Ronald Manulang


Bertanya Tanda kepada Ronald Manulangvenus-man[1].2006.-ooc.-100x12

Kalau saudara mencari, tak ada salahnya saudara mempelajari seni lukis Barat dari Renaisans-nya Leonardo da Vinci sampai Realisme-nya Delacroix ke seni lukis baru-nya Picasso. Tidak di arti teknik mereka saja, tetapi di arti filsafat seni itu, yang menjadi sebab-sebab aliran-aliran seni lukis itu juga harus kita pelajari. Dari sini dengan sendirinya kita akan mempelajari seni lukis yang orang Eropa katakan mula-mula adalah seni lukis primitif (Afrika, Amerika, India, Tiongkok, Jepang, dan Indonesia). Dan pada waktu saudara mempelajari seni lukis Barat yang primitif tadi, maka saudara akan terharu jatuh cinta pada jiwa dan corak kesenian kuno kita: Bali, Batak, Minangkabau, Dayak, Papua, Jawa, dan lain-lainnya.
(S. Sudjojono, Keboedajaan dan Masjarakat, No.5/II/September 1940)

Banyak hal yang bisa dibongkar dari sebuah lukisan. Apalagi lukisan tersebut memilki muatan sosial politik yang sangat kental. Namun, kita sering terbentur saat mulai membaca karya seni itu lebih dalam. Karena seniman sering “berandai-andai” dalam menempatkan tanda dan simbol dalam lukisannya. Persolan inilah yang saya alami saat melihat lukisan Ronald Manullang—pelukis yang cukup senior dengan pengalaman berpameran pada pameran-pameran penting di Indonesia.

Dari beberapa lukisan yang sempat saya lihat melalui katalog/image digital, saya berhenti pada sebuah lukisan Perjalanan Ratusan Tahun (2006). Lukisan ini menarik perhatian karena menampilkan dua figur yang berbeda keadaannya. Seeorang perempuan bule memegang terompet dan dan buku tebal duduk diatas kereta roda tiga, sedangkan yang satunya seorang pria pribumi dalam posisi yang dramatis (terjatuh) memegang gendang, telanjang dada dan berambut gondrong.

Dalam katalog Ronald Manulang menyatakan tentang lukisan ini: “jika bicara nasionalisme, yang pertama terbayang adalah negeri Tulip (Belanda) yang telah menjajah, meninggalkan bekas luka penindasan dan penderitaan yang dirasakan rakyat ketika harus ikut menjalankan roda kolonial yang dikendalikan penguasanya, yang digambarkan sebagai yang sedang memimpin orkes perbudakan, dengan meminjam karya Vermeer pelukis Belanda yang terkenal.”

Melalui lukisan ini saya mencoba mencari tanda-tanda penindasan yang dimaksud oleh Ronald. Namun, sulit untuk ditemukan. Mungkin yang dimaksud pria pribumi yang terjatuh itu. Tapi ketika saya coba melihat tanda-tanda “kepribumian” dan ketertindasan (perbudakan) yang dimaksud pelukis, saya hanya memukan kulit yang mulus dan tubuh kekar, sehat, berambut gondrong seperti seorang rock star dan memegang gendang dengan “mantap” sambil melakukan okrobat di depan perempuan bule. Jujur saja, saya tidak menemukan “tanda” penindasan yang dimaksud dari pernyataan Manullang.

Kemudian saya coba untuk melihat tanda lain yaitu figur perempuan bule yang diambil dari lukisan Vermeer (Jan Vermeer 1632 – 1675) pelukis Baroque Belanda. Dari penelusuran, saya menemukan lukisan yang dimaksud yaitu The Allegory of Painting atau sering disebut The Art of Painting (1666/67). Pada lukisan aslinya digambarkan seorang pelukis sedang melukis di studio dengan model perempuan memegan terompet dan buku. Lukisan ini adalah salah satu masterpiece seniman dari Delf ini. Karya ini menunjukan ambiguitas visual dalam lukisan—yaitu realitas dan diluar realitasnya. Lukisan ini banyak memberikan inspirasi bagai generasi sesudahnya dalam membongkar apa itu melukis dan lukisan. Realitas lukisan dan pelakunya ditempatkan dalam satu frame—disinilah letak pentingnya lukisan koleksi Kunsthistorisches Museum Vienna ini.

