Amir Pasaribu


Amir Pasaribu lahir tanggal 21 Mei 1915 di Siborong-borong. Dia adalah seorang musisi Indonesia. Amir Pasaribu
yang menikmati pendidikan di Sekolah Raja Balige, kemudian sekolah dasar Eropa milik misi Katolik, dan diteruskan ke HIS Hollands Inlandse School di Sibolga. Ia meneruskan sekolah di Mulo (=SMP) di Tarutung, dan diselesaikan di Padang. Pendidikan perguruan tinggi dijalaninya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Bandung (dulu HIK); di sana ia juga mengembangkan pengetahuannya dalam bidang musik piano. Ia mendapat pelajaran musik dari Fr. Paulus dan Fr. Gustianus; selanjutnya cello dari Nicolai Varvolomeyef dan Joan Giessens.

Biodata
• 1915 – 1935 sekolah dasar dan lanjutan di Sumatra Utara dan Tengah (Tarutung/Sibolga/Padang)
• 1935 – 1942 perguruan tinggi di Bandung
• 1942 – 1945 bekerja di bidang siaran radio di zaman pendudukan Jepang
• 1945 – 1952 bekerja di bidang siaran radio NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep), dan Orkes Studio Jakarta; kemudian RRI
• 1952 – 1954 tugas belajar di Belanda untuk mempersiapkan pembukaan program pendidikan musik di Indonesia
Pasaribu beberapa kali mengadakan kunjungan ke luar negeri antara lain Tiongkok, Jepang, Uni Soviet, Cekoslowakia, Jerman, Belanda dan Perancis dalam rangka tugas belajar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini Departemen Pendidikan Nasional)
• 1954 – 1957 direktur Sekolah Musik Indonesia Yogyakarta
• 1957 – 1968 direktur B1-kursus jurusan Seni Suara; Lembaga Pendidikan Guru Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang kemudian ditingkatkan menjadi IKIP-UI (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Indonesia – kini Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta
• 1968 – 1980 guru piano dan cello pada Pusat Kebudayaan Suriname (Cultureel Centrum Suriname)
• 1980 – 1995 guru privat piano di Paramaribo
• 1995 kembali ke Indonesia
• 2002 dianugerahi Bintang Budaya Parama Dharma oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Berbagai jabatan yang pernah disandang:
• Guru piano di Jakarta dan Paramaribo, Suriname
• Ketua Lembaga Persahabatan Indonesia-Cekoslowakia
• Pengimpor piano Petrof buatan Cekoslowakia
• Wirausaha bengkel & reparasi piano serta transportasi
Publikasi
1. Musik dan Selingkar wilayahnya, Kem. PPK 1955
2. Analisis Musik Indonesia (PT Pantja Simpati 1986)
3. Riwayat Musik dan Musisi (Gunung Agung, 1953)
4. Teori Singkat Tulisan Musik (NV Noordhof-Kolff)
5. Menudju Apresiasi Musik (NV Noordhof-Kolff)
6. Bernyanyi Kanon (Balai Pustaka, Kem.PPK 1955)
7. Lagu-lagu Lama Solo Piano I (Balai Pustaka 1952)
8. Lagu-lagu Lama Solo Piano II (Balai Pustaka, 1958)
9. Suka Menyanyi (Indira, 1955)
10. Tifa Totobuang
Artikel
1. Orkes Langgam Indonesia (Off beat – Tjintjang Babi!) – maret 1953
2. Kesaksamaan – juni 1953
3. Malam Musik di Geredja Paulus – oktober 1953
4. Lenong, Observasi MSDR Lenteng-Agung – Konfrontasi nr. 3 1954
Karya:
Musik untuk piano tunggal:
1. Capung kecimpung di Cikapundung
2. Rondino Capriccioso
3. 2 Sonata’s
4. Petruk, Gareng dan Bagong
5. Rabanara dances
6. Rabanara dances no. 7
7. Spielstuck
8. Puisi Bagor
9. Kesan langgar(Impressie Langgar)
10. Sampaniara no. 1 (Getek silam kali Ancol)
11. 6 Variasi Sriwijaya
12. Bongkok’s Bamboo-flute (Orpheus in de dessa)
13. Indihyang
14. Ball-dance of the river-fish princess/Tari Ikan Putri
15. Berceuse
16. Suite Villageoise
1. La flute d’un mendiant
2. Lullaby
3. Makam Achmad Sutisno
4. Beduk Puasa
17. Ole ole melojo-lojo
18. Variasi Es Lilin
19. Maswika Lily
Musik untuk string Quartet/Kwartet gesek:
1. Dua Resital Violis
2. Meditation
3. Hikayat Mas Klujur
4. Sunrise at Yang Tse,
5. Dr. Sun Yat Sen Memorial Hall,
6. Hang Tsu-Mountain and Creeks at Sundown,
7. Express Railroad Back Home
Musik untuk piano dan biola:
1. Clair de Lune
Musik hymne perjuangan ABRI:
1. Andhika Bhayangkari
Aktivitas musik yang terakhir dilakukan (hingga tahun 1995):
• Piano & biola ensemble di Paramaribo bersama Harry de la Fuënte
• Trio musik gesek di Paramaribo
• Piano pengiring untuk Paduan suara Maranatha di Paramaribo
• Piano pengiring sekolah balet di Paramaribo

Bersua dengan Amir Pasaribu
Oleh : Ananda Sukarlan

KabarIndonesia – Suatu hari datang satu e-mail dari seseorang bernama Nurman Pasaribu yang ditujukan ke saya. Sungguh suatu surprise!

Ternyata Beliau adalah putra dari komponis yang selama ini karya-karyanya saya kagumi dan sering dimainkan, tetapi saya selalu mengira Beliau sudah meninggal (Amir Pasaribu lahir pada tahun1915).

Nurman sendiri telah berkeluarga dan tinggal di Belanda. Dari Latifah Kodijat, seorang pengajar senior di Jakarta, beberapa tahun lalu saya mendapatkan banyak partitur dari Amir Pasaribu. Dua sonata untuk piano (yang no. 2 hanya bagian pertamanya saja yang partiturnya saya miliki), karya-karya kecil lainnya seperti The juggler’s meeting, Puisi Bagor, Capung Kecimpung di Cikapundung dan Variasi Sriwijaya. Dari karya-karya tersebut, ada sekitar 5 karya yang saya terus mainkan di berbagai penjuru dunia, sedangkan yang lainnya tersimpan di perpustakaan saya karena banyak not-not yang salah kutip ataupun meragukan.

Sejak email pertama dari Nurman, saya kemudian banyak bertukar e-mail dengannya, juga dengan putrinya, Gonny Pasaribu. Kebetulan, bulan Desember lalu saya diundang oleh Medan Musik untuk menjadi juri Samick Piano Competition di Medan. Nurman langsung menganjurkan saya untuk menyempatkan diri berkunjung ke rumah Amir Pasaribu. “Datang saja”, kata Nurman lewat telpon, “Tidak usah telpon dulu. Pappie (sebutannya untuk ayahnya) sudah di kursi roda, dan tidak pernah kemana-mana, dan pasti senang dikunjungi Ananda. Beliau sering menyebut nama anda.”

Ternyata, pernah ada satu artikel yang ditulis kritikus dan musikolog Bintang Prakarsa di satu harian di Indonesia yang menyebutkan bahwa saya adalah satu-satunya pianis Indonesia yang tetap memainkan karya-karyanya di luar negeri. Apa itu benar, saya sendiri tidak tahu. Yang saya tahu, ya itu tadi, saya selalu memainkan karya komponis dari negeri saya yang saya kira sudah masuk club yang saya bisa namakan “Dead Composers Society” yang anggota-anggotanya bisa disebut dari Beethoven, Bach, sampai Toru Takemitsu atau Mochtar Embut.

Jadilah hari Minggu pagi itu, setelah saya tiba di Medan hari sebelumnya, saya bersama teman & manager saya, Chendra, naik taxi dari hotel menuju ke Karya Wisata, alamat yang kami dapat dari Nurman. Rencananya kami hanya akan sebentar saja. Setelah agak berputar-putar Medan dan bertanya-tanya (saya sebenarnya cukup kaget karena orang Medan, termasuk para siswa/i musik, tidak mengenal namanya. Itulah nasib seorang seniman musik sastra di Indonesia!).

