Augustin Sibarani


Lahir : Pematang Siantar, Sumatra Utara, 1925 Agustin Sibarani
Lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara, 20 Agustus 1925. Ia menempuh pendidikan menengahnya di bidang pertanian di Bogor, pada masa pendudukan Jepang. Pernah menjadi asisten perkebunan di beberapa wilayah perkebunan di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Di masa revolusi ia cukup aktif dalam dinas militer. Sampai kemudian di awal tahun 1948 ia berkenalan dengan pelukis Haryadi di Yogyakarta. Di kota inilah, di lingkungan seniman dan sanggar, ia mulai mengasah bakat dan keterampilannya untuk melukis dan menggambar karikatur. Dan sejak itu ia mulai banyak terlibat dalam berbagai penerbitan pers khususnya sebagai penggambar karikatur. Gambar karikaturnya berisi sindiran cerdas dan tajam terhadap berbagai kehidupan sosial-politik Indonesia bahkan di masa Orde Baru. Benedict ROG Anderson, peneliti dan pengamat masalah Indonesia dari Cornell University, AS, menganggapnya sebagai karikaturis terbaik yang dimiliki dunia pers Indonesia. Pada tahun 2001, Augustin Sibarani menerbitkan buku yang berisi penggalan biografi, konsep berkarya dan kumpulan karya karikaturnya: Karikatur dan Politik (ISAI, Garba Budaya dan Media Lintas Inti Nusantara, Jakarta, 2001). Di tengah kesibukannya menggambar karikatur ia tetap melukis dan berpameran.

Bintang Timur, 23 Juli 1957

KARIKATUR PUNJA DUNIA SENDIRI

Oleh : A. Sibarani

APAKAH sebenarnja k ar i k a t u r itu? Karikatur berasal dari kata c a r u g a, jang berarti kereta . Kereta ini bila diberi muatan, mendjadi berisi dan bila muatannja berat sekali, maka mungkin keretanja akan mentjong atau peot kebelakang, sehingga kudanja mungkin terangkat, Dan kalau sudah sampai begini tentulah para pelantjong jang lewat seketika akan pada ketawa, karena lutjunja , walaupun sipunja kereta meringis kekesalan karenanja. Ialah jang disebut k a r i k a t u r , sesuatu jang diberatkan. Diberatkan dalam arti “letterlijk”. Sedangkan dalam arti ”figuurlijk”, sesuatu jang ditentukan, ditambahi bumbunja, “overdreven voorgesteld”. Atau dengan lain perkataan karikatur itu adalah “overdrijving”.

Dengan jalan begini, daja ketawa orang akan ditimbulkan dengan expressie jang berlebihan, hingga mendjadi satirisch atau histeris dan bisa menjinggung perasaan orang. Asal mulanja memang begitulah maksud karikatur, menjinggung persaan orang2 jang sudah begitu tebal mukanja atau sudah kebal terhadap tegoran atau sentilan jang bersifat biasa. Mau tidak mau sibiang keladi jang sudah kebal dan tidak ambil pusing terpaksa mengarahkan pandangannja djuga pada karikatur. Dahulu kala seorang Goya membikin bangsawan2 Spanjol yang angkuh dan atjuh tak atjuh terhadap nasib bangsanja, menggerutu, mengkal dan tak bisa tidur kadang2, karena gambar2nja jang satirisch, sampai ia diuber-uber polisi, Begitu djuga expressionisDaumier dari Perantjis menghantam kaum ningrat dan hypocriet dengan karikatur2nja.
Memang sebuah gambar jg bersifat kritiek haruslah mengenai sasarannja dengan djitu, harus bisa dirasakan. Dan ini tidak akan tertjapai, bila hanja digambar setjara biasa sadja. Oleh karena itu gambar itu harus menarik perhatian karena keistimewaannja, ia harus menimbulkan reaksi pada orang, sehingga menjadi effectief sekali. Djalan2 untuk mendjadikan karikatur itu mendjadi “voltrefer” jang mengenai sasarannja harus djitu ditjari. Dan karena itu sebuah karikatur tidak bisa bersifat biasa, sebab karikatur tidaklah hanja merupakan illustrasi.

Seorang pembatja menjatakan keberatannja terhadap sebuah gambar jang dimuat diharian ini beberapa waktu jang lalu, jang melukiskan Simbolon Husen dan Barlian setjara mengejek sekali, jakni mereka tidak bertjelana dan malahan mempunjai ekor. Kalaupun saudara itu menganggap itu sebagai amat menghina, ialah karena ia sama sekali belum pernah membatja2 buku2 Walt Disney rupanja, Sebagai comics tjerita2 sematjam ini djuga banjak beredar, tapi rupanja saudara itu barangkali tidak begitu suka pada comic2 Amerika itu. Saluut kita sampaikan. Sebab comic2 itu sebenarnja adalah djuga barang2 jang kita tidak setudju peredarannja.
Nah, sebagai tjontoh saja tundjukkan disini sebuah gambar dari tjeritanja Walt Disney itu. Tentang seekor serigala jang dojan anak2 babi atau pigs, (Dalam gambar saja jang lalu kami sengadja tidak pakai perkataan anak babi itu, supaja djangan terlalu menjinggung perasaan) “The bad wolf and the foolish pig” mentjeritakan tentang 3 ekor anak2 bandel jang banjak sadja akal dan tingkahnja. Tetapi tentang mereka ini sebenarnja terlalu banjak tjerita. Ada jang mengisahkan, mereka tidak menurut perintah ajahnja jang bidjaksana dan pergi membandel main2 dihutan. Disana mereka dinanti oleh si serigala. Serigala itu mentjoba memikat hatinja dengan makanan enak atau tipu muslihat lain, hingga mereka tertangkap, dimasukkan dalam kuali dirumah. Begitulah djalannja tjerita.

Hikajatnja Walt Disney inilah sebenarnja jang memberikan idee buat saja untuk membikin karikatur itu, oleh karena saja anggap tjerita2 Walt Disney amat populair sekali dan tentunja bisa gampang dimengerti orang. Dan karena dalam gambar2nja Walt Disney anak2 tadi tidak bertjelana, maka dalam gambar2 saja pun demikian djuga. Dan memang, dalam gambar2nja Walt Disney banjak binatang2nja jang tidak memakai tjelana tapi hanja berbadju. Dalam dunia binatang tidak ada jang bisa kita anggap tjabul, kalu mereka tidak berpakaian, karena semua binatang jang kita ketahui mondar mandir dimuka kita adalah telandjang dari kucing kesapi gede. Djuga dalam film “Fietsendieven” dari Vittorio da Sica ada seorang anak ketjil jang kentjing jang sama sekali tidak memberikan kesan jang tjabul dan kalau hari2 hudjan maka banjak anak2 jang telandjang bulat mandi2 dipekarangan kita dengan tiada menimbulkan fikiran suatu apa.

Monjet, keledai, kutjing, buaja adalah soal pemberian bentuk dalam perumpamaan tjerita, pemberian daja penarik dan penekanan humor serta usaha untuk menjatakan expressia pada pernjataan. Begitulah dalam buku kanak2 banjak kita batja tentang kantjil dan kura2 jang bisa bitjara dan buaja jang memperdajai seekor sapi. Dalam tjerita chajalan semut bisa berperang melawan gadjah dan singa jang mempunjai mahkota duduk disinggasana. Dalam karikatur hal ini adalah soal biasa. Karikaturis Inggris menggambarkan Churchill sebagai buldog, pelukis Mesir dijadikan Nasser singa atau buaja, djurugambar Brockman dari Djerman menempa Adenauer djadi monjet dan memproteskah orang djadinja, kalau umpamanja Hatta saja gambarkan disini berbentuk andjing?

