Joy Tobing


Joy, Belajar Biola Seperti Belajar Kehidupanjoy tobing
Tidak banyak yang punya talenta seperti Joy Destiny Tiurma Tobing, 28 tahun. Sendari kecil, umur 8 tahun Joy Tobing telah banyak memenangkan lomba; dari lomba lagu pilihan TVRI, lagu rohani, bintang radio, lagu Batak hingga Indonesian Idol.
Sejak kelas 4 SD tanda-tanda bakat menjadi penyanyi sudah terlihat dalam dirinya. Gayung bersambut, orangtua Joy senang bukan main, lantas berusaha mengwujudkan keinginan Joy, terutama ayahnya. Walau saat itu hanya sopir taksi, sang ayah memasukkan Joy sekolah vocal di Bia Vocalia, Jakarta.
Jauh sebelum memenangkan Indonesian Idol namanya sudah begitu akrab pada masyarakat Batak. Bermula sejak merilis album rohani dan Batak yang diproduksi Joy Record dan Rhema Record dari tahun 1996-2003 namanya mencuak sebagai penyanyi Batak yang berbeda dari yang lain. Kemudian, tahun 2004 Joy kembali merilis album yang diproduksi BMG Indonesia dan album rohani bertajuk “Mujizat Itu Nyata” yang diproduksi Rhema Records.
Puncak pencapaiannya saat terpilih sebagai juara Indonesian Idol pertama menyisihkan saingan, Delon, pada pergelaran Result Grand Final Indonesian Idol, tahun 2004 lalu. Namun, juara idol bukan menanjakkan kariernya, malah dihambat karena tidak mau menandatangani kontrak 15 tahun. Sejak saat itu peringkatnya dialihkan ke Delon. Pendeknya Joy disisihkan.
Hidup sulit tidak lantas membuatnya hilang pengharapannya. Mutiara tetaplah mutiara, kemanapun ditempatkan kualitasnya tidak akan tergerus oleh keadaan. Itu yang telah dibuktikan Joy Tobing, tetap menanjak tanpa embel-embel Indonesian Idol.

Belajar Biola
Lama tak muncul di televisi bukan berarti kariernya habis seperti harapan kebanyakan. Cuma kesibukannya sekarang fokus bernyayi pada acara-acara gereja. “Beberapa bulan lalu album rohani saya yang terbaru baru keluar. Soal kegiatan, saat ini masih menyanyi. Terutama gospel (pelayanan) menyanyi untuk acara-acara di gereja,” ujar anak pertama dari empat bersaudara ini.
Kegiatan yang lain yang membuat ia injoy menjalani hidup, Joy ternyata lagi belajar biola. Belajar biola seperti belajar kehidupan baginya. “Selagi masih diberikan kesehatan apalagi rezeki dari Tuhan, apa pun yang bisa dikerjakan ya kerjakan lah. Sekarang, aku melihat ada yang paling unik daripada piano yaitu biola. Bagi saya, biola itu adalah the king of instrument sementara piano the queen of intrument. Lebih susah main biola daripada main piano. Memainkan piano harus tahu melody dan kepekaan terhadap notasi lagu yang diiringi. Belum lagi bahu yang sampai harus miring. Kalau main piano gampang, ini do ini mi,” katanya.
Terkenal, tidak lantas melupakan jati dirinya sebagai orang Batak. “Sekali pun saya lahir di Jakarta saya bangga menjadi orang Batak. Saya mengerti bahasa Batak, meskipun tidak pasif menyampaikan. Orangtua berbahasa Batak di rumah. Hanya, kita tidak boleh terlalu menganggap budaya kita yang paling tinggi. Kalau kita menganggap bahwa budaya kita ini lebih baik dari orang lain, itu negatif. Karena orang lain juga mempunyai budayanya sendiri. Ah, dang toho i, (ah, tidak benar itu) kita lebih baik dari orang lain. Itu egois. Itu kesombongan. Kita lihat saja Bali dan Toraja, mereka meninggalkan sedikit keegoisannya untuk bisa berkembang. Bukan tidak bagus Danau Toba, padahal kalau dibangun akan lebih baik dari Bali. Cuma sampai saat ini daerah kita ini tidak maju-maju, “ ujar gadis jelita kelahiran Jakarta, 20 Maret 1980 ini, pada TAPIAN saat menemuinya di rumahnya di bilangan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan.Hojot Marluga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s