Bonar Gultom (GORGA)


Drs. Bonar Gultom (GORGA)Bonar Gultom
Tempat Tanggal/Lahir;
Siborongborong, 30 Juni 1934
Pendidikan;
Sekolah Rakyat SR di Dolok Sanggul, Humbang-Hasundutan
Mulo di Siborongborong, Tapanuli Utara
Sarjana dari Universitas Indonesia, Jakarta (1963). Selalam dalam kuliah beasiswa penuh oleh Perusahaan Belanda: NV Vereenigde Deli Maatschappijen.
Pekerjaan;
Jabatan Terakhir sebelum pensiun pada tahun 1989 adalah Direktur Komersial dan Umum pada PT Perkebunan Negara XIII, Bandung, Jawa Barat.

Keluarga:
Istri Leila Ester Sitompul
Anak; tiga putera dan tiga putrid
Menantu empat orang anak
Cucu sepuluh orang cucu (2006)

Pengalaman Musik
Otodidak. Sejak kecil senang menyanyi dari umur delapan tahun
Juara I menyanyi seriosa Pekan Kesenian Mahasiswa Seluruh Indonesia pada 1958 di Yogyakarta dan tahun 1960 di Denpasar, Bali
Juara-I menyanyi seriosa bintang Radio Republi Indonesia di Medan dan kemudian di Jakarta (Nasional) 1968
Aktif sebagai anggota Paduan Suara Gereja sejak SMA dan diteruskan selama Mahasiswa.
Pemimpin dan pelatih Suara Gerejawi dan Nasional sejak Mahasiswa 1958 hingga sekarang.
Paduan Suara NHKBP Menteng Jalan Jambu, Jakarta.
Paduan Suara SERDAM ROHANI, Jakarta, mendampingi bapak E.L Pohan
Paduan Suara Ibukota, Jakarta mendampingi Binsar Sitompul
Paduan Suara Pria Immanuel GKPI Medan
Paduan Suara Gabungan GKPI Medan
Paduan Suara Exaudi GKPI Ciliwung-Bandung
PS Anugerah HKBP Jakarta
PS Gerja Bethel Indonesia, Tanjung Priok- Jakarta
PS Sola Gratia GKPI Menteng- Jakarta
Khusus sebagai PS Anugerah HKAP Jakarta, Gorga—pernah mengantarkan 2 kalu Paduan Suara ini tampil dalam konser internasional di Amerika Serikat, Yaitu 1991 dalam tour – I ke Los Angeles Conductor
memimpin gabungan Paduan Suara yang terdiri dari kontingen yang berasal dari 33 Provinsi di Indonesia, menyanyikan Mnazmur 150 ciptaanya yang menjadi lagu wajib pada Pesperawi Nasional ke VI di Istora Senayan, Jakarta, dihadapan Presiden RI pada saat itu Gus Dur hadir
mencitakan 150 lagu rohani dan non rohani—sekaligus mengrasemen untuk segala jenis musik dalam Paduan Suara.
Dalam Lomba Pasparawi Nasional ciptanya menjadi lagu wajib diantaranya;
“Doa Bagi Negara” menjadi lagu wajib PS-SATB Golongan A pada Pesparawi ke III di Medan 2006
“Langit Menceritakan” menjadi lgu pilihan wajib PS-SATB golongan B pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
“Yesusku juru Selamatku” menjadi lagu pilihan trio SSA pada Pesparawi ke VIII di Medan tahun 2006
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung” menjadi lagu wajib solis remaja pada Pesparawi ke Vii di Makassar tahun 2003
“kepada siapa Aku Harus Takut” menjadi lagu pilihan pertama PS-SATB pada pesparawi ke VII di Makassar tahun 2003
“Pujian Allah di tempat kudusNya” menjadi Lagu Wajib pada Pesparawi ke VII di Jakarta tahun 2000
“Persaudaraan Yang Rukun” menjadi lagu pilihan pada Pesparawi ke aV di Surabaya 1996
hampir semua lagu ciptaanya telah dikenal dan dinyanyikan menjadi judul album mereka. Lalu tersebut dipakai sebagai lagu wajib.
Dan menerjemahakan lagu-lagu asing ke dalama bahasa Indonesia dan bahasa Batak, sekaligus membuat aransemen paduan suaranya, antaranya;

O Holy night (Malam Suci?Borgin Na Badia) karya Adolphe Adams
No Body Knows (Holan Tuhan Yesus) Negro Spritual
Deep River (didia) Negro Spritual
My Heavenly Father Watches Over me (Tuhan ku menjaga aku) karya Charles Gabriel
God And Alone (hanya Allah Hu ) karya Phil Mc Hugh
Majesty (Pujianlah Yesus) karya Jack Hayfort
He is Exalted (Tuhanlah Raja Semesta) karya Twila Paris
You Raise Me Up karya Rolf Lovland (dipopulerkan oleh Josh Groban dan davi Foster)
Bagai Tetesan Embun karya Putri dan Maruli Simorangkir ,SH
Terima Kasih Tuhan karya Putri dan Maruli Simorangkir, SH
Bunga Pansur karya Cadman dan roger Wagner
Dolok Betany karya NN (Transkripsi dari kaset berbahasa Jerman)
Yesus Gembala Yang Baik karya H. R Palmer
Were You There (Uju I di atas ni sada dolok) Negro Spritual
Natarsilang do Kristus karya W.A Mozart
Narer My God to Thee karya sarah Adams dan Lowell Mason
Holan Tuhan Jesus, Negro Spritual
Nyanyian Kidung Natal karya W.A Mozart
Nearer my God to Thee karya Sarah Adams dan
Gog be With You Sai Tuhanta mandongani Ho karya William G. Tomer
Laiseir d’Amour Tuiahn Berkatilah karya Giovani Martini
Sejauh Timur dari Barat karya Jonathan Prawira
Maha Mulia (Namarmulia) karya G.F Handel
Ada saatnya kita jumpa karya Taralamsyah Saragih
Ya Allah Bapa karya st A. K Saragih
Tumbuhan Poyon-Poyon karya St A.K Saragih
The Prayer karya Carol Sager dan David Foster
Ave Maria karya Franz Schubert

Lagu Lagu Etnik yang daransemen ke Bahasa Inggris diantaranya:
Yamko Rambe Yamko (Papua) menjadi stand Tall, God Loves Us ALL
Jali-jali (Betawi) menjadi Up Anda Down
Bukit Kemenangan Karya Djuahari menjadi My God is Near Me

Karya Opera
Argado Bona Ni Pinasa (Opera Batak), 1969
Parsorion ni Parmitu (opera Batak), 1970
Kembali ke Betlehem (Opera Natal) 1972
Putih dan Hitam (opera Natal) 1972
Nostalgia Masa Hasiswa (Opera Komedi) 1979
Tumba Singamangara XII (Opera Sejarah) 1980
Kasih Paling Agung (Opera Paskah) 1982
Lilin-lilin Perdamaian (Opera Natal) 1983
Si Boru Tudosan (Opera Budaya Batak) 1989

Buku;
Kumpulan Karya Bonar Gultom (Gorga) diterbitkan Yayasan Musik Gerja (Yamuger)
• Kumpulan Lagu-lagu Rohani Untuk Paduan Suara jilid I 2002
• Kumpulan Lagu-lagu rohani untuk Paduan suara jilid II, 2005
• Opera Natal Putih dan Hitam 2005
• Kumpulan lagu-lagu rohani untuk Paduan Suara Wanita untuk PS Wanita jilid 2006

Konser:
• Dalam rangka menyambut tamu pemerintah Sumatera Utara di Medan lewat Opening dan Closing Ceremony Medan Fair (Pekan Raya Medan)
• Pageran Bernard dari Kerajaan Belanda (1972)
• Raja Boumdewijn dan Ratu Fabiola dari kerjaan Belgia (1974)
• Menyambut perdana menteri Lee Kwan Yew dari Singapura (1975)
• Dan menyambut Toen Abdul Razak dari Malaysia (1976) dengan pementasan “Arga do Bona Ni Pinasa” di alam terbuka ditepi pantai Danau Toba, Parapat.

