Aida Swenson Simanjuntak


Untuk Dunia Anak Yang Lebih BaikSwenson_-_Aida_01

Figur di balik sukses Paduan Suara Anak Indonesia, yang meraih sukses dalam berbagai kompetisi internasional, adalah seorang Ibu bernama Aida Swenson. Sebenarnya, Aida bukanlah orang baru dalam dunia musik serius. Perjalanan musikalnya sudah cukup panjang. Dia adalah seorang pianis yang handal, konduktor dan direktur paduan suara anak-remaja Indonesia, Cordana Choir. Direktur Eksekutif Nusantara Chamber Orchestra, Penasehat Yamuger (yayasan musik Gereja) dan sederet prestasi lain sudah diraihnya.
Sebenarnya, ada beberapa kelompok paduan suara anak di Indonesia. Namun, PSAI Cordana yang didirikan 1992 ini boleh dikatakan lebih menonjol. Paduan suara yang bermarkas di bilangan Fatmawati, Cipete, Jakarta Selatan, ini telah meraih beberapa prestasi prestisius, seperti tampil di National Convention, Miami, Florida Amerikan Serikat tahun 2007, World Choral Symposium, Copenhagen, dan di Wina, Austria, Juli 2008
Ketika menerima kunjungan wartawan TAPIAN, Aida terlihat letih, karena tidak cukup tidur selama dua hari. Namun, dia tetap bergairah menceritakan tentang ketertarikannya pada pendidikan anak.
Sudah sejak di bangku sekolah dia tertarik pada dunia anak-anak. Katanya, dia suka sekali dengan anak-anak. Aida melihat musik sebagai alat komunikasi yang efektif untuk mendekati anak-anak. Kontak itu kemudian akan menimbulkan kedekatan kedua belah pihak. Itulah yang membuat anak bisa bersama-sama, yaitu melalui nyanyi-menyanyi tadi. Baginya, nyanyi-menyanyi saja tidak cukup. Ada hal-hal lain yang harus dicapai anak didik. Belajar instrumen perkusi seperti jembe, taganing (gendang Batak dilatih Tarsan Simamora) bahasa Inggris, menari dan teater. Hal ini juga yang membedakannya dengan kelompok paduan suara anak lainnya. Dalam konser PSAI Cordana unsur seni pertujukan digarap secara maksimal. Mulai dari kostum, panggung, gerak tari serta unsur dramatik, semuanya sudah diperhitungkan. Dengan kata lain berorientasi pada Opera.
Saat kembali tiba ke tanah air dari studi di Westminster Choir College, Princeton Uneversitry, hal pertama yang dilakukannya adalah mengamati pendidikan musik Indonesia. Dari pengamatannya itulah Aida ia menarik kesimpulan, bahwa musik itu hanya milik orang yang mampu beli piano, beli organ, dan les musik saja. Berarti itu kan, hanya untuk kalangan menengah ke atas, ujarnya.

