Miranda Gultom


Perjuangkan Kesempatan Perempuan, Bukan Hanya Jatah

Perspektif

Miranda Gultom

Tak bisa dipungkiri jika kita bicara tentang emansipasi wanita di Indonesia maka nama Kartini akan menjadi referensi utama, sehingga hari Kartinipun identik dengan kemajuan perempuan Indonesia. Di hari Kartini, Perspektif Wimar menghadirkan Deputi Gubernur Senior merangkap Pjs Gubernur BI, Prof.Dr. Miranda Gultom dengan ditemani Agni Pratistha sebagai co host.

Miranda berpendapat kalau sekarang bukan seperti zaman Kartini atau Indira Gandhi lagi dimana tema pendidikan yang setara antara pria dan wanita menjadi isu utama. ”Perempuan harus membuktikan kalau pendidikan yang ada harus menghasilkan perempuan yang sama atau bahkan lebih baik dari lelaki”, ujar Miranda.

Mengenai perjuangan feminisme, dia juga menganggap hal itu boleh saja, asal harus benar. Karena di saat keadaan masyarakat yang masih ’membeda-bedakan’ gender, memang perlu adanya perjuangan. Jadi perempuan bukan hanya menunggu jatah. Tapi jangan lupa juga, bahwa perempuan harus menjalankan program-programnya seperti ngurus suami, dll.

Selain ahli moneter, Miranda Gultom ternyata juga disibukan dengan program golf goes to school miliknya.Dimana kegiatannya melatih para pelatih (trainning for trainners), menyiapkan paket manajemen golf yang mengutamakan kejujuran, serta silabus materi-materi teknik permainan. Pendukung setia Manchaster United ini ternyata juga pecinta kesenian dengan mengetuai Yayasan Nusantara yang menaungi Nusantara Symphonic Orchestra dan ketua Yayasan Paduan Suara Anak Indonesia

Tentang kasus yang menimpa Burhanuddin Abdullah, perempuan yang dijuluki ’Miss telat’ ini mengaku prihatin, sedih dan terpukul dengan adanya dugaan itu. ”Saya harus positif dan kita harus membuktikan diri bahwa tidak semua anggota BI itu jelek”. Sebagai perempuan yang menempati salah satu jabatan terpenting di Bank Sentral, Miranda yang pernah menjadi dosen FE UI ini bersyukur diberi kesempatan sebagai akademisi dan juga praktisi. Dia pun meyadari bahwa sering kali teori-teori yang ada tidak berhubungan dengan kenyataan yang sebenarnya.

Polemik tentang proses pemilihan Gubernur BI antara DPR dan pemerintah juga tak luput dari perbincangan. Perempuan pertama yang menjabat Deputi Gubernur Senior BI ini menilai sebetulnya DPR bukan tempat Fit and Proper Test melainkan hanya sebagai lembaga yang mengkonfirmasi calon gubernur atau deputi gubernur senior yang diajukan Presiden. Kenyataannya forum di DPR seakan-akan jadi ajang penentuan. Yaah mungkin ini bentuk konsekuensi dari begitu kuatnya posisi parlemen dalam sistem politik kita sekarang. Meskipun dua calon yang diajukan Presiden SBY memang banyak dikritik berbagai kalangan.
Padahal banyak juga anggota DPR yang belum tentu ngerti masalah moneter. Yang penting Vokal!!

Iklan

Abdul Harris Nasution


Jenderal Besar TNI Purn. Abdul Harris Nasution (lahir di Kotanopan,

A. H Nasution

Sumatera Utara, 3 Desember 1918 – meninggal di Jakarta, 6 September 2000 pada umur 81 tahun) adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang merupakan salah satu tokoh yang menjadi sasaran dalam peristiwa Gerakan 30 September, namun yang menjadi korban adalah putrinya Ade Irma Suryani Nasution.

Sebagai seorang tokoh militer, Nasution sangat dikenal sebagai ahli perang gerilya. Pak Nas demikian sebutannya dikenal juga sebagai penggagas dwifungsi ABRI. Orde Baru yang ikut didirikannya (walaupun ia hanya sesaat saja berperan di dalamnya) telah menafsirkan konsep dwifungsi itu ke dalam peran ganda militer yang sangat represif dan eksesif. Selain konsep dwifungsi ABRI, ia juga dikenal sebagai peletak dasar perang gerilya. Gagasan perang gerilya dituangkan dalam bukunya yang fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare. Selain diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, karya itu menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite militer dunia, West Point, Amerika Serikat.