Akhirnya kami tiba, dan mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ketuk lagi. Sama saja. …. “Tuh, mungkin sedang ke gereja,” kata Chendra. Saya tidak menyerah. Mengetuk lagi. Tidak ada reaksi. Kami kemudian berputar, ingin bertanya ke tetangga apa benar ini rumah Amir Pasaribu. Ketika kami sampai di pintu gerbang, tiba-tiba pintu rumah bergoyang-goyang. Tapi tidak terbuka! Situasi ini mungkin hanya memakan waktu satu menit, tapi rasanya lama sekali karena kami bingung, kok surealis banget! Akhirnya, pintu terbuka, dan kami jadi mengerti kenapa hal itu terjadi. Muncul seseorang tua di kursi roda, memakai kaos oblong putih dan sarung. Langsung saya datangi.
“Pak Amir Pasaribu?”
“Siapa anda?” teriaknya.
“Saya Ananda Sukarlan, Pak.”
“Siapaaa?” ”
Ananda Sukarlan, seorang pianis, Pak.”
“Siapaaa?”

Membaca situasi lebih cepat dari saya, Chendra mendekati telinganya, dan berteriak “Ananda Sukarlan Pak, pianis yang tinggal di Spanyol!”
“Ooooooh!”
Kegembiraan terpancar di wajahnya yang tadinya kelihatan galak. Beliau langsung menyodorkan tangannya untuk bersalaman. “Ik ken jouw naam (saya tahu nama anda)!” dan setelah Chendra memperkenalkan dirinya juga, kami duduk dan mengobrol di teras.

Terus terang, saya selalu grogi bertemu dengan orang baru, apalagi ini seseorang yang saya selalu kagumi, senior, dan notabene sudah tuli. Saya membayangkan menit-menit keheningan pasti akan terjadi, di mana saya tidak tahu harus omong apa. Ternyata, pak Amir orangnya banyak bicara, dan antusias sekali. Beliau lebih fasih berbahasa Belanda, jadi akhirnya percakapan berganti bahasa. Chendra yang tidak mengerti satu kata pun jadi gelisah, dan akhirnya mengambil kamera. Ceklak, ceklek … Daripada nganggur dan tidak mengerti!

Sambil mendengarkannya berbicara, saya mengamati fisiknya. Luar biasa sekali orang ini. Umurnya 92 tahun, karakternya yang kuat masih bersinar di wajahnya. Yang menarik perhatian saya adalah telinganya yang besar, yang mengingatkan saya ke komik Tintin tentang patung-patung bertelinga panjang di Pulau Paskah. Masih ada sangat sedikit rambut putih dipotong pendek sekali walaupun sebagian besar sudah botak, dan sudah ompong. Kelihatan sekali bahwa pak Amir adalah orang yang tidak doyan berkompromi, keras dan punya pendapat yang kokoh dan sulit dibengkokkan tentang banyak hal.

“Saya menderita Alzheimer”, katanya. Wow, saya hampir tidak percaya. Banyak sekali yang Beliau masih ingat. “Gimana guru anda, Oey Tjong Lee?” tanyanya.
“Sudah meninggal, Pak” (Tjong Lee adalah Rudy Laban, mantan guru saya di Jakarta sebelum saya meninggalkan tanah air). “Ooooh”, kegetiran, seperti semua ekspresi yang dirasakannya, langsung terpancar kuat. Raut wajahnya memang ekspresif sekali. “Usianya masih sangat muda.” Kemudian, Pak Amir juga menyebut tentang “Tisna” (alm. Ny. Charlotte Sutisna, yang ditahun 60-an sangat berdedikasi untuk memainkan karya-karyanya.

Rekamannya dari banyak karyanya yang dibuat di RRI akan sangat membantu saya untuk merekam kembali karya-karya tersebut, kali ini dengan teknik digital yang tinggi dan mikrofon serta studio yang 100x lebih canggih dan betapa Beliau kehilangan setelah ia meninggal.

“Kawan-kawan saya terdekat kini sudah meninggal. Itulah kalau orang bertahan sampai usia lanjut, jadinya kesepian.” Saya jadi ingat pernah membaca bahwa Stravinsky, semakin lanjut usianya, karya-karyanya semakin banyak yang berjudul “In Memoriam”. Sebut saja: I.M. Aldous Huxley, Dylan Thomas … itu semua ditulisnya saat ia berusia sekitar 80 tahun.

Saya juga kaget Pak Amir tahu tentang Michael Jackson. “Musik jaman sekarang, tambah lama tambah jelek (“verschikelijk”). Itu bukan seni. Itu bikin masyarakat tambah tolol”. Terus terang, saya ada setujunya dengan pendapat ini, walaupun tentu saja saya tidak setuju tentang Michael Jackson, terutama hasil karyanya sewaktu ia masih berkulit hitam di tahun 80-an. “Beethoven, Brahms, Bartok, sudah tidak ada lagi komponis-komponis seperti mereka zaman sekarang. Musik pop dan rock itu sudah tidak dapat disebut musik lagi”. Wah, Pak, untungnya tidak sempat mengenal musik-musik avant-garde model Stockhausen dan Boulez; kalau musik pop saja sudah tidak bisa disebut musik, lalu musik avant-garde disebut apa???

Beliau banyak tahu tentang saya. Salah satu buktinya seperti di atas, Beliau mengetahui dengan siapa saja saya telah berguru. Satu anjurannya (yang tentu saja saya sudah turuti) adalah “Blijf buitenland” (tetaplah tinggal di luar negeri). “Di sini seniman tidak dihargai,” ujarnya. Beliau juga menyayangkan banyak partiturnya yang tersebar dan hilang, karena sering pindah rumah dan juga rumahnya pernah kemasukan maling. Andaikan saja maling itu tahu betapa berharganya kertas-kertas yang dicurinya!

Sulit sekali untuk pamit. Beliau sangat menikmati kunjungan dari siapa pun. Senang mengobrol, dan yang diajak mengobrol pun ketagihan. Tapi akhirnya kami pun harus balik ke hotel. Yang jelas, saya sudah mendapatkan izinnya untuk merekam seluruh karya musiknya. Lebih dari izin, Beliau “lega bahwa musik saya ada di tangan yang baik” (dalam dunia piano, kalimat ini bisa diterjemahkan secara harafiah). Pertanyaan terakhir dari Beliau, “Kapan saya bisa dengar rekaman permainan kamu? Jangan lupa, saya tidak punya banyak waktu lagi.” Saya hanya bisa menjawab “Iya, Pak” …. Dan pamit pulang.

Yang masih merupakan misteri untuk saya adalah mengapa Amir Pasaribu berhenti berkarya pada tahun 70-an, di saat Beliau berumur 60-an? Usia itu, untuk jaman sekarang, relatif muda untuk berhenti berkarya. Inspirasi kering? Motivasi kurang? Bagaimana pun, tidak seperti Jean Sibelius yang berhenti berkarya saat usia 50 tahun tapi hingga kini tetap beredar gossip-gossip bahwa ada karya-karya yang ditulis setelahnya (seperti Simfoni no. 8), dalam hal Amir Pasaribu cukup jelas.

Beliau memang telah berhenti berkarya sejak lama. Sebetulnya yang saya lebih sayangkan adalah partitur-partitur yang hilang entah kemana. Sewaktu saya bilang bahwa putranya telah berhasil mengumpulkan sekitar 25 karya untuk piano, pak Amir berkata “Sebetulnya sangat lebih dari segitu. Tapi, ada di mana musik-musik itu, tidak ada yang tahu. Sudah, lupakan saja.” Wah, maaf Pak, tidak bisa saya lupakan. Itu aset negara sebetulnya. Sayangnya, hanya beberapa orang saja yang sadar betapa bernilainya itu. Sayangnya, nilainya bukan berupa uang, dan kalau bukan uang, di abad 21 ini namanya bukan nilai …..

Dari Ananda Sukarlan, seorang pianis.