Penghargaan;
Pada tahun 1975 menerima penghargaan dari pangeran Bernard dalam undangan khus ke Istana Kerjaan Belanda Soesdijk
Menerima penghargaan dari KNPI Sumatera Utara sebagai penghargaan atas peranyan dalam pengemabangan generasi muda Sumatera Utara 1980
Pada 1982 menerima penghargaan dari Pangkowilhan Sumatera Utara sebagai putra teladan.
Pada 1998 menrima penghargaan sari Gubernur Suamtera Utara atas lagu ciptaanya “Marsipature Hutanabe”
Pada tahun 2003 menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) atas prestasinya yang dicapainya saat menyutradarai pementasan Opera Arga Do Bona Ni Pinasa pada Pesta Rakyat Danau Toba di Kota Parapat sebagai opera yang melibatkan pemain terbanyak 232 orang dan merupakan pendudukan setempat.

Alamat rumah
Jalan Ayahanda No 57, RT 02/04
Kelurahan Pondok Kelapa, Jakarta 13430
Telephone ® 021-86610567
Handphone; 0811-903166
e-mail:BonarGultom @ Yahoo.com

Naskah Mentah yang belum diedit ketika mewawancarai Bonar Gultom (Gorga)

Bonar Gultom yang lebih dikenal dengan nama Gorga adalah anak dari almarhum Julianus F. Gultom dan Marianna Naomas br Hutahuruk. Kepada saya selalu dipanggilnya tulang, karena Hutauruk dengan Lumban Gaol adalah satu group marga ni Naipospos. Ayahnya adalah mantan pensiunan camat. Menikah dengan Lela Ester Sitompul (67) pada tahun 1962, dan dikaruniai enam orang anak. Di usianya yang tidak muda lagi (73) ini, dia masih aktif mengarang lagu. Tepat ketika ini saya dari majalah TAPIAN hendak mewawancaranya di rumahnya Jalan Ayahnda No 57, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Pada 19 Oktober 2006. Hasil wawancara ini tak pernah diterbitkan, karena waktu itu Tapian dengan adalah redaksi mengganti tema lain untuk wawancara. Maka hasil wawancara ini adalah murni bahan mentah, sekaligus orisinil. Banyak hal yang dia ceritakan; termasuk dia tak habis pikir kenapa ada orang Batak membakar ulos. Lalu kritiknya terhadap group trio-trio Batak, termasuk masukkannya untuk Vicky Sianipar.

Ket; TAPIAN = Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

GORGA= Bonar Gultom

Demikian petikannnya

TAPIAN; Apa sebetulnya hubungan turi-turian  dengan opera Batak, ada nggak hubungannya?

GORGA; Saya rasa ada. Kalau nggak salah dulu legenda boru Tumbaga, itu adalah satu turi-turian. Yang lalu dibuat dramanya oleh Tilhang Gultom. Saya dengar tahun 1921, waktu itu saya belum lahir. Tilhang sudah membuat opera Batak.

TAPIAN; Dengan nama Serindo?

GORGA; Yang membuat namanya Serindo itu dulunya Sukarno. Dulu lain namanya, tetapi dia mendapat penghargaan dari Soekarno. Waktu itu diminta diubah namanya menjadi seni ragam Indonesia (SERINDO).

TAPIAN; Opera yang dipentaskan Serindo, apakah benar diadaptasi dari turi-turian?

GORGA; Memang saya tidak tahu persis. Tetapi dia katanya pernah membuat opera mengenai boru Tumbaga—boru Tumbaga itu mengisahkan suka-duka bagaimana kisah orang yang tidak mempunyai saudara laki-laki. Dulu, sesuai dengan adat-istiadat kita yang zaman dulu itu. Satu keluarga itu selalu mendambakan harus ada anak laki-laki, kalau dia hanya perempuan, tidak memiliki saudara laki-laki. Maka warisan-nya akan hilang. Jadi, yang berhak untuk mewarisi warisan orang tua hanya laki-laki.

Begitulah kisah dua orang saudara perempuan itu diperlakukan orangtuanya laki-laki, dengan mengalami penderitaan bathin. Jadi itulah akibat adat yang kuno, memang kalau dilihat dari sekarang yang benar itu. Setelah adanya emansipasi wanita. Yang terlebih dahulu dibudayakan oleh bangsa-bangsa Barat yang kemudian masuk ke budaya kita. Atau barangkali itu semacam kritikan dulu terhadap adat istiadat yang tidak benar. Saya sendiri hanya mendengar saja. Ya membaca-baca serba sedikit. Dari naskah boru Tumbaga itu.

TAPIAN; Jadi, bisa nggak disimpulkan Tilhang Gultom lah memulai semua opera-operanya itu dari legenda-legenda yang ada?

GORGA; Bisa. Ada juga, yang membuat drama dari sejarah. Misalnya ada dulu yang bernama Saman membunuh keluarga suami istri, wanita masih hamil. Dulu hal itu sangat terkenal—karena pembunuhan itu adalah sesuatu yang dibenci orang, atau dianggap jahat ya. Karena pembunuhan itu sesuatu yang mengemparkan. Jadi itu dibikin jadi cerita lalu dipentaskan.

TAPIAN; Berarti dulu opera Batak itu terkenal dong, lalu kenapa sekarang tidak begitu menonjol, sama seperti misalnya, ketoprak humor Jawa?

GORGA; Iya beda. Yang saya tahu bahwa ketoprak humor semacam Srimulat itu kan dibuat hanya sebagai humor dan memang mengandung humor. Sedangkan dalam opera Batak itu humor dibuat hanya sebagai selang-seling daripada jalan cerita. Lalu, lelucon dipakai sebagai nyanyi-nyanyi sebagai selingan.

Jadi kalau kita lihat semacam di Jawa katakanlah Srimulat, saya nggak tahu apakah dulu Srimulat itu dulu berpindah-pindah tempat untuk mencari penonton. Kalau Serindo dulunya mereka yang mencari penonton—dari daerah yang satu ke daerah yang lain. Jadi bukan penonton yang mencari ke mana mau menonton, Serindo lah yang mendatangi penonton. Itu diingat ya, opera Batak dulu ciri hanya mereka mencari penonton jadi mereka datang mendatangi penonton satu kota, di luar daerah, desa, kampung. Saya nggak tahu apa ia pernah kepulau Jawa ya.

TAPIAN: Katanya pernah….

GORGA: Oh ya. Itukan sesuatu yang hebat. Mereka itu adalah seniman-seniman yang kreatif membuat satu tontonan. Di lain itu mereka pasti mempunyai manajemen yang bagus untuk mengelola Serindo. Bayangkan puluhan pemain harus diangkut kemana-mana. Dan alat-alat itu, property semua yang diperlukan. Untuk bisa membuat pertunjukkan itu, layarnya, pembatas-pembatas didingnya dan bahan-bahan untuk pentas tersebut. Karena itu, mereka sering main di lapangan. Harus ditutup panggung-nya itu supaya orang lain tidak bisa melihat dari luar dan orang mau bayar tiket untuk menonton. Dan peralatan itukan tidak mungkin mereka sewa dan itulah kehebatan mereka. Mereka juga saya kira harus ada alat angkut. Tetapi mereka bisa lakukan. Dan anggota-anggota nya itu setia,  dan bisa dibawa kemana-mana. Padahal, mereka kan hanya mendapat penghasilan dari penjualan tiket. Mereka  mungkin tidak dapat donatur model jaman sekarang, sponsor yang memamfaatkan kegiatan itu sebagai bahan untuk promosinya. Seperti sekarang inilah kalau kita ingin mengadakan acara mau sajalah mungkin sponsor itu. Orang-orang mau melihat produksinya apa. Sedang mereka, murni dari penjualan tiket. Puluhan orang, kadang mereka itu mereka itu ada yang sudah suami istri. Betul-betul mereka tergantung dari pada hasil mereka itu.

TAPIAN; Berarti luar biasa dong ya….

GORGA; Iyalah, bayangkan sudah perongkosan-nya banyak dan pindah-pindah tempat. Itu berarti manajemennya sangat hebat.

TAPIAN: Kalau demikian bisalah disebut Serindo itu yang pertama-tama membuat turi-turian Batak ke dalam opera Batak?

GORGA; Bisa barang kali. Yang pertama yang dilahirkan si Tilhang. AWK Samosir itu salah seorang murid Tilhang yang terus meneneruskan cita-cita Tilhang itu. Bahkan si AWK Samosir pernah mendapat pesan dari Tilhang Gultom untuk terus melestarikan Serindo—meneruskan pelestarian seni budaya. Jadi bisa dipastikan Tilhang Gultom sebagai pelopor.