Tahun 1940, ketika Belanda membuka sekolah perwira cadangan bagi pemuda Indonesia, ia ikut mendaftar. Ia kemudian menjadi pembantu letnan di Surabaya. Pada 1942, ia mengalami pertempuran pertamanya saat melawan Jepang di Surabaya. Setelah kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, Nasution bersama para pemuda eks-PETA mendirikan Badan Keamanan Rakyat. Pada Maret 1946, ia diangkat menjadi Panglima Divisi III/Priangan. Mei 1946, ia dilantik Presiden Soekarno sebagai Panglima Divisi Siliwangi. Pada Februari 1948, ia menjadi Wakil Panglima Besar TNI (orang kedua setelah Jendral Soedirman). Sebulan kemudian jabatan “Wapangsar” dihapus dan ia ditunjuk menjadi Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Di penghujung tahun 1949, ia diangkat menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Darat.

Pada 5 Oktober 1997, bertepatan dengan hari ABRI, Nasution dianugerahi pangkat Jendral Besar bintang lima. Nasution tutup usia di RS Gatot Soebroto pada 6 September 2000 dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.

Hotmangaraja Panjaitan


Hotmangaraja Panjaitan

Hotmangaraja Panjaitan

Mayor Jendral TNI Hotmangaradja Pandjaitan (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 14 Oktober 1953; umur 56 tahun) adalah Panglima Komando Daerah Militer XI/Udayana yang menjabat dari Juni 2008. Hotmangaraja merupakan putra dari Pahlawan Revolusi D.I. Pandjaitan. Ia berasal dari kesatuan Infanteri – Baret Merah angkatan 1977.
[sunting] Karir

* Atase Militer di Republik Federal Jerman (pangkat kolonel)
* Komandan Group 2/Kopassus (kolonel)
* Komandan Resort Militer 163/Wirasatya – Bali Kodam IX/Udayana (kolonel)
* Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (brigadir jendral)
* Wakil Asisten Pengamanan KASAD (brigadir jendral)
* Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (mayor jendral)
* Asisten Teritorial KASAD (mayor jendral)
* Panglima Daerah Militer IX/Udayana (mayor jendral)

http//id.wikipedia.org

Sintong Hamonangan Panjaitan


Mayor Jenderal (Purn) TNI Sintong Hamonangan Panjaitan (lahir di

Sintong Panjaitan

Sumatera Utara, 4 September 1940; umur 69 tahun) adalah seorang purnawirawan TNI lulusan Akademi Militer Nasional (kini Akademi Militer) tahun 1963. Ia menerima 20 perintah operasi/penugasan di dalam dan luar negeri selama karir militernya. Pencopotan jabatannya sebagai pangdam akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, 11 November 1991 banyak dianggap sebagai awal dari kemunduran karirnya di bidang militer sebelum ia menjadi Purnawirawan dengan pangkat Letnan Jendral.

Sintong dilahirkan di Tarutung, sebagai anak ketujuh dari 11 bersaudara. Saudara-saudaranya bernama: Johan Christian, Nelly, Humalatua, Hiras, Erne, Wilem, Tiurma, Dame, Anton dan Emmy. Ayahnya, Simon Luther Panjaitan (sebelumnya bernama Mangiang Panjaitan) adalah seorang Mantri di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (RSU) Semarang. Ibunya, Elina Siahaan adalah puteri dari seorang raja di Aek Nauli, Raja Ompu Joseph Siahaan. Keduanya menikah di Semarang, pada tahun 1925. Minat Sintong pada bidang militer muncul saat berumur tujuh tahun rumahnya terkena bom P-51 Mustang Angkatan Udara Kerajaan Belanda. Sintong mulai memanggul senjata di bangku Sekolah Menengah Atas (1958) saat ia mengikuti latihan kemiliteran 3 bulan yang dilaksanakan gerakan PRRI di bawah pimpinan Kolonel M. Simbolon.

Sintong mulai mencoba memasuki dunia militer saat mencoba melamar masuk Akademi Angkatan Udara di tahun 1959. Saat menunggu hasil lamarannya tadi, Sintong juga mengikuti ujian masuk Akademi Militer Nasional di tahun 1960, dan lulus sebagai bagian dari 117 taruna AMN angkatan V. Sintong lulus dari AMN pada tahun 1963 dengan pangkat Letnan Dua. Selanjutnya ia mengikuti sekolah dasar cabang Infantri di Bandung dan lulus pada tanggal 27 Juni 1964 dan ditempatkan sebagai perwira pertama Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD), pasukan elit TNI Angkatan Darat (kini bernama Komando Pasukan Khusus – Kopassus).

Pada periode Agustus 1964-Februari 1965 Sintong menerima perintah operasi tempur peramanya di dalam Operasi Kilat penumpasan gerombolan DI/TII pimpinan Kahar Muzakar di Sulawesi Selatan dan Tenggara. Sejak Februari 1965, Sintong mengikuti pendidikan dasar komando di Pusat Pendidikan Para Komando AD di Batujajar. Ia memperoleh atribut Komando di Pantai Permisan, 1 Agustus 1965, dan kembali ke Batujajar untuk pendidikan dasar Para dan mengalami 3 kali terjun. Setelah itu ia menerima perintah untuk diterjunkan di Kuching, Serawak, Malaysia Timur sebagai bagian dari Kompi Sukarelawan Pembebasan Kalimantan Utara dalam rangka Konfrontasi Malaysia.

Terjadinya Gerakan 30 September (G30S) membatalkan rencana penerjunan di atas. Sintong sebagai bagian dari Kompi yang berada di bawah pimpinan Lettu Feisal Tanjung kemudian berperan aktif dalam menggagalkan G30S. Sintong memimpin Peleton 1 untuk merebut stasiun / kantor pusat Radio Republik Indonesia (RRI), yang memungkinkan Kapuspen-AD, Brigjen TNI Ibnu Subroto menyiarkan amanat Mayjen TNI Soeharto. Sintong juga turut serta dalam mengamankan Lapangan Udara Halim Perdanakusuma, dan memimpin anak buahnya dalam penemuan sumur tua di Lubang Buaya. Setelah itu Sintong menerima tugas operasi pemulihan keamanan dan ketertiban di Jawa Tengah, untuk memimpin Peleton 1 di bawah kompi Tanjung beroperasi memberantas pendukung G30S di Semarang, Demak, Blora, Kudus, Cepu, Salatiga, Boyolali, Yogyakarta hingga lereng timur Gunung Merapi.

Pada tahun 1969 Kapten Feisal Tanjung mengikutsertakan Sintong dalam upaya membujuk kepala-kepala suku di Irian Barat untuk memilih bergabung bersama Indonesia dalam Penentuan Pendapat Rakyat. Berbagai prestasi Sintong di kesatuan khusus TNI-AD ini mengantarkannya ke kursi Komandan Kopassandha di periode 1985-1987, menggantikan Brigjen. Wismoyo Arismunandar.

Keterlibatannya dalam operasi militer di daerah Timor Timur kemudian menjadi salah satu penyebab diangkatnya Sintong menjadi Panglima Komando Daerah Militer IX/Udayana yang mencakup Provinsi Timor Timur. Sintong kemudian dicopot dari jabatannya sebagai pangdam akibat Insiden Dili di pemakaman Santa Cruz, 11 November 1991, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Beberapa pihak menyatakan bahwa peristiwa ini turut mengakhiri karir militer Sintong.[7] Akibat keterlibatannya dalam insiden tersebut ia dituntut pada 1992 oleh keluarga seorang korban jiwa dan divonis, pada 1994, untuk membayar ganti rugi sebanyak total 14 juta dollars AS.

Menristek Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie menunjuk Sintong sebagai penasihat bidang militer di kantor Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tahun 1994. Sejak saat itu Sintong menjadi penasihat kepercayaan Habibie hingga Habibie menjadi Presiden Indonesia di tahun 1998 dimana Sintong duduk sebagai penasihat Presiden di bidang Militer. Sebuah sumber menyatakan bahwa Habibie berdiskusi secara mendalam dengan Sintong, Jendral Wiranto (Panglima ABRI dan Menhankam) dan Yunus Yosfiah (Menteri Penerangan) sebelum mengijinkan referendum Timor Timur bagi rakyat Timor Timur untuk menentukan apakah Timor Timur akan tetap bergabung dalam Republik Indonesia atau menjadi negara sendiri.

Buku

Pada Maret 2009, Sintong menerbitkan bukunya yang berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”. Buku tersebut menuai kontroversi karena menuduh Prabowo Subianto yang pada Maret 1983 berpangkat kapten hendak melakukan upaya kudeta dengan menculik beberapa perwira tinggi ABRI. Buku yang diterbitkan menjelang Pemilu Legislatif 2009 itu memberikan kredit kepada Luhut Panjaitan yang waktu itu berpangkat mayor yang disebutkan menggagalkan upaya yang mengarah kepada kudeta tersebut.
sumber:http//id.wikipedia.org

Choky Sitohang


Choky,Si Gartip Pahoppu Panggoaran

Choky Sitohang

Doli-doli parlente, pintar bicara, ini bernama lengkap Binsar Choky Victory Sitohang. Ketika berumur empat tahun sudah gartip, alias bawel. Tak heran, masih belia ia sudah pintar bicara. Bakatnya berkobar waktu umurnya 17. Dia lahir di Bandung, 10 Juli 1982.
Choky memulai karir sebagai wartawan lepas (pembaca berita) di salah satu stasiun TV swasta. Dia membawakan acara Good Morning on The Weekend. Dari sana karirnya menanjak cepat. Sukses yang dititinya itu dia lalui penuh liku selama delapan tahun.

Pernah gagal casting, jatuh sakit, dan sempat mencoba berbagai profesi, tetapi semangatnya tak pernah padam. Dia tahu meniti karier itu penuh perjuangan.

Mengapa terjun ke bidang publik speaking? Pria ganteng ini lugas menjawab: “Bakat saya di publik speaking, bakat saya di dunia bicara. Saya menyukai pekerjaan ini. Selain kepuasan batin yang saya dapat, saya juga menghibur dan memberi inspirasi kepada banyak orang.”
Ia mengakui peran keluarga dalam kariernya besar, terutama ibunya, Diana Napitupulu dan (almarhum) bapaknya, Poltak Sitohang, juga kedua adik perempuanya.

