Aurora Frida Riuminar Tambunan


Aurora Frida Riuminar Tambunan aurora_tambunan

Seberkas ‘Aurora’ di Jakarta

Dalam kamus bahasa Batak Toba karya J Warneck “minar” berarti bercahaya dan ceria. Sedangkan kata “aurora” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Departemen Pendidikan Nasional keluaran Balai Pustaka bermakna “gejala berupa cahaya di langit yang berbentuk berkas, pita, atau tirai, biasanya berwarna merah, hijau dan ungu.” Ditambahkan pula bahwa fenomena “aurora” yang berupa cahaya terang ini biasanya terlihat di kala kegelapan malam hari di langit belahan bumi utara dan selatan. Sehingga sederhananya “aurora” dapat diartikan sebuah cikal-bakal (gejala) bagi kemunculan sebuah cahaya yang besar dan lebih bersinar. Sedangkan “minar” sendiri yang berarti bercahaya dapat disinonimkan dengan makna kata berseri-seri dan bersinar.
Kedua kata tersebut melekat menjadi sebuah kesatuan nama diri seorang perempuan Batak yang bernama Aurora Frida Riuminar Tambunan. Dia, yang lebih akrab dipanggil dengan Ibu Lola, dilahirkan di Jakarta pada tanggal 29 Januari 1953, sebagai anak sulung dari dua bersaudara pasangan BKJ Tambunan dan VAB Mangunsong. Aurora memiliki tiga orang anak, Tona Theodora Hutauruk, Kamala Irene Hutauruk, dan Toho Jefta Hutahuruk. Buah hati Ibu Lola dengan suaminya Ir Saut MP Hutahuruk. Suaminya adalah kakak kandung penyanyi Berlian Hutahuruk. Berlian adalah penyanyi perempuan Batak yang bersuara sopran dan popular ketika menyanyikan “Badai Pasti Berlalu” garapan Eros Djarot pada tahun 1977. Dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan M Hutahuruk, pendiri penerbit buku Erlangga.
Aurora merupakan salah satu sosok sentral yang menempati gedung Balai Kota Jakarta sekarang ini. Dia perempuan penting dalam kabinet Fauzi Bowo-Priyanto. Saat ini dia menjabat sebagai salah satu asisten di Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, tepatnya Asisten Kesejahteraan Masyarakat (Askesmas). Askesmas ini antara lain mengemban tugas di bidang pendidikan, kesehatan, kemiskinan, olahraga, pemuda dan kebudayaan.

Jabatan Askesmas ini merupakan kedudukan penting dalam hirarki penentu kebijakan di DKI Jakarta, sehingga Aurora adalah sosok sentral. Askesmas dalam hirarki Gubernur DKI, bertanggung jawab kepada Sekretaris Daerah. Selanjutnya Sekda bertanggung jawab ke wakil gubernur dan gubernur.
Sebelum mencapai posisinya saat ini, beberapa jabatan penting telah diembannya. ”Boru” Jakarta ini juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Bappeda Provinsi DKI Jakarta, Kepala Dinas Pariwisata, dan juga Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Jakarta. Dua jabatan yang terakhir ini membuat nama Aurora semakin akrab di kalangan masyarakat, berkat pemberitaan berbagai media massa.
Saat menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata dia turut mengusulkan semboyan “Enjoy Jakarta” sebagai brand pariwisata Jakarta. Sedangkan dalam posisi sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, dia juga sempat mengusulkan agar Institut Kesenian Jakarta pindah ke kawasan Kota Tua Batavia (Oud Batavia), supaya wilayah ini memiliki “roh” yang dapat dikembangkan menjadi sumber ekonomi kreatif kota Jakarta. Menurut kabar, Aurora tengah dicalonkan sebagai deputi (eselon satu) dalam bidang pariwisata dan kebudayaan di kantor Gubernur Jakarta. Bila ini terlaksana, maka pejabat yang juga dipanggil Lola ini akan menjadi salah satu dari empat Deputi Gubernur.