TAPIAN: Sebagai seorang seniman, karya Anda sudah melanglang-buana, apakah Anda pernah juga mementaskan opera seperti itu?

GORGA: Pernah. Tetapi dengan warna dan bobot yang berbeda dengan Tilhang Gultom. Dan ceritanya pun saya bikin sendiri pada tahun 1969.

TAPIAN: Judulnya apa waktu itu?

GORGA: Arga Do Bona ni Pinasa (Arbonansa). Anda mengerti kan? Bahwa dalam budaya Batak itu arga do bona ni pinasa itu adalah pesan yang bernilai tinggi. Bahwa tanah kelahiran itu salah satu yang mulia, yang indah yang bagus. Maka, kemana pun kita merantau kita selayaknya kembali. Maka kampung itu (Bona ni Pinasa) ibarat kemana pun ia  berada harus tetap diingat. Karena kampung itu sendiri kan tidak pindah-pindah ia tetap di sana. Tetapi itu sesuatu yang luhur yang mulai dan kita sebaiknya kembali ke situ. Kita sudah tua kemanapun kita merantau kita harus kembali ke Bona Pasogit kita.

Jadi itulah opera yang pernah jaya saya ciptakan dengan judul Arbonansa. Tetapi agak berbeda dengan operanya Tilhang Gultom, yang saya dengar karena waktu itu saya belum pernah melihat, pokoknya saya tidak pernah nonton opera hanya dengar saja. Tetapi yang kami dengar mereka itu, drama lagu dan lelucon hanya selingan.

TAPIAN: Apa bedanya?

GORGA; Bedanya. Semua dialog saya nyanyikan, atau saya suruh orang menyanyikan. Jadi dalam cerita itu dinyayikan—jadi misalnya; “Gorga..gorga ho do I hulaning” (sambil dinyanyikan) tetapi tetap di atas pentas.

Ide itu datang dari opera klasik yang pernah saya lihat dan dengar waktu ke Eropa—memang opera drama sebenarnya itu adalah bukan diomongkan tetapi dinyanyikan. Itu dulu Arbonansa itu dulu menceritakan seorang pemuda Batak menanjak dewasa maklumlah ia telah bosan, padahal kampung halaman-nya begitu indah, Danau Toba yang demikian indah. Saya sendiri sangat merindukan hidup dipinggiran Danau Toba itu. Bahkan kalau bisa saya bisa tinggal di pinggir Danau Toba itu. Karena bagi saya itu alam yang agung memberikan kedamaian dan keteduhan jiwa. Tetapi, baru-baru ini saya tinggal di Samosir mengajar penari-penari, panortor, marmocat (bersilat), melatih paduan suara. Mereka tidak bisa menghayat keagungan alamnya.

TAPIAN ; Di daerah mana itu?

GORGA: Di Samosir pesta Simbolon se-dunia yang barusan diadakan itu. Saya satu bulan di sana untuk menata acara. Yang menelisik adalah, saya memperhatikan orang di sana belum begitu sadar bahwa alamnya tidak di tempat lain, bahkan keindahan alamnya tidak mempengaruh sifat keindahan dan jiwa yang lembut masyarakat. Mungkin juga karena mereka melihat tiap hari mereka bosan dan bagi mereka itu sesuatu yang biasa. Tetapi saya sendiri kalau pergi ke Samosir saya memperoleh keteduhan jiwa. Kenangan pikiran, sejahtera membuat saya menjadi lembut. Jadi itulah ceritanya seorang pemuda yang pergi melanglang-buana ke Eropa ingin mencari sesuatu yang indah.

TAPIAN; Padahal dalam diri dia ada yang lebih indah….

GORGA: Iya. Seindah apapun di luar sana itu bukan milik dia. Nggak bisa dibilang dia orang Belanda atau orang Eropa, tetap dia orang Batak. Yang bisa dia miliki adalah hanya menikmati, dan yang bisa dinikmati dari luar dalam adalah kampungnya sendiri. Jadi ceritanya dia kembali kekampungnya.

TAPIAN; Mengapa nama “Gorga” melekat pada Anda, bagaimana ceritanya?

GORGA; Oh nama pemuda itu namanya si Gorga. Saya waktu mencipta itu, saya carilah nama Batak—yang betul murni marlapatan hata Batak (Gorga artinya goresan) nama orang Batak yang asli lah. Lalu, nama teman si Gorga itu saya buat namanya si Mampe.

TAPIAN;  Apakah Anda yang memerankan tokoh si Gorga itu?

GORGA; Iya. Sayalah yang memerankanya. Lalu, istri saya dipanggil si Marlinang waktu itu ikut ia main yang kemudian ia pariban si Gorga yang dikawini. Dan itulah ceritanya. Dan pemain-nya waktu itu kami 150 orang sekali naik pentas. Si Gorga ini pulang disambut dengan gondang Batak, semua orang manortor menyambut dia. Ia menangis menyanyikan permohonan-nya kepada orangtuanya “Amang dohot Dainang nanihaholongan marpamuati marohamuna…” (sambil dinyanyikan). Jadi ayah ampunilah saya yang dulu yang berbuat yang salah—sekarang sudah kembali.

TAPIAN; Ceritanya Gorga pulang dari mana?

GORGA: Setelah dia pulang dari luar negeri tadi, pokoknya dia manuntun lomonirohana mencari yang baik di luar , merantau ke luar negeri.

TAPIAN; Dalam momen apa waktu itu operet itu ditampilkan. Sehingga operet Arga Do Bona ni Pinasa “ABONANSA” sukses pementasan-nya?

GORGA; Sebetulnya yang membuat operet itu disukai karena caranya. Dulu kan yang kenal masyarakat Batak kan hanya operanya Tilhang Gultom, lalu paling orang nonton bioskop. Waktu itu sudah ada bioskop. Dan tiba-tiba kami tampil dengan warna yang berbeda. Dan terus terang kami beda dan tampil beda dari yang lain. Bobot pemain sekitar 150 orang. Dan di atas pentas kira-kira 40 meter kali 20 meter gedung olahraga Medan itu penuh seperlima gedung dijadikan pentas.

TAPIAN; Di teladan Medan?

GORGA; Bukan di teladan. Kalau yang di Teladan itu opera Natal—kalau opera Abonansa itu yang dipentaskan di Gedung Olahraga Medan. Jadi kalau ditanya tadi mengapa terkenal. Itu dulu, gayanya beda pemain-nya, jumlah pemain-nya klosal.

Dan semua itu lagu-lagu yang ia sampaikan itu adalah lagu Nahum Situmorang kita nyanyikan secara koor. Acara-nya megah dinyanyikan ratusan orang. Sesuatu waktu itu di kuping orang adalah beda. Lalu dalam pentas kita tunjukkan orang-orang berprofesi partonun (penenun), Panduda, pardengke (penangkap ikan), barangkali mengingatkan penonton—bahwa dia pernah menjadi mardengke mambau bayon, mambau lage. Sehingga membuat orang tidak berkecil hati. Menjadikan sesuatu yang indah. Bahwa pekerjaan itu semua indah.

TAPIAN; Jadi asik dong ya?

GORGA; Semua pekerjaan yang membuat dia indah. …tik..tuk..tik.tu..(sambil dinyanyikan seperti suara gondang). Semua pekerjan itu tenyata semua seni, marjala, mardoton.

TAPIAN; Mardoton itu apa?

GORGA: Mardoton itu menankap ikan dengan jala. Doton itu semacam jala. Kalau jala yang Anda kenal kan dilempar. Kalau ini adalah jala yang ditarik. Jadi penonton melihat itu bukan pekerjaan yang hina. Dilihatnya bisa ditunjukkan di pentas.

Nah, dan setiap pertunjukkan kami tidak mau mundur waktunya selalu on time. Ada tidak ada penonton tepat pada jam pertunjukkan kita tetap akan mulai. Terus main sampai selesai. Kalau Tilhang tutup dulu layar dan di situ diperdengarkan nyanyian atau lelucon—atau nyanyi. Kalau kita sekali buka dan sekali tutup—jadi non-stop, jadi orang akan berganti-ganti. Kalau kita tidak ada istilah istirahat.

TAPIAN; Berarti dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk latihan?