Sebagai pekerja profesional, Choky mengelola sendiri jadwal kesibukannya. Jika ada yang ingin mengundang harus lewat manajer. “Karena ini pekerjaan saya, maka saya kerjakan secara profesional. Ada tim yang khusus menyusun dan menerima undangan. Soal tarif, saya tidak mau menyebut angka. Kenapa? Karena etika. Saya punya tanggung jawab moral pada klien. Apa yang diberikan kepada saya harus memperoleh sesuatu dari saya.”

Tidak terlalu pasif berbahasa Batak, namun Choky bangga menjadi orang Batak. “Saya bangga menjadi orang Batak. Karena itu, on air saya berani berkata ini Choky Sitohang. Meskipun saya tidak terlalu terbiasa berbahasa Batak, bahkan nyaris tidak bisa. Tetapi, darah saya darah orang Batak. Ibu saya boru Napitupulu. Kakek nenek saya semua orang Batak. Ompung saya Kolonel MC Sitohang alamarhun begitu baik pada saya,” ujar pahoppu panggoaran (cucu pertama dari anak pertama) ini. Hotman J. Lumban Gaol

Saut Sirait


Saut Sirait: Khotbah Panjang dan Berani

oleh: Hotman J. Lumban Gaol (Hojot Marluga)

Saut Hamonangan Sirait

Saut Hamonangan Sirait memang bukan selibritis, dan tidak suka entertainment, tetapi di dunia para aktivis sosok ini bukan muka baru. Dia semacam aktor yang selalu dicari wartawan untuk ditanyakan pendapatnya. Apa arti Saut Hamonangan Sirait? William Shakespeare mengatakan, “Apalah arti sebuah nama nama?” Tapi, apa salahnya sekedar bertanya. Barangkali nama memang punya arti. Paling tidak untuk yang memberikan atau yang memilikinya. Saut dalam bahasa Batak berarti “jadi” sedangkan Hamonangan adalah “orang yang selalu menang” dan Sirait adalah marganya.

Sejak masih bayi dia sudah ditempa oleh getirnya kehidupan. Saut kecil, tidak pernah merasakan dekapan seorang ayah, karena saat umur empat bulan, ayahnya meninggal. Praktis sejak kecil dia dididik seorang ibu beserta delapan kakak-kakaknya. Saut Sirait adalah anak siampudan atau anak paling bungsu dari sepuluh bersaudara. Putra dari pasangan Constan Sirait dan Cornelia boru Marpaung.

Dia lahir di Paparean, Porsea, 24 April 1962. Disanalah dia dibesarkan hingga kelas tiga sekolah dasar. Lalu kelas empat SD hingga kelas dua SMA ditempuhnyanya di Pontianak. Dia ke Pontianak ikut sang Abang tertua yang adalah seorang jaksa yang bertugas di daerah tersebut. Kemudian, dari sana, dia pindah ke Tanjung Karang, Lampung, hingga lulus SMA.

Saut Sirait menikah dengan Agustina Veronica boru Silalahi yang sekarang berusia 35 tahun. Mereka bertemu saat sama-sama aktif di organisasi Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saut aktivis dan duduk dalam kepengurusan organisasi tersebut. Dia didaulat sebagai senior oleh teman-temannya. Sedangkan Agustina adalah alumni Universitas Brawijaya, Malang, jurusan administrasi negara dan aktif dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Malang. Juga giat di PIKI.

Ada momen yang membahagiakan. Waktu itu, Agustinai menjadi anggota panitia dari pelaksana kongres PIKI. Tak dinyana, dari pertemuan pertama keduanya berteman, berpacaran hingga yang berakhir di pelaminan. Walau terpaut umur yang agak jauh, 13 tahun, tetapi kalau cinta sudah sor tidak ada yang bisa menghalangi. Keduanya sepakat menikah. Dari pernikahan mereka, Tuhan mengaruniakan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. si sulung, Saulina Hariarany Tabita boru Sirait, 8 tahun dan Sampurna Cavin Timoty Sirait, 7 tahun. Keduanya duduk di bangku sekolah dasar.

Sebenarnya, sejak kecil Saut bercita-cita menjadi seorang taruna Akabri. Namun, suratan tangan berkata lain, karena beberapa alasan yang berat hatinya untuk mengatakannya, dia kemudian mengurungkan niat itu dan mendaftar ke Sekolah Tinggi Teologia Jakarta.

