Tifatul Sembiring


Nama Tifatul Sembiring
Lahir Bukittinggi, 28 September 1961

Tifatul Sembiring

Istri Sri Rahayu
Anak 1. Sabrina Sembiring
2. Fathan Sembiring
3. Ibrahim Sembiring
4. Yusuf Sembiring
5. Fatimah Sembiring
6. Muhammad Sembiring
7. Abdurrahman Sembiring

Pengalaman Organisasi:
Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),perioden 2005-2010
Pejabat Sementara Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS),n Oktober 2004-April 2005
Ketua DPP PKS Wilayah Dakwah I Sumateran
Humasn Partai Keadilan
Pendiri PartaiKeadlan (PK)n
Aktivis Pelajar Islamn Indonesia (PII)
Aktivis Yayasan Pendidikan Nurul Fikri, 1990n
Aktivisn Korps Mubaligh Khairu Ummah

Pekerjaan:
n Direktur Asaduddin Press, Jakarta
PT PLN Pusat Pengaturan Beban Jwa, Bali,n Madura 1982-1989

Pendidikan:
Sekolahn Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Komputer (STI&K) Jakarta
n International Politic Center for Asian Studies Strategic Islamabad, Pakistan

Alamat Rumah:
Kompleks Pondok Mandala II Blok N-1, Cimanggis, Depok, Jawa Barat

Alamat Kantor:
Kantor Pusat DPP Partai Keadilan Sejahtera
Gedung Dakwah Keadilan
Jl. Mampang Prapatan Raya No. 98 D-E-F
Jakarta Selatan, Indonesia
Telp +62-21-7995425
Fax +62-21-7995433

sumber:http://www.tifatul.info

Iklan

Sudi Silalahi, Letjen TNI (Purn.)


Letjen TNI (Purn.) Sudi Silalahi (lahir di Pematangsiantar, Sumatera Sudi SilalahiUtara, 13 Juli 1949; umur 60 tahun) adalah Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia sejak 22 Oktober 2009. Sebelumnya ia menjabat sebagai Sekretaris Kabinet. Sudi lulus dari Akabri pada tahun 1972 dan mengakhiri karir militernya dengan pangkat Letnan Jenderal. Ia adalah sekretaris Susilo Bambang Yudhoyono saat Yudhoyono sedang menjabat sebagai Menko Polkam di bawah pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

* 1996-1997 Wakil Assospol Kasospol ABRI
* 1998 – Kepala Staf Kodam Jaya
* Oktober 1998 – Askomsos Kaster ABRI
* 1999 – Pangdam V Brawijaya, Surabaya
* Oktober 2001-Juli 2004 – Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan dalam Kabinet Gotong Royong
* 2004-2009 – Sekretaris Kabinet dalam Kabinet Indonesia Bersatu
* 2009-sekarang – Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Indonesia Bersatu II

Pada tanggal 20 Januari 2005, dengan mengatasnamakan jabatannya sebagai Seskab, Sudi Silalahi mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri RI, dan meminta Menlu untuk merespons dan menerima presentasi dari manajemen PT Sun Hoo Engineering tentang rencana pembangunan gedung KBRI di Seoul, Korea Selatan. Surat ini kemudian disusul dengan surat kedua pada tanggal 21 Februari 2005, dengan isi yang sama, namun diperkuat dengan permintaan untuk ‘menindaklanjuti’ yang diberi penekanan dengan huruf miring. Surat ini juga melampirkan 4 berkas proposal dan dua maket. [1]

Surat-surat ini kemudian bocor ke tangan wartawan, dan dimuat di berbagai surat kabar setahun kemudian. Banyak pihak, antara lain mantan presiden RI Abdurrahman Wahid, koordinator ICW Teten Masduki serta kalangan anggota DPR menganggap apa yang dilakukan Sudi ini di luar batas-batas kepatutan sebagai pejabat negara.

