Sitor Situmorang


Sitor SitumorangSitor Situmorang

Di Negeri Urat, Pulau Samosir, berbahagialah Tuan Sipallat dengan istri junjungan jiwanya, Si Boru Sangkar Sodalahi, asal klan Manurung, penguasa Pegunungan Sibisa di kaki Gunung Simanuk-manuk. Tuan Sipallat dan istrinya bermukim di Suhut ni Huta.
Namanya hidup di dunia, bukan di surga, maka suatu ketika pecahlah perang dengan tetangga. Tuan Sipallat mengajak enam saudaranya untuk bangkit menghadapi musuh. Tapi, tak seorang pun yang tergerak hatinya. Tuan Sipallat maju menggempur sendirian. Ia kalah, ditawan, kepalanya dipancung, dan oleh kepala suku pemenang kepalanya itu ditanam jadi alas tangga batu rumahnya.
Martabat klan yang kalah perang itu benar-benar terpuruk ketika Si Boru Sangkar Sodalahi membikin geger marga dan negeri. Bayankan, dia main mata, bercumbu rayu, dan kawin pula dengan kepala suku yang memancung kepala suami pujaannya. Sehari-hari pekerjaannya menenun. Dalam belaian suaminya yang baru, Si Boru Sangkar Sodalahi menenun ulos lebih rajin lagi, dan hasilnya lebih indah pula. Disuruhnyalah suaminya membuat bahan pewarna yang lebih bermutu dari ramuan alam, sehingga suaminya itu sibuk sampai malam, tanda kasihnya pada istrinya yang cantik, istri lawan yang dia taklukkan. Apabila malam, berbaringlah sang suami di pangkuan istrinya itu, hanyut dalam elusan tangan dan bujuk-rayu Si Boru Sangkar Sodalahi.
Suatu malam, dalam belaian dan kata-kata yang menenteramkan hati yang dibisikkan Si Boru Sangkar Sodalahi kepada sang suami yang dengan manjanya merebahkan kepala di pangkuannya, sang suami, karena lelahnya bekerja seharian, langsung tertidur lelap dan mendengkur. Tangan Si Boru Sangkar Sodalahi meraba leher suaminya. Bukan hasrat seksualnya yang bangkit, tapi keinginannya untuk menuntaskan obsesi untuk melampiaskan dendam atas kematian suami pertamanya, Tuan Sipallat. Dia menoleh seraya menyisipkan tangan ke bawah tikar. Dari situ dihunusnya sebilah pedang. Cahaya samar pelita terpantul di mata senjata itu. Dia menatap leher suaminya, dan secepat kilat ditebaskannya pedang itu. Dan kepala suaminya terpelating, menggelinding, dan darah bersimbah. Lantas dia berdiri, mengambil kain ulos ragihidup dari peti pusaka. Cepat-cepat dia turun ke bawah. Sambil menangis tanpa suara, dia gali tengkorak suaminya dari dasar tangga batu itu. Dibungkusnya tengkorak itu dengan ulos pusaka. Dia naik lagi ke rumah, diambilnya tikar, dengan perasaan jijik dibalutnya kepala dari musuh suaminya, dan dia berangkat menuju Suhut ni Huta, pusat marga suaminya yang pertama.
Sampai di huta itu, Si Boru Sangkar Sodalahi mengetuk gerbang benteng. Kepada penjaga dia mengatakan dia datang untuk menyerahkan sesuatu. Kedua penjaga, yang mengenalnya, kontan mengusirnya. ”Kami tak perlu apa-apa dari kamu. Tunggu kami pada waktunya ke tempatmu, mengambil apa yang kami perlukan, kepalamu dan kepala suamimu itu!”
Si Boru Sangkar Sodalahi tidak menyerah. Katanya, dia harus bertemu dengan kepala marga dan tidak akan pergi sebelum dizinkan masuk. Wali adat dibangunkan, berunding. Si Boru Sangkar Sodalahi akhirnya diperkenankan masuk menghadap.
”Malam ini saya membawa kembali leluhurmu, kembali pulang ke rumah ini, melunasi utang batin yang tertimpa di atas kepalamu semua!” ucap Si Boru Sangkar Sodalahi mantap seraya melepas gendongan dan menggelar tengkorak suaminya yang pertama. ”Inilah junjungan kita, yang saya tebus kehormatannya.” Dengan takzim katanya pula: ”Kamu jadi saksi sekarang, apakah saya pengkhianat ataukah istri yang setia sampai mati.” Rapat adat terpaku. Yang hadir hanya bisa menangis memandangi tengkorak yang tergeletak dalam kebesaran ulos.
Selang beberapa lama, dilaksanakanlah upacara adat untuk merehabilitasi perempuan yang gagah berani setinggi langit itu. Kedudukannya di dalam marga dipulihkan, dan anak yang dikandungnya dianggap sebagai ”darah daging kami sendiri, oleh karena ia adalah buah bisikan roh leluhur.” Maka, lahirlah seorang anak laki-laki, dan diberi nama Si Marsaitan.
”Saya adalah keturunan Si Marsaitan generasi ke-12,” tulis Sitor Situmorang dalam biografinya, ”Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba.”