Ketika masih duduk di SMA di Tanjung Karang, Saut aktif dalam kepemudaan gereja, dan terpilih menjadi wakil ketua pemuda HKBP Tanjung Karang. Dia juga aktif dalam kepengurusan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

“Sejak kecil saya bercita-cita masuk Akabri. Itulah sebabnya, sampai saat ini saya hafal pangkat-pangkat, dari perwira terendah hingga tertinggi. Saya sudah siapkan diri, tetapi karena satu hal, saya urungkan niat untuk masuk. Pendeta menjadi pilihan saya, karena sejak di Pontianak saya sudah aktif di gereja sebagai guru sekolah Minggu,” kata Saut mengenang.

Tidak jujur
Jiwa aktivis turun dari sang Abang, Pahotan Sirait, alumni Institut Pertanian Bogor. Pahotan adalah aktivis di tahun 1966. Maka, ketika menjadi mahasiswa, Saut tidak ketinggalan, dia aktif di senat sebagai Sekretaris Senat Mahasiswa STT Jakarta. Di luar kampus, dia jatuh-bangun sebagai Ketua Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Organisasi ini membuka pintu baginya untuk banyak bergaul dengan aktivis pemuda, seperti Anas Urbaningrum dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Anas ketika itu adalah ketua HMI. Saat ini dia duduk sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

Saut kemudian aktif di organisasi gereja, di bawah sayap PGI, sebagai Sekretaris Pokja Pemuda PGI. Pernah pula menjadi Ketua Panitia Nasional Perkemahan Kerja Pemuda PGI (1985-1990). Lalu, Ketua DPP Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), dan DPP Persatuan Intelektual Kristen Indonesia (PIKI). Saat ini dia adalah Sekretaris Ikatan Alumni STT Jakarta.

Untuk apa dia banyak berkecimpung dalam begitu banyak organisasi? Menurut dia, kemajemukan harus juga dipahami sebagai ruang untuk pelbagai kelompok-kelompok, baik itu didasarkan etnis, pola kebudayaan, dan agama. Dari banyak interaksi itulah sikap kritis seseorang dipertajam. Keberbagaian merupakan kenyataan yang harus diterima dan sikap saling-menerima harus dipupuk. Maka, organisasi itu, katanya, adalah jembatan untuk mengenal orang lain.

Saut ikut menjadi salah satu pendiri Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) yang terdiri dari 13 organisasi massa pemuda dan mahasiswa. Tahun 1996, dia termasuk salah satu deklarator Komite Independen Pemantau Pemilu bersama-sama Nurcholis Madjid, Goenawan Muhammad, Mulyana Kusumah, Budiman Sudjatmiko.

Tahun 2004-2009, dia aktif dalam Forum Peduli Nusantara. Waktu itu dia diserahi tanggungjawab untuk duduk dalam Presidium dan Wakil Sekretaris Jenderal Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP). Tahun 2002-2007, dia menjadi Wakil Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Komaruddin Hidayat yang duduk sebagai ketua. Di Panwaslu, Saut bersikap tegas. Dia mengatakan tidak akan berkompromi dengan para pelanggar aturan pemilu. Dan tidak takut melaporkan tindakan politik yang tidak jujur yang dilakukan oleh partai dalam kampaye maupun kaitannya dalam pemilu.

Saat sekarang ini, Saut adalah Ketua DPP Partisipasi Kristen Indonesia, yang disingkat Parkindo. Sudah dua periode dia memangku jabatan itu. “Bagi sebagian orang, Parkindo adalah partai. Ada yang menyebutnya sebagai sayap PDI-Perjuangan, karena pernah dipimpin Sabam Sirait yang notabene adalah fungsionaris PDI-Perjuangan. Padahal, tidak ada hubungannya sama sekali. Parkindo bukan partai,” ujarnya Saut saat menerima TAPIAN di kantor Parkindo, di Jalan Matraman 10, Jakarta, baru-baru ini.

Tahun 1992, Saut ditahbiskan menjadi pendeta Huria Kristen Batak Protestan. Di masa itu, gereja yang terbesar di Asia Tenggara tersebut sedang “ribut.” Dia pun tidak pasif, karena kedudukannya sebagai Direktur Departemen Pemuda di HKBP selama 5 tahun, sejak tahun 1991-1996. Departemen pemuda ini semacam Ansor di Nahdatul Ulama.

Mengapa terjun ke dunia LSM? Tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi, begitu jawabnya. “Pemahaman yang menganggap bahwa ruang duniawi harus dipisahkan dengan yang surgawi adalah salah. Pendeta mengurusi surga sementara aktivis mengurusi dunia. Ini seolah-olah tidak ada hubungan, padahal keduanya saling-tergantung.”

Ketidak-adilan merajalela
Saut menambahkan, tidak mungkin ada roh tanpa pewadahan dalam bentuk tubuh. Dan tidak ada gunanya surga jika tidak ada realitas dunia. Itulah yang disebut interdependesi atau saling-ketergantungan. Pertautan antara hal-hal yang bersifat dunia dan yang bersifat rohani. Itu sama sekali tidak boleh dipisah, katanya.