Les instrumen
Periode tersebut jauh sebelum PSAI berdiri. Pada sisi yang lain, ia juga melihat banyak anak-anak sekolah Minggu, dari berbagai gereja itu, yang musikalitasnya baik dan bisa menyanyi. Tapi, karena berbagai alasan, seperti belum bisa, atau karena kesibukan ibu serta alasan ekonomi, anak tidak mengambil les instrumen. Sehingga anak-anak tidak mampu menyanyi dengan not angka, apa lagi not balok. Padahal suara anak-anak itu pada bagus-bagus, tapi baca not angka kok nggak bisa, katanya.
Atas dasar inilah Aida menyimpulkan bahwa musik itu hanya bagi anak-anak yang mampu secara ekonomis, yang bisa disekolahkan orang tuanya. Oleh karena suara adalah satu-satunya instumen yang paling murah, yang selalu dibawa oleh tubuh ke mana pun seseorang pergi. Dan semua anak memiliki instrumen itu. Walaupun tidak semua anak memiliki instrumen musik, seperti piano, organ, gitar, namun anak-anak memiliki instrumen yang sudah diberikan Tuhan, yaitu suara.
Ketika PSAI dibentuk, dia mendapat dukungan dari Sudarsono menangani bidang pendidikan. Lalu teman-teman antara lain, termasuk Swaray Miranda Goeltom, deputi senior Bank Indonesia sekarang ini. Dan terutama dari ayahnya sendiri, Alfred Simanjuntak.
Paduan suara anak tersebut dibentuk pada tahun 1992 dan segera dikirim ke Filipina, mewakili Indonesia ke Asean Festival di negara tersebut. Paduan suara anak-anak Indonesia ini mendapat sambutan yang luar biasa, tidak kalah dari anak-anak tuan rumah.
Setelah kunjungan ke Filipina, Paduan Suara Anak Indonesia (Cordana) semestinya dibubarkan, karena misinya sudah berhasil dalam memenuhi permintaan pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Tapi, baik Aida maupun anak-anak ingin mempertahankan hubungan dengan menggunakan Cordana sebagai wadah. Apa yang dilakukan Aida terhadap anak-anak asuhannya bisa dianggap sebuah proses menuju pendidikan alternatif
Tadinya latihan mengambil tempat di STT ( Sekolah Tinggi Theologia) di bilangan Proklamasi. Dalam pertumbuhannya lebih lanjut, paduan suara ini menjadi sekolah di bilangan Fatmawati. Lengkap dengan kurikulum (sylabus). Awalnya hanya bernyanyi ramai-ramai. Kemudian mereka dibimbing untuk mampu menyanyi dalam berbagai bahasa. Bukan hanya Indonesia, Inggris, tapi juga Jerman, Batak, Spanyol, dan bahasa Italia. Juga Latin.
Menurut Aida, karena anak-anak itu bersifat peniru, maka mereka sering diremehkan oleh orang. Jadi cara kita, sikap kita, cara kita menyanyi sangat dipanut anak-anak. Sebenarnya yang sangat dihargai anak-anak adalah kepolosan dan kejujuran kita. Kalau kita polos, kita sayang pada mereka, kita polos dalam bekerja sama, jujur as we are, tidak ada kepura-puraan, kita akan dihargai.
Misalnya begini, kalau tak bisa bisa mengendalikan anak-anak itu, kan orang-orang suaranya sering jadi gede, marah. Ada yang mengira suara mengancam bisa dikontrol, padahal sebenarnya tidak. Kalau tak bisa mengendalikan anak-anak itu, orang jadi cenderung menghardik “Awas ya ! Nanti kalo ini.. Awas ya!” Itu kan nggak jujur. Kalau nggak mampu, nggak punya skill, anak-anak itu segera bisa membacanya. Jadi kalau kita dipercaya, kita jujur, kita polos sebagaimana adanya kita, anak-anak itu mempercayai, sehingga mereka berusaha untuk to be like us, dalam segala sikap. Itu saya kira pesan yang baik kepada semua guru. Dengan anak-anak itu, nggak usah harus ber-pura-pura menutupi kelemahan.

