Erwin Pardede


DENGAN TEKAD, KEBERANIAN DAN KEJUJURAN, AKU YAKIN DAPAT MERAIH HAMORAON, HAGABEON, HASANGAPON ( KEKAYAAN, BERKETURUNAN, KEHORMATAN )

Erwin Pardede

Sebagian yang mengenalku mengatakan bahwa aku sebagai putera Batak yang lahir di Pematang Siantar, 17 Agustus 1943, adalah seorang pemberani yang tegas dalam bertindak, trampil dan ulet dalam mencapai cita-cita, serta rasional mempergunakan kecerdasan.

Tahun 1964, bermodalkan ijazah STM, aku mencoba keberuntungan ke Jakarta. Kekejaman ibu kota, sempat menjadikanku gelandangan, dan calo ban di Sawah Besar, bahkan menjadi preman di Pasar Ular – Tanjung Priok. Penderitaan dan tantangan hidup selama 6 bulan, dapat kuakhiri ketika aku diterima sebagai karyawan bagian Tekhnik di NV Zain cabang Bandung.

Keberuntunganku tidak hanya sampai disitu, karena sambil bekerja, aku kuliah di SPPTN (D3). Sebagai karyawan yang berusaha disiplin dan haus untuk mengembangkan pengetahuan, membuatku pernah menjadi pimpinan proyek PT.Lanze dan PT. Sapta Daya di Bali, Makasar dan kota lainnya.

Gonjang – ganjing perekonomian Indonesia yang membuat perusahaan tempatku bekerja bangkrut, menjadikanku kembali menganggur, sehingga memaksaku menjadi penyelundup barang-barang kerajinan tangan (patung) ke Singapura, dan dari Singapura membawa barang elektronik ke Indonesia. Hal ini kulakukan selain mencari keuntungan, juga untuk memperlancar arus perekonomian Indonesia – Singapura yang pada saat itu sedang konfrontasi.

Walaupun akhirnya tertangkap saat mendarat di Gaol, Tanjung Pinang, tapi tidak pernah dihukum karena semua barang yang kubawa dari Singapura, dijadikan sogokan bagi penegak hukum. Untunglah sebelumya aku telah menyisihkan sebagian modalku, jadi setelah aku kembali ke Jakarta, masih memiliki modal untuk mendirikan perusahaan kontraktor PT. Lanze.

Tidak lupa dari ingatanku,di tahun 1986, sebelum aku membuka PT Lanze, sempat juga menjadi sales bursa komoditi (ilegal). Andaikan aku tidak berani membongkar penipuan bandit Hongkong pembawa komoditi tersebut ke Indonesia, bisa jadi ribuan pemilik uang (kelas menengah ke atas) di Republik ini dihabisi uangnya untuk di bawa ke Hongkong. Keberanian yang pertama kalinya kulakukan, yang menjadikanku dikenal dan populer di kalangan pemain bursa, sehingga mereka mengatakan,”Untunglah ada preman Siantar yang mampu menyandera bandit Hongkong, sehingga sebagian uang kita dapat dikembalikan”-ketika itu bandit Hongkong tersebut kusandera kurang lebih 3 hari.

Dengan modal yang minimal dan pengalaman yang belum memadai, tahap demi tahap PT. Lanze akhirnya mampu bersaing dengan kontraktor lain (pada tahun 80-an PT. Lanze termasuk 50 besar di bidang jasa konstruksi di republik ini), sehingga aku mampu mengembangkan anak perusahaan, antara lain PT Daya Mandiri Alam dan PT Naga Saco.

Untuk menunjang keberhasilan dalam usaha, sudah barang tentu diperlukan kemampuan berorganisasi, di mana aku pernah menjadi:

1. Wakil Ketua BPD Gapensi DKI Jakarta, tahun 1980-1983.
2. Wakil Ketua Bidang Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1981-1983
3. Ketua Departemen Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1983-1985
4. Sekretaris Jenderal BPP Gapensi, tahun 1983-1987
5. Ketua Kompartemen Jasa Konstruksi Kadin Jaya, tahun 1985-1994
6. Ketua Bidang Organisasi BPP PATI, tahun 1986 hingga 1994
7. Anggota Dewan Penasehat Kadin Jaya, tahun 1993-1994
8. Ketua Bid. Pemagangan, SDM, dan Ketenagakerjaan Kadin Indonesia, tahun 1994-1998
9. Ketua Bid. Organisasi DPP Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), tahun 1994-1998
10. Ketua BPP PATI, tahun 1994-1999
11. Ketua DPP Apindo Urusan Sosial, Juni 1998-1999
12. Sekretaris Pokja Sertifikasi Pekerja Bangunan di Depnaker, 1998-1999
13. Anggota Panitia Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Pusat (P4P), Oktober 1998-1999.

