Ralph Tampubolon


Ralph Tampubolon, Ingin Kerja di Teve Negara Tetangga

Ralph Tampubolon

Wajah tampan, suara berat dan fasih berbicara Inggris. Insinyur ini rupanya lebih memilih kerja di broadcasting dibanding mengamalkan ilmu yang didapat saat kuliah. Ada satu yang masih dikejar pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1975 ini. Apa itu?

Nama Anda unik, Ralph. Ada ceritanya?
Ralph diambil dari Ralph Buche, tokoh HAM yang vokal dan sempat mendapat Nobel perdamaian. Ketika usia 3 bulan saya dibawa ke Amerika karena Papa, Hasudungan Tampubolon, mengambil gelar doktor di Boston. Jadi, selama 5 tahun kami tinggal di sana, bahasa Inggris saya jadi lancar. Justru pas pulang ke Indonesia, saya malah belajar Bahasa Indonesia. Kebalik dengan anak-anak di sini, saya malah belajar Bahasa Indonesia dari awal.

Jadi presenter cita-cita sejak kecil?
Ketika SMA saya mengambil jurusan Fisika. Saat kuliah Papa minta saya mengambil Fakultas Teknik. Dan ternyata tahun 1993 saya diterima di UI. Ternyata setelah dijalani, di semester 4-5 saya mulai merasakan kayaknya bukan di situ bidangnya. Di tengah jalan tersebut, saya punya teman yang kerja di radio. Menurut dia, suara saya cocok jadi penyiar. Saya pikir, kenapa tidak dicoba. Akhirnya saya diterima. Hitung-hitung kerja sampingan karena masih kuliah. Orangtua sempat menasihati jangan terlalu sibuk jadi penyiar radio. Pokoknya harus bisa jaga keseimbangan antara kerja sampingan dan kuliah. Untunglah bisa selesai dua-duanya.

Pengalaman pertama saat siaran?
Sebelum siaran ada training, meski sebentar. Saya mengikuti super diklat dengan melakukan simulasi di belakang perangkat siar selama 10 hari. Saya menyukai pekerjaan ini karena minat saya ke sana, jadi mengerjakannya pun dengan semangat. Kerjaan saya waktu itu lebih banyak ke musik, memutar lagu yang diinginkan pendengar.

Setelah lulus, Anda meneruskan kemana?
Lulus kuliah Desember 1998, saya ke Thailand mengambil master di bidang yang saya minati, yaitu komunikasi. Sebenarnya pengin sekolah di Amerika. Tapi terbentur krismon yang biayanya pasti membengkak. Kebetulan, Papa ditugaskan di Bangkok dua tahun. Bersamaan itu, saya mendapat info ada Universitas yang pusatnya di Amerika tapi buka cabang di Thailand. Ditambah lagi ada program S2 Komunikasi Media dengan biayanya lebih murah dibanding ke Amerika.

Anda juga tertarik film ya?
Betul. Saat kuliah S2 hingga lulus tahun 2000, saya banyak menonton film, ada juga mata kuliah yang membahas film. Rupanya besar juga ya peluangnya di film. Saya pun melamar ke beberapa sekolah dan sekolah di Boston selama 1 tahun. Di sana saya belajar penulisan naskah dan dasar-dasar akting. Saya senang semi ekperimental, kalau ada minat, kok, enggak dijalani.
Tahun 2002-2003 saya pulang ke Jakarta. Saat itu pergerakan film baru dimulai. Sementara dunia broadcast sedang bagus karena banyak stasiun teve berdiri, salah satunya Metro TV. Ke sanalah saya mengejarnya, karena di sisi penyiaran, kan, ada sisi pembuatan naskah juga.

Kenapa justru ingin jadi pembaca berita Metro TV?
Entah kenapa ya, ada ketertarikan menjadi pembaca berita. Karena apa yang saya pelajari tertuang semua ketika menjadi pembaca berita. Ada sisi penyiaran, penulisan naskah, dibutuhkan juga modal akting saat membacakan berita. Menurut saya, Metro TV adalah stasiun teve yang lebih fokus, punya karakter yang beda dari teve lain, dan loyal di jalur itu.
Akhirnya, saya melamar kerja ke Metro TV. Wah, ternyata tidak gampang, lho, banyak lika likunya. Sudah tidak terhitung berapa kali saya mengajukan lamaran ke Metro TV tapi belum dipanggil-panggil dalam kurun waktu sampai 1-2 tahun. Kadang mengirimkan lamaran melalui jalur resmi ke HRD atau tidak resmi misalnya titip teman. Saya juga rajin melihat acara yang saya minati, misalnya, program Bahasa Inggris, kemudian di akhir acara tercantum nama produsernya, itulah nama yang saya kirimkan lamaran kerja.

Enggak bosan?
Selama dua tahun mencari kerja, saya mencoba menambah pengalaman dengan bekerja di TVRI bagian news. Siaran semua program selama setahun, mulai dari Dunia Dalam Berita, atau liputan ke istana. Saya banyak belajar dan dapat ilmu dari senior-senior di TVRI. Yang menyenangkan, waktu kecil saya, kan, suka nonton TVRI, ada pembaca berita seperti Teungku Malinda dan Inez Sukandar. Nah, sekarang, kok, saya duduk bersebelahan dengan mereka membacakan Dunia Dalam Berita. Wow! Seperti mimpi saja. Itu pengalaman yang menarik bagi saya. Tapi, lagi-lagi niatnya enggak mau terlalu lama di sana, tetap pengin coba di teve swasta. Syukurlah, akhirnya saya diterima di Metro TV awal 2006 sampai sekarang.

Langsung siaran?
Saya enggak langsung siaran, tapi digembleng dulu di belakang layar melihat bagaimana proses produksi sebuah tayangan berjalan. Saya belajar mulai dari pencarian berita sampai diudarakan, penulisan, peliputan, supervisi editing, membantu produser di ruang kontrol, pada saat eksekusi program saya harus tahu. Jadi, tidak dibiarkan hanya duduk manis, tanpa tahu bagaimana jerih payah teman-teman lain yang bekerja. Karena kalau enggak belajar kita cenderung jadi egois, banyak menuntut, tidak menghargai pekerjaan orang lain, kita direndahkan secara hati bahwa proses ini tidak gampang. Jadi, kalau lagi siaran tiba-tiba ada naskah yang salah, saya lebih bisa memaklumi karena tahu apa yang terjadi di atas, kekurangan dan kelebihan kita apa.

Kapan Anda mulai siaran?
Setelah 6 bulan di belakang layar, saya baru siaran. Program pertama yang dipegang Metro Malam dan Headline News dini hari. Karena minatnya besar ditambah sering melek malam, suka begadang, jadi kebawa saat siaran, ya sudah klop. Meski kadang jam 4 pagi suka ngantuk, ya ditahan saja.

Banyak belajar dengan siapa di Metro TV?
Saya banyak belajar dengan Manajer Presenter, Fifi Aleyda Yahya, senior saya. Dia banyak memberikan masukan. Lalu, dengan Pius Pope, veteran dalam hal olah vokal, gerak tubuh, intonasi suara, dialah gurunya siaran. Sebelum di Metro saya pernah ketemu di TVRI.

Liputan yang mengesankan?
Ketika banjir hebat melanda Jakarta, Metro TV termasuk yang terkena banjir. Saya harus tetap meliput, kebetulan rumah orangtua masih dekat kantor, meski tidak terkena banjir, tapi akses ke luar rumah, air sudah mencapai sepinggang, saya harus jalan kaki. Mungkin karena sudah panggilan jiwa, ya, saya tetap semangat meliput. Dari rumah saya sudah siap bawa baju ganti. Studio yang terletak di lantai satu terpaksa dipindahkan sementara ke lantai dua. Selama sebulan memakai studio buatan dan tidur di kantor. Malas mau pulang apalagi lihat airnya berwarna cokelat.

Lalu, yang menyedihkan?
Dari Mbak Fifi saya dapat masukan, katanya pemirsa pernah mengritik cara bicara saya di depan teve, seperti berkumur-kumur hingga tidak jelas bicaranya. Bagi saya kritikan dan pujian diterima dengan lapang dada dan seimbang. Prinsip saya, tidak mungkin saya bisa menyenangkan semua orang, semaksimal apapun berusaha, pasti ada saja orang yang enggak suka dengan saya.
Nah, kebetulan saya suka malas senam muka. Pope selalu mengajarkan melakukan senam rahang, tenggorokan, dan muka harus dilenturkan supaya lemas. Intinya, mulut harus terbuka agar artikulasinya jelas. Ditambah lagi, waktu itu saya baru pasang kawat gigi, jadi kalau bicara agak berat karena ada objek asing di dalam mulut, butuh waktu membiasakan. Jadi, agak kagok bicaranya.

Ternyata pemirsa jeli ya?
Wah, memang betul. Pernah saya dikiritik karena pakai celana yang “salah”. Saya pakai celana darurat yang di bawahnya masih ada lipatan. Langsung, lho, dikomentari. Tapi saya terima dengan positif, artinya saya masih diperhatikan orang, kan.

Wajah Anda makin banyak dikenal, bagaimana rasanya?
Kadang-kadang saja, kok, ada yang mengenal saya kalau ketemu di jalan. Mereka lebih hafal wajah daripada nama.

Dimana Anda bertemu istri?
Waktu itu istri saya, Melissa Karim, penyiar di Hard Rock FM, sementara saya di Radio One sekarang jadi JakFM. Tina Zakaria menyampaikan salam dari Melissa. Kami pun berkenalan saat dia jadi MC di sebuah acara. Ternyata begitu ketemu langsung klop, nyambung kalau ngobrol. Meski ada perbedaan bukan menjadi sesuatu kendala. Saya memang pendiam, sementara istri cerewet, makanya dia suka jadi jubir keluarga. Ha ha ha.

Bagaimana membagi waktu dengan istri?
Sebenarnya saya lebih sibuk karena kerjanya full time, sementara istri tergantung job. Apalagi sekarang, kan, The Master sudah selesai, kalau enggak ada kerjaan ya kami bisa bertemu (Melissa menjadi salah satu komentator di acara The Master). Sebenarnya, saya lebih senang di rumah, paling keluar ke mal atau nonton. Setelah setahun menikah, rencananya kami baru serius mikirin anak. Setahun ini benar-benar untuk berdua, saya enggak mau menunda bulan madu. Takutnya, malah enggak kesampaian.

Banyak yang memuji ketampanan Anda. Bagaimana Anda menjaganya?
Menjaga kesehatan badan dengan fitness, treadmill, basket dengan teman-teman SMA, jaga pola makan, enggak boleh kelebihan berat badan karena akan terlihat di layar teve. Untuk menjaga kesehatan kulit, istri saya suka memberi facial gratis di rumah tiap weekend. Biar kulit wajah tetap terawat. Saya bersyukur kalau ada yang bilang saya ganteng, meski sebenarnya itu subjektif ya. Mungkin ada yang menganggap saya biasa saja. Jangan sampai saya di awang-awang, karena saya tahu ini adalah sedikit dari potongan kue yang utuh.

Apa keinginan Anda yang belum tercapai?
Ingin cari pengalaman kerja di teve luar seperti Singapura atau Hongkong, yang dekat-dekat saja. Karena saya ingin menambah pengalaman, dan sebagai faktor pembanding apa, sih, kelebihan dan kekurangan mereka.

Dukungan orangtua?
Papa selalu mengajarkan, takut pada Tuhan, artinya percayailah dan yakinlah akan Tuhan. Secara konsisten Papa juga selalu memberitahu saya, sampai-sampai kuping saya merah. Pentingnya manusia itu punya visi, kerja keras, jangan jadi orang yang biasa-biasa saja. Jadilah orang biasa yang bekerja keras hingga menjadi luar biasa.

