Riki Sitohang


Brigjen Riki Sitohang, Kapusprovost yang Murah Senyum

Riki Sitohang

Mendengar kata provost, bayangan kita tentu akan tertuju pada sosok polisi yang kaku, berwajah dingin, dan seram. Jangankan warga sipil, kadang polisi biasa pun akan selalu ‘waspada’ jika bertemu dengan perwira provost.

Namun kesan itu tak berlaku bagi Brigjen (Pol) HP Sitohang. Kapusprovost yang baru menjabat 3 bulan ini selalu memasang wajah ceria dibalut senyum saat bertemu siapapun.

Menurut pria yang akrab disapa Riki Sitohang ini, kesan Provost yang seram sudah harus ditinggalkan. Polisi mesti memudahkan komunikasi dengan semua orang.

“Kita harus selalu menerapkan, senyum sapa dan salam. Itu harus, tidak hanya kopral sampai jenderal pun harus seperti itu,” ujar Riki saat berbincang dengan detikcom di sela-sela acara Simposium Nasional ‘Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme’ di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (27/7/2010).

Pria bernama lengkap Hebert Parulian Sitohang ini mengatakan, polisi bukanlah mahkluk kaku seperti robot. Polisi juga manusia biasa yang memiliki perasaan laiknya manusia biasa. Rasa itu harus ditunjukkan dengan perilaku wajah dan sapaan.

“Sudah bukan zamannya lagi kita kaku, polisi harus akrab dengan masyarakat dimulai dengan senyum,” ucap mantan Direskrimum Polda NTT ini.
Brigjen Riki Sitohang, Kapusprovost yang Murah Senyum

Sikap ramah dan santai juga sering Riki tunjukkan saat bertemu dengan wartawan. Meski hanya sekedar menyapa atau bersalaman.

Sifat Riki ini yang membawa angin segar bagi setiap juru warta untuk membuka percakapan. Biasanya, wartawan sangat sungkan mewawancarai seorang Kapusprovost karena memang dikenal kaku dan seram.

Dengan sifatnya itu, Riki ingin membuang kesan negatif provost. Ia yakin keramahan dan senyum bisa membuat orang lain lebih menghargai.

“Tapi tetap tegas loh,” tutupnya dengan senyum menyimpul.
(ape/gun)

Sumber:
iknews.com/read/2010/07/27/181748/1408028/608/brigjen-riki-sitohang-kapusprovost-yang-murah-seyum

Iklan

Rekson Sitorus



Rekson Sitorus: Gagal di Laut, Jaya di Tanah

PT Godang Tua Jaya mengelola sampah menjadi kompos

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol

Dia bukanlah seorang birokrat pemerintahan, yang mengenakan jas datang dengan petantang-petenteng memeriksa aparat bawahan. Dia juga bukan seorang pemimpin partai politik, yang dengan baju safari berpidato berjanji muluk-muluk untuk merebut suara rakyat dengan kebohongan-demi-kebohongan. Rekson Sitorus, 57 tahun, lebih mirip seorang bandar hamijon (kemayan) dari Samosir.

Tapi, tunggu! Jangan anggap enteng sosok kita yang satu ini! Memakai baju kaos T-shirt hitam bergambar ular naga yang sedang melingkar-lingkar yang membalut dadanya yang tambun, Reksonlah yang memberi makan kota Bekasi di Jawa Barat. Benar-benar memberi nafkah. Dari tangannyalah mengalir dana Rp 35 miliar pertahun untuk anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) kota kabupaten yang terletak di timur Jakarta tersebut.

Rekson Sitorus

Memulai hidup dengan bergulat bersama tanah urukan dan berani menantang sengitnya baunya sampah, halak kita Batak yang lahir di kampung Habinsaran, Toba Samosir, ini akhirnya menjadi pemilik PT Godang Tua Jaya, perusahaan yang dipercayakan pemerintah DKI Jakarta untuk mengelola tempat pembuangan sampah terpadu di Bantar Gebang, Bekasi. Pusat pembuangan dan pengelolaan sampah terbesar di Indonesia. Gayanya tidak seperti seorang pengelola proyek miliaran rupiah. Sikapnya lebih dekat dengan gaya seorang toké. Dia tidak menerima tamunya di ruang ber-AC. Tapi, di semacam pondok bambu yang nangkring di atas daratan menghadap ke hamparan tanah kosong berhektar-hektar luasnya di daerah yang bernama Pangkalan 10, Cilengsi, perbatasan Bekasi-Bogor. Tak jauh dari Kota Wisata Cibubur. ”Eee… Saya lebih senang begini. Lebih natural,” katanya melihat ke sekelilingnya yang hijau seraya memperbaiki letak duduknya di kursi sambil memutar-mutar jam tangannya yang kuning keemasan. Perkantorannya ini menjadi pusat divisi angkutan perusahaannya.

