Hariman Siregar


Biodata

Nama                                      : dr. Hariman Siregar

Tempat / Tanggal Lahir         : Padangsidempuan, 1 Mei 1950

 

Pendidikan

SD di Jakarta (1961)

SMP di Jakarta (1964)

SMA di Jakarta(1967)

Fakultas Kedokteran UI (1977)

 Karier

Dokter Inpres di Puskesmas Rawajati, Jakarta Selatan (1977 – 1979)

Kepala Klinik Baruna (1989 – Sekarang)

HARIMAN SIREGAR LAKSANA LEGENDA HIDUP

Hariman-Siregar

—tak ada yang menarik dari kekuasaan yang pongah, tak ada yang mulia dari pemimpin yang pikun. Para kerbau berlari dan berpidato, tapi kami pasti tak hirau. Sebab, kami manusia yang punya kuasa untuk berubah—

Kekerasan di Indonesia hanya bisa dirasakan, tidak untuk diungkap apalagi dituntaskan. Berita di media massa (cetak dan elektronik) hanya mengungkap fakta yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Masih ingat Peristiwa 15 Januari 1974 alias Malari (Malapetaka Lima Belas Januari)? Malari adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974 di Jakarta. Di hari kelabu itu, pusat pertokoan yang dikenal dengan Proyek Senen di Jakarta dibakar orang. Dalam peristiwa yang bisa dikatakan “hari anti Jepang” itu, lebih-kurang 807 buah mobil dan 200 sepeda motor dari berbagai merk Jepang dirusak/dibakar, 144 bangunan dirusak, 11 orang mati, 100 orang luka-luka, 17 luka parah, 775 orang ditangkap. Sebanyak 160 kilogram emas dari berbagai toko di daerah pecinan, mulai Senen sampai Glodok di Jakarta

Barat amblas digondol orang.
Peristiwa itu terjadi selama kunjungan tiga hari PM Jepang Kakuei Tanaka di Jakarta (14-17 Januari 1974). Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) Jan P Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi anti modal asing. Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan. Mahasiswa berencana memboikot kedatangannya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara. Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu menggambarkan, situasi Kota Jakarta masih mencekam.

Sehari setelah tamu negara ini meninggalkan Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma yang dijaga ketat oleh tentara, suasana panas mulai mereda. Tapi buntutnya cukup serius. Lima koran terkemuka dan dua majalah di Jakarta diberangus. Sejumlah tokoh, di antaranya Prof. Sarbini Sumawinata, Dorodjatun Kuntjoro Jakti, Buyung Nasution, Fahmi Idris, Subadio Sastrosatomo, Laksamana Muda Mardanus, Sjahrir, Rachman Tolleng, Hariman Siregar, ditahan. Hariman sendiri tidak sampai penuh menjalani vonis hukuman 6 tahun yang dijatuhkan atas dirinya.

Peristiwa Malari sesungguhnya dapat dilihat dari berbagai perspektif. Ada yang memandangnya sebagai demonstrasi mahasiswa menentang modal asing, terutama Jepang. Beberapa pengamat melihat peristiwa itu sebagai ketidaksenangan kaum intelektual terhadap Asisten pribadi (Aspri) Presiden Soeharto (Ali Moertopo, Soedjono Humardani, dan lain-lain) yang memiliki kekuasaan teramat besar. Ada pula analisis tentang friksi elite militer, khususnya rivalitas Jenderal Soemitro-Ali Moertopo. Kecenderungan serupa juga tampak dalam kasus Mei 1998 (Wiranto versus Prabowo).

Usai terjadi demonstrasi yang disertai kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan, Soeharto menghentikan Soemitro sebagai Pangkopkamtib, dan langsung mengambil alih jabatan itu. Aspri Presiden dibubarkan. Kepala BAKIN Soetopo Juwono “didubeskan,” diganti Yoga Sugama.

Bagi Soeharto, kerusuhan 15 Januari 1974 mencoreng kening, karena peristiwa itu terjadi di depan hidung tamu negara, PM Jepang. Malu yang tak tertahankan menyebabkan ia untuk selanjutnya amat waspada terhadap semua orang/golongan serta melakukan sanksi tak berampun terhadap pihak yang bisa mengusik pemerintah.

Selanjutnya, ia amat selektif memilih pembantu dekatnya, antara lain dengan kriteria “pernah jadi ajudan Presiden.” Segala upaya dijalankan untuk mempertahankan dan mengawetkan kekuasaan, baik secara fisik maupun secara mental. Dari sudut ini, peristiwa 15 Januari 1974 dapat disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru. Sejak itu represi dijalankan secara lebih sistematis.

Lalu, apa, siapa dan bagaimana peran Hariman Siregar pada peristiwa kelabu itu? Apa saja pikiran-pikirannya tentang demokrasi dan demokratisasi di Indonesia? Apa saja langkah-langkahnya dalam menegakkan demokrasi? Mari kita ulas jejak rekam dan sejarah perjuangannya. Hariman lahir di Padangsidempuan, Sumatera Utara, 1 Mei 1950. Hariman merupakan putera ke empat dari pasangan Kalisati Siregar dan ibunya yang bermarga Hutagalung. Sejak SD sampai Kuliah ia selesaikan di Jakarta. Putera pensiunan pegawai Departemen Perdagangan ini, pada tahun 1973 terpilih sebagai Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DEMA UI), di saat aksi di berbagai kampus meningkat. Pada tahun 1973, tercatat pula kegiatan demonstrasi memprotes kebijakan Orde Baru, yang dilakukan oleh salah satu tokoh mahasiswa, bernama Arif Budiman, dan kawan-kawan, dalam kasus pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pembangunan ini menurut kelompok Arif Budiman tidak sesuai dengan situasi di Indonesia. Bagi mereka ini hanya proyek ambisius belaka. Gerakan mahasiswa yang dilancarkan Sejak Agustus 1973 tak lain untuk mengkritik strategi pembangunan yang sudah menyimpang dengan “cita-cita Orde Baru.”

Sekitar pertengahan 1973, bisa dikatakan pula sebagai tumbuhnya berbagai diskusi dan kelompok diskusi yang mengkritik strategi pembangunan pemerintah (Orde Baru), yang dianggap lebih banyak mengurusi angka pertumbuhan ekonomi ketimbang pemerataan sosial. Suatu Kebijakan pembangunan yang dianggap tidak populis dan hanya menguntungkan orang kaya/konglomerat saat itu. Suatu kritik yang memang sedang populer kala itu. Ekonom kondang Mahbubul Haq, asal Pakistan, yang memuji konsep pemerataan di RRC, bahkan menjadi buah bibir para mahasiswa dan ekonom di Indonesia.

Pada 24 Oktober 1973, di kampus Salemba ada lagi diskusi yang menghadirkan tokoh dari berbagai angkatan. Ada bekas Wali Kota Jakarta Sudiro, ada Menlu Adam Malik, tokoh pers B.M. Diah, tokoh ’66 Cosmas Batubara, sampai Ketua DMUI Hariman Siregar. Hasil diskusi inilah yang kemudian dibacakan di TMP Kalibata, lalu dikenal sebagai Petisi 24 Oktober.

Antara 1972–1973, Hariman Siregar sering mengikuti kegiatan mahasiswa seperti seminar dan kongres, di dalam maupun di luar negeri. Sejak 1972, Hariman sudah diangkat sebagai Sekjen Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia (IMKI) lewat kongres di Makassar. IMKI pada waktu itu adalah organisasi kemahasiswaan yang dekat dengan Golkar. Lewat jalur IMKI inilah Hubungan Hariman dengan Ali Moertopo terjalin. Dia juga sering tampil di berbagai forum yang dikunjungi Ali Moertopo.

“Saya diperkenalkan sebagai pemimpin masa depan,” kata Hariman, yang pernah memimpin Persija Selatan, dan kini menjabat sebagai Dokter Puskesmas. Tapi riwayat hubungan Hariman dengan Ali Moertopo tak berlangsung lama.
Ketika terpilih sebagai Ketua Dema, ia menolak permintaan agar Dema UI tak menyerang lagi soal strategi pembangunan yang merupakan produk Bappenas. Namun, Ada kelompok aktivis yang justru meminta Bappenas sebagai sasaran gerakