Lodewijk Gultom


Lodewijk Gultom

Ada banyak Gultom. Tetapi, Gultom yang satu ini bisa membuat tercengang mereka yang mendengarkan pengakuannya. Dia mengajar dan menjadi Rektor Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, sekarang ini, karena frustrasi. Selama 32 tahun Presiden Suharto berkuasa, menurut dia, yang terjadi adalah proses pembodohan terhadap bangsanya.

Katanya, kalau dilihat latar belakang pendidikannya, pendiri dan presiden pertama Republik ini, Sukarno, sebelum menjadi presiden dia sudah seorang insinyur. Gagasan mengenai bangsanya jauh ke depan, yaitu nation and character building. Dia kirimkanlah putra-putra Indonesia terbaik untuk belajar ke luar negeri, seperti apa yang terjadi dalam proses Restorasi Meiji di Jepang.

Tiba-tiba, datanglah Suharto. Sekolah dasar saja dia tak lulus, katanya. Mereka yang belajar di luar negeri malahan dia larang pulang. Hebatnya lagi, dia undang kapital asing langsung masuk ke negari ini. Pembangunan karakter diabaikan. Ekonomi maju, dan yang terbangun adalah sikap mengejar kekayaan benda, bukan rohani. Sehingga orang berlomba-lomba mencari kekayaan dengan mengabaikan karakter. Yang ikut situasi ketika itu menjadi kaya.

Gultom tidak menyesal tidak ikut arus. Namun, dengan sinis dia berkata: ”Harus saya akui saya ini produk Orde Baru juga. Dan saya kira saya orang goblok. Saya tidak lentur untuk mengikuti pembangunan yang dituju oleh Pak Harto. Kalau ke dalam arus pembangunan itu saya juga ikut bersamba, ya, mungkin jalan hidup saya jadi lain. Saya, barangkali sudah sejak lama menjadi anggota DPR, terutama kalau dilihat latar belakang saya dulu di organisasi massa, di GMKI, KNPI, di Persahi.”

Mengapa Gultom tidak sudi mengikuti irama tarian yang ditabuh Suharto? Jawaban guru besar ilmu hukum ini menyentuh. Seorang presiden yang sedang silau dengan uang bukan bandingannya dengan Mutiara boru Pardede, Mamak kandungnya, yang hidup dalam kemiskinan yang bukan main. Ayah Lodewijk Gultom meninggal ketika sang anak baru dudukdi kelas dua sekolah dasar. Sang ibu harus membesarkan kedelapan anaknya seorang diri. Ibunya itu pernah bercerita kepadanya bahwa setiap sore dia menangis memikirkan, ”Mau dikasi makan apa anak-anak saya ini.”

Gultom ingat benar pesan Mamaknya bahwa hidup seseorang hanya bisa berubah dengan bersekolah. Walau miskin, harapan sang ibu bukannya bagaimana anak-anaknya itu menjadi kaya raya sebagai balas dendamnya pada kemiskinan yang telah dia tanggungkan. Yang dia inginkan mereka menjadi manusia yang kaya rohani. ”Saya selalu ingat, doa Mamak saya itu kalau kami sudah berkumpul: ’Tuhan, jangan kasi pomparan (keturunan) saya ini kekayaan atau apapun yang bisa membuat dia ginjang rohana, tinggi hatinya.” Dan doa itulah yang terus-menerus dipanjatkan Mamaknya setiap dia berjumpa dengan anak-anaknya, sampai mereka semua sudah menjadi manusia.

Tentang kekuatan doa Mamaknya itu, Gultom bilang: ”Itulah doa Mamak saya, dan saya benarkan itu. Karena itu adalah kebenaran.” Dan menurut dia, tak ada di antara mereka delapan bersaudara yang menjadi si panggaron, tipikal orang Batak yang sok kaya dengan jiwa yang miskin. Yang dicari Lodewijk Gultom adalah kekayaan rohani dengan doa Mamaknya sebagai penyuluh terang. ”Kebersamaan, kesetaraan di kalangan kami anak-anak Mamak, itulah yang menjadi kebanggan saya sekarang. Kekayaan ini datang berkat orangtua saya.”

