Zulkifli Nasution


Zulkifli, Petakan Tanah di Tapanuli Tengah

Zulkifli NasutionKawasan Danau Toba yang kini wilayahnya masuk dalam tujuh kabupaten di Sumatera Utara itu memiliki 11 iklim. Ada 272 sungai yang melingkupinya, tetapi hanya 11 sungai di antaranya yang mengalirkan air. Jika hulu sungai digunduli, sebanyak 11 sungai itu pun tak akan bisa mengalirkan air lagi.

oleh Aufrida Wismi Warastri

Semua itu ada dalam salah satu hasil penelitian yang dilakukan Prof Ir Zulkifli Nasution MSc PhD (48), ahli tanah dari Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Dekan Fakultas Pertanian USU. Penelitiannya bersama Titin Prihatin dan Bintang Sitorus juga menemukan kenyataan, selama 10 tahun (1983-1993), daya dukung kawasan tangkap hujan Danau Toba menurun hingga 73 persen. Angka itu didasarkan pada nilai critical population density (CPD) yang terus meningkat.

Danau Toba juga memiliki lahan gambut dataran tinggi di Lintong Nihuta. Di Indonesia tercatat hanya dua kawasan yang memiliki lahan gambut dataran tinggi, yakni Danau Toba dan Papua. Berdasarkan penelitian Zulkifli, ada pula kawasan di Danau Toba yang potensial untuk pengembangan gandum (Triticum aestivum).

Puluhan penelitian Zulkifli ikut mendukung pengembangan pertanian dan perkebunan di Sumut. Penelitian seputar Danau Toba juga banyak dilakukannya. “Terutama karena Danau Toba masih laku dijual,” katanya.

Tak urung, pemikiran Zulkifli juga menembus batas negara. “Secara ilmu pengetahuan, hasil penelitian harus digunakan. Saya senang ada yang menggunakan hasil penelitian saya. Namun, kadang masih ada yang menggunakan hasil penelitian untuk kepentingan kelompok tertentu, bahkan untuk kepentingan pribadi,” tutur Zulkifli saat ia menyiapkan tulisan The Ecology of Lake Toba Catchment Area for Suistainable Agriculture Development yang akan dibawanya dalam sebuah seminar internasional.

Ia lebih senang mengikuti dan menjadi pembicara dalam seminar di luar negeri daripada di dalam negeri. Alasannya, di luar negeri penyelenggara dan peserta sangat serius, dan hasil serta tindak lanjut seminar itu juga jelas.

Baginya, bicara tanah tak lepas dari masalah ekologi sebagai salah satu dasar konsep manajemen tanah. Pengembangan lahan berdasarkan ekologi sudah dilakukan Belanda, tetapi ditinggalkan pemerintah Republik, terutama saat Indonesia memilih membangun teknologi lebih dulu pada 1980 hingga masa reformasi. Akibatnya, lahan-lahan subur tertimpa bangunan.

Padahal, salah satu hal yang sudah dilakukan Belanda adalah membuat pemetaan lahan, misalnya tembakau deli dikembangkan di Sumut antara Sungai Ular dan Sungai Wampu, gula ada di Jawa, dan sagu di Maluku.

“Kita justru mundur setelah zaman Belanda. Dulu Belanda punya rencana penggunaan tanah, kita tidak begitu,” ujarnya.

Sejarah penggunaan tanah di Indonesia salah satunya ada dalam catatan Kim H Tan (81), dalam buku Soils in the Humid Tropics and Monsoon Region of Indonesia, Their Origin, Properties, and Land Use yang diterbitkan The University of Georgia, Athens, 2007.

Tapanuli Tengah

Satu kerja yang Zulkifli selesaikan adalah memetakan tanah di Tapanuli Tengah. Ia golongkan tanah di Kabupaten Tapanuli Tengah dalam berbagai klasifikasi yang cocok untuk tanaman tertentu.

Tanah di Kecamatan Maduma hingga Sibolga, misalnya, masuk golongan MA 233, artinya tak baik untuk kelapa sawit, karet, kopi, dan cokelat. Sementara golongan tanah AF 112 bisa ditanami karet, baik untuk cokelat, kapuk, dan sangat baik untuk kelapa sawit. Di kabupaten ini terdapat 47 jenis tanah.

“Kita telah memilih teknologi maju, tetapi pilihan kita salah. Ketika kita mau balik lagi sudah sulit karena lahan itu sudah terpakai,” kata Zulkifli. Jutaan hektar lahan subur sudah terkonversi menjadi rumah atau untuk perluasan kota.

Pengembangan Kota Medan adalah contoh konkret. Tanah perkebunan untuk pengembangan tembakau deli sudah habis. “Kita tak mungkin melebarkan tanah tembakau deli karena sudah menjadi gedung,” katanya.

Tukang listrik

Zulkifli tak bercita-cita menjadi ahli tanah, ia ingin menjadi tukang listrik. Itu karena setiap sore dia melihat petugas listrik mengontrol lampu jalan di Kisaran tahun 1967. Ia hanya tak percaya pada lagu Koes Plus, Kolam Susu, yang menggambarkan betapa suburnya Indonesia.

“Kalau tanahnya subur, tak mungkin rakyat melarat,” kenang Zulkifli. Buktinya, produksi aren sang ayah, seorang pembuat gula aren di Kisaran, tak pernah meningkat. Produksi padi di daerahnya juga rendah. Pemikiran itu membuat dia memilih jurusan tanah pada Fakultas Pertanian USU.

Katanya, Indonesia yang terletak di kawasan tropis tidak subur karena unsur haranya rendah, hanya mineralnya bagus dan airnya cukup.

Saat kuliah, baju yang dimiliki Zulkifli cuma empat lembar. Ia juga mengajar untuk membiayai kuliah. “Mungkin karena saya suka makan makanan bergizi kalau ada kenduri sebab saya rajin membantu orang memasak untuk pesta,” cerita Zulkifli yang pernah menang lomba mengaji tingkat Sumut itu.

Zulkifli rela bekerja dan belajar keras sebab niatnya hanya satu, yakni mengerjakan sesuatu sebaik mungkin. Ia tak peduli apakah hasil kerjanya mendapat penghargaan atau tidak.

Sesungguhnya, kata Zulkifli, untuk memajukan bangsa, kemampuan ilmuwan Indonesia mencukupi. Namun, tanpa pemimpin yang mampu berpikir jernih, mau memikirkan kesejahteraan rakyat dan kelestarian ekologi, kekuatan ilmu tidak akan berarti karena tak ada yang bisa diterapkan di sini.***

sumber: http://202.146.5.33/kompas-cetak/0712/06/Sosok/4045782.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s