Sang ayah
Aida memulai les musik ketiak dia berada di Amsterdam. Dia masih ingat, ketika itu dia baru berumur empat tahun. Dibimbing oleh guru Belanda. Waktu itu, katanya, dia nggak mengerti kenapa disuruh les piano. Tapi, menurut sang ayah saya, Alfred Simanjuntak, Aida berbakat. Kembali ke Jakarta, saat berusia sembilan tahun, dia mengikuti kursus di Yayasan Pendidikan Musik di bilangan Manggarai, Jakarta Selatan. Dia sering diajak ayahnya ke tempat latihan paduan suara. Orangtuanya sering mendengungkan bahwa salah satu anaknya akan mengambil jalan menuju musik. Padahal, sebenarnya Aida, menurut pengakuannya sendiri ingin dunia yang lain. Dia bercita-cita jadi duta besar, politisi. Kedudukan yang pada waktu itu kedengarannya hebat.
Karena dapat bimbingan terus, sekolah Aida terus di musik. Kalau berbicara dengan ayahnya, maka musik yang menjadi tema pokok pembicaraan. Tapi, sayangnya pada waktu itu, orangtuanya kurang menjelaskan mengapa musik. Aida ikut saja. Tetapi, anak sekarang tak mau memperoleh perlakuan seperti itu.
Akhirnya, dia memperoleh bea-siswa dari Dewan Gereja se-Dunia di Jenewa, dan diteruskan ke Amerika tahun 1979. Dia belajar choral conducting pada Dr Josph Flummerfelt, Robert Shaw, dan Dr Frauke Hausmann.
Sebagai salah satu anggota Westminster Symphonic Choir, Aida pernah tampil di bawah konduktor dunia seperti Leopold Stokowski, Lorin Maazel. Yang paling mengesankan adalah ketika dia tampil di bawah conductor Zubin Mehta, Pierre Boulez. “Tapi saya ingat lho, saya benci kalo disuruh latihan main piano sekian jam-an. Saya rasa banyak semasa anak-anak kita dulu, yang nggak lihat pianis itu sebagai profesi. Kalau anak-anak sekarang kan sudah termotivasi,” katanya menguraikan.
Aida sampai pada kesimpulan bahwa, “Anak-anak semuda atau se-umur apapun, kalau mereka dengar aja yang dikatakan orang tua, banyak yang akan mereka dapatkan. Itu pengalaman saya loh…” katanya.
Kemudian sambungnya, ”Mungkin anak-anak sekarang sudah punya visi sendiri. Lebih banyak pikir, mereka bilang papa mama tau apa sih? Kalau saya ingat-ingat, andai kata waktu itu saya nggak ikutin, saya mungkin menjadi seorang yang tidak berbahagia seperti sekarang. Orang tua itu kan, mungkin melihat-lihat anaknya musti gimana, lalu kita dengarin. Tapi, mungkin pesan yang terutama di situ, orang tua itu masih pantes didengar.”

Sebuah proses
Aida menjadi juri di World Choir Games di Grass, Austria, tanggal 9-19 Juli 2008 yang lalu, yang kemudian dilanjutkan ke World Simposium on Choral Music. Paduan Suara Anak Indonesia juga diundang untuk menampilkan enam buah konser di sana. Untuk itu dibutuhkan ruang dan tempat berlatih. Tempat berlatih cuma satu. Tapi, secara tidak resmi ada juga di Papua, ada di Kalimantan. Itu bukan cabang, tapi kegiatan saya memang ada di Kupang, di Kalimantan, Menado, Papua Jayapura dan Medan. Jadi, ada orang yang menjadi kunci untuk melatih di sana. Itu penting, karena mengandalkan kemampuan daerah, yang ternyata nggak kalah bagusnya. ”Apa lagi kemarin saya jadi juri di ITB, luar biasa,” katanya mengenang. Bahkan Jakarta sebenarnya mesti malu. Kita, katanya, terlalu anggap enteng daerah. Ini adalah sebuah proses, yang kita mulai dari tahun 1997, hampir sepuluh tahun, proses membawa anak-anak itu untuk bukan hanya mampu, tapi bisa menghargai, lalu mencintai. ”Saya kira kita sudah berhasil.”
Paduan suara tersebut sudah berhasil dalam membawakan folklor. Contohnya dalam menyanyikan lagu Makasar. Lagunya menggunakan ayat-ayat suci dari Al Quran. Terus Aceh yang kata-katanya juga asing dan melodinya asing di kuping anak-anak. Kalau dibilang Batak, semua juga kenal Batak. Bahwa mereka juga membawakan lagu-lagu kuno, bukan kuno, tapi asli dari Papua, itu proses lho.
Setelah kita ajak mereka menghayati, lalu digerakkan dengan tarian, dengan instrumen, apalagi setelah mereka mampu, maka tingkat artistik yang dicapai tinggi dan baik, sampai mengundang penonton untuk standing ovation. ”Rasa bangga ada pada diri mereka, dan rasa bangga bahwa musik kita itu dihormati, disenangi, dan betul-betul diminati oleh orang asing mucul. Dan mereka bilang, kalau orang asing berminat, kenapa kita tidak, begitu kata anak-anak.
Bukan hanya meminati, Katanya, tapi menggali. Karena itu, proyek saya yang berikutnya adalah lagu-lagu Toraja, lagu-lagu yang belum disentuh. Kemarin, di Copenhagen kita membawakan satu tune melodi yang sangat simpel dari Papua. Penonton sampai histeris, bukan cuma tepuk tangan. Tapi, memang dengan tambahan instrumen, jembe, tifa (instrumen drum papua), dan dengan gerakan-gerakan asli Papua.
Melodinya hanya seperti itu, tapi mereka diundang ke 14 negara. Dari Stokcholmn, Eropa, sampai Yunani, sampai China Taiwan dan Korea di Asia, sampai ke Kanada, dan balik ke Washington. Nah ini membuat anak-anak itu akhirnya mulai faham. Mereka sekarang mampu memainkan gamelan. Apa lagi gondang (maksudnya Taganing instrumen drum Batak), tifa, jembe, alat instrumen lainnya, termasuk alat tiup. Mereka mampu menarikan tarian dari Aceh, Makasar, sampai Papua, Kupang, dan Batak. Semua bisa menarikan tari Betawi. Jaipongan juga bisa. Rasa bangga itu yang saya kira merupakan hadiah yang luar biasa. Mereka bangga menjadi anak-anak Indonesia. ”Tapi memupuk itu nggak gampang lho. Nggak gampang,” katanya berulang.