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=12&jd=Bersua+dengan+Amir+Pasaribu&dn=20071129074704

Iklan

Luhut Panjaitan


Nama:
Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan

Luhut Binsar Panjaitan

Lahir:
Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947
Agama:
Kristen
Isteri:
Devi boru Simatupang
Anak:
– Paulina Panjaitan (Maruli Simanjuntak)
– David Panjaitan
– Paulus Panjaitan
– Karri Panjaitan

Pendidikan:
– SMA Penaburan, Bandung
– Akademi Militer 1970

Karir:
– Kopassus (Komando Pasukan Khusus)
– Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung
– Asisten Operasi di Markas Kopassus
– Komandan pertama Detasemen 81 (sekarang Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81
– Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung
– Komandan Korem di Madiun
– Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung

Kegiatan Lain:
– Pendiri Sekolah Politeknik DEL di Balige

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Kabinet Persatuan Nasional, ini lulusan terbaik Akademi Militer angkatan 1970. Jenderal TNI (Purn) kelahiran Simanggala, Tapanuli, 28 September 1947 ini, mengabdi di kesatuan baret merah Kopassus (Komando Pasukan Khusus), yang bermarkas di Cijantung, selama 23 tahun. Dia Komandan pertama Detasemen 8, sekaran Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81.

Penerima penghargaan Adimakayasa (penghargaan terhormat di Akademi Militer), ini selepas pendidikan dari Akademi Militer dengan pangkat letnan dua, langsung bertugas di Kopassus.

Di Kopassus, Luhut Panjaitan pernah menjabat Komandan Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar, Bandung, Asisten Operasi di Markas Kopassus serta Komandan pertama Detasemen 81 yang sekarang disebut Detasemen Penaggulangan Teror (Gultor) 81. Suatu detasemen yang sangat disegani dan secara khusus menangani masalah teroris. Luhut yang membangun detasemen ini mulai dari nol, saat Panglima ABRI dijabat Jenderal Benny Moerdani.

Suami dari Devi boru Simatupang, ini juga pernah menjadi Komadan Pusat Kesenjataan Infantri di Bandung. Saat menjabat Komandan Korem di Madiun, dia meraih prestasi sebagai Komandan Korem terbaik.

Luhut mendapat promosi pangkat jenderal berbintang tiga, kala dipercaya sebagai Komandan Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat di Bandung. Kemudian saat menjabat menteri, dia dianugerahi pangkat jenderal berbintang empat purnawirawan.

Pada saat muda, Luhut aktif sebagai atlet renang karate, judo dan erjun payung. Bahkan sebagai atlet renang dari Provinsi Riau, dia pernah meraih medali di PON di Bandung. Kemudian dia rajin mengikuti olahraga karate dan judo serta terjun payung.

Setelah tidak lagi menjabat menteri, dia merasa punya banyak waktu serta merasa memahami masalah olahraga, sehingga memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi Ketua Umum KONI Pusat. Namun, dia harus mengakui dan menghormati pilihan peserta Kongres Koni yang memilih Agum Gumelar.

Sebelum menjabat Menteri Perindustrian dan Perdagangan di era pemerintahan reformasi, Luhut Panjaitan, dia aktif sebagai pedagang (pengusaha). Kemudian dia mendirikan sekolah Politeknik DEL di Balige. Pada awal mendirikan sekolah ini, Luhut mengundang para duta besar negara-negara sahabat seperti Duta Besar Amerika, Australia dan Singapura untuk melihatnya.

Perkenalannya dengan Devi boru Simatupang berawal ketika bersekolah di Sekolah Lanjutan Atas di Bandung. Ketika itu, Luhut sekolah di SMA Penaburan dan Devi di SMA Kristen, Bandung. Hubungan mereka berlangsung hingga ke pernikahan, dikaruniai empat orang anak, yakni Paulina Panjaitan (menikah dengan Kapten Inf Maruli Simanjuntak), David Panjaitan, Paulus Panjaitan, dan Karri Panjaitan.

Pantur Silaban


PANTUR SILABAN – Dari Snellius ke EinsteinPantur Silaban
SEKALI peristiwa di awal dasawarsa lima puluhan. Seorang murid SMP di Sidikalang terpana pada keterangan guru ilmu alamnya. “Sinar yang masuk dari udara ke dalam air selalu dibelokkan.” Laki-laki remaja itu pun bertanya: mengapa? Tak ada jawaban memadai.
Hukum Snellius mengenai pembiasan itu merupakan pintu masuk bagi Pantur Silaban mencintai fisika. Karena tak ada jawaban jitu dari sang guru, ia pun bernazar akan menggeledah rahasia alam melalui studi fisika di kemudian hari.
Dalam perjalanan ruang-waktu, minat Pantur melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi setelah lulus SMA ikut pula bergerak. Selain mendalami fisika, ia berhasrat pula mempelajari teologi. Meninggalkan Sumatera selepas sekolah lanjutan atas, pria kelahiran Sidikalang, 11 November 1937 itu mampir di Jakarta membekali diri mengikuti ujian saringan masuk sekolah tinggi teologi. “Anehnya, saya sakit selama di Jakarta mempersiapkan diri masuk ke sana,” katanya. Perjalanan diteruskan ke Bandung. Tujuannya satu: kuliah fisika di ITB. Dia diterima di sana.
Waktu pilih Fisika, tak ada masalah dengan orangtua?
“Ayah saya yang pedagang dan buta huruf hanya mengatakan, Kamu terserah pilih apa“. Kami hanya bisa membantu menyekolahkan. Saran saya ambil bidang yang kamu suka.’ Tak disuruh pilih yang menghasilkan uang sekian,” kata Pantur mengenai kebebasan yang ia peroleh dari ayahnya, Israel Silaban, memilih jurusan.