GORGA; Kita latihan untuk satu pemetasan itu selama empat bulan. Disinilah perbedaan dengan opera Tilhang Gultom. Jadi, nyanyianya adalah mengungkapkan nyanyian cerita. Jadi bukan antara adegan antara adegan dengan adegan. Semua dinyanyikan. “Nungga leleng hu tadikkon tano hatubuaki” (dinyanyikan) “Laho ahu mangaratto  tu nadao, manarikkot I…

TAPIAN: Berarti personilnya semua harus pintar menyanyi dong?

GORGA; Iya dong. Iya lah. Sebab jika tidak dia bisa dijadikan hanya peran pendamping saja.

TAPIAN; berarti semua dialognya di opera itu dinyanyikan dong?

GORGA; Oh ada dialog, waktu dia mau kawin. Orangtuanya ngomong “Amang Gorga pir matondim-“ tetapi waktu sudah menikah “Horas ma amang sewaktu calon memberikan mertuanya memberikan ulos hela. Horas ma dainang gabe jala horas sahat tu joloan on. Maranak ma sapulu pitu, marboru masapulu onom. Gabe ma hamu gabe jala horas.

TAPIAN; Jadi ceritanya itu jadi runut waktu dinyanyikan?

GORGA; Iya. Lalu terus. Untuk membagi jambar,”jambar ni dongan tubu ale—rap hita manjalo ate. Kalau yang biasa kan, tidak demikian.

TAPIAN; Enak didengar tapi penonton mengerti ya?

GORGA; Ya ialah. Orang akan heran ternyata kok bisa dinyanyikan rupanya. Jadi waktu itu membuat “Gorga” menjadi sangat terkenal waktu itu. Dan Gorga itu sangat diminati oranglah, pokoknya penonton penuh terus. Lalu kami dibawa ke Rapat Pimpinan ABRI (RAPIM) waktu itu Jenderal Pangabean menjadi Panglima ABRI, Jenderal Tahir waktu itu sebagai Pangkowilhan.

TAPIAN: Apa itu Pangkowilhan itu?

GORGA:Panglima Koordinator Wilayah Pertahanan. Dulu kan Indonesia ini dibagi atas kowilhan-kowilhan. Dan di Sumatera Utara panglimanya Jenderal Tahir, beliau itu mendengarkan opera Argado Bona ni Pinasa itu di Parapat. Waktu itu datang raja Belanda Bernard—saya diminta membuat acara menyambut Raja Bernard opera Arbonansa itu. Dan diusulkannyalah kami untuk main di RAPIM ABRI di Jakarta. Dibawalah kami satu pesawat Hercules—lalu main di Istora Senayan Jakarta tahun 1972.

TAPIAN; Tim nya waktu itu bernama apa?

GORGA: Tim Arbonansa. Dan waktu itu kami  main sampai lima malam. Berturut-turut. Istora Senayan penuh. Malah sewaktu kami sudah selesai masih datang penonton dari Bandung.

TAPIAN; Semua penontonya hanya untuk militer?

GORGA; Untuk militer hanya satu malam dan selebihnya untuk umum. Maka kami bikinlah pertujukan itu dua seri.

TAPIAN; Opera apa yang dipentaskan waktu itu?

GORGA; Arga do Bona Ni Pinasa itu tadi juga. Karena memang di Medan ia sukses. Kisah itu juga, mengenai pemuda.

TAPIAN: Atau ada dihubungkan dengan militer misalnya?

GORGA; Nggak, nggak kami tidak mau dipolitisirlah. Jadi untuk Rapim ABRI itu kami bikin adengan itu agak yang pas. Hanya dua jam semua dari cerita-cerita itu. Dalam Argado Bona ni Pinasa itu akan terungkap budaya Batak, Batak Toba, Karo, Mandailing, Batak Angkola. Sub-etnis. Ya itu seni tarinya, musiknya sudah terungkap dalam cerita itu. Bisa dilihat dari berbagai sudut; misalnya dari Suku Angkola, akan terungkap sisi musiknya. Seni tari Angkola.

TAPIAN; Waktu itu dijual tiket—dan panitianya tentara?

GORGA; Mereka hanya menyediakan akomodasi dan perongkosan segala. Itu memang hari pertama, seri I malam ke II seri III, dan malam ke IV diulang lagi. Dan malam ke lima seri II lagi. Jadi waktu itu kami meminta pelangan. Hari pertama pertunjukkan dari Medan begini-begini. Sampai ada orang menangis.

TAPIAN; Berarti gedung Istora itu penuh dong?

GORGA;  Barangkali pementasnya seperlapannya kami pakai untuk pentas.

TAPIAN; Yang mendesain pentas itu siapa?

GORGA; Ya saya sendiri loh, saya yang mengarang cerita, saya mengajari dan saya yang mendesain pentasnya. Kan saya yang tahu bagaimana seharusnya dalam pentas itu. Tidak mungkin orang lain mendesain, saya yang lebih tahu kebutuhan untuk opera itu.

TAPIAN; Barangkali Anda belajar dari panggung di opera Eropa itu?

GORGA; Sebagian. Tetapi saya ingin pentas itu dilatari alam Danau Toba. Jadi pas lah itu di Tapanuli Utara kan makin ke atas-makin melonjak. Bayangkan Samosir itu.

TAPIAN; Sekarang tentang Musik Gereja. Anda kan seorang seniman pengarang lagu gereja yang terkenal. Misalnya lagu ARBAB begitu terkenal, apa yang menginpirasi Anda mengarang lagu itu?

GORGA; Saya sendiri tidak bermaksud menciptakan lagu supaya untuk terkenal. Memang sih saya punya obsesi dari dulu, untuk orang Batak. Saya melihat tubuhnya saja yang datang ke gereja tetapi hatinya tidak. Badan-nya saja yang menjadi Kristen—seharus bukan demikian. Manusia Batak itu dengan segala kekayaannya menjadi Kristen. Dengan perkataan lain bahwa perkataan lain bahwa seni budaya itu juga perlu dibawa ke gereja, jangan ditinggalkan di luar gereja. Jadi dibawalah ke dalam gereja. Dipersembahkan kehadiran Tuhan menjadi persembahan yang baik. Kita kan punya seni musik, sebab tidak semua suku mempunyai seni musik, tidak semua bangsa mempunyai aksara tulisan. Itu harus disyukuri orang Batak. Dan persembahkan pada Tuhan. Dan Irama gondang Batak itu sangat indah—dari sana inspirasi menciptakan Arbab. (sambil menyanyikan gondang)

TAPIAN; Kenapa kalau Eropa bisa menyanyikan dengan musik Modern, orang Batak tidak bisa…kira-kira demikian kali ya?

GORGA; Iya. Kenapa kalau Eropa mereka bisa menyanyikan not baloknya, itukan bukan berarti hanya musik Eropa yang bagus. Musik kita juga bagus untuk memuji Tuhan, kalau diolah dengan bagus. Dan karena Tuhan kan cinta segala bangsa. Membawa apa yang kita miliki. Alat untuk memuji Tuhan. Notasi ARBAB itu memang suara gondang, irama, ritme nya itupun Batak. Dan setelah banyak yang mendegar lalu saya buat bahasa Indonesia-nya. Sekarang semua menyanyikan di seluruh Indonesia, di Papua, di Ambon, di Manado dan dimana-mana. Tadi saya katakan saya mengarang itu bukan dalam rangka untuk menjadi terkenal—pertama hanyalah mengangkat musik Batak memuji Tuhan. Ternyata disukai orang. Dan kalau kemudian menjadi terkenal, itu bukan karena saya usahakan atau karena kemampuan saya.

TAPIAN; Berarti waktu itu menciptakan Arbab itu mengalir sendiri?

GORGA; Iya itu mengalir sendiri dalam penciptaanya.

TAPIAN; Ada nggak syarat tersendiri untuk memunculkan imajinasi dalam mengarang setiap mengarang lagu. Apakah Anda harus berdoa dulu agar diberikan Tuhan pencerahan?

GORGA; Terus terang tidak selalu sih. Memang kadang kalah saya berdoa—tetapi tidak selalu. Terkadang dia datang tanpa diundang. Seakan terngiang diminta Tuhan untuk menulis, tidak selalu saya yang minta. Kadang-kadang bangun pagi tiba-tiba saya seperti mendengar sesuatu langsung saya tulis. Seperti orang menyanyi. Musik mengalun. Itu langsung saya tangkap, langsung saya tulis.