Telah terjadi kemerosotan derajat orang-orang Batak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Juga di Bona Pasogit, kampung halaman, mereka. Siapa yang bisa menolong?

Gereja dan sekolah yang bisa menyelamatkan ini. Citra orang Batak sudah berubah, meninggalkan jati diri mereka sebagai etnis yang sangat memuliakan pendidikan. Lihatlah, di Jakarta ini juga ada Raja Hata, orang yang dihormati yang sangat bijak dalam mengemukakan pandangannya yang meneduhkan hati. Tetapi, dia harus dibayar, Rp 400.000 atau satu juta rupiah. Dulu, Raja Hata ini adalah orang tua yang sangat terpandang dan hidupnya berkecukupan. Dia selalu mengenakan jas. Kerjanya jalan-jalan. Dia membantu masyarakat menyelesaikan masalah mereka. Dikasi uang dia terima, tidak juga tak apa-apa. Raja Hata ini sudah tak ditemukan lagi setelah 1965, setelah pecahnya G30S.

Bagaimana Anda melihat persepsi orang Batak sekarang ini mengenai hamoraon (kekayaan) sebagai salah satu dari tiga tujuan hidup yang mulia?

Mindset orang Batak tentang hamoraon adalah kekayaan sebagai kekayaan benda semata-mata. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tak ada cita-cita di sana. Sikap kita terhadap pendidikan juga sudah mengalami degradasi, karena mau mengejar hamoraon yang material itu. Generasi Batak setelah Nommensen bagus-bagus. Gereja, rumahsakit, dan sekolah maju sampai tahun 1970. Setelah tahun itu orientasi pendidikan adalah uang dan kekuasaan. Pendidikan kita disorientasi, dan itu tak dijaga oleh gereja. TD Pardede masuk ke yayasan Nommensen. Pardede mengubah visi pendidikan karena dia seorang bisnis. Pardedelah, menurut saya, yang telah mengubah visi kita tentang pendidikan. Dialah yang memasukkan bisnis ke dunia pendidikan kita. Sejak itu, orang mulai melihat bahwa pendidikan itu adalah uang, mahal, dan yang mau masuk harus punya uang.

Apakah bisnis tak boleh masuk ke dunia pendidikan?
Menurut saya bukan itu bisnis-nya pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Uang, sarana, itu perlu! Tetapi, bukan utama. Saya disuruh mencari uang sekaligus mendidik orang. Bagaimana ini mungkin?! Karena itulah Mahkamah Konstitusi menolak undang-undang badan hukum pendidikan baru-baru ini. Harus diingat, cikal-bakal korupsi adalah diberikannya kedudukan yang terlalu banyak kepada seseorang. Dia melaksanakan fungsi pendidikan, dia mencari uang, dia mengelola uang. Kacaulah!

Anda menentang Orde Baru, apakah Anda anti-kemajuan ekonomi?
Kemajuan ekonomi itu bukan tujuan, dia adalah dampak dari kemajuan pembangunan sumber daya manusia! Batak itu cinta pendidikan. Setelah Orde Baru semua orang berlomba-lomba menjadi orang kaya. Gereja, sekolah, rumahsakit dibuat sebagai tempat mencari duit. Semestinya gereja, sekolah membina karakter manusia. Orang-orang yang berkarakter inilah yang seharusnya memimpin kita. Sekarang ukuran adalah apa mobilnya? Di mana rumahnya…?

Apa yang bisa disumbangkan Batak kepada etnis lain?
Kalau kita berbicara mengenai etnis, kita berbicara keunggulkan Batak yang tidak dimiliki etnis lain. Keunggulan Batak adalah keberanian. Berani bersikap, berani bertanggungjawab. ’Mati…, matilah…’ kata orang Batak. Sementara etnis lain masih harus hitung-hitung. Batak berani mengambil keputusan, bertanggungjawab, berani tidak populer. Pemimpin kita sekarang tak ada yang berani. Keberanian yang kita bicarakan adalah keberanian positif. Bukan keberanian Gayus Tambunan yang telah dimanfaatkan oleh orang lain. Itu jangan ditiru!

