Robinson Bakara


Robinson Bakara dan Ekonomi Rakyat

Robinson Bakkara

Rabu, 28 April 2010 | 03:27 WIB

OLEH KHAERUDIN

Kadang kalau diminta jadi pembicara seminar, penyelenggara acara menyelipkan gelar sarjana ekonomi di belakang namanya. Padahal, Robinson Bakara hanya bertahan dua semester di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Santo Thomas Medan.

Namun, kepiawaian Robinson mengelola keuangan Pusat Koperasi Kredit membuat banyak orang menyangka dia bergelar sarjana ekonomi. Robinson adalah orang di belakang berdirinya Wira Koperasi (Wirakop) Satolop Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara. Wirakop adalah koperasi serba usaha yang dibentuk karena terjadi penumpukan dana menganggur (idle cash) pada koperasi kredit.

Wirakop bentukan Robinson adalah anak koperasi kredit atau credit union (CU) Satolop.

CU Satolop merupakan salah satu koperasi yang berada dalam jaringan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumut. Robinson sejak tahun 2007 menjabat sebagai Manajer Operasional Puskopdit Sumut. Sebagai manajer operasional, dia mengetahui persis banyaknya dana menganggur dari penumpukan modal yang disetorkan anggota koperasi kredit seluruh Sumut.

Soal dana menganggur (idle cash) ini di sisi lain juga menggambarkan betapa besarnya potensi ekonomi yang bisa digalang rakyat kecil seperti petani di desa. Robinson menuturkan, tahun 2006 saja total dana menganggur di semua CU di Sumut yang berada di bawah kendali Puskopdit mencapai Rp 147 miliar, dari total aset Rp 480 miliar. Jumlah anggota CU seluruh Sumut mencapai lebih dari 310.000 orang.

Dana menganggur muncul dari tidak seimbangnya jumlah setoran anggota dengan permintaan kredit yang diajukan. Dalam istilah CU, anggota memiliki kewajiban bulanan menyetorkan simpanan saham. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang koperasi menyebutkan, simpanan saham ini sebagai simpanan wajib anggota.

CU Satolop yang memiliki total anggota hingga 4.300 orang tahun 2006 mengalami penumpukan modal terparah. Dari aset sebesar Rp 18 miliar (aset ini terdiri dari semua simpanan anggota, semua cadangan modal), dana yang menganggur mencapai sebesar Rp 6 miliar.

Persoalan dana menganggur yang hampir merata terjadi di semua CU ini membuat Robinson berpikir memanfaatkannya untuk membuat koperasi serba usaha.

Klasik

Suatu saat, kawannya berdiskusi, Torop Marudut Hasudungan Sihombing, mencela koperasi kredit hanya bisa berlaku seperti layaknya rentenir. Padahal, menurut Torop, koperasi yang dilahirkan dari kebersatuan banyak orang harusnya jadi lembaga yang dapat tumbuh punya kekuatan ekonomi besar. Terlecut ucapan sang kawan, Robinson bersama dengan pengurus CU Satolop menggagas koperasi yang juga bisa berperan sebagai pasar dalam arti yang sesungguhnya bagi anggota.

Robinson sadar, mayoritas anggota CU adalah petani. Mereka selalu berhadapan dengan persoalan klasik dipermainkan pasar hingga sulit mengakses sarana produksi. Ketika harga sarana produksi naik, harga jual produksi pertanian malah tak stabil.

”Petani selama ini menggantungkan produksinya pada sistem pasar, yang dimonopoli agen, pengepul distributor, atau penampung tertentu. Petani tidak pernah punya akses mengatur harga dan kualitas produk. Contoh paling nyata di Siborongborong, pedagang atau pengumpul kopi bisa menentukan kualitas kopi, sementara petaninya tidak. Hal ini yang membuat standar harga kopi tak ditentukan petani yang memproduksinya,” katanya.

Petani, kata Robinson, sebenarnya cukup memahami dan menyadari bahwa komunitas mereka bisa membentuk pasar sendiri. Petani tidak perlu menjual ke agen-agen atau pedagang karena produksi yang dihasilkan bermacam-macam. Di antara petani bisa saling membutuhkan. Petani beras membutuhkan produk dari petani kopi atau petani sayur-mayur dan sebaliknya.