“Kasus KPK dan Polri sekarang ini menunjukkan kemunafikan kita. Semua mengatakan demi Allah. Tempat-tempat peribahan kita, seperti gereja, masjid, wihara, klenteng semua penuh. Semua dengan antusiasme memuliakan agama dari luar. Tetapi, kenyataanya korupsi dan ketidak-adilan merajalela. Yang salah adalah Senin sampai Sabtu menjadi aktivis, lalu Minggu menjadi pendeta. Keduanya harus jalan bersama. Misalnya, Yesus tidak pernah memisahkan dirinya dengan dunia. Dia datang ke dunia ‘Allah yang menjadi manusia.’ Dia yang terbaik yang disebut reinkarnasi yang masuk ke lorong-lorong kehidupan. Jadi tidak ada ruang yang haram untuk anak Tuhan mengabdi,” kata Saut.

Sang pendeta sekaligus aktivis ini pernah ditembak, tetapi tidak kena. Tidak jera pula, malah makin berani. Menurutnya, sebagai aktivis sudah biasa mengadapi hal demikian. Dipukul, ditangkap, bahkan dipenjara sekali pun adalah hidupnya para aktivis. Maka, kalah adalah juga hidupnya. Sementara menang hanyalah bonus. Jadi mengapa harus takut? Begitu dia bertanya tanpa mengharapkan jawab.

Ada satu peristiwa yang membuat Saut tidak lagi takut menghadapi apa pun, kematian pun tidak. Masa HKBP bergejolak, Saut bersama teman-temannya tampil menjadi penentang rezim yang mencoba mengatur gereja dengan mengangkat seorang “ephorus” puncuk pimpinan tertinggi di HKBP, hanya dengan Surat Keputusan dari Kodam Bukit Barisan. Inilah titik awal krisis yang terjadi di HKBP selama enam tahun, dari tahun 1992-1998.

Sebagai Direktur Departemen Pemuda HKBP ketika itu, Saut mendeklarasikan perlawanan, dengan mendukung orang yang dizolimi dan terlibat langsung dalam gerakan Setia Sampai Akhir (SSA). Inilah awal Saut menelusuri lorong-lorong kegelapan HKBP dan sampai pada kesimpulan bahwa pemerintahlah yang mengintervensi HKBP.

“Pemicu utama saya untuk terjun menjadi aktivis adalah ketika kasus seorang panglima Kodam Bukit Barisan mengangkat ’ephorus’ pimpinan tertinggi gereja HKBP melalui sk-nya. Dari situ mata saya terbelalak melihat betapa selama ini rezim otoriter telah menina-bobokan rakyat, ” ujar pendeta yang menghabiskan masa kecilnya di wilayah pemukiman di lembah Bukit Barisan.

Tahun 1993, masa genting yang dialami HKBP, jemaat yang menentang intervensi pemerintah mendirikan parlape-lapean, semacam tempat ibadah sementara bagi yang melawan pemerintah. Pada waktu itu Setia Sampai Akhir (SSA) mengadakan kebaktian kebangunan rohani (KKR) di Narumonda, Kabupaten Toba-Samosir, yang dihadiri ephorus Dr. SAE Nababan yang diakui SSA.

Saut menggerakkan seluruh “ruas” atau jemaat dari Tarutung, Humbang, Siborongborong, Sigumpar, Laguboti, hingga ke Balige. Di tengah jalan, di Sitoluama, daerah Laguboti, Saut berserta para peserta KKR, dihadang oleh Brimob yang muncul dengan memegang senjata api laras panjang.

Membangkang terhadap penghadangan, Saut memimpin warga untuk melawan. Maka terjadi huru-hara antara Brimob dan ruas SSA. Saut ditembak dari jarak enam meter, tetapi tidak kena. Lalu, dikeroyok sembilan anggota Brimob hingga babak belur, mukanya memar.

“Kejadian itu membuat saya tiba pada titik kulminasi, tidak ada lagi rasa takut. Perasaan takut sudah putus. Saya punya kesimpulan, jika Tuhan izinkan saya ditanggkap atau dipukuli, itu artinya Tuhan memberikan kemampuan kepada saya untuk mengalami semua itu. Tetapi, kalau saya lolos, saya tidak tertembak, itu juga rencana Tuhan,” katanya mencurahkan perasaannya seperti sedang berkhotbah.

Empek-empek Megaria
Sebagai seorang pendeta yang tahu dan merasakan betul dampak yang timbul dari krisis HKBP itu, Saut pun tidak mau berlama-lama pada ketidaknyamanan itu. Dia tampil menjadi salah seorang rekonsiliator.

Saut menjadi Sekretaris Tim Rekonsiliasi Konflik HKBP. Pada akhirnya, tahun 1998, terpilihlah Dr. Jr. Hutauruk sebagai ephorus (1998-2004) yang oleh “Sinode Godang Rekonsiliasi.” Dan inilah akhir dari sejarah kelam HKBP.