Masih minat ke film?
Film ditinggalkan dulu sementara, meski masih suka nonton film Barat dan Indonesia, karena film adalah komunikasi media yang unik. Bayangkan, dalam satu setengah jam bisa menyampaikan sesuatu hingga penonton paham. Apakah nanti saya jadi pelaku masih tanda tanya, tapi minatnya masih ke sana, kok.***Sumber: Nova

Noverita K. Waldan

Iklan

Todung Mulya Lubis


Payung Yang Mulia Untuk Yang Tersingkir

Todung Mulya Lubis

Tampan dan kaya, tetapi Todung Mulya Lubis bukannya bermain mata dengan artis-artis cantik. Malah membela (Si) Marsinah, buruh wanita yang di mata rezim militeristis Suharto harus mati dan didiamkan. Dia besar karena perjuangannya membela hak-hak asasi manusia dari mereka yang tertindas. Sikap hidup seperti itu membuat Todung menjadi sebuah paradoks. Semestinya dia hidup gemerlap sebagaima kehidupan yang selalu diasosiakan film-film murah atau sinetron. Todung jauh dari gambaran hidup seperti itu. Dia tidak terbawa arus yang melambung dalam kemewahan. Tidak main golf yang sekali main green fee-nya bisa Rp 250.000. Dia bina tubuhnya dengan sepeda stasioner, jalan kaki, dan vitamin C dosis tinggi. Makan sekedar memenuhi kebutuhan untuk bertahan hidup. Dia doyan makanan kampung, berlauk tempe dan tahu. Steak yang disuguhkan restoran-restoran mahal bukan seleranya. Dan dia tak tertarik mampir ke situ.

Sosoknya sebagai pengacara akan selalu dikenang, terutama ketika dia mengalahkan mantan Presiden Suharto dalam perkara tokoh rezim Orde Baru itu versus majalah TIME. Dia mencatat kemenangan dalam perkara itu sebagai puncak pencapain kariernya. Walau dia sempat menghadapi teror, diikuti, dan kantornya digarong untuk mendapatkan dokumen yang berkaitan dengan perkara yang dia tangani. ”Itu kemenangan yang monumental. Karena Suharto tak pernah terkalahkan selama ini,” katanya berbagi kemenangan dengan Dolorosa Sinaga, Martin Aleida, Hotman J. Lumban Gaol dari TAPIAN, yang mengunjunginya Jumat, 1 Muharram, 18 Desember 2009 lalu, di rumahnya yang besar dan nyaman di Cinere, Jakarta Selatan.

Kemewahan jam tangan berlapis emas yang melingkar di pergelangannya, juga dua handphone blackberry yang digenggamnya lenyap daya tariknya dibandingkan dengan kaos katun berwarna hitam dengan tulisan yang menantang persis di jantungnya: ”Saya Cicak Berani Lawan Buaya.”

Dalam pergulatannya untuk memenangkan kasus TIME melawan Suharto, berbagai macam teror yang dia terima dalam bentuk telepon, surat, SMS sampai ancaman fisik. ”Saya hanya pasrah kepada yang di Atas. Kalau tidak merasa melakukan kesalahan tidak perlu takut,” katanya. Dia bilang, semua orang yang punya keterikatan seperti dia akan mengalami ancaman serupa. Selama tiga tahun dia tak boleh bepergian ke luar negeri, paspornya dirampas. Dilarang memberikan ceramah maupun mengajar. ”Kantor saya dihancurkan, termasuk file-file saya,” katanya. Suharto marah karena dia terlalu keras, membela tahanan politik, termasuk membela Jenderal H.R. Dharsono, mantan panglima Siliwangi yang membangkang terhadap kekuasaan.

Sebenarnya, cita-cita Todung adalah diplomat. Dia terbuai oleh angan-angannya itu. Sedari duduk di bangku sekolah dasar dia tenggelam membaca biografi orang-orang besar, seperti biografi presiden pertama Amerika Serikat, George Washington, juga Thomas Jefferson, dan Benjamin Franklin. Tetapi, apa mau dikata, bukan dia yang berkuasa atas nasibnya sendiri. Dan, kalaupun cita-citanya untuk menjadi seorang diplomat memang kesampaian, barangkali, jejak yang ditinggalkannya dalam sejarah mungkin tak sebesar seperti sekarang.

Dia hanya akan dikenang sebagai seorang diplomat yang tak berdaya dari sebuah negara yang terus-menerus didera malu di dunia internasional, terutama di bidang hak-hak asasi manusia.
Amerika Serikat dan Aceh menjadi penentu jalan hidupnya. Selain karier, dia punya hubungan khusus dan kebetulan dengan negara adikuasi itu. Sama-sama merayakan ulangtahun 4 Juli (dia lahir di Muara Botung, Tapanuli Selatan, 60 tahun yang lalu.) Todung belajar ilmu hukum di Harvard University dan memperoleh gelar Ph.D in law dengan promotor Profesor Daniel S. Lev, seorang yang sangat berwibawa di bidang politik hukum Indonesia. Sarjana yang berkebangsaan Amerika Serikat itu, adalah guru dan sahabat baginya, dalam suka maupun duka.

Sementara orang Aceh yang ikut menempa dirinya adalah Yap Thiam Hien, pendekar hukum yang tak gepeng oleh linggis kediktatoran Suharto. Pengacara inilah yang dengan keyakinan hukum dan hati nuraninya, yang melebihi advokat lain ketika itu, membela mereka yang dituduh aparat hukum Orde Suharto terlibat dalam Gerakan Tigapuluh September 1965, terutama Dr. Subandrio, wakil perdana menteri dalam pemerintahan Sukarno.

Kemilau keteladanan Yap, mengilhami Todung untuk mendirikan Yap Thiam Hien Award, sebagai penghargaan tertinggi bagi mereka yang berprestasi besar dalam mempertahankan hak-hak asasi manusia. Sebagai sebuah kata, Todung berarti payung. Mulya adalah mulia. Ketetapan hatinya ibarat payung yang tetap berkembang walau diterpa angin atau hujan. Banyak yang menentangnya ketika mengadopsi nama yang terdiri dari tiga kata itu, tersebab Yap adalah Tionghoa (atau Cina, kata orang yang ingin merendahkan derajat golongan minoritas itu). Lagipula, Yap ’kan seorang Kristen!?

Ada dua orang lagi yang takkan dia lupakan. Ayahnya, Sati Lubis, orang yang pertama-tama mendidik anak kedua dari tujuh bersaudara ini mengenai demokrasi dengan membiarkannya besar mengikuti pilihan hatinya sendiri. Sati adalah salah seorang pendiri Antar Lintas Sumatera (ALS), perusahaan angkutan yang menghubungkan kota-kota di Sumatera dengan Jawa. Todung terpesona pada Mahatma Gandhi, sosok yang jujur, sederhana, dan anti-kekerasan.

Jalan hidup Todung menunjukkan bahwa tajamnya kepekaan perasaan menentukan jalan hidup. Katanya, dia mulai memasuki kehidupan melalui seni. Dulu, semasa masih di sekolah menengah atas, dan tak lama sesudahnya, dia sering menulis puisi, cerita pendek, dan main teater. ”Di sinilah kepekaan saya sebagai manusia diasah,” ucapnya dalam sebuah wawancara. Bersama penyair wanita Rayani Sriwidodo dia menerbitkan antologi puisi ”Pada Sebuah Lorong,” tahun 1968. Dia seangkatan dengan Sutardji Calzoum Bachri dan Abdul Hadi W.M.

“Mereka tekun, ulet, dan terus berkarya. Sementara saya tidak. Saya masuk fakultas hukum. Saya tidak bisa total. Menjadi seniman juga membutuhkan komitmen yang solid,” katanya.

Ketika masih duduk di bangku universitas, dia sudah menjadi seorang aktivis. Protes terhadap pembangunan Taman Mini Indonesia merupakan debut awalnya sebagai seorang pembangkang kekuasaan. Dia termasuk yang beranggapan peningkatan taraf hidup guru dan pelayanan publik yang baik lebih mendesak daripada sebuah taman yang cuma sekedar tiruan dari apa yang telah dikerjakan di Muangthai.

Menjelang kuliah hukumnya selesai di Universitas Insdonesia (lulus tahun 1974), Todung magang di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, dengan jabatan terakhir sebagai Direktur Bidang Nonlitigasi. Memandang jauh ke depan, dia beranggapan masalah hak-hak asasi manusia akan menjadi masalah mendesak. ”Ketika di Amerika, saya lihat laporan tentang negara kita (di bidang hak-hak asasi manusia) dibuat orang asing,” katanya mengenang. Todung kemudian terdorong untuk mendirikan divisi hak-hak asasi manusia di LBH. Tahun 1979, untuk pertama kali, LBH menerbitkan laporan tentang keadaan hak-hask asasi manusia di Indonesia, yang menjadi asal-mula laporan serupa yang diterbitkan secara rutin sampai sekarang.

Todong merasa berhutang budi pada LBH, yang disebutnya sebagai almamaternya yang kedua. Lembaga bantuan hukum itulah katanya yang membuka mata dan hatinya untuk bergumul secara lebih intens dengan soal-soal hukum, soal-soal keadilan. ”Dan saya kira pada akhirnya itu yang membawa saya sampai pada posisi seperti sekarang,” katanya. Di sini dia juga menyaksikan bagaimana Fauzi, temannya sesama mahasiswa yang dia masuk ke LBH, menjadi seorang yang kemudian menggugah kesadarannya tentang betapa agungnya perjuangan yang seseorang tak mengenal pamrih. Fauzi bergerak untuk menyadarkan buruh tentang ha-hak mereka dengan mengunjungi mereka dari rumah-ke-rumah. Jauh dari gemerlap publikasi. Fauzi meninggal karena sakit. Ketika membacakan elegi untuk Fauzi, sebagai salah seorang penerima Yap Thiam Hien Award, Todung kelihatan menangis di atas panggung Hotel Borobudur, di mana acara itu berlangsung pertengahan Desember lalu.

Jalan yang dia tempuh memang tidak mudah, tetapi nasib baik menyertai Todung. Gerakan mahasiswa yang menuntut perubahan terhadap jalan yang ditempuh pemerintah, yang menyebabkan ketimpangan sosial yang parah, mencapai puncaknya 15 Januari 1974. Simbol-simbol Jepang, yang dituduh mengeduk keuntungan dari keadaan perekonomian Indonesia waktu itu, menjadi sasaran. Gedung Astra di Jalan Sudirman, Jakarta, dibakar. Juga Pasar Senen. ”Orde Baru mengalami krisis yang hampir-hampir tidak mampu diatasinya. Terjadi vakum kekuasaan beberapa jam yang seharusnya sangat memungkinkan kudeta,” tulis sosiolog Daniel Dhakidae dalam pengantar ”Dari Kediktatoran sampai Miss Saigon,” sebuah kumpulan wawancara berbagai media dengan TODUNG MULYA LUBIS.

Puluhan aktivis ditangkap dan dihukum waktu itu. Todung seharusnya merasakan risiko dari kesejajaran pikiran dan kegiatannya dengan tokoh-tokoh yang terlibat dalam gerakan tersebut, tapi keajaiban menyelamatkannya. Sepanjang Desember 1973 sampai 14 Januari 1974, dia mengikuti ”Asia Pacific Student Leaders Program,” untuk mengenal Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh Departremen Luar Negeri negara itu. Dia berada kembali di Indonesia pada saat gerakan mahasiswa di Jakarta, Bandung, Yogyakarta sudah sampai di puncaknya. ”Dengan demikian namanya mungkin tidak terlalu sering masuk ke dalam catatan para agen intelijen Orde Baru,” kata Daniel dalam pengantarnya.