Orangtua Pantur, pasangan Israel Silaban dan Regina br. Lumbantoruan, adalah pedagang yang berhasil. Pendek cerita, keluarga ini tergolong berada di lingkungan Sidikalang dan sekitarnya.
Dalam tempo enam setengah tahun, waktu optimal pada zaman itu merampungkan kuliah tingkat sarjana, Pantur lulus pada tahun 1964 dan berhak menyandang gelar doktorandus dalam fisika. Ia langsung diterima sebagai anggota staf pengajar Fisika ITB.
Selama kuliah kecenderungannya pada bidang tertentu dalam fisika mulai terbentuk. Pantur amat menggandrungi matematika murni dan mata kuliah yang tergolong dalam kelompok fisika teori, seperti mekanika klasik lanjut, teori medan elektromagnetik, mekanika kuantum, dan teori relativitas Einstein. Maka, ketika datang kesempatan studi lanjut di Amerika Serikat pada tahun 1967, tujuannya sudah jelas. “I go there just for the General Relativity Theory, no other things,” katanya. “Itu yang ada di benak saya waktu itu.”
Siapakah fisikawan yang paling tepat menuntunnya belajar Relativitas Umum Einstein di tingkat doktor? Dan di perguruan tinggi manakah fisikawan-fisikawan itu bermarkas di Amerika Serikat?
Albert Einstein (1879-1955) pada saat itu sudah 12 tahun di alam baka. Tapi, semasa hidupnya ia salah satu pendiri sekolah –semacam fakultas—yang menjadi tempat khusus mempelajari teori gravitasi dan Relativitas Umum Einstein. Sekolah itu berada di bawah Universitas Syracuse, New York dan termasyhur sebagai pusat studi gravitasi dan Relativitas Unum yang pertama dan terkemuka di dunia, bahkan sampai saat ini. Di sana mengajar teman-teman dan murid-murid dekat Einstein, antara lain Peter Gabriel Bergmann. Dia fisikawan pertama yang menulis buku daras tentang Relativitas Umum Einstein.
Karya Bergmann itu, Introduction to the Theory of Relativity, mendapat tempat khusus di kalangan fisikawan teoretis dengan spesialisasi teori gravitasi atau Relativitas Umum. Selain dianggap sebagai salah satu buku babon tentang relativitas, kitab inilah satu-satunya tempat di mana Einstein pernah menulis kata pengantar.
Pantur diterima di sekolah itu. Tentang pentingnya kedudukan sekolah gravitasi Universitas Syracuse itu, Dr. Clifford M. Will dari Universitas Washington di St. Louis seperti dikutip The New York Times (23 Oktober 2002) ketika menurunkan obituari atas Peter G. Bergmann menulis sebagai berikut: “Pada masa-masa akhir 1940an Syracuse adalah tempat yang tepat untuk bekerja dalam Relativitas Umum karena tak ada tempat lain di dunia yang melakukannya.”
Untung baginya sebab Bergmann bersedia menjadi ko-pembimbing untuk disertasinya. Dengan demikian, Pantur merupakan fisikawan Indonesia yang berguru langsung kepada murid dan kolega Einstein dalam Relativitas Umum. Ia merupakan satu dari 32 mahasiswa dari seluruh dunia yang mempelajari Relativitas Umum di Syracuse dengan Bergmann sebagai pembimbing atau ko-pembimbing dalam kurun tahun 1947-1982. Tak salah kalau orang menyebutnya sebagai cucu murid Einstein.
Adapun pembimbing utamanya lebih muda dari Bergmann, tapi juga raksasa dalam Relativitas Umum. Dialah Joshua N. Goldberg. Nama-nama itu terasa Yahudi. Universitas Syracuse memang didominasi oleh orang-orang Yahudi, baik dosen maupun mahasiswanya. Sekali waktu dalam sebuah kuliah, Pantur menggambarkan almamaternya itu dengan lelucon segar yang tentu saja didasarkan pada fakta: “Hanya ada dua jenis manusia yang diterima di Syracuse. Yang pertama Yahudi, yang kedua adalah orang pintar. You tahu, saya bukan Yahudi.”
Di Syracuse selain mendalami fisika teoretis, Pantur juga menyerap etos belajar dan etos kerja orang-orang Yahudi di sana. Meski inteligensi mereka relatif tinggi-tinggi, mahasiswa-mahasiswa Yahudi menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar kuliah untuk belajar, belajar, dan belajar. Demikian pula dosen-dosennya. Lampu kamar kerja dosen di sana masih benderang sampai pukul sembilan malam. Kerja keras semacam itu plus otak cemerlang barangkali yang menjelaskan betapa orang-orang berdarah Yahudi menempati jumlah terbanyak dalam daftar peraih Nobel Fisika.
Pantur menyerap pola belajar dan pola kerja seperti itu selama kuliah di sana. Tapi, sekali waktu Pantur ada keperluan pulang lebih lekas ke tempat tinggalnya. Tak enak baginya ketahuan pulang lebih awal. “Akhirnya saya terapkan kelihaian yang khas Indonesia,” katanya sambil tersenyum. “Saya biarkan lampu kamar kerja saya menyala, sementara saya pulang ke tempat tinggal saya.”
Tentu perbuatan ini tak berulang. Sebab bila terulang, niscaya Pantur akan kesulitan memenuhi ajakan Goldberg dan Bergmann ikut dalam upaya mendamaikan Teori Medan Kuantum dan Relativitas Umum demi menemukan Teori Kuantum Gravitasi, teori yang diimpikan semua fisikawan teoretis sedunia, yang memerlukan ketekunan bagi disertasinya. Berbulan-bulan menguantisasi Relativitas Umum supaya akur dengan Medan Kuantum; Pantur, Goldberg, dan Bergmann gagal membidani Teori Kuantum Gravitasi. Fisikawan-fisikawan di Institute for Advanced Studies di Princeton mengingatkan mereka bahwa proyek itu adalah pekerjaan kolektif dalam skala besar yang membutuhkan waktu 25 tahun.
Alih-alih berkeras mendapatkan kuantum gravitasi, akhirnya Pantur mengikuti saran Goldberg. Dengan saran itu, ia pun mengalihkan topik untuk disertasinya: mengamputasi prinsip Relativitas Umum dengan menggunakan Grup Poincare untuk menemukan kuantitas fisis yang kekal dalam radiasi gravitasi. Temuan ini mengukuhkan keberpihakannya kepada Dentuman Besar (Big Bang) sebagai model pembentukan Alam Semesta ketimbang model-model lain.
Pekerjaan itu selesai pada tahun 1971 dan mengukuhkan Pantur Silaban sebagai Ph.D. dengan disertasi berjudul Null Tetrad Formulation of the Equations of Motion in General Relativity. Garis-garis besar mengenai apa yang dicapai dalam disertasinya ini tercantum dalam Dissertation Abstracts International, Volume: 32-10, Seksi: B, halaman: 5963 .
Tiga tahun kemudian Joshua Goldberg—yang banyak menghasilkan risalah penting fisika yang dimuat di jurnal utama seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Journal of Geom. Physics—merujuk pekerjaan Pantur ini dalam risalahnya, Conservation Equations and Equations of Motion in the Null Formalism, yang diterbitkan General Relativity and Gravitation, Volume 5, halaman 183-200. Karya lain yang menjadi rujukan dalam risalah ini adalah dari dua orang mahafisikawan dunia, Hermann Bondi dan Roger Penrose. Jadi, dapatlah ditebak tempat Pantur dalam Relativitas Umum.
Setahun setelah menyelesaikan disertasinya, Pantur kembali di Bandung pada tahun 1972 dan mengajar di Jurusan Fisika ITB. Orang pertama Indonesia yang mendapat doktor dalam Relativitas Umum itu adalah orang Sumatera pertama—tidak sekadar orang Batak pertama—yang mendapat Ph.D. dalam fisika. Sebuah risetnya setelah disertasi ini dimuat di Journal of General Relativity and Gravitation. Sekian makalahnya mengenai teori gravitasi dan fisika partikel elementer dimuat di berbagai prosidings dalam dan luar negeri. Ya, sebagai seorang fisikawan teoretis, Pantur juga menggumuli fisika partikel elementer.
Beberapa kali diundang sebagai pembicara di International Centre for Theoretical Physics (ICTP) yang didirikan fisikawan Pakistan pemenang Nobel Fisika, Abdus Salam, Pantur selalu mencermati indikasi akan keberhasilan ditemukannya Teori Kuantum Gravitasi. Katanya suatu kali dalam sebuah kolokium di Jurusan Fisika ITB, “Dengan menganggap partikel sebagai titik, upaya menguantumkan Relativitas Umum berhadapan dengan singularitas yang tak bisa dihilangkan.” Itu sebabnya ketika teori string—yakni teori fisika yang menganggap partikel sebagai seutas string, bukan titik sebagaimana diasumsikan sejak zaman Democritus (460-370 SM)—menghangat pada pertengahan 1980an hingga awal 1990an, Pantur menggumulinya dan bekerja untuk mendapatkan Teori Kuantum Gravitasi.
“Timbul pula masalah yang tak kalah besarnya,” katanya. “Kita berhadapan dengan perumusan grup simetri yang parameternya sampai 496. Waduh, payah ini.”
Singkat kata, baik dengan memandang partikel terkecil sebagai titik maupun sebagai seutas tali (string), Teori Kuantum Gravitasi yang didamba-dambakan itu masih saja belum berhasil ditemukan. “Jadi, sebetulnya masih banyak proyek dalam fisika teori,” kata Pantur.
Peran sentral Pantur membangun komunitas fisika teori di Indonesia, yang antara lain beranggotakan fisikawan Hans Jacobus Wospakrik (almarhum) yang adalah muridnya semasa S-1, tidak diragukan lagi. “Sulit membayangkan kehadiran fisika teori di Indonesia tanpa Pak Silaban,” kata Triyanta, mantan ketua Departmen Fisika ITB, yang adalah muridnya dan menyelesaikan Ph.D. dari Universitas Tasmania, Australia dalam fisika teoretis.
Sebagai seorang dosen, Pantur adalah komunikator ulung. Ia hadir di kelas dengan membawa kapur saja sebab, “Setiap kali masuk kelas, seorang dosen harus siap dengan bahan yang akan ia ajarkan, sesulit apa pun kuliah yang ia berikan. Tapi, itu tidak menjamin bahwa setiap pertanyaan mahasiswa bisa kita jawab.” Selalu saja ada ilustrasi-ilustrasi yang mudah dikenang dalam kuliahnya untuk memudahkan mahasiswa menangkap konsep fisika yang rumit-rumit. Yang juga tak pernah ketinggalan dalam setiap kuliahnya adalah humor-humor yang segar dan tampaknya autentik. “Beberapa fisikawan di Maryland pernah menghitung temperatur surga dan neraka dengan menggunakan statistik Boltzman, Bose-Einstein, dan Fermi Dirac,” katanya dalam sebuah kuliah. “Ternyata suhu neraka sedikit lebih rendah daripada suhu surga. Itu sebabnya orang lebih banyak berbuat jahat karena neraka ternyata lebih sejuk.”
Karena referensi dalam bahasa Indonesia untuk fisika teori sangat minim, Pantur Silaban pada tahun 1979 menerbitkan buku daras Teori Grup dalam Fisika. Kemudian ia menerbitkan buku Tensor dan Simetri. Pertengahan 1980an, bekerja sama dengan Penerbit Erlangga, dia menerjemahkan banyak buku daras teknologi mesin, elektroteknik, dan matematika yang dipakai perguruan-perguruan tinggi terbaik dunia.
Pantur Silaban dikukuhkan sebagai guru besar ITB dalam fisika teoretis pada Januari 1995. Ia memasuki masa pensiun per 11 November 2002. Tapi, ketua Jurusan Fisika waktu itu, Pepen Arifin, mempertahankannya untuk terus mengajar. “Kalau Jurusan kekurangan ruang kerja, saya sediakan kamar saya untuk beliau,” kata Freddy P. Zen, ketua Kelompok Bidang Keahlian Fisika Teori ITB memperkuat tawaran Pepen Arifin.
Sebagai penghormatan kepada Pantur yang telah memasuki masa pensiun, murid-muridnya mengadakan Seminar Sehari A Tribute to Prof. P. Silaban pada 20 Februari 2003 di ruang kuliah bersejarah Jurusan Fisika ITB, Ruang 1201. Di sana hadir civitas academica dari Jurusan Fisika dan jurusan-jurusan lain di ITB yang mengenal Pantur dengan baik. Beberapa komentar yang terungkap dalam seminar itu antara lain berasal dari guru besar Matematika ITB, M. Ansjar, dan guru besar Fisika ITB, The Houw Liong.
“Bila suasana akademis di ITB dan Indonesia memadai, bukan tak mungkin Pak Silaban menghasilkan kontribusi yang sangat berarti dalam fisika,” kata M. Ansjar sebagaimana dibacakan Freddy P. Zen.
“Yang selalu saya ingat dari Pak Silaban adalah pernyataannya bahwa segala sesuatu, termasuk ruang dan waktu, akan berakhir,” kata The Houw Liong. “Yang tidak berakhir adalah hukum alam.”
Rektor ITB ketika itu, Kusmayanto Kadiman, dan Ketua Departemen Fisika saat itu, Pepen Arifin, pada 30 Agutus 2004 mendaulat Pantur Silaban menggelar kuliah umum populer Umur Alam Semesta di sebuah ruang kuliah Fisika ITB. Seperti dilaporkan Kompas keesokan harinya, ceramah itu dihadiri sekitar 300 orang dari berbagai kalangan, termasuk mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Luhut Panjaitan, geologiman M.T. Zen, Presiden Direktur ESQ Ary Ginanjar Agustian, beberapa orang dari kalangan agamawan, dan beberapa guru SMA.
Dengan mendasarkan perhitungan umur Alam Semesta pada Teori Dentuman Besar, Pantur waktu itu dikutip Kompas mengatakan, “Alam masih miliaran tahun, silakan terus berinvestasi.”
Rupanya laporan surat kabar itu menarik perhatian sebuah keluarga Batak. Tak lama sesudah itu, bertepatan dengan lepas sidi salah satu anaknya, Edward Nababan yang sehari-hari bekerja sebagai salah satu petinggi Perusahaan Jawatan Kereta Api mengundang Pantur Silaban menggelar ceramah fisika di rumahnya di bilangan Jatibening, Jakarta Timur.
Yang menarik, acara yang dimulai sore itu—sebab lepas sidi diadakan di Bandung, lalu keluarga ini langsung menuju Jakarta—diawali dengan ceramah fisika. Inti perayaan lepas sidi bagi putri keluarga Nababan itu adalah ceramah Pantur. Acara adat hanya penyerahan tudu-tudu sipanganon dan dengke, itu pun dilaksanakan setelah acara inti berakhir. Hadir antara lain mantan Eforus HKBP S.A.E. Nababan, aktivis organisasi nonpemerintah abang-beradik Indera Nababan dan Asmara Nababan, Panda Nababan, dan Hotasi Nababan yang sekarang presiden direktur PT Merpati Nusantara Airlines.
TATAP menjumpai fisikawan teoretis ini untuk sebuah wawancara pertengahan Januari lalu di ruang kerjanya di Fisika ITB yang masih seperti dulu: papan tulis penuh dengan relasi-relasi matematis fenomena alam. Suami dari Rugun br. Lumbantoruan, ayah dari empat putri ini—Anna, Ruth, Sarah, dan Mary— serta mertua dari tiga menantu dan kakek empat cucu ini rupanya baru saja kembali dari wisata ke Israel.
“Menantu saya yang orang Swiss itu yang membiayai perjalanan kami,” katanya sambil menjelaskan sedang mempersiapkan buku kuliah untuk beberapa perguruan tinggi di Australia yang tertarik dengan kuliah yang pernah ia berikan di Melbourne beberapa waktu lalu: teori medan kuantum yang diselusuri dari teori Newton. “Rupanya mereka tertarik dengan pendekatan saya ini,” katanya.
Bagaimana minat orang Batak menjadi fisikawan sekarang ini?
Beberapa murid pintar SMA dari kalangan Batak rupanya pernah datang kepadanya ingin belajar serius fisika. “Penghalang mereka jutru orangtua mereka sendiri,” kata Pantur. “Kalau lulus, kamu mau makan apa. Paling jadi guru. Begitu ancaman orangtua mereka. Dari situ kelihatan, profesi guru dilecehkan, padahal yang menentukan maju-tidaknya sebuah bangsa adalah guru.”
Selama orang Batak masih kukuh dengan hamoraon dalam segitiga hasangapon, hamoraon, hagabeon, menurut Pantur Silaban, sulit mengharapkan orang Batak menonjol dalam ilmu-ilmu murni, seperti fisika dan biologi molekuler, dua bidang sains yang masing-masing merupakan primadona ilmu dalam abad 20 dan abad 21.
Menjelang kami berpisah, dalam sesi memotret, Pantur menganjurkan supaya dia dipotret bersama mobil Toyota-Corollla keluaran 1984 itu. “Ini mobil saya yang pertama dan terakhir, tidak akan pernah saya ganti,” kata Pantur seraya mengingatkan bahwa “Einstein selama hidupnya tidak pernah punya mobil.”*
Penulis : P. HASUDUNGAN SIRAIT & NABISUK NAIPOSPOS
Sumber : Majalah TATAP edisi V, Jan-Feb 2008