Share dengan anak-anak
Ketika ditanya bagaimana mengembangkan PASI Cordana, jawabnya: “Saya kira pertama begini. Seseorang itu, apakah itu pemimpin paduan suara, atau pengajar musik anak, dia mesti dua ratus persen yakin mengenai apa yang akan dihantarkan. Kalau kita bimbang, anak-anak segera membacanya dan kembali lagi tidak sungguh-sungguh. Jadi, kita harus yakin. Ini yang mau saya share dengan anak-anak dalam hal pembelajaran. Kedua, dia harus mampu berada di atas. Misalnya, saya mau mengajar lagu ini, bukan hanya sekedar yok kita coba-coba, tapi saya tahu bahwa ini bisa dilakukan anak-anak, dan ini akan menjadi sesuatu yang sukses. Ketiga, pada hasil akhir, kalau kita sudah merencanakan hasil akhir itu, yang perlu disadari anak-anak adalah kerja keras, percaya kepada guru, dengan intensif dan konsisten, bahwa hasil akhirnya akan excellent.”
Kalau mereka tampil kurang excellent, maka yang salah adalah gurunya. Kalau kita mengatakan lagu ini nih. Bukan hanya sekedar kenal, nyanyi bagus, tapi wow!. Kata wow itu merupakan pegangan kita. Jadi kalau seorang solois, biarpun dia enam tahun kita kasih lagu, dia bukan hanya asal bunyi dan bisa menghafal lagu itu. Tapi, mampu membawakannya dengan baik dan penonton memberikan komentar “Yeah, I love it.”
Setiap konser, Cordana selalu mendapat hasil akhir yang baik dan itu karena anak-anak. Bukan karena saya, kata Aida. Karena mereka yang belajar, mereka yang latihan, mereka yang tampil, mereka yang mengundang rasa kagum dari orang tua atau penonton. Ya, setiap pendidik anak-anak harus memiliki sikap itu. Kalau nggak, jadinya tanggung. Akhirnya anak-anak itu bertanya-tanya, ngapain sih sekolah? Ngapain sih latihan? Ngapain sih kita konser?, kata Aida Swenson menerangkan dengan seksama.
Tentang tur ke 14 negara pada tahun 2009 nanti, buru-buru Aida menetralkannya. Katanya, itu hanyalah undangan yang ditujukan pada Cordana. Dalam kenyataanya, Aida dan PSAI tidak tahu ke mana dan bagaimana cara mencari dana untuk memenuhi undangan itu. Namun, dia punya obsesi untuk membangun daerah-daerah yang potensial, seperti Papua, Sulawesi, Kalimantan, juga Tanah Batak.

