Marusya Nainggolan


Banyak terjelajahi sedikit …Marusya Nainggolan
Marusya nainggolan termasuk generasi ketiga pianis indonesia. marusya membuat ilustrasi musik untuk film. mengajar dan memimpin jurusan musik ikj. sebagai pencipta, ia lebih potensial. (ms)
NAINGGOLAN, marganya. Marusya, namanya. Agak berbau Rus,
memang. Tetapi pianis bersemangat ini anak Batak asli. Ia
lahir di Bogor, besar di Jakarta. Pernah belajar di
Australia, kini ia salah seorang pianis sibuk. Selain main
piano, Uhsye begitu akrabnya disebut juga pencipta musik
“serius”.

Uhsye membuat ilustrasi musik untuk film, mengajar, memimpin
Jurusan Musik IKJ. Prestasinya agak lumayan. Pernah
menjuarai lomba komposisi musik Dewan Kesenian Jakarta. Pada
FFI tahun lalu ia mendapat penghargaan untuk ilustrasi film
Opera Jakarta, buah tangan terakhir Sjumandjaja.

Ciptaan terbaru pianis ini, Maniera, dimainkannya ketika
pembukaan Pameran Empat Pematung Indonesia, tiga pekan lalu,
di TIM. Tiga hari kemudian, ia mentas lagi dalam resital
piano di Bentara Budaya, Jakarta. Ia pianis Indonesia
generasi ketiga.

Piano dibawa masuk orang Belanda dan Inggris ke sini sejak
abad ke-18. Generasi pertama pianis Indonesia adalah
orang-orang Indonesia, Indo atau WNI golongan moi Indie, yang
berakulturasi dengan kebudayaan Belanda kolonial.

Umumnya, mereka memainkan musik salon, atau yang biasa
disebut light music. Untuk dansa atau ber-indohoi di
restoran, hotel, pesta. Prototip yang melahirkan langgam,
hiburan, dan seriosa. Juga menurunkan musik pop dan
sejenisnya, hingga sekarang. Orang-orang seangkatan Tjok
Shinsu, antara lain Mr. Thio, Harry Harenstroom, Hari
Muljono, Jose Cleber, dan tentu Nick Mamahit, yang masih
tetap hebat hingga sekarang.

Generasi kedua adalah mereka yang dilahirkan seputar tahun
30 dan 40-an. Umumnya mereka berlatar pendidikan dan
pengalaman musik lebih baik, di dalam dan luar negeri.
Mereka pianis senior, tidak lagi memainkan musik salon.
Musik klasik atau jazz, yang lebih memberi kemungkinan
pianistis dan keunggulan bermain piano lebih dikuasai:
Iravati M. Soediarso, Rudy Laban, Soetarno Soetikno,
Magdalena Hasan, Bubi Chen. Mereka pula yang berpengaruh
menyebarkan “ilmu” piano bagi generasi selanjutnya.

Generasi ketiga rata-rata berumur 40-an tahun ke bawah.
Mereka menatap zaman yang berbeda. Seperti generasi kedua,
umumnya mereka mempunyai latar musik yang cukup baik. Banyak
di antaranya hasil tempaan generasi kedua. Lantas
melanjutkan pelajaran ke negeri asal piano, Eropa atau
Amerika. Atau ke negeri yang lebih maju dalam perpianoan.

Sebagai pianis, mereka menghadapi keunikan zamannya — yang
lebih kompleks. Abad teknologi dan komunikasi dunia membuat
musik lebih berdialog dan rumit dalam persoalan dan wawasan.
Secara horisontal bertatap muka dengan musik segala bangsa,
vertikal, bersentuhan dengan musik segala masa. Mereka
mencari tempat berpijak.
Menjadi pianis, dan memainkan musik “baku”, sering tak lagi
jadi tujuan utama. Banyak yang bukan bermain piano, malah
mencoba jadi komponis. Karya mereka tidak hanya berorientasi
ke Barat, tetapi digali dari lingkungan dan pengalaman
tempat mereka bernapas. Misalnya Kesurupan dan Uro-uro karya
Jaya Suprana, Nusa Penida karya Yazeed Djamin, atau Batak
Fantasy karya Marusya.

