kita menyelaminya maka dia baik, tapi kalau kita tidak tulus dia manjadi beban. Bagi saya, acara adat itu saya anggap sebagai pemahaman sosial sekaligus hiburan. Beberapa minggu lalu saya pulang kampung untuk manulangi orangtua,” ujarnya anak “buah baju” ( anak panggoaran) ini. Beberapa waktu lalu, Edward dan semua adiknya manulangi orangtuanya di kampung halaman. Manulangi dalam budaya Batak adalah budaya penghormatan kepada orangtua yang melahirkan dengan menyuapkan makanan kepada orangtua. Tak semua orang Batak mendapat kesempatan seperti itu. Adat itu sekaligus sarana untuk meminta berkah dari orangtua.
Dekat dengan Anak
Sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anaknya, dilakoni Edo tanpa beban. Dalam kondisi yang bagaimanapun keluarga selalu dianggapnya sebagai yang utama. Istri dan anak-anaknya adalah sahabatnya. Walau dia direktur, tetapi jabatan itu tidak serta-merta terbawa-bawa ke dalam rumahtangga. Untuk menjaga keharmonisan keluarga, Edo menyempatkan diri mengatar anak-anaknya ke sekolah walaupun ada sopir khusus untuk itu. Begitu juga dengan istrinya. Dia akan menemaninya jika hal itu tidak menganggu pekerjaan. Semuanya dilakukannya dengan iklhas. Sementara hari Minggu adalah hari istimewa untuk keluarganya. Ada semacam peraturan tak bertulis di dalam keluarganya. Setiap hari Minggu, mereka harus sepakat ke gerja bersama-sama. “Sedapat mungkin ibadah bersama. Membangun hubungan dengan anak. Kita usahakan setiap hari Minggu pergi ke gereja bersama-sama,” ujar jemaat Huria Kristen Batak Protestan, Jatiwaringin, Jakarta Timur, ini.
Sebelum di Jatiwaringin, Edward dan keluarganya tinggal di pinggiran timur Jakarta, di perumahan Titian, Bekasi Utara. Baru dua tahun ini mereka menetap dan berjemaat di Jakarta Timur. Sebelumnya, keluarga ini berjemaat di HKBP Wisma Asri, Bekasi Utara. Pernah, satu periode, Edward menjabat ketua panitia Pembangunan gereja HKBP Wisma Asri itu.

