Eka Dimitri Sitorus


Perawakan dan penampilannya sederhana saja. Tak ada sedikit pun kesan glamour pada diri Eka. Eksentrik juga tidak. Walau dunia pria yang lahir di Bandung l 7 Agustus 1960 ini, setiap hari selalu Eka Siraitbersinggungan dengan seni peran, menulis skenario film maupun sinetron. Dunia yang selalu diasosiakan dengan hidup yang gemerlapan.
Eka adalah salah satu tokoh kunci, di balik sukses dan kontraversi film “Ekskul” di ajang Festival Film Indoneisa 2006 lalu. Film yang mengambil setting cerita kekerasan di kalangan pelajar itu, berhasil keluar sebagai peraih film terbaik. Dikatakan sukses karena menjadi film terbaik dan menangguk banyak penonton. Disebutkan kontraversi karena kemenangan itu dianulir kembali oleh BP2N (Badan Pemantau Perfiliman Nasional). Alasan BP2N menganulir film tersebut karena dianggap bermuatan kekerasan yang tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia.
Namun, keputusan BP2N itu tidak sosialisasikan dengan baik kepada publik luas, sehingga sampai saat ini, Eka Sitorus menganggap keputusan itu tidak fair dan menyisakan persoalan. Memang, pada saat dewan juri mengumumkan Ekskul sebagai film terbaik, banyak kalangan praktisi dan pemerhati Film nasional angkat bicara. Bahkan beberapa peraih piala citra FFI, terutama generasi FFI 2004, mengembalikan piala yang telah mereka raih. Persoalan tersebut pun berkembang dan sempat terjadi polemik yang cukup ramai antara Seno Gumira Adjidarma dan Yudhistira Massardi dalam sebuah media cetak Jakarta.
Pada saat itu, bukan hanya Nayato Fio Nuala sebagai sutradara yang diserang, juga Eka Dimitri Sitorus sebagai penulis skenario dan pelatih akting, yang telah melibatkan seluruh muridnya dalam produksi itu, juga tak luput dari serangan. Eka tidak habis pikir, orang-orang yang mempersoalkan film tersebut justru orang-orang berpendidikan, sedangkan cara-cara yang mereka tempuh justru cara-cara orang yang tidak berpendidikan. Menggunakan kekerasan dengan kata-kata. Sebagai contoh, katanya, mereka menyerang wilayah pribadi Eka. Padahal itu tak ada relevansinya dengan karya dan kreativitas seorang Eka Sitorus.
“Mereka tidak gentlemen. Mereka kan tahu etika dan budaya, bagaimana menyampaikan pendapat maupun pikiran. Tetapi, mereka justru menunjukkan sikap-sikap yang tidak berbudaya. Sejak awal, ketika film Ekskul masuk nominasi, seharusnya mereka sudah mempersoalkannya, bukan ketika dewan juri sudah mengumumkannya sebagai pemenang,” keluh Eka dengan nada kecewa.
Agnes Monica
“Lihatlah akibatnya, sejak saat itu dunia perfilman kita jadi kurang sehat,” lanjutnya lagi, berapi-api. Sebagai pelatih akting dan penulis skenario film tersebut, Eka telah memberikan sumbangan yang cukup besar bagi keberhasilan film tersebut. Tetapi, justeru perannya yang besar itulah yang membuat para pemerotes menyerang ruang pribadi Eka. “Aku nggak habis pikir, apa sih mau mereka? Mau menghancurkan aku?” tanyanya agak sengit.
Dia terpukul. Jalan keluarnya, dia mengurung diri selama empat bulan untuk mengatasi dampak kehebohan tersebut terhadap pikiran dan batinnya. Sekarang, pria yang masih melajang ini, sudah bekerja normal kembali. Sehari-hari dia menghabiskan waktu di Sakti Aktor Studio, bersama murid-muridnya. Walau sempat diserang kanan-kiri, orang tak pernah lupa dia telah melahirkan banyak aktor dan aktris. Sebutlah nama merekla dengan jujur, seperti Agnes Monica, Ariyo Wahab, Winky Wiryawan, dan Ahmad Zaki. Sementara buat dirinya sendiri, dia tak pernah lupa akan bapaknya, Masito Sitorus, seorang aktor yang telah menemukan bakat dan melapangkan jalan untuk karier anaknya itu.