Lalu bagaimana kita bisa mengkaitkan lukisan ini dengan karya Manullang Perjalanan Ratusan Tahun yang “meminjam” figur perempuan dari lukisan Vermeer ini. Pertanyaan saya apakah bisa figur perempuan ini sebagai tanda kolonialisme yang dimaksud? Atau apakah terompet yang dipegang perempuan itu sebagai orkestrasi kolonialisme dan dan roda tiga sebagai roda kolonialisme? Waduh, saya menjadi sedikit kebingungan. Karena, pengetahuan senirupa saya seperti diuji untuk melihat karya ini. Vermeer sebagai seorang tokoh Baroque yang penting, baru ditemukan setelah dua ratus tahun setelah meninggalnya. Dan itu pun mayoritas lukisannya dibuat di Belgia yang kebetulan di sanalah ia lebih banyak tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Seniman ini tidak pernah menikmati hasil karyanya karena jatuh miskin didera utang. Dari catatan sejarah seni rupa Barat, saya tidak menemukan tendensi superioritas dalam karya-karya Vermeer. Kritikus dan sejarahwan seni lebih banyak membongkar estetika dan penemuan teknik trasparansi pada karya-karya spesialis lukisan di interior ini.

Jadi, lukisan Perjalanan Ratusan Tahun ini begitu “abstrak” bagi saya. Karena hubungan kolonialisme dan penindasan yang dimaksud Manullang begitu jauh dan terlalu gampang dikarenakan hanya kebetulan Vermeer dari Belanda. Bagi saya tanda dan simbol yang digunakan dalam dunia seni tidak bisa diambil dari kulitnya saja. Karena tanda itu memuat sejarahnya sendiri. Pada kasus Perjalan Ratusan Tahun, saya kira tidak ada hubungannya antara Vermeer dengan kolonialisme terutama pada lukisan The Allegory of Painting. Lukisan ini lebih bicara tentang dunia ambiguitas seni lukis sedangakan yang diinginkan Manulang adalah orkestrasi kolonialisme dan penindasan.

Ada beberapa lukisan yang juga menarik perhatian saya selain Perjalanan Ratusan Tahun diantaranya adalah Have a Nice Flight (2005), Tidak Ada Purnama di Aceh (2004), PiGasso Over the Moon (2006) dan tentu beberapa lukisan dengan model perempuan telanjang yang dibuat dengan begitu cantik dan indah. Pada karya PiGasso Over The Moon, Manullang menulis “ketika masih menjadi mahasiswa pertama di akademi seni, aku pernah memimpikan betapa enaknya menjadi seorang Picasso. Seorang penemu dan punya begitu banya pengikut. Disamping ketenaran juga memiliki kekayaan berlimpah, dikelilingi wanita-wanita cantik yang dengan mudah dapat diminta jadi model bahkan menjadi teman tidurnya. Hal itu semualah yang membuat seorang ingin menjadi seperti Picasso. Bekerja habis-habisan dan tidak menghasilkan apa-apa, atau tidak melakukan apapun tapi bertingkah seperti penemu, bicra seperti maestro. Picasso syndrome. Apa mungkin bisa, aku yang terlahir diantara orang-orang terbelakang, bodoh, malas dan hanya suka makan seperti babi gemuk tapi mimpi menjadi maestro dunia.”