Hal penggambaran seperti begini adalah soal biasa dalam karikatur dan djanganlah soal2 ketimuran-kesopanan etc. etc, kita bawa2 didalamnja. Tentu sadja kita memeperhitungkan hal ini semua, sebab djangan lupa, seorang karikaturis djuga mendjaga nama baiknja. Tapi dalam pembikinan karikatur kita mempunjai pandangan sendiri, mempunjai ukuran sendiri. Begitulah umpamanja umum tidak akan memaki Hendra, kalau ada perempuan telandjang duduk dirandjangnja dirumahnja untuk dilukis. Tapi seorang kepala kantor akan ditangkap atau dilempar keluar andaikata ia menjuruh typistenja berbuka badju dalam ruangan kantornja. Begitu juga dengan portret2 phornografis jang didjual setjara gelap haruslah dibasmi, sedangkan lukisan2 telndjang dalam suatu pameran Basuki Abdullah dikagumi orang. Ukuran2 memang berlainan, tergantung dari arti, makna dan tudjuan, nilai dan isi.
Dan pula haruslah ditjamkan betul, bahwa dalam memperhatikan sebuah karikatur, kita haruslah melihat gambar seluruhnja dan djangan hanja mata ditudjukan pada bentuk binatang tadi. Umpamanja sadja saja menggambarkan Hatta seperti serigala melulu dan tidak ada jang lain2 selain dari itu, maka tentulah gambar itu tidak mempunjai arti selain dari menjamakan Hatta dengan binatang tersebut tadi dan tentulah ini bisa dianggap amat kasar karena tiada tudjuan sama sekali selain menjelekkan. Tapi gambar saja jang lain diharian ini mengenai Hatta, adalah sebenarnja pemaparan suatu kisah bersedjarah dari Roma, dimana dua putra dimasa ketjilnja diasuh oleh seekor serigala ditepi sungai. Dan tjerita inilah jang memberikan ilham pada saja untuk membikin karikatur itu. Tjoba pikir andaikan Hatta disini saja gambar disini seperti manusia jang melindungi 2 anak itu maka apakah lagi makna dari karikatur itu? Sama sekali tidak ada. Dan memang, seperti djuga saja terangkan tadi, sebuah karikatur harus “Voelbaar”. Kalau dikatakan menjinggung, ja menjinggung. Dan saja kira mau tidak mau, seorang besar seperti Hatta terpaksa mengarahkan matanja kepada gambaran saja. Dan saja kira, bagaimanapun besarnja Hatta sebagai pemimpin Indonesia jang pernah mendjadi wakil presiden, namun setidak-tidaknja karikatur saja tidak asal begitu sadja disambillalukan. Dan saja kira, bung Hatta, kalaupun beliau memperhatikan karikatur saja, tidaklah akan datang anggapan padanja, bahwa tudjuan gambar itu adalah menghina. Dengan lain perkataan Hatta adalah Ibu pengasuh jg menggemukkan Barlian dan Husen dan inilah jang saja gambarkan dgn karikatur saja. Dalam gambar itu saja tidak mau menjamakan Hatta dengan anjing atau dengan serigala, tapi saja mau memperlihatkan setjara “keras”, bahwa sebenarnja bung Hatta adalah forageur istimewa, pengasih sajang dan geestelijke voeder dari mereka.
Bahwa gambar itu mengedjek, jah, begitu dapat djuga dapat disimpulkan, sebab memang sebuah karikatur adalah suatu spotprent, suatu gambar mengedjek djuga djadinja, tapi dengan tudjuan tertentu, membentangkan”het koddige van het hele geval”.
Dalam tulisannja sdr. Ahmad Subandi kepada redaksi surat kabar ini, djuga dikemukakannja soal menghina ini. Lalu dikatakannja, bahwa sebenarnja, panglima2 tadi masih in functie, djadi kalau menghina mereka, itu djuga adalah menghina angkatan perang. Pertama saja katakan, bahwa tudjuan bukanlah untuk menghina. Pendjelasannja sama sadja terhadap bung Hatta tadi. Kedua, djustru karena mereka masih in functie itulah mereka saja karikaturkan. Andaikata mereka tidak in functie dan tidak bertindak suatu apa, maka tidaklah penting lagi mereka dikarikaturkan? Djangan lupa, bahwa sebenarnja hanja orang2 jang pentinglah jang kita anggap perlu digambarkan, djadi andaikata ia umpamanja sudah lepas dari djabatannja, dia tidak begitu penting lagi, karena sudah diluar perhitungan. Dan djustru karena mereka masih tetap panglima2, masih tetap pedjabat dinegara kita, dan kemudian mereka sebagai pedjabat dari sebuah pemerintah tidak mau tunduk pada pemerintah, disinilah letaknja keanehan dan kelutjuan seluruh persoalan. Disinilah letaknja “het caricaturale” kebengkokan seluruh situasi. Dan karikatur jang saja buat mengenai mereka bukanlah sindiran jang ditudjukan terhadap lawan, terhadap musuh, tetapi bisa diibaratkan terhadap anak2 hilang jang dipanggil supaja pulang kembali. Kalaupun diterima sebagai pukulan, jah anggaplah pukul sajang. Pukul sajang jang tentu harus terasa djuga. Kalau terasa inilah tanda, bahwa karikatur berhasil……