Untuk meredam kasus ini, Sudi melaporkan anak buahnya, Aziz Ahmadi, sebagai orang yang dianggap telah memalsukan surat-surat tersebut. Dalam perkembangan selanjutnya, Aziz diberitakan pula telah mengaku menerima imbalan atas keluarnya surat tersebut.

M.S. Hutagalung


Kehidupan adalah Jantung dari SastraMS Hutagalung.jpg
Oleh : Hotma D. L.tobing

KabarIndonesia – Mungkin generasi muda sekarang ini tidak banyak yang kenal dengan Mangasa Sotarduga Hutagalung. Beliau adalah M.S. Hutagalung pengarang buku sastra dan kritikus sastra. MS Hutagalung telah banyak memakan asam garam ikhwal sastra di Indonesia. Di masa mudanya di tahun 60-an, Hutagalung banyak menulis tentang kritik sastra terhadap siapa gitu. Ratusan kritik dan esai sastra yang telah ditulis dan dimuat di buku antologi sastra.

Pada tahun 1971 -1973 pernah belajar Fakultas Sastra Universitas Leiden dalam program Leiden, studi Pasca Sarjana dalam bidang linguistik Terkenal di kalangan masyarakat kesusasteraan Indonesia sebagai seorang ahli sastra yang telah banyak menulis buku tentang kesusasteraan ; banyak menulis artikel sastra dalam majalah dan suratkabar ibukota, banyak membawakan kerja keras dalam seminar-seminar sastra. Ia juga pernah duduk dalam Komisi bahasa Indonesia yang bertugas membantu penyusunan “Alkitab Terjemahan Baru”.

Tak kurang kurang dari 10 bukunya yang telah diterbitkan antara lain: Tanggapan Jalan tak ada Ujung Muchtar Lubis (Gunung Agung, cet. 2,1963), Tanggapan Dunia Asrul Sani ( Gunung Agung,1967 ), Hari Penentuan (BPK Gunung Mulia,1967), Memahami dan Menikmati Puisi (BPK Gunung Mulia 1971 ; mendapat penghargaan dari Departmen Pemuda ), Telaah Puisi (BPK Gunung Mulia 1973), Kritik atas Kritik atas Kritik (Tulila, 1975 ), Membina Kesusasteraan Indonesia Modern (Corpatarin utama 1988), Telaah Puisi Penyair Angkatan Baru (Tulila, 1989). Dalam buku ini termuat pembicaraannya tentang hampir semua penyair utama di Indonesia (Angkatan Baru ), mulai dari Toto Sudarto Bachtiar, Ajib Rosidi, Subagio Sastrowardoyo, Gunawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Popy M.Hutagalung, Fridolin Ukur dan lain-lain.

Kemudian dalam 2 tahun terakhir ini buku yang terbit adalah Perjalanan 40 tahun GKPI Jemaat Rawamangun bersaksi, PENATUA, Tugas dan Syarat, Menumbuh Kembangkan Jemaat (Kolportase GKPI Rawamangun, 2006). Pada mulanya MS menulis sajak dan cerpen dan disiarkan oleh RRI Medan. Setelah tamat dari Universitas Indonesia puluhan bukunya telah diterbitkan. Ratusan kritik dan esainya tersebar di koran dan majalah. M.S Hutagalung lahir di Tarutung, Sumut 8 Desember 1937, lulus tahun 1964 pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mengajar pada fakultas yang sama dengan mata kuliah kesusasteraan Indonesia. Pada tahun 1984 bertugas di Universitas Sains di Penang -Malaysia sebagai dosen tamu. Dia sempat mengenyam pendidikan S2 di Leiden bahkan selama 7 tahun mengajar sebagai dosen tamu di Universitas Sains Penang, Malaysia. Sebelum pensiun, dia juga mengajar bahasa Indonesia Sastra Indonesia di Universitas Kristen Indonesia, Universitas Nasional, STT Jakarta dan STT Cipanas.

