Abas Hutasuhut


Hari ini, 82 tahun lalu di Gedung Indonesische Clubgebow milik Sie Kong Liong di Weltervreden Straat 106 (sekarang Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat) hampir seratus pemuda berkumpul membulatkan sikap bagi masa depan sebuah bangsa baru. Suasana hening ketika Wage Rudolf Supratman melantunkan biola menyanyikan Indonesia Raya. Dalam keheningan dada mereka begemuruh. Mereka bertepuk tangan ketika lagu tersebut usai. Dan semangat para pemuda itu makin menggumpal ketika ikrar Sumpah Pemuda diucapkan: Bertanah Air Jang Satoe, Tanah Air Indonesia. Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia . Berbahasa Jang Satoe, Bahasa Indonesia. Sejarah besar telah diukirkan untuk satu tujuan: kemerdekaan Indonesia.

Di antara mereka hadir Abas Hutasuhut, pemuda berusia 22 tahun, kelahiran Diski, dekat Binjai, putra seorang kerani perkebunan di Kuala Begumit, Langkat. Abas mahasiswa kedokteran Stovia mewakili Perkoempoelan Peladjar Peladjar Indonesia (PPPI) ikut dalam kepanitian Kongres Pemuda Kedua yang ditutup pada 28 Oktober 1928 hari itu.

Panitia kongres diketuai Soegondo Djojopoespito (PPPI), Wakil Ketua RM Djoko Marsaid (Jong Java), Sekretaris Muhammad Jamin (Jong Sumateranen Bond), Bendahara Amir Sjarifuddin Harahap (Jong Bataks Bond). Panitia dilengkapi pembantu-pembantu. Pada pemuda mewakili dari berbagai organisasi kedaerahaan antara lain dari Pemoeda Kaoem Betawi, Jong Celebes (Sulawesi), Jong Ambon dan lainnya. Selama dua hari mereka berkongres 27 – 28 Oktober 1928 akhirnya melahirkan apa yang kita nikmati sekarang ini: Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Dorongan terbesar kebulatan tekad akan membentuk bangsa baru sebenarnya dimulai ketika istilah Hindia Belanda dihapuskan oleh para mahasiswa Indische Vereeneging (IV) di Belanda dimotori oleh Mohammad Hatta cs dengan mengganti nama menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI) pada 1925 dan secara resmi mencanangkan nama Indonesia sebagai nama negara yang secara politik harus diperjuangkan kemerdekaannya. Beberapa bulan kemudian diperkuat dengan lahirnya buku Tan Malaka dalam pelariannya berjudul Naar een Indonesia Merdeka (Menuju Indonesia Merdeka).

Begitu kuatnya semangat persatuan dan kerinduan akan kemerdekaan Indonesia dalam kongres pemuda tersebut. Sehingga setelah kongres ditutup, para pemuda yang berasal dari berbagai suku dan kelompok itu “membuat sumpah baru” di luar sumpah pemuda tersebut. Termasuk Abas Hutasuhut ikut mengikrarkan sumpah di balik sumpah pemuda itu. Mereka bersumpah tidak akan memakai marga mereka dan tidak akan pulang kampung bila selesai kuliah. Mereka akan berbakti ke daerah lain menyumbangkan darma baktinya untuk kemerdekaan Indonesia .

“Mereka bersumpah menanggalkan marganya dan tidak akan pulang kampung. Itulah yang dilakukan ayah saya termasuk Amir Sjarifuddin yang menanggalkan marga Harahap. Demi mewujudkan bangsa Indonesia,” tutur Dimardi Abas mengenang kisah perjuangan ayahandanya Mr Abas.

Amir Sjarifuddin kemudian dikenal sebagai menteri pertahanan pertama RI yang membentuk Badan Keselamatan Rakyat kemudian bersama Abdul Haris Nasution dan Didi Kartasasmita membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) lalu menjadi TNI sekarang. Amir Sjarifuddin sempat menjadi perdana menteri RI. Kuatnya dorongan akan kemerdekaan Indonesia itu bahkan membuah “sumpah baru” bagi diri Bung Hatta sendiri. Beliau bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Barulah setelah Indonesia merdeka, sahabatnya Bung Karno mengingatkan sumpah Hatta tersebut. Bung Karno kemudian menjodohkannya dengan Rahmi Hatta.