Dalam surat pembatja tadi kepada redaksi Bintang Timur ada djuga dikemukakan, bahwa panglima2 jang saja karikaturkan itu adalah pedjoang2 kemerdekaan jang telah berdjasa untuk Tanah Air. Djustru karena hal itulah kita mau lukiskan pada mereka betapa anehnja perbuatan mereka sekarang dibanding dengan perdjuangan mereka dahulu. Dan sama sekali tidaklah mereka kita anggap sebagai musuh, tapi sebagai kawan jang menjimpang dari djalan semula. Tjoba pikir dahulu umpamanja: apakah saudara pembatja mengira , bahwa kalau saja membuat karikatur dari Letkol. Saleh Lahade saja menaruh dengki padanja? Saleh Lahade adalah sahabat karib saja semendjak dahulu bersama-sama sesekolah di Middelbare Landbauwschool di Bogor dan bersama-sama bermain boksen dengan majoor Hertasning, kepada stafnja Andi Mattalatta sekarang. Tapi namun begitu persoalan2 perseorangan kita kesampingkan dalam menghadapi situasi negara dewasa ini. Dan menjerukan kepada Overste Saleh Lahade, bahwa terbelakangnja daerah ini karena kurang diperhatikan oleh pusat adalah kesalahan dari semua kabinet2 jang sudah2 dan sama sekali tidak bisa ditimpakan tuduhan pada pemerintah sekarang. Bahkan hanja pemerintah jang sekaranglah jg sebenarnja dengan bukti jang njata “vol oede voornemens” untuk memperbaiki keadaan daerah dengan mendirikan chusus satu kementerian untuknja tapi uluran tangan pemerintah ini disambut tuntutan2 mutlak jang bersifat ultimatum dari dewan2. Sungguh ini semua tidak bisa dibenarkan! Daerah2 jang “memberontak” sekarang haruslah memberikan kesempatan pada kabinet sekarang untuk memperlihatkan kebidjaksanaanja. Kalaupun mereka memberontak haruslah itu dianggap sebagai ketidak puasan terhadap kabinet2 jang lalu. Tapi kepada kabinet ini mereka tidaklah bisa bersikap demikian, oleh karena kabinet ini baru sadja berdjalan dan malah dalam perdjalanannja pertama sudah dipersukar dan dampratan dan tendangan jang tidak senonoh dan tidak pada tempatnja.

Bagaimanakah daerah toh bisa menentang dan membangkang, tidak sadarkah mereka, bahwa ini tiada bisa mempunjai akibat lain dari menambah sulitnja keadaan jang sudah ruwet jamg sudah dekat pada malapetaka, apalagi karena kekuasaan2 asing jang memperhitungkan kepentingannja jang besar mulai menanamkan jarumnja ke dalam tubuh negara kita karena kesempatan jang luar biasa untuk memantjing dalam air keruh2. Sedjarah Dunia bisa mentjeritakan, bahwa diseluruh benua, dimana negaranja berada dalam keadaan katjau dan pusing, disitulah avontuur politik dan intrigues kotor meradjalela, Tiongkok dengan Tjiang Kai Seknja, Indotjina, Arab, Mesir, Israel, Spanjol dahulu, semua bisa membuka buku sedjarahnja. Dan semua ini harus disadari oleh seluruh patriot Indonesia dan semua kepala2 Dewan2 sekarang!