Selama 18 tahun lamanya dia mengabdi untuk penegakan hukum melalui LBH. Lembaga ini jugalah yang membuka pintu jodohnya. Ketika bertugas selama enam bulan di Surabaya, untuk manangani kasus penggusuran, dia bertemu dengan Dokter Gigi Damiyati Soendoro. Setelah berpacaran selama lima bulan, mereka melangsungkan pernikahan 5 Juni 1983. Lengkaplah sudah yang diberikan LBH kepadanya. Jalan baru terbuka di depannya. Todung harus mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Lantas dia mendirikan kantor pengacara Lubis Santosa & Maulana.

Dia tidak mengatakan ada batas waktu untuk pengabdian. Ada masa untuk terbang tinggi-tinggi, entah ke mana. Dia telah menemukan kesempatan yang baik untuk mengatakan: ”Saya ini sudah kerja selama 18 tahun di LBH. Saya pikir itu sudah cukup lama. Saya kira saya sudah membayar sumbangan sosial saya kepada masyarakat, kepada bangsa.” Sudah saatnya dia memberikan arti yang lebih besar bagi landasan yang turut dia bangun. Dunia aktivis tidak seluruhnya dia lupakan. Sementara hoki-nya sebagai seorang profesional juga membawa keberuntungan. Dia tak suka pada pertanyaan yang menyangkut penghasilannya. Tapi, diperkirakan Todung menerima legal fee antara $375 sampai $550 per jam.

Tapi tak semua kasus membuat koceknya tambah menggelembung. Menjadi mesin uang bukan pilihannya. Ada sesuatu dalam hidup ini yang ingin dia capai. Integritas. Yang dia rambah sejak dia mengenal tulis-menulis, dan malahan menjadi wartawan ”Indonesia Raya” dan ”Sinar Harapan.” Tidak semuanya harus dihitung dengan uang. Katakanlah kasus yang menyangkut pers dan perkara politik. Dan dia bukanlah pengacara yang turut dalam koor besar para advokat ”hitam” yang disindir publik dengan plesetan, ”Maju Tak Gentar Membela Yang Bayar!”

Ketika memenangkan Jeffrey Winters melawan Menko Ginanjar Kartasasmita, guru besar ekonomi asal Amerika Serikat itu bertanya, ”Berapa utang saya pada Anda?” Jawab Todung: ”Tarif saya dalam dolar, sekian per jam.”
”Kok tinggi sekali?”
”Saya memang mahal.”
”Ya, sudah, kalau begitu, saya tidak bayar.”
”Nggak apa-apa!”
Sebagai imbalan jasanya, Jeffrey membelikan satu stel jas. Tetapi, apa mau dikata, begitu dicoba, jas itu kedodoran!
Pengabdian yang panjang, popularitas yang mengawang, kemapaman finansial yang sudah tercapai, apakah itu puncak yang menjadi obsesi Anda? Todung tidak kaget dengan pertanyaan yang diajukan tim TAPIAN. Dia sudah siap dengan jawaban tentang rencanya untuk meletakkan dasar yang lebih kuat lagi pada landasan yang sudah dia bangun selama dia menjadi aktivis.

”Usia saya sudah 60. Sudah waktunya fading out. Saya ini sudah tidak seratus persen pengacara. Jadi, saya keliling, berkhotbah untuk penegakan hukum, untuk transparansi. Masalah yang dihadapi kantor saya, ada sekitar 30 lawyer yang menangani.”
Baginya, penegakan hukum kita sekarang carut-marut. Pasal pencemaran nama baik, sekarang tidak boleh lagi dipertahankan, harus dicabut, paling tidak teman-teman media mengatakan itu. Kesadaran baru ini menguatkan gerakan untuk tumbuhnya good governance, tata-kelola pemerintahan yang baik, dan tata kelola perusahan swasta yang baik.

Pada kasus Prita ada unsur kolusi di sana. Kemarin baru terungkap bahwa selama ini jaksa-jaksa yang menangani perkara itu mendapat check up gratis dari Rumah Sakit Omni International.
Apa itu korupsi? Mencuri itu ’kan dalam bahasa yang lain adalah korupsi. Korupsi itu ada dua kategori. Korupsi karena kebutuhan, atau corruption by needs. Orang korupsi karena tidak punya pendapatan yang memandai. Pegawai negeri yang hanya menerima gaji Rp 600.000 atau satu juta rupiah, tetapi punya anak empat. Bagaimana pun dia tidak bisa hidup satu bulan dari uang tersebut. Dia pasti melakukan korupsi kecil-kecilan, karena korupsi besar dia tidak mungkin lakukan. Dia tidak dalam posisi mengeluarkan izin yang memerlukan sebuah tanda tangan yang bisa dijadikan uang.

Orang-orang kecil mungkin tidak tahu apa yang dia lakukan. Jadi mungkin juga dia beranggapan masa’ hanya mencuri semangka bisa dipenjara. Nah, hal semacam ini bisa terjadi. Jaksa dan hakim harus punya rasa keadilan dalam menghadapi kasus-kasus seperti ini.
Korupsi kategori kedua adalah korupsi gede-gedean, corruption by greed atau korupsi karena rakus. Ini dilakukan oleh pejabat-pejabat yang mengeluarkan izin usaha. Nah, ini adalah korupsi karena memiliki kekuasaan. Korupsi yang terjadi karena kuasa yang diberikan tanpa kontrol.

Korupsi juga bisa dilakukan oleh mereka yang punya knowledge, punya pengetahuan. Misalnya, dengan mengotak-atik teknologi, dengan memindahkan uang dari rekening yang satu ke rekening yang lain. Dengan kemampuan menggoreng saham, mereka bisa menghasilkan uang yang banyak. Dan dengan kemampuan membuat proposal yang baik ke satu instansi pemerintah daerah, seseorang bisa mendapat satu proyek. Nah, ini semua adalah korupsi gede-gedean.

Kalau dilihat dari perspektif hukum, hukum di Indonesia ini kan tidak satu. Apakah penduduk di kampung, orang yang buta huruf, bisa mengerti hukum? Yang mereka tahu hanya hukum adat mereka yang tidak tertulis itu, yang merupakan warisan nenek-moyang mereka. Dengan sikap seperti itu, mereka tidak menganggap hal itu mencuri. Nah, ketika menghadapi kenyataan seperti ini, hakim kan mestinya arif dan bijaksana. Orang yang hanya mencuri kakao masa’ harus dihukum. Orang yang mencuri semangka itu tidak layak dihukum karena masalah ini ada acuannya dalam hukum adat setempat.

Pendidikan kita kan belum bisa memberikan pencerahan dan kesadaran bahwa ada hak dan kewajiban kita di dalam hukum. Itu dalam perspektif yang sangat sederhana. Soal Prita, dia tidak lagi orang yang miskin sama sekali, dan dia pasti tahu hukum. Dia orang yang terdidik yang memamfaatkan teknologi dalam memperjuangkan haknya, tetapi kemudian dijebloskan ke dalam penjara.

Fenomena terjadi adalah ketika simpati publik mendukung dia. Kasus hukum Bibiet dan Chandra dalah puncak dari gunung es permasalahan hukum kita, carut-marut hukum kita. Selama ini KPK memberantas korupsi dengan berani. Tetapi, karena adanya kepentingan, maka muncul kriminalisasi terhadap KPK.

Ketika saya masuk dalam Tim-8, kita panggil semua yang berkaitan. Ternyata tuduhan terhadap Bibiet dan Chandra tidak menemukan bukti bahwa mereka menyalahgunakan wewenang dan menerima suap. Maka, tidak ada pilihan lain kecuali harus membebaskan mereka berdua. Tetapi, puncak penghinaan terhadap nalar kita adalah ketika seorang Anggodo bisa mengatur kejaksaan dan kepolisian. Dan, nyatanya, sampai saat ini Anggodo belum juga ditangkap. Padahal, tidak harus ada laporan dari siapa pun, polisi sudah bisa menangkapnya dengan fakta-fakta yang ada. Tetapi, alasan polisi untuk tidak menangkapnya karena tidak ada yang melapor.

Sambil menunjukkan foto Anggodo dalam pakaian resmi sebagai sindiran facebookers, Todung menganggap pengakuan Anggodo dalam rekaman yang diperdengarkan Mahkamah Konstitusi merupakan penghinaan terhadap korps kepolisian. Perkembangan yang menarik dari gerakan ”Parlemen dunia maya” ini adalah tiada ideologi. Ada dari Islam garis keras, Muhammadiyah, NU, Kristen dan siapa saja. ”Parlemen dunia maya” ini sangat kuat, bisa menghimpun jutaan facebookers. Walaupun di lapangan barangkali mereka hanya bisa menghimpun seribu orang, karena masalah penghimpunan massa di lapangan sudah lain soalnya.

Carut-marut penegakan hukum ini menjadi dosa kolektif kita, tidak boleh mempersalahakan satu pihak. Wartawan pun juga ada yang menyalahgunakan profesinya. Kita tahu beberapa wartawan yang menjadi calo hukum. Di daerah, halaman surat kabar bisa dibeli. Jadi, ada juga dosa wartawan.

Angin dan badai ketidakadilan tidak akan ada ujungnya. Karena itu payung-payung yang mulia di bidang hukum tumbuhlah lebih banyak lagi. Dan, Todung Mulya Lubis janganlah tinggalkan medanmu …***

Alfito Deannova Gintings


Alfito Deannova (1): Sejak SD Tertarik Intrik Politik

Alfito Deannova Gintings

Belakangan wajahnya kerap muncul di tvOne membawakan acara talkshow Debat. Siapa sangka, di masa kecilnya, pria yang akrab dipanggil Fito ini, pendiam dan tertutup. Ikuti kisah Fito mulai nomor ini.

Sekilas, jika orang mendengar namaku banyak yang bertanya darimana asalku. Papaku, Muhammad Nurdjaya Gintings berasal dari Medan, dan Mama, Purwandhani dari Madiun. Aku lahir di Jakarta, 17 September 1976. Papa memberi nama Alfito, karena Papa keranjingan aktor Al Pacino. Lalu, di tahun 1976, kebetulan sedang ramai film mafia, dan salah satu tokohnya bernama Vito Corleone. Berhubung aku lahir mendekati Idul Fitri namaku menjadi Alfito (hidup). Papa juga menggemari James Dean, aktor film. Ditambahkanlah nama Dean (cerdas, pintar) dan Nova (bintang). Jadi, harapannya aku menjadi bintang yang cerdas dan pintar.

Aku anak kedua dari 4 bersaudara. Kakakku, Almaycano Gintings, adikku Al Reyno De Carba Gintings, dan Nuzlya Ramadhani Gintings, satu-satunya perempuan. Saat melihat foto kecilku, sampai usia tertentu aku terlihat masih ceria. Namun aku mengalami perubahan saat kelas 5, aku sendiri enggak tahu kenapa. Saat aku kelas 3 SD, Papa keluar dari pekerjaannya di sebuah perusahaan karena perbedaan paham. Sejak itulah kondisi kehidupan kami jadi enggak bagus. Papa tetap bekerja meski serabutan.

Mungkin karena itulah aku jadi serius menanggapi hidup, karakterku berubah menjadi orang yang enggak terlalu suka bicara dengan orang lain kalau enggak perlu. Karakterku menjadi lebih banyak berpikir, ngobrol sendiri, baca buku, dan menulis. Ada kecenderungan aku enggak pede, minder, lebih tertutup. Aku tidak pernah main dengan komunitas tertentu atau punya geng seperti layaknya anak-anak sekolah.

Kendala lain, kami suka berpindah-pindah rumah, yang membuatku lelah beradaptasi. Mulai dari Jalan Pemuda, Cipinang, Pancoran, lalu pindah ke Medan sampai 4 kali di rumah berbeda. Depok pindah dua kali, Parung, balik lagi ke Medan, dan Kranggan. Waduh, bisa 15 kali pindah rumah.

