Gus Aswan Siregar


Aswan dan Ayam Kampung Purwakartaaswan-204x300
Jumat, 12 Juni 2009 | 04:05 WIB
Mukhamad Kurniawan
Kasus kematian unggas akibat virus flu burung di Indonesia terus berulang sejak akhir 2003. Kejadian itu mengakibatkan trauma bagi sebagian peternak dan warga. Bahkan, ada yang takut memelihara unggas lagi. Kenyataan ini membuat Aswan Siregar tak nyaman.
Padahal, sebelum kasus-kasus kematian unggas terjadi, Aswan dan warga di Perum Bumi Hegar Asih, Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, memelihara ayam kampung. Siang hari ayam kampung dilepasliarkan untuk mencari makan dan pada malam hari dimasukkan ke kandang.
”Mau tidak mau saya harus mempelajari penyakit-penyakit unggas, bagaimana menjaga kesehatan, dan teknik budidaya ayam karena kasus kematian terus terjadi,” ujar Aswan.

Tahun 2003, sedikitnya 100 ayam milik warga di sekitar rumah Aswan mati mendadak. Dari gejala yang tampak, kematian ayam-ayam itu diduga karena virus tetelo. Namun, sebagian warga mengaitkannya dengan virus Avian influenza atau flu burung.

Berbekal hobi dan keinginan kuat memelihara ayam kampung, Aswan memulai usaha budidaya ayam secara intensif. Ia membeli ayam-ayam milik tetangga yang masih tersisa dengan harga murah, sekitar Rp 2.500 per ekor. Ia kemudian mengandangkannya di kawasan hutan milik Perum Perhutani, sekitar 200 meter di belakang kompleks permukiman warga.

Tak mudah melakukan sesuatu yang ditakuti orang-orang sekitar, termasuk memelihara ayam saat kasus kematian unggas akibat flu burung merebak dan orang khawatir bisa menular kepada manusia. Aswan menyiasati hal ini dengan mengandangkan ayam kampung dan menjauhkannya dari permukiman warga.

Pengandangan
Pada tahap awal, Aswan membeli puluhan ekor ayam milik tetangganya. Berbeda dengan metode pemeliharaan sebelumnya, dia tak melepaskan ayam-ayam itu pada siang hari. Ayam diberi pakan dan diperiksa kesehatannya secara rutin untuk menghindari risiko terserang penyakit atau mati mendadak.

Aswan membaca buku dan bertanya kepada ahli untuk sekadar memenuhi keingintahuan atau mencari solusi masalah yang dia hadapi. Dia juga melaporkan usaha ternaknya kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta serta berkonsultasi dengan penyuluh peternakan.

Ia memagari kandang ayamnya, membatasi pengunjung, dan menerapkan biosekuriti layaknya peternakan besar. Secara rutin ia menyemprotkan desinfektan dan memvaksin ayam-ayamnya agar tetap sehat.

Cara itu rupanya berhasil menekan risiko serangan penyakit dan jumlah kematian ayam. Populasi ayam kampung milik Aswan terus bertambah dari waktu ke waktu. Sejumlah tetangga penggemar ayam yang sebelumnya takut memelihara ayam karena merebaknya kasus flu burung tertarik dengan cara Aswan. Mereka lalu bergabung dan membentuk kelompok peternak.

Pada 2004, ada 10 tetangga yang bergabung dalam kelompok peternak ayam yang diberi nama Rahayu. ”Kami sepakat tidak memelihara ayam di sekitar rumah dan tak melepaskannya mencari pakan,” ujar Aswan yang sejak saat itu dipercaya sebagai ketua kelompok.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan, Aswan rutin mengumpulkan anggota kelompok untuk berbagi pengalaman. Mereka memperkaya pengetahuan dengan membaca buku dan mengikuti pelatihan atau seminar yang digelar instansi terkait.

Mandiri
Salah satu faktor yang membuat usaha Aswan tetap menguntungkan di tengah risiko serangan penyakit, kenaikan harga pakan, dan bibit ayam adalah kemandirian. Kelompok peternak Rahayu berusaha melepaskan ketergantungan dengan memproduksi sendiri pakan dan bibit ayam serta menciptakan jaringan pemasaran.