Itu pulalah sebabnja, mengapa kita dengan tegas menentang tindakan daerah sekarang. Dan itu pulalah sebabnja mengapa saja dengan karikatur2 saja menggambarkan sikap perbuatan pemimpin2 dewan sekarang sebagai tingkah laku jang menggelikan sekali. Dan karikatur mempunjai dunianja sendiri, mempunjai tjaranja sendiri, jang tidak bisa ditilik hanja dari satu sudut sadja, dari sudut jang diedjek dan jang terkena dengan katjamata jang kleinburgerlijk dan seolah berkedokkan moraal. Dan pemimpin2 partai jang menentang kabinet sekarang dengan bersikap oposan, bagi saja mereka mendjadikan hanja suatu karikatur belaka, karena pikir punja pikir, semua orang2 dari pemimpin2 partai jang berminat untuk mendajtuhkan kabinet sekarang, telah pernah semuanja duduk dalam kabinet dan memimpin negara dan akibat pimpinan mereka itulah sebenarnja segala ketidakmadjuan dan ketidakberesan negara sekarang. Kalau kabinet ini djatug, maka akan timbul lagi sematjam kabinet jang dulu2 dan kita akan kembali mundur kezaman 5-6-7 tahun jang lalu. Kabinet akan terus2 didjatuhkan, karena disinilah letaknja ketjakapan kebanjakan pemimpin kita dan sampe tue tidak akan datang pembangunan dan kemadjuan. Meradjalelanja korupsi adalah akibat tiadanja kebidjaksanaan dan kedjudjuran dari pemimpin2 jang mendjiwai kabinet2 jang dahulu dan kita mau bertanja, apakah pemimpin2 dari dulu2 ini jang mendjadi biang keladi dari segala keambrukan dalam negara sekarang mau merongrong pemerintah sekarang agar kita kembali lagi kezaman baheula, dimana ketidakmampuan mereka akan mendengungkan kembali symponi lama beriramakan kemakmuran rakyat brantas korrupsi ensoprot?

Pada hemat saja, dari seluruh kabinet jang pernah dilahirkan dengan merana dan dengan segala kepahitannja, maka baru sekaranglah terdapat sesuatu jang bernafaskan tenaga2 muda jang menjegarkan. Kabinet + Dewan Nasional adalah terdiri dari tokoh jang menjetuskan proklamasi kemerdekaan jang tidak bisa dipungkiri kedjudjurannja dan para pemimpin jang menentang kabinet ini haruslah sadar, bahwa tanpa pemimpin2 muda jang revolusioner ini, maka barangkali negara kita belum merdeka sekarang hingga dan pemimpin2 jang kini beropposisi tidak akan sekaja dan semakmur dan sebahagia sekarang. Dan kalaupun mereka mau mengatakan, bahwa kabinet dan Dewan Nasional sekarang banyak terdiri dari orang2 kiri, maka harus pulalah mereka menerima sebagai kebetulan, ataupun sebagai pengakuan, bahwa tenaga2 jang revolusioner memang kebanjakan terdiri dari orang2 kiri. Dan disamping kebetulan ini, supaja datang pula kesadaran bagi mereka, bahwa “tenaga2” jang korruptief semuanya terdiri dari orang2 jang kanan.

Saja kira uraian ini sudah cukup djelas.
Dan karena itulah kabinet ini harus disokong.

Dan bagaimana dengan karikatur ? Karikatur akan berdjalan terus, mereka semua jang sok aksi bersikap pemimpin tapi sebenarnja belum kita ketahui sampai dimana sudah hasil usaha mereka untuk membahagiakan rakjat, akan kita gambar ! Kita gampar denga tjara kita sendiri !!!

“BINTANG TIMUR” Selasa, 31 Desember 1957

SATYRE SOSIAL Oleh : A. Sibarani

Sedjak dulu kala, dari masa ke masa, seniman2 kenamaan telah diilhami gaja inspirasi jang mendjolak-djolak, untuk melukiskan setjara tadjam dan mengedjek segala kepintjangan masyarakat sekitarnja dengan membuka selubung atau kedok dari kepalsuan dan ketidak djudjuran jang bersimaharadjalela dimana2. Dunia ini penuh dengan kaum hypocriet, orang2 jang pura2 djudjur, pura2 mengandjurkan kepribadian jang luhur, tetapi didalam hati sanubarinja mengandung kebusukan dan kedjelekan jang sebenarnja tiada mengasihi sesama manusia. Ada orang2 jang pura2 pergi sembahjang hanja untuk menutupi kemauan djahat jang bertjokol dalam hatinja. Kebetulan karena mereka berkuasa atau mempunjai kedudukan jang penting maka orang2 djudjurlah jang mendjadi korban dan menderita. Selain dari hypocriet jang berketjimpung dengan leluasanja, maka tidak sedikit pula jang seperti main sandiwara dipanggung, berjual kojok seperti tukang obat keparat, berlagak aksi dan seolah2 maha tahu dan pintar betul, tapi sebenarnja bodoh dan tolol. Begitulah pengarang besar Gogol dengan “Revisor”nja menggambar ……