Sejak kelas 4 SD, aku senang politik. Ketika anak-anak kecil lain lebih menyukai membaca komik Tintin, aku malah minta dibelikan ayah buku G 30S/PKI. Kalau mendengar cerita dari kakek yang seorang mantan Cakrabirawa, aku selalu tertarik. Makanya aku bercita-cita ingin menjadi tentara, karena melihat kegagahan kakek. Tapi karena pakai kacamata sejak kelas 2 SMP impian itu terpaksa aku kubur. Tapi, sampai sekarang pun masih ada keinginan jadi tentara.

Penurut & Tertib

Papa banyak memberikan inspirasi bagiku. Yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan orang sudah dia pikirkan lebih dulu. Papa juga punya kemampuan memotivasi yang bagus. Misalnya, ketika aku lelah bekerja. Kerjaku bagus tapi enggak ada yang memperhatikan atau peduli. Padahal jika dibandingkan dengan orang lain, kerjaku lebih banyak. Lalu Papa tanya, “Kamu kerja buat orang atau diri sendiri. Hakikatnya, kerja itu buat sendiri, lalu yang dicari apa, harta? Bukan, tapi kepuasan. Ada sesuatu yang tidak bisa dibayar dengan apapun. Kerja keras kalau hasilnya bagus yang menikmati diri sendiri. Puas dalam arti bisa melakukan sesuatu yang orang lain belum tentu bisa. Jadi, ikhlaskan saja jika tidak ada orang yang menilai. Atau orang tidak peduli dengan prestasi kamu. Biarkan saja masih ada Tuhan yang memberikan.” Mendengar itu, hatiku tenang. Aku kembali semangat kerja dan bisa melewati semuanya.

Sementara sosok Mama penuh kasih sayang. Aku memang lebih dekat ke Mama karena seharian beliau mengurus kami. Mama mengajarkan bagaimana menghargai orang, siapapun aku sekarang. “Orang bisa seperti kamu mungkin karena dia mendapatkan jalan yang lebih baik. Selalu menghormati orangtua dan jangan bohong,” bagitu nasihat Mama.

Bisa dibilang aku adalah gambaran anak yang tidak nakal, mungkin paling penurut. Pulang sekolah langsung ke rumah. Di antara bersaudara, aku paling pendiam. Adikku malah paling gampang berkenalan dengan orang. Hidupku cenderung tertib. Dalam benakku selalu tergambar semua harus tertata dengan baik. Misalnya, waktu kerja dapat uang sendiri, sudah terpikir bagaimana membaginya. Pokoknya enggak boleh dipakai buat hal-hal lain. Mau beli sesuatu harus dipikirkan dapatnya darimana. Begitu juga menjalani hidup harus pakai target dan tertib. Ada rencana tahun depan mau jadi apa, lima tahun ke depan melakukan apa.

Diplomat & Manajer

Jika bicara soal pelajaran, saat SMP aku selalu masuk ranking antara 1-3, begitu juga awal SMA masih bagus. Tapi saat kelas 2 dan 3 aku kehilangan motivasi karena tidak menyukai jurusan yang aku pilih sendiri. Di sekolahku, SMA 1 Bogor, ada 1 kelas Sosial, 5 kelas Fisika, dan 2 kelas Biologi. Kupikir, kalau mau jadi warganegara kelas satu, harus masuk Fisika. Selama menjalaninya aku tidak pernah merasa suka, meskipun tidak ada yang memaksaku.

Karena enggak suka dengan mata pelajaran itu, aku melarikan diri ikut organisasi sekolah seperti pramuka, paskibraka, majelis pertimbangan siswa. Aku enggak begitu suka masuk OSIS karena terlalu banyak nuansa hedonisme.

Saat Ebtanas aku mulai termotivasi lagi karena targetku masuk UMPTN. Aku sengaja kos di Bogor karena mau konsentrasi belajar. Pasalnya, jika aku enggak suka pelajarannya lalu enggak lulus, aku enggak bisa jadi apa-apa. Akhirnya selama 3 bulan aku belajar Fisika, Matematika ternyata bisa enjoy. Satu-satunya pelajaran yang aku enggak bisa adalah Kimia. Heran juga, ya, kenapa, sih, harus ada pelajaran itu, apa perlunya menghitung rantai karbon. Nilai paling bagus PMP dapat 9.

Anehnya, saat UMPTN aku malah enggak ambil jurusan Fisika. Justru mendaftar ke IPS dengan modal menguasai bahasa Inggris dan Matematika. Aku memilih Fakultas Ekonomi UI karena ingin jadi manajer. Pilihan kedua, Hubungan Internasional karena ingin jadi diplomat.

Ketika akhirnya diterima di Ekonomi, aku ingin memilih jurusan manajemen. Tapi teman-teman bilang, buat apa ambil manajemen, karena pelajaran itu bisa diperoleh dengan membaca dan belajar sendiri. Aku disarankan mengambil akuntansi. Ternyata begitu masuk harus belajar angka, kok, enggak asyik, ya. Enggak ada sesuatu yang membuatku tertarik. Kerjanya menghitung terus. Aku tidak bisa mendengar cerita, intrik, atau strategi seperti dalam politik.

Jadi Penyiar

Selama kuliah banyak kendala finansial yang kurasakan. Sekali waktu ketika harus membayar uang kuliah, Papa hanya punya uang Rp 200 ribu. Kekurangannya Rp 300 ribu harus kucari sendiri. Aku enggak kerja, kakakku masih sekolah di Medan, mau pinjam ke saudara enggak enak. Lalu, aku memutar akal mencari bantuan pinjaman uang ke Pudek di kampus UI. Tentu saja aku dimarahi karena itu hari terakhir pembayaran, kalau tidak bayar aku enggak bisa ikut ujian. Akhirnya aku dapat pinjaman, tapi aku jadi berpikir enggak bisa terus-terusan begini.

Sampai ketika di tengah belajar sambil mendengarkan radio, kebetulan radio SK lagi buka lowongan. Mungkin kalau kerja di radio biasa enggak masalah ya, tapi ini, kan, radio SK, orang enggak akan percaya aku bisa kerja di sana. Radio SK yang harus ngelucu, banyol, sementara aku dikenal introvert, pendiam, kaku, susah bergaul, penyendiri. Karena ada motivasi kuat untuk bertahan hidup, jadi mau enggak mau harus melamar ke sana.

Aku masih ingat ketika pertama kali melamar kerja, aku berangkat jam 06.00 pagi naik kereta api yang penuh sesak. Dari Depok sampai Manggarai berdiri sambil menginjak nangka orang. Ha ha ha. Sampai di sana banyak sekali yang mendaftar, aku enggak yakin bisa diterima. Karena kalau mendengarkan suara sendiri di rekaman, suaraku aneh, janggal, kayak anak kecil tapi dewasa, enggak berwibawa seperti Sambas, penyiar TVRI.

Di luar dugaan, aku diterima Agustus 1996 dan siaran pertama September. Aku membawakan program SK Top Airplay, dimana aku harus nge-DJ. Jadi, tidak diarahkan jadi pelawak tapi DJ. Untungnya aku suka musik dan lumayan menguasai. Bisa ditebak, kan, aku yang enggak main keluar dan betah di rumah, satu-satunya hiburan, ya, radio. Makanya aku paham lagu-lagu hits.

Mulailah aku membagi gajiku yang Rp 280 ribu untuk berbagai kebutuhan. Nah, setiap siaran aku dibayar Rp 5.500 per jam, bagiku itu sebuah kesempatan, jika ada jam kosong aku yang menggantikan. Aku bagi untuk ongkos, makan, kos, tabungan buat nyicil uang kuliah, malah masih bisa nabung tiap bulan Rp 100 ribu. Kalau masih ada sisa aku kasih ke Mama. Dengan uang sejumlah itu, aku enggak bisa dugem atau gaul. Untungnya aku juga enggak suka hal-hal seperti itu. Paling nonton film, dengar musik, baca buku, sudah cukup bagiku. Kalau sudah ada tiga hal itu, bisa seharian di kamar kos.

Jeleknya, perlahan-lahan kuliah mulai kuabaikan. Apalagi aku, kan, enggak suka mata kuliahnya. Meski kampusku di Depok, aku malah kos di Kebon Jeruk, kantor Radio SK, karena harus mendekatkan ke sumber uang. Kalau ambil siaran pagi jam 06.00-09.00, berarti aku enggak ikut mata kuliah pertama. Alhasil IP ku jeblok.

Kelak aku memutuskan mengambil S2, paling enggak ingin menunjukkan ke diriku bahwa aku enggak bodoh, cuma enggak suka pelajarannya saja. Buktinya waktu S2, IP ku 3,695.

Setelah 7 tahun bekerja di SCTV, Fito memutuskan pindah ke tvOne. Karena pekerjaan pula, Fito bertemu sang istri yang kebetulan berprofesi sama. Konsep keluarga yang memberikan pendidikan terbaik ingin diberikan ke anak-anaknya.

Setelah Radio SK resmi ditutup tahun 1996, aku pun ikut berhenti. Akhirnya aku lulus kuliah dan diterima bekerja di salah satu kantor akuntan besar. Betul saja, begitu aku jalani, kayaknya ini bukan duniaku. Memang, sih, apa yang dipelajari di kampus diaplikasikan, tapi, kok, yang aku lihat sekelilingnya tembok. Masing-masing konsentrasi bekerja, menghitung kertas kerja yang didorong pakai troli.

Berangkat pagi pulang malam, lalu aku dapat apa ya? Okelah dapat gaji tapi apakah membuatku bahagia. Akhirnya aku memutuskan enggak meneruskan kerja, cukup dua hari saja. Bahkan aku tidak lapor dan izin, aku tinggalkan begitu saja. Aku sadar keputusan tadi membuatku susah mencari kerja di kantor akuntan lain karena tidak ada komitmen. Ya sudahlah, aku juga tidak tertarik meneruskan bidang ini.

Karena ada latar belakang pernah kerja di radio, aku melamar ke teve. Metro TV dan SCTV yang memanggil. Berhubung SCTV yang duluan menawarkan, aku bekerja di sana. Karena kecintaanku pada keluarga sangat besar, terutama adik-adikku, aku merasa terpanggil membantu mereka. Terkadang hal itu jadi membebani hidupku. Aku jadi terlalu banyak mikir.

Apalagi ketika adikku diterima di Universitas Negeri Jakarta, berarti aku harus kerja dimana saja. Aku enggak mau nasibnya sepertiku lagi. Gaji itu aku bagi-bagi untuk bayar kos Rp 150 ribu berdua dengan adik, nabung uang kuliah adik Rp 300 ribu, dan uang saku. Aku enggak mengharapkan Papa dan Mama yang waktu itu tinggal di Medan. Karena mereka sudah memikirkan kakakku yang kuliah di Universitas Sumatera Utara. Biarlah di Jakarta aku memikirkan adikku. Untungnya aku masih bisa menabung.

Aku bilang ke adik, uang saku yang aku berikan enggak cukup.

Salah satu acara talkshow yang aku bawakan.

Pokoknya, pintar-pintarnya dia mengelola. Belakangan aku baru tahu dari dia, uang saku itu dibagi buat ongkos naik kereta dari Depok ke UNJ dan makan. Biar bisa bertahan, dia membeli nasi yang banyak, lauknya ikan. Lalu, nasi dan ikan dibagi dua. Satu bagian buat makan siang, sisanya buat makan malam. Kalau sekarang kami bertemu dan ngobrol, kami hanya bisa tertawa mengingat peristiwa itu.

Adikku yang bungsu pun menyusul kuliah di Jakarta, diterima di Sastra UNJ. Lalu, aku bilang ke ibu kos tempatku karena kos khusus laki-laki. Aku terus terang belum mampu beli rumah, kalau boleh kos di sebelah kamarku agar bisa dikontrol. Ternyata diizinkan, akhirnya kami kos bertiga. Syukur, sekarang semua adik-adik sudah bekerja.