Tahanan nomor 5051
Unik, kuat berakar pada tradisi Batak nan purba, heroik, namun tak bebas dari godaan zaman, itulah Sitor. Ayahnya berumur 74 tahun ketika dia dilahirklan oleh istri kedua ayahnya. Sang ayah meninggal dalam usia 123 tahun. Tanggal 2 Oktober tahun ini Sitor akan merayakan ulangtahunnya yang ke-85. Tapi, siapa tahu, mungkin dia sebenarnya sudah berusia 86 tahun ketika itu. Dia memang yakin lahir 2 Oktober, tapi tahunnya meragukan antara 1923 atau 1924. Karena catatan yang kurang jelas di dalam buku gereja, katanya.
Sitor adalah penyair Indonesia paling produktif dibandingkan sastrawan seangkatannya atau para pendahulunya. Dia telah menulis sekitar 103 puisi yang terkumpul dalam tiga antologi. Melampaui Chairil Anwar yang hanya 69, Sanusi Pane 48, dan Amir Hamzah 52. Tak ada penyair yang mengembara sejauh yang telah diseret kakinya. Dari Harianboho, di lembah Pusuk Buhit, di mana manusia Batak yang pertama diturunkan Dewata, dia menginjakkan kaki di Batavia, lantas bertualang di Belanda, Italia, Spanyol, bertahuan-tahun bermukim dan bolak-balik Jakarta-Paris. Tak ada yang cukup berani membawa sikap bohemian ke dalam kehidupan keluarga sebagaimana yang telah dia tunjukkan dalam hidupnya. Berpisah dengan istri pertamanya, Tiominar Nainggolan, untuk kemudian merebahkan kepalanya yang sarat puisi nan romantis ke pangkuan seorang perempuan Belanda yang telah membawa aura baru ke dalam gaya hidupnya yang berbunga-bunga: Barbara Brouwer. Hubungan asmara yang sempat dilukiskan VS Naipaul, pemenang Nobel Sastra 2001, di dalam salah satu bukunya, hasil kunjungannya ke Indonesia. Keterlibatannya dalam politik menyebabkannya harus mengenakan baju tahanan Orde Baru bernomor 5051. Sebagai sahabat dan pengikut Soekarno dia mendekam dalam penjara kekuasaan Suharto yang fasistis selama delapan tahun tanpa proses pengadilan. Dibebaskan tahun 1976.
”Saya bukan orang mistik, namun dibesarkan dalam alam yang dirasuki mistik pada masa kanak, di mana mitos dan silsilah, silsilah dan mitos adalah anak kembar impian manusia, yang sekaligus jadi pegangannya. Dunia ini adalah kata kias untuk penjara, secara kebatinan tentunya, untuk orang yang percaya akan yang gaib seperti Ayah, seperti Kakekku,” katanya. Namun, Sitor dipenjarakan bukan karena yang gaib, tapi oleh yang nyata, tersebab pilihannya untuk bersahabat dan memperjuangkan pandangan politik seorang nasionalis besar yang bernama Soekarno.
Karena gagasan Soekarno mengenai keniscayaan bersatunya kaum nasionalis, agama, dan sosialis-komunis untuk kejayaan Indonesia, Sitor sebagai ketua Lembaga Kebudayaan Nasional awal tahun 1960-an bekerjasama erat dengan para tokoh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Sebagai penyair, dia bersama Rivai Apin berkunjung ke Tiongkok pada masa itu, pulang-pulang dia menulis sejumlah puisi perjalanan yang kemudian diterbitkan dengan judul ”Zaman Baru” — mengambil nama majalah terbitan Lekra yang dipimpin oleh Rivai Apin.
Para pengamat sastra ketika itu memberikan tinjauan dan komentar baik yang memuji maupun mencerca serta menuduh Sitor telah terlalu jauh mencemari sastra dengan politik melalui kumpulan puisi itu. Namun, banyak yang mengenang puisinya yang berjudul ”Makan Roti Komune” sebagai puisi perjalanan berbobot politik yang mempesona. Perpaduan yang serasi antara sikap politiknya dengan pencapaian artistik dalam dua puisinya yang monumental, ”Lagu Gadis Itali” dan ”Jalan Batu ke Danau.”