Seusai Sumpah Pemuda itu, Abas yang telah menghilangkan marga Hutasuhutnya itu, gagal kuliah di Stovia pada tahun ketiga. Sebagai aktivis pemuda, beliau lebih tertarik kuliah di Rechts Hooge School (Sekolah Tinggi Hukum -RHS) Jakarta. Di RHS ini, Abas bertemu dengan temannya Amir Sjarifuddin dan Muhammad Jamin yang sebelumnya kuliah di situ.

Sementara itu, aktivitas politik Abas bersama teman-temannya di Stovia dan RHS semakin meningkat terutama di PPPI. Mereka sering berdiskusi politik di Indonesische Clubgebouw (IC) di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Aktivitas politik mereka selalui diintai sering menjadi buronan intel Politike Inlichtingen Dienst (PID). Kelompok PPPI di RHS akhirnya dikenal sebagai mahasiswa radikal termasuk Amir, Abas dan Muhammad Jamin.

Mahasiswa radikal ini sering diinterogasi oleh PID, ada yang sempat ditahan beberapa minggu dan bahkan ada sempat diajukan ke pengadilan. Termasuk beberapa tahun kemudian, Mr Amir Sjarifuddin dihukum mati oleh Belanda, tapi di zaman Jepang atas usul Bung Hatta kepada penguasa Jepang, dibebaskan.
Dalam pertemuan diskusi politik di IC inilah Abas bertemu dengan Ani Manoppo seorang mahasisiwi dari Desa Langowan, Minahasa. Ani masuk IC dibawa temannya Moni Tumbel, anggota PPPI dan pengagum Soekarno. Moni Tumbel juga salah seorang peserta Sumpah Pemuda. Di sinilah Abas dan Ani mendapat jodoh yang kemudian menikah di Kuala Begumit, Langkat.

Namun begitu, walaupun mereka merupakan mahasiswa-mahasiswa radikal yang menentang penjajahan Belanda, para profesor yang mendidik mereka tetap adil (fair). “Mereka sangat streng dan menuntut kerajinan dan ketekunan belajar dari mahasiswa mereka dan tidak akan menekan seorang mahasiswa hanya karena pendirian politik mereka,” kata Prof Mr Ani Abas Manoppo dalam otobiografinya.

Setelah menikah, Ani Manoppo lebih dulu menyelesaikan kuliahnya di RHS dan menjadi sarjana hukum wanita pertama di RHS. Baru beberapa tahun kemudian Abas menyelesaikan kuliahnya dan keduanya melanjutkan sumpahnya bagi Indonesia. Keduanya bersama keluarga kemudian pindah ke Tanjung Karang, Lampung. Mester Abas menjadi advokat membela rakyat kecil sembari terus berjuang dengan mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra) di Lampung.

“Kami dirikan cabang Parindra di sana. Tujuan Parindra adalah untuk meyakinkan suku-suku bangsa Indonesia bahwa mereka pada hakikatnya adalah satu rumpun yang dengan kekuatan bersama pada suatu ketika akan dapat berdiri sendiri,” kata Ani Abas Manoppo.

Tapi kini sudah 81 tahun berlalu dari Sumpah Pemuda dan sudah 64 tahun Indonesia merdeka. Apa yang terjadi sekarang, justru terlihat menjadi kebalikan dari apa yang telah Mr Abas dkk rintis dahulu. Dahulu di awal Kebangkitan Nasional 1908 dimulai dari organisasi kedaerahan kemudian semakin bersatu menjadi nasionalisme yang melahirkan Sumpah Pemuda yang kemudian menjadi pendorong bagi kemerdekaan Indonesia.
Sekarang setelah Indonesia merdeka dan kita sekarang dengan enaknya dapat menikmati kemerdekaan tersebut, justru semakin terjabak pada pragamatisme politik jangka pendek dan materialisme. Akibatnya, muncul ketimpangan sosial dan demokrasi yang telah diperoleh justru hanya ditujukan pada ambisi kekuasaan semata. Dampaknya, nasionalisme Indonesia semakin luntur.

