Timothy Marbun


Minggu, 31 Januari 2010

Timoty Marbun LG

Timothy Marbun: Skuter Andalan Jadi Teman Liputan (1)

Setiap pagi, wajah pria kelahiran Lhokseumawe, 21 Maret 1982 ini selalu menyapa pemirsa di Metro Pagi. Tim, begitu akrab disapa, tampil bersama 2 penyiar wanita. Celetukan ringan dan lucu yang dilontarkan, plus penguasaan bahasa Inggris yang bagus, membuat karakter pria lajang ini di layar kaca menjadi sangat kuat.

Ceritakan, dong, pernah enggak membayangkan jadi penyiar?

Dulu saya orangnya “membingungkan”. Hahaha. Teman-teman SMA 70 Bulungan enggak menyangka saya bisa jadi presenter. Karena saya bandel. Padahal saat SD, SMP selalu masuk 5 besar. Di SMA turun karena banyak main. Untung pas kuliah semangat lagi. Saya pilih Fakultas Ekonomi karena pekerjaan apapun ujungnya ke ekonomi. Awalnya di sebuah universitas swasta di sini, lalu pindah ke Malaysia. Yang menarik karena di sana bahasa Inggrisnya seru banget.

Anda sangat fasih berbahasa Inggris, ya?
Saya sempat tinggal di Amerika dari usia 3 sampai 7 tahun. Kebetulan Ayah kuliah di Amerika. Nah, selama itu kami berbahasa Inggris. Makanya ketika pindah ke Aceh dan masuk sekolah negeri, saya enggak bisa bahasa Indonesia. Lalu, pernah kena semprot guru gara-gara bilang “kamu” ke guru. Namanya juga anak kecil, akhirnya saya disetrap. Saya pun belajar bahasa Indonesia lagi waktu pindah ke Jakarta.

Sejak kapan Anda bergabung dengan Metro TV?
April 2007. Pertama kali membawakan acara Headline News. Saya memulai karier sebagai presenter internasional. Wah, begitu diterima saya berharap bakal bisa ke luar negeri. Ternyata salah besar. Hahaha. Tapi sebenarnya, saya tertarik karena pasti saya bisa memperluas wawasan.

Beberapa bulan setelah itu ada penerimaan presenter, saya pun mendaftar. Suatu hari saya ditelepon disuruh masuk jam 12 malam membawakan acara Headline Malam. Tentu saja saya kaget karena belum pernah siaran malam. Waktu itu, enggak ada orang lain kecuali saya. Pokoknya saya juaranya gantiin orang, deh. Hahaha.

Grogi banget, waktu di studio harus di make-up dulu, rambut pakai

Gaya Tim saat liputan.

gel segala. Sebelum tayang, saya baca berita sampai berulang-ulang, hingga detik terakhir mengharap ada yang gantiin. Anehnya, begitu di depan kamera, malah pasrah, ternyata enggak grogi sama sekali. Semua berjalan lancar. Meskipun setelah acara selesai keringatan. Hahaha. Tapi saya senang karena sebagai latihan.

Setelah beberapa kali bawa acara, barulah membawakan acara dengan durasi setengah jam, Indonesia This Morning. Percaya enggak, itu juga menggantikan teman yang sakit. Haha.

Apa saja suka dukanya?
Di acara Metro Pagi, semua presenter munculnya barengan, kami harus cepat tanggap, jangan sampai ada waktu kosong. Yang agak susah itu soal kerapihan, apalagi pas awal dulu, pembagian tugasnya belum pas. Ada yang kebanyakan bicara, yang lain diam. (Bersama 6 presenter lain, Tommy Tjokro, Prabu Revolusi, Cheryl Tanzil, Prita Laura, Aviani Malik, dan Marissa Anita, Tim bahu membahu membuat acara jadi menarik).

Kami mendapatkan complain terbesar masalah itu. Makanya kami harus mengakrabkan dengan masing-masing presenter untuk membangun chemistry-nya. Setelah siaran, kami rapat, mengatakan terus terang apa yang tidak disukai. Misalnya, ada yang terlalu banyak bicara.

Menurut Anda, bagaimana karakter Anda di teve?

Kata teman-teman karakter saya suka menyindir. Tapi malah dinilai bagus. Pernah di acara, Pak Susno (Susno Duadji) menangis. Lalu saya tanggapi, “Kalau polisi suka dibilang buaya, menangis itu air mata buaya, dong?” Hahaha. Atau ketika membahas AC yang bisa mematikan virus, saya tanggapi, “Semoga ada juga AC yang bisa mematikan virus korupsi.”

Nah, akhirnya sekarang saya disuruh terus mempertahankan hal tersebut untuk menghidupkan suasana. Tanggapan itu keluar dengan sendirinya dari kepala tanpa ada konsepnya. Bayangkan saja, ketika saya menerima omongan dari presenter lain, enggak mungkin diam. Kadang muncul di detik terakhir juga. Pernah juga bengong atau blank enggak ngerti mau omong apa. Ada 3 menit tersisa, harus cepat ambil ide, misalnya baca berita di koran. Bisa juga langsung baca berita saja. Semuanya harus cepat dan belajar dari kebiasaan, jadi terbiasa dengan situasi seperti itu.