Puisi Penting, Tetapi Tak Laku

Dua puluh tahun lalu dia pernah berkomentar dalam bukunya Telaah puisi Penyair Angkatan Baru, dan itu juga yang diulanginya ketika saya bertemu dengannya dua bulan lalu di rumahnya bilangan Pemuda Asli, Rawamangun, Jakarta Timur : Saya heran kalau dikatakan bahwa puisi dirasakan penting, tetapi mengapa tidak laku? Disamping yang mendewa-dewakan atau memistik-mistikkan puisi atau sastra, tidak kurang juga banyaknya orang-orang yang melecehkan arti puisi. Bagi mereka puisi itu adalah ciptaan orang-orang yang suka melamun dan hanya berguna untuk orang-orang yang melamun juga. Sajak-sajak yang berserakan di mana-mana dan sajak cengeng dan seenaknya seakan memperkuat alasan mereka bahwa sajak sebenarnya adalah hasil pekerjaan orang-orang iseng yang mempermainkan kata-kata.

Kita harus mengakui bahwa zaman kita bukanlah zaman seni, tetapi zaman ilmu, tekonologi, ekonomi dan lain-lain. Tetapi zaman ini pulalah mulai terbukti bahwa apa yang telah agak lama dikahawatirkan orang-orang bijak: merosotnya nilai-nilai kemanusiaan. Tidak kurang dari seorang Menteri Agama kita sendiri berkata bahwa hidup tanpa seni adalah kekasaran. Memang untuk dapat melihat makna sesuatu untuk kehidupan, kita perlu mencoba membayangkan hidup kita tanpa seni. Sebab sesuatu itu mungkin tidak kita sadari lagi maknanya, karena sudah terlalu biasa seperti “udara”. Saya kira memang banyak orang yang sudah tak dapat hidup lagi tanpa musik kesayangannya, tanpa buku sastra, tanpa tari. Tapi tanpa sajak atau puisi? Sangat mengerikan. Anak-anak sekarang kita tidak lagi menyanyikan tentang Pelangi atau Bintang kecilnya Ibu Sud. Dapatkan dibayangkan, kebaktian di gereja akan hambar dan pembicaraan di pesta adat dan antara kita mungkin menjadi kurang semarak dan membosankan, karena tidak diselingi lagi oleh pepatah-petitih atau gaya khas yang kita pergunakan. Pada zaman ini hati kita semakin kebal. Rasa ibahati, belas kasihan, pengorbanan semakin hilang.

Di samping merangsang kepekaan kita pada keindahan, kesenian dan terutama sastra juga selalu merangsang hati kita terhadap kemanusiaan, kehidupan bahkan kepada alam sekeliling. Kehidupan memang adalah jantung dari sastra. Sastra merangsang kita untuk lebih memahami, menghayati kehidupan. Sastra bukan merumuskan dan mengabstraksikan kehidupan kepada kita, tetapi menampilkannya, mengkonkretkannya.

Meski Sakit di Usia Senja, Karya Tetap Eksis

Karena selama menjelang pensiun MS Hutagalung banyak berkiprah di llingkungan gereja, puisinya banyak becerminkan tentang hidup dan kehidupan yang menjadi renungan yang mendalam kepada yang membacanya. M.S. Hutagalung menempatkan masa lalu dengan optimisme yang penuh semangat. Harus diakui bahwa Hutagalung kini tidak lagi secara cermat mengikuti perjalanan kritik sastra Indonesia, karena matanya sudah rabun. Bahkan kini ia tengah bergulat dengan alat pencuci darah yang terpaksa dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Cairan harus segera dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. “Kita jalani sajalah dengan penuh syukur, apa yang terjadi kini”, kata Aksa Mary Tobing, belahan jiwanya yang setia mendampinginya.