Rokoknya sambung-menyambung. Dia tentu kaya, walau tidak dia tunjukkan. Bisa dipahami, karena dia mencapai posisinya yang sekarang dengan susah-payah. Begitulah rupanya caranya mensyukuri kehidupan yang sedang dia tuai. Memang, terkesan dia seorang yang tidak konsisten dalam pilihan hidup. Tetapi, menikung dalam menempuh perjalanan hidup toh bukan satu dosa. Begini ceritanya: Setelah lulus SMA tahun 1971 di Pematang Siantar, dia tembak langsung ke Jakarta. Melamar ke Akademi Ilmu Pelayaran, sekolah tinggi yang menjadi favorit bagi mereka yang bercita-cita ingin hidup senang dengan menjadi nakhoda. Seseorang bermarga Simanjuntak, kenalannya yang bertempattingal di Tanjung Priok, membujuknya untuk melamar ke situ. Lulus tahun 1974.

”Setelah praktek di laut, saya tidak bisa menghayati pekerjaan itu. Batin saya berkata bahwa sosok saya bukan seorang pelaut. Berminggu-minggu terkatung-katung di laut, tak tahan. Saya tidak bisa menjiwai pekerjaan di laut.”

Jadi, sebenarnya apa sih cita-cita Anda pada mulanya? “Dulu, waktu kecil cita-cita saya sebenarnya luar biasa, mau menjadi presiden…!” katanya tertawa setengah mati. Ceritanya, dalam suasana hati tidak menentu, tampillah seseorang yang juga bermarga Sitorus yang mengajaknya berbisnis pengurukan tanah. ”Saya langsung berubah profesi. Setelah saya coba, saya perhatikan, saya merasa cocok. Saya langsung tertarik. Saya katakan pada diri saya, ah, ini dunia saya. Menjadi kontraktor penggalian tanah. Saya masih ingat waktu itu tahun 1980,” katanya bercerita.

Dari sinilah katanya pergulatan hidupnya menemukan jalan, dan perusahaan yang dia kelola berkembang dan berkembang terus. Masih jelas dalam ingatannya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Bantar Gebang itu dulunya adalah sumber tanah urukan untuk proyek pembangunan perumahan di Podomoro, Kelapa Gading, dan Sunter.

Toké haminjon
Dia menganggap Hiobaja Sitorus adalah ”guru”-nya dalam bisnis tanah uruk. Sang guru kemudian mengalihkan usaha ke bidang perhotelan dan mendirikan sebuah hotel di Tambun. Rekson Sitorus bertahan dengan lapangan pekerjaan yang dia anggap pas untuk hidupnya. Menyediakan jasa pelayanan pengurukan tanah. Cocok dengan jiwanya. Dan, puji Tuhan, dalam waktu tujuh tahun, dari seorang yang menjual tenaganya kepada orang lain, Rekson telah menjadi raja atas dirinya sendiri. Dia sudah menguasai 5 ha tanah di Bantar Gebang ketika pemerintah DKI memutuskan untuk membebaskan daerah itu untuk dijadikan tempat pembuangan sampah akhir untuk wilayah Jakarta. Pintu lebih terbuka buatnya untuk mengembangkan layar lebih lebar lagi mengarungi bisnis di dunia yang dianggap jorok oleh orang lain: sampah.

Pada tahun 1993 dia mendirikan PT Godang Tua Jaya. Nama itu agaknya sengaja dipilih karena di situ terkandung obsesi untuk menjadi ”berkah yang besar.” Apa salahnya untuk mematok sebuah harapan. Yang jelas ini bukan sekedar mimpi. Perusahaan yang dia kendalikan kemudian digandeng oleh pemodal besar, PT Navigat Organic Energy Ind., dengan melibatkan investasi sebesar Rp 700 miliar. Siapa di kampung Habinsaran, Toba Samosir, yang pernah mimpi punya bisnis dengan volume uang sebesar ini? Tidak seorang pedagang kemenyan paling piawai sekalipun.