TAPIAN; Sejak umur berapa Anda bisa menciptakan lagu?

GORGA: Saya menyadari itu setelah berkeluarga. Setelah selesai dari Fakultas—mungkin belakangan baru menyadari bahwa saya diberikan talenta, anugerah untuk menuliskan itu semua. Yang saya rasakan setelah saya dewasa. Kalau saya berpikir balik, mungkin juga sewaktu saya anak-anak sudah ada talenta itu–tetapi belum berhasil menyadari itu semua. Dan saya tidak tulis. Dan waktu itu saya juga belum pandai menulis not balok.

TAPIAN; Berarti Anda hanya belajar otodidak?

GORGA: Iya saya belajar otodidak, tidak pernah belajar dari seseorang. Saya tidak punya pengetahuan ilmiah tentang musik. Saya hanya belajar dari membaca buku, dari melihat orang lain. Saya kan tidak rugi melihat orang lain, dan saya kira saya tidak dilarang jangan meniru orang lain. Misalnya saya melihat gaya orang di televisi membawa paduan suara saya akan belajar. Dan yang saya contoh itu. Saya benar-benar diberikan Tuhan kemampuan merasakan melihat, memikirkan hal-hal yang baik untuk mengarang lagu itu. Baik cara-cara mengerakkan tangan atau saya sangat sensitif dengan hal itu. Maka kadang saya juga melihat cabang pohon itu sepertinya menari itu yang saya rasakan.

Dan saya diberikan citarasa musikalitas yang peka. Kala menyanyi saya akan keluar suara, satu, dua, tiga dan empatnya. Padahal saya tidak pernah belajar formal mengarang mengaransemen lagu. Kalau dulu itu saya baca saja dari notasi yang sudah ada. Yang diaransem. Semua musik Handel saya pelajari, saya analisa sendiri saja.

TAPIAN; Berarti Anda koleksi dong karang seperti Mozart, Handel, Ludwig van Beethoven dan para pengarang musik gereja klasik itu?

GORGA; Iya. Kalau Anda melihat koleksi saya di kamar dan ruangan kerja saya (saya dibawa ke ruangan pribadinya menunjukkan seluruh kaset-kaset koleksinya) semua kaset yang bagus itu saya koleksi. Apalagi dulu waktu kaset menjadi barang langkah. Waktu saya di Medan tahun 1984 itu sesuatu yang mahal. Tape record itu sesuatu di luar jangkauan ekonomi kita. Hanya orang-orang kaya yang punya itu. Dan begitu saya mampu beli kaset-kaset itu saya beli, semuanya koleksi.

TAPIAN; Kalau Anda analisa kegeniusan Handel atau Mozart dan para bapak musik gereja klasik itu, kira-kira ada yang dimiliki orang Indonesia?

GORGA; (dengan suara panjang berpikir) Saya rasa tidak ada. Saya rasa jika dibandingkan dengan kemampuan komponis-komponis itu tidak ada. Sebab peradapan mereka sudah duluan maju. Di Eropa ilmu musik sudah jauh dulu dari kita, seperti juga ilmu-ilmu lainlah. Dan praktek-praktek lain. Di Eropa jika mau jadi komponis mereka harus belajar sampai doktor—jadi mereka sudah betul-menjadi ahli dalam akademis musiknya. Baru terakhir karya mereka dinikmati umum. Jadi semacam Handel, Mozart, John Bart, mereka pertama memperdalam ilmunya dulu. Kecuali ada beberapa orang ya—seperti Mozart ya umur 5 tahun sudah menciptakan opera. Jadi Mozart itu masih kecil sudah mekar kemampuan musiknya. Dia sudah menciptakan oratorium.

Kalau saya perhatikan di Indonesia ini ada memang beberapa orang untuk ahli musik klasik dalam mengarang lagu. Antara lain: JB Sujasmin, tetapi tidak sebanding lah dengan pengarang seperti Handel Mozart, atau Bettoven. Terutama aksetuasi dalam syair-syairnya. Kalau dari musik klasik itukan semua lagu-lagunya itu sudah sempurna. Dengan alur melodinya. Baik di dalam penempatasn syair-syairya. Kalau mereka kan sudah ilmiah lah. Ada juga orang Batak yang hampir mendekati yaitu Binsar Sitompul mendiang, sekolah musik di Eropa. Ia jurusan seriosa klasik, lagu-lagunya juga bagus. Dan dia selalu menyadari pentingnya aksentuasi penekan kata-kata yang cocok pada melodi musiknya. Karena banyak pecipta-pecipta lagu yang melupakan itu.

TAPIAN; Sebetulnya, bagaimana musik yang bagus itu?

GORGA; Jadi lagu-lagu yang bagus menurut saya adalah yang alur melodinya sejalan dengan alur syairnya. Dengan tekanan tekanan yang sinkron, jangan berlawan tekanan kata dan melodi. Dan juga jangan melawan tata bahasa yang sudah baku. Resmi harus sealur dengan tata bahasa Indonesia yang resmi dan itu tidak perlu dibantah. Banyak lagu-lagu rohani atau lagu pop rohani yang timbul sekarang ini banyak yang tidak pas. Saya rasa yang timbul mungkin melodi-nya mungkin bagus tetapi penempatan kata-katanya itu sering bertabrakan tekanan molodinya. Seakan-akan tata bahasa itu bagi mereka itu tidak begitu penting.

TAPIAN; Bagaimana pendapat Anda perkembangan musik gereja? Misalnya; musik gereja Karismatik yang didangdutkan. Dan ada pula memang gereja yang tidak mau memperbaharui lagu-lagu gerejanya sehingga terkesan itu-itu saja?

GORGA; Memang betul perkembangan gereja sekarang ada musik gereja melakukan perkembangan. Lagu rohanilah, sifat rohani yang sangat maju sampai yang Anda sebutkan tadi kadang-kadang menyebutkan irama-irama musik dangdut. Saya sendiri tidak keberatan pada hal itu. Memang jaman kan berubah. Pandangan orang berubah—perasaanya juga berubah, nilai-nilai pun berubah. Mungkin mereka tidak perlu memikirkan perlunya memasukkan lagu sebelumnya menseleksi lagu mereka yang mana—atau barang kali mereka tidak sempat memikirkan hal itu. Satu hal catatan saya tetap melihat lagu itu sebagai lagu yang bagus, jika itu untuk memuji Tuhan. Dan selaiknya jika lagu-lagu gereja harusnya beda dengan lagu-lagu yang lain itu. Kalau sekarang ini saya sangat susah membedakan mana lagu gereja. Sekarang lagu cinta juga sudah demikian.

TAPIAN; Artinya Anda prihatin?

GORGA: Saya kira tidak harus prihatin—kalau lagu itu juga bisa membangkitkan iman, imannya bertumbuh, mengapa tidak? Saya terus terang tidak keberatan. Tapi sekarang kita hampir tidak bisa membedakan mana lagu rohani-dan lagu yang lain. Malah tidak ada bedanya lagi. Kalau lagu-lagu sekarang ini adalah sangat susah membedakannya. Kalau dulu semacam lagu Handel Haleluya haleluya langsung ketahuan itu lagu gereja walaupun kita tidak mengerti. Misalnya; malam khusus sunyi senyap bintang ku bergema-langsung ketahuan oh ini lagu gereja. Lagu yang menceritakan kelahiran Yesus. Sekiranya kalau lagu sekarang diganti kata-katanya menjadi lagu gereja pasti tidak tepatlah. Kalau lagu Handel misalnya orang mengangap itu bukan lagu. Pop. Tapi kalau memang lagu itu memang membuat orang makin dekat pada Tuhan silakan saja. Tidak ada gunanya saya juga bilang saya keberatan. Kalau saya keberatan—apa mereka langsung berhenti mencipta lagu seperti itu? Nggak kan—tergantung mereka. Banyak pemuda suka musik demikian, itu tidak perlulah dibantah. Tetapi kalau ada lagu gereja–menjadikan orang menjadi melupakan Tuhan ya jelas kita tidak setuju. Tetapi kalau orang membuat orang mendekatkan kepada Tuhannya. Saya kira memang sekarang banyak perubahan. Dulu yang kita anggap bagus sekarang tidak lagi bagus.