Sang bapak, Masito Sitorus, adalah pemegang Piala Citra FFI 1978 berkat penampilannya sebagai pemeran pembantu pria dalam film “Jakarta-Jakarta.” Kembali ke sang anak, tokoh kita. Pada usia 12 tahun, Eka kecil sering diajak sang ayah ke lokasi shooting. Nasib yang baik menyambut si kecil di dunia film. Pada suatu saat seorang sutradara memberi Eka peran dalam sebuah film. Sejak saat itu, pengagum sutradara besar, Wong Kar Way, ini sering main sandiwara di TVRI Jakarta. Biasanya, dia ikut produksi grup Teater Kecil, yang disutradara Arifin C Noer. Eka kemudian menyadari, bahwa jalan hidupnya tak jauh beda dari bapaknya, bergelut dalam dunia akting.
Pada tahun 1983, Eka berangkat ke Amerika Serikat untuk belajar seni peran pada American Academy of Dramatic Arts, Pasadena. Dia sepenuhnya didukungan oleh tulang (paman dari garis ibu)-nya. Untuk melanjutkan studi seni peran itu, dia mengusahakan sendiri biaya kuliah dan pemondokannya. Tahun 1987-1990 Eka melanjutkan studi ke California State University, kemudian ke University of Warwic di Coventry, Inggris, pada tahun (1993- 1994).
Sepulang dari Amerika, Eka tak sempat lama menganggur. Dengan dukungan Tatik Malyati WS, salah seorang dosen Institut Kesenian Jakarta, dia menemukan pintu untuk menyalurkan pengetahuannya di lembaga pendidikan kesenian tersebut. Dia mengajar di situ dan dalam jangka waktu beberapa lama kemudianu dia diangkat menjadi ketua jurusan teater (1995-2000). Pada Saat mengajar di jurusan teater IKJ inilah Eka banyak memproduksi pementasan teater. Hampir setiap malam Eka dan mahasiswanya latihan sampai menjelang pagi. Manakala para mahasiswa dan dosen lain sudah sudah pulang ke rumah, Eka biasanya kembali lagi ke kampus yang berada di lingkungan Taman Ismail Marzuki, Cikini Raya. Rumah orang tuanya memang tak jauh dari kampus IKJ, sehingga membuatnya dekat dengan kampus dan para mahasiswanya.
Olah tubuh
Naskah-naskah yang sudah pernah disutradarainya antara lain: A Mid Summer Night Dream karya Wiliam Shakespiere, tahun 1993, dipentaskan di Graha Bhakti Budaya TIM. The Zoo Story ciptaan Edwar Albe, tahun 1999, dipanggungkan di Solo, Bandung, dan Jakarta. No Exit tulisan Jean Paul Sartre, tahun 1999, dipagelarkan di Bandung dan Jakarta. Deadwatch and the Maids karya Jean Ganet, tahun 2000, dipanggungkan di Jakarta.
Eka menjalani kehidupan dan bukan sandiwara. Dia menemukan kenyataan bahwa hidup tak lepas dari dinamika. Perbedaan prinsipil dengan beberapa staf pengajar di IKJ membuat dia tak betah lagi mengajar di sana. Dan dia putuskan. Pertengahan tahun 2000, selepas masa jabatannya sebagai ketua jurusan teater, Eka mengundurkan diri.