Bangga jadi orang Batak
Lahir di Jakarta dan semenjak kecil sering berpindah tempat mengikuti ayahnya. Masa kecil dan remajanya lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Aurora menamatkan pendidikan dasarnya di Bandung tahun 1964. Masa-masa ini sempat membuatnya merasa minder di kalangan teman temannya, karena kurang begitu fasih berbahasa Indonesia. Adaptasi juga mengalami masa-masa sulit saat mengikuti pelajaran di sekolah yang berbahasa Indonesia.
Saat ditanya mengenai budaya Batak, dia menyatakan sangat bangga dengan kebatakannya. Aurora selalu menuliskan marganya dalam kartu namanya. “Saya orang Batak sampai ke tulang sumsum. Saya sangat bangga dengan kebatakan saya, baik positifnya maupun negatifnya, gitu. Saya pake marga. Nama saya selalu pake Aurora Tambunan.”
Lola menyatakan bahwa anak-anaknya juga selalu menggunakan marganya dalam setiap kesempatan. Mengingat nama dan marga itu merupakan sebuah kesatuan dari identitas diri pribadi. Sehingga tidak ada alasan bagi orang Batak untuk tidak menggunakan marganya, katanya. Bahkan menjadi tugas bagi orang Batak agar membuat marga yang disandangnya itu tidak memalukan. Dengan selalu memakai marga, juga dapat membuat kita lebih dapat menjaga diri lebih baik lagi, termasuk juga menjadi “beban” dalam pengertian yang positif, harus terus-menerus membawa sinar kepada banyak orang.
Dia mengatakan bahwa Danau Toba masih merupakan potensi wisata yang dapat terus dikembangkan. Danau Toba memiliki panorama yang indah. Permasalahan yang mendasar dalam pengembangan wisata Danau Toba adalah aksesibilitas. Untuk menuju ke sana dapat melalui jalan darat dari Medan, yang menempuh waktu perjalanan selama sekitar tiga jam. Sedangkan melalui jalan udara, dapat melalui bandara Silangit di Siborong-borong, yang memakan waktu sekitar satu jam. Harus diakui sampai saat ini, Danau Toba masih belum menjadi tujuan wisata yang mudah dicapai.
Sedangkan konsep wisata Danau Toba, menurut dia hampir sama dengan Bali. Karena kedua daerah ini mempunyai alam yang indah serta budaya yang unik dan masih kuat. Dia mengusulkan agar semakin sering diadakan event yang bertaraf internasional, termasuk mengeksplorasi potensi-potensi wisata lokal. Wisata kuliner yang menyajikan berbagai jenis makanan lokal juga bisa lebih digali lagi, seperti Bakmi Gomak di Balige. Bakmi yang diambil oleh penjualnya tidak menggunakan sumpit atau garpu, tapi pakai tangan langsung (digomak dalam bahasa Batak).
Meskipun demikian, salah satu faktor penting dalam pengembangan pariwisata adalah terkait dengan orang Batak sendiri. “Sekarang tinggal orangnya. Orang Batak itu dasarnya memang bukan melayani. Itu memang dari kitanya. Pada dasarnya kita gak bisa melayani. Kalau saya, sekarang, saya tidak malu untuk mengatakan bahwa dari budaya suku yang lain itu ada yang positif, ada yang negatif. Sama dengan budaya kita ada yang positif ada yang negatif. Yuk, kita ambil budaya yang positif dari budaya orang lain, terus kita buang yang negatif dari kita sendiri.”
Beliau menambahkan pariwisata harus jujur, sehingga cara-cara penyampaian dapat dilakukan dengan lebih santun, seperti orang dari etnis lain. Tapi juga harus tetap jujur, terus terang dan apa adanya. Boru Tambunan ini mengatakan bahwa kata “hamu” dalam bahasa Batak lebih sopan dan hanya diucapkan kepada hula-hula, yang dianggap memiliki status lebih tinggi. Sedangkan selebihnya menggunakan “ho.” Jadi cara bertutur dan mentalitas budaya Batak sangat susah untuk dapat melayani. Orang Batak yang susah untuk melayani ini juga punya keunikan tersendiri, karena memang pernah ada feodalisme di tanah Batak meskipun lebih rendah. Hampir tidak mengenal “hatoban” (budak).