Akhirnya, pada 1 September 2006, dengan dukungan pengurus CU Satolop, Robinson membentuk Wirakop untuk pertama kali. Awalnya, Wirakop menjual sarana produksi pertanian dan bahan kebutuhan pokok. Anggota menjual hasil produksi ke Wirakop berupa beras dan bubuk kopi. Untuk hasil produksi pertanian berupa palawija dan hortikultura, Wirakop menghubungkan anggota petani dengan anggota yang pedagang.

Kini, Wirakop jadi badan usaha besar yang mampu mengakses kebutuhan produk sampai ke tingkat produsen. Wirakop membeli ratusan ton gula hingga minyak goreng langsung dari produsen. Hal ini membuat anggota terakses kebutuhan pokoknya dan mendapatkan harga yang sama dengan harga pasar di luar. ”Supermarket” Wirakop, yang kini masih menempati lantai dua gedung CU Satolop, mulai membangun gedung sendiri yang nilainya mencapai Rp 2,8 miliar.

Robinson pun mengonsep ketertarikan anggota tetap belanja di pasar yang mereka buat melalui margin keuntungan. Setiap anggota berhak mendapatkan sisa hasil usaha (SHU) yang merupakan margin keuntungan dalam transaksi jual-beli di Wirakop. Pembagian SHU terdiri dari jasa simpanan (deviden) yang disetorkan anggota setiap bulan dan besarnya 20 persen dari total SHU. Keuntungan kedua didapat anggota dari jasa pembelian dan besarnya 30 persen dari total SHU.

”Jasa pembelian dihitung berdasarkan sistem poin, di mana setiap anggota berbelanja Rp 1.000 mendapat satu poin jasa pembelian. Poin ini dihitung pada akhir tahun,” ujar Robinson. Ini memancing setiap anggota tetap belanja di Wirakop. ”Malah sering anggota belanja milik tetangganya yang bukan anggota Wirakop. Biar dapat banyak poin dan tambahan margin keuntungan,” kata Robinson.

Konsep Wirakop Robinson mendapat apresiasi. Keberhasilan Wirakop di Siborongborong mendorong Puskopdit Sumut mendirikan koperasi yang sama di beberapa daerah. Saat ini sudah berdiri Wirakop Dos Ni Tahi di Pinang Sori, Kabupaten Tapanuli Tengah, dua lagi embrio Wirakop tengah digagas di Samosir dan Karo. Dalam lima tahun ke depan, Puskopdit berencana membangun Wirakop pada sentra-sentra CU di setiap daerah. Di Sumut terdapat 14 kabupaten/kota yang menjadi sentra CU.

Keberhasilan Robinson mendirikan Wirakop menjadi bukti bahwa kedaulatan ekonomi rakyat bisa terwujud dalam bentuk koperasi. Simak ucapan Pasal Hutasoit, petani yang telah 15 tahun menjadi anggota CU Satolop. ”Sekarang saya tak lagi sulit mendapatkan pupuk dengan harga yang wajar. Bertani pun bisa dilakukan dengan tenang,” katanya.

Tak salah jika di belakang namanya terselip gelar ”sarjana ekonomi” meski Robinson tak pernah kelar menamatkan kuliahnya di jurusan ekonomi.

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/28/03274253/robinson.bakara.dan..ekonomi.rakyat

Iklan

Lodewijk Gultom


Lodewijk Gultom

Ada banyak Gultom. Tetapi, Gultom yang satu ini bisa membuat tercengang mereka yang mendengarkan pengakuannya. Dia mengajar dan menjadi Rektor Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, sekarang ini, karena frustrasi. Selama 32 tahun Presiden Suharto berkuasa, menurut dia, yang terjadi adalah proses pembodohan terhadap bangsanya.

Katanya, kalau dilihat latar belakang pendidikannya, pendiri dan presiden pertama Republik ini, Sukarno, sebelum menjadi presiden dia sudah seorang insinyur. Gagasan mengenai bangsanya jauh ke depan, yaitu nation and character building. Dia kirimkanlah putra-putra Indonesia terbaik untuk belajar ke luar negeri, seperti apa yang terjadi dalam proses Restorasi Meiji di Jepang.

Tiba-tiba, datanglah Suharto. Sekolah dasar saja dia tak lulus, katanya. Mereka yang belajar di luar negeri malahan dia larang pulang. Hebatnya lagi, dia undang kapital asing langsung masuk ke negari ini. Pembangunan karakter diabaikan. Ekonomi maju, dan yang terbangun adalah sikap mengejar kekayaan benda, bukan rohani. Sehingga orang berlomba-lomba mencari kekayaan dengan mengabaikan karakter. Yang ikut situasi ketika itu menjadi kaya.

