Alister Nainggolan dan Zulkaidah Harahap


ALISTER NAINGGOLAN dan ZULKAIDAH boru HARAHAP
DUA MAESTRO OPERA BATAK

Di era 1960 hingga 1980-an Alister Nainggolan (70) dan Zulkaidah boru Harahap (61) bergelut dengan seni tradisi Opera Batak. Hingga telah beranak-cucu kini mereka tetap hidup di jalur seni meski tak menjanjikan secara materi. Di penghujung tahun 2007 secuil kabar baik menghampiri mereka. Pemerintah melalui Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata menganugerahi mereka Maestro Award. Ini penghargaan kepada mereka yang dianggap berjasa melestarikan seni tradisi dan mampu menurunkan kemampuannya di bidang seni kepada generasi yang lebih muda. Kepada seniman penerima Maestro Award Pemerintah juga berjanji untuk menyantuni mereka setiap bulannya, mengingat kondisi ekonomi seniman tradisi pada umumnya memprihatinkan seperti kehidupan Alister dan Zulkaidah saat ini.
Itu memang baru janji. Setidaknya hingga Tapian mewawancarai mereka berdua beberapa waktu lalu, mereka mengaku belum menerima santunan tersebut. “Yang saya terima baru suratnya,” ungkap Zulkaidah. “Belum saya terima [uangnya],” tandas Alister juga. Dalam surat yang dikirim kepada mereka tertera nominal santunan sebesar satu juta dua ratus lima puluh ribu rupiah per bulan. Tapi yang akan mereka terima nantinya kurang daripada jumlah itu karena masih harus dipotong pajak.
Apakah merasa cukup dengan tunjangan sebesar itu? “Jelas nggak cukup. Tetapi itu juga kita sudah ucapkan ribuan terima kasih. Sebab kita dihargai seorang seniman, itu pun lebih besar [berharga] dari uang,” jawab Zulkaidah sambil tersenyum. Hal senada diungkapkan pula oleh Alister.
Alister berencana menggunakan sebagian uang yang dijanjikan Pemerintah itu untuk sedikit semi sedikit memperbaharui alat-alat musik yang dimilikinya. Seperti sarune, taganing, gong dan lain-lainnya. Sedangkan sisanya akan ia tabung. Sedangan Zulkaidah berencana memakai uang itu untuk memperbaiki atap rumahnya yang bocor yang membuat dapurnya banjir setiap kali hujan datang. “Kedai saya pun sudah minta diganti [diperbaiki] semuanya,” tambah Zulkaidah
Untuk menyambung hidupnya Zulkaidah telah lama membuka kedai tuak tak jauh dari rumahnya di pinggir Jalan Lumbanri, Desa Tiga Dolok, Kecamatan Dolok Panribuan, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sedangkan Alister menopang hidupnya dengan bermain musik di sejumlah pesta yang diselenggarakan masyarakat di kota Medan, tempatnya tinggal.

Berbagi dengan orang muda
Alister Nainggolan mulai terlibat dalam dunia seni tradisi ketika ia bergabung dengan kelompok Opera Batak Serindo [Seni Ragam Indonesia] pada tahun 1965. Waktu itu ada pementasan Serindo di tempat kelahirannya Sungai Loba, Tanjungbalai, Sumatera Utara. Di Serindo pada awalnya ia bertugas sebagai tukang angkat barang-barang dan tenaga keamanan. Kebetulan waktu itu juga Alister baru putus sekolah. Alister mengisi waktu luangnya belajar alat-alat musik yang digunakan dalam pertunjukan Opera Batak, seperti sulim, sarune (etek & bolon), hasapi, garantung, dan taganing. Kemudian ia pun mampu menguasai sejumlah alat musik itu, termasuk juga gamelan Jawa. Ini meningkatkan karirnya di Serindo. Ia diberi kepercayaan menjadi pemain musik menggantikan pemusik yang berhalangan atau keluar dari Serindo. Minat menjadi pelakon cerita juga dimiliki oleh Alister. Pertama kali sebagai pemain ia menjadi pelakon parbaringin, pendeta ritual agama Batak dalam lakon cerita Sisingamangaraja.