Selain keputusannya yang tepat untuk menjauh dari laut, ada bakat yang sudah tertanam dan dibawanya dari kampungnya di Habinsaran. Bapaknya adalah seorang toké kemenyan. ”Kami, anak-anak, sering diajak orangtua untuk menyaksikan transaksi dan nego haminjon. Memang, kami tidak dilibatkan secara langsung, melainkan diberi kesempatan untuk mendengarkan orang-orang ngomong. Jadi, sejak kecil, kami sudah diperkenalklan dengan perdagangan hamijon dan kopi. Bapak kami mengumpulkan haminjon dan menjualnya di Pematang Siantar,” kenang Rekson.

Dia bersaudara enam orang. Empat laki-laki dan satu perempuan. Yang paling bontot lelaki, tinggal di kampung. Rekson anak kedua. Ada dua saudaranya yang juga berbisnis di bidang tanah urukan. ”Memang begitu, kalau sudah ada yang cukup makan di perantauan, maka diajaklah saudara dari kampung untuk bergabung. Maka, saya pun mengajak abang dan adik saya datang ke Jakarta.”

Salah seorang adiknya bekerja sebagai pegawai negeri, di Bulog. ”Tetapi, melihat tuduhan yang dilancarkan sekarang terhadap pegawai negeri, kita menjadi sedih. Karena tidak semua pegawai negeri korupsi. Misalnya, adik saya itu kalau tidak kita dukung secara finansial, maka dia tidak akan mampu menyekolahkan anaknya dan bisa membeli rumah. Padahal, kerjanya di Bulog,” katanya prihatin. Dia sendiri melarang anaknya untuk menjadi pegawai negeri. Sikap yang mungkin berseberangan dengan sebagian orang Batak yang silau oleh kekayaan materi.

Kalau tertawa, tawanya berderai. Perutnya yang sedikit menonjol turut berguncang. Tak ada yang ditahan. Rekson memiliki watak yang terbuka. Inilah mungkin yang membuat dia sukses dalam bisnis yang tak-bisa-tidak harus berhadapan dengan rupa-rupa manusia dengan segala karakternya. ”Kuncinya adalah mencoba berteman dengan banyak orang. Tak pernah mencari musuh. Itulah yang membuat kita bisa eksis sampai sekarang. Kita juga selalu berupaya berbuat baik terhadap lingkungan. Kepada karyawan pun saya tidak pernah menunjukkan bahwa saya bos. Pengalaman saya menunjukkan orang yang menamakan diri bos selalu bersikap kasar. Kepada aparat mereka juga sombong-sombong. Loh, masyarakat ini kan asetmu kok kau kasarin. Atau mungkin karena orang Batak itu punya karakter kasar seperti itu?!”

Mabuk-mabukan
Di dalam rumah tangga, percaya atau tidak, Rekson adalah juga seorang manajer yang peka dan tajam. Dia membiarkan istrinya, Lina boru Pasaribu, 56 tahun, tidak terlibat dalam perusahaan. Tugasnya memenuhi kodarat sebagai ibu, membesarkan dan mendidik anak-anak. Rekson bukanlah pelaut gagal yang tidak bisa melihat pantai untuk masa depan anak-anaknya. Dia adalah pelaut yang gagal, tetapi dia tahu pasti ke mana bahtera keluarganya akan dia layarkan. Anaknya empat. Yang pertama dan kedua kembar. Anak pertama, Rony Pandapotan Sitorus, dia tempatkan untuk mengelola divisi alat-alat berat. Ernika Tiurmauli boru Sitorus telah menikah dengan Douglas Manurung, yang sekarang duduk sebagai Managing Director PT Godang Tua Jaya. Anak ketiga, Elfrida Junita, menikah dengan Sidabutar, sementara yang paling bungsu, Henry Fonda Agung, yang membangun rumahtangga dengan pasangan yang dia kenal ketika kuliah di Yogyakarta, mengelola divisi angkutan.