Motto yang terdapat dalam diriku mengatakan, “kebahagiaan akan diraih apabila kita mampu memberikan kebahagiaan bagi pihak lain”, menjadikanku menekuni oraganisasi bidang sosial, berupa Tim Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat, Penanggulangan Gelandangan dan Pengemis, Tim Koordinasi (Joint Coordinating Comitte) Pengembangan Sistem Rehabilitasi Vakasional di Depsos, maupun sebagai Koordinator Umum Forum Peduli Anak Indonesia (FPAI), Wakil Sekretaris Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) dan menjadi Sekretaris Jendral Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA).

Bukan itu saja, aku juga bersedia sebagai Ketua Perhimpunan Keluarga Pardede se Jabodetabek (2 periode) dan SekJen Partukkoan Dalihan Natolu (Palito). Dalam penelitianku tentang Adat Batak, aku berkesimpulan bahwa Adat Batak harus dikembalikan pada makna dan tujuan yang digariskan nenek moyang Bangso Batak, dan disesuaikan dengan kemajuan jaman.

Idealisme untuk ikut berpartisipasi mencapai adil dan makmur di republik Indonesia, memaksaku menantang Orde Baru saat kekuasaan Presiden Soeharto, sehingga berani mengkoreksi kebijakan pemerintah yang menurutku tidak memihak pada kepentingan rakyat. Salah satu keberanian yang fenomenal, ketika aku membongkar kebocoran APBN/APBD sebesar 40% akibat kolusi antara pengusaha dan pimpinan proyek.

Bukan itu saja, ketika Megawati Soekarnoputri teraniaya rejim Orde Baru, dan semua pihak seolah-olah menyingkirkan putri Bung Karno dari peta politik nasional, di mana untuk menyewa kantor pun pemilik gedung tidak bersedia memberikan gedungnya disewa karena takut akan memperoleh perlakuan tidak menyenangkan dari pejabat Orde Baru, justru aku bersedia memberikan kantorku dijadikan kantor DPP PDI “Pro Mega”.

Keinginanku mewujudkan cita-cita anak bangsa, juga kubuktikan dengan kesediaanku memberikan sarana dan prasarana pada aktivis yang akan menjatuhkan Orde Baru, hingga rumah yang sedang kutempati yang dianggap cukup memadai, dijadikan salah satu titik simpul dari kegiatan perencanaan maupun pengkaderan para mahasiswa dan aktivis lainnya.

Aku yakin, kehidupan adalah pilihan, dan pilihan menanggung resiko atau keberuntungan, di mana keberanianku menantang Orde Baru, mengganjal perkembangan usahaku. Walaupun demikian, cita-citaku menjadi anggota DPR-RI periode 1999-2004 dapat kuraih, dan bertugas di Komisi IV, legislasi, Pansus, Panja, dan Timsus berbagai RUU.

Keinginan untuk maju, tidak pernah kering dari sanubariku. Di mana kegagalanku mencapai ijazah kesarjanaan, mendorongku aktif di banyak organisasi, sehingga aku memiliki sertifikat sebagai penatar nasional BP7 dan jebolan LEMHAMNAS angkatan ke-6 (tahun 1983), sehingga aku pernah ditugaskan menjadi ;

1. Wakil Bendahara Pemenangan Pemilu Pusat PDI Perjuangan tahun 1999
2. Tim Perumus pada Rakernas Pengusaha Kecil KP2KO, Maret 1985
3. Ketua Komisi B pada Rakernas JKKRET Kadin Indonesia, Juli 1985
4. Tim Perumus seminar (tentang ekonomi negara-negara Eropa Timur), Desember 1985
5. Tim Perumus Munas ke-VI Kadin Indonesia, September 1985
6. Sebagai moderator di beberapa seminar dan pertemuan tingkat nasional lainnya
7. Pembicara pada berbagai seminar nasional, khususnya bidang yang terkait dengan masalah sosial, anak terlantar, dan ketenagakerjaan.