Agung belum terbongkar, maka penuhlah kedjadian2 jang lutju dan menggelikan sekali, jang membuat pengikut tjerita tertawa terpingkel-pingkel. Inilah jang disebut satyre, kegialaan manusia jang digambarkan dengan setjara mengedjek sekali.

Pelukis kenamaan Honore Daumier, ekspresionis Perantjis jang hidup di abad ke-19, diwaktu ketjilnja sering melihat persitiwa2 dalam pengadilan2, dimana pentjuri2 sekerat roti dihukum oleh hakim2 jang suka menakutkan. Djuga Daumier dalam lukisan2nja menggambarkan hakim2 jang bermuka seram dengan banjak mengobrol ini dengan setjara satyria sekali. Dunia ini memang penuh dengan ketidak adilan, diseluruh negara jang ada dibumi ini keinginan manusia untuk dapat hidup berbahagia dan sentausa belumlah tertjapai. Apakah sebabnja demikian ? Apakah dunia ini tidak tjukup memiliki harta kekajaan jang akan dapat dibagi-bagikan setjara adil pada para penghuninja ? Pertanjaan ini bukanlah sesuatu jang hanja dipikirkan oleh kaum politisi sadja, tapi djuga oleh pengarang2, sardjana2, pelukis2, dan segala manusia jang turut merasakan kekurangan2 kehidupan dari rakjat djelata. Jang merasa puas dan menganggap keseluruhan jang ada sebagai sesuatu jang “lazim” dan sudahlah seharusnja begitu, adalah mereka jang kebetulan karena tipu muslihat nenek mojangnja dalam keadaan jang serba tjukup, seperti miljuner2 dan penumpuk harta karun atau tuan2 tanah jang kaja raja. Tuan2 tanah jang bergelimang dalam segala matjam hasil kekajaannja, ti-

daklah akan memikirkan, tidaklah akan mengasah otaknja, dari mana sebenarnja datangnja kekajaannja dan hasil djerih pajah siapakah jang sebenarnja jang menggemukkan tubuhnja, mereka mendapat gadji dan bukankah mereka akan ditimpa nasib malang andaikata mereka diberhentikan dari pekerdjaannja ? Karena “kebaikan hati” dari madjikannjalah maka mereka bisa hidup, bukankah djasa dari sikaja ini harus dihargai ?

Keadaan jang pintjang mendjadi sasaran

Keadaan jang pintjang dimana sadja mendjadilah sasaran jang bertubi dari pelukis2 karikatur, dari abad ke abad …….. … pahit.
Kebenaran jang bagi sasaran jang ditudju tentu sebagai gambar jang kurang adjar dan melampaui batas. Gambar2 gila dari pelukis karikaturis kenamaan Goja begitu seremnja, begitu nekadnja, hingga kita sekarang ini enggan djuga memuatnja, karena bisa menjinggung soal susila dan kesopanan. Orang2 bangsawan hypocriet selalu mendjadi sasarannja jang hebat, hingga boleh dikata, bahwa orang ini hampir setjara letterlijk ditelandjangi. Kita katakan begitu oleh karena gambar2 orang bangsawannja memang banjak jang telandjang bulat dalam pose jang menjinggung perasaan dan sungguh mengagetkan. Dapatlah dimengerti bagaimana tjemasnja perasaan orang bangsawan diwaktu itu, jaitu penghuni2 istana dalam keradjaan Spanjol dalam abad ke-18. Gambar2 inilah jang disebut Satyre Sosial. Jang mendjadi pokok bukanlah idee suatu partai politik jang tertentu, akan tetapi “penelandjangan” dari suatu keadaan jang pahit jang berteriak2 meminta keadilan. Makna kata telandjang ini dalam arti kata “ letterlijk”dapat djuga kita lihat pada gambar2 dari pentjukil kaju kenamaan FRANS MASEREEL, pelukis jang berasal dari Belgia. Sebuah gambarnja kita muat djuga disini oleh karena kita menganggapnja masih “boleh”, mengingat makna dan tudjuan. Gambar ini adalah satyre dari kebobrokan kaum atasan, suasana foja2 jang mentjekam dada, tapi mengandung kebenaran jang pahit. Tjukilan kayu ini dibuatnja dalam tahun 1925, keadaan Eropa dalam suasana sehabis perang dunia ke 1.