Resesi ekonomi tahun 1998 juga menghantam Rekson. Sampai-sampai alat-alat usahanya disita karena tidak bisa menyelesaikan kewajiban. ”Saya menghadapi tantangan itu dengan sabar, dan tidak menyelasikannya dengan jalan orang yang kehilangan akal. Kawan-kawan saya menyelesaikannya dengan mabuk-mabukan, karena tak sanggup menghadapi kenyataan. Dan, tak sedikit mereka yang terjerat narkoba karena resesi itu,” katanya kalam.

Ketika diceritakan bahwa ada seseorang yang pernah melihat dia menahan tangis ketika sedang berdoa di Gereja Pentakosta Indonesia di daerah Cililitan, Jakarta, Rekson tertegun dalam duduknya. Disedotnya nikotin dari rokoknya dalam-dalam dan ujarnya: ”Kami datang dari Tapanuli ke Jakarta ini hanya membawa kolor saja. Jadi, kalau kita hitung-hitung, kalau kita bisa mencapai dan menikmati keberhasilan seperti ini, mustahillah itu karena kerja keras kita saja. Semua itu adalah karena kasih dan kemurahan Tuhanlah. Murni karena Tuhan memberikan itu kepada kita.”

Dia bisa memperkirakan keuntungan dalam bisnis yang terhitung dalam angka-angka. Tapi, dia juga sadar ada yang tak bisa dia perkirakan. Sesuatu yang datang dari Atas. ”Kadang tak disangka-sangka ada orang yang datang kepada kita membawa rezeki. Waktu kita berkeluh-kesah, tahu-tahu ada yang datang membawa order. Itu adalah kasih Tuhan,” katanya takzim.

J.P. Sitanggang


J.P. Sitanggang: Raja Na Pogos si Parlente

J P Sitanggang

Dalam sebuah kitab suci ada ungkapan “manusia menajamkan manusia.” Sesungguhnya ungkapan itu bisa diartikan manusia belajar dari manusia yang lain. Orang yang sedang berjuang patut mencontoh mereka yang telah berhasil menggapai impianya. J.P. Sitanggang, sosok orang Batak yang telah berhasil dan layak menjadi inspirasi bagi generasi muda Batak.
Nama aslinya adalah Jan Piter Sitanggang. Dia turunan Raja Sitanggang Bau. Nenek moyangnya salah satu raja ihutan, raja yang diangkat Belanda sebagai raja yang diakui huta-huta kala itu di Samosir. Dia lahir 10 Oktober 1938, di kaki Pusuk Buhit di kampung Tiga Urat Buhit, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir dari pasangan Karel Sitangggang dan Sorta Hutauruk.

Hidup memang terkadang bisa kita pilih, namun jalan hidup seseorang tidak ada yang tahu. Demikian juga dengan J.P. Sitanggang. Ketika masih belia, umur 7 tahun, sosok kita ini sudah ditinggal bapaknya, Karel. Namun, kedudukannya sebagai anak yatim tidak membuat hubungannya dengan keluarga jadi patah arang. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, dan hanya laki-laki satu-satunya, J.P. Sitanggang muda terus membantu ibunya, sibaso, bidan beranak di desanya. Dia tidak hanya dilahirkan tetapi juga dibentuk oleh tangan ibunya itu, tanpa mengenal ayah.

Dia dikenal sebagai orang yang gigih dengan etos kerja keras untuk mengubah kemiskinan menjadi dunia baru yang lebih nyaman. Pangkal perjalanan hidupnya dimulai ketika berkujung ke Donggala. Di tengah jalan dia berpapasan dengan sebuah pick-up. Di kaca depan mobil itu tertulis “Ala Ni Pogos”dengan huruf besar-besar sehingga seluruh sisi kaca tertutup tulisan. J.P. Sitanggang merenung seketika dan di dalam hati dia berkata bahwa pastilah pemilik mobil itu seorang pengusaha Batak dan sudah berhasil di Donggala. Kejadian itu menjadi sumber ilham bagi J.P. Sitanggang untuk berjuang mengubah hidupnya, dan ketika berhasil, dia menuliskannya dalam sebuah otobiogarafi berjudul “Ala ni Pogos.” Istrinya, Runggu boru Naibaho (seorang guru sekolah kepandaian putri SKP di Pangururan), menyarakan suaminya itu untuk mengganti judul itu menjadi Raja Na Pogos, karena konon ketika mahasiswa dia selalu dipanggil Raja Na Pogos, karena penampilannya yang selalu parlente.