http://www.silaban.net/2008/03/04/pantur-silaban-dari-snellius-ke-einstein/

Tuanku Rao


Keturuanan Dinasti Sisingamangaraja, Panglima Perang Padri

Oleh : Hotman Jonathan LumbangaolRAO

KabarIndonesia – Polemik tentang Tuanku Rao sebagai salah satu keturunan Dinasti Sisingamangara adalah bermula dari buku Mangaraja Onggang Parlindungan Siregar yang berjudul “Pongkinangolngolan Sinambela gelar Tuanku Rao: Terror Agama Islam Mazhab Hambali di Tanah Batak 1816-1833”. Pongkinangolngolan alias Tuanku Rao alias Umar Katab adalah anak hasil perkawinan incest antara putri Sisingamangaraja IX, Putri Gana Sinambela dengan saudara laki-laki-nya Prince Gindoporang Sinambela. Gana seharusnya memangil uda pada Gindoporang, sedangkan Gindoporang memangil Gana boru. (Tuanku Rao, hal. 59. M.O Parlindungan, 2007). Mohammad Said dalam bukunya “Si Singamangaraja XII” menjelaskan, bahwa Tuanku Rao adalah Orang Padang Matinggi dan bukan orang Batak (lihat Sisingamangaraja XII, Mohammad Said, hal 77-78). Hal itu pula yang dikatakan Buya Hamka. Gara-gara buku tersebut Buya Hamka menulis buku sangahan. Buku melahirkan buku.