Menolak uang demi jabatan
Aurora menyatakan tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun untuk mendapatkan jabatan sampai pada posisinya yang sekarang ini. “Gini, gini, saya tuh tidak pernah mengeluarkan uang satu sen pun untuk mendapatkan jabatan. Saya gak pernah nyogok siapa pun untuk dapatin jabatan.”
Aurora menyadari bahwa dia adalah minoritas di tengah-tengah masyarakat. Sebagai perempuan di lingkungan yang kebanyakan laki-laki, minoritas sebagai orang Batak di antara banyak etnis yang bukan dari Batak, termasuk menganut agama kristiani di antara banyak penganut agama yang non-kristiani. ”Tapi saya bisa sampai di posisi ini tanpa uang, maksudnya tanpa ada sikut sana sikut sini.”
Dirinya adalah minoritas dalam segala hal. Namun, dia sanggup mengemban semua pekerjaan yang lebih diidentikkan sebagai pekerjaan laki-laki. Pendapat Aurora membantah pendapat yang menyatakan kurang berhasil dalam dunia profesional dengan alasan latar belakang etnis dan agama. Katanya: “Kita memang berbeda tapi jangan dibedakan.” Bahkan, dengan status yang minoritas tersebut selayaknya juga dapat memberikan contoh kepada khalayak ramai. “Misalnya, kalau teman-teman sudah harus salat Jumat, maka bagi mereka yang masih kerja saya bilang udah tutup dong, berhenti dong. Udah mau salat Jumat. Jadi, selalu mulai dari kita sendiri. Kalau kita mau menghormati orang, pasti orang itu juga mau menghormati kita.”
Proses pencapaian dari jabatan yang disandangnya sekarang lebih merupakan bukti profesionalitas dalam budaya kerjanya. Termasuk di dalamnya loyalitas terhadap pimpinan. “Kita loyal sama pimpinan. Pimpinan itu gak suka lo anak buah yang ngelawan aja. Pimpinan suka anak buah yang kritis, yang bisa menyampaikan sesuatu dengan nalar yang benar. Pimpinan mana sih yang suka dilawan.” Loyalitas ini tentu saja tidak lantas jadi asal bapak senang (ABS). Anak buah juga harus memberikan rekomendasi dan pertimbangan yang kritis, bahkan terutama bila ada sebuah kebijakan yang memiliki resiko tinggi, yang harus diambil oleh pimpinannya. Itulah kiat Aurora dalam dunia pekerjaannya.

Penampilan bukan yang utama
Penampilan bagi Aurora penting, walau bukan yang utama. Beliau selalu menempatkan sikap, perilaku, hati yang bersih sebagai hal yang utama. Sekalipun begitu, dia mengakui tidak pernah ketinggalan membawa lipstick.
Tahun 1971 dia duduk di Jurusan Planologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Kecantikan dan kecerdasannya mengangkatnya jadi juara pertama Miss University pada tahun 1973. Pada masa itu perguruan tinggi negeri, termasuk ITB, selalu dinyatakan sebagai tempat bagi orang-orang pintar yang identik dengan kata ”otak encer.” Sehingga perempuan yang bisa terpilih untuk kuliah di ITB juga diidentikan dengan kacamata tebal, rambut yang berminyak. “Saya bersama dengan geng tidak menganggapnya seperti itu, perempuan juga harus merawat diri. Jadi, kebetulan saat ada pemilihan Miss University, yang syaratnya adalah harus pintar, maka datanglah panitia ke ITB.”
Pada mulanya, dia menolak, dengan alasan nantinya akan ada syarat-syarat seperti pengukuran proporsional fisik tubuh, penilaian dari penampilan fisik, sebagaimana lazimnya. Tapi, ternyata untuk Miss University persyaratan tesnya tidak menggunakan penilaian secara fisik, melainkan tes, seperti bahasa Inggris, psikotes, dan sebagainya. Singkatnya, Aurora mengikuti keseluruhan persyaratan tes dan terpilih menjadi juara pertama. “Saya sendiri merasa lucu,” katanya mengenang.
Ketentuan persyaratan selanjutnya bagi pemenang pertama Miss University adalah keharusan untuk mengikuti ajang yang lebih tinggi, yaitu Miss Jabar (Jawa Barat) dan bahkan selanjutnya sampai ke Miss Indonesia. Tetapi, Aurora ingin lebih fokus untuk menyelesaikan studinya di kampus. Maka, akhirnya dia mengundurkan diri. Uniknya, yang berhasil menjadi Miss Jabar adalah juara ketiga dari Miss University. Bisa dibayangkan, bila Aurora mengikuti pemilihan Miss Jabar, pastilah terjadi persaingan ketat. Pemilihan mahasiswi cerdas dan cantik tersebut membuat hidupnya lebih berwarna.“Sangat kebayang bagi saya bila saya hanya kuliah, lulus dengan nilai baik, terus kerja di DKI. Sepertinya hidup saya gak fun gitu, ya,“ ujarnya.