Pernyataan Manullang ada benarnya bahwa mimpi seniman kita selalu menjadi maestro besar dunia sedangkan secara kerja untuk membongkar sejarah dan logika estetika seni malas, sehingga sering lebih banyak menggampangkan sesuatu. Pada karya PiGasso Over The Moon, Manulang menggambarkan seorang pelukis bertubuh sapi dengan imagi lukisan terkenal Guernica di tubuhnya. Pada posisi lain ada gadis telanjang berpose dan menginjak Guernica sambil memegang salah satu bagian dari lukisan tersebut. Saya mencoba menghubungkan antara pose tubuh perempuan telanjang ini dengan Guernica dan sang pelukis. Lukisan fenomenal Piccaso yang sempat membuat ketegangan hubungan antara Spanyol dan Amerika Serikat—karena status kepemilikannya itu bukanlah lukisan biasa. Bagi masyarakat Spanyol ini adalah rekam sejarah tentang peristiwa pemberontankan dan penindasan di Guernica dan bukan hanya sebagai peristiwa estetik. Dalam lukisan Manullang, Guernica hanya menjadi peristiwa estetik. Apalagi tubuh telanjang di depan pelukis itu menjadi pembenaran yang sangat jelas tentang bagaimana seniman begitu lepas dari tanda-tanda sejarah yang melekat pada Guernica. Manullang sepertinya tidak menyadari Picasso bukan hanya bergelimang gadis telanjang dan hedonisme. Namun, ada pilihan politik dan ideologi yang menjadikannya menjadi seorang seniman besar. Dia tidak hanya berhenti pada penemuan estitika dan indahnya bersama perempuan-perempuan telanjang.

Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang saya temukan saat melihat karya Ronald Manullang—seorang seniman yang sebenarnya banyak terlibat dalam berbagai peristiwa besar sejarah seni rupa Indonesia terutama pada periode 1970an hingga 1980an. Sayang memang sisa-sisa progresivitas yang pernah ada pada Gerakan Seni Rupa Baru yang sempat ia ikuti pada awal karir kesenimannya, tidak bersisa pada lukisan-lukisan periode sekarang ini. Kepiawaian dalam melukis realis dan pengalam panjang sebagai ilustrator sepertinya tidak dapat mentransfer ide sosial politik yang dicoba dimainkan Manullang pada karya-karyanya. Manulang masih terjebak dalam pencarian estetik dan dramatisi visual yang sangat jelas tergambar dalam lukisannya. Hampir semua lukisannya mencoba untuk mendramatisi dalam bingkai lukisan seperti sebuah pertunjukan teater.

Tentang Ronald Manullang
Ronald Manullang, lahir di Tarutung 1954. Menempuh pendidikan di STSRI, ASRI Yogyakarta pada 1974-1981. Aktif berpameran sejak 1976 diantaranya pameran besar Seni Lukis Indonesia II 1976 di TIM Pameran Seni Lukis Indone sia , Purna Budaya Yogyakarta, Pameran Gerakan Seni Rupa Baru di TIM 1977 dan Pameran Seni Rupa Kepribadian Apa “PIPA” I di Gedung Seni Sono Yogyakarta 1977. Selain melukis, sejak 1982 bekerja sebagai illustrator. Mulai aktif kembali berpameran setelah era reformasi 2003 yaitu pameran Indofood Awards Galeri Nasional Indonesia, Jakarta. Ronald Manulang mendapatkan Affandi Award pada 1976 dan Creative Art Award Illustration USA 1990.

Dari segudang pengalaman pameran Ronald Manulang, banyak harapan saya untuk menemukan seni lukis yang menggugah kita tentang persoalan-persoalan bangsa ini. Mengutip pernyataan S Sudjojono seperti yang dikutip dipermulaan tulisan ini, memang kita akan menjadi terharu melihat apa yang ada sekitar kita kalau memang seorang pelukis bisa membongkar tanda-tanda dalam sejarah seni rupa bangsa lain. Harapan inilah yang mungkin dapat muncul dari seorang Ronald Manullang sebagai seniman yang banyak makan asam dan garam.

Penulis: Hafiz
Perupa/videomaker
Pendiri/penggiat Ruangrupa dan Forum Lenteng Jakarta
Biodata Ronald Manulang

One thought on “Ronald Manulang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s