Magdalena Sitorus


Magdalena Sitorus: Terlena Oleh Anak dan Asmara

Magdalena Sitorus

Kepada anaklah sebuah bangsa berhutang akan hari depannya. Ironisnya, anak-anak kekasih Tuhan jutsru tidak memperoleh perlakuan yang manusiawi, dilemparkan dari hak-hak yang seharusnya mereka nikmati. Jutaan mereka tidak memperoleh pendidikan yang memadai untuk menghadapi dunia yang sedang bergerak begitu cepat. Jutaan lagi harus membolos dari bangku sekolah karena harus berjuang bersama orangtua mereka di lapangan-lapangan pekerjaan yang tidak aman, berbahaya, bagi keselamatan mereka. Jutaan lagi tak bisa menikmati usia muda yang berbunga-bunga penuh angan-angan yang mulia, karena kemiskinan. Keadaan yang mengenaskan ini telah mengilhami banyak orang untuk mengulurkan tangan guna membantu anak-anak keluar dari kegelapan, dari ketersia-siaan. Seorang di antara yang banyak itu adalah Magdalena Sitorus.
Dia adalah putri bungsu dari sebelas bersaudara. Menurutnya, semasa kecil dia agak dimanja. ”Saya punya kakak sepuluh yang terlalu menjaga saya. Sekarang saya mengerti bahwa mereka sayang pada saya. Dulu, maksud baik mereka itu belum tentu saya sukai. Bapak, kebetulan orangnya terbuka, juga mencintai saya, karena saya siampudan (anak bungsu). Sayang, saat umur saya lima tahun, beliau meninggal,” kenang putri bungsu Raja William Sitorus dan T boru Silaen. Dia lahir di Desa Lumban Nabolon, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba-Samosir, 27 Oktober 1952.
Lumban Nabolon adalah ”huta” atau kampung dari marga Dolok Saribu, Sirait, Sitorus dan Manurung. Pintu masuk ke desa ini melalui simpang Siraituruk, persimpangan jalan dekat kota Porsea yang menjadi pusat gerakan rakyat akhir 1990-an menentang pabrik pulp Indorayon, yang mereka tuding telah membinasakan lingkungan hidup mereka. Pabrik itu terletak sekitar 10 km jauhnya, berada persis di tepi Sungai Asahan. Sebelum dicemari pabrik beracun tersebut, padi menghijau ria di sini. Desa ini terkenal sebagai penghasil padi bermutu dan ikan mas terbaik di Toba-Samosir. Dalam suasana alam seperti itulah Magdalena dilahirkan. Mungkin dia menyesal tidak sempat mengenal hutanya itu, karena sejak umur dua tahun dia sudah diboyong orangtuanya menyeberangi laut Jawa menuju Jakarta.
Mengapa tertarik pada dunia anak? “Anak adalah masa depan bangsa, kelak mereka akan dewasa,” jawab ibu dari empat anak yang kini duduk sebagai Wakil Ketua II Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Dia berbicara dengan lembut tidak selantang boru Batak yang dikenal luas. Cintanya pada anak tentulah tak terlukiskan, sementara kekayaan yang terlihat melekat pada dirinya adalah sekitar selusin gelang yang terbuat dari perak dan logam berharga lain. Perhiasan itu tak pernah membebaninya, dan dengan sepasang anting yang bulat menggantung berat di daun kupingnya, berkaos hitam dengan ulos tersampir di bahu, dia kelihatan seperti perempuan purba yang tak lekang kasihnya apada anak-anak.
”Masalah anak begitu serius. Indonesia telah meratifikasi Konvensi Hak Anak melalui Keputusan Presiden No. 36 pada tahun 1990, namun kasus-kasus anak yang mengalami penyiksaan, eksploitasi seksual, melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya, anak dalam penjara, pengungsian ataupun yang terlibat dalam konflik bersenjata dan lain-lain, masih belum bisa diatasi,” katanya memilih kata-kata seperti membujuk lawannya berbicara.
Teror
Kini, berkat dedikasinya yang tinggi, dia dipercayakan menjadi Ketua III Jaringan Peduli Anak Bangsa. Dia juga Direktur Eksekutif Solidaritas Aksi Korban Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan. Sebelum di KPAI, Magdalena, bergabung dengan Komisi Nasional Perlindungan Anak, bersama Arist Merdeka Sirait. Sama-sama semarga sama-sama di jalan perjuangan yang serupa.
”KPAI adalah lembaga yang dibentuk pemerintah, dan bertanggung jawab pada pemerintah. Sementara Komnas Perlindungan Anak adalah lembaga yang berbasiskan swadaya masyarakat,” katanya.