Maka terbitlah buku riwayat hidupnya dengan judul Raja Na Pogos dan diterbitkan oleh Jala Permata Aksara. Dalam buku yang dikatakan sebagai biografi itu, J.P. Sitanggang banyak pula membahas budaya Batak, sedangkan tentang dirinya hanya beberapa halaman. Jadi, lebih terasa sebagai buku tentang adat Batak daripada riwayat hidup si Raja Na Pogos. Walau uraiannya tentang adat diakui banyak orang sangat terang-benderang.

Beberapa waktu lalu, buku itu diluncurkan berbarengan dengan seminar budaya Batak. Keren juga. Malamnya, acara itu disiarkan sebuah stasiun TV, juga RRI.

Ketika masih mahasiswa dia bukan orang yang tebal kantongnya. Tetapi, penampilan selalu keren, pakaiannya rapi. Walau celana hanya dua, tetapi terbuat dari bahan yang tahan lama dan tidak susah dicuci. Semua itu dia lakukan untuk menutupi kemiskinannya, menjaga imej, kata orang zaman sekarang, sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universiras Sumatera Utara.

Tahun 1960- an, JP Sitanggang sudah menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Sumatera Utara, sudah merupakan keharusan untuk ikut memplonco calon mahasiswa baru. Masa itu, JP Sitanggang membuat heboh, karena putri gubernur Sumatera Utara yang sedang plonco, dia berinya nama “Si Mahal Boras” atau si mahal beras. Intinya semacam kritik, kebetulan waktu itu semua kebutuhan hidup selain sulit diperoleh dan harganya juga pasti mahal. Si Mahal Boras menjadi brand kritik terhadap pemerintah, termasuk kepada sang gubernur ayah dari si empunya nama. Oleh keisengan JP Sitanggang dia menjadi terkenal di kampusnya. Dan lulus menjadi insiniyur pertanian dari Fakultas Pertanian Sumatera Utara.

Untuk mengujudkan mimpi-mimpinya Sitanggang tidak surut langkah, dia berani terus mengibarkan layar masa depannya, sekali layar sudah dikibar pantang baginya untuk disurutkan. Sedecing jalan ke muka, setepak jalan ke belakang, demikianlah Sitanggang menghibur diri untuk terus berjuang.

Tahun 1965, dia memulai karier di PNP Aneka Tanam V (Antan) milik pemerintah sebagai pegawai biasa dengan golongan F2, di perusahaan milik negara ini JP Sitanggang ditempatkan di Kebun Tinjowan untuk menangani serangan hama ulat api, masa itu hanya dilakukan pemberantasannya dengan debu, sehingga harus dilakukan malam hari hingga pagi hari dimana embun sudah melekat di daun debu insektisida dapat melekat. Puncak karienya, tahun 1983, di PT PN II, JP Sitanggang sudah menjadi direktur produksi II (PTP II sejak 1996 bergabung dengan PTP IX menjadi PTPN II ) Tanjung Merawa.
Pergaulannya yang luwes, bisa bergaul dengan siapa saja. Dekat dengan siapa saja, termasuk dengan Probosutedjo, adek tiri mantan presiden Soeharto. Probosutedjo dikenal seorang guru pertama di Pematang Siantar dikemudian hari menjadi pengusaha terkenal, salah satu lembaga pendidikan yang didirikannya adalah Universitas Mercuabuana.

Ketika itu sudah masuk dalam lingkaran pejabat di perkebunan negara, dia bergabung dalam persatuan karyawan perusahaan perkebunan (PERKAPPEN) dan merupakan bagian dari sentral organisasi karyawan swadiri Indonesia (SOKSI). SOKSI sendiri kita tahu adalah sayap partai Golkar. Masuknya ke lingkungan Golkar juga bukan tanpa dasar, dia diajak temannya Probosutedjo. Awalnya saat kampanye, salah satu lapangan pasti dekat pabriknya PT. Kedaung di Tanjung Morawa, milik Probosutedjo. Setelah meninjau proses pembuatan piring gelas pabrik, para tokoh dan juru kampanye jalan kaki dari pabrik ke lapangan sekitar seratusan meter di seberangnya, dan disinilah JP Sitanggang selalu ikut mengiringi pejabat juru kampaye Golkar. Waktu itu dia sudah direktur produksi, tetapi ambisi untuk mencapai direktur utama tidak dia manfaatkan kedekatannya dengan kekuasaan.

