Robinson Bakara


Robinson Bakara dan Ekonomi Rakyat

Robinson Bakkara

Rabu, 28 April 2010 | 03:27 WIB

OLEH KHAERUDIN

Kadang kalau diminta jadi pembicara seminar, penyelenggara acara menyelipkan gelar sarjana ekonomi di belakang namanya. Padahal, Robinson Bakara hanya bertahan dua semester di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Santo Thomas Medan.

Namun, kepiawaian Robinson mengelola keuangan Pusat Koperasi Kredit membuat banyak orang menyangka dia bergelar sarjana ekonomi. Robinson adalah orang di belakang berdirinya Wira Koperasi (Wirakop) Satolop Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara. Wirakop adalah koperasi serba usaha yang dibentuk karena terjadi penumpukan dana menganggur (idle cash) pada koperasi kredit.

Wirakop bentukan Robinson adalah anak koperasi kredit atau credit union (CU) Satolop.

CU Satolop merupakan salah satu koperasi yang berada dalam jaringan Pusat Koperasi Kredit (Puskopdit) Sumut. Robinson sejak tahun 2007 menjabat sebagai Manajer Operasional Puskopdit Sumut. Sebagai manajer operasional, dia mengetahui persis banyaknya dana menganggur dari penumpukan modal yang disetorkan anggota koperasi kredit seluruh Sumut.

Soal dana menganggur (idle cash) ini di sisi lain juga menggambarkan betapa besarnya potensi ekonomi yang bisa digalang rakyat kecil seperti petani di desa. Robinson menuturkan, tahun 2006 saja total dana menganggur di semua CU di Sumut yang berada di bawah kendali Puskopdit mencapai Rp 147 miliar, dari total aset Rp 480 miliar. Jumlah anggota CU seluruh Sumut mencapai lebih dari 310.000 orang.

Dana menganggur muncul dari tidak seimbangnya jumlah setoran anggota dengan permintaan kredit yang diajukan. Dalam istilah CU, anggota memiliki kewajiban bulanan menyetorkan simpanan saham. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang koperasi menyebutkan, simpanan saham ini sebagai simpanan wajib anggota.

CU Satolop yang memiliki total anggota hingga 4.300 orang tahun 2006 mengalami penumpukan modal terparah. Dari aset sebesar Rp 18 miliar (aset ini terdiri dari semua simpanan anggota, semua cadangan modal), dana yang menganggur mencapai sebesar Rp 6 miliar.

Persoalan dana menganggur yang hampir merata terjadi di semua CU ini membuat Robinson berpikir memanfaatkannya untuk membuat koperasi serba usaha.

Klasik

Suatu saat, kawannya berdiskusi, Torop Marudut Hasudungan Sihombing, mencela koperasi kredit hanya bisa berlaku seperti layaknya rentenir. Padahal, menurut Torop, koperasi yang dilahirkan dari kebersatuan banyak orang harusnya jadi lembaga yang dapat tumbuh punya kekuatan ekonomi besar. Terlecut ucapan sang kawan, Robinson bersama dengan pengurus CU Satolop menggagas koperasi yang juga bisa berperan sebagai pasar dalam arti yang sesungguhnya bagi anggota.

Robinson sadar, mayoritas anggota CU adalah petani. Mereka selalu berhadapan dengan persoalan klasik dipermainkan pasar hingga sulit mengakses sarana produksi. Ketika harga sarana produksi naik, harga jual produksi pertanian malah tak stabil.

”Petani selama ini menggantungkan produksinya pada sistem pasar, yang dimonopoli agen, pengepul distributor, atau penampung tertentu. Petani tidak pernah punya akses mengatur harga dan kualitas produk. Contoh paling nyata di Siborongborong, pedagang atau pengumpul kopi bisa menentukan kualitas kopi, sementara petaninya tidak. Hal ini yang membuat standar harga kopi tak ditentukan petani yang memproduksinya,” katanya.

Petani, kata Robinson, sebenarnya cukup memahami dan menyadari bahwa komunitas mereka bisa membentuk pasar sendiri. Petani tidak perlu menjual ke agen-agen atau pedagang karena produksi yang dihasilkan bermacam-macam. Di antara petani bisa saling membutuhkan. Petani beras membutuhkan produk dari petani kopi atau petani sayur-mayur dan sebaliknya.