Lodewijk Gultom lahir di Pematang Siantar, 20 September 1956. Dia menyelesaikan sekolahnya sampai SMA di kota kelahirannya itu. Lulus fakultas hukum (S1) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, 1981, pascasarjana ilmu hukum (S2) Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993, dan S3 ilmu hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003. *** Hotman J Lumban Gaol


Komersialisasi Merusak Pendidikan
(2)
Oleh: Hotman J Lumban Gaol

I L Nommensen adalah orang yang berjasa untuk memajukan orang Batak, sehingga dia pun disebut Apostel Batak. Nommensen masuk dengan pemikiran pemikiran pendidikan, kesehatan dan agama. Maka dibangun sekolah, rumah sakit dan gereja.

Lodewijk Gultom Rektor Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, menyebutkan, gagasan I L Nommensen tentang pendidikan, kesehatan dan agama yang membuat orang Batak maju. Tetapi itu hanya nostalgia, sekarang pendidikan di tanah Batak mundur.

Mengapa seperti itu? “Terjadi kemerosotan derajat orang-orang Batak, terutama di kota besar seperti Jakarta. Hanya gereja dan sekolah yang bisa menyelamatkan ini. Citra orang Batak sudah berubah, meninggalkan jati diri mereka sebagai etnis yang sangat memuliakan pendidikan. Mindset orang Batak tentang hamoraon adalah kekayaan sebagai kekayaan benda semata-mata. Tidak lebih dari itu. Tidak seperti dulu lagi. Sudah tak ada cita-cita di sana. Sikap kita terhadap pendidikan juga sudah mengalami degradasi, karena mau mengejar hamoraon yang material itu,”terang pria kelahiran Pematang Siantar, 20 September 1956, ini.

Bagi dia, generasi Batak setelah Nommensen bagus-bagus. Gereja, rumahsakit, dan sekolah maju sampai tahun 1970. Setelah tahun itu orientasi pendidikan adalah uang dan kekuasaan. Pendidikan kita dis-orientasi, dan itu tak dijaga oleh gereja. TD Pardede masuk ke yayasan Nommensen. Pardede mengubah visi pendidikan karena dia seorang bisnis. Pardedelah, menurut saya, yang telah mengubah visi kita tentang pendidikan. Dialah yang memasukkan bisnis ke dunia pendidikan kita. Sejak itu, orang mulai melihat bahwa pendidikan itu adalah uang, mahal, dan yang mau masuk harus punya uang.

“Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Uang, sarana, itu perlu! Tetapi, bukan utama. Saya disuruh mencari uang sekaligus mendidik orang. Bagaimana ini mungkin?! Karena itulah Mahkamah Konstitusi menolak undang-undang badan hukum pendidikan. Harus diingat, cikal-bakal korupsi adalah diberikannya kedudukan yang terlalu banyak kepada seseorang. Dia melaksanakan fungsi pendidikan, dia mencari uang, dia mengelola uang. Kacaulah!”Sekarang, katanya lagi, gereja, sekolah, rumahsakit dibuat sebagai tempat mencari duit. Semestinya gereja, sekolah membina karakter manusia. Orang-orang yang berkarakter inilah yang seharusnya memimpin kita.

Apa yang membuat kemunduran pendidikan di tanah Batak? “Salah satu kesalahan kita adalah sikap menjawab kemiskinan itu salah. Kalau Nommensen itu menyingkapi kemiskinan dengan mendirikan sekolah, rumah sakit dan sekolah. Sedangkan kita lupa mengembangkan itu, malah menyepelekan dan meninggalkan,”ujar lulusan fakultas hukum (S1) Universitas Krisnadwipayana, Jakarta, 1981, pascasarjana ilmu hukum (S2) Universitas Padjadjaran, Bandung, 1993, dan S3 ilmu hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 2003.