Jantung bypass
Delapan tahun dikerangkeng Orde Baru, sikap Sitor tidak berubah sebagai seorang pengikut dan pengagum Soekarno. Dalam sebuah pertemuan belum lama ini, di rumah salah seorang anaknya, dari istri pertama, di wilayah Sawangan, Jawa Barat, sedang hangat-hangatnya Sitor berbicara, salah seorang tamu yang masih muda menimpali, bukankah Soekarno tidak bebas dari kesalahan? Gesit bagaikan seorang yudoka, Sitor dengan cepat bangkit dari tepat duduknya dan meninju meja: ”Bah, kau pikir Soekarno itu malaikat?!” Bibirnya bergetar dan menatap dengan tajam anak muda yang berada di depannya seperti mau menelannya.
Sitor berdiri begitu kokoh, dan tampak lebih sehat dari lima tamu yang sedang mengeruminya. Layaknya dia belum pernah menjalani operasi jantung bypass, di mana lima pembuluh darah jantungnya dipotong. Hanya garis yang memotong di pojok matanya yang menunjukkan dia sudah berusia mendekati 85. Juga mata kirinya yang menjadi lebih sipit dibandingkan dengan yang kanan.
Kemudian dia meletup kembali: ”Kalau ada bukti bahwa Soekarno itu menangkap Syahrir, barulah akan saya katakan sekarang di tahun 2009 ini, Sitor Situmorang, pengikut Soekarno, akan menyerukan hapus jasa-jasa Soekarno.” Dengan tetap tegak tantangnya pula: ”Apa salah Soekarno? Katakan! Syahrir berlindung di belakang Soekarno sehingga bebas dapat berkumpul dan bertemu dengan kelompok radikal. Jepang takut menjamah Syahrir karena ada Soekarno yang melindunginya.” Sitor mentah-mentah menolak sang pemimpin pujaannya, Putra Sang Fajar, sebagai kolaborator Jepang.
Ketika salah seorang tamunya berusaha untuk menenangkan suasana percakapan yang memanas, dan bertanya apakah dia dalam usia selanjut seperti sekarang masih minum bir kesukaannya, dengan ligat dia menjawab: ”Ah, itu harus…” dan dia tertawa terkekeh. Giginya masih kuat menyantap makanan yang disantap anak-anak muda tamunya. Bedanya, dia harus menelan pil penjaga kestabilan kadar gula di dalam darahnya.
Ketika ditanya, apa rahasianya bisa bertahan hidup dengan usia yang panjang dan relatif sehat, dia menjawab: ”DNA menentukan,” jawabnya. Sitor bersaudara sembilan orang. Ayahnya, yang berjuang melawan Belanda bersama Raja Sisingamangaraja XII, adalah manusia fenomenal. Seperti manusia yang tidak bisa-bisa mati-mati. Setiap kali merasa ajal sudah mendekat, sang ayah memanggil putra-putranya. Sitor dan saudara-saudaranya secara berasama datang menyampaikan persembahan dan sungkem di hadapan sang ayah. Upacara seperti itu sudah lima kali dilakukan sebelumnya, sejak 1950-1962, ”karena Ayah setiap kali merasa dekat ajalnya sudah. Tapi ternyata ia hidup terus.”
Menurut Sitor dalam biografinya, tahun 1963, ketika ayahnya sudah bertahun-tahun sakit, sang ayah menyimpulkan ”tak akan mati sebelum putra kelimanya, yaitu saya (Sitor) ikut hadir. Saya disuruh jemput dari Jakarta oleh utusan dan dengan biaya untuk pesawat terbang. Beberapa bulan kemudian, setelah upacara itu, ia pun meninggal, tanpa saya hadir.”

