A.E Manihuruk


Orang Batak tidak akan melupakan jasa-jasanya. Dialah satu-satunya

AE Manihuruk

orang yang bisa disebut pejabat “sukuisme” dalam arti yang positif. Katanya, dulu, setiap orang Batak yang melamar ke BAKN 90% pasti diterima, demikian pula jika melamar pegawai negeri, AE Manihuruk pasti memabuntu. Itu sebabnya, di masa dia menjabat, banyak orang Batak yang menjadi pegawai negeri.

Kariernya dimulai dari tentara hingga pangkat terkahir Letnan Jenderal. Dia adalah Arsinius Elias Manihuruk, mantan Ketua Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN). Meninggal pada usia 82 tahun, pada hari Jumat (10/1) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.

AE Manihuruk meninggalkan seorang istri, Rohim Boru Sihaloho (84), dan lima anak, Yeni Rita Manihuruk (58), Guntur Manihuruk (51), Posman Manihuruk (49), Sahala Manihuruk (47), dan Sahat Manihuruk (45).

Berlin Simarmata, dalam weblognya menyebut, di kampung kami beliau dikenal sebagai seorang pejuang,yang tadinya adalah seorang guru,lalu masuk TNI pada masa perjuangan.Disamping pejuang,beliau dikenal sebagai seorang yang berhati baik,suka menolong orang kampung kami,dalam batas-batas kemampuannya.

“Saat saya murid SMP di Pangururan-Samosir,saya satu kelas dengan putrinya Jeanny boru Manihuruk.Pada saat saya kuliah di ITB Bandung,saya dapat kesempatan berkenalan dengan keluarga beliau.Beliau berada di Bandung,karena mendapat tugas sebagai dosen Seskoad. Selama di Bandung beliau juga diangkat sebagai Penasehat Muda Mudi Silalahi Sabungan. Saya pun mengenal beliau secara dekat tatkala pernikahan Letnan Dua Tukang Simarmata, dengan Emmy boru Tobing.Beliau bertindak sebagai wali penganten laki-laki,dan saya sebagai panitia resepsi,” tulis Berlin.

“Nasehat beliau yang paling berkenan di hati saya adalah:Jangan melupakan kampung halaman atau bonapasogit.Beliau mengkritik Kolonel Maludin Simbolon dan Mayor Raja Permata alias Sangga Raja Simarmata,yang tidak mempedulikan pulau Samosir.Beliau masih berpangkat Letnan Satu,tatkala kedua nama yang disebut terdahulu sebagai Panglima Kodam Bukit Barisan dan Komandan Batalion di BB,” tambah Berlin mengenang AE Manihuruk.***Hotman J. Lumban Gaol

Biodata:
Letjen (Purn) AE Manihuruk
Lahir:
Lumban Suhi-suhi, Pulau Samosir, Sumatera Utara, 29 Februari 1920
Meninggal:
Jakarta 10 Januari 2003
Dikebumikan:
Samosir 16 Januari 2003
Agama:
Kristen
Isteri:
Rohim Boru Sihaloho
Anak:
Yeni Rita Manihuruk (58), Guntur Manihuruk (51), Posman Manihuruk (49), Sahala Manihuruk (47), dan Sahat Manihuruk (45)
Pangkat Terakhir:
Letnan Jenderal TNI
Jabatan Terakhir:
Ketua Badan Administrasi Kepegawaian Negara (BAKN) tahun 1972-1987
Organisasi:
Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golongan Karya (Golkar) periode tahun 1987-1992
Pemimpin Umum majalah Koppri, majalah gratis, tahun 1988

Iklan

Torang Lumban Tobing


Kabupaten Tapanuli Utara adalah kabupaten induk dari empat

Torang Lumban Tobing

kabupaten (Dairi, Toba-Samosir, Samosir, Humbang-Hasundutan) di Sumatera Utara. Ibu kotanya berada di Tarutung. Memiliki wilayah seluas 10.605 km² dan penduduk diperkirakan lebih-kurang sekitar 750.000 jiwa. Masa pendudukan Belanda, Kabupaten Tapanuli Utara termasuk ke dalam Karesidenan Tapanuli yang berada di Sibolga.