Dia adalah orang punya karakter. Sebagai direktur perkebunan milik Negara, JP Sitanggang tentu hidup dan ekonominya diatas rata-rata, artinya bisa tergolong mewah. Tetapi kesan kesederhanaan itu terus menonjol. Tidak pernah merepotkan anak buah, terkesan sederhana. Dan itulah yang membuat dia banyak diterima masyarakat perkebunan. Semua pekerjaan butuh agenda dan prioritas, konsentrasi yang penuh etos tidak boleh dilupakan. Mengerjakan yang utama dari hal yang tidak terlalu penting.

Karena menurutnya, banyak pekerjaan terbengkalai karena sebagian orang memikirkan masalah yang remeh-temeh. Seringkali tidak ada prioritas kerja, sehingga terlihat mengerjakan sesuatu tanpa hasil. Sibuk tetapi tanpa hasil. Jika tidak ada konsentrasi, maka ketika ada “masalah” membuat permasalahan makin tali-temali. Untuk itu, perlu kemampuan “strategi atau konsep,” mencari benang kusut, untuk menyelesaikan masalah. Dan itu dibutuhkan komitmen yang kuat.
Dia mencontohkan, untuk berbagai kegiatan dan acara dalam masyarakat Batak, terpaksa dimajukan jamnya untuk mencoba agar bisa tepat waktu. Misalnya disebutkan, acara yang diadakan pukul 13.00. Dalam undangan, terpaksa ditulis pukul 12.00. “Ini namanya pembodohan,” katanya.

Selain itu, Sitanggang dalam kehidupan sehari-hari tak luput dari kegiatan budaya dan adat Batak. Baginya, nilai-nilai yang dikandung dalam kekerabatan masyarakat Batak melalui Dalihan na Tolu mempunyai makna yang cukup dalam bila diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Bukan hanya itu saja, bila nilai-nilai Dalihan na Tolu diterapkan dalam segala hal, baik dalam pemerintahan, kehidupan sehari-hari, maka kontrol dalam diri masing-masing akan berjalan. Jadi tidak ada lagi saling merasa paling hebat,” katanya.

Selain itu, kemampuan JP Sitanggang untuk mengaktualisasikan pesan kepada seluruh jajaran organisasi secara bertingkat merupakan kebutuhan yang harus dimiliki seorang pemimpin, dan itu ada pada sosoknya. Dia mampu, mengasah kepekaan dan kesabaran untuk mampu mendengarkan, bukan sekedar mendengar pendapat, persepsi dan keluh kesah bawahan tanpa hirau dari mana gagasan itu datang.

Salah satu dimensi lain yang membuat JP Sitanggang bisa diterima semua level, tertinggi hingga terrendah di perkebunan. Dimensi lagi yang dekat dengan personifikasi beliau adalah keberanian mengambil keputusan bisnis yang dinyakininya benar, meskipun belum tentu lingkungan perusahaan memahaminya secara utuh. Dia memang tipe pemimpin yang berani, mengambil risiko tidak populer jika hal itu dinyakininya merupakan keputusan yang benar. Dan, bertanggung-jawab tanpa keraguan sedikitpun atas keputusannya.

“Beliau selalu memberikan inspirasi dan dorongan kepada seluruh jajaran organisasi di PT. Perkebunan II Tanjung Morawa untuk selalu memperbaiki cara berpikir dan bertindak, serta memiliki komitmen yang kuat bagi organisasi perusahaan. Motivasi tersebut terbentuk melalui sosok beliau sebagai seorang pemimpin yang mampu menciptakan diri sebagai tokoh panutan, role-mode yang patut dicontoh, yang perilaku kepemimpinannya pantas menjadi pedoman (patterns of behavior). Pak JP Sitanggang berpikiran maju dan semangat appreciated terhadap generasi muda. Menjadikan bawahannya sebagai teman, tanpa memandang pangkat jabatan dan asal-usul,” ujar Dahlan Harahap, salah seorang rekan kerja dan stafnya.
“Dia berdiri teguh, penuh dengan petuah, etika dengan moral serta berserah kepada Tuhan dan tidak memegahkan diri,” ujar Bachtiar Sitanggang, mantan wartawan Suara Pembaruan, dalam kesan-dan-pesannya pada buku otobiografi JP Siatanggang.