MO Parlindungan menulis, karena aib itu, Ompu Sohalompoan Sisingamangaraja IX terpaksa mengusir mereka. Keduanya lari misir, menyelamatkan diri ke Singkil, Aceh. Disana lahirlah Pongkinangolgolan yang berarti menunggu terlalu lama dipengusian. Prince Gindoporang Sinambela bergabung dengan pasukan Aceh, berganti nama menjadi Muhammad Zainal Amiruddin, dan menikahi putri raja Barus. Sejak itu, Gana Sinambela membesarkan putranya seorang diri. Sepuluh tahun kisah itu Sisingamangaraja IX wafat dan digantikan anaknya, Ompu Tuan Nabolon, adek laki-laki dari Gana Sinambela menjadi Sisingamangaraja X. Aib itu sudah dilupakan, Gana dan Pongkinangolgolan diundang kembali pulang ke Bakkara.

Namun, kehadiran mereka tidak direstui tiga orang datu bolon (dukun) yang dipimpin oleh Datu Amantagor Manullang. Dukun itu meramalkan, bahwa Pongkinangolngolan suatu hari akan membunuh Singamangaraja X, Pongkinangolngolan harus dibunuh. Singamangaraja X terpaksa menjatuhkan hukuman pada bere yang disayanginya. Tetapi Sisingamangara X tidak tega, lalu membuat sandiwara, Pongkinangolngolan dieksekusi dilakukan dengan pura-pura ditenggelamkan ke Danau Toba. Pongkinangolngolan diikat pada sebatang pohon, lalu tali dilonggarkan dengan Gajah Dompak, sembari menyelipkan satu kantong kulit uang perak ke balik bajunya, sebagai bekal hidup.

Kemudian, Pongkinangolngolan dibawa solu (rakit) ke tengah danau dan dijatuhkan ke dalam air. Sudah pasti Pongkinangolngolan terapung hingga arus air membawanya terdampar di sungai Asahan. Tak pelak, ia ditolong dan diangkat menjadi anak oleh seorang nelayan bernama Lintong Marpaung. Kira-kira umur 20 tahun, ia merantau ke Angkola dan Sipirok. Merasa masih trauma dengan masa lalunya, Pongkinangolngolan merantau ke Minangkabau. Di sana ia bekerja pada Datuk Bandaharo Ganggo sebagai perawat kuda.

Sementara, Tuanku Nan Renceh, yang mempersiapkan gerakan Mazhab Hambali, meminta pada Datuk Bandaharo Ganggo untuk menyerahkan Pongkinangolngolan untuk didik. Apalagi desas-desus silsilah dari Pongkinangolngolan sebagai keturunan dinasti Sisingamangaraja telaha diketahui. Tuanku Nan Renceh menyusun siasat untuk mengIslamkan Tanah Batak. Tahun 1804, Pongkinangolngolan masuk Islam dan berganti nama Umar Katab, Katab jika dibalik terbaca Batak. Umar Katab dikirim ke Mekkah dan Syria untuk menimba ilmu agama. Di sana ia mengikuti pendidikan kemiliteran sebagai kavaleri Janitsar Turki.

Tahun 1815, Umar Katab pulang dari Mekkah dan ditabalkan menjadi panglima tentara Padri dan diberi gelar Tuanku Rao, oleh Tuanku Nan Renceh. Ada yang menyebut Tuanku Rau.

Azas Manfaat

Perang Padri berawal dari pertentangan antara kaum adat dengan kaum ulama di Sumatera Barat. Semangat Padri lahir dari beberapa tokoh Islam yang mendalami Mazhab Hambali, dan ingin menerapkan di Sumatera Barat. Dalam agama Kristen, Mazhab Hambali bisa disebut mirip gerakan puritan, aliran yang memengang teguh kemurniaan ajarannya, namun tidak sama.

Pasukan Padri mengunakan pakaian warna putih-putih. Pasukan Padri yang dipimpin Tuanku Rao bukan hanya berperang melawan kaum adat dan Belanda, melainkan juga menyerang Tanah Batak Selatan dan Utara. Penyerbuan pertama Padri ke Tanah Batak dimulai dengan meluluhlantahkan benteng Muarasipongi yang dikuasai Marga Lubis. Diperkirakan pasukan Padri 5.000 orang pasukan berkuda ditambah 6.000 infanteri. Seluruh penduduk Muarasipongi dibabat habis. Basyral Hamidy Harahap yang menulis buku Greget Tuanko Rao menyebutnya mirip holocaust. Setelah Selatan dikuasai Padri, mereka hendak ke Utara yang dikuasai Sisingamangaraja. Perang ini dimamfaatkan Klan Siregar, atas dendam mereka terhadap dinasti Sisingamangaraja. Salah satu keturunan Klan Siregar adalah Jatengger Siregar bergabung dengan pasukan Padri.

Tahun 1819, dari Selatan pasukan Padri berajak ke Utara untuk menyerang kerajaan Singamangaraja X di Bakkara. Perang ke Utara dimamfaatkan beberapa pihak. Terutama bagi Klan Siregar sebagai kesempatan balas dendam. Konon, Raja Oloan Sorba Dibanua, kakek moyang dari Dinasti Singamangaraja, pernah menyerbu pemukiman Marga Siregar di Muara. Dalam perang tanding itu Klan Siregar kalah, Raja Porhas Siregar sebagai pemimpin tewas. Sejak saat itu dendam kusumat terus terngiang pada keturunan Raja Porhas Siregar. Memang banyak yang menyebut hal itu impossible, dendam berkepanjangan sampai 26 generasi. Serangan Padri ke Dinasti Sisingamangaraja dimafaatkan Jatengger Siregar sebagai ajang balas dendam. Jatengger menyasar Singamangaraja X dan membunuhnya. Kepalanya dipenggal, ditusukkan dan ditancapkan ke tanah. Sementara, Tuanku Rao tidak terbetik menggagalkan pembunuhan terhadap tulangnya itu.

Tahun 1820, pasukan Paderi minggir dari Tanah Batak karena terjangkit virus kolera dan epidemi penyakit pes. Ada asumsi virus itu muncul sebab terlalu banyak mayat membusuk tidak sempat dikuburkan. Dari 150.000 orang tentara Padri, yang selamat hanya tersisa sekitar 30.000 orang. Lebih banyak meninggal karena virus tersebut.

Ada tiga asumsi yang bisa diambil dari kisah tersebut. Pertama perang Padri yang ingin menyebarkan agama Islam. Kedua, Klan Siregar yang memamfaatkan perang Padri membalas dendam terhadap Sisingamangara. Terakhir, ramalan datu Amantogar Manullang yang mengatakan, “Tuanku Rao akan membunuh Sisingamangaraja X terbukti, walau tidak langsung dilakukan Tuanku Rao. Tetapi Jatengger Siregar sebagai anak buah Tuanku Rao.”

*)Penulis adalah pewarta di majalah budaya Batak, tinggal di Bekasi

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&jd=Keturuanan+Dinasti+Sisingamangaraja%2C+Panglima+Perang+Padri&dn=20081008131645

Joey Bangun


Bernama lengkap Joey Adi Citra Bangun dikenal sebagai sebagai Senimanseniman serba bisa. Joey Bangun lahir di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 9 September 1979.

Sejak kecil sudah terlihat minat Joey pada sastra. Kegemarannya membaca buku-buku dan mengoleksinya, menjadikan perpustakaan pribadi di kamarnya ketika masih duduk di SMP. Bakatnya pada seni sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu hobinya melukis. Hobinya itu membuatnya mengikuti lomba lukis anak-anak tingkat daerah. Sarjana Teknik Elektro ini mengenal drama saat SMP. Ketika itu gereja tempatnya beribadah akan membuat sebuah pargelaran seni. Dan setelah di casting, akhirnya dia terpilih menjadi pemeran utama. Penampilannya di pargelaran itu mendapat pujian banyak orang.