Alister bertahan di Serindo sampai tahun 1970 sebelum empat tahun kemudian mendirikan grup Tiurma Opera bersama Erliana boru Silaban, sang istri yang juga pemain dan penyanyi di Serindo. Nama Tiurma Opera sendiri diadopsi dari nama anak ketiga mereka yang bernama Tiurma. Dengan grup itulah Alister melakukan pentas Opera Batak secara berkeliling dengan banyak kesulitannya. Sebagai tauke Opera Batak, Alister harus mampu memimpin dan menggaji 40-an pemainnya. Sementara biaya untuk mengurus izin pertunjukkan dan pungutan-pungutan lain lumayan besar jumlahnya. Akibatnya pemasukan bersih dari pertunjukan-pertunjukannya sering tidak bisa menutupi kebutuhan utama para pemain. Akhirnya tahun 1984 Grup Tiurma Opera juga terpaksa dibubarkan, ditambah karena desakan media hiburan terbaru seperti televisi dan film.
Beralih dari pentas Opera Batak, Alister tidak berhenti dengan alat musiknya. Sambil menerima kerja informal, Alister mulai mengajari anak-anaknya bermain musik dan bernyanyi. Boleh dibilang delapan anak Alister mengikuti jejak kepintaran Alister bermain musik. Bahkan dua-tiga orang cucunya diajarinya juga keahlian tertentu dalam permainan Opera Batak.
Berani berkeliling lagi, mereka membawa musik tradisional Batak ke berbagai tempat di Tapanuli dengan nama Nainggolan Bersaudara. Di Sidikalang (Dairi) pada tahun 1994 empat orang anaknya tampil dengan kemampuan mereka masing-masing memainkan alat musik. Tamrin, si anak sulung menjadi pemain hasapi, Lamtiar menjadi penyanyi bersama ibu, dan dua anak putri lainnya memainkan taganing dan odap. Dalam berbagai kesempatan putri-putri Alister yang bermain taganing menjadi perhatian khusus dan daya tarik penampilan Nainggolan Bersaudara.
“Maklumlah bapaknya kan pernah memimpin opera Batak. Jadi sempat keempat orang ini mengikuti saya sebagai orang kesenian. Sekarang ini sebagaian orang ini mengikuti jejak saya sebagai pemain [seni] tradisi. Dan sebagian sudah berhenti,” cerita Alister.
Nasib baik memang terkadang mendongkrak popularitas Alister. Pada Oktober 1994 Alister diajak sebuah grup kesenian dari Medan untuk penampilan ke Jepang. Tentang kesannya pentas di Jepang ia berkata, “memang penghargaan di luar negeri cukup baguslah [terhadap] tradisi Batak.” Sekembalinya dari Jepang, selama beberapa bulan kemudian ia tetap menyalurkan kepiawaiannya di grup tersebut. Tahun 1995 Alister ditawari seorang temannya bekerja di PT. Mujur Timber Sibolga sebagai mandor pertamanan, sekaligus pemain musik di grup binaan perusahaan itu. Lima tahun bekerja di perusahaan itu keadaan ekonomi Alister mulai membaik. Tapi ia tetap merasakan ada yang kurang. Apalagi perusahan itu juga mulai menjadi sorotan publik. Dia mencoba kembali ke Medan untuk bermain musik di pesta-pesta adat dan sesekali pulang ke Sibolga. Tahun 2002 ia putuskan kembali ke Medan bersama keluarga dan mengandalkan panggilan bermain musik ke pesta-pesta adat untuk kelangsungan hidup mereka.
Tahun 2002 Opera Batak mulai dibangkitkan kembali. Sosok Alister sebagai pemain Opera Batak muncul ketika pentas rekonstruksi lakon Guru Saman di dua tempat (kampus Universitas Sumatera Utara dan Taman Budaya Sumatera Utara). Alister kebetulan mendapat pelakon Jakobus, pemilik kedai tuak yang lugu dan sangat lucu. Gaya bermain musiknya juga tidak kalah menarik dari seorang pemain yang lebih dikenal oleh publik selama ini.