Bagaimana keadaan di Amerika ?

Djuga Amerika mempunjai social satyrists. Pada +/- tahun 1935 – 55, dajdi 20 tahun jang lalu, Amerika mengenal manusia2 tukang tjorat-tjoret jang mungkin kalau sekarang tentu ditjap dengan istilah “communist”. Jang terkenal waktu itu ialah : Hirschfeld, jang menggambarkan United States Supreme Court, sebagai machluk2 jang penipu besar, Mabel Dwight, Don Freeman, jang membikin dunia perfilman sebagai arena satyre luar biasa, dengan menggambarkan hubungan2 mesra antara produser dengan bintang2 filmnja: (geger djuga dunia film kita, andaikta saja “satyrekan” djuga suasana perfilman kita disini dengan gambar2 jang seram dari kedjadian2 jang benar, ja), Hugo Gellert lebih suka menjerang Angkatan darat angkatan laut dan angkatan udara, jang menurut dia penuh dengan korupsi da penipuan. Dalam satyre: The Army, The Navy and the Air Force, ia menggambarkan brontosaurus, buaja dan kalong maha besar menggerogoti Amerika dengan timbunan uang dalam mulutnja jang serakah.

Social satyrists lain yang terkenal waktu itu di Amerika ialah: Adolf Dehn, Reginald Marsh, Redfield, Peggy Bacon. Terutama Peggy Bacon menggambarkan kehidupan pahit dari sipekerja miskin dengan tadjamnja.
Seorang satyrists jang amat lihay ialah Covarrubias. Waktu penobatan pertama dari Presiden Franklin D. Roosevelt dalam tahun 1933, maka muncullah dalam Vanity Fair suatu karikatur jang amat lutjunja. Gambar ini amat besarnja, karena sampai dimuat 2 halaman penuh dan berwarna pula. Pada gambar ini tampak segala kehebatan upatjara digambarkan dengan amat menggelikan sekali, tetapi gambar ini sebenarnja tidak begitu mendekati satyre sosial, hanja satyre politik biasa. Satyre dari kemegahan dan kehebatan jang sebenarnja mengandung tragiek dibelakang lajar.

Satyrist jang menghantam kapitelisme Amerika dengan pedasnja ialah B.V. Howard. Suatu ucapan dari Roosevelt jang mengatakan dalam salah satu pidatonja, bahwa : “… whether Capitalism in its present form is to continue …” disambut dengan gambar seperti kita maut dibawah ini. Apakah orang2 kapitalis tersinggung perasaanja oleh karena gambar ini, hanja merekalah jang tahu. Tapi jelas, gambar satyre memang suatu gambar jang gila. Tapi seorang satyrist bukanlah orang gila. Hanja gambarnja jang merupakan suatu jeritan social. Dan daptlah kita ketahhui, bahwa social satyrist djuga banjak berada di benua Amerika sendiri.

Lelutjon sebagai satyre

Kalau kita mendengar perkataan “lelutjon”, pikiran kita lalu diarahkan ke object jang lutju, seolah lelutjon dalam bentuk gambar jang satyre adalah sesuatu jang harus membikin orang ketawa atau membawa kegembiraan.

Sebeanrnya bukanlah demikian halnja. Memang kadang2 kita bisa tertawa melihat kekurangan2 kita sendiri, kebodohan kita dan kadang djuga nasib malang jang menimpa diri. Mood jang sedemikian rupa ini lalu mungkin nanti ditafsir sebagai optimisme jang berlebihan, atau bisa djuga sebaliknja pentjipa lelutjon lantas ditjap sebagai defaitist jang tenggelam dalam synisme jang mendekati keputus-asaan. Tidak mustahil pula, orang berpikir, bahwa ilham sedemikian rupa tentu, dilahirkan dari kalbu jang sudah agak sinting jang perlu mendapat pemeriksaan dari seorang psychiater. Interpretasi dan kesimpulan tentang ini sudah barang tentu bisa bermacam ragam.