Karier Naik
Saat masuk kerja di SCTV tahun 2000, aku langsung ditempatkan di desk kriminal. Bagi wartawan, tempat ini paling bagus karena berpikirnya jadi kronologis dan lengkap. Lalu, pindah ke budaya, lalu politik. Tapi aku enggak pernah di ekonomi. Untunglah, karena aku kurang tertarik.

Aku senang karena sudah bekerja di kantor, kemana-mana ada yang nganterin pakai mobil, pokoknya enggak ada masalah. Kalaupun ada dukanya, karena hidup jadi tidak normal, Sabtu Minggu enggak libur, malah liburnya hari biasa. Kalau pekerjaan belum selesai, ya enggak bisa pulang. Tapi karena aku ikhlas menjalaninya, aku menjadi profesional yang dibentuk oleh kondisi.

Siaran pertama buat presenter pemula adalah Liputan 6 Pagi jam 05.30 WIB-06.30 WIB, jadi enggak boleh langsung siaran siang atau petang. Selama 4 tahun aku siaran pagi, berlanjut ke siaran siang. Setahun kemudian dapat siaran petang, itulah puncak karier di SCTV. Artinya, jika seseorang sudah dipercaya untuk membawakan siaran petang, berarti orang tersebut sudah teruji.

Perlahan-lahan karierku naik. Tahun 2004 jadi asisten produser dan 2006 jadi produser. Hanya saja setahun kemudian aku mengundurkan diri. Aku merasa ada keterbatasan ruang kreatif di sana. Selama 7 tahun aku belajar tentang hardnews, aku ingin belajar yang lain misalnya tentang desain program, bagaimana sebuah program agar lebih menarik. Ditambah lagi aku sudah kurang suka dengan suasana kerja di sana. Ketika aku meninggalkan SCTV, Liputan 6 masih bagus dan menjadi referensi orang.

Pindah Kerja
Di tempat baruku, bekerja bersama Karni Ilyas yang senior menjadi nilai tambah lain. Aku pindah bersama beberapa teman lain. Kami bangun pelan-pelan tvOne, membenahi yang tadinya tidak news oriented jadi teve berita.

Sekarang, aku menjabat sebagai Manager News Talkshow tvOne. Selain Kabar Sepekan, aku juga membawakan acara talkshow Debat dan Janji Wakil Rakyat. Bagiku acaranya menarik karena program ini lahan tidur yang punya potensi tapi belum banyak teve yang bisa mengeksploitasinya sehingga menjadi program unggulan. Acara Debat merupakan program genre baru talkshow yang melibatkan dua narasumber yang berseberangan dalam memandang sebuah masalah atau isu.

Acara debat dengan cara seperti itu lebih bagus buat penonton. Kami menjadi bagian yang mewadahi pro dan kontra. Kalau kelihatan mengadu orang memang sebatas itu semangat berwacananya orang Indonesia. Jangan salah, kami juga menerima banyak kritik, apalagi seputar kepemilikan tvOne oleh grup Bakrie. Itu enggak bisa dihindari. Tapi aku selalu bilang pada teman-teman di luar tvOne, aku sudah jadi jurnalis selama 7 tahun, jadi aku masuk ke sini bukan sebagai antek siapapun.

Bicara soal liputan yang menegangkan adalah saat bersama Ali Imron, terpidana kasus bom Bali. Aku meminta izin resmi untuk meliput dia dengan tujuan hendak menyosialisasikan dampak negatif teror. Jadi, aku harus cerita dari yang paling dasar, bagaimana dia termotivasi lalu tobat. Dikemas sedemikian rupa agar orang paham, caranya dengan melakukan dialog. Akhirnya aku jalan bersama Ali Imron, yang tentu saja dikawal.

Ini pengalaman paling mahal bagiku dan menegangkan. Karena harus berhati-hati dalam mengakomodir banyak pihak, jangan terlalu memojokkan apa yang dilakukan Ali Imron. Tapi kalau dua pihak bilang aku ngaco, berarti kerjaku sudah benar karena dua-duanya merasa terganggu. Yang paling sulit memuaskan kedua belah pihak. Jangan sampai yang satu merasa bersyukur dan pihak lain terbebani berarti aku enggak balance. Tapi kalau keduanya marah berarti sudah benar.

Ketika di tahun ke-7 aku bekerja di SCTV, aku mulai resah karena aku merasa sudah menguasai bidang ini. Takut pengetahuanku mentok di situ-situ saja, aku memutuskan mengambil S2 Komunikasi Politik di UI. Sibuk bekerja pun lantas membuatku enggak punya kesempatan membaca. Aku berpikir kalau mengajar berarti aku harus membaca dan mendalami materi kuliah. Akhirnya, aku melamar ke Universitas Paramadina dan Al Azhar sebagai dosen. Kalau di Universitas Pancasila aku ditawari mengajar. Aku mengajar Teori Komunikasi, kebanyakan Teve Production dalam konteks broadcast.

Memang beda ya dunia mengajar dan teve. Mengajar ketemu murid, langsung ada feedback. Sementara di teve seolah-olah kita bagus karena ukurannya rating, padahal ada unsur lain yang mendukung. Saat mengajar lebih “telanjang” karena enggak harus ber-make-up. Di teve sebagai fasilitator, sedangkan di kelas sebagi sumber, jadi enggak boleh asal omong.

Jodoh Sesama Jurnalis

Bicara soal keluarga, pertama kali aku bertemu istri, Rencany

Indra Martani saat liputan sidang istimewa Gus Dur. Waktu itu dia bekerja di TPI. Begitu kenal langsung cocok, kami pun menikah. Sosok Cany, orangnya enggak terlalu banyak menuntut, memberikan ruang toleransi buatku. Dia tahu aku enggak macam-macam, makanya dia enggak menuntut macam-macam. Mau makan di kaki lima, ayo, enggak harus dibelikan barang mewah. Aku yang dulunya sering hidup sendiri, lalu dapat pendamping yang mau melayaniku, bagiku itu mahal banget. Apalagi sampai menyiapkan makan, obat kalau aku sakit, pakaian ketika berangkat kerja, bagiku luar biasa.

Aku berpacaran serius cuma dua kali, meski sejak SMP sudah kenal cewek. Ya, sebatas begitu saja, kalau pacaran hanya ngobrol. Begitu juga di SMA, enggak pernah ngajak nonton, karena ayahnya enggak membolehkan kami pacaran. Kalaupun ngajak nonton, mau pakai uang siapa? Hahaha. Saat di SK pernah pacaran tapi putus karena dia menjalin hubungan dengan orang lain. Nah, begitu ketemu Cany, pas. Namanya juga unik.

Tak hanya namanya, sosok Cany pun unik, karena dulunya dia mantan model. Bahkan dia menjadi salah satu finalis Elite Model. Dunia tersebut sangat bertolak belakang ketika Cany memilih menjadi jurnalis. Sekarang Cany sedang hamil 5 bulan, setelah memberikan dua putri yang cantik-cantik, Laqisya Phillianova Gintings (6) dan Lavere Fallenova Gintings (2). Dia memutuskan pindah kerja ke bidang keuangan karena dunia sebelumnya tidak ideal buat ibu rumah tangga. Aku bilang sebenarnya mau berhenti juga enggak apa-apa. Tapi kalau bisa jangan, karena kalau berhenti pasti menggangguku. Hahaha.

Wajib Berbahasa Indonesia

Konsep keluarga yang kami jalani tentu saja mementingkan agama. Lalu, cari sekolah yang bagus, harus bilingual, Inggris dan Indonesia. Aku bilang ke istri, boleh-boleh saja anak sekolah di sekolah bilingual, tapi syaratnya jangan minta aku bicara bahasa Inggris dengan mereka. Bagiku berbahasa Inggris dengan anak justru membuat hubungan kami enggak penuh kasih sayang. Karena bahasa Inggris buatku hanya untuk cari duit. Sedangkan dengan anak harus pakai bahasa yang aku cintai, belajar bahasa Indonesia dulu yang benar.

Ketika kecil aku enggak bicara Inggris, tapi setelah besar ya mengerti begitu saja. Terlalu berlebihan kalau di kafe atau mal, anak Indonesia bicara Inggris dengan orangtuanya. Tapi susah juga mau disekolahkan di sekolah negeri, istri tidak yakin, apakah anak-anak bisa tumbuh optimal. Ya, akhirnya aku serahkan ke istri saja.

Aku percaya pendidikan itu penting dan utama. Sekarang aku memikirkan sekolah anak-anak yang biayanya lebih mahal daripada ketika aku mengambil S2 di UI. Makanya aku bilang ke anak-anak, kalian harus pintar, belajar yang benar karena enggak gampang cari uang. Biaya di UI Rp 9 juta satu semester, sementara anak-anak tiap 3 bulan sekali Rp 5 juta.

Aku pernah merasakan ingin punya apa-apa tapi tidak ada. Sekarang aku punya kemampuan memberikan apa yang mereka inginkan. Tentu saja aku enggak mau mereka manja. Prinsipku kalau mereka mau sesuatu, harus melakukan sesuatu atau usaha untuk mendapatkannya. Misalnya, harus baca buku sampai habis. Jangan sampai mereka tahu apa yang dia mau bisa diperoleh, itu yang bahaya. Kalau enggak dapat, jatuhnya jadi korupsi. (sumber: tabloid Nova)

Noverita K. Waldan

Timothy Marbun


Minggu, 31 Januari 2010

Timoty Marbun LG

Timothy Marbun: Skuter Andalan Jadi Teman Liputan (1)

Setiap pagi, wajah pria kelahiran Lhokseumawe, 21 Maret 1982 ini selalu menyapa pemirsa di Metro Pagi. Tim, begitu akrab disapa, tampil bersama 2 penyiar wanita. Celetukan ringan dan lucu yang dilontarkan, plus penguasaan bahasa Inggris yang bagus, membuat karakter pria lajang ini di layar kaca menjadi sangat kuat.

Ceritakan, dong, pernah enggak membayangkan jadi penyiar?

Dulu saya orangnya “membingungkan”. Hahaha. Teman-teman SMA 70 Bulungan enggak menyangka saya bisa jadi presenter. Karena saya bandel. Padahal saat SD, SMP selalu masuk 5 besar. Di SMA turun karena banyak main. Untung pas kuliah semangat lagi. Saya pilih Fakultas Ekonomi karena pekerjaan apapun ujungnya ke ekonomi. Awalnya di sebuah universitas swasta di sini, lalu pindah ke Malaysia. Yang menarik karena di sana bahasa Inggrisnya seru banget.

Anda sangat fasih berbahasa Inggris, ya?
Saya sempat tinggal di Amerika dari usia 3 sampai 7 tahun. Kebetulan Ayah kuliah di Amerika. Nah, selama itu kami berbahasa Inggris. Makanya ketika pindah ke Aceh dan masuk sekolah negeri, saya enggak bisa bahasa Indonesia. Lalu, pernah kena semprot guru gara-gara bilang “kamu” ke guru. Namanya juga anak kecil, akhirnya saya disetrap. Saya pun belajar bahasa Indonesia lagi waktu pindah ke Jakarta.

Sejak kapan Anda bergabung dengan Metro TV?
April 2007. Pertama kali membawakan acara Headline News. Saya memulai karier sebagai presenter internasional. Wah, begitu diterima saya berharap bakal bisa ke luar negeri. Ternyata salah besar. Hahaha. Tapi sebenarnya, saya tertarik karena pasti saya bisa memperluas wawasan.

Beberapa bulan setelah itu ada penerimaan presenter, saya pun mendaftar. Suatu hari saya ditelepon disuruh masuk jam 12 malam membawakan acara Headline Malam. Tentu saja saya kaget karena belum pernah siaran malam. Waktu itu, enggak ada orang lain kecuali saya. Pokoknya saya juaranya gantiin orang, deh. Hahaha.