Yang muncul malah sikap primordialisme dan kesukuan yang semakin tajam. Malah mahasiswa Maluku misalnya, berdemonstrasi karena pemerintah tak menempatkan orang Maluku di kabinet. Setiap suku sekarang ingin memecah-memecah keindonesiaan dalam bentuk kabupaten atau provinsi baru. Lalu, di manakah makna Sumpah Pemuda itu sekarang?

Penulis : muchsin lubis

sumber: http://www.harian-global.com

Iklan

Abdullah Harahap


Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

Abdullah Harahap

Karya kolaborasi Jakarta-New York-Yogyakarta yang menginterupsi gelombang buku-buku metropop, menawarkan horor sebagai perenungan.

Sica Harum

MUNGKIN Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.

Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil–biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad–yang besar di Tanjung Karang, Lampung.

Adapun Intan menemukan tumpukan buku Abdullah saat menelusuri perpustakaan University of California. Kala itu ia sedang berniat menelusuri genealogi cerita horor Indonesia. Intan sendiri pernah menerbitkan kumpulan cerpen misteri Sihir Perempuan (2005) yang lebih banyak terpengaruh gaya horor Barat. “Kira-kira akhir 2008, kami diskusi di chatroom Yahoo Messenger. Aku di Jakarta, Intan di New York, Ugo di Yogyakarta,” kisah Eka di Jakarta, Rabu(24/2).

Proses kreatif

Tiga penulis itu berbagi kajian. Intan mengkaji aspek gender dalam cerita Abdullah. Adapun Ugo membahas sejarah hantu dan simbol-simbol mistis. “Aku lebih ke hubungan sosial antar-manusianya dan politik. Yang aku temukan dalam karya Abdullah Harahap ialah pranata sosial selalu tidak berfungsi. Cara penyelesaian di novel itu selalu di dunia lain,” kata Eka. Intan mengamini, masyarakat dalam kisah Abdullah mencari cara penyelesaian di luar institusi buatan negara. “Ada semacam ketidakpercayaan pada negara,” katanya.

Bertahun-tahun berjarak dengan kisah Abdullah rupanya membuat Eka, juga Ugo dan Intan, menemukan banyak hal ketika membaca ulang. Mereka merespons temuan itu dalam 12 cerita pendek (masing-masing menulis empat kisah) dalam Kumpulan Budak Setan. Intan mengakui narasi Abdullah yang rapi. “Tadinya saya berpikir (cerita) ini bakal norak. Tapi ternyatadia menulis dengan baik. Dia tidak pretensius, brutal saja. TSpi dia realis yang rapi,” kata Intan, Jumat (26/2).

Dalam pandangan Intan, Abdullah sangat moralis. Sesuatu yang melenceng akan dikembalikan lagi sesuai jalur-nya. Meski begitu, Abdullah juga memberi ruang subversi. “Misalnya, ada kisah seorang dukun yang menyuruh pasangan tidak menikah untuk membuat semacam ritual seks sebagai perangkap iblis pengganggu kampung,” katanya.

Sementara Ugo mengaku jadi lebih mengamati karakteristik dan plot dalam proses pembacaan ulang. “Saya biasa bekerja dengan deretan imaji. Tantangannya ialah bagaimana menyajikan sebuah adegan menjadi masuk akal,” ujar Ugo, Jumat (26/2).

Rasa baru

Yang kemudian terasa pada 12 kisah itu ialah upaya tiga penulis menghindari kuncian moralis ala Abdullah. Taman Patah Hati (halaman 11-21) yang ditulis Eka, sebetulnya terasa jenaka meski satiris. Eka mengisahkan kerepotan manusia mengakhiri hubungan. Bisa karena tak tega, atau malah merasa terancam. Alasan tokoh Ajo Kawir lebih cenderung pada yang kedua. Mia Mia, perempuan yang dipacari-ajchirnya dinikahi-Ajo Kawir, bukan manusia. Tentu saja, dalam konteks kehidupan modern bukan manusia boleh saja ditafsirkan seperti psikopatyang bila dicerai, sadisnya bisa melebihi setan.

Lantaran percaya takhayul, Ajo Kawir membawa Mia Mia berkelana ke semua tempat yang disebut orang bisa menghancurkan hubungan. Upaya Ajo Kawir melepaskan diri dari Mia Mia berakhir dengan sebuah renungan lanjutan, bukan kesimpulan.

Sementara itu, salah satu cerpen Intan, Goyang Penasaran (halaman 43-58) berkisah tentang tokoh utama pedangdut Salimah yang membuat lelaki sekampung mesum. Tubuh perempuan di wilayah publik itulah yang ternyata menghantui sehingga perlu dibinasakan. Haji Ahmad, tokoh berwibawa sekaligus pemuka agama mengusir Salimah.

Padahal ketika Salimah kembang perawan, Haji Ahmad-lah yang pernah bernafsu berusaha mencumbuinya. Di akhir kisah, Salimah mati dipukuli massa. Intan tidak berupaya membuat Salimah sebagai pahlawan, tapi menyisakan ketragisan. Ada semacam ketidakadilan karena perempuan begitu mudah diadili tanpa akal.

Adapun Ugo yang juga vokalis grup band Melancolis Bitch itu mengadopsi kebrutalan Abdullah tanpa rasa mengawang. Mungkin karena saat ini, kesadisan kerap kita temui. Misalnya pada Hidung Iblis (halaman 153-170) seorang suami membunuh sejumlah laki-laki yang ia kira akan meniduri istrinya. Tapi lantas, ia sendiri terbunuh istrinya. Dingin saja.

“Horor berlangsung karena dipengaruhi persepsi mental. Keputusan membunuh bisa sangat logis bagi pelakunya,” tambah Ugo. Horor pada kisah tiga penulis itu, jadinya malah memberikan perenungan. Bahwa perilaku manusia bisa lebih sadis dan memalukan ketimbang setan. Ia bisa memperalat kekuasaan, bahkan-agama untuk mematikan manusia lainnya. Celakanya, gejala ini ada di sekitar kita, bukan dunia lain tempat jin bersemayam.

Sumber: Media Indonesia

Ensiklopedia Tokoh Batak


Situs Ensiklopedia Tokoh Batak ini sedang dikembangkan, menuju ensiklopedia sebenarnya. Saat ini sedang dikembangkan menjadi sebuah situ yang mempublikasikan tokoh-tokoh Batak daro lima puak yaitu: Toba, Simalungun, Karo, Mandailing, dan Pakpak. Selain ini ensiklopedia ini sedang dikemas per-kategori dan profesi dari masing-masing tokoh.

Situs ini dibangun Hotman J. Lumban Gaol alias Hojot Marluga, lahir di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang-Hasundutan, Sumatera Utara pada 1 September 1978. Sejak lulus dari STM tahun 1996, dia bekerja sebagai buruh pabrik di PT PYN Manufacturing di Bantar Gebang, Bekasi. Krisis moneter tahun 1998, membuatnya di PHK, sejak itu, dia bekerja serabutan. Tahun 1999, dia diterima berkerja di tabloid Jemaat Indonesia sebagai sirkulasi. Dari sana dia belajar menulis di majalah Industri dan Bisnis. Kemudian bergabung di majalah rohani Devotion dan majalah Berita Indonesia sampai tahun 2006. Tahun 2007-Mei 2010 wartawan majalah TAPIAN, hingga terakhir Manager Marketing di majalah tersebut. Sejak Juli 2010 menjadi wartawan majalah Narwastu Pembaruan. Dan kemudian menjadi wartawan koran Harian Umum BATAK POS.

Todung Sutan Gunung Mulia, Dr.


Tokoh pergerakan nasional, terutama dibidang pendidikan dan gerejani. Kelahiran Padang Sidempuan, Sumatera tahun 1896 dan meninggal tahun 1969. Ia merupakan wakil sekaligus Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan tahun

Todung SutanGunung Mulia Harahap

1945-1946. Sebagai pendiri Dewan Gereja-gereja di Indonesia ia menjadi ketuanya yang pertama (1950-1960). Bersama Prof. Dr. KAH. Hidding dari Leiden (Belanda), ia memimpin redaksi penyusunan Ensiklopedia Indonesia (tiga jilid).