Setelah zaman kemerdekaan 5 Oktober 1945, Tapanuli dibagi tiga bagian Tapanuli Tengah (Sibolga), Tapanuli Utara (Tarutung), Tapanuli Selatan (Padang Sidempuan) dengan masing-masing pejabat pemerintahan dipimpin bupati. Di Tapanuli Utara, bupati pertama adalah Cornelius Sihombing.

Kini, Kabupaten Tapanuli Utara dipimpin Torang Lumbantobing. Bupati yang telah menjabat dua periode ini dari (2004-2009) hingga (2009-2013). Bupati yang dinilai merakyat karena mau naik-turun gunung, menginap di rumah-rumah warga, demi merasakan apa keinginan warganya yang ada di pedalaman.

Torang lahir di Tapanuli Utara, 15 Agustus 1958. Menikah dengan Elly Marsaulina Manalu. Pasangan ini dianugerahkan Tuhan empat anak yaitu: Eduward Lumbantobing, Chrismanto Lumbantobing, Christin Lumbantobing, dan sibungsu Vanana Lumbantobing.

Memulai pendidikannya Sekolah Dasar di SD Bersubsidi HKI Tarutung. Lulus dari SD tahun 1973, melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama di SMP Negeri 2 Tarutung. Lulus SMP tahun 1976, melanjutkan ke Sekolah Teknologi Mengah di STM Negeri Pansurnapitu, lulus tahun 1980.

Memulai kariernya dari bawa sebagai PNS di Kelurahan Hutatoruan VI- Tarutung. Lalu, sejak tahun1983-1984 berlahan memulai debutnya di organisasi dengan menjadi Bendahara Angkatan Muda Pembaharu Indonesia Tapanuli Utara. Dilanjutkan menjadi Ketua Ikatan Pemuda Karya Kabupaten Tapanuli Utara, sejak 1985-1992. Dari sinilah pertemanannya bersemi dengan Olo Panggabean, pendiri dari Ikatan Pemuda Karya, itu. Menjadi salah satu kepercayaan Olo memberikan kesempatan baginya menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah IPK Sumatera Utara, sejak tahun1992 hingga sekarang.

Tahun 1999-2004, Torang berhasil masuk menjadi DPRD II dari Partai Golkar sekaligus menjadi Ketua DPRD Tapanuli Utara 1999-2004. Dari situ kariernya meloncat naik menjadi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara,1999-2004. Dan kini, sebagai Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara. ***Hotman J. Lumban Gaol

Biodata
Torang Lumban Tobing
Tapanuli Utara, 15 Agustus 1958
Kristen Protestan

Kantor:
Jln. Jend. Suprapto No.1 Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara
Telp (0633) 21220 Fax (0633) 21440

Rumah:
Jln. Letjen S.Parman No.1 Tarutung
Telp:(0633) 21011

bupati@taputkab.go.id,
toluto@taputkab.go.id,
toluto58@yahoo.co.id,

Data Keluaga:

Nama Istri : ELLY MARSAULINA MANALU
Nama Putera/Puteri
1. Eduward Lumbantobing
2. Chrismanto Lumbantobing
3. Christin Lumbantobing
4. Vanana Lumbantobing

Pendidikan
SD Bersubsidi HKI Tarutung tahun 1973
SMP Neg. 2 Tarutung tahun 1976
STM Negeri Pansurnapitu tahun 1980

Riwayat Pekerjaan

1. PNS Kelurahan Hutatoruan VI- Tarutung
2. Bendahara AMPI Tapanuli Utara, 1983-1984
3. Ketua IPK Tapanuli Utara, 1985-1992
4. Wakil Ketua DPD IPK Sumatera Utara, 1992-Sekarang
5. Ketua DPRD Tapanuli Utara 1999-2004
6. Wakil Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara,1999-2004
7. Ketua DPD Partai Golkar Tapanuli Utara, 2004-sekarang
8. Bupati Tapanuli Utara, 2004-2009