Solidaritas
Di bawah naungan PSAI saat ini, ada lima grup paduan suara menurut klasifikasi umur. Namun, yang menjadi duta untuk event atau festival maupun kompetisi itu biasanya diambilkan dari kelas concert choir (yang sudah melalui beberapa tahap pendidikan). Dalam mempersiapkan konser, Aida dibantu oleh tiga orang guru bantu, semacam asisten, yang sudah menguasai materi lagu, melalui bimbingan Aida sendiri.
Di sisi lain, orang tua anak juga dilibatkan jadi panitia. Sementara masalah dana untuk tiket pesawat dan akomodasi, tetap menjadi masalah yang tidak mudah untuk dipecahkan. Dalam kondisi seperti itu, Aida Swenson boru Simanjuntak inilah yang bekerja keras untuk mengusahakan penggalangan dana, dengan figur, serta kharisma keibuannya yang khas. Yaitu perpaduan antara kelembutan dan keinginannya yang besar, untuk memajukan anak-anak Indonesia. Agar bisa tampil setara dengan anak-anak dari belahan dunia lainnya.
Menilik agenda kerja dua tahunan PSAI, yang menaruh target untuk selalu tampil di forum internasional, tidak lantas membuat mereka mabuk. Ketika Tsunami melanda Aceh dan Nias bulan Desember tahun 2004 mereka diundang tampil. Kemudian, Maret 2006, PSAI diundang untuk konser di berbagai kota Amerika Serikat, tapi mereka batalkan. Dengan alasan sebagai bentuk solidaritas terhadap korban di dua daerah tersebut . Karena bencana tersebut telah mengakibatkan banyak anak-anak yang jatuh jadi korban, sementara 40 orang anak Cordana bersuka ria tampil di pentas dunia. Hati Aida Swenson dan anak-anaknya tidak tega. Mereka tak ragu-ragu membatalkan undangan itu. Begitulah cara Aida Swenson boru Simanjuntak mengajarkan solidaritas pada anak-anak Cordana yang dibinanya. Ibu dari Sahala, Mathew, dan Karina ini, punya rencana ke depan. Yaitu membangun daerah-daerah yang potensial, agar tumbuh paduan suara anak yang mandiri. Aida juga mengungkapkan rasa kurang setujunya terhadap pelebelan anak-anak miskin kurang mampu. Baginya, anak-anak tetaplah sebagai anak-anak saja. Sebab anak tidak membedakan miskin, kaya, suku/ras atau cacat sekalipun. Tak mengherankan kalau PSAI Cordana pernah konser bersama anak-anak jalanan, juga tuna netra. Untuk itu sebuah karya amang-nya, Alfred Simanjuntak, “Unite oh Children of the World” ditampilkan pada “The 5th World Choir” di Grass, Austria, meneguhkan harapannya pada dunia yang lebih baik. Dengan jalan membangun potensi anak-anak dan pendidikan anak. Tanpa perbedaan.

Iklan

1 Comment

  1. Cerita master uning-uningan Batak! minta dukungan!

    http://www.bbc.co.uk/indonesian/programmes/story/2008/07/printable/tokohmarsius.shtml

    http://www.kickandy.com/heroes/?ar_id=MTQ3Ng==

    http://www.facebook.com/note.php?note_id=70422183915

    http://tonggo.wordpress.com/2007/12/04/marsius-sitohang-20-tahun-mengabdi-tetap-honor/

    http://www.hariansumutpos.com/2009/07/harapan-marsius-sitohang-dewa-seruling-tradisional-batak-di-masa-tuanya.html

    http://ardh14n.multiply.com/journal/item/14

    Kalo mau langsung..boleh boleh saja ..:

    MARSIUS SITOHANG

    Bank BRI Cabang 5314 unit Bangun sari Medan Putri Hijau-SWITF CODE: BRINIDJA

    No rek. 5314-01-002948-53-3

    Bila mau call2 beliau boleh juga di no : +628126563272

    Alamat : JL Martoba II (tanya saja warung ikan -depan POLDA Ampelas MEDAN)

    Polda Ampelas pasti kita lewati bila kita dari Medan ke arah Parapat-Tarutung

    Rek ini baru di buka hari ini 12 August 2009-(di bantu oleh borunya). _karena selama ini beliau tidak ada no Rek.

    my Comment ”

    Aku baru bertemu beliau hari Jumat & Sabtu lalu 7&8 August 2009. (ngeri kali pun..)pada tgl 8 tersebut kebetulan Amang Marsius ini lagi parmusic di acara pesta kawinan batak. Mereka masing masing bawa cash 80rb/orang (dari pagi jam 7 ke jam 7 malam)! Yah yg marulaon juga pasti pas-pasan juga- tidak ada yg salah disini.