Mereka tidak hanya main piano, tetapi juga alat-alat lain
yang masih dalam spesies sama, organ, atau alat-alat
keyboard. Hal ini karena tuntutan profesi dan pengaruh zaman
yang serba membaur sebagai akibat komunikasi terbuka.
Chandra Darusman, Indra Lesmana, contoh generasi ini. Uhsye
termasuk di dalamnya. Uniknya, di samping sebagai pemusik
dan guru, mereka banyak yang berhasil sebagai orang bisnis.
Hal ini karena pengaruh kebudayaan ekonomi yang di dalamnya
bisnis musik terselip secara menentukan.

Entah karena sifat pekerjaannya yang majemuk, para pianis
generasi ini, kecuali mungkin Jaya Suprana, banyak yang
kurang intens baik dalam permainan maupun ciptaan. Ibarat di
kolam renang, pianis generasi sebelumnya lebih intens
menyelam. Sedang pianis generasi sekarang, laiknya, ingin
berenang ke mana-mana. Banyak yang terjelajahi tetapi
sedikit yang terkuasai. Contoh jelas, pada rersital piano
Uhsye ini.

Uhsye memang pandai menyusun program. Urutan nomor acaranya
runtut dan masuk akal dalam hubungan musikal. Tetapi ia
kekurangan waktu untuk mengatasi segalanya. Waktu,
pendalaman, penguasaan, telaah, perenungan kembali,
merekayasa disiplin latihan, sering jadi kendala bagi
seniman sibuk — berkeinginan jamak tetapi tak berwaktu
banyak.

Sposalilizio Liszt sebagai pembuka, kemudian Waldstein
sonata Beethoven Nocturne Nr. 2 dan Etude Nr. 12 Chopin, dan
Ostinato Bartok, kemudian karya Uhsye: Opera Jakarta, Batak
Fantasy, Relung, dan Maniera, sebagai selantara dan penutup,
tersusun penuh pertimbangan.

Secara musikal interpretatif, hanya pada Beethoven dan
Nocturne Chopin saja yang banyak problematiknya — terutama
Beethoven. Namun, secara teknis, seluruhnya memang tak
gampang. Sayang, baik interpretatif maupun teknis belum
sepenuhnya terkuasai oleh keterampilan jemari Uhsye.
Tetapi dalam mencipta, ia punya potensi lebih baik. Cuma
keinginan, ide, dan pikirannya masih majemuk dan tak
terkendali. Terlalu banyak yang ingin dituang. Dan beragam
yang ingin diungkapkan. Hingga stilistik sebagai komponis
belum tampak.

Kesenjangan satu karya dengan karya lain terlalu tampak
arahnya. Karena itu, disiplin hubungan dalam gaya seorang
pencipta jadi tak terjaga. Begitu senjangnya, misalnya,
antara Opera Jakarta dan Maniera. Sedangkan Relung terasa
terlalu main-main, dan Batak Fantasy belum mengundang
fantasi Batak.

Bentuk, pola, struktur, dan konsepsi, secara akademis, masih
terlalu mengikat membuat isinya belum tertuang sepenuhnya
dalam karya dan alam pikirannya. Padahal, bentuk tanpa isi
akan membunuh elan vital, hakikat, dan keindahan karya.
Untuk itu, dibutuhkan banyak waktu dan pengalaman.
Uhsye masih punya waktu banyak untuk menimba pengalaman.
Horas!

Suka Hardjana
Tempo
Edisi. 53/XIIIIII/28 Februari – 06 Maret 1987

One thought on “Marusya Nainggolan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s