Penghargaan

1. Lencana Panca Warsa III, Thn 2003, dari Kwartir Pramuka
2. Manggala Karya Kencana, Thn 2005, dari Kepala BKKBN

Johny Simanjuntak


Johny Simanjuntak, sesepuh Organisasi Non Pemerintah, yang akhirnya lolos menjadi salah seorang anggota Komnas HAM, dari 70 orang

Jhony Simanjuntak

lainnya yang menjadi pesaing ketat baginya, memberi jawab terhadap pertanyaan seputar penegakan hukum lingkungan sepanjang tahun 2007 dan harapannya terhadap putusan PN Jakarta Selatan atas kasus Walhi Vs Newmont, 18 Desember 2007, yang lalu.

Jawaban ini sekaligus dapat mewakili pemikiran Johny, sebagai aktifis yang sejak lama memilih untuk selalu kritis terhadap isu-isu strategis di tingkat nasional dan sekaligus responsif terhadap isu lokal. Khusus, mengenai penegakan hukum lingkungan, sebagai seorang ahli hukum, tentunya penting untuk menjadi bahan pemikiran bagi siapa saja yang memiliki kepedulian dalam pelestarian lingkungan di Indonesia.

Simak, pemikirannya :

Menurut saya, penegakan hukum lingkungan pada tahun 2007, masih jauh dari yang diharapkan. Bahkan, jika merujuk pada fakta lapangan tentang kerusakan lingkungan, penegakan hukum lingkungan sepertinya tidak pernah menjadi agenda utama pemerintah. Apa salahnya, jika penegakan hukum lingkungan dilakukan dengan tindakan ekstraodinary (luar biasa).

Misalnya, memperlakukan kejahatan lingkungan sebagai kejahatan yang sama dengan korupsi sehingga
ada kelembagaan yang memiliki wewenang luarbiasa seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Usulan ini,
sebenarnya bukan hal baru, karena semua orang sudah mengetahui bahwa banjir, bumi yang semakin panas, longsor, berbagai penyakit yang diderita rakyat, muncul, timbul atau terjadi karena adanya pelanggaran hukum lingkungan atau pengabaian hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.

Korban pelanggaran ini terutama adalah warga, lebih susah lagi adalah warga miskin. Sebenarnya Menteri Kehutanan tahu, Menteri Pertanian juga tahu, Menteri Lingkungan Hidup juga tahu, bahwa kejadian yang menimpa rakyat tersebut adalah akibat perusakan lingkungan hidup. Rupannya, mereka semua tunduk bertekuk lutut di bawah kaki pemilik modal.

Ini cerita alam yang harus dikhiri pada tahun 2008. Kita semua harus kerja keras agar penegakan hukum
ligkungan berlangsung dengan sesuai harapan demi anak cucu kita juga. Harapan saya adalah hakim mestinya mengedepankan pencapaian keadilan melalui putusan mereka, bukan pencapaian pelaksanaan aturan positip belaka. Hakim pemeriksa perkara memiliki otoritas untuk menggali nilai-nilai keadilan yang
hidup di masyarakat.

Memang dibutuhkan keberanian, kecerderdasan dan komitmen Hakim untuk mecapai keadilan yang didambakan semua masyarakat Indonesia. Hakim tidak boleh hanya sebagai corong Undang- Undang melainkan terutama sebagai corong keadilan.