Permata Kehidupan

Dua bulan lalu bersama Astar Siregar teman mahasiswa dan teman seasramanya di Daksinapati, Rawamangun, telah menerbitkan sebuah buku. Di dalam buku antologi puisi berjudul: Permata Kehidupan, Sajak-sajak Lansia bersampul luks ini, MS Hutagalung yang genap berusia 71 tahun 8 desember 2007 ini, menulis 31 judul sajak yang ditulis selama tahun 2007. Maka lahirlah perenungan di dalam relung-relung hati yang amat dalam.

Coba kita simak dalam puisinya berjudul Aku ingin menari seperti daun gugur: Aku ingin seperti daun itu/ menarikan tarian yang paling indah/ Atau menyanyikan sebauah lagu paling merdu/ Sebelum jasadku kembali bersatu dengan tanah/ Sebagai ucapan terima kasih kepada Pemberi Hidup atau “Aku Bergegas dan Tersandung”: yang dengan sederhana tetapi sedemikian rupa sanggup menohok kecendrungan manusiawi dan kefanaan kita. Kemudian kita lihat lagi karyanya dalam judul lain seperti “Kunjungan bunda, Cinta terpendam, Sajak untuk isteriku, Menempuh tahun 2007 dengan merangkak”dan lain-lain. Karyanya seperti berbicara langsung dengan Tuhannya : mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya.

Riris dan Maman Berkomentar

“Kumpulan sajak Permata Kehidupan yang ditulis oleh dua sahabat yang kebetulan pada masa produktifnya adalah pengajar di Universitas Indonesia, bukan hanya memberi pengalaman dan pengetahuan pada pembacanya, tetapi juga sekaligus dapat memberi kelegaan pada penulisnya.” kata Prof. Riris K Toha Sarumpaet, Ph.D dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.

Membaca sajak-sajak yang longgar namun sungguh dan tulus ciptaan M.S. Hutagalung ibarat membuku buku harian, atau laporan sederhana yang berkisah tentang misalnya dan lain-lain. Seperti berbicara langsung dengan Tuhannya, mengakui kegelisahan dan ketakmengertiannya sehingga mengharapkan kembali belajar dan bersekolah lagi tentang ajaran, perintah dan hakikat hidup serta penciptanya, sang penyair berkata, “Seperti cuaca musim pancaroba/setiap saat bisa berubah, kalau menghadapi yang begini/Aku ingin kembali ke kelas katekisasi.” Penyesalan, pengakuan, dan penerimaan hidup secara berulang berkelebat dalam sajak sajak M.S. Hutagalung seperti tampak pada sajaknya “Permata dan Kerikil” atau “Ingin Jadi Orang Berhidmat dan lain-lain.” Mesin pencuci darah telah melahirkan pesimisme dalam menatap masa depan. Sesuatu yang sangat manusiawi. Segalanya habis. Tetapi kemudian, spirit istri, doa kerabat dan keteguhan iman, memberi penyadaran, bahwa itulah kehendakNya. Maka dengan kehendak-Nya pula, di depan terhampar kemenangan ; optimisme untuk bertahan, bercinta dengan gereja dan jemaatnya, dan bertegur sapa dengan manusia dan kemanusiaan.

Di hiruk pikuk kemajuan dan keblinger manusia, tidakkah pengucapan serupa ini merupakan pengucapan yang sangat pedih dan dengan cara sederhana sekalipun, mengingatkan dan mendidik kita akan harga sebuah kehidupan? Dengan cara inilah sajak menyapa manusia, dan dengan cara serupa pula penyair melepaskan risau dan gelisahnya, karena tahu dengan komunikasi ini, ia telah mengatakan dan menyuratkan bahkan berbuat sesuatu.