Berhenti sebagai pengajar di IKJ, tak membuat Eka kehilangan aktivitas. Dia langsung terikat kontrak dengan rumah produksi Prima Entertainment. Di rumah produksi inilah dia berkenalan dengan berbagai pekerja profesional televisi komercial maupun film. Dia mulai menjadi pelatih akting yang laris dan terlibat dalam berbagai produksi. Antara lain “Sebening Hati Wanita,” “Juara,” “Beth,” “Ada Apa Dengan Cinta,” “Panggil Namaku 3X,” “Gotcha,” “Ekskul,” “Cinta Pertama,” “I Love You Om,” dan ”The Wall.” Karena permintaan untuk memberikan workshop seni peran semakin banyak, maka pada tahun 2002 Eka mendirikan Sakti Aktor Studio seorang diri. Pada saat awal sekolah seni peran itu didirikan, dia dibantu oleh Gita Asmara untuk pelajaran olah tubuh. Setelah itu, Eka kembali lagi sendirian mengelola sekolah yang menempati salah satu gedung di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. “Gedung yang di pakai sebagai kelas sekaligus tempat pertunjukkan ini adalah sumbangan dari beberapa muridku yang sudah berhasil,” katanya kepada wartawan TAPIAN.
Kembali ke “Ekskul” yang jadi bahan perdebatan yang sengit maupun pergunjingan di cafe-cafe beberapa waktu lalu. Begini. Enison Sinaro, seorang sutradara yang juga pemerhati film nasional mengatakan bahwa sebagai anggota BP2N dia tak diajak rapat, tau-tau sudah keluar keputusan yang menganulir seluruh penghargaan yang diraih“Ekskul.” Katanya: “Seharusnya BP2N melakukan sidang pleno lebih dulu dengan para anggotanya, barulah keputusan serta langkah-langkah yang komperhensif diputuskan. Sebab apa yang salah dengan penyutradaraan Nayoto?!” tanya Enison Sinaro. “Kalau piala citra untuk penata musik, mungkin masuk akal dianulir,” katanya meluruskan. Enison pernah duduk sebagai ketua Karyawan Film dan Televisi.
Lebih jauh Enison Sinaro mengatakan bahwa menyerang kepribadian Eka jauh keluar dari konteks masalah film. Dan itu tak pantas dilakukan. Cuma dia masih ingat ketika itu tim juri memang terbelah dua. Yang satu berfikir film terbaik harus punya identitas ke-Indonesiaan, sementara kubu yang satu lagi tidak membatasi gagasan maupun tehnik pembuatan. Menurut beberapa pengamat, cerita di dalam skenario film tersebut tak jauh dari pengalaman hidup Eka Dimitri Sitorus sendiri bersama bapaknya, Masito Sitorus.
Obsesi
Di samping terus membangun Sakti Aktor Studio, Eka tidak menolak bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional untuk memberikan pelatihan ke daerah-daerah. Bengkel kerja atau workshop itu bertujuan untuk meningkatkan keterampilanl para guru-guru sekolah formal di daerah. Membantu para guru bagaimana menemukan cara mengajar yang baik. Kerjasama itu sudah berlangsung kesekian kalinya. Kegiatan tersebut juga dilakukannya untuk memantau seberapa jauh apresiasi masyarakat di daerah terhadap teater dan seni peran.
Menurut dia, belajar seni peran bukan hanya sebagai persiapan untuk seorang (calon) aktor saja, tapi bisa juga diaplikasikan pada bidang-bidang lain. Katanya, adakalanya dalam perjalanan ke daerah dia bertemu dengan anak-anak muda berbakat. Namun, mereka tak mempunyai biaya untuk dudukdi kelas seni peran di Sakti Aktor Studio Jakarta. Kalau sudah begini, biasanya hati Eka terketuk untuk membantu. Dia bersedia memberikan bea-siswa bagi mereka. Bea-siswa yang diberikan mencakup kursus paket tiga bulan, asalkan yang menerima bea-siswa tersebut lulus tes serta menanggung biaya perjalanan, pemondokan, dan akomodasi selama belajar di Sakti Aktor Studio Jakarta.
Sudah jauh dia menempuh jalan di dunia yang sudah jadi pilihannya, yang dituntun oleh bapaknya, ada satu obsesi yang berkejaran di dalam pikiran Eka Dimitri Sitorus: mendirikan akademi seni peran yang terpandang sebagaimana banyak ibukota dunia memilikinya. Pusat pendidikan itu akan menjadi kancah pembelajaran dan latihan bagi anak-anak muda berbakat, berkemauan bekerja keras. Dia yakin tanpa regenerasi, teater di negeri ini akan runtuh. *** Jeffar Lumban Gaol

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s