Jaringan Advokasi Tambang
http://www.jatam.org

Baginda Lumban Gaol


Lumban Gaol Se-Jabodetabek Mendukung Baginda Menjadi Bupati

Baginda Lumban Gaol

Humbang-Hasundutan

Bona Taon adalah budaya Batak, khususnya Toba. Tidak jelas sejak kapan dan tak ada data yang menyebut awal mula perayaan Bona Taon dilaksanakan. Ada yang mengatakan tradisi Bona Taon berasal dari budaya Eropa, yang merayakan setiap awal tahun dengan berpesta bersama. Lalu misionaris Eropa membawanya ke Tanah Batak, menjadikannya bagian seremonial dalam mensyukuri awal tahun baru, dengan memperbarui semangat menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun, jika ditilik budaya Batak, sebelum Tanah Batak menjadi Kristen pun budaya itu sudah ada: yaitu Mangase Taon yang berarti merayakan syukuran mengawali tahun baru. Entah mana yang benar. Yang jelas Bona Taon telah menjadi budaya modern orang Batak di tanah perantauan seperti Jakarta, yang dilaksanakan oleh kumpulan marga. Umumnya perayaan ini berlangsung antara Januari sampai Juni.
Acara awal tahun semacam ini berintikan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atau berdoa bersama melalui pesta satu marga. Saat seperti inilah terlihat semangat kebersamaan satu marga atau yang diungkapkan dalam kata-kata tarida hasadaon ni roha. Hasadaon ni roha bukannya dilakukan para orangtua saja, atau yang sudah berkeluarga, juga ditekankan pada generasi muda dan anak-anak.

Generasi muda ini diharapkan bisa terus menjaga persaudaraan “namarhaha-marangi” pada generasi berikutnya, dan mampu bersaing pada zaman modern dengan tidak meninggalkan budaya Batak.
Karena semangat kebersamaan itulah punguan marga Lumban Gaol se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tidak menyurutkan langkah mereka untuk datang, walau diguyur hujan deras. Mereka terus berduyun-duyun, malah makin sore semakin terasa kehangatan persaudaraan tersebut menuju gelanggang perhelatan yang berlangung

Minggu, 17 Januari lalu, di Gelanggang Olahraga Remaja, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur. Temanya “Ai dihaholongi Debata do nalas roha mangalehon,” yang artinya Tuhan akan memberkati orang yang ikhlas memberi, dan sub-tema berbahasa Indonesia “Melalui pesta Bona Taon Kita Tingkatkan Pelayanan Pada Pomparan Raja Lumban Gaol Dohot Boruna,

Marga induk Lumban Gaol sendiri adalah Marbun, yaitu Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol. Di Jakarta, Bogor, Depok, Tengerang, dan Bekasi sendiri jumlah marga Lumban Gaol ada sekitar 1500 kepala keluarga. Punguan Lumban Gaol ini dipimpin oleh Bernard Lumban Gaol (Amani Boy).

Mendoakan Baginda
Di tengah-tengah acara berlangsung panitia menghibau bahwa Baginda Lumban Gaol saat ini ada bersama kit. Maka, pada sambutannya Bernard mengatakan. “Mari kita doakan amang Baginda sebagai ‘parhobas’ di Humbang-Hasundutan. Pertama kita sudah berangkatkan appara saya, sekretaris Lumban Gaol sekarang menjadi DPRD II di Humbang-Hasundutan. Dan kedua ini, demikian juga Baginda harus berhasil menjadi Bupati Humbang-Hasundutan memenangkan pilkada nanti, “demikian sambutan Ketua Umum Lumban Gaol se- Jabodetabek, ini.

Untuk peneguhan tersebut, seluruh keluarga besar Lumban Gaol, diminta berdiri serentak untuk mendoakan Baginda agar kuat dalam perjuangan. Serentak berdiri berdoa bersama. Intinya, semua usaha manusia sia-sia jika Tuhan tidak dilibatkan, dan tidak perlu takut jika Tuhan memberkati kita. Kita pomparan Raja Lumban Gaol harus maju, harus sejahtera, peduli, dan meningkatkan pelayanan baik dalam suka maupun duka serta berguna tidak hanya bagi Lumban Gaol, tetapi juga bagi Negara dan bangsa. Maka, jika ada yang mau maju harus kita dukung dan kita minta keluarga kita yang ada di Humbang-Hasundutan untuk memilih Baginda Lumban Gaol agar bisa terpilih menjadi bupati.