“Renungan tentang masa lalu yang mendominasi puisi M.S. Hutagalung dan tanggapan evaluatif atas kondisi masa kini kerap disampaikan, menjadikan antologi puisi ini seperti menawarkan dua semangat yang berorientasi pada dua masa yang berbeda”, kata Maman S. Mahayana M.Hum, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia.” M.S. Hutagalung mencoba menghubungkan masa kini sebagai alat refleksi mengembalikan masa lalu sebagai renungan kontemplatif.

Sementara itu Astar Siregar menempatkan masa kini sebagai alat untuk memaknai posisi kekiniannya sebagai mahluk sosial. Ia begitu perduli pada problem sosial yang seperti memaksanya harus ikut menyuarakan kegelisahannya. Maka ia mencoba memberi penyadaran, betapa pentingnya menatap masa depan dengan gairah cinta kasih dan toleransi” Semangat kesetaraan dan pengagungan yang sejajar pada sesama umat beragama dan sesama manusia, tidak hanya memancarkan élan multikulturalisme dalam lingkup keindonesiaan, tetapi juga diyakini dapat membawa negeri ini pada dua kata kunci : damai dan sejahtera.

Dua minggu lalu, ketika saya besuk di RS. Cikini, penyakitnya semakin berat. M.S. Hutagalung tampak lemah. Wajahnya pucat pasi. Ketika tulisan ini dibuat, Beliau masih tetap dirawat meskipun sudah diijinkan pulang ke rumahnya di bilangan Rawamangun. Cairan infus harus selalu dimasukkan ke dalam tubuhnya empat kali dalam sehari. Kiranya Tuhan senantiasa campur tangan dengan kehidupannya kini.

sumber; http://www.kabarindonesia.com

Basyral Hamidy Harahap


Basyral Hamidy Harahap, lahir di desa Sihepeng, Kecamatan Siabu, bharahapMandailing Natal, 15 November 1940. *Pengajar tetap Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1964-1975, *Tenaga honorer pada Lembaga Pers dan Pendapat Umum di Jakarta 1964-1965, *Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1965-1967,

*Pengajar pada Latihan Jabatan Lembaga Administrasi Negara 1965-1967, *Bibliografer Ikatan Penerbit Indonesia Pusat 1967-1969, *Tenaga honorer pada Perwakilan Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) di Jakarta 1969-1975, *Diperbantukan pada Rektor Universitas Indonesia untuk persiapan Perpustakaan Pusat UI 1970, *Wartawan Pendam V Jaya 1970, Perwakilan Pengadaan Publikasi Indonesia untuk Perpustakaan Universitas – Universitas Malaysia: UM, UKM, USM, UPM dan UTM 1970-1976, *Mengundurkan diri dari Pegawai Negeri 1975, *Pustakawan KITLV 1975-1995,

*Pengajar Luar Biasa Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1976-1977, *Meneliti biografi dan karya Sati Nasution gelar Sutan Iskandar (Pidoli Lombang Maret 1840 – Amsterdam 8 Mei 1876) yang lebih terkenal dengan nama Willem Iskander, penyair dan pelopor pendidikan guru Indonesia yang mendirikan Kweekschool voor Inlandsch Onderwijzers di Mandailing tahun 1862. *Penelitian arsip tentang Willem Iskander di Belanda 1975, 1981, 1985, 1989 dan Juli-Agustus 2006. *Wartawan Selecta Group 1976-1985, *Ikut mendirikan Yayasan Adam Malik 1985, kemudian *Sekretaris Yayasan Adam Malik 1985-1998, *Pembantu Redaksi Masyarakat Indonesia: Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia diterbitkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 1986-1987, *Anggota Pengurus Besar Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) 1992-1995, *Kepala Sekretariat Pengurus Besar IPI 1997-1998,