TAPIAN; Sekarang nilai-nilai itu terasa berubah ya?

GORGA; Misalnya dulu kita harus hormat pada tulang—kalau sekarang bagaimana kita hormat harus jelas. Hormat sih hormat tetapi sampai sebatas mana. Kalau dulu itu tidak perlu dipertanyakan. Dan saya tidak setuju kalau orang sampai membakar ulos karena alasan ia lebih tebal imannya. Karena ia beranggapan bahwa Adat Batak itu salah. Karena Tuhan Yesus juga mengampuni orang yang bersalah kok, Yesus menggunakan budaya dalam pelayananNya. Sekiranya ada kesalahan, terus terang kalau saya menganggap adat Batak itu tidak salah. Kalau ada orang yang meminta berkat dari ulos dia yang salah mengartikan itu. Sebab ulos itu tidak salah dan ulos itu hanyalah lambang. Seperti orang Eropa memberikan bunga, kalau demikian mengapa mereka tidak membakari bunga itu. Seperti orang Eropa, Amerika, orang Kristen yang lebih dulu maju membawa bunga ke kuburan. Jadi tentang ulos itu mereka itu anggap dosa dan menjauhkan kita dari Tuhan—dia yang salah mengerti kok. Jadi itu yang salah atau tidaknya kan Tuhan yang menentukan.

Bagaimana kedekatan Anda dengan Nortier Simanungkalit, Alfred Simanjuntak, Gordon Tobing, dan masih banyak yang lain?

GORGA; kalau Gordon Tobing itu bukan pengarang, penyanyi. Kalau hubungan saya Alfred hampir ketemu dua kali seminggu karena kami sama-sama di Yamuger, yayasan musik gereja.

TAPIAN; Sebagai apa Anda di Yamuger?

GORGA; saya wakil ketua yayasan musik gereja. Dan wakil sebagai tim inti nyanyian gereja. Saya berusaha menggeluti hal-hal baru yang ada—ciptaan siapapun menjadi lagu-lagu yang layak. Menjadi lagu yang dihadiri. Untuk layak dihadiri orang-orang Kristen—untuk layak dinyanyikan untuk lagu memuji Tuhan. Kalau ada syairnya yang kurang benar- kalau ada notasinya yang kurang enak. Yang perlu diluruskan, tim kami ada untuk itu. Kalau kami misalnya mengubah harus terlebih dahulu memberitahu mereka, pengarang. Tapi tetap atas nama dia. Jadi hasil karya kami adalah pelengkap kidung jemaat. Tetapi itu juga dulu berkat  para pendahulu saya, saya itu menterjemahkan dilibatkan di Yamuger. Misalnya lagu-lagu dari luar bahasa Indonesia itu lebih banyak ciptanya dari lokal. Jadi disitu anda akan melihat ciptan Subronto Kaatmojo, Jeri Silangit, lagu saya sendiri ada delapan buah dalam kidung itu. Ada Arnolf Lapitulei, Piter Sutanto, Pontas Purba, Otis Sumuki. Tetapi kalau lagu Nortir belum.

TAPIAN; Lalu….

GORGA; Bagus. Cuma gayanya masih tetap vokal group semua, kan. Jadi jenisnya ada yang andung, ada yang pop. Ada juga saya kira pencipta lagu yang bagus-bagus seperti misalnya; menyentuh perasaan kita. Contohnya si Tagor Tampubolon itu, yang menciptakan Poda itu. Lalu, pengarang lagu Rap hita naduan hasian, tetapi itu mirip sekali dengan lagu, ai dingot ho dope di najolo. Akord-akord masih sama.

TAPIAN; Anda sendiri koleksi lagu-lagu Batak itu juga?

GORGA; semua yang bagus-bagus itu saya koleksi. Bagus-bagus kok, Cuma cara menyampaikanya barang kali tidak tepat. Terlalu seragam, kalau kita beli kaset pasti vokal group. Suara satu dua tiganya sama. Lain misalnya kita kalau beli kaset Westlife, The Bytels, mereka itu pintar mencari warna musiknya, dari warna lain. Kalau vokal group kita, kita susah membedakan mana Ambisi, mana Amsisi sama—suara tiga suara satu suara tiga dibawah. Dan gayanya suka yang tinggi-tinggi. Coba kalau Weslife sederhana, tetapi enak didengar. Karena terlalu sama gayanya, tak pintar membedakan bagaimana membedakan dia dengan orang lain. Mungkin kalau mereka bisa keluar dengan warna sendiri. Mungkin akan lebih laku, dan diminati orang. Orang kalau dengar Westlife, wah ini Westlife. Saya sendiri susah membedakan mana Lasidos, mana Ambisi, mana Amsisi. Dulu pada eranya seperti The Mercy, Pambers adalah group-group musik yang menjadi pioner-pioner di Indonesia. Sebelumnya semua kaset dari luar negeri. Misalnya syair-syair Rinto Harahap itu bagus. Mereka mengebrak dan momennya tepat. Kalau Pambers kalau membuat lagu berbahasa Batak kurang pas. Sama sekali aksentuasinya itu kacau. Bahkan, lagunya jika diterjemahkan kedalam bahasa Batak juga pasti tidak akan kena. Karena itu kami di Yamuger sepakat bahwa lagu yang bagus itu sejalan atara melodi dan syair. Mungkin penyanyi tidak menyadari itu tetapi jika diamati akan jelas, janggal.

TAPIAN; Berarti seakan dipaksakan lah ya?

GORGA; Ya sesatu yang dipaksakan tak bagus. Karena ada perbedaan yang hakiki dalam perbedaan bahasa terutama bahasa Inggris dan Indonesia.

TAPIAN: Bagaimana dengan Vicky Sianipar, dia mengrasemen lagu Batak ke dalam pop bagaimana pendapat Anda?

GORGA; Terus terang saya mengakui si  Vicky itu mempunyai talenta, namun mungkin dia salah pakai dengan keinginan untuk menduniakan lagu baru, mengarasemen lagu-lagu Batak. Menurut saya Barat malah menyukai lagu Batak itu, apa adanya. Tradisional, justru disitulah lain dengan Barat. Kedua Vicky Sianipar telah mengotak-atik lagu Batak yang menjadi milik semua orang, kecuali dia mengarang lagu Batak karya dia sendiri, itu beda. Jelas banyak yang keberatan. Sebab itu tidak asli karya dia. Coba bandingkan lah dulu Nahum Situmorang dengan Vicky—menciptakan lagu sendiri syair sendiri. Nahum juga berhasil dan monumental walau ia pelajari gaya Barat, tetapi syairnya kan Batak. Tidak ada yang keberatan pada dia karena itu ide orisinilnya. Sedangkan Viky tidak demikian, tak orisinil ciptaannya. Walau memang harus diakui dia mempunyai citra rasa yang tinggi.

TAPIAN: Tetapi pemuda Batak sekarang menerimanya?

GORGA; Karena pemuda Batak tidak pernah menerima lagu Batak apa adanya. Dan mungkin mereka sendiri tidak tahu bahwa ada lagu Batak yang asli. Atau mereka antipati, kalau dulu tidak percaya dengan produksi. Kita harus akui bahwa ratusan tahun yang lalu lagu Batak itu dicipta, masa kita tidak bangga. Ini jangan dianggap enteng. Atau akord yang sekarang lebih baik. Kita harus lebih jauh melihat bayangkan jaman kuno masih bisa menciptakan-lagu yang bagus-bagus. Sekala macam tidak ada, masa kita tidak bangga. Kita harus kagum—bagaimana mereka bisa menciptakan alam yang demikian. Jadi, generasi sekarang juga harus bisa merespon lagunya menjadi karya sekarang- jangan merubah yang dulu-dulu dengan maksud memperbaiki.

Nahum seorang legendaris musik—tetapi idenya yang orisinil itu adalah lagunya yang murni, itu harus kita saluti, lahir dari pikirannya. Sekali lagi saya mengakui Vicky ada kemampuaan musiknya, saya melihat dia punya potensi, tetapi jangan menganggu karangan yang baguslah.

TAPIAN; Bisa diceritakan riwayat hidup, dari keluarga, karier, pengalaman, pendidikan, karya-karya, penghargaan, kegiatan saat ini, obsesi?