Gultom tidak menyesal tidak ikut arus. Namun, dengan sinis dia berkata: ”Harus saya akui saya ini produk Orde Baru juga. Dan saya kira saya orang goblok. Saya tidak lentur untuk mengikuti pembangunan yang dituju oleh Pak Harto. Kalau ke dalam arus pembangunan itu saya juga ikut bersamba, ya, mungkin jalan hidup saya jadi lain. Saya, barangkali sudah sejak lama menjadi anggota DPR, terutama kalau dilihat latar belakang saya dulu di organisasi massa, di GMKI, KNPI, di Persahi.”

Mengapa Gultom tidak sudi mengikuti irama tarian yang ditabuh Suharto? Jawaban guru besar ilmu hukum ini menyentuh. Seorang presiden yang sedang silau dengan uang bukan bandingannya dengan Mutiara boru Pardede, Mamak kandungnya, yang hidup dalam kemiskinan yang bukan main. Ayah Lodewijk Gultom meninggal ketika sang anak baru dudukdi kelas dua sekolah dasar. Sang ibu harus membesarkan kedelapan anaknya seorang diri. Ibunya itu pernah bercerita kepadanya bahwa setiap sore dia menangis memikirkan, ”Mau dikasi makan apa anak-anak saya ini.”

Gultom ingat benar pesan Mamaknya bahwa hidup seseorang hanya bisa berubah dengan bersekolah. Walau miskin, harapan sang ibu bukannya bagaimana anak-anaknya itu menjadi kaya raya sebagai balas dendamnya pada kemiskinan yang telah dia tanggungkan. Yang dia inginkan mereka menjadi manusia yang kaya rohani. ”Saya selalu ingat, doa Mamak saya itu kalau kami sudah berkumpul: ’Tuhan, jangan kasi pomparan (keturunan) saya ini kekayaan atau apapun yang bisa membuat dia ginjang rohana, tinggi hatinya.” Dan doa itulah yang terus-menerus dipanjatkan Mamaknya setiap dia berjumpa dengan anak-anaknya, sampai mereka semua sudah menjadi manusia.

Tentang kekuatan doa Mamaknya itu, Gultom bilang: ”Itulah doa Mamak saya, dan saya benarkan itu. Karena itu adalah kebenaran.” Dan menurut dia, tak ada di antara mereka delapan bersaudara yang menjadi si panggaron, tipikal orang Batak yang sok kaya dengan jiwa yang miskin. Yang dicari Lodewijk Gultom adalah kekayaan rohani dengan doa Mamaknya sebagai penyuluh terang. ”Kebersamaan, kesetaraan di kalangan kami anak-anak Mamak, itulah yang menjadi kebanggan saya sekarang. Kekayaan ini datang berkat orangtua saya.”

Telah terjadi kemerosotan derajat orang-orang Batak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Juga di Bona Pasogit, kampung halaman, mereka. Siapa yang bisa menolong?

Gereja dan sekolah yang bisa menyelamatkan ini. Citra orang Batak sudah berubah, meninggalkan jati diri mereka sebagai etnis yang sangat memuliakan pendidikan. Lihatlah, di Jakarta ini juga ada Raja Hata, orang yang dihormati yang sangat bijak dalam mengemukakan pandangannya yang meneduhkan hati. Tetapi, dia harus dibayar, Rp 400.000 atau satu juta rupiah. Dulu, Raja Hata ini adalah orang tua yang sangat terpandang dan hidupnya berkecukupan. Dia selalu mengenakan jas. Kerjanya jalan-jalan. Dia membantu masyarakat menyelesaikan masalah mereka. Dikasi uang dia terima, tidak juga tak apa-apa. Raja Hata ini sudah tak ditemukan lagi setelah 1965, setelah pecahnya G30S.

Bagaimana Anda melihat persepsi orang Batak sekarang ini mengenai hamoraon (kekayaan) sebagai salah satu dari tiga tujuan hidup yang mulia?