Berkelahi setiap hari
Ketika ditanya apakah pernah menyesal dalam hidup, mungkin karena ada yang belum bisa diselesaikan, atau ada yang tak pantas dikerjakan, Sitor menjawab: ”Soal apa yang saya kerjakan tidak ada, baik sebagai pengarang, baik sebagai manusia biasa, baik sebagai kepala keluarga. Tak ada yang perlu saya sesalkan. Pilihan politik saya pun tidak ada yang saya sesalkan.”
Bagaimana Bung ingin dikenang dalam sejarah?
”Saya tidak melihat seperti itu. Kalau saya bekerja,bukan ingin dikenang. Apa yang saya kerjakan itu yang harus dikenang orang. Bukan Sitor. Saya bisa dijelaskan dari karya-karaya saya, bukan dari dongeng-dongeng atas nama Sitor Situmorang. Pandanglah saya dari karya, apa yang telah saya sumbangkan.”
Apakah puncak yang telah Bung capai?
“Tak ada. Belum ada. Mudah-mudahan masih ada. Tapi, kalau pun tidak ada, tidak apa-apa.”
Di antara sekian banyak puisi yang telah ditulus, yang mana yang Bung anggap paling berhasil?
”Tidak ada. Sebab tema puisi saya berbagai macam. Yang satu dengan yang lainnya berbeda.”
Sitor sempat beberapa tahun mengajar Bahasa Indonesia di Belanda. Dia mengaku tak bisa mencari uang di luar menulis, mengajar, dan berbicara mengenai kebudayaan dalam berbagai pertemuan. Di Belanda, Perancis, dan Jerman dia kerap diundang sebagai “duta besar Tanah Batak,” dan diminta ceramah mengenai Batak dari dalam. Sebagaimana yang tercermin dalam bukunya, “Toba Na Sae,” sikapnya selalu beranjak dari pandangan dan pengamatanya sendiri. Dia tidak terpengaruh, alah mengkritik, para peneliti Barat. Contohnya, kesimpulan Barat yang mengatakan orang Batak suka berperang setelah mengamati huta di Tanah Batak yang dikelilingi batu-bartu besar. “Kalau berperang dan berkelahi setiap hari bagaimana orang Batak bisa hidup sampai sekarang!” sanggahnya.
Dia menjelaskan batu yang mengelilingi setiap huta, yang kelihatan mirip benteng itu, muncul karena upaya untuk memperluas areal tanah persahawan. Batu-batu itu disingkirkan dan ditumpuk agar bisa dikerjakan lahannya. Proses penyingkiran bebatuan itu berjalan sejak peradaban Batak berkembang.
Sitor berniat untuk berada di Indonesia sampai Oktober tahun ini, untuk merayakan ulangtahunnya yang ke-85 di sini. Niat itu kelihatannya akan kesampaian juga. Karena istinya, boru Belanda, Barbra Brouwer, baru saja menandantangi kontrak untuk bekerja selama setengah tahun di Kedutaan Besar Kerajaan Belana untuk Indonesia. Menjadi koordinator kegiatan seni dan budaya di keduataan tersebut. Barangkali, pada perayaan ulangtahun itu anaknya, satu-satunya yang diberikan Barbra, yang sedang mengadakan penelitian di Tibet, akan hadir dan menyaksikan bagaimana ayahnya disanjung di negerinya yang kedua ini. *** Martin Aleida, laporan dari Chris Poerba

ket;telah diterbitkan di majalah TAPIAN

Iklan

3 Comments

  1. saya fery situmorang suhut nihuta,ingin berkenalan dengan sitor situmorang. saya ada menyimpan satu benda pusaka dari tuan sipallat situmorang, apa boleh saya mendapat petunjuk, bagaimana cara terbaik mengurus benda tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s