GORGA; Orangtua saya seorang pensiunan camat, dulu dia camat di Pulau Samosir, Palipi dan Nainggolan. Lalu pindah ke Sipoholon, Rura Silindung sampai dia pensiun disana. Ibu saya boru Hutahuruk dari Lumban Lobu Sipoholan, Tarutung. Mereka dikarunia delapan, tiga laki-laki dan lima perempuan. Saya anak nomor tujuh.

TAPIAN; Istri dan Anak cucu?

GORGA; Saya menikah dengan Lela Ester Sitompul menikah tahun 1962 dikaruniakan Tuhan enam orang anak. Tiga laki-tiga perempuan, cucu sepuluh.

TAPIAN; Pedidikan?

GORGA; Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia jurusan Ekonomi Perusahan selama kuliah dibayarin oleh perusahaan Tembakau, Deli. Lulus dari UI 1963. Lalu pulang ke Medan kerja.

TAPIAN; Selain di Yamuger kegiatan sehari–hari apa  saja sekarang?

GORGA; Saya ini dalam umur 73 tahun sangat menikmati hidup ini. Karena istri masih sehat, anak dan cucu pun demikian. Dan, saat ini saya diminta untuk menjadi juri di berbagai festival lomba lagu gereja. Selain itu, sebagai pimpinan paduan suara melatih paduan suara dan menjadi juri di segala tempat di Indoensia ini. Ke Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, ke Manado, Makasar, ke Pakphak, ke Sorong ke Medan. Semua biayanya dari penginapan dan segala macam ditanggung. Istri saya saat ini umur 67 tetapi kami masih diberikan Tuhan kesempatan menikmati hidup ini. Kami dihargai orang, disayang orang, dan dibayari orang. Saya baru pulang tiga minggu dari Sorong Papua.

TAPIAN; Dalam rangka apa Anda ke sana?

Dalam acara Ulang Tahun Gereja Injili di Papua, kami di undang. Istri saya ikut. Memang itu syarat saya, hanya itu, istri saya harus ikut.

TAPIAN; Semua kunjungan itu dalam rangka juri lagu gereja semua, harus ikut?

GORGA; Iya hanya lagu gereja. Dan kenyataan, di Papua itu diadakan lomba paduan suara semuanya ciptaan saya. Baik paduan suara bapak-pak, ibu dan anak-anak. Semua lagu saya, ciptaan saya yang mereka ambil dari buku-buku yang diterbitkan Yamuger. Kami di sana tinggal di hotel, diberikan trasport dan kami dilayani sungguh baik. Bagus-bagus—memakan ikan yang segar-segar dari lautan Papua, lalu memberikan pengarahan dari gereja-ke gereja. Gerejanya di sana mewah-mewah, cantik-cantik.

TAPIAN; Dan juri atas karya sendiri, hebat…

GORGA; Ya atas karya sendiri. Dan ada memang teman juri dari Papua sendiri dan dari Ambon dan saya dari Jakarta sendiri. Lalu, waktu mau pulang kami di antar seluruh panitia ke bandara. Demikian di Pontianak, Kalimantan Barat, Banjarmasin di Palangkaraya. Nanti tanggal 2 November in saya ke Sidempuan. Dalam rangka pestival Paduan Suara Gejeja Kristen Protestan Angkola. Pada 2-4 November ini. Ciptaan saya Hymne dan mars GKPA.

TAPIAN; Berarti hidup di hari tua ini enjoy dong, iya. Ada nggak obsesi yang masih ingin diwujudkan?

Gorga; Saya ingin masih banyak mencipta lagu yang banyak untuk Tuhan. Ketika saya di Sorong dalam tiga minggu di sana tercipta 10 lagu untuk anak-anak, khusus untuk lagu Natal Anak-anak. Lalu, saya kirimkan ke Yamuger supaya segera dibahas.

TAPIAN; Sedikit lagi, amang, bagaimana hubungan Anda dengan almarhum TD Pardede?

GORGA; Hubungan saya dengan TD Pardede almarhum itu tidak terlalu akrab dan jarang ketemu. Tetapi, begitu dulu saya sampai di Medan berkerja di perkebunan—pernah dia meminta saya untuk pindah kerja sama dia.

TAPIAN; Lalu….

GORGA; Iya, pernah untuk mengatur seni-seni yang ada di hotelnya itu. Tetapi maaf karena saya ikatan dinas dan saya menolak. Dia pernah melihat pertunjukkan opera Argado Bona Ni Pinasa itu. Kelihatanya beliau terpesona—dan ada juga memang dalam luar kuasa saya, maksud saya begini—saya ini kan ikut gereja GKPI begitu kami sampai di Medan, pas waktu itu GKPI dan HKBP berpisah dari kelembagaan. Dan karena begitu saya lihat teman dan kawan-kawan waktu di Medan itu bayak yang ke gereja GKPI saya kembali ke situ. Dan itulah sebetulnya membuat saya tidak langsung menjauhi saya dengan TD Pardede. Ia HKBP, sementara saya ikut GKPI—saya tidak tahu persis mengapa berpisah, saya tidak mengerti itu. Tapi, waktu ia dengan ada pertunjukkan Arga do Bona ni Pinasa; sebenarnya acara itu untuk mencari dana untuk pembangunan gereja GKPI, dia datang nonton. Tidak ada orang yang mengetahui bahwa dia datang menonton, setelah pertunjukkan selesai—baru dia datang ke pentas menyalami dan memeluk saya.

Itulah TD Pardede, dia mau menanggalkan hubungan yang tidak baiknya dengan GKPI hanya kerena menonton acara itu. Naik ke pentas dan menyalami saya dan barang kali dia kenal mungkin oleh pertunjukkan itu. Lalu, paginya dia kirimkan parcel dan ucapan sukses atas pertunjukkan itu.

Dan pernah dalam satu pertemuan dia mengaku kepada saya dalam ruangan kerjanya tidak boleh ada kaset lain yang dibunyikan selain kaset saya. Karena waktu itu saya membuat lagu-lagu pop kaset Batak. Lalu, saya pada satu kesempatan ke Inggris, singgah di Singapura di rumahnya di Singapura—saya datang ke situ dengan selang di hidungnya—pokoknya dia sudah lemahlah. Dan saya diminta menyanyikan lagu doa ibu. “Di waktu ku masih kecil gembira dan senang…” Ciptaan orang Barat yang dialihbahasakan Pohan. Itu dia minta saya nyanyikan. Dan setelah meninggal, saya juga pergi ke Medan melayat, dan menyanyikan satu lagu. Sebetulnya tidak begitu istimewa hubungan saya. Tetapi beliau memberikan perhatian dari jauh. Hotman J Lumban Gaol (Hojot Marluga)

 

Pesan:

http://www.youtube.com/watch?v=JPDjR02Pu14

32 thoughts on “Bonar Gultom (GORGA)

  1. Saya adalah salah satu penggemar lagu-lagu koor ciptaan Bapak Bonar Gultom. Dan saya pernah bekerja satu Gorup dengan Bapak Bonar Gultom, waktu itu saya di Devisi Perkebunan Cokelat dan karet di Bengkulu. Saya do’a kan semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan kepada Bapak Gultom. Amin.

  2. Terimakasih atas informasi ttg Pa Gorga yang begitu lengkap dan mengagumkan. Salah satu lagu gerejani Batak Simalungun yang diaransemen beliau berjudul Tumbuhan Poyon-Poyon karya St A.K Saragih seharusnya Tubuhan Poyon-poyon. Telah diterjemahkan dalam PKJ dg judul Lihatlah Pohon-pohon

    1. 1. Pak Hotmanjlumbangaol : Trims telah memuat tulisan ini. Tetapi sebenarnya masih ada beberapa salah ketik dan data yang kurang pas. Bagaimana caranya saya mengirimkan koreksiannya pak?

      2. Kepada sdr2: Johnny Sinurat, ma purba, theo thesia, meigawati butar-butar, JPSimamora, TW6C, Wijk6choir, edis Manarissan Sihombing, Ezra Macpal, PDHUTAJULU, Salomo Sitorus, BINTANG NABABAN, hunz, batara sitohang :
      “Saya minta maaf sebesar2nya karena pesan2 saudara2 dari tahun 2009 ini baru saya buka/baca secara kebetulan hari ini 29 Juli 2011 jadi selama 2 tahun penuh tidak pernah saya tahu adanya situs ini. Entah itu yang namanya gaptek atau apa, tapi sekali lagi saya minta maaf. Selanjutnya saya menghaturkan diperbanyak terimakasih atas comments serta doa saudara2 yang sangat membesarkan hati saya. Tuhan Yesus kiranya memberkati saudara2 sekalian beserta keluarga. Mazmur 104:33 : AKU HENDAK MENYANYI BAGI TUHAN SELAMA AKU HIDUP, AKU HENDAK BERMAZMUR BAGI ALLAHKU SELAGI AKU ADA.”