Mindset orang Batak tentang hamoraon adalah kekayaan sebagai kekayaan benda semata-mata. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tak ada cita-cita di sana. Sikap kita terhadap pendidikan juga sudah mengalami degradasi, karena mau mengejar hamoraon yang material itu. Generasi Batak setelah Nommensen bagus-bagus. Gereja, rumahsakit, dan sekolah maju sampai tahun 1970. Setelah tahun itu orientasi pendidikan adalah uang dan kekuasaan. Pendidikan kita disorientasi, dan itu tak dijaga oleh gereja. TD Pardede masuk ke yayasan Nommensen. Pardede mengubah visi pendidikan karena dia seorang bisnis. Pardedelah, menurut saya, yang telah mengubah visi kita tentang pendidikan. Dialah yang memasukkan bisnis ke dunia pendidikan kita. Sejak itu, orang mulai melihat bahwa pendidikan itu adalah uang, mahal, dan yang mau masuk harus punya uang.

Apakah bisnis tak boleh masuk ke dunia pendidikan?
Menurut saya bukan itu bisnis-nya pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Uang, sarana, itu perlu! Tetapi, bukan utama. Saya disuruh mencari uang sekaligus mendidik orang. Bagaimana ini mungkin?! Karena itulah Mahkamah Konstitusi menolak undang-undang badan hukum pendidikan baru-baru ini. Harus diingat, cikal-bakal korupsi adalah diberikannya kedudukan yang terlalu banyak kepada seseorang. Dia melaksanakan fungsi pendidikan, dia mencari uang, dia mengelola uang. Kacaulah!

Anda menentang Orde Baru, apakah Anda anti-kemajuan ekonomi?
Kemajuan ekonomi itu bukan tujuan, dia adalah dampak dari kemajuan pembangunan sumber daya manusia! Batak itu cinta pendidikan. Setelah Orde Baru semua orang berlomba-lomba menjadi orang kaya. Gereja, sekolah, rumahsakit dibuat sebagai tempat mencari duit. Semestinya gereja, sekolah membina karakter manusia. Orang-orang yang berkarakter inilah yang seharusnya memimpin kita. Sekarang ukuran adalah apa mobilnya? Di mana rumahnya…?

Apa yang bisa disumbangkan Batak kepada etnis lain?
Kalau kita berbicara mengenai etnis, kita berbicara keunggulkan Batak yang tidak dimiliki etnis lain. Keunggulan Batak adalah keberanian. Berani bersikap, berani bertanggungjawab. ’Mati…, matilah…’ kata orang Batak. Sementara etnis lain masih harus hitung-hitung. Batak berani mengambil keputusan, bertanggungjawab, berani tidak populer. Pemimpin kita sekarang tak ada yang berani. Keberanian yang kita bicarakan adalah keberanian positif. Bukan keberanian Gayus Tambunan yang telah dimanfaatkan oleh orang lain. Itu jangan ditiru!

Lodewijk Gultom lahir di Pematang Siantar, 20 September 1956. Dia menyelesaikan sekolahnya sampai SMA di kota kelahirannya itu. Lulus fakultas hukum (S1) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, 1981, pascasarjana ilmu hukum (S2) Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993, dan S3 ilmu hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003. *** Hotman J Lumban Gaol


Komersialisasi Merusak Pendidikan
(2)
Oleh: Hotman J Lumban Gaol

I L Nommensen adalah orang yang berjasa untuk memajukan orang Batak, sehingga dia pun disebut Apostel Batak. Nommensen masuk dengan pemikiran pemikiran pendidikan, kesehatan dan agama. Maka dibangun sekolah, rumah sakit dan gereja.

Lodewijk Gultom Rektor Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, menyebutkan, gagasan I L Nommensen tentang pendidikan, kesehatan dan agama yang membuat orang Batak maju. Tetapi itu hanya nostalgia, sekarang pendidikan di tanah Batak mundur.

Mengapa seperti itu? “Terjadi kemerosotan derajat orang-orang Batak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Hanya gereja dan sekolah yang bisa menyelamatkan ini. Citra orang Batak sudah berubah, meninggalkan jati diri mereka sebagai etnis yang sangat memuliakan pendidikan. Mindset orang Batak tentang hamoraon adalah kekayaan sebagai kekayaan benda semata-mata. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tak ada cita-cita di sana. Sikap kita terhadap pendidikan juga sudah mengalami degradasi, karena mau mengejar hamoraon yang material itu,”terang pria kelahiran Pematang Siantar, 20 September 1956, ini.