Mendirikan Konsultan

Memang, seyogyanya seorang pemimpin (pejabat) tidak semata dilihat dan dinilai dari kecerdasanya gagasan yang dikemukakanya. Namun, yang terpenting adalah keberanian mengimplentasikannya tanpa keraguan. Terkadang dalam organisasi yang besar, cara pandang dan langkah-langkah harus diperjuangkan untuk mampu dipahami oleh kolega dan pemangku kepentingan. Dan hal itu tidaklah mudah, Sitanggang berani mengambil resiko meskipun mempertaruhkan reputasinya sebagai pimpinan.

Sesak memulai kariernya, dia bekerja di perkebunan negara. Tekadnya yang sangat kuat untuk menjadi orang sukses membawanya pada jabatan tertinggi, menjabat sebagai salah satu direktur di perkebunan tersebut. “Bila tanpa kegigihan tidak ada keberhasilan. Komitmen dengan terus berfokus pada tujuanlah yang membuat sesorang bisa berhasil,” pesan ompung delapan cucu ini dalam mengarungi kehidupannya.

Memang, semangat kerja itulah yang ditularkan pada keturunannya. Salah satu dasar bekerja yang selalu diterapkan hingga saat ini adalah disiplin dan kerja keras. “Bekerja adalah panggilan, maka sejak aku pensiun bekerja adalah bagian aktualisasi diri yang harus saya tunjukkan sebagai teladan untuk diperlihatkan pada anak-anak dan cucu. Itu sebabnya sejak pensiun saya bekerja sebagai konsultan perkebunan, itu yang selalu saya terapkan,” ceritanya.

Kini, gelar “raja Napogos” melekat pada pria tinggi besar. Baginya mengandung makna dan filosofi yang sangat berkesan bukan hanya sekedar sebutan tanpa kesan dan arti. “Bagi saya, hidup ini harus dinamis. Kemiskinan tidak boleh menyurutkan langkah kita untuk terus berusaha. Kemiskinan bukan nasib, tetapi keadaan dan keadaan itu bisa dirubah asal bisa untuk berusaha dan bekerja keras,” ujar pada penulis.

Tahun 1998, dia pensiun sebagai pejabat di PTPN II sebagai direktur produksi, saat itu umurnya sudah 60 tahun. Secara materi JP Sitanggang tidaklah kekurangan tetapi karena semangat kerja dan tidak ingin menganggur di masa pesiun-nya dia kemudian mendirikan lembaga konsultan. Perusahaan yang pertama mengunakan jasa konsultan lembaga ini adalah perusahaan perkebunan Astra Agro Lestrai Tbk, di mana perusahaan meminta pada lembaga tersebut memberikan pelatihan In House Traning (IHT).

Sebagai seorang konsultan baginya, disiplin membuat seseorang akan lebih bermakna dalam hidup dan mampu meraih sukses. “Persoalannya penerapan disiplin ini dalam segala lini sangat kurang sekarang ini, terutama di kalangan masyarakat Batak. Sebab ada istilah gira tudia dalam masyarakat Batak,” tambahnya lagi. “Secara faktual, orang yang menghadapi persoalan berat, atau menghadapi tekanan. Baik karena tekanan pekerjaan atau masalah apapun. Dalam keadaan itulah seseorang diuji. Kedewasaan, kecakapan, dan karakternya akan terlihat saat menghadapi masalah tersebut. Kecakapan seseorang menghadapi masalah seperti tungku perapian, yang membakar emas. Emas yang murni akan terlihat keasliannya saat dibakar diatas tungku itu, demikianlah menghadapi masalah. Orang yang menghadapi masalah dengan santai, dan mencari jalan keluar adalah orang yang lulus dari tungku perapian,” ujarnya memotivasi.

JP Sitanggang adalah salah seorang yang berupaya untuk mengembalikan jati diri adat dan budaya Batak. Di masa tuanya JP Sitanggang menjadi Ketua Punguan Pomparan Raja Sitempang Sitanggang, dan menulis buku. Masa tua sebagai masa emas untuk meninggalkan bekal bagi generasi muda.***Hotman J. Lumban Gaol