  3. sata salah satu penggemar berat lagu-lagu paduan suara karya bapak dan saya ingin memdapat bimbingan terus dari bapak selaku orang tua dalam paduan suara (koor), saya adalah pelatih paduan suara solideo kab. sorong selatan kabupaten pemekaran dari kab.sorong, kami pernah melakukan konser paduan suara dan kami menyanyikan salah satu lagu karya bapak yaitu lagu lilin perdamaian. saya berdoa untuk bapak agar dapat membuat karya-karya terbaik yang mendatang dan saya menunggu karya-karya terbaru dari bapak

  4. saya sangat mengagumi karya amang. doakan saya ya yg akan mengikuti festival yamuger pada tgl 24 oktober 2009 nanti.HKBP duren jaya Bekasi adalah gerejaku. semoga kami bisa memberikan yg terbaik bagi amang, jemaat terutama buat Tuhan.Amien

  5. God Bless Gorga
    Sampai saat ini saya sangat senang memainkan lagu-lagu pujian ciptaan Gorga pada piano kecil di rumah kami. Sangat energized bagi memulihkan kembali semangat dan pengharapan hidup.

  6. Hmmmm…. Amang GORGA…. Banyak kata2 sanjung puji yang hendak kami TW6C ugkapkan kepada Beliau. Untuk karya2nya yang sungguh Fantastis… mampu mengangkat irama2 tradisional batak menjadi gubahan2 lagu paduan suara yang berskala Nasional bahkan Internasional… Paduan suara kami masih kecil… tapi kami adalah penggemar lagu karya Amang GORGA…. PAnjang Umur dan Sukacita selalu dalam pemeliharaan Tuhan Kita buat Amang Gorga.

  7. Buat MODERATOR Ensiklopedia Tokoh Batak, kami minta ijin mengutip tulisan ini untuk kami terbitkan di Blogs TW6C. Semoga tidak keberatan.
    Trims

  8. Opung Bonar is my inspirator for my experience of Choir.
    he taught me how to be a good conductor in GKI IMMANUEL BOSWEZEN SORONG when he became a leader Judge of The Choir Competition in Sorong-West Papua.
    Opung Bonar, GOOD LUCK

  9. sewaktu mengajar paduan suara di salah satu paduan suara di nabire,paniai. saya pernah menyurati bapak Gorga agar mengirimkan salah satu ciptaan beliau, eh malah dia kirim satu bundel lagu2 ciptaan beliau. Surprise

  10. saya sdh menikmati karya bp.Bonar Gultom sejak thn tujuh puluhan..dan sampai skrg saya masih sering menikmatinya dan menyanyikan lewat karya lagu2 paduan suara..Horas panjang umur utk bp Bonar Gultom salah satu musisi batak di abad 20..

  11. saya sangat salut dengan kerendahan hati Amang bonar Gultom,,,,,yang tidak pelit berbagi ilmu dan pengalaman bagi saya sebagai musisi muda, khususnya dlm penciptaan dan aransemen……..mudah2an pengalaman yang amg bgikan bwt saya boleh menjadi inspirasi sekaligus menjadi berkat yang berkelimpahan,,,,,,,,,bwt saya amang adalah musisi sejati, sang Maestro Musik Gereja yang bernuansa Etnis Batak…..Horas Amang! Tuhan Yesus memberkati…….!!!!!

  12. Salam kenal,
    Saya juga salah satu pengagum karya bapak Gorga… saya kesulitan mendapatkan partitur lagu beliau. saya tinggal di kota kecil Sokaraja. Apakah moderator dapat membantu saya? Terima kasih… GBU
    Salam dan doa,
    Lukas

  13. tolong kirimkan teks lagu koor “Persaudaraan Yang Rukun” ciptaan : Drs. Bonar Gultom selambat-lambatnya 12 mei 2011 unttuk lomba PS di kota Banjarmasin.
    Trimakasih, Tuhan Memberkati, Amin.

  14. Tak ada kata selain “Puji Tuhan” yang telah memberkati Pak Gorga dengan talenta yang sangat jarang dimiliki putra batak lainnya. Pak, saya merasa bersukur jika Bapak berkenan memberikan kepada kami teks lagu-lagu koor untuk kami ajarkan kepada Koor Agave HKPB Tebing Tinggi Ressort Tebing Tinggi Deli.

  15. Horas Amang Bonar Gultom , saya salah satu penggemar lagu2 ciptaan Bapak . Mohon info dimana bisa dapat partitur lagu2 paduan suara ciptaan Bapak dan rekaman lagu Paduan Suara yang di Bandung . Pernah punya casettnya tahun 1993,karena banyak yang senang lagu2nya , dipinjam bergantian dan ahirnya tidak kembali . Sudah lama saya cari2 .
    Paduan Suara kami di GKI Yogyakarta pernah membawakan lagu “ARBAB” dalam lomba antar gereja dan mendapat apresiasi terbaik .
    Terimakasih Amang untuk karya yang membawa hati dalam puji-pujian , semoga ada yang tetap merawat karya2 Bapak yang dapat memberi berkat damai pada setiap yang mendengar dan yang menyanyikan.
    Saya juga menyaksikan “Pementasan Arga Do Bona Ni Pinasa 1969” dan “Kembali Ke Betlehem 1972” ( di Medan ).Horas..Tuhan Yesus memberkati.

  16. Sukses utk Amang Bonar Gultom, mudah2an dimasa sekarang bisa turut hadir di acr2 Pemuda/i Gereja, sprti HKBP secara langsung.. Terimakasih.

  17. Syalom,
    salam kenal saudaraku semua
    Saya butuh Partitur lagu Natal Batak untuk perayaan Natal nanti, untuk Gemende dan mannen koor, Makasih
    Tuhan Memberkati

  18. Horas Amang,
    Mau minta tolong dikirimkan Lagu-lagu Paduan Suara ke email saya : m4mby_aritonang@yahoo.co.id. Kalo boleh semuanya ya amang, ciptaan amang semuanya bagus-bagus. Dan kami di HKBP Tegal Rejo mau menyanyikannya, kalo rencana kami mau menyanyikannya satu persatu setiap minggu Gereja. Sekalian memperkenalkan Lagu-lagu ciptaan amang.
    Mauliate ma amang, dame ma dihita saluhutna. Amen.

  19. Salut bagi bapak Drs. Bonar Gultom, pengarang dan aransemen, Lyric juga lagu serba bisa, religous, nasional, etnic country.!

  20. Horas. Salam damai dalam Nama Yesus Kristus. Saya berada di daerah terpencil di Mentawai Sumatera Barat, yang mana Mayoritas penduduknya adalah Kristen Protestan. Saya menjadi guru disana sekaligus membantu melatih koor untuk pemuda dan Dewasa. Cuma Saya sedikit kewalahan dalam menemukan teks koor khususnya ciptaan oppung Boanar Gultom dan kalau bisa dalam bahasa Indonesia shingga bisa dimengerti masyarakat di sana.Jadi mohon di poskan ke saya tertama lagu Persaudaraan Yang Rukun. Horas ma dihita. Mauliate.

  21. Saya sangat sedih mendengar dari anaknya bhw Bpk.Bonar Gultom sudah sakit Strook. Saya berdoa untuk amang Bonar Gultom dapat sembuh dan bisa ber karya lagi didalam musik gereja. Saya sudah 2x berjumpa dan berjabat tangan dengan Bpk.Gultom. Saya senang mendengar lagu ciptaannya yaitu lagu Hymne dan Mars GKPA. Kalaupun amang tidak bisa berbuat lagi, kami sangat berterimakasih dengan Ciptaan amang untuk GEREJA KRISTEN PROTESTAN ANGKOLA. Tuhan memberikan mujijat buat Amang.

  22. horas oppung Bonar gultom
    karya karya oppung memang luar biasa semoga pomparan gultom yang lain nya bisa mengikuti jejak oppung
    syalom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s