Ada lagi cerita yang tak kalah seru. Oleh aktivitasnya di bidang politik, Saut menjadi orang yang masuk daftar merah, daftar pencarian orang (DPO). Tahun 1999, dua truk tentara menyisir seluruh bangunan STT Jakarta, kampus yang membesarkannya sebagai manusia. Ketika itu, Saut mengambil gelar master dalam etika politik. Saut lapar luar biasa. Dia kemudian keluar kampus, pergi mencari empek-empek kesukaannya semasa di Tanjung Karang, terletak di bioskop Megaria, dekat kampusnya.

Setelah melangkah keluar dari bendul kampusnya, dua truk tentara datang mau menangkap Saut yang sudah lama mereka cari. Tak ditemukan. Maka, dosen, staf, dan mahasiswa pun diintrogasi. Yang dicari tidak ada. Akhirnya tentara “mulak balging,” pulang tanpa hasil.

Begitu tentara keluar dari lingkungan kampus, tak berapa lama kemudian, Saut pun kembali tanpa kekurangan satu apa pun. Begitu memasuki pintu kampus, dia melihat semua penghuni kampus keluar. Saut malah bertanya, ada apa? Inilah jalan Tuhan. Semua yang menyaksikan kejadian itu seakan tidak percaya.

Menurut Saut banyak orang yang telah membentuk dan memberikan kekuatan kepadanya dalam berjuang, terutama sahabat-sahabatnya. Dari persahabatan itu dia banyak mengenal manusia. Di antara banyak orang yang memberikan semangat, ada satu sosok yang sangat mempengaruhinya: Moxa Nadeak. Moxa dia kenal semasa aktif di GMKI dan GAMKI. Moxa adalah seniornya di dua organisasi ini. Baginya, Moxa adalah sahabat sekaligus abang, kalau tidak bisa dibilang bapak penganti.

“Dia sudah almarhum. Dialah seorang sahabat. Lebih dari abang kandung saya. Satu yang tidak pernah saya lupakan nasihatnya, kesederhanaan dan idealisme. Kelebihannya adalah keteguhannya dalam prinsip. Dia ditawarkan wakil pemimpin redaksi ’Suara Pembaruan’ ketika muncul kasus ’Sinar Harapan.’ Tetapi, karena tidak sesuai dengan hati nuraninya, Moxa tidak menerima tawaran itu.

Menurut dia, Moxa merasa ”Lebih baik saya menjadi seorang reporter asal koran ini dibaca pengambil keputusan di negeri ini, ketimbang saya menjadi wapemred, tetapi koran ini tidak bisa memberikan pengaruh untuk negeri ini.” Jadi, menurut Saut, dari dialah dia belajar mengenai prinsip. Moxa Henry Nadeak meninggal dunia di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Senin, 24 Mei 1999.

Sebagaimana mottonya sebagai aktivis, “Kekalahan adalah bagian hidup, sementara kemenangan adalah bonus,” maka Saut mencoba “ruang-ruang” baru yang bisa memberikan kontribusi pada masyarakat luas. Misalnya, ikut mencalonkan diri waktu pemilihan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) periode tahun 2007-2012. Saut mendaftar.

Namun kalah suara. Dia hanya di peringkat delapan, sedangkan anggota KPU hanya tujuh orang. Demikian juga pada pemilu lalu, Saut maju dalam pemilihan DPD DKI dengan nomor urut 36. Namun, gagal, tidak mendapat suara yang berarti untuk bisa menjadi Dewan Perwakilan Daerah dari pemilihan Jakarta Timur.

Walupun dia terjun ke politik, tetapi ikut partai tidak cocok bagi Saut. Lebih cocok independen. Memang, pernah ikut mendirikan partai PUDI bersama 13 tokoh, namun menurut Saut, ketika dibentuk, PUDI bukan partai yang disiapkan berjuang dalam pemilu. Tetapi, dia didirikan untuk menjatuhkan rezim berkuasa Suharto. Sesudah Suharto tumbang, seharusnya PUDI bubar, dan 12 tokoh sepakat partai tersebut membubarkan diri. Tapi, Sri Bintang Pamungkas, salah satu pendiri PUDI, berkehendak lain. Dia mendirikan PUDI sebagai partai politik yang ingin bertarung dalam pemilu. Hasilnya, semua orang ingat, tidak lolos di KPU.

Apakah gereja bisa berpolitik? Warga gerejalah yang berpolitik. Menurut Saut, harus ada keseimbangan. Ada relevansi nilai-nilai yang dianut dalam agama. “Gereja terlalu lama dalam zona abu-abu. Ada yang menyebut ‘gereja ya gereja, politik ya politik.’ Gereja harus terlibat dalam politik, tetapi mempersiapkan jemaatnya. Organisasi gereja tidak boleh berpolitik apalagi mendirikan partai.” Tegas seperti batu dia berpendirian itu.