Duduk di bangku kuliah, Joey menyelami dunia model. Berbagai penghargaan pemilihan model tingkat daerah maupun nasional dia raih. Selain itu, dia menjadi icon untuk produk iklan rokok Djarum Coklat dan terpilih sebagai Sang Lelaki Indosiar.

Keinginannya memperdalam dunia drama membuatnya menimba ilmu di acting course Studiklub Teater Bandung (STB) tahun 2002. STB adalah sebuah kelompok teater profesional di Bandung dan termasuk kelompok teater tertua di Indonesia.

Tekadnya untuk mengembangkan bakatnya di dunia seni peran sudah bulat. Tanggal 24 Mei 2003 diia mendirikan kelompok teater yang diberi nama Teater Topeng di kampusnya Universitas Kristen Maranatha Bandung dan menjadi pimpinan kelompok seni tersebut. Sejak itu dia aktif menulis karya drama dan kemudian menyutradarainya. Dia juga memperdalam karya sastra dramawan dunia seperti William Shakespeare, Johann Wolfgang Goethe, Samuel Beckett, dan sebagainya.

Lepas dari Teater Topeng yang memang kelompok itu sudah milik Universitas Kristen Maranatha, lalu dia mendirikan Teater Aron di Bandung tahun 2006. Hingga saat ini dia menjadi pimpinan dan berkarya di komunitas ini.

Joey kemudian memperdalam ilmu sinematografi penyutradaraan di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Setelah itu dia banyak membuat film sinetron produksi Multivison Plus dan MD Entertainment.

Daya hayal dan imajinasinya yang mulai berkembang membuat Joey menulis banyak cerita fiksi yang telah dimuat di berbagai media. Hasilnya, 2 buku kumpulan puisi dan cerita pendeknya telah diterbitkan. Joey juga menulis banyak artikel di berbagai media. Tulisan-tulisannya banyak menyorot tentang perkembangan seni dan budaya, terutama etnis Karo.

Talentanya dalam seni peran, menulis, melukis, bermain musik, telah berpadu dalam satu wadah seni yang disebut Teater.

*

PENDIDIKAN

– TK Fajar, Medan (1984)

– SD St Antonius II, Medan (1985)

– SMP Putri Cahaya, Medan (1991)

– SMU Immanuel, Medan (1994)

– Teknik Elektro, Universitas Kristen Maranatha, Bandung (1997)

– Teknik Elektro, Universitas Kebangsaan, Bandung (2005)

– Acting Course Studiklub Teater Bandung (STB) (2002)

– Sinematografi Pusat Perfilman SDM Citra Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI) (2007)

*

WORKSHOP & SEMINAR

Workshop Teater PEKAN PERFORMING ART NASIONAL Teater Orok Universitas Udayana Denpasar, Bali 24 – 28 Mei 2004

Workshop Teater SERAT SARWA SATWA Selaser Sunaryo Art Space, Main Teater Bandung & Melbourne Juni – Juli 2004

KONGRES KESENIAN INDONESIA II Padepokan Pencak Silat Indonesia, Jakarta 26-30 September 2005

Workshop THE ART OF FILM MAKING AND EDITING Lasalle College International 26 Agustus 2006

Workshop International THE ECONOMY OF CINEMA & TELEVISON Fakultas Film dan Televisi – Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan Faculte du Cinema et de L’Audiovisuel Uversite de Paris 3/ Sorbonne Nouvelle 16 – 20 April 2007

Lokakarya Manajemen Organisasi Budaya, Yayasan Kelola dan Lembaga PPM, 12-16 Mei 2008

ORGANISASI

2003 – 2004 : Ketua Teater Topeng Bandung

2006 –2011 : Kepala Departemen Seni, Budaya, dan Pariwisata DPP Himpunan Masyarakat Karo Indonesia (HMKI)

2006 – sekarang : Direktur Artistik Teater Aron

2007 – sekarang : Pokja Komunikasi Internal dan Administrasi/Tim Website Masyarakat Film Indonesia (MFI) http://www.masyarakatfilmindonesia.org

sumber:http://joeybangun.wordpress.com

Masri Singarimbun


In Memoriam Masri Singarimbun (1931-1997)

Oleh Frans HüskenHüskenAA

Masih penuh rencana penelitian baru dan sibuk menyiapkan publikasi baru, Masri Singarimbun, profesor antropologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Indonesia) meninggal dunia pada tanggal 25 September 1997. Selama beberapa bulan dia telah menjalani pengobatan untuk berbagai leukemia yang banyak berharap ia akan bertahan hidup, tetapi yang akhirnya terbukti berakibat fatal. Kematiannya pada usia 66, daun kekosongan baik di Indonesia dan masyarakat akademik pada umumnya ketika ia berada di antara beberapa ulama Indonesia dengan reputasi internasional.

Sejak ia mendirikan Pusat Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1973, ia terkenal karena karyanya dalam demografi sosial, antropologi, dan studi pembangunan. Namun, sebagai orang yang energik dan antusias dia, dia adalah seorang pengamat dan analis tertarik dari berbagai isu-isu sosial dan akademis. Karya awalnya difokuskan pada sosio-antropologis klasik studi tentang Batak Karo-sistem kekerabatan untuk mana ia menerima gelar PhD di Australian National University di 1966 (setelah anda menyelesaikan gelar BA dalam Pendidikan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959). Kemudian ia pindah ke demografi di ANU untuk Sekolah Penelitian Ilmu Sosial, hingga ia memutuskan (pada 1972) bahwa setelah lebih dari sebelas tahun di Canberra ia harus kembali ke Alma Mater di Yogyakarta. Di sana ia menjadi sangat terlibat dalam penelitian tentang pengendalian kelahiran dan keluarga berencana di berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar itu ia bertindak sebagai penasihat kritis kepada pemerintah Indonesia yang pada saat itu telah terlibat dalam program perencanaan keluarga dalam upaya habis-habisan untuk memecahkan masalah penduduk negara itu. Masri’s rekomendasi tidak selalu diterima secara positif saat ia memenangkan bersikeras atas kerjasama dan penerimaan dari program dari masyarakat lokal, sementara lembaga-lembaga pemerintah terobsesi oleh angka-angka target dan kesuksesan cepat, dan dengan berbuat begitu mudah terpaksa tekanan politik pada populasi.

Nya sikap kritis juga membawa dia untuk menarik perhatian pada masalah kemiskinan pedesaan dan melalui penelitian jangka panjang proyek, yang dimulai bersama dengan David Penny pada tahun 1969 di Desa Sriharjo (di bagian selatan Yogyakarta provinsi), ia mampu menunjukkan bahwa angka-angka resmi pada pemberantasan kemiskinan di Indonesia pada umumnya terlalu optimis. Bahan nya di Sriharjo, sebuah desa yang ia kembali berkali-kali, memberikan Fundgrube bagi sejarah sosial pedesaan Jawa di abad ke-20.

Masri kembali ke Indonesia pada tahun 1972 tidak hanya menandai awal karir akademis yang mengesankan tetapi juga awal yang sangat sukses pusat penelitian di mana beberapa generasi ilmuwan sosial Indonesia menerima pelatihan intelektual mereka. Bangunan kecil dari yang ia mulai telah tumbuh menjadi salah satu pusat-pusat akademik di Universitas Gadjah Mada dengan jauh terbaik dilengkapi perpustakaan ilmu sosial dan suasana terbuka di mana mahasiswa, staf, dan (banyak) mengunjungi sarjana dari Indonesia dan luar negeri bertemu. Dunia menyenangkan ini telah menghasilkan sejumlah besar peneliti yang berdedikasi menggabungkan komitmen sosial dengan ketelitian ilmiah dan membuka pikiran. Yang sama jumlah besar peneliti asing sangat diuntungkan dari dukungan dan infrastruktur dari Pusat Studi Kependudukan menyediakan mereka dengan tantangan intelektual dan diskusi yang tajam serta relaksasi dari tekanan kerja lapangan.

