Masri Singarimbun


In Memoriam Masri Singarimbun (1931-1997)

Oleh Frans HüskenHüskenAA

Masih penuh rencana penelitian baru dan sibuk menyiapkan publikasi baru, Masri Singarimbun, profesor antropologi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (Indonesia) meninggal dunia pada tanggal 25 September 1997. Selama beberapa bulan dia telah menjalani pengobatan untuk berbagai leukemia yang banyak berharap ia akan bertahan hidup, tetapi yang akhirnya terbukti berakibat fatal. Kematiannya pada usia 66, daun kekosongan baik di Indonesia dan masyarakat akademik pada umumnya ketika ia berada di antara beberapa ulama Indonesia dengan reputasi internasional.

Sejak ia mendirikan Pusat Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada pada tahun 1973, ia terkenal karena karyanya dalam demografi sosial, antropologi, dan studi pembangunan. Namun, sebagai orang yang energik dan antusias dia, dia adalah seorang pengamat dan analis tertarik dari berbagai isu-isu sosial dan akademis. Karya awalnya difokuskan pada sosio-antropologis klasik studi tentang Batak Karo-sistem kekerabatan untuk mana ia menerima gelar PhD di Australian National University di 1966 (setelah anda menyelesaikan gelar BA dalam Pendidikan di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1959). Kemudian ia pindah ke demografi di ANU untuk Sekolah Penelitian Ilmu Sosial, hingga ia memutuskan (pada 1972) bahwa setelah lebih dari sebelas tahun di Canberra ia harus kembali ke Alma Mater di Yogyakarta. Di sana ia menjadi sangat terlibat dalam penelitian tentang pengendalian kelahiran dan keluarga berencana di berbagai daerah di Indonesia. Atas dasar itu ia bertindak sebagai penasihat kritis kepada pemerintah Indonesia yang pada saat itu telah terlibat dalam program perencanaan keluarga dalam upaya habis-habisan untuk memecahkan masalah penduduk negara itu. Masri’s rekomendasi tidak selalu diterima secara positif saat ia memenangkan bersikeras atas kerjasama dan penerimaan dari program dari masyarakat lokal, sementara lembaga-lembaga pemerintah terobsesi oleh angka-angka target dan kesuksesan cepat, dan dengan berbuat begitu mudah terpaksa tekanan politik pada populasi.

Nya sikap kritis juga membawa dia untuk menarik perhatian pada masalah kemiskinan pedesaan dan melalui penelitian jangka panjang proyek, yang dimulai bersama dengan David Penny pada tahun 1969 di Desa Sriharjo (di bagian selatan Yogyakarta provinsi), ia mampu menunjukkan bahwa angka-angka resmi pada pemberantasan kemiskinan di Indonesia pada umumnya terlalu optimis. Bahan nya di Sriharjo, sebuah desa yang ia kembali berkali-kali, memberikan Fundgrube bagi sejarah sosial pedesaan Jawa di abad ke-20.

Masri kembali ke Indonesia pada tahun 1972 tidak hanya menandai awal karir akademis yang mengesankan tetapi juga awal yang sangat sukses pusat penelitian di mana beberapa generasi ilmuwan sosial Indonesia menerima pelatihan intelektual mereka. Bangunan kecil dari yang ia mulai telah tumbuh menjadi salah satu pusat-pusat akademik di Universitas Gadjah Mada dengan jauh terbaik dilengkapi perpustakaan ilmu sosial dan suasana terbuka di mana mahasiswa, staf, dan (banyak) mengunjungi sarjana dari Indonesia dan luar negeri bertemu. Dunia menyenangkan ini telah menghasilkan sejumlah besar peneliti yang berdedikasi menggabungkan komitmen sosial dengan ketelitian ilmiah dan membuka pikiran. Yang sama jumlah besar peneliti asing sangat diuntungkan dari dukungan dan infrastruktur dari Pusat Studi Kependudukan menyediakan mereka dengan tantangan intelektual dan diskusi yang tajam serta relaksasi dari tekanan kerja lapangan.

Ketika pada tahun 1996, Masri pensiun dari kursinya di UGM Departemen Antropologi, ia tetap aktif dalam proyek-proyek penelitian dari Pusat Studi Kependudukan dan pembimbing tesis. Ia ditawari kursi baru dalam metodologi penelitian di Universitas Atma Jaya Yogyakar-ta, dan terus pada penelitian penerbitan baik melalui jurnal akademik dan (sangat luas) melalui kolom dalam pers Indonesia, mengomentari topik beragam seperti etnisitas, pedesaan kemiskinan, sosio-linguistik, seksualitas, dan AIDS.
Tiga puluh tahun setelah ia menerima gelar PhD di Canberra, ANU menawarkan kehormatan doktor pada tahun 1996. Masri merasa, tentu saja, dihormati oleh tanda-tanda ini pengakuan internasional dari karyanya, tapi ia terkejut pada saat yang sama, tidak sedikit pun karena dia, dilatih sebagai seorang pendidik dan antropolog, dan dipekerjakan di departemen demografi dan ekonomi, yang ditemukan dirinya untuk menjadi lld pada akhirnya.
Masri Singarimbun, yang meninggalkan seorang istri, Irawati, dan tiga anak perempuan, akan dirindukan oleh banyak teman dan kolega di seluruh dunia.

[Sebuah bibliografi lengkap dari tulisan-tulisan Masri Singarimbun dapat ditemukan di: Agus Dwiyanto et al. (eds), Penduduk dan Pembangunan, Population Studies Center, Yogyakarta 1996, hal. 413-424]

Prof Frans Hüsken melekat kepada Lembaga Budaya dan Sosial Antropologi, Universitas Katolik Nijmegen (Belanda) dan ketua Dewan IIAS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s