Yang menjadi perhatiannya bukan hanya anak. Prioritas kegiatannya juga pada masalah perempuan, untuk mengadvokasi dan menangani kasus-kasus yang membelit mereka.”Walaupun konsentrasi perhatian saya terlebih pada anak.”
Sepasang suami-istri bisa bersitegang urat leher dengan tujuan untuk mempertahakan keutuhan rumahtangga. Masuknya pihak luar untuk membawa kedamaian bukanlah mudah. Kesalahpahaman bisa mencuat. Penolakan bisa muncul. Magda, demikian dia selalu disapa rekan-rekannya, membenarkan pelik masalahnya. Malah dia katakan, ”Teror sudah menjadi bagian dari aktivitas kami. Bagaimana tidak diteror. Misalnya, seorang istri kita bela, suaminya pasti tidak terima itu. Sering orang datang ke kantor dan marah-marah. Ada yang telepon ke rumah, dan segala macam. Tetapi, hal itu kita hadapi dengan kepala dingin. Suasana itu membuat kita makin dewasa. Kasus-kasus yang kami hadapi memberikan kedewasaan kepada kami,” ujarnya.
Menurut dia, anak membutuhkan perlindungan khusus terhadap kekerasan dan kejahatan dalam bentuk eksploitasi seksual dan perdagangan anak. Mereka harus dilindungi dari kekejaman fisik dan psikis. Selain masalah eksploitasi anak, kasus yang sering ditangani Magda adalah masalah perceraian, yang dampaknya juga terhadap anak. Perceraian sering menjadi ajang perebutan anak.
Anak, kata Magda, adalah cikal-bakal kehidupan di masa depan. Mereka harus dipersiapkan dengan baik oleh komponen masyarakat terkecil yaitu orangtua, keluarga, masyarakat, negara dan pemerintah, sebagaimana tertulis dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Tambahnya lagi, hak yang melekat pada diri anak harus dipenuhi, mulai dari hak sipil, seperti hak akan kesehatan, pengasuhan, dan pendidikan. Dia mengambil contoh pentingnya akte kelahiran bagi seorang anak. Tanpa akte kelahiran seorang anak secara hukum tidak diakui sebagai warga negara. Karena itu, proses untuk memperoleh akte kelahiran harus dipermudah oleh pemerintah.
Tentang budaya Batak, Magda punya pendapat sendiri. Menurut dia banyak hal yang perlu dikritik dalam budaya Batak. Memang, ada hal yang baik dari budaya Batak, yang harus dijaga. ”Kelemahannya, sering tidak menghargai kelebihan budaya orang lain,” ungkapnya. “Saya mencintai dan menghargai budaya Batak. Kita boleh menghargai budaya kita, tetapi jangan lupa, orang lain punya budaya sendiri. Tidak boleh menganggap budayamu lebih baik dari budaya orang lain,” ujar panearan (istri) Nababan ini.
Menurut ceritanya, pernah satu ketika dia menghadiri pesta pernikahan dari sepasang yang ”berbeda suku.” Karena yang mendominasi acara tersebut adalah adat Batak, sontak Magdalena maju ke depan, dan meletup: ”Saya interupsi, ini namanya tidak menghargai budaya orang lain. Saya bilang pada pembawa acara, ”Amang” bisa nggak berbahasa Indonesia? Karena ada orang yang tidak mengerti bahasa Batak di sini,” katanya memprotes.

Mengusik rasa
Magda juga mengkritik adat Batak yang terlalu kaku. Begini: ”Anak yang belum berumahtangga masih disebut anak, walau sudah dewasa. Kalau ada orangtua yang meninggal, karena anak-anaknya sudah besar tapi belum menikah, maka orangtua itu tidak bisa diberikan adat saurmatu, adat khusus untuk menghargai orangtua. Hanya orang yang sudah menikahlah yang mendapat tempat dalam adat Batak. Kalau belum menikah, walau umurnya 40 atau 50 tahun, mereka tidak diberikan ruang dalam acara adat.”
Soal nama juga mengusik rasa keadilan Magda. Dia menolak disebut ”Nyonya Nababan” tanpa diikutkan nama aslinya. ”Saya tidak suka disebut seperti itu, karena itu berarti meniadakan saya yang punya nama.”