Bekerja dengan Totalitas
Direktur tidak berarti ongkang-ongkang kaki. Edward memang bukan satu-satunya direktur di Lion Air. Ada empat lagi direktur yang setara dengan jabatannya dalam mengendalikan maskapai ini. Sebagai salah satu pengendali, Edo mengurusi pembukaan rute baru dan mengurus izin dari pemerintah. Dia harus bisa menyakinkan Direktorat Perhubungan Udara bahwa rute-rute baru yang akan dibuka Lion punya prospek cerah. Selain itu, dia juga harus mengendalikan sumber daya manusia yang ada di bawah kendalinya, sekitar 6.200 orang.
Mengelola SDM untuk mengasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mengembangkan etos kerja, itulah tugasnya. Permasalahan hukum, seperti claim dari penumpang atau yang berkiatan dengan kecelakaan, dia juga yang menangani. Intinya, Edward mengurusi rumahtangga perusahaan, kepegawaian, dan menangani pekerjaan-pekerjaan yang lain yang tidak bisa ditangani bagian lain.
Mengendalikan perusahaan maskapai dengan ribuan karyawan, tentu membutuhkan kemampuan memimpin. Edward harus terus-menerus menjaga stamina dan semangat secara terus-menerus untuk memantau jalannya roda perusahaan. Di tangannyalah terletak sebagian nasib dan kemajuan perusahaan. Maka, bekerja di atas12 jam sehari tidak pernah dia rasakan sebagai beban. Walau kadang pulang jam sebelas malam hingga jam tiga pagi. Itu semua dia kerjakan dengan loyalitas penuh demi kemajuan perusahaan.
“Pulang pagi, kalau ada hal yang urgent yang harus ditangani secepatnya. Bekerja adalah ibadah, investasi. Apa yang sewajarnya dikerjakan direktur saya kerjakan penuh semangat. Saya berusaha melakukan dengan tulus dan disiplin. Kalau tidak tulus akan berat melaksanakannya. Bekerja, kalau kita tulus melakukannya bukanlah beban. Etos kerja yang tinggi akan menumbuhkan potensi diri,” ujar mantan manajer di maskapai penerbangan milik negera, Merpati, itu.
Sebelum diminta mengawasi SDM Lion Air, dia pernah ikut tes untuk maskapai penerbangan milik negara, tetapi tidak lulus. Dia tidak putus asa, malah memicu adrenalinnya untuk tetap fokus pada bidangnya. Penantiannya cukup lama sampai datangnya pinangan untuk menempati posisi direktur umum di Lion.
“Saya percaya, kalau produktivitas bagus akan juga diberikan gaji yang bagus oleh perusahaan di mana kita bekerja. Sangat naiflah kalau perusahaan tidak memberikan kesempatan kepada karyawan yang produktif. Ini manajemen yang tidak benar, dan saya sangat percaya pada manajemen yang benar,” ujar mantan dosen mata kuliah manajemen perusahaan ini.
Walau direktur umum, dia tidak memutuskan sendiri. “Di atas langit masih ada langit lagi. Saya tidak suka ABS. Misalkan, saya memandang dari lantai sembilan, saya melihat luas di bawah itu 00 per segi. Tapi, dari lantai sepuluh (atasan saya) terlihat 120 meter per segi. Saya akan sampaikan apa yang saya lihat. Tetapi, kalau pemilik katakan dia milihat lain, masa’ saya tantang,” ujarnya.
“Sebagai seorang direktur saya akan sampaikan apa yang tidak dilihat pimpinan. Saya kira kemajuan maskapai ini adalah karena etos kerja karyawan dan pimpinan. Tetapi, secara religius ini adalah karena berkat Tuhan. Bukan karena kekuatan dan kegagahan saya,”tambahnya.
Memimpin perusahan maskapai ibarat berdagang. Mengutamakan pelayanan (service). Itu sebabnya, ribuan orang yang harus dia pastikan bekerja secara loyal. ”Tidak ada yang jatuh dari dari langit. Petani saja kalau tidak mau mencangkul, tanahnya tidak bisa ditanami. Kalau tidak dia rawat mana bisa memanan. Itu kan konsep ekonomi yang paling tua. Untuk meminta pada orang tua saja harus membujuk. Jadi mengelola perusahaan besar harus mengutamakan pelayanan,” ujarnya.
Maka tak heran, Edo selalu menyemangati karyawannya untuk melakukan pekerjaan sungguh-sungguh. Setiap karyawan yang berprestasi akan diberikan hadiah sementara yang tidak diberi peringatan. “Yang tidak memberikan apa-apa kepada perusahaan, dan sudah beberapa kali diberikan peringatan, tetapi tidak ada perubahan, tidak ada perubahan, berarti itu tandanya orang seperti itu adalah benalu yang merusak pohon perusahaan yang sedang tumbuh. Dengan tegas akan di PHK. Sebab dalam bekerja harus ada tanggungjawab. Kalau orang bekerja tidak ada perkembangan, itu berarti dia adalah parasit bagi orang lain,” tegasnya.
Untuk mengelola SDM, sebagai motor penggerak perusahaan, Edo berusaha mengasah setiap orang untuk mengembangkan potensi. Juga kesetaraan. Itu sebabnya, kantor di Gedung Lion Air di bilangan Gajah Mada, Jakarta Pusat, itu tidak mengenal sekat ruangan. Ruangan kerja terbuka. Setiap staf bisa melihat apa yang dikerjakan direktur, dan sang direktur bisa melihat ke segala sudut, untuk tahu apa yang dikerjakan karyawan.
Bagi Edo, perusahaan membutuhkan tim yang solid untuk mengembangkan perusahan. Ibarat batu, kalau digosok akan mengkilat, menjadi permata mutiara. Esensinya, jika manusia selalu belajar mengembangkan diri akan menemukan kemilaunya hidup. “Karyawan yang menerima upah tanpa memberikan sesuatu kepada perusahaan itu adalah manusia yang tidak punya hati nurani,” ujarnya. Kedengarannya keras, tapi barangkalai itulah kunci keberhasilannya. Hotman J. Lumban Gaol telah terbit di majalah TAPIAN

BERITA:

Bekerja dengan sepenuh hati selalu dilakukan olehEdward Sirait, yang kini menjabat sebagai Director Of General Affair Lion Air. Namun tak jarang, kelelahan melanda dan rutinitas bekerja menjenuhkan. Edward yang biasa dipanggil Edo pun selalu berusaha memanfaatkan waktu liburan dan senggang yang dimiliki sebaik-baiknya.

Pria kelahiran Tapanuli, Sumatera Utara, 11 Oktober 1962 ini memiliki cara jitu untuk menghapus penat dan melupakan rutinitas bekerja, yakni dengan berlibur ke luar kota seorang diri. Bagi dia, orang terkadang harus menyadari bahwa dia punya dirinya sendiri dan tidak perlu melibatkan orang lain. Orang tidak harus selalu dan terus bersama keluarga dan orang-orang terdekatnya.