Tampaknya Anda sangat menikmati pekerjaan Anda, ya?
Saya suka, meskipun sulit ya membuat orang tertarik ngomongin politik pagi-pagi. Padahal, latar belakang saya bukan dari pendidikan jurnalistik atau broadcasting. Saya, kan, lulusan sekolah bisnis ekonomi di Malaysia. Dunia jurnalistik membuat saya tahu semuanya karena bertemu masalah ekonomi, politik, sosial. Apalagi kalau sudah wawancara mulai dari orang kehilangan anak sampai politikus tinggi.

Akhirnya, pernah liputan ke luar negeri?

Pernah ke Malaysia. Saya harus mendapatkan wawancara dengan Menteri Pertahanan Malaysia. Wah, pusing juga bagaimana caranya karena susah, kan. Untungnya di bandara Malaysia saya ketemu anggota DPR yang mau bertemu orang-orang di Departemen Pertahanan Malaysia. Mungkin karena saya sudah akrab sebelumnya, malamnya mereka mengajak bertemu dengan Menteri pertahanan Malaysia. Saya sampai sewa taksi Rp 400 ribu, meskipun belum ada jaminan bisa wawancara.

Dengan memakai setelan jas, saya menunggu selama 1,5 jam, sampai akhirnya dipersilakan masuk dan bisa ngobrol dengan menterinya. Padahal teve lain enggak bisa melakukan wawancara. Lucunya, teman sekolah saya di Malaysia ternyata keponakannya sang menteri . Tapi dia juga enggak mudah ketemu karena harus janji dulu dengan ajudannya. Hahaha.

Liputan paling berkesan?
Liputan paling berkesan waktu saya dilatih di Media Indonesia selama 3 bulan. Karena jadi wartawan geraknya harus cepat, saya minta izin ke orangtua supaya diperbolehkan naik motor. Setelah bernegoisasi akhirnya orangtua mengizinkan asal naik skuter Vespa. Itu juga utang dulu ke orangtua, dicicil pelan-pelan karena mereka ingin memberikan pelajaran tanggungjawab.

Nah, skuter warna merah itu sampai saya kasih nama, Baba O’Reilly karena saya sangat suka dengan musik The Who.

Baba yang selalu setia menemaniku saat liputan.

Dengan vespa itu, liputan pertama saya sudah seperti reporter tahun 60-an. Baba sangat membantu dalam liputan. Uniknya, tanggal keluar dari pabriknya sama dengan ulang tahun saya, 21 Maret 2005. Pokoknya sudah sejiwa, deh. Karena sekarang jarang dipakai, Ibu sempat tanya kenapa enggak dijual saja. Saya jawab, ”Masa bagian tubuh sendiri dijual.” Hahaha. Dua hal yang paling disayangi sekarang, anjing saya bernama Foggie dan skuter Vespa, Baba.

Bagaimana hubungan Anda dengan orangtua?
Ayah, Dimpos Marbun dan Ibu, Rosliwaty Marbun berasal dari Sumatera Utara. Mereka memberikan kepercayaan yang besar pada anak-anaknya, makanya kami enggak berani melanggar kepercayaan itu. Kami bebas pulang jam berapa saja, asal bertanggungjawab. Kalau sekarang pulang malam, jelas alasannya karena wajahnya ada di teve, kan. Orangtua saya selalu menanamkan hal mendasar, harus bisa membedakan sesuatu, hidup itu kayak apa. Mereka selalu menerapkan agar kami selalu bercerita ke orangtua. Kalau enggak mau cerita ya sudah mereka tidak memaksa. Tapi suatu saat pasti kami cerita ke orangtua kalau ada masalah. Ujungnya, kan, kami memang mencari orangtua.

Ayah sosok pekerja keras, ya?
Ayah berasal dari desa yang sangat jauh di Sumatera Utara, pendidikannya STM tapi bisa sekolah ke Amerika. Berkat kerja keras dan kegagalan, beliau bisa seperti itu. Hal-hal seperti itu yang selalu saya pelajari, ternyata orang butuh kegagalan untuk mendapatkan kesuksesan.

Dulu beliau enggak bisa bahasa Inggris, pergaulannya dengan orang tertentu, lalu menikah dengan penghasilan sangat kecil. Kemudian mencoba jadi sopir tapi enggak keterima, akhirnya depresi. Kalaupun ada kerjaan harus bisa bahasa Inggris. Akhirnya dia belajar Inggris sendiri tanpa les karena enggak punya uang. Ketika diterima kerja, eh malah sampai bisa membawa keluarganya ke Amerika. Coba kalau dulu tidak gagal, belum tentu bisa ke Amerika. Intinya, jangan sedih dengan kegagalan. Ayah menjadi inspirasi saya karena sudah membuktikan dengan hidupnya. Jadi, kenapa harus banyak mengeluh.

Sudah punya pacar?

Pacar ada dari dunia yang sama, tapi belum memikirkan ke arah perkawinan. Kalau memang dikasih jodohnya pasti ada waktunya. Soal jodoh enggak akan sedetik terlambat dan sedetik terlalu cepat, kok.

Noverita K. Waldan

sumber: tabloid Nova

4 thoughts on “Timothy Marbun

  1. Appara, sian Bakkara do asal ni si Timoty on,
    nandigan hamu ketemu?

    Nunga tung pesat perkembangan ni Blok Tokoh Batak on dibahen appara.
    Andigan ma dirilis ke arah Bisnis songon naung leleng ta rang-rangi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s