Grogi banget, waktu di studio harus di make-up dulu, rambut pakai

Gaya Tim saat liputan.

gel segala. Sebelum tayang, saya baca berita sampai berulang-ulang, hingga detik terakhir mengharap ada yang gantiin. Anehnya, begitu di depan kamera, malah pasrah, ternyata enggak grogi sama sekali. Semua berjalan lancar. Meskipun setelah acara selesai keringatan. Hahaha. Tapi saya senang karena sebagai latihan.

Setelah beberapa kali bawa acara, barulah membawakan acara dengan durasi setengah jam, Indonesia This Morning. Percaya enggak, itu juga menggantikan teman yang sakit. Haha.

Apa saja suka dukanya?
Di acara Metro Pagi, semua presenter munculnya barengan, kami harus cepat tanggap, jangan sampai ada waktu kosong. Yang agak susah itu soal kerapihan, apalagi pas awal dulu, pembagian tugasnya belum pas. Ada yang kebanyakan bicara, yang lain diam. (Bersama 6 presenter lain, Tommy Tjokro, Prabu Revolusi, Cheryl Tanzil, Prita Laura, Aviani Malik, dan Marissa Anita, Tim bahu membahu membuat acara jadi menarik).

Kami mendapatkan complain terbesar masalah itu. Makanya kami harus mengakrabkan dengan masing-masing presenter untuk membangun chemistry-nya. Setelah siaran, kami rapat, mengatakan terus terang apa yang tidak disukai. Misalnya, ada yang terlalu banyak bicara.

Menurut Anda, bagaimana karakter Anda di teve?

Kata teman-teman karakter saya suka menyindir. Tapi malah dinilai bagus. Pernah di acara, Pak Susno (Susno Duadji) menangis. Lalu saya tanggapi, “Kalau polisi suka dibilang buaya, menangis itu air mata buaya, dong?” Hahaha. Atau ketika membahas AC yang bisa mematikan virus, saya tanggapi, “Semoga ada juga AC yang bisa mematikan virus korupsi.”

Nah, akhirnya sekarang saya disuruh terus mempertahankan hal tersebut untuk menghidupkan suasana. Tanggapan itu keluar dengan sendirinya dari kepala tanpa ada konsepnya. Bayangkan saja, ketika saya menerima omongan dari presenter lain, enggak mungkin diam. Kadang muncul di detik terakhir juga. Pernah juga bengong atau blank enggak ngerti mau omong apa. Ada 3 menit tersisa, harus cepat ambil ide, misalnya baca berita di koran. Bisa juga langsung baca berita saja. Semuanya harus cepat dan belajar dari kebiasaan, jadi terbiasa dengan situasi seperti itu.

Tampaknya Anda sangat menikmati pekerjaan Anda, ya?
Saya suka, meskipun sulit ya membuat orang tertarik ngomongin politik pagi-pagi. Padahal, latar belakang saya bukan dari pendidikan jurnalistik atau broadcasting. Saya, kan, lulusan sekolah bisnis ekonomi di Malaysia. Dunia jurnalistik membuat saya tahu semuanya karena bertemu masalah ekonomi, politik, sosial. Apalagi kalau sudah wawancara mulai dari orang kehilangan anak sampai politikus tinggi.

Akhirnya, pernah liputan ke luar negeri?

Pernah ke Malaysia. Saya harus mendapatkan wawancara dengan Menteri Pertahanan Malaysia. Wah, pusing juga bagaimana caranya karena susah, kan. Untungnya di bandara Malaysia saya ketemu anggota DPR yang mau bertemu orang-orang di Departemen Pertahanan Malaysia. Mungkin karena saya sudah akrab sebelumnya, malamnya mereka mengajak bertemu dengan Menteri pertahanan Malaysia. Saya sampai sewa taksi Rp 400 ribu, meskipun belum ada jaminan bisa wawancara.

Dengan memakai setelan jas, saya menunggu selama 1,5 jam, sampai akhirnya dipersilakan masuk dan bisa ngobrol dengan menterinya. Padahal teve lain enggak bisa melakukan wawancara. Lucunya, teman sekolah saya di Malaysia ternyata keponakannya sang menteri . Tapi dia juga enggak mudah ketemu karena harus janji dulu dengan ajudannya. Hahaha.

Liputan paling berkesan?
Liputan paling berkesan waktu saya dilatih di Media Indonesia selama 3 bulan. Karena jadi wartawan geraknya harus cepat, saya minta izin ke orangtua supaya diperbolehkan naik motor. Setelah bernegoisasi akhirnya orangtua mengizinkan asal naik skuter Vespa. Itu juga utang dulu ke orangtua, dicicil pelan-pelan karena mereka ingin memberikan pelajaran tanggungjawab.

Nah, skuter warna merah itu sampai saya kasih nama, Baba O’Reilly karena saya sangat suka dengan musik The Who.

Baba yang selalu setia menemaniku saat liputan.

Dengan vespa itu, liputan pertama saya sudah seperti reporter tahun 60-an. Baba sangat membantu dalam liputan. Uniknya, tanggal keluar dari pabriknya sama dengan ulang tahun saya, 21 Maret 2005. Pokoknya sudah sejiwa, deh. Karena sekarang jarang dipakai, Ibu sempat tanya kenapa enggak dijual saja. Saya jawab, ”Masa bagian tubuh sendiri dijual.” Hahaha. Dua hal yang paling disayangi sekarang, anjing saya bernama Foggie dan skuter Vespa, Baba.

Bagaimana hubungan Anda dengan orangtua?
Ayah, Dimpos Marbun dan Ibu, Rosliwaty Marbun berasal dari Sumatera Utara. Mereka memberikan kepercayaan yang besar pada anak-anaknya, makanya kami enggak berani melanggar kepercayaan itu. Kami bebas pulang jam berapa saja, asal bertanggungjawab. Kalau sekarang pulang malam, jelas alasannya karena wajahnya ada di teve, kan. Orangtua saya selalu menanamkan hal mendasar, harus bisa membedakan sesuatu, hidup itu kayak apa. Mereka selalu menerapkan agar kami selalu bercerita ke orangtua. Kalau enggak mau cerita ya sudah mereka tidak memaksa. Tapi suatu saat pasti kami cerita ke orangtua kalau ada masalah. Ujungnya, kan, kami memang mencari orangtua.

Ayah sosok pekerja keras, ya?
Ayah berasal dari desa yang sangat jauh di Sumatera Utara, pendidikannya STM tapi bisa sekolah ke Amerika. Berkat kerja keras dan kegagalan, beliau bisa seperti itu. Hal-hal seperti itu yang selalu saya pelajari, ternyata orang butuh kegagalan untuk mendapatkan kesuksesan.

Dulu beliau enggak bisa bahasa Inggris, pergaulannya dengan orang tertentu, lalu menikah dengan penghasilan sangat kecil. Kemudian mencoba jadi sopir tapi enggak keterima, akhirnya depresi. Kalaupun ada kerjaan harus bisa bahasa Inggris. Akhirnya dia belajar Inggris sendiri tanpa les karena enggak punya uang. Ketika diterima kerja, eh malah sampai bisa membawa keluarganya ke Amerika. Coba kalau dulu tidak gagal, belum tentu bisa ke Amerika. Intinya, jangan sedih dengan kegagalan. Ayah menjadi inspirasi saya karena sudah membuktikan dengan hidupnya. Jadi, kenapa harus banyak mengeluh.

Sudah punya pacar?

Pacar ada dari dunia yang sama, tapi belum memikirkan ke arah perkawinan. Kalau memang dikasih jodohnya pasti ada waktunya. Soal jodoh enggak akan sedetik terlambat dan sedetik terlalu cepat, kok.

Noverita K. Waldan

sumber: tabloid Nova

Gomar Gultom


Memperjuangkan Pluralisme Tanpa Gus Dur

GmarGereja adalah ekklesia di mana umat yang dipanggil keluar dan masuk ke dalam terangnya yang ajaib. Itu artinya Gereja harus menjadi terang bagi kehidupan banyak orang. Namun, kerapkali Gereja tidak memberikan apa-apa bagi kehidupan banyak orang, padahal “Tuhan itu baik untuk semua orang.” Kita harus mampu mengimplementasikan bahwa Tuhan baik kepada semua orang, tidak hanya kepada PGI saja. Apakah dia Pentakosta atau Saksi Jehowa atau pun umat lain. Karena Tuhan juga baik terhadap mereka.

Demikian kata Sekretaris Umum (Sekum) Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia. Dia telah dua kali terpilih menjadi Sekum. Huria Kristen Batak Protestan yang mencalonkannya. Gomar adalah anak dari Teodosus Gultom, seorang pegawai di Departemen Agama, sementara ibunya adalah Ramean Siregar, seorang parrengge-rengge atau pedagang kata orang kebanyakan. Dia lahir di Tarutung, Tapanuli Utara, pusat HKBP, yang merupakan sinode gereja terbesar di Asia Tenggara, pada tanggal 8 Januari 1959. Masa kecilnya, dilewatkan di kota tersebut hingga umur enam tahun. Baru kemudian pindah ke Medan mengikuti kepindahan ayahnya sebagai pegawai Departemen Agama. Sekolah dasarnya dia tamatkan di SD GKPI Air Bersih, Medan. Sedangkan sekolah menengah pertama lulus dari SMP Kristen III, Salatiga. Dia menempuh pendidikan sekolah menengah atas di SMA Kristen I PSKD, Jakarta. Lalu dia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta. Saat ini, di kampus yang sama, dia sedang menyelesaikan pendidikan tingkat doktoral di jurusan devinity atau pelayanan.

Perawakan kecil dengan visinya yang besar untuk kemajemukan bangsa. Gomar bergerak lincah melakukan tugas yang disebutnya sebagai ”pengabdian bagi Tuhan dan Negara.” Di Jakarta, sebagai anak dari vorhanger atau penatua di HKBP Pulo Asem, Gomar tentu aktif di gereja. Namun, menurutnya, ilham yang membuat dia tertarik menjadi pendeta adalah Alfred Simajuntak, pencipta lagu Bangun Pemuda-Pemuda, ketika sang komponis menjadi pengajar untuk para guru Sekolah Minggu di mana Gomar juga menjadi salah seorang tenaga pengajar. Alfred tidak saja menggugah batin, tetapi juga memberi semangat dan kemampuan bagi Gomar yang telah memutuskan untuk menjadi seorang Hamba Tuhan.

Gomar takkan lupa pada orang-orang yang telah turut mengantarnya sampai di puncak kariernya sekarang ini sebagai pengelola dari sekian banyak gereja dengan sekian banyak kecenderungan di seluruh negeri ini. “Melalui pengajaran, Simanjuntak mendorong saya untuk masuk sekolah teologia. Saya juga banyak dipengaruhi oleh pendeta Sahat Rajagukguk, seorang pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia, yang adalah juga salah seorang pengurus PGI. Beliau jugalah yang mendorong saya untuk terjun dalam gerakan okumene. Selain itu, S.A.E. Nababan turut juga memberikan pengaruh pada saya. Dan, yang tidak kalah besar pengaruhnya adalah ayah saya. Ayah saya dulu bekerja di Departemen Agama, dan duduk sebagai vorhanger di HKBP Pulo Asem.” Begitu dia melihat ke belakang, mengenang, menghitung orang-orang yang telah berjasa membawanya ke puncak yang menjadi dambaan semua orang yang telah berserah diri menjadi hamba Allah.