Keseteraan jender bukan hanya arena pergulatan yang bersifat global buat Magda. Di dalam keluarga kepeduliaannya dalam masalah ini tak tergoyang. Di dalam keluarga, menurut dia, secara dominan posisi perempuan masih untuk melayani laki-laki. Seharusnya, laki-laki dan anak perempuan harus diberikan hak yang sama, termasuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ambil contoh, dalam budaya Batak masih ada diskriminasi terhadap perempauan, dalam soal memilih pasangan. Kebebasan memilih lebih diperbolehkan pada laki-laki dibandingkan pada pihak perempuan. Ketimpangan ini menggugah rasa keadilannya. Magda beranggapan, suasana yang tidak sehat seperti itu kelihatannya merupakan persoalan kecil, tetapi dampaknya besar terhadap kesetaraan jender yang menjadi arus besar dalam perjuangan kaum perempuan sedunia sekarang ini.
Maka berbahagialah keempat anaknya; Junita, Natasha, Avifa, Natan. Mereka semua telah dikodratkan jatuh di timangan seorang Ibu yang cinta pada konsep pendidikan anak yang baru, yang memuliakan. ”Sekarang, konsep dalam mendidik anak harus berubah. Mendidik lewat hentakan, cacian, harus diganti dengan sapaan, sentuhan dan komunikasi yang baik, dialog yang baik. Itu motto dalam keluarga saya. Tidak ada alasan tidak punya waktu mengurus anak. Budaya mengurus anak harus diubah,” katanya mantap, membesarkan hati, tidak hanya untuk perempuan tetapi juga untuk kaum lelaki.
Pergerakan perempuan agaknya tidak akan melupakan apa yang telah dikatakan dan diperbuat boru Sitorus ini. Garis nasib telah menuntun hidupnya di jalan menuju pengabdian. Namun, di dalam dirinya tidak hanya ada cinta pada anak dan kaumnya. Asmara juga pernah membuatnya terlena dan menyudahi penggal waktu dalam hidupnya dengan bersumpah setia bersama Asmara Nababan (anggota Komnas HAM 1992-1998), pria kelahiran Siborong-borong, 2 September 1946, untuk membangun sebuah keluarga sitiruoan, yang pantas ditiru. Sebuah nama yang tidak-bisa-tidak akan mengingatkan orang pada satu sosok yang bergelut sepenuh hati untuk kemuliaan manusia. Bagi Magdalena tidak pernah terlintas dalam pikirannya menikah dengan pria Batak. Menurutnya, laki-laki Batak itu ”sangar, dan kasar.” Tapi, ah, Magdalena…
”Suami saya berbeda dari pria Batak umumnya. Dia halus dan baik. Mungkin, kalau suami saya orang Batak konvensional saya sudah lama mati. Karena, sejak kecil tidak pernah terpikir menikah dengan orang Batak. Dulu, bagi saya, laki-laki Batak itu sangar, dan kasar. Apalagi saya tidak mau tata krama yang kaku, saya tidak mau terlalu formil, karena saya tidak mau kekakuan,” katanya mengenang.
Menatap Asmara Nababan, mengenang pertemuan pertama mereka, dia melihat sosok suami yang demokrat. Menghargai perbedaan, dan tidak menuntut terlalu banyak dari istri. Magda ”luluh dan terlena” akan kepribadian Asmara. Bagi dia, suaminya yang tidak menuntut terlalu banyak, yang justru memberikan kebebasan bagi istri, sumai sepertilah yang membuat seseorang istri semakin menghormatinya.

Bacaan kesayangan
Magda mengaku punya sifat yang keras. Dia memberikan tamsil seperti ini: ”Saya bayangkan, kalau suami saya menyuruh harus berhenti bekerja, saya tidak akan berhenti bekerja. Tetapi, kalau dia memberikan kebebasan, maka dengan kesadaran sendiri saya akan berhenti bekerja dan mengurus anak-anak,” katanya.
Kalau hati tak pernah bertemu, bahtera rumahtangga Magda dan Asmara tentu takkan bertahan sampai 35 tahun, sampai pun akhir hayat, agaknya. Ada senandung rohani yang sama iramanya di antara mereka berdua. Ada yang tak terlihat apalagi terkatakan oleh mereka yang memandang dari luar. Tapi, yang jelas, keduanya sama-sama anak ”siampudan” (bungsu). Sama-sama aktivis pula. Bagi Magdalena, suami adalah ”teman saya, sahabat, teman curhat.”
Sama-sama aktivis, dan pergerakan jugalah yang telah mempertemukan mereka. Keduanya sama-sama menjadi aktivis Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia pada tahun 1971. Magadalena kuliah di Sekolah Tinggi LPK Tarakanita, sedangkan Asmara Nababan di Universitas Indonesia, di fakultas hukum. Tiga tahun berteman dan berbagi, mereka lalu menikah tahun 1974.