Ketika pada tahun 1996, Masri pensiun dari kursinya di UGM Departemen Antropologi, ia tetap aktif dalam proyek-proyek penelitian dari Pusat Studi Kependudukan dan pembimbing tesis. Ia ditawari kursi baru dalam metodologi penelitian di Universitas Atma Jaya Yogyakar-ta, dan terus pada penelitian penerbitan baik melalui jurnal akademik dan (sangat luas) melalui kolom dalam pers Indonesia, mengomentari topik beragam seperti etnisitas, pedesaan kemiskinan, sosio-linguistik, seksualitas, dan AIDS.
Tiga puluh tahun setelah ia menerima gelar PhD di Canberra, ANU menawarkan kehormatan doktor pada tahun 1996. Masri merasa, tentu saja, dihormati oleh tanda-tanda ini pengakuan internasional dari karyanya, tapi ia terkejut pada saat yang sama, tidak sedikit pun karena dia, dilatih sebagai seorang pendidik dan antropolog, dan dipekerjakan di departemen demografi dan ekonomi, yang ditemukan dirinya untuk menjadi lld pada akhirnya.
Masri Singarimbun, yang meninggalkan seorang istri, Irawati, dan tiga anak perempuan, akan dirindukan oleh banyak teman dan kolega di seluruh dunia.

[Sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisan Masri Singarimbun dapat ditemukan di: Agus Dwiyanto et al. (eds), Penduduk dan Pembangunan, Population Studies Center, Yogyakarta 1996, hal. 413-424]

Prof Frans Hüsken melekat kepada Lembaga Budaya dan Sosial Antropologi, Universitas Katolik Nijmegen (Belanda) dan ketua Dewan IIAS.

Zulkifli Nasution


Zulkifli, Petakan Tanah di Tapanuli Tengah

Zulkifli NasutionKawasan Danau Toba yang kini wilayahnya masuk dalam tujuh kabupaten di Sumatera Utara itu memiliki 11 iklim. Ada 272 sungai yang melingkupinya, tetapi hanya 11 sungai di antaranya yang mengalirkan air. Jika hulu sungai digunduli, sebanyak 11 sungai itu pun tak akan bisa mengalirkan air lagi.

oleh Aufrida Wismi Warastri

Semua itu ada dalam salah satu hasil penelitian yang dilakukan Prof Ir Zulkifli Nasution MSc PhD (48), ahli tanah dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Dekan Fakultas Pertanian USU. Penelitiannya bersama Titin Prihatin dan Bintang Sitorus juga menemukan kenyataan, selama 10 tahun (1983-1993), daya dukung kawasan tangkap hujan Danau Toba menurun hingga 73 persen. Angka itu didasarkan pada nilai critical population density (CPD) yang terus meningkat.

Danau Toba juga memiliki lahan gambut dataran tinggi di Lintong Nihuta. Di Indonesia tercatat hanya dua kawasan yang memiliki lahan gambut dataran tinggi, yakni Danau Toba dan Papua. Berdasarkan penelitian Zulkifli, ada pula kawasan di Danau Toba yang potensial untuk pengembangan gandum (Triticum aestivum).

Puluhan penelitian Zulkifli ikut mendukung pengembangan pertanian dan perkebunan di Sumut. Penelitian seputar Danau Toba juga banyak dilakukannya. “Terutama karena Danau Toba masih laku dijual,” katanya.

Tak urung, pemikiran Zulkifli juga menembus batas negara. “Secara ilmu pengetahuan, hasil penelitian harus digunakan. Saya senang ada yang menggunakan hasil penelitian saya. Namun, kadang masih ada yang menggunakan hasil penelitian untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan untuk kepentingan pribadi,” tutur Zulkifli saat ia menyiapkan tulisan The Ecology of Lake Toba Catchment Area for Suistainable Agriculture Development yang akan dibawanya dalam sebuah seminar internasional.

Ia lebih senang mengikuti dan menjadi pembicara dalam seminar di luar negeri daripada di dalam negeri. Alasannya, di luar negeri penyelenggara dan peserta sangat serius, dan hasil serta tindak lanjut seminar itu juga jelas.

Baginya, bicara tanah tak lepas dari masalah ekologi sebagai salah satu dasar konsep manajemen tanah. Pengembangan lahan berdasarkan ekologi sudah dilakukan Belanda, tetapi ditinggalkan pemerintah Republik, terutama saat Indonesia memilih membangun teknologi lebih dulu pada 1980 hingga masa reformasi. Akibatnya, lahan-lahan subur tertimpa bangunan.

Padahal, salah satu hal yang sudah dilakukan Belanda adalah membuat pemetaan lahan, misalnya tembakau deli dikembangkan di Sumut antara Sungai Ular dan Sungai Wampu, gula ada di Jawa, dan sagu di Maluku.

“Kita justru mundur setelah zaman Belanda. Dulu Belanda punya rencana penggunaan tanah, kita tidak begitu,” ujarnya.

Sejarah penggunaan tanah di Indonesia salah satunya ada dalam catatan Kim H Tan (81), dalam buku Soils in the Humid Tropics and Monsoon Region of Indonesia, Their Origin, Properties, and Land Use yang diterbitkan The University of Georgia, Athens, 2007.

Tapanuli Tengah

Satu kerja yang Zulkifli selesaikan adalah memetakan tanah di Tapanuli Tengah. Ia golongkan tanah di Kabupaten Tapanuli Tengah dalam berbagai klasifikasi yang cocok untuk tanaman tertentu.

Tanah di Kecamatan Maduma hingga Sibolga, misalnya, masuk golongan MA 233, artinya tak baik untuk kelapa sawit, karet, kopi, dan cokelat. Sementara golongan tanah AF 112 bisa ditanami karet, baik untuk cokelat, kapuk, dan sangat baik untuk kelapa sawit. Di kabupaten ini terdapat 47 jenis tanah.

“Kita telah memilih teknologi maju, tetapi pilihan kita salah. Ketika kita mau balik lagi sudah sulit karena lahan itu sudah terpakai,” kata Zulkifli. Jutaan hektar lahan subur sudah terkonversi menjadi rumah atau untuk perluasan kota.

Pengembangan Kota Medan adalah contoh konkret. Tanah perkebunan untuk pengembangan tembakau deli sudah habis. “Kita tak mungkin melebarkan tanah tembakau deli karena sudah menjadi gedung,” katanya.

Tukang listrik

Zulkifli tak bercita-cita menjadi ahli tanah, ia ingin menjadi tukang listrik. Itu karena setiap sore dia melihat petugas listrik mengontrol lampu jalan di Kisaran tahun 1967. Ia hanya tak percaya pada lagu Koes Plus, Kolam Susu, yang menggambarkan betapa suburnya Indonesia.

“Kalau tanahnya subur, tak mungkin rakyat melarat,” kenang Zulkifli. Buktinya, produksi aren sang ayah, seorang pembuat gula aren di Kisaran, tak pernah meningkat. Produksi padi di daerahnya juga rendah. Pemikiran itu membuat dia memilih jurusan tanah pada Fakultas Pertanian USU.

Katanya, Indonesia yang terletak di kawasan tropis tidak subur karena unsur haranya rendah, hanya mineralnya bagus dan airnya cukup.

Saat kuliah, baju yang dimiliki Zulkifli cuma empat lembar. Ia juga mengajar untuk membiayai kuliah. “Mungkin karena saya suka makan makanan bergizi kalau ada kenduri sebab saya rajin membantu orang memasak untuk pesta,” cerita Zulkifli yang pernah menang lomba mengaji tingkat Sumut itu.

Zulkifli rela bekerja dan belajar keras sebab niatnya hanya satu, yakni mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Ia tak peduli apakah hasil kerjanya mendapat penghargaan atau tidak.

Sesungguhnya, kata Zulkifli, untuk memajukan bangsa, kemampuan ilmuwan Indonesia mencukupi. Namun, tanpa pemimpin yang mampu berpikir jernih, mau memikirkan kesejahteraan rakyat dan kelestarian ekologi, kekuatan ilmu tidak akan berarti karena tak ada yang bisa diterapkan di sini.***

sumber: http://202.146.5.33/kompas-cetak/0712/06/Sosok/4045782.htm