Pengalaman saat menjadi karyawan, pengusaha, dan ketika menjalankan organisasi profesi maupun organisasi sosial, terlebih-lebih setelah menekuni politik, aku berkesimpulan bahwa masyarakat Indonesia yang fanatik dan munafik adalah cikal-bakal keterpurukan perekonomian dan kendala dalam kemajuan jaman.

Keluarga berencana yang tidak berhasil, dan pemanfaatan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia yang tidak dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, menjadikan pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk, sehingga pengangguran setiap waktu meningkat.

Bertitik-tolak dari kecurigaanku atas pemikiran irasional dari agamawan maupun keraguan atas agama yang diwariskan orang tuaku, menjadikanku saat berumur 40 tahun mencoba menelusuri tempat ibadah di hampir tiga perempat negara di bumi ini untuk mencari Tuhan dan kebenaran. Sampai-sampai aku ikut menjalankan ibadah umroh ke Mekah dan Madinah.

Menurut pengamatanku, Tuhan atau Sang Pencipta tidak pernah berada di suatu tempat, tapi Dia berada di mana-mana, karena Dia bukan roh, wujud dan pribadi yang dapat diukur maupun dikualifikasi, tetapi Dia adalah kekuatan pencipta yang tidak memiliki pesaing, sehingga aku mengatakan tempat ibadah bukanlah rumah Tuhan.

Berdasarkan kecerdasanku dan pengalaman hidupku, aku berani tidak meyakini ajaran agama atau ajaran aliran kepercayaan yang terdapat di muka bumi.

Keyakinan 145 EP yang dihasilkan oleh kecerdasanku, menurutku adalah kebenaran yang mampu menciptakan perilaku Budibaik (cinta, damai, adil, toleransi untuk sejahtera), sehingga kebencian, dendam dan diskriminasi dapat dihapus dari muka bumi. Hal ini telah kurumuskan dalam bukuku yang berjudul ‘Keyakinan Yang Membebaskan’ dan novel ‘Kebohongan’.

Benar-tidaknya yang kukatakan, menurutku hidup dapat diarahkan mencapai cita-cita, asalkan rencana kehidupan dijalankan dan ditata untuk tidak menyusahkan atau merugikan pihak lain. Hal ini kubuktikan ketika berumur 55 tahun, aku pensiun mencari kekayaan dan telah mampu menyekolahkan anakku di dalam maupun di luar negeri. Tidak berlebih kalau beberapa orang yang mengenalku mengatakan, bahwa aku adalah manusia kontraversial yang diberkati Tuhan, yang telah mampu meraih hamoraon, hagabeon, dan hasangapon.

Ucapan di atas, terutama pengertian ‘berkat yang kuterima dari Tuhan’, kusangkal dengan keras, karena aku yakin bahwa kemampuan materi yang kumiliki adalah hasil rampokan (merampok kesempatan) dan menata kehidupan, bukanlah anugerah Tuhan setiap saat. Karena menurutku, kehidupan adalah berkat Tuhan saat manusia dicipta.

Kalaupun aku dan istriku dikatakan telah meraih hagabeon, semuanya berkat kehadiran ;

1. Errata Jundini Atmira, lahir 10 Juni 1972, menikah dengan Hardiansyah Nasution.
Anak : Sadira dan Queen.
2. Errinto Sahat Pahala, lahir 16 Juli 1973, menikah dengan Nurul.
Anak : Eriel Feitha Hasianni
3. Erly Ika Suminar, lahir 12 September 1974, menikah dengan Philip Sibarani.
Anak : Micha dan Rafael.
4. Ersan Timbul Marudut, lahir 8 Agustus 1977, belum menikah.
5. Erna Ade Surya Ponti, lahir 19 September 1981, menikah dengan Andri Panjaitan.
Anak : Nathan.

sumber: http://www.erwinpardede.com/index.php?option=com_content&view=article&id=46&Itemid=53

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s