Di Humbang-Hasundutan sendiri, sudah santer dibicarakan sejumlah kandidat balon Bupati Humbahas periode 2010-2015. Yang sudah resmi menjadi calon adalah Maddin Sihombing, Bazoka Leo Togatorop, Maju Siregar, Sanggam Simamora dan Baginda Lumban Gaol. Baginda Lumban Gaol saat ini berpasangan dengan Saul Situmorang. Baginda adalah mantan Kajari Tapanuli Utara, Tarutung. Tahun 2005 lalu, Baginda ikut maju dalam Pilkada di Humbang-Hasundutan berpasangan dengan Jabangun Simamora, ketika itu. Namun itu belum waktunya, Baginda hanya meraih suara peringkat kedua dari lima kandidat ketika itu. Unutk kali ini Baginda-lah calon yang kuat berpeluang mengalahkan incumbent Maddin Sihombing. Hotman J. Lumban Gaol

Marsillam Simanjuntak


Marsilam Simanjuntak (lahir di Yogyakarta, 23 Februari 1943; umur 66

Marsilam Simanjuntak tahun) adalah Sekretaris Kabinet Januari 2000, Menteri Kehakiman Juni 2001, Jaksa Agung Republik Indonesia untuk periode Juli-Agustus 2001.

Pendidikan formalnya adalah di bidang kedokteran. Ia adalah alumni Fakultas Kedokteran UI (1971). Karier awalnya adalah sebagai dokter penerbangan di Maskapai Penerbangan Garuda, yang masih ditekuninya hingga sekarang. Namun demikian, masa kerjanya sempat ‘terpotong’ 17 bulan, karena pada tahun 1974 ia harus mendekam di rumah tahanan Militer Terlibat disangka setelah Peristiwa Malari. Penahanannya berakhir tanpa pernah diadili.

Selepasnya dari tahanan (1975) ia diangkat Sebagai Kepala Kesehatan. Hanya saja, ia harus menerima keputusan Kemudian Percepatan masa pensiun karena menolak menjadi anggota Korps Pegawai Negeri (Korpri) dan indoktrinasi P-4.

Sejak bulan Oktober 2006 Marsillam diangkat oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bersama Agus Widjojo dan Edwin Gerungan, Sebagai staf presiden yang dinamakan Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program dan Reformasi (UKP3R).

Sumber:

Saktiawan Sinaga


Kalau pecinta sepak bola pasti kenal Saktiawan Sinaga. Pria Batak

Sektiawan Sinaga

kelahiran Medan, Sumatera Utara, 19 Februari 1982 ini, adalah seorang pemain sepak bola nasional. Sakti sebagi pemain dilini depan, sebagi penyerang dengan tinggi badan 171 cm. Dia juga bermain untuk Tim Nasional sepak bola Indonesia.

Debut pertamanya di Tim Senior di Piala Tiger 2004. Anak dari Sudin Sinaga dan Sulastri ini. Ayah dari dua anak bersama istrinya, Nadila Soraya Lubis, mereka adalah Sheva Nazua Sinaga, 4 tahun, dan Deryl Syuza, 5 bulan. Biasanya, orang-orang menyebutnya Sakti atau Wawan.

Tanggal 5 Mei 2009 lalu bergabung dengan Persik Kediri melawan Persija Jakarta, tiba-tiba ia jatuh pingsan dan meregang ke tepi lapangan. Dia masih tak sadarkan diri di 2 menit sehingga ia dibawa ke rumah sakit sempit, RSUD Gambiran. Pada mendiagnosis, ia merasa serangan jantung karena penyakit, kolesterol tinggi dan terlalu lelah karena ia bermain dengan Persik Kediri melawan Deltras Sidoarjo pada 1 Mei 2009.

Karier: Dengan PSMS Medan, Dengan Tim Nasional (U-23), Dengan Tim Nasional Senior, SEA Games 2003 (U-23 tim), Piala Tiger 2004 (tim senior), SEA Games 2005 (U-23 tim), Piala AFF 2007 (tim senior)

Prestasi Dengan PSMS Medan 3 kali memenangkan Piala Emas Bang Yos (2004, 2005, 2006). Dengan Tim Nasional (U-23) 4 Tempat di SEA Games 2005 di Manila, Filipina, mengalahkan malaysia (3rd Places) 0-1. Dengan Tim Nasional Senior , Runner Up Piala Tiger 2004, mengalahkan Singapura (aggregat kalah 2-5, kalah 1-2 di rumah pertandingan dan kalah 1-3 di pertandingan).***Hojot Marluga