Menerapkan home culture
Sebagai perempuan Batak profesional yang mandiri, sering ditanyakan perannya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Aurora menempatkan pribadinya sebagai ibu rumah tangga. Katanya: “Kan gak ada laki-laki Batak yang mau diatur sama istrinya. Jadi, seberapa pun tingginya saya di kantor, saya gak boleh jadi bos di rumah. Di rumah saya, ada bos lain. Tapi suami dan istri itu seharusnya sejajar. Dan peran seorang ibu saya nikmati betul. Dan saya tahu juga kalau suami saya suka sekali dengan peran itu. Jangan saya membuat suami saya hilang rasa kesuamiannya hanya karena saya jadi pejabat. Keputusan terakhir ada di laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Namun, istri dapat memberikan masukan, atau bahkan juga keputusan itu berasal dari pikiran pikiran si istri.”
Sosok perempuan Batak yang kita tampilkan ini termasuk berhasil dalam memberikan wejangan kepada anak yang menjadi buah hatinya. Ketiga anaknya sudah selesai studinya di perguruan tinggi.
Aurora memiliki kiat-kiat tersendiri dalam mendidik anak-anaknya. Di antaranya dengan memberikan alternatif pilihan. Kepada anaknya yang tidak suka makan sayur dia akan bertanya: “Nanti mau makan kangkung atau bayam?” Sebenarnya, sang anak tidak suka makan sayur. Tapi, karena harus memilih salah satu, maka sang anak mau-tidak-mau harus mau memakan sayur.
Aturan dalam kehidupan keluarga yang lain, yang diterapkan Aurora, yang mungkin terkesan sederhana, namun mempunyai nilai yang baik dalam komunikasi adalah sistem “wajib lapor.” Apabila ada anggota keluarganya yang akan bepergian, maka setibanya di tempat yang dituju yang bersangkutan harus memberitahu kepada anggota keluarga lainnya. Sesuatu yang mungkin dianggap kecil bagi sebagian orang. Hal lain yang dianggap beliau penting, adalah selalu bersikap satu suara di antara suami dan istri, saat menghadapi anak. Bila terdapat perbedaan pendapat, tidak ditonjolkan langsung di depan anak-anaknya. Sehingga anak-anak pun tahu kalau peran ayah dan ibunya selalu sejalan dan seirama.
Ide dari kebiasaan-kebiasaan tersebut diperoleh dari suaminya, dan dinamakan home culture, budaya rumah. Komunikasi tetap bisa berjalan meskipun anggota keluarga dipisahkan jarak yang sangat jauh. Mengingat hampir semua anak-anaknya saat ini tengah berada di luar negeri, maka penerapan home culture ini dijaga dengan memanfaatkan sarana Internet. Keluarga ini memiliki mailing list yang terbatas hanya untuk anggota keluarga, yaitu suami, istri, ketiga orang anaknya, dan seorang menantu. Milis yang terbatas hanya untuk enam anggota keluarga, digunakan sebagai komunikasi untuk tukar-menukar cerita, dari yang paling penting sampai ke yang sekedar curhat.
Aurora bilang hidup harus selalu dijalani dengan ceria, berseri-seri, dan bersinar, seperti namanya. Itu menjadi falsafah hidupnya. Dia selalu berupaya menjadi sinar di mana saja dan kapan saja. Selalu ceria merupakan sifat yang diwariskan ayahnya sendiri. “Sebanyak apa pun kerjaan, tetap bisa saya nikmatin. Artinya saya tetap gembira, happy.”
Keluarga besarnya dikaruniai talenta bermusik, bahkan bisa disebut keluarganya keluarga musikal. Adik-adik kandung perempuan dari suaminya (eda-eda-nya) memiliki suara yang bagus bagus. Bahkan juga menular ke anak perempuannya. Talenta bernyanyi dan bermusik keluarga besar ini disalurkan dengan membentuk kelompok koor yang diberi nama “Bersinar,” dan sering menyanyikan kidung lagu “Bersinar”. Uniknya, lagu “Bersinar” ini diaransir oleh Hutahuruk, yang kebetulan juga edanya. Menjadi keunikan sendiri, karena nama Batak Aurora adalah “minar,” yang berarti ceria atau berseri-seri yang juga disinonimkan dengan kata bersinar. Akhirnya, koornya ini dinamakan “Bersinar.”
Keakraban dan kebersamaan dalam keluarga besarnya disimbolkan melalui sebuah patung karya pematung Dolorosa Sinaga. Patung yang menempati salah satu ruangan rumahnya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, berjudul ”Namboru-Namboru.” Patung ini terdiri dari lima orang perempuan Batak. Kebetulan saudara ipar Aurora, yang sekaligus menjadi Namboru bagi anak-anaknya, ada lima orang. “Jadi, kalau ada yang nanya patung apa ini, saya sering bilang itu namborunya anak anak,” katanya senyum.
Dia sangat percaya bahwa semua yang ada di dunia ini bukalah sebuah kebetulan. Selalu berdialog dengan Tuhan dan harus selalu berserah diri kepada Tuhan adalah yang sering dilakukannya. “Semakin berserah diri, semakin tidak ada yang kebetulan,” katanya. *** Chris Poerba

ket: Telah diterbitkan di majalah Budaya Batak

Barita: 

TEMPO.COJakarta: Jajaran Pemerintah Provinsi DKI hari ini sedang berduka. Mantan Deputi Gubernur DKI bidang Pariwisata dan mantan None Jakarta, Aurora Tambunan menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Gleneagles, Singapura pada Rabu 26 Oktober 2011, pukul 10.25 waktu Singapura atau pukul 9.25 waktu Jakarta. Perempuan yang  akrab dipanggil Lola ini menghembuskan nafas terakhir pada usia 58 tahun.