Bagi dia, generasi Batak setelah Nommensen bagus-bagus. Gereja, rumahsakit, dan sekolah maju sampai tahun 1970. Setelah tahun itu orientasi pendidikan adalah uang dan kekuasaan. Pendidikan kita dis-orientasi, dan itu tak dijaga oleh gereja. TD Pardede masuk ke yayasan Nommensen. Pardede mengubah visi pendidikan karena dia seorang bisnis. Pardedelah, menurut saya, yang telah mengubah visi kita tentang pendidikan. Dialah yang memasukkan bisnis ke dunia pendidikan kita. Sejak itu, orang mulai melihat bahwa pendidikan itu adalah uang, mahal, dan yang mau masuk harus punya uang.

“Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Uang, sarana, itu perlu! Tetapi, bukan utama. Saya disuruh mencari uang sekaligus mendidik orang. Bagaimana ini mungkin?! Karena itulah Mahkamah Konstitusi menolak undang-undang badan hukum pendidikan. Harus diingat, cikal-bakal korupsi adalah diberikannya kedudukan yang terlalu banyak kepada seseorang. Dia melaksanakan fungsi pendidikan, dia mencari uang, dia mengelola uang. Kacaulah!”Sekarang, katanya lagi, gereja, sekolah, rumahsakit dibuat sebagai tempat mencari duit. Semestinya gereja, sekolah membina karakter manusia. Orang-orang yang berkarakter inilah yang seharusnya memimpin kita.

Apa yang membuat kemunduran pendidikan di tanah Batak? “Salah satu kesalahan kita adalah sikap menjawab kemiskinan itu salah. Kalau Nommensen itu menyingkapi kemiskinan dengan mendirikan sekolah, rumah sakit dan sekolah. Sedangkan kita lupa mengembangkan itu, malah menyepelekan dan meninggalkan,”ujar lulusan fakultas hukum (S1) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, 1981, pascasarjana ilmu hukum (S2) Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993, dan S3 ilmu hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003.

Lalu, apa hubungan ketiga ini; rumah sakit, sekolah dan gereja? “Coba banyangkan kalau Anda sekolah, Anda sehat dan kemudian spritualistas Anda juga sehat, dan bertambah. Inikan akan memunculkan sumber daya manusia yang diharapkan, dimana-mana kita butuh itu. Kalau otaknya sehat tetapi pisiknya tidak sehat, tidak baik juga. Atau rohaninya baik tetapi otaknya tidak baik kacau juga. Maka ketiganya saling berhubungan pikirannya sehat, fisiknya sehat dan rohaninya sehat maka tentu lahir sumber daya manusia yang berkualitas.”

Kalau sekarang, menurutnya, tren sejak tahun 70-an orang Batak berubah orientasi, menonjolkan pendidikan melupakan gereja dan kesehatan. Maka yang terjadi lahirlah orang-orang yang pintar yang tidak punya karakter yang kuat; maka yang terjadi sekarang kita melihat semangat hedonis yang menguasai kita. Jadi orentasi itu juga didukung oleh filosofi hamoraon, hagabeon, hasangapon, itulah yang dicari.

“Sejak tahun 70-an bahwa pendidikan yang kita tonjolkan adalah pendidikan yang tujuannya uang. Jadi ada kesalahan dalam menyingkapi yang salah. Padahal, itu satu paket pendidikan, gereja dan kesehatan tadi. Kesalahan kita tentu tidak melanjutkan strategi yang dilakukan Nommensen jaman dulu. Gereja itu terpisah dari sekolah. Praktis pendidikan, kesehatan, dan gereja kita tinggalkan.”

Lanjut Lodewijk, memang individu masih memikirkan soal pendidikan. Tetapi orentasi pendidikan, lulus pendidikan tinggi itu adalah uang. Segalanya diukur dari materi yang dia punya. Karena dengan demikian kita mempertontokan kekayaan, yang sebenarnya lari dari esensi pendidikan. Kita suka pamer harta, padahal itu menunjukkan kita tidak terdidik.
“Perubahan filosofi hamoran habagabeon hasangapon itu adalah karena kemiskinan. Hanya saja kita salah menanggapi kemiskinan, kita terpesona dengan kekayaan materi, yang benarnya tidak salah, hanya saja yang terjadi orang berlomba-lomba menunjukkan hartanya sehingga semangat terdidik itu tidak terlihat,” tegasnya.