Cinta pertama
Lulus dari Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, Desember 1983, dia lalu menjalani masa vikariat atau penggemblengan sebelum menjadi pendeta di Tongging, Tanah Karo, persis di bibir Danau Toba. Gomar tidak mau duduk di menara gading Gereja sebagai “amang pendeta” yang sabam hari mempersiapkan khotbah di mimbar. Buat di khotbah bukanlah rangkaian kata-kata yang dibiarkan kosong. Khotbahnya adalah tindakan langsung, dengan terjun mengurusi masalah-masalah sosial dan melakukan penyadaran hukum melalui Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarakat (KSPPM). Gomar mencoba melalui LSM tersebut menjalankan panggilan gereja untuk hadir bersama masyarakat miskin, lemah dan menderita. Gomar tidak pernah mematok gelanggang pelayanan hanya di gereja. Dia juga menjadi dosen bagi para calon pendeta di STT Nomensen, Pematang Siantar. Dia sempat juga memberikan pelayanan khusus untuk pemuda di HKBP Resor Petojo, Jakarta. Gomar juga yang menggagas penyelenggaraan Perkemahan Kerja Pemuda Gereja.

Sebagai pendeta dan juga aktivis dia bersentuhan dengan Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara, di Jakarta. Selain ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dia juga aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika. Tahun 1991, dia dipercaya menjadi Kepala Biro Pembinaan HKBP.
Masa mudanya dia lalui seperti air yang mengalir. Sebagaimana seorang pemuda dia juga mengalami cinta pertama dan sekaligus menjadi cinta terakhir bersama Loli Jendrianita Simanjuntak, seorang dokter spesialis ilmu penyakit dalam di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Kedua sejoli ini dipertemukan oleh pandangan pertama. Mereka berkenalan pada waktu Gomar duduk di bangku SMA, sedangkan Loli masih SMP ketika itu.

“Saya kenal dia waktu itu saat masih SMP. Saat itu, kita berkemah di Gunung Pangrango, Jawa Barat. Pulang dari sana kita mampir di Cianjur, rumah sepupu dari salah satu teman. Di sinilah pandangan pertama itu menemukan mimpinya. Di situlah kami kenalan, dikenalkan saudara sepupu teman saya itu. Sejak itu, kita surat-menyurat. Lancar terus-menerus. Kita pacaran semenjak SMA hingga perguruan tinggi,” ujar Gomar mengenang masa-masa romantisnya sebelum membangun biduk rumahtangga. Tuhan mengaruniai pernikahannya seorang puteri, Agustina Marisi Nauli, yang saat ini menempuh kuliah di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

Sebelumnya, Gomar tidak pernah dijagokan untuk menempati posisi Seketaris Jenderal di PGI. Lima tahun lalu, Gomar dipercayakan sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, yang memberikan ruang lebar kepadanya untuk bisa melayani umat. Sebagai Sekretaris Eksekutif Bidang Diakonia, dia amat aktif dan mendorong penegakan hukum dan hak-hak asasi manusia. Pada Sidang Raya di Mamasa, Sulawesi Tenggara, Gomar terpilih menjadi Sekretaris Jenderal mengantikan Richard Daulay dari Gereja Metodist Indonesia. Sedangkan ketua umum tetap berada dipundak A. A. Yewangoe.

PGI adalah organisasi gereja Protestan yang menaungi sekiatar 80-an Sinodal, dan itulah yang membuka wacana baru yang lebih luas bagi cakrawala pikiran Gomar tentang perlunya semangat pluralisme. Di PGI, Gomar merasakan sekali suasana yang saling menghargai yang menjadi esensi konstitusi tentang kebebasan beragama. Implemetansinya adalah menghargai orang yang berbeda agama. Yang harus dilakukan para pemimpin umat adalah membina umatnya sendiri supaya tidak tergoda dengan ajaran yang berbeda, demikian kata Gomar.

Menurutnya, untuk menyelesaikan masalah-masalah konstitusi, gereja harus terus aktif berjuang agar penyelesaian masalah tidak dibelokkan oleh semangat sektarianisme. “Hukum adalah produk politik dan merupakan cerminan kemenangan dari kekuatan politik yang nyata. Di dalamnya termasuk penguasaan taktis legislasi, bukan hanya soal kekuatan jumlah. Oleh karena itu, gereja harus melibatkan diri di sini, walau berada dalam jumlah yang kecil, agar produk hukum tidak bias untuk kepentingan agama tertentu.”

Membela Ahmadiyah
Mengapa tertarik pada gerakan okumenis? “Gereja itukan ekumenis, artinya satu kesatuan. Gereja yang mula-mula sampai gereja yang sekarang harus okumenis. Di PGI gerakan itulah yang kita bangun. Saya ditugaskan HKBP untuk duduk di PGI. Tetapi jauh sebelum menjadi pendeta, semasih di STT Jakarta, saya sudah bergelut dalam gerakan ini. Pertama, di komisi pemuda ekomenis,” katanya. Dia pernah duduk sebagai Wakil Ketua Kelompok 17 yang menggagas pembinaan pelayanan pemuda di Biro Pemuda PGI.

“Banyak orang yang tidak tahu banyak apa yang dilakukan PGI. Banyak yang telah dilakukan, tentang legislasi nasional, tentang penegakan HAM, penegakan hukum di Indonesia. Misalnya membela Ahmadiyah. Nggak ada lembaga-lembaga gereja selain PGI yang berani membela Ahmadiyah, dalam rangka kebebasan beragama. Hanya saja media tidak pernah memberitakannya, mungkin karena PGI tidak seksi untuk diberitakan,” ujarnya terbahak-bahak.
Hubungan dengan agama lain? “PGI menjalin hubungan dengan agama-agama lain, dengan semua elemen bangsa, dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dengan Hindu, Budha, bahkan dengan Parmalim sekalipun. PGI konsisten dalam mengawal konsitusi kita. Belakangan ini konstitusi kita tergerus oleh semangat sekretarianisme, fundamentaslisme, yang ingin menggantikan konstitusi dengan syariah agama,” katanya menunjukkan.

Selain aktif di gereja, Gomar juga giat di dalam masyarakat, sebagai aktivis dalam pelayanan buruh melalui PMK HKBP, bersama Luhut Pangaribuan, Ade Rostina Sitompul, Asmara Nababan, Yoppie Lasut dan beberapa pengacara lainya dari Lembaga Penyadaran Hak-Hak Warga Negara (LPHWN) di mana Gormar juga dipercaya sebagai sekretarisnya. Lewat lembaga ini pula, bersama teman-temannya, Gomar memberikan penyadaran hukum kepada para tahanan politik, terutama tahanan politik eks-PKI yang sangat rentan posisinya dan hampir terabaikan dalam aspek kehidupan selama rezim Orde Baru.

Tahun 1999-2004, Gomar juga aktif dalam pelayanan masyarakat Jaringan Kerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK), dan jabatan terakhirnya adalah Direktur Program. JKLPK sendiri sangat aktif mengadvokasi pembentukan Kabupaten Mentawai. Juga mencarikan jalan damai bagi konflik di Papua dan Maluku.

Sedari dulu Gomar juga aktif membangun semangat kemajemukan. Pada aras gereja dia aktif dalam gerkanan oukumenis dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika bersama-sama dengan agama lain. Dia ikut menggagas berdirinya Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan, dan aktif dalam Aliansi Nasional Bhinneka Tungga Ika. Kedua lembaga ini, dengan semangat yang sama, bergerak melawan semangat sektarianisme, fundamentalisme, yang coba menggerus semangat keberagaman.

“Selama ini kita terkooptasi, terkotak-kotak. Pelarangan terhadap Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih, Medan, oleh jemaat HKBP ditentang oleh PGI. Saya sebagai sekretaris esekutif bidang Diakonia PGI ketika itu melakukan pertemuan dengan jemaat HKBP yang menentang berdirinya Ruma Parsaktian itu. PGI mendukung berdirinya Ruma Parsaktian di Jalan Air Bersih. Orang berhak mendirikan rumah ibadahnya. Yang kami perjuangkan adalah kebebasan beragama, bukan memperdebatkan masalah doktrin,” katanya menjelaskan.

Dia pendeta tulen sekaligus aktivis murni. Itu bisa terbaca beberapa waktu lalu, saat Gomar mengikuti pertemuaan lintas agama yang juga dihadiri Pangeran Charles dari Inggris. Gomar mengenakan baju tohonan, baju pendeta mirip baju koko, berwarna hitam. Sebagai aktivis, keberanian Gomar terlihat saat mimimpin demonstrasi anti-globalisasi di dekat Istana Malacanang, Manila, tahun 2003 lalu. Demikian pula, pada bulan Maret 2009 lalu, saat pencabutan izin mendirikan bangunan (IMB) dan gedung Serbaguna HKBP di Jalan Pesanggarahan, Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok oleh Walikota Depok Nurmahmudi Ismail. Lewat keputusan Walikota Depok tersebut menyebabkan ditutupnya Gereja HKBP itu. Gomar melawan budaya otoriter tersebut. Dia memimpin doa keperihatinan.

Pembakaran rumah ibadah

Semangat perlawanan tersebut terinspirasi oleh keberanian Gus Dur yang mau berjuang untuk tegaknya kebebasan beragama. “Gus Dur telah memberikan pelajaran bagi kita. Dia selalu memasang badan untuk orang-orang yang berupaya memberangus kemajemukan, yang mencoba merongrong semangat kemajemukan tersebut. Kita tidak menafikan adanya gesekan selama ini. Tetapi, buah hidup yang diperjuangkan oleh Gus Dur selama ini sudah mulai bersemi. Kami sebenarnya mau pergi ke kuburan Gus Dur, tetapi oleh Gus Solah (Solahuddin, adik Gus Dur) meminta jangan dulu datang ke sana, sebab sampai hari ini masih berduyun-duyun orang datang ke kuburuannya.”

Menurut Gomar, dia beberapa kali bertemu dengan Gus Dur, di PGI, di Cigajur, rumah Gus Dur sendiri, bahkan tatkala sama-sama menjadi narasumber pada seminar atau diskusi tentang kebebasan beragama. “Kita kehilangan Gus Dur. Tetapi, melihat respon masyarakat terhadap kematian beliau, itu artinya bahwa ke depan kita tidak perlu takut terhadap benih pluralism yang mulai bersemi. Selama masyarakat memperjuangkan kemajemukan yang telah ditancapkan Gus Dur, asal selalu kita sokong, niscaya kebebasan beragama akan bersemi. Kita harus mandiri. Tanpa Gus Dur kita harus terus memperjuangkan pluralisme tersebut. Kita harus menjadi dewasa, dan terus merawat pluralime itu. Dengan PGI sendiri, Gus Dur sangat akrab. Bermula dari Sidang Raya PGI di Surabaya, ketika Gus Dur mengajak perserta sidang mengunjungi pesantren. Kita melihat figure Gus Dur sebagai bapak pluralisme yang terus memperjuangkan kebebasan beragama,” ujar Gomar. Ini juga yang disampikan oleh Gomar pada saat pelucuran buku Sejuta Hati Untuk Gus Dur di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, awal Januari lalu.

Sekarang, kebebasan beragama memang masih jauh dari harapan, masih ada riak-riak yang selalu membuat gesekan, misalnya penutupan bahkan pembakaran rumah ibadah. Tetapi, jika banyak sosok yang berjuang seperti Gomar Gultom, maka kebebasan beragama bukanlah cita-cita yang kosong. Kelak Indonesia tidak dinilai sebagai negara demokrasi yang abu-abu, tetapi negara demokrasi dengan jumlah penduduk yang besar yang menghargai kebebasan beragama bagi semua penganutnya.***Hojot Marluga

T B Simatupang


Tahi Bonar Simatupang atau yang lebih dikenal dengan nama TB

Tahi Bonar Simatupang

Simatupang (lahir di Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 – meninggal di Jakarta, 1 Januari 1990 pada umur 69 tahun) adalah seorang tokoh militer dan Gereja di Indonesia. Saat ini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan besar di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan.