Pada masa penjajahan ia bekerja sebagai guru sekolah rendah di Kotanopan (Sumatera), juga guru Kursus Hoofdacte di Bandung, kemudian menjadi pegawai Departemen Pengajaran dan Departemen Perekonomian. Ia memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Leiden, Belanda sedangkan gelar doctor bidang sastra dan filsafat ia peroleh dari Universitas Amsterdam.

Selepas dari jabatan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan, Mulia bertugas sebagai guru besar pada Universitas Darurat RI dan Universitas Indonesia di Jakarta hingga tahun 1951. Ia juga sebagai pendiri dan ketua Universitas Kristen di Jakarta; ketua Lembaga Alkitab Indonesia yang bertugas memperhatikan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Indonesia.

Pada tahun 1966 ia memperoleh gelar kehormatan dalam ilmu Teologia dari Universitas Vrije di Amsterdam. Meninggal tahun 1966, hingga akhir hayatnya ia merupakan ketua Badan Pengurus Sekolah Tinggi Theologia di Jakarta. Beberapa buku hasil karangannya antara lain India (1949), berisi tentang sejarah politik dan pergerakan kebangsaan India.***

KH. Zainul Arifin Pohan


Pahlawan Kemerdekaan Nasional lahir di Barus Tapanuli, pada tahun 1909. Pendidikan umum yang ditempuhnya hanya

KH ZAINUL ARIFIN POHAN

sampai SD. Sesudah itu, ia mengikuti pendidikan agama di pesantren. Pada zaman Belanda ia bekerja sebagai pegawai negri pada Gemeente Batavia (Kotapraja Jakarta). Di samping itu, ia giat pula dalam pergerakan nasional. Organisasi yang dimasukinya ialah NU (Nahdatul Ulama).

Pemerintah Pendudukan Jepang melarang partai-partai politik berdiri. NU pun tak luput dari larangan tersebut. Kemudian Jepang mengizinkan berdirinya Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) sebagai satu-satunya wadah bagi umat Islam. Ia memasuki organisasi tersebut dan diangkat sebagai Kepala Bagian Umum. Dalam pada itu, ia mengikuti latihan militer selama dua bulan, kemudian diangkat menjadi Panglima Hizbullah seluruh Indonesia. Hizbullah adalah organisasi semi militer yang anggota-anggotanya terdiri atas pemuda-pemuda Islam.

Sesudah Proklamasi Kemerdekaan, ia tetap duduk dalam Pucuk Pimpinan Hizbullah. Hizbullah merupakan salah satu laskar bersenjata di samping tentara resmi. Mereka berjuang bersama dengan tentara resmi untuk mempertahankan kemerdekaan. Laskar-laskar itu kemudian digabungkan ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Begitu pula halnya dengan Hizbullah. Setelah penggabungan, ia diangkat sebagai sekretaris Pucuk Pimpinan TNI. Selain itu, ia duduk pula sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BK KNIP).

Sesudah Pengakuan Kedaulatan, ia diangkat menjadi anggota DPRS (Dewan Perwakilan Rakyat Sementara), dari tahun 1950-1953. Dalam Kabinet Ali Sastroarnijoyo, ia diangkat menjadi Wakil II Perdana Menteri. Dalam DPR hasil PEMILU diangkat sebagai Wakil Ketua (1959). Waktu itu, pertentangan politik di tanah air sangat tajam. Konstituante tidak berhasil membuat undang-undang dasar baru untuk menggantu UUDS. Karena itu, Presiden Sukamo mengeluarkan dekrit yang menyatakan berlakunya kembali UUD 1945. Sesudah itu, dibentuk DPRGR (DPR Gotong Royong). Ia diangkat menjadi Pejabat Ketua, kemudian dikukuhkan sebagai Ketua DPRGR. Meninggal dunia pada 2 Maret 1965 dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.