Lalu, apa hubungan ketiga ini; rumah sakit, sekolah dan gereja? “Coba banyangkan kalau Anda sekolah, Anda sehat dan kemudian spritualistas Anda juga sehat, dan bertambah. Inikan akan memunculkan sumber daya manusia yang diharapkan, dimana-mana kita butuh itu. Kalau otaknya sehat tetapi pisiknya tidak sehat, tidak baik juga. Atau rohaninya baik tetapi otaknya tidak baik kacau juga. Maka ketiganya saling berhubungan pikirannya sehat, fisiknya sehat dan rohaninya sehat maka tentu lahir sumber daya manusia yang berkualitas.”

Kalau sekarang, menurutnya, tren sejak tahun 70-an orang Batak berubah orientasi, menonjolkan pendidikan melupakan gereja dan kesehatan. Maka yang terjadi lahirlah orang-orang yang pintar yang tidak punya karakter yang kuat; maka yang terjadi sekarang kita melihat semangat hedonis yang menguasai kita. Jadi orentasi itu juga didukung oleh filosofi hamoraon, hagabeon, hasangapon, itulah yang dicari.

“Sejak tahun 70-an bahwa pendidikan yang kita tonjolkan adalah pendidikan yang tujuannya uang. Jadi ada kesalahan dalam menyingkapi yang salah. Padahal, itu satu paket pendidikan, gereja dan kesehatan tadi. Kesalahan kita tentu tidak melanjutkan strategi yang dilakukan Nommensen jaman dulu. Gereja itu terpisah dari sekolah. Praktis pendidikan, kesehatan, dan gereja kita tinggalkan.”

Lanjut Lodewijk, memang individu masih memikirkan soal pendidikan. Tetapi orentasi pendidikan, lulus pendidikan tinggi itu adalah uang. Segalanya diukur dari materi yang dia punya. Karena dengan demikian kita mempertontokan kekayaan, yang sebenarnya lari dari esensi pendidikan. Kita suka pamer harta, padahal itu menunjukkan kita tidak terdidik.
“Perubahan filosofi hamoran habagabeon hasangapon itu adalah karena kemiskinan. Hanya saja kita salah menanggapi kemiskinan, kita terpesona dengan kekayaan materi, yang benarnya tidak salah, hanya saja yang terjadi orang berlomba-lomba menunjukkan hartanya sehingga semangat terdidik itu tidak terlihat,” tegasnya.

Jadi apa yang harus dilakukan untuk menjawab ke depan masalah pendidikan? “Saya kita harus menjawabnya dengan reevaluasi strategi tentang mendidikan yang penah kita rasakan dan yang sedang kita laksanakan dan apa yang hendak dilaksanakan ke depan. Jadi itu tadi kesimpulan saya adalah untuk menjawab ketertinggalan, kita harus dengungkan kembali; pendidikan yang baik, lembaga kesehatan yang baik dan tentu terakhir gereja yang baik.”

Lanjutnya, “Kalau ini dikelola niscaya peradaban kita akan cemerlang kembali. Ada pendidikan, ada rumah sakit dan ada lembaga agama yang ter-integritas. Ini bisa menjadi konsep nasional, secara keseluruhan bisa digunakan untuk memperoleh hidup yang lebih baik. Jadi tidak salah juga lembega pendidikan membuat tempat-tempat ibadah di kampus, dan rumah sakit.”

Di masa Nommensen pendidikan maju pesat si zaman itu, mengapa setelah di kita tidak ada kemajuan? “Itulah kesalahannya. Setelah dikasih pada orang Batak ini malah terjadi penurunan. Sampai sekarang ciri orang Batak adalah bagaimana untuk mamora. Jadi korupsi tidak menjadi takut asal mamora. Kita menjadi profit oriented. Apa yang membuat hal ini terjadi? Tentu ini disebabkan proses pendidikan itu dipisah-pisah. Jadi berjalan secara parsial dipisah. Jadi awal carut-marut pendidikan kita adalah karena ketiganya tidak dikelola dengan baik.”

Kita harus tinggalkan tujuan uang dalam pendidikan. Mestinya biaya pendidikan harus murah, bisa terjangkau. Motif uang kita harus tinggalkan. Jangan cinta uang, saya kira memang uang perlu, tetapi jangan karena tidak ada uang kita tidak bisa berbuat apaapa. Apa yang membuat yang salah? “Pemimpin mempertontonkan yang salah. Salah satu yang mereka tunjukkan adalah semangat memperkaya diri dan keluarga. Dan imbasnya hingga ke kalangan bahwa, bahwa yang terjadi adalah apa yang terjadi sekarang mereka hanya menjadi koruptor.”

Salah satu orang yang sederhana dan terus itu terjaga hingga hari tuanya adalah Rosihan Anwar adalah sosok wartawan yang sederhana yang bsa menjaga diri. Dia terkenal tetapi sangat menjaga ingeristsnya, orang seperti Rosihan Anwar yang amat langkah saat ini di negara ini. Semangat protestannisme itu membuatkan itu kita maju “ora et labora” adalah berkerja sambil berdoa.

Bagi Lodewijk, ada pergeseran tentang tujuan hidup. Dulu orang berkata iman, sekarang orang berkata bagaimana kaya, bagaimana memperoleh uang yang banyak. Kalau kita sekarang anak-anak kita kehidupan mereka sudah lain orientasinya, uang menjadi tujuan utama. Kalau dulu orang mementingkan idealisme, kalau sekarang tidak penting hal itu.

Secara nasional pendidikan nasional kita tertinggal jauh. Di bawa Malaysia dan Singapura, negara yang paling kecil dari negara kita. Apa yang salah? “Di kota standard pendidikan kita sudah standard internasional; tetapi tetapi di deareh masih terjadi kesenjangan jauh. Kalau indeks prestasi (IP) sekarang Malayasia 6, Singapura sudah 7. Sedangkan kita masih 5 secara nasional. Kualitas pendidikan kita itu dibawah Vietnam. Vietnam sudah masuk dalam kategori kualistas 5-6.

Kita masih di level lima, dan naikknya susah. Jadi pengelola pendiddikan kita tidak perbah berdasarkan pendidikan yang ada. Dulu kita usulkan 25 dari APBN kita disisikan untuk pendidikan, padahal maksud kita. Membangun sekolah di nusantara ini harus standard. Yang paling gila sekarang pendidkan sekarang sangat malah. Dan tidak bisa diakses semua orang, harusnya semua orang berhak atas pendidikan.

Lalu, apa resep pendidikan yang paling baik? “Membangun semangat belajar itu kan pondasi keluarga. Persoalan kita sekarang pendidikan diberikan pada lembaga pendidikan. Strategi pendidikan untuk menghindari kesenjangan itu adalah pondasinya di keluarga. Kalau keluarga tidak mampu memberikan pemahama basic berpikir, cara memandang dunia maka sebagus apa pun pendidikan formal yang ditempuh akan tetap ada yang kurang jika tidak dibangun dari keluarga.***Hotman J Lumban Gaol

Iklan

6 thoughts on “Lodewijk Gultom

  1. Ini seperti apa yang selalu ditanamkan oleh Bapak kami, Luhut Pandjaitan, bahwa yang penting adalah belajar, belajar, dan belajar. Dan beliau juga menanamkan kepada kami, bahwa jangan berorientasi kepada gaji (uang) di lapangan kerja, tetapi berkarya lah.

    Salut dengan orang-orang yang punya pemikiran seperti ini dan berani menyuarakan pemikirannya untuk kemajuan putra-putri Batak!

  2. Saya mengenal beliau ( Dr. Lodewijk Gultom), semasa masih di Pematang Siantar , karena kami memang tetanggaan. Sungguh TUHAN memberkati dan memimpin anak-anak keluarga Gultom ini. Kiranya, legasi dan impiannya terhadap generasi penerus , akan menjadi satu inspirasi.

  3. apa yang ditanam itu yang dituai. unang eme namasak digagat ursa i namasa ima ni ula. dao ma sisongoni atea bapa…………..!!!!!!!!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s