Dua tahun kemudian Alister sempat terlibat dalam beberapa episode program Opera Batak Metropolitan di TVRI Medan. Di sini gaya bermain Alister sebagai tokoh Fort de Kock semakin mendongkrak popularitasnya.
Sayang program di TVRI tidak berlanjut. Alister lalu minta dilibatkan dalam pentas Grup Opera Silindung (GOS), sebuah grup percontohan yang mengawali kebangkitan kembali Opera Batak di Tarutung atas dukungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara waktu itu. Sejak pentas keliling GOS pada Januari 2005, semangat Alister bermain Opera Batak menggebu kembali. Sambil menekuni kegairahanya itu lagi, dengan terbuka ia membagikan berbagai pengetahuan dan teknik permainan kepada pemain-pemain muda di GOS. Alister juga tidak sungkan-sungkan mennyodorkan istri dan anak-anaknya untuk terlibat setiap kali ia diajak pentas.
Tapi sampai kapan ia mampu berpentas? “Masalah kemampuan ini, mana saya tahu? Tetapi begini, kesehatan saya sekarang ini mungkin masih bisalah empat-lima tahun lagilah. Layak kurasa. Tetapi semua ini Tuhan yang mengatur kesehatan kita,” katanya mantap.

Yang penting tetap berkesenian
Sejak usia 15 tahun Zulkaidah boru Harahap telah bergabung di Serindo. Perempuan kelahiran Bungabondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara ini awalnya bekerja sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain. Tanggungjawab itu dijalaninya selama tiga bulan sebelum akhirnya ia dilatih menari, menyanyi, bermain musik dan menjiwai seni peran oleh Tilhang Gultom, pimpinan Serindo waktu itu.
Di antara para seniman Opera Batak terdahulu Zulkaidah terlihat sebagai satu-satunya pemain perempuan yang pintar main seruling dan serunai kecil. Ciri khas lengkingan vokalnya juga membuatnya laris. Tak heran bila pada masa kejayaan Serindo penampilan Zulkaidah sehari-hari berhiaskan emas di leher, tangan serta kaki. Rekaman kaset berisi lagu-lagu Opera Batak yang dinyanyikannya beredar pertama kali tahun 1968, beberapa saat setelah ia berumah tangga. Beberapa albumnya juga masih beredar di pasaran saat ini. Tapi ia tidak pernah menikmati hasilnya lagi. Nampaknya Zulkaidah sudah terbiasa menerima janji-janji kosong dari produser kaset dan para agen.
Kini selain berjualan tuak di kedainya untuk menafkahi hidup, ia mengolah sepetak ladang. “Menanam padi, jagung. Tetapi itu pun usaha orang, itu kita sewa. Kalau kita punya sendiri, nggak ada,” jelas ibu lima anak dan nenek sepuluh cucu ini.
Tahun 1982 Zulkaidah sempat memimpin Grup Serindo. Menurut pengakuannya tanggungjawab itu ia terima dengan terpaksa karena Gustafa Gultom, keponakan Tilhang yang memimpin kelompok ini sejak tahun 1974, mulai sakit-sakitan di Jakarta. Sedangkan keturunan keluarga Tilhang yang tinggal di kampung tak ada yang bersedia menjalankan grup itu. Zulkaidah terpaksa menggadaikan sawah dan semua perhiasannya untuk modal menggerakkan Serindo. Ada 70 orang anggota Serindo yang harus dihidupinya waktu itu. Akhirnya tahun 1985 Serindo benar-benar bangkrut sewaktu pentas keliling di Tapanuli Selatan. Rupanya Opera Batak kalah bersaing dengan tontonan sirkus yang lebih disukai masyarakat di sana waktu itu. Kebangkrutan itu sempat membuat Zulkaidah berniat bunuh diri. Apalagi tak ada uang sepeser pun untuk keluar dari wilayah itu.