Simatupang dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana. Ayahnya Simon Mangaraja Soaduan Simatupang, terakhir bekerja sebagai pegawai kantor pos. Simatupang menempuh pendidikannya di HIS Pematangsiantar dan lulus pada 1934. Ia melanjutkan sekolahnya di MULO Tarutung 1937, lalu ke AMS di Jakarta dan selesai pada 1940. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Simatupang mendaftarkan diri dan diterima di Koninklije Militaire Academie (KMA) – akademi untuk anggota KNIL, di Bandung dan selesai pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia yang kemudian merebut kekuasaan dari pihak Belanda.

Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Simatupang turut berjuang melawan penjajahan Belanda. Ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan kemudian dalam usia yang sangat muda ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Perang RI (1950-1954). Pada 1954-1959 ia diangkat sebagai Penasihat Militer di Departemen Pertahanan RI. Ia kemudian mengundurkan diri dengan pangkat Letnan Jenderal dari dinas aktifnya di kemiliteran karena perbedaan prinsipnya dengan Presiden Soekarno waktu itu.

Simatupang pernah mengatakan bahwa ada tiga Karl yang mempengaruhi hidup dan pikirannya, yaitu Carl von Clausewitz, seorang ahli strategi kemiliteran, Karl Marx dan Karl Barth, teolog Protestan terkemuka abad ke-20. Seluruh kehidupan Simatupang mencerminkan peranan ketiga pemikir besar itu. Setelah melepaskan tugas-tugas aktifnya sebagai militer, Simatupang terjun ke pelayanan Gereja dan aktif menyumbangkan pemikiran-pemikirannya tentang peranan Gereja di dalam masyarakat.

Dalam aktivitas gerejawinya itu, ia pernah menjabat sebagai Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Ketua Majelis Pertimbangan PGI, Ketua Dewan Gereja-gereja Asia, Ketua Dewan Gereja-gereja se-Dunia, dll.

Di lingkungan kemasyarakatan, Simatupang menjabat sebagai Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia dan Ketua Yayasan Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM). Ia bahkan merupakan salah satu pencetus lembaga pendidikan ini, ketika di Indonesia belum banyak orang yang memikirkannya. Simatupang percaya bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang menguasai ilmu manajemen di dalam perusahaan maupun di tengah masyarakat.
Pada 1969 Simatupang dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa dari

Simatupang menikah dengan Sumarti Budiardjo yang adalah adik dari teman seperjuangannya Ali Budiardjo. Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, salah seorang di antaranya meninggal
Karya tulis:

* Soal-soal Politik Militer di Indonesia (1956)
* Laporan dari Banaran: Kisah Pengalaman Seorang Prajurit selama Perang Kemerdekaan (1960)
* Pemerintah, Masjarakat, Angkatan Perang: Pidato-pidato dan karangan-karangan 1955-1958 (1960)
* Tugas Kristen dalam Revolusi (1967)
* Capita Selecta Masalah Hankam (1967)
* Pengetahuan Militer Umum (1968)
* Pengantar Ilmu Perang di Indonesia (1969)
* Diskusi Tjibulan II: Dukungan dan Pengawasan Masjarakat dalam Pembangunan, 9-11 Djanuari 1970 (disusun bersama oleh Anwar Harjono, H. Rosihan Anwar, T.B. Simatupang) (1970)
* Kejakinan dan Perdjuangan: Buku Kenangan untuk Letnan Djenderal Dr. T.B. Simatupang (1972)
* Keselamatan Masakini [disusun oleh T.B. Simatupang, bersama S.A.E. Nababan dan Fridolin Ukur (1973)
* Buku Persiapan Sidang Raya Dewan Gereja-Gereja Sedunia, 1975 (1974)
* Ketahanan Nasional dalam Situasi Baru di Asia Tenggara: Ceramah pada tanggal 30 Juni 1975 di Gedung Kebangkitan Nasional, Jakarta (1975)
* Ceramah Letnan Jenderal TNI (Purn) Dr. T.B. Simatupang di AKABRI Bagian Darat, tanggal 4 November 1981 [microform] (1981)
* Pelopor dalam Perang, Pelopor dalam Damai (1981)
* Arti Sejarah Perjuangan Kemerdekaan: Ceramah tanggal, 14 Oktober 1980 di Gedung Kebangkitan Nasional Jakarta (1981)
* Iman Kristen dan Pancasila (1984)
* Harapan, Keprihatinan dan Tekad: Angkatan 45 Merampungkan Tugas Sejarahnya (1985)
* Kehadiran Kristen dalam Perang, Revolusi dan Pengembangan: Berjuang Mengamalkan Pancasila dalam Terang Iman (1986)
* Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang (penyunting: H.M. Victor Matondang) (1986)
* Peranan Angkatan Perang dalam Negara Pancasila yang Membangun (1980)
* Peranan Agama-agama dan Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam Negara Pancasila yang Membangun (1987)
* Dari Revolusi ke Pembangunan (1987)
* 70 tahun Dr. T.B. Simatupang: Saya adalah Orang yang Berhutang [penyunting: Samuel Pardede] (1990)
* Penghayatan Kesatuan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional sebagai Pengamalan Pancasila Menuju Tinggal Landas (1990)
* Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos: Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa, dan Negara (1991)

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/T._B._Simatupang

Ludovikus Simanullang, Dr. OFM Cap.


Dr. Ludovikus Simanullang, OFMCap, pastor kelahiran Sogar, Barus,

Dr. Ludovikus Simanullang, OFMCap

Tapanuli Tengah, 23 April 1955 adalah Uskup Keuskupan Sibolga. Pengangkatannya secara resmi diumumkan Vatikan pada tanggal 14 Maret 2007 dan ditahbiskan pada Minggu, 20 Mei 2007.

Pusat Data Tokoh Indonesia dari Keuskupan Sibolga mencatat, sebagai pastor, Ludovikus Simanullang, OFM Cap. ditahbiskan Imamat pada bulan Juli 1983 dan memulai pengabdian di paroki Tarutung Bolak. Kemudian tahun 1988-1993 ia melanjutkan studi di Universitas Antonianum Roma. Setelah menyelesaikan studinya, ia kembali ke tanah air. Lalu tahun 1993-1997 ia menjabat Magister Postulan Mela sekaligus moderator Paroki Tarutung Bolak.

Kemudian terpilih menjadi Minister Provinsial di Propinsi Kapusin St. Fidelis (Sibolga) periode 1997-2003. Pada tahun 2006, terpilih lagi sebagai Minister Propinsial untuk ketiga kalinya. Selain itu, ia juga aktif sebagai formator para frater di STFT St. Yohanes Pematang Siantar.

Upacara penahbisannya sebagai Uskup Keuskupan Sibolga diselenggarakan pada hari Minggu, 20 Mei 2007 pukul 9.00 wib. Upacara itu dimulai dengan prosesi dari Katedral menuju tempat perayaan di lapangan Simaremare, Sibolga. Ia menerima tahbisan Episkopat dari Duta Besar Vatikan, Mgr. Leopoldo Girelli. (Sumber: Blasius S. Yesse Pr, Sekretaris Keuskupan Sibolga)

Acara Penahbisan

28 Uskup, 100 Pastor dan 8.000 Umat Katolik Hadiri Pentahbisan Uskup Mgr DR Ludovikus Simanullang OFMCap

Pentahbisan Uskup Keuskupan Sibolga Mgr DR Ludovikus Simanullang OFMCap olehDuta Vatikan di Indonesia Mgr Leopoldo Girelli dihadiri 28 Uskup se- Indonesia, 100 Pastor dan 8.000-an umat Katolik se- Keuskupan Sibolga, Minggu (20/5) di Lapangan Simare-mare Sibolga Jalan Sutomo Sibolga.

Pentahbisan ditandai pemakaian cincin, mitra (topi) dan tongkat kegembalaan dimana yang secara keseluruhan perayaan tersebut berlangsung aman dan lancar.

Ketua Panitia Perayaan Pastor R Daely OFMCap dalam laporannya mengatakan, seluruh umat Katolik di Keuskupan Sibolga sebanyak 210.000 jiwa tersebar di 7 kabupaten/kota yaitu Kota Sibolga, Tapteng, Kota Padang Sidempuan, Madina, Tapsel, Nias dan Nisel bergembira dan bersyukur atas pentahbisan ini karena sudah lebih 3 tahun Keuskupan Sibolga tidak memiliki Uskup.

Menurutnya, penghunjukkan Pastor Ludovicus menjadi Uskup Keuskupan Sibolga diumumkan tahta suci di Roma, Rabu (14/3) oleh Bapa Suci Sri Paus Benedictus XVI dan dilanjutkan ke Nuntius (Duta) Vatikan di Indonesia Mgr Leopoldo Girelli.

“Sejak Mgr DR Anesetus B Sinaga dihunjuk sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Medan bulan Februari 2004 lalu, Uskup di Keuskupan Sibolga menjadi lowong,” jelas dia seraya berharap kehadiran Uskup baru di Keuskupan Sibolga semakin menyadarkan existensi sebagai umat beriman untuk senantiasa bangkit dan bergerak demi habitus baru yang kita dambahkan bersama.

Walikota Sibolga Drs Sahat P Panggabean MM dalam sambutannya berharap, kerjasama Katolik dengan Pemerintah semakin berjalan baik untuk saling membantu dalam melaksanakan pembangunan.

“Peranan Katolik yang sangat besar dalam pembangunan di daerah ini adalah pendidikan dan pembangunan spritual,” katanya seraya menambahkan permasalahan rakyat yang sedang di hadapi saat ini seperti tekanan ekonomi, kekerasan dan pelanggaran hukum hingga perusakan lingkungan semakin rumit sehingga peranan Gereja sangat diharapkan dapat membantu menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pada kesempatan tersebut Walikota Sibolga bersama unsur Muspida Plus Kota Sibolga di antaranya Ketua PN Sibolga Dj Pasaribu, Ketua DPRD Kota Sibolga Syahlul Situmeang dan Ketua TP PKK Sibolga Rumintang Uli Lumbantobing didampingi pimpinan instansi di lingkungan Pemko Sibolga dan sejumlah pejabat dari berbagai daerah di antaranya Wakil Bupati Nias Selatan Daniel Duha SH, mantan Bupati Simalungun Ir Jhon Hugo Silalahi, anggota DPD asal Sumut Parlindungan Purba mengalungkan bunga kepada para Uskup dan ulos kepada Uskup Mgr Ludovicus.

Sejumlah kebudayaan daerah di wilayah Keuskupan Sibolga juga ditampilkan pada perayaan tersebut di antaranya tarian dari Nias, Nias Selatan, Padang Sidempuan dan Pangaribuan dan upah-upah masing-masing dari etnis Nias, Batak dan Tionghoa.

Malam harinya usai perayaan, Walikota Sibolga menjamu makan malam bersama Duta Vatikan, para Uskup dan rohaniwan Katolik di Pendopo Rumah Dinas di Jalan Dr Ferdinan Lumbantobing Sibolga. (Sumber: SIB 21 Mei 2007) FOTO: http://frans.zai.web.id/wp-content/uploads/2007/10/mgr-ludovicus-simanullang.

Biodata:
Pastor. Dr. Ludovikus Simanullang, O.F.M. Cap.
Lahir:
Surabaya, 1 Oktober 1941
Agama:
Kristen
Jabatan:
– Uskup Keuskupan Sibolga
Pendidikan:
– Universitas Antonianum Roma, 1988-1993
Karir:
Pastor Imamat paroki Tarutung Bolak, 1983-1988
– Magister Postulan Mela sekaligus moderator Paroki Tarutung Bolak, 1993-1997
– Minister Provinsial di Propinsi Kapusin St. Fidelis (Sibolga) periode 1997-2003 dan 2006
– Formator para frater di STFT St. Yohanes Pematang Siantar
– Uskup Keuskupan Sibolga, sejak 20 Mei 2007

Alamat:
Keuskupan Sibolga
Jln. AIS Nasution No. 27, Sibolga 22513 Tlpn:0631-371761