Tambahnya lagi, selama gereja apolitis dan umatnya yang apolitis, kita tidak menjadi garam. Gereja memiliki tanggung-jawab politik. Kalau politik menindas dan merusak masyarakat, gereja harus melawan. Jika belajar sejarah gereja, seorang pendeta juga pernah menjadi seorang perdana menteri Belanda (1901-1905), Abraham Kuyper, lulusan sekolah teologia dan seorang pendeta. Sebelumnya, ada juga Jhon Calvin, dia presiden Swiss. Dia menjadikan aparatus gereja, dan juga aparat negara.

Untuk mengasah jiwa kepemimpinannya, Saut mengecap berbagai pengalaman, salah satunya partnership consultation di Dusseldorf pada tahun 1995, pelatihan monitoring pemilu di Bangkok (1996), pemantauan pemilu di Kamboja (1998), serta koordinator KIPP untuk pemantauan jajak pendapat Timor Timur (1999).

Kini, selain pendeta di HKBP Bandung, Saut juga menjadi narasumber pendidikan politik organisasi gereja di PGI. Tahun 1999, dia memperoleh gelar magister teologia di bidang etika politik dari STT Jakarta. Tesisnya tentang politik gereja dan diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia dalam bentuk buku, diberi judul Politik Kristen di Indonesia: Suatu Tinjauan Etis 21. Buku ini dianggap sebagai buku refrensi untuk memahami politik Kristen di Indonesia.

Almarhum Eka Darmaputera, guru dan seniornya, dalam kata sambutannya untuk buku itu menyebut Saut Sirait berbeda dari dari aktivis kebanyakan. “Saudara Saut Sirait berbeda. Dia mengambil rute yang sebaliknya……Dia mengawali karirnya dari dunia pergerakan, baru kemudianlah dia melanjutkan studi, sampai meraih gelah Strata Dua. Ia, berbeda dengan yang lain, agaknya ingin memberikan pondasi teoritis yang lebih teguh bagi kegiatan-kegiatan perjuangan……Ia tidak mau ternggelam dalam kekenesan akademis, tetapi sebaliknya juga tidak mau terjerat oleh kesibukan aktivisme semata.” *** Hotman J. Lumban Gaol

Sakti Naibaho


Sakti, Master of Number Junior
The Master Junior 2 adalah ajang pencari bakat bagi pesulap anak-anak, umur delapan hingga 14 tahun. Program TV ini merupakan kelajutan dari The Master Junior 1 yang disiarkan langsung RCTI setiap Sabtu dan Minggu sore.

Gara-gara ibunya, Sakti Naibaho melambung namanya. Ceritanya, Tahelena boru Hutapea mendaftarkan nama anaknya begitu mendengar ada audisi The Master Junior 2 di Radio Cardova, Medan, audisi perdana di Sumatera Utara pertengahan Oktober lalu. Boru Hutapea tahu benar akan kemampuan anaknya, karena itu dia tak berpikir panjang untuk mendaftarkan Si Sakti. Walau seleksi berlangsung ketat sekali, Sakti Sahatma Samudra Naibaho, kelahiran Medan, 5 Desember 1997, terpilih mewakili kota kelahirannya.
Sakti kini dijuluki Master of Number Junior. Julukan itu sesuai permainan sulapnya yang mengandalkan matematika sehingga banyak orang terinspirasi dan bersemangat mempelajari matematika.

“Matematika bagi saya dia bisa mengembangkan pikiran kita. Dengan permainan sulap lewat matematika ini, saya juga mau menyemangati orang untuk selalu belajar dan berlatih mengembangkan kemampuan,” ujar anak dokter Binsar Naibaho, 38 tahun, asal Panguguran, Somosir. Sakti memang sakti dalam soal hitung-hitungan. Waktu kelas 1 SMP dia masuk dalam Tim Olimpiade Matematika mewakili sekolahnya.
Usia 12 tahun, dia sudah menjadi siswa kelas 3 Sekolah Menengah Pertama Methodis 2, Medan. Mulai belajar sulap semenjak kelas 4 SD. Trik sulap pertama yang dipelajarinya adalah penggunaan kartu. Ini dia pelajari dari buku-buku sulap dan juga latihan langsung dari ayahnya. Menurut Sakti, ayahnya bisa mengajarkan trik, tapi cuma berteori tidak bisa praktek. Sehari-hari, Sakti suka membantu orang lain dengan memilih kesibukan di klinik pengobatan cuma-cuma milik orangtunya.

Apa motif mengikuti ajang lomba ini? “Saya mengikuti acara ini, syukur kalau bisa menjadi juara. Saya ingin membanggakan keluarga dan marga Naibaho, terutama warga Sumatera Utara.” Tambanya pula: “Selain menghitung, saya juga suka nyanyi. Pernah ranking tiga di sekolah. Selain itu, saya hobi catur. Harapan saya, bisa membanggakan orang Medan dan keluarga terutama marga Naibaho,” ujar anak pertama dari tiga bersaudara ini.