Pada  1978 dokter pernah menyatakan Lola terserang kanker.  Meski bertahun-tahun penyakit itu bersarang di tubuhnya, namun Lola tetap beraktifitas seperti orang normal. Belakangan kanker kembali membuat ulah dan merengut nyawa wanita bertubuh tinggi itu.

Di mata Wakil Gubernur DKI Jakarta  Prijanto, Lola adalah sosok  perempuan yang berkarakter dengan kemampuan akademis dan keterampilan kerja yang tinggi. “Saya tahu persis gerak Lola saat masih menjadi pegawai negeri,” katanya. “Meski perempuan, dia memiliki ketangguhan seperti lelaki.”

Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Fadjar Panjaitan mengatakan, Lola adalah perempuan tangguh dan pintar. Tidak heran jika dia bisa sampai mencapai posisi eselon IA di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. “Beliau mudah bergaul, supel. Sikap inilah yang membuat seluruh kawan di Pemprov DKI merasa kehilangan,” kata Fadjar.

Perempuan yang terakhir menjabat sebagai Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sejak Agustus 2010 ini pernah merasakan karir panjang di Pemerintah Provinsi DKI. Dinas Tata Kota Pemda DKI Jakarta menjadi awal kiprahnya di pemerintahan pada 1978. Kepala Subbag Permukiman Biro Kependudukan dan Lingkungan Hidup (BKLH)-sekarang BPLHD-dipercayakan kepada wanita berdarah Batak tapi doyan lalapan khas sunda ini. Kepala Seksi Sumber Alam dan Lingkungan Hidup Bappeda Pemprop DKI Jakarta juga pernah dijabatnya.

Lola pun menyelesaikan studi Masternya di Universitas Indonesia dengan tesis Ilmu Lingkungan. Kemudian menjabat sebagai Bappekodya Jakarta Pusat, Kepala Biro Kerjasama Antar Kota dan Daerah (Kakda), dan Wakil Kepala Bappeda juga pernah dijabatnya. Hingga pada 2002-2007, Aurora dipercayakan sebagai Kepala Dinas Pariwisata. Dan kemudian diteruskan menjadi Deputi Gubernur DKI Bidang Pariwisata sebelum ditarik ke Kementerian.

Dilahirkan di Jakarta pada tahun 1953, Aurora Tambunan menghabiskan masa kecil dan remaja di berbagai kota dan negara. Itu tak lain karena tugas pendidikan ayahnya kerap berpindah-pindah, bahkan hingga ke Negeri Paman Sam, New York.

Anak sulung dari dua bersaudara pasangan BKJ Tambunan dan VAB Mangunsong ini, menamatkan pendidikan dasar di Bandung pada 1964. Saat kelas satu dan dua, wanita yang dari kecil manja sama ayahnya ini sempat merasakan pendidikan dasar di Ithaca, New York, Amerika Serikat.

Tidak berapa lama, keluarganya kembali pulang ke Bandung. Masa pendidikan dasarnya kemudian diteruskan di kota Kembang. Begitu juga dengan SMP dan SMA.  Prestasi di sekolahnya menonjol. Terutama dalam pelajaran bahasa Inggris yang  sealu mendapat dinilai 9 atau 10.

Perempuan yang memiliki hobi menari Salsa, penyuka lalapan ala Sunda dan Cokelat ini menamatkan Sarjananya di Institut Teknologi Bandung (ITB) di Fakultas Ilmu Planologi. Dia aktif aktif dalam Dewan Mahasiswa (Dema) dan memiliki  banyak kawan.

Sepuluh hari stelah meraih gelar sarjana, ia menerima pinangan  Saut Hutauruk, kakak kelasnya di kampus.  Lola menjadi warga Ibu Kota untuk mengikuti suami yang mendapat tugas di Jakarta.  Dari pernikahan itu, pasangan ini dikaruniai tiga  anak yaitu Tona, Kamala, dan Jepta.

Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2011/10/26/057363438/Aurora-Tambunan-Wanita-Tegar-itu-Telah-Pergi

2 thoughts on “Aurora Frida Riuminar Tambunan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s