*Nara Sumber Badan Warisan Sumatera (Sumatra Heritage Trust ) sejak Oktober 1998 – sekarang, *Anggota Dewan Kelurahan Jati, Jakarta Timur 2001-2006. *Meneliti biografi dan karya Willem Iskander (1840-1876) di Negeri Belanda tahun 1975, 1981, 1985, 1989 dan Juli-Agustus 2006. *Menulis di berbagai media massa, buku, dan makalah tentang Willem Iskander dan masalah sosial budaya Tapanuli Selatan dan Mandailing-Natal, antara lain makalah berjudul The Political Trends of South Tapanuli and its Reflections in the General Elections 1955, 1971 and 1977 disampaikan pada International Interdisciplinary Symposium on Cultures and Societies of North Sumatra di Universität Hamburg, Jerman, November 1981, dimuat dalam buku Cultures and Societies of North Sumatra diterbitkan di Berlin oleh Dietrich Reimer Verlag tahun 1987, ISBN 3-496-00181-X. *Makalah berjudul Islam and Adat Among South Tapanuli Migrants in Three Indonesian Cities: Jakarta, Medan and Bandung disampaikan pada Tenth Annual Indonesian Studies Conference di Ohio University, Athens, USA, Agustus 1982, dimuat dalam buku Indonesian Religions in Transition diterbitkan di Tucson, Arizona, oleh The University of Arizona Press tahun 1987, ISBN 0-8165-1020-2. *Menulis Kumpulan Puisi: Perjalanan, diterbitkan oleh Penerbit Puisi Indonesia di Jakarta tahun 1984, antara lain berisi sajak berjudul New York diterjemahkan oleh John H. McGlynn yang diterbitkan dalam buku Manhattan Sonnet: Indonesian Poems, Short Stories, and Essays about New York diterbitkan di Jakarta oleh The Lontar Foundation, 2001. – ISBN 979-8083-40-7. – p. 44-45. *Sejak 1979 Asisten Prof. Dr. Bernhard Dahm penelitian tentang tradisi dan modernisasi masyarakat Tapanuli Selatan. Sudah melakukan penelitian lapangan pada tahun 1979, 1980, 1989, 1994. Anggota Tim Penyusun Buku 60 Tahun Indonesia Merdeka diterbitkan oleh Sekretariat Negara, Agustus 2006.

Web Site: http://basyral-hamidy-harahap.com

Beberapa Karya Tulis:

2006a: “Syekh Abdul Halim Hasan dan Perubahan Sosial” . – Dalam: Tafsir Al-Ahkam / oleh Syekh H. Abdul Halim Hasan Binjai. – Jakarta : Prenada Media Group, 2006. – pp. xlix – lv. – ISBN 979-3925-40-X [Peranan Ulama Mandailing di Sumatera Timur]

2006b “Ulama dan Perubahan Sosial”: makalah pada Seminar Peluncuran Tafsir Al-Ahkam [karya Syekh Abdul Halim Hasan Binjai] di Hotel Graduda Plaza Medan, 17 Juni 2006. – 12 p. – [Peranan Ulama Mandailing di Malaysia]”

2005a: Fakta dan Angka Statistik Pendidikan Kabupaten Mandailing Natal 2005. – Panyabungan : Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, 2005. – xii, 88 p. – ISBN 979-99704-0-7.

2005b: Rakyat Mendaulat Taman Nasional Batang Gadis. – Panyabungan : Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal, 2005. – xvi [16], 132 p. – ISBN 979-98376-1-8.

2004a: Pemerintah Kabupaten Madina Membangun Masyarakat Yang Madani: Suatu Studi Perbandingan. – Panyabungan : Pemerintah Daerah Kabupaten Mandina, 2004. – 424, [62] p. – ISBN 979-98376-0-X

2004b: Siala Sampagul : Nilai-Nilai Luhur Budaya Masyarakat Kota Padangsidimpuan. – Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan, 2004. – xvi, 203 p. – ISBN 979-98049-1-4.

2003: Pemerintah Kota Padangsidimpuan Menghadapi Tantangan Zaman. – Padangsidimpuan : Pemerintah Kota Padangsidimpuan, 2003. – 241 p. – ISBN 979-98049-0-6.