“Saat sendiri, kita perlu me-recharge diri. Entah itu dengan berjalan-jalan ke pantai atau ke mana pun tanpa keluarga. Saya pernah ke Bali sendiri. Terus, saya ke Kuta pakai celana pendek, duduk di pinggir pantai tanpa baju, sambil pakai kaca mata hitam kayak bule ‘hitam’,” kelakar Edo kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.

Tidak butuh waktu lama bagi Edo untuk menjalani ritual ‘bertapa’ tersebut. Hal itu dilakukan sekadar untuk menghapuskan penat dari rutinitas dan kemudian kembali bekerja dengan penuh semangat. Dengan kebiasaannya itu, Edo mengaku seringkali merasakan energi baru yang mengalir ke tubuhnya.

Menurut dia, keluarganya tidak pernah merasa keberatan dengan kebiasaannya tersebut. Bahkan, anak-anak dan istrinya sangat mengerti dan memberikan kesempatan kepadanya untuk keluar sementara waktu dari perannya sebagai seorang ayah dan suami.

Menurut dia, hal itu terkadag perlu dilakukannya karena akan memuaskan dirinya sendiri. Sebab, jika liburan bersama keluarga, dia akan tetap memiliki peran sebagai kepala keluarga, suami, dan ayah. “Berbeda, kalau kita liburan sendiri karena benar-benar akan menjadi diri sendiri,” imbuh Edo.

Selain meluangkan waktu berlibur seorang diri ke luar kota, dia selalu memanfaatkan waktu senggangnya di Jakarta dengan baik. “Kadang, sepulang kantor, saya sempatkan mampir ke warung pinggir jalan untuk sekedar ngopi-ngopi. Setelah itu, saya baru pulang ke rumah dan beristirahat agar besoknya bisa bekerja dengan fresh lagi,” ceritanya.

Berikan Terbaik
Sementara itu, dalam pekerjaannya, Edo selalu berusaha memberikan yang terbaik dan itu juga mulai ditanamkan kepada anak-anaknya. “Kalau bekerja, kita pasti dapat upah, berbuat baik, pasti ada penilaiannya. Dengan posisi saat ini, menurut saya, yang penting bekerja dengan baik dan pekerjaan kita dinilai dengan baik. Itu pemikiran linear saja,” katanya.

Yang paling utama, lanjut dia, bagaimana dia memberikan kontribusi terbaik kepada perusahaan. Dan, itu pun telah dibuktikan Edo dengan loyalitasnya selama menjadi director of General Affair Lion Air sekaligus menjadi head of public relations di maskapai penerbangan murah (low cost carrier/(LCC) yang didirikan oleh Rusdi Kirana pada 1999 tersebut.

Dia mengaku, bekerja di perusahaan maskapai sempat tidak pernah terbersit dalam benaknya. Alumni Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini justru mengawali karier sebagai asisten dosen di almamaternya, Fakultas Ekonomi UKI, Jakarta pada 1985-1987. Di sana, ia sempat menjadi dosen freelance (1987-1995), sebelum akhirnya memulai karier di maskapai pelat merah PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

Selama 11 tahun berkarier di Merpati, berbagai posisi didudukinya. Mengawali karier sebagai karyawan biasa selama dua tahun, Edo pernah menjadi head of Division The Main Cost pada 1991. Akhirnya, tahun 2000, dia mengakhiri masa kerjanya di Merpati sebagai general manager of Internal Audit Division. Setelah itu, dia pindah ke Lion Air dengan menduduki posisi sebagai director of General Affair sejak 2000 hingga sekarang.

Kepindahan Edo ke maskapai dengan kode penerbangan JT yang kala itu baru beroperasi memang dapat dikatakan sangat berani. Ketika itu, Lion Air merupakan maskapai baru dan belum memiliki track record yang bagus. Kondisnya berbeda dengan Merpati, yang saat itu merupakan maskapai pelat merah tergolong sukses.

Dan, di dunia penerbangan, diakuinya tidak mudah. Namun, itu dijadikan penyemangatnya untuk bertekad harus maju serta berhasil, terutama setelah keluar dari Merpati. Hal ini pun dibuktikan Edo dengan semakin berkembangnya Lion Air menjadi maskapai LCC terbesar di Indonesia. (*)

Sumber:

http://www.investor.co.id/profil/edward-sirait-suka-bertapa-di-luar-kota/68149

Iklan

3 Comments

  1. Horas di Bapa i..
    Sorry Pak ganggu, sekitar 1 bulan lalu aku masukkan satu proposal event konser musik tema : FROM TOBA WITH LOVE: bersama TONGAM SIRAIT and FIENDS dijakarta tgl 28 Oktober 2009. Dalam kesempatan ini aku minta tolong ke Bapak Edward kalau berkenan untuk dibantu memberikan sponsor karena terus terang sangat sulit menjalankan event tersebut tanpa ada sponsor pendukung.

    Horas DiBapai
    GBU
    Stixcomm
    Robin Sihotang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s