Kembali kepada perkembangan kemanusiaan di Amerika, maka disini kita memuat sebuah gambar, jang terbit pada tahun 1900 di Amerika dalam madjalah “The Verdict”, selagi campagne pemilihan presiden dengan tjalon2nja Teddy Roosevelt dan Henry Clay.

Dua orang, jang rupanja adalah simpatisan2 dari Roosevelt lagi bitjara satu sama lain. Jang seorang rupanja adalah seorang kapitalis, sebab pada kuping dan ibu djarinja tampak gambar dollar. Pada dinding tembok kelihatan portret dari Henry Clay, jang rupanja tidak begitu mereka ingini. Lalu katanja pada temannja : “itu orang jang bernama Clay adalah seekor keledai. Lebih baik mendjadi presiden dari pada djudjur”. Dengan lelutjon ini seolah digambarkan, bahwa kalau orang di Amerika mendjadi presiden, ia tidak mungkin orang djudjur. Terutama jang berbentuk satyre adalah gambar muka dari orang2 ini dan tjara pelukisnja menondjolkan garis2 George Luke jang mendjadi cartoonist watak mereka. Pelukisnja ini adalah George Luke jang mendjadi cartoonist majalah Verdict tadi. Bahwa pada masa itu gambar karikatur mendapat tempat jang amat dipentingkan dalam penerbitan, dapat kita lihat dengan hadirnja pentolan2 karikatur dalam djumlah jang banjak dalam staf madjalah Verdict ini. Sebuah madjalah Verdict jang terbit pada +/- 1900 mempunyai cartoonist unggul seperti Anthony, Bristol, Mirs Horace Taylor dan George Luke sendiri. Karikatur2 mereka ini biasanja dimuat berganti-ganti pada cover, back cover dan middle-pages, pagina2 tengah sering dalam ukuran jang amat besar dan berwarna pula.

Kalau kita kembali pada dunia modern kini, dan mata kita radjin mendjeladjahi madjalah luar negeri, ada djuga kadang2 lelutjon jang berbentuk satyre. Seperti umpamanja gambar lelutjon jang berikut ini jang terbit dalam madjalah Perantjis dan digambar oleh Raynaud. Orang gemuk jang minta tjerutunja dinjalakan, tapi tangan sikatjung tidak sampai. Sebuah gambar humor seperti begini tidak selalu harus membikin orang ketawa. Malah mungkin ada jang menganggap flauw. Tapi jang flauw dan tidak enak bagi sikapitalis. Mungkin menjedjukkan bagi si gembel. Pandangan manusia bisa berbeda-beda, tergantung dari keadaan, dan kedudukan mereka dalam masjarakat. Jang tinggal digerakkan hanjalah tangan, pena dan kemudian ….. goresan ….

Di Indonesia bagaimana ?

Djuga dibumi nusantara jang elok permai ini, banjak sekali bahan berlimpah untuk membuat tjorat-tjoret jang merupakan satyre. Sebab sekaranglah bertumbuhnja profiteurs politik jang mendjadikan sigembel mendjadi kuda tunggangan dan menggemukkan kantongnja sendiri. Sekaranglah meredjalelanja korupsi dan avonturisme, mekarnja prostitusi dan banditisme. Pendek kata, bahan berlimpah, inspirasi tjukup.

DARI REDAKSI
Karikatur2 Sibarani dalam harian ini banjak mendapat perhatian umum, terbukti dengan banjaknja surat2 jang mengalir kemedja redaksi. Sebagian besar surat2 ini berisi sambutan jang menggembirakan terhadap karikatur2nja, disamping tentunja djuga ada beberapa jang memandang hasil kerdja Sibarani dari sudut lain. Salah satu surat seperti ini kami muatkan diruangan “Pendapat Pembatja” hari ini.
Tulisan Sibarani ini bukan sadja kami anggap penting sebagai pendjelasan tentang arti karikatur, tetapi lebih lagi: ia merupakan satu pernjataan-diri Sibarani pada waktu ini sebagai seorang seniman terhadap berbagai persoalan2 bangsa pada waktu ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s