Menyadari semua itu Zulkaidah meratap hingga mengundang orang-orang ramai berdatangan. Sekilas dalam keramaian itu dia pun mendapat inspirasi. Ia mengatakan uangnya hilang sementara ia harus kembali ke Jakarta. Serindo memang sudah sempat hijrah ke Jakarta tahun 1974 di bawah pimpinan Gustafa Gultom. Bahkan tahun 1981, Zulkaidah sudah terlibat dalam pementasan Tarombo Siraja Lontung yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Mungkin pengalaman “marjakarta” itulah yang menjadi sumber inspirasinya untuk sedikit berbohong waktu itu. Dan orang-orang yang berdatangan karena ratapan Zulkaidah akhirnya benar-benar membantunya. Dua jam kemudian mereka menaikkan Zulkaidah ke bus luar kota yang kebetulan lewat membawanya ke Jakarta.
Di ibukota Zulkaidah kembali menjumpai AWK Samosir, pimpinan Serindo cabang Jakarta. Mereka bermarkas tak jauh dari Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Setelah beberapa bulan menumpang di rumah AWK Samosir, Zulkaidah pulang ke kampung suami di Tigadolok, Simalungun. Sejak saat itu pula Zulkaidah berpikir untuk berusaha sendiri demi mempertahankan kehidupan keluarga. Dia pun mulai berjualan kacang dan tuak ke pesta-pesta adat di Simalungun dan Samosir. Sambil menunggu jualan habis, Zulkaidah menarik seruling dari kantungnya. Tiupan serulingnya itu sering mengusik orang-orang di setiap keramaian pesta. Entah karena tertarik atau iba, jualannya pun laris keras. Bahkan suatu ketika penyelenggara pesta memborong seluruh barang dagangannya sebelum menyuruhnya menghentikan permainan serulingnya. Rupanya, ketimbang acara pesta, suara serulingnya lebih memancing perhatian orang ramai.
Beberapa waktu kemudian Zulkaidah tak lagi berjualan secara keliling. Di Lumbanri, Tiga Dolok ia memutuskan membuka kedai. Orang mengenalnya sebagai tenda biru karena atap kedai gorengan itu dilapisi dengan plastik berwarna biru. Masuk ke Tiga Dolok dari arah Siantar, tenda biru itu terletak kira-kira tiga ratus meter dari Simpang Kawat.
Tahun 1990 dan 1991 Zulkaidah sempat berkeliling Eropa dan Amerika mementaskan kebolehannya berkesenian. Ia pun menyimpan tulisan-tulisan yang merekam perjalanannya itu. Awal Maret 2006 PLOt (Pusat Latihan Opera Batak) mengajak Zulkaidah boru Harahap untuk pementasan Sipurba Goring-Goring di Balige. Lengkingan suaranya menyanyikan lagu-lagu Opera Batak belum berubah jauh dari suaranya dalam album-album yang sudah “dibajak” itu. Zulkaidah seperti tidak kelihatan lelah dengan nyanyian dan tiupan serulingnya. Tapi kadang sejenak dia mengumpulkan kembali tenaganya dengan sebatang rokok di luar panggung.
Di usia yang semakin senja istri Pontas Gultom alias Zulkarnaen ini masih menyimpan harapan agar suaranya menyanyikan kembali lagu-lagu Opera Batak masuk dapur rekaman lagi. Tapi ia tak mau terganggu bila harapannya itu tidak menjadi kenyataan. Sebab yang lebih penting baginya saat ini ialah tetap berkesenian bersama Opera Batak. Pada April lalu Zulkaidah tampil bersama Alister dalam pertunjukan Opera Danau Toba di Batam, Kepulauan Riau dan Pematangsiantar, Sumatera Utara. Kedua maestro ini telah mengobati kerinduan para pecinta seni tradisi Batak. Semoga masih tersedia banyak ruang dan kesempatan bagi mereka untuk terus berkesenian. (Thompson Hutasoit)

ket: Sudah pernah diterbitkan di majalah TAPIAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s