Pernikahan mereka dikaruniai Tuhan dengan empat anak, tiga perempuan dan satu laki-laki. Si sulung, Junita, berusia 35 tahun, sekarang sedang menempuh pendidikan S3 di Jerman. Anak kedua, Natasha Nababan, 33 tahun, bekerja di Exxon Mobil, perusahaan minyak Amerika Serikat. Anak ketiga, Avifa Nababan, 30 tahun, mengikuti jejak ayahnya, aktif dalam pembelaan hak-hak asasi manusia. Sedangkan si bungsu, anak laki-laki satu-satunya, Natan Nababan, 24 tahun, saat ini bermukim di Australia.
Di usianya yang sudah tidak tergolong muda lagi, 57 tahun, Magda masih telanten menulis diary, catatan harian, tentang apa saja yang dia dikerjakan tiap hari. Bak remaja putri yang menggoreskan kisah cintanya tiap hari, tidak ada yang boleh membaca buku hariannya itu. Sang suami juga tidak. Katanya, menulis catatan harian menjadi semacam meditasi jiwa, membuatnya tetap muda dan bergairah, barangkali.
Di sela-sela waktu luangnya, dia membaca buku-buku yang menginspirasi. Novel dan tulisan-tulisan Pramoedya Ananta Toer termasuk bacaan kesayangannya. Terbiasa menulis catatan harian, mempermudah dia untuk menulis. Dia telah menerjemahkan beberapa buku. Salah satu buku terjemahannya berjudul, Pangan, Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan, tulisan Susan George. Buku ini menyoroti negeri makmur yang kaya dengan sumber alamnya yang melimpah, tetapi penduduknya masih rawan pangan. Berbagai macam tumbuhan bisa mekar di negeri ini. Negeri bernama Indonesia yang disebut Soekarno ”gemah ripah loh jinawi,” apa pun yang ditanam pasti jadi. ”Tongkat kayu dan batu menjadi tanaman,” seperti kata Koes Plus dalam salah satu lirik lagunya.

’Di mana anak saya?’
Magdalena sering menjadi pembicara dalam berbagai seminar tentang anak. Selain berkecimpung dalam aktivisme, dia selalu menjaga keseimbangan hidup, anatara jasmani dan rohani. Dia memuliakan keterikatan dengan Tuhan dan merayakan hubungan dengan manusia. Dia adalah sintua (penatua) di HKBP Kebayoran Baru sejak tahun 1998. Sudah sebelas tahun dia aktif melayani di gereja tersebut, mulai dari sebagai pemerhati, pengumpul kolekte, hingga mar-agenda (memimpin liturgi ibadah di gereja itu hari Minggu). Di depan Tuhan dia tak lebih dari seorang pelayan.
Magdalena tahu betul, dalam menjaga keharmonisan keluarga perlu komunikasi. Setelah anak-anak sudah dewasa semua, waktu untuk bersama dengan keempat anaknya harus diupayakan. Sudah lama tidak ada momen untuk kumpul bersama, karena masing-masing sibuk. Akhir tahun lalu, saat yang ditunggu-tunggu itu datang juga, pas saat Magdalena tugas ke Tomohon, Sulawesi Utara. Momen itu dimanfaatkannya untuk kumpul bersama anak-anaknya. Mereka sepakat berlibur di Bunaken. Pantai Bunaken memang salah satu pantai yang paling eksotis di timur Indonesia, meliputi area seluas 75.265 meter bujur sangkar. Terumbu karang menemukan sorganya di sini.
”Hari kedua kami ke Siladen, menyeberang dari Bunaken. Tiba-tiba kapal terbalik. Saya heran, tidak ada ombak, tiba-tiba terperosok masuk ke air. Handphone, tas, kamera jatuh. Yang kami lakukan praktis menyelamatkan diri kami sendiri. Lima belas menit kemudian baru ada bantuan. Saya berteriak, di mana anak saya?!” Begitu cerita pencinta renang, tari, dan teater ini.
Tak ada yang hilang. Anak-anaknya tetap bersamanya, Asamara juga tetap dalam hidup dan hatinya. Yang masih terus dia gapai adalah kehendak untuk ikut membebaskan anak-anak dari kungkungan kehilangan hak, kekerasan, dan perilaku orangtua, masyarakat, dan pemerintah yang tidak manusiawi terhadap jutaan mereka.*** Hotman J Lumban Gaol
telah di terbitkan majalah TAPIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s