    “Marsius seperti kitab lama yg masih hidup , dengan nafas & tangannya memainkan irama toba yg khas..!

    mungkin terkesan usang tetapi ..” mari masiurupan”. Manusia Batak yg Berbudaya..Semoga semasa hidupnya kita menghargai & beri dukungan.!!

    Mungkin ” cash transfered’ terkesan “negative” seandai-andainya ada hal2 yg lebih baik dari itu seperti :

    – Sendainya ada “event2” tertentu di hotel, acara pariwisata, café dimana beliau dengan team ya bisa mendapatakan upahnya dengan ber-main musik dengan harga layak…(contoh :ada acara batak harmony di jakarta 12 Feb 2009 dengan harga vip 850rb,dan kelas yg lain 500rb,200rb,150rb perorang..! Hebat!(bukan ngiri tetapi beda nasib aja sama amang ini)

    – Seandainya ada rekaman lagi (walau sebenarnya ) sudah banyak kasetnya beredar tetapi tidak ada lagi loyalty fee. , karena ada juga beberapa album kaset dia yg beredar tetapi “kaset” itu sendiri pun masih harus dia beli sendiri !

    – Dan Hasil Rekaman ini bisa dijual langsung pada saat show- mugkin lebih effective…
    -Aku melihat beberapa contoh para “pemusik etnic seperti ” pan-flute” indian yg live show si luarnegeri, atau di malmal dll, selesai bermain mereka menjual langsung CD/VCD hasil rekaman nya.( noted utk kalangan sendiri!)

    -Seandainya ada acara lagi keluar negeri , dengan upah yg lebih layak lagi…-dengan appreciate orang lebih menarik…
    -Seperti angan2 beliau ingin punya sanggar sendiri , dengan berupa café kecil yg bisa minum kopi sambil markombur2, seperti kelas starbuck cafe sambil diiringi music live mereka..,atau seperti café dengan kerjasama dengan para travel yg bisa jadi tempat persingahan para turis, dengan melihat2 koleksi budaya , sambil nyantai..

    – Semoga ada orang2 batak yg telah sukses! Bisa punya pikiran/perbuatan utk amang ini.
    -Seandainya anak/boru beliau dapat sekolah yg baik, dengan dapat kerja yg baik..karena Marius adalah kelahiran 1953! Generasi berikutnya adalah generasi penerus…dan uning2an &gondang tidak punah..

    -Semoga indahnya irama music batak ini beliau dapat menyentuh hati batak, agar tidak punah…
    -Seandainya ada se-kelas menteri atau pejabat daerah atau presiden dunia! yg perhatian dengan beliau ini , karena telah menjadi “icon” perjuangan music batak hingga eksis sampai sekarang, dan masih ada pejuang2 lain (Turman Sinaga, Posther Sitohang,Kansas Sinaga (almarhum),Korem Sihombing,Robinson Sitanggang,Binsar Nadeak,Hadi Rumapea,Wesley S, Martogi Sitohang,.dll-Aku percaya mereka pasti tahu nama Marsius dengang nasibnya..

    -jadi teringat nama lama seperti-Tilhang Gultom,Iwan Simatupang, Sitor Situomrang,Nahum Situmorang,AWK Samosir,Gordon Tobing,Bill Saragih,semua telah tiada….!! tetapi segelintir orang masih bisa tahu dengan karya mereka..

    – Aku orang kecil yg hanya bisa bantu dukungan kecil dari uang saku ke amang ini..HORAS! HORAS! HORAS!

    God Bless U.!

    Email ini akan difoward to batak diliat portibi!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s