Setiap anggota dilatih mencari bahan baku dan memproduksi pakan sendiri. Mereka memanfaatkan sisa nasi rumah tangga dan perusahaan katering, sekam padi, serta bahan lain dari lingkungan sekitar. Selain lebih murah, cara ini menghindarkan peternak dari ketergantungan pakan pabrikan yang sering naik harganya.

Untuk memenuhi kebutuhan kelompok, setiap anggota memupuk kompetensi sesuai minat masing-masing. Ada anggota yang khusus membudidayakan induk unggul untuk menghasilkan telur. Sebagian anggota memproduksi ayam umur sehari dengan menetaskan telur dari induk unggul. Ada juga yang khusus membesarkan ayam hingga siap jual dengan ukuran 7-9 ons per ekor.

Berbeda dengan peternak atau pedagang ayam kampung umumnya, Aswan dan kelompoknya memproduksi ayam dalam jumlah tertentu secara kontinu. Kelebihan itu yang menarik sejumlah pemilik restoran dan rumah makan untuk berlangganan kepada kelompok Rahayu.
Sejak pertama kali berdiri, kelompok peternak Rahayu belum menaikkan harga jual produknya, Rp 18.000 per ekor. Mereka bahkan tetap menjual dengan harga itu saat harga ayam kampung di pasaran mencapai Rp 24.000 per ekor ukuran 10 ons.

”Kepastian harga diperlukan konsumen karena mereka jadi mudah mengatur arus keuangan usaha. Sejauh ini, dengan harga Rp 18.000 per ekor, kami tetap untung,” katanya.

Selain jaminan harga, konsumen puas karena ayam produksi kelompok Rahayu yang tak menggunakan pakan pabrikan sehingga ”rasa kampungnya” tetap ada. Dengan keunggulan itu, mereka tetap bisa menjual Rp 18.000 ketika harga ayam kampung di pasaran anjlok hingga Rp 12.000 per ekor.

Usaha yang dirintis Aswan dengan populasi awal 24 ekor telah berkembang menjadi 15.000 ekor. Anggota kelompok juga terus bertambah. Produksi ayam kelompok ini 1.500-2.000 ekor per bulan.
Kerja sama
Kelompok Rahayu telah menandatangani kerja sama pengelolaan hutan dengan Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan Purwakarta. Kelompok ini diizinkan menggunakan sekitar 5 hektar kawasan hutan jati di Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakarta, untuk membangun kandang ayam. Syaratnya, peternak tak merusak atau menebang pohon.

Usaha Aswan mengandangkan dan membudidaya ayam kampung secara intensif tak sia-sia. Selain bisa menambah pendapatan keluarga, Aswan dan kelompok Rahayu beberapa kali memperoleh penghargaan bidang ketahanan pangan. Pada awal 2008 kelompok ini meraih juara II lomba agrobisnis komoditas unggas tingkat Jawa Barat.

Pada tahun yang sama, Direktorat Jenderal Peternakan menobatkan Rahayu sebagai kelompok ternak ayam buras berprestasi tingkat nasional. Lagi, 18 Desember 2008, Aswan menerima penghargaan dari Menteri Pertanian atas prakarsa dalam pengembangan agrobisnis pangan. Usahanya mengelola peternakan dari hulu hingga hilir dengan memanfaatkan potensi lokal dinilai layak dikembangkan.

Hadiah dan penghargaan telah diraih, tetapi Aswan dan kelompok Rahayu tak ingin usaha itu jalan di tempat. Tahun ini mereka menargetkan peningkatan menjadi 30.000 ekor.

Aswan bercita-cita menciptakan Rahayu-Rahayu lain di desa-desa lain di Purwakarta. Keinginan itu tak lepas dari banyaknya potensi pakan dari alam yang belum termanfaatkan dan belum terpenuhinya permintaan ayam kampung.

”Sampai sekarang kami kesulitan memenuhi permintaan karena produksi masih terbatas,” ujar Aswan.

Sumber: http://koran.kompas.com/read

One thought on “Gus Aswan Siregar

  1. sya ingin mengembangkan kelompok Rahayu di kampung sendiri mohon informasi dan alamat lengkap Kelompok Rahayu pak Aswan By Rudiawan Contact Person 081912621113

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s