2002a: Pengantar tesis Krismus Purba Opera Batak Tilhang Serindo Pengikat Budaya Masyarakat Batak Toba di Jakarta. – Yogyakarta : Kalika Budaya, 2002. – pp. vii – xvii. – ISBN 979-9420-13-X.

2002b: Si Bulus-Bulus Si Rumbuk-Rumbuk / Willem Iskander ; pengantar dan terjemahan oleh Basyral Hamidy Harahap ; Edisi ke-3. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander, 2002. – 109 p. – ISBN 979-8067-01-0.

2001: Pengantar untuk Edisi Indonesia disertasi Lance Castles: Kehidupan Politik Suatu Keresidenan di Sumatra : Tapanuli 1915-1940 / Lance Castles. – Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia. – pp. vii – xxxi. – ISBN 979-9023-65-3.

2000: Resolusi Nuddin Lubis Tonggak Sejarah Demokrasi. – Jakarta : 2000. – xvii, 543 p. (Naskah siap cetak).

1998: Kejuangan Adam Malik (1917-1984). – Jakarta : Yayasan Adam Malik, 1998. – 64 p.

1997a: Mengenal Kaum Angkola-Mandailing / oleh Basyral Hamidy Harahap ; diadaptasi untuk khalayak Malaysia oleh Prof. Madya DR. H.M. Bukhari Lubis. – Kuala Lumpur : Ikatan Kebajikan Mandailing Malaysia, 1997.- 129 p.

1997b: “Orientasi Pembangunan Mandailing”. – Dalam: Derap Langkah Mandailing Natal: Sarasehan Masyarakat Mandailing di Hotel Kemang, 12 Juli 1997. – 58 p. – Jakarta : Himpunan Keluarga Mandailing (HIKMA), 1997.

1997c: Willem Iskander (1840-1876) Sebagai Pejuang Pendidikan dan Pendidik Pejuang Daerah Sumatera Utara. – Medan : Kanwil Depdikbud bekerjasama dengan Pemda Sumatera Utara, 1997. – 207 p. – (Naskah siap cetak).

1996: “Willem Iskander: Guru yang Terlempar Jauh ke Masa Depannya”. – Dalam: Nalar dan Naluri: 70 Tahun Daoed Joesoef / penyunting Kadjat Hartojo, Harry Tjan Silalahi, Hadi Soesastro. – Jakarta : CSIS, 1996. – pp.185 – 227. – ISBN 979-8026-44-6.

1993: Horja: Adat Istiadat Dalihan Na Tolu. – Jakarta. – xxxiii, 598, [60] p. – ISBN 979.8847-00-X.

1987a: Islam and Adat Among South Tapanuli Migrants in Three Indonesian Cities: Jakarta, Medan and Bandung disampaikan pada Tenth Annual Indonesian Studies Conference di Ohio University, Athens, USA, Agustus 1982, dimuat dalam buku Indonesian Religions in Transition diterbitkan di Tucson, Arizona, oleh The University of Arizona Press tahun 1987. – p. 221-237, Notes p 273. – ISBN 0-8165-1020-2.

1987b: Orientasi Nilai-Nilai Budaya Batak: Suatu Pendekatan Terhadap Perilaku Batak Toba dan Angkola-Mandailing / oleh Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan. – Jakarta : Sanggar Willem Iskander. – xvi, 344 p. – ISBN 979-8067-00-9.

1987c: The Political Trends of South Tapanuli and its Reflection in the General Elections 1955, 1971 and 1977 disampaikan pada International Interdisciplinary Symposium on Cultures and Societies of North Sumatra di Universität Hamburg, Jerman, November 1981, dimuat dalam buku Cultures and Societies of North Sumatra diterbitkan di Berlin oleh Dietrich Reimer Verlag.

http://basyral-hamidy-harahap.com/blog/