Jadi apa yang harus dilakukan untuk menjawab ke depan masalah pendidikan? “Saya kita harus menjawabnya dengan reevaluasi strategi tentang mendidikan yang penah kita rasakan dan yang sedang kita laksanakan dan apa yang hendak dilaksanakan ke depan. Jadi itu tadi kesimpulan saya adalah untuk menjawab ketertinggalan, kita harus dengungkan kembali; pendidikan yang baik, lembaga kesehatan yang baik dan tentu terakhir gereja yang baik.”

Lanjutnya, “Kalau ini dikelola niscaya peradaban kita akan cemerlang kembali. Ada pendidikan, ada rumah sakit dan ada lembaga agama yang ter-integritas. Ini bisa menjadi konsep nasional, secara keseluruhan bisa digunakan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Jadi tidak salah juga lembega pendidikan membuat tempat-tempat ibadah di kampus, dan rumah sakit.”

Di masa Nommensen pendidikan maju pesat si zaman itu, mengapa setelah di kita tidak ada kemajuan? “Itulah kesalahannya. Setelah dikasih pada orang Batak ini malah terjadi penurunan. Sampai sekarang ciri orang Batak adalah bagaimana untuk mamora. Jadi korupsi tidak menjadi takut asal mamora. Kita menjadi profit oriented. Apa yang membuat hal ini terjadi? Tentu ini disebabkan proses pendidikan itu dipisah-pisah. Jadi berjalan secara parsial dipisah. Jadi awal carut-marut pendidikan kita adalah karena ketiganya tidak dikelola dengan baik.”

Kita harus tinggalkan tujuan uang dalam pendidikan. Mestinya biaya pendidikan harus murah, bisa terjangkau. Motif uang kita harus tinggalkan. Jangan cinta uang, saya kira memang uang perlu, tetapi jangan karena tidak ada uang kita tidak bisa berbuat apaapa. Apa yang membuat yang salah? “Pemimpin mempertontonkan yang salah. Salah satu yang mereka tunjukkan adalah semangat memperkaya diri dan keluarga. Dan imbasnya hingga ke kalangan bahwa, bahwa yang terjadi adalah apa yang terjadi sekarang mereka hanya menjadi koruptor.”

Salah satu orang yang sederhana dan terus itu terjaga hingga hari tuanya adalah Rosihan Anwar adalah sosok wartawan yang sederhana yang bsa menjaga diri. Dia terkenal tetapi sangat menjaga ingeristsnya, orang seperti Rosihan Anwar yang amat langkah saat ini di negara ini. Semangat protestannisme itu membuatkan itu kita maju “ora et labora” adalah berkerja sambil berdoa.

Bagi Lodewijk, ada pergeseran tentang tujuan hidup. Dulu orang berkata iman, sekarang orang berkata bagaimana kaya, bagaimana memperoleh uang yang banyak. Kalau kita sekarang anak-anak kita kehidupan mereka sudah lain orientasinya, uang menjadi tujuan utama. Kalau dulu orang mementingkan idealisme, kalau sekarang tidak penting hal itu.

Secara nasional pendidikan nasional kita tertinggal jauh. Di bawa Malaysia dan Singapura, negara yang paling kecil dari negara kita. Apa yang salah? “Di kota standard pendidikan kita sudah standard internasional; tetapi tetapi di deareh masih terjadi kesenjangan jauh. Kalau indeks prestasi (IP) sekarang Malayasia 6, Singapura sudah 7. Sedangkan kita masih 5 secara nasional. Kualitas pendidikan kita itu dibawah Vietnam. Vietnam sudah masuk dalam kategori kualistas 5-6.

Kita masih di level lima, dan naikknya susah. Jadi pengelola pendiddikan kita tidak perbah berdasarkan pendidikan yang ada. Dulu kita usulkan 25 dari APBN kita disisikan untuk pendidikan, padahal maksud kita. Membangun sekolah di nusantara ini harus standard. Yang paling gila sekarang pendidkan sekarang sangat malah. Dan tidak bisa diakses semua orang, harusnya semua orang berhak atas pendidikan.

Lalu, apa resep pendidikan yang paling baik? “Membangun semangat belajar itu kan pondasi keluarga. Persoalan kita sekarang pendidikan diberikan pada lembaga pendidikan. Strategi pendidikan untuk menghindari kesenjangan itu adalah pondasinya di keluarga. Kalau keluarga tidak mampu memberikan pemahama basic berpikir, cara memandang dunia maka sebagus apa pun pendidikan formal yang ditempuh akan tetap ada yang kurang jika tidak dibangun dari keluarga.***Hotman J Lumban Gaol