Akhirnya, pada 1 September 2006, dengan dukungan pengurus CU Satolop, Robinson membentuk Wirakop untuk pertama kali. Awalnya, Wirakop menjual sarana produksi pertanian dan bahan kebutuhan pokok. Anggota menjual hasil produksi ke Wirakop berupa beras dan bubuk kopi. Untuk hasil produksi pertanian berupa palawija dan hortikultura, Wirakop menghubungkan anggota petani dengan anggota yang pedagang.

Kini, Wirakop jadi badan usaha besar yang mampu mengakses kebutuhan produk sampai ke tingkat produsen. Wirakop membeli ratusan ton gula hingga minyak goreng langsung dari produsen. Hal ini membuat anggota terakses kebutuhan pokoknya dan mendapatkan harga yang sama dengan harga pasar di luar. ”Supermarket” Wirakop, yang kini masih menempati lantai dua gedung CU Satolop, mulai membangun gedung sendiri yang nilainya mencapai Rp 2,8 miliar.

Robinson pun mengonsep ketertarikan anggota tetap belanja di pasar yang mereka buat melalui margin keuntungan. Setiap anggota berhak mendapatkan sisa hasil usaha (SHU) yang merupakan margin keuntungan dalam transaksi jual-beli di Wirakop. Pembagian SHU terdiri dari jasa simpanan (deviden) yang disetorkan anggota setiap bulan dan besarnya 20 persen dari total SHU. Keuntungan kedua didapat anggota dari jasa pembelian dan besarnya 30 persen dari total SHU.

”Jasa pembelian dihitung berdasarkan sistem poin, di mana setiap anggota berbelanja Rp 1.000 mendapat satu poin jasa pembelian. Poin ini dihitung pada akhir tahun,” ujar Robinson. Ini memancing setiap anggota tetap belanja di Wirakop. ”Malah sering anggota belanja milik tetangganya yang bukan anggota Wirakop. Biar dapat banyak poin dan tambahan margin keuntungan,” kata Robinson.

Konsep Wirakop Robinson mendapat apresiasi. Keberhasilan Wirakop di Siborongborong mendorong Puskopdit Sumut mendirikan koperasi yang sama di beberapa daerah. Saat ini sudah berdiri Wirakop Dos Ni Tahi di Pinang Sori, Kabupaten Tapanuli Tengah, dua lagi embrio Wirakop tengah digagas di Samosir dan Karo. Dalam lima tahun ke depan, Puskopdit berencana membangun Wirakop pada sentra-sentra CU di setiap daerah. Di Sumut terdapat 14 kabupaten/kota yang menjadi sentra CU.

Keberhasilan Robinson mendirikan Wirakop menjadi bukti bahwa kedaulatan ekonomi rakyat bisa terwujud dalam bentuk koperasi. Simak ucapan Pasal Hutasoit, petani yang telah 15 tahun menjadi anggota CU Satolop. ”Sekarang saya tak lagi sulit mendapatkan pupuk dengan harga yang wajar. Bertani pun bisa dilakukan dengan tenang,” katanya.

Tak salah jika di belakang namanya terselip gelar ”sarjana ekonomi” meski Robinson tak pernah kelar menamatkan kuliahnya di jurusan ekonomi.

sumber: http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/04/28/03274253/robinson.bakara.dan..ekonomi.rakyat

5 thoughts on “Robinson Bakara

  1. semua orang yang berjuang untuk rakyat miskin pasti akan selalu mendapat ide yg cemerlang,dan mudah diterima oleh masyarakat.sukses untuk robinson bakkara.SE

    1. Semua yang dikatakan Robinson Bakara tak satupun yang benar!!! Buktikan dengan melihat langsung mata anda dan berpikir layakkah semua itu atau hanya bicara saja

  2. Sukses sllu buat bapak robinson bakkara.SE.
    Bapak telah berhasil menggerakkan perekonomian rakyat disiborong2. Saya sangat mnyukai stiap artikel ttg wirakop cu satolop siborong2 dan saya prnah jg bt artikel ttg’a wlopun atas dasar tugas dr kmpus, tpi yg psti saya sangat tertarik dgn badan usaha ini,. skrg ne bnyk koperasi yg gagal, tpi klo badan usha kta yg satu tetap jaya n smkin maju.;-)

  3. Saya sangat tertarik dengan artikel ini.sukses untuk bpk.Robinson bakkara.SE.semoga badan usaha yg satu ini semakin berkembang.
    HORAS

  4. ada asap karena ada api. mengapa ada komentar kurang sedap pasti ada penyebab. mari koreksi diri sejauh mana yang saya katakan benar dan sejauh mana yang saya katakan kurang tepat. semua manusia ada kelemahannya. mari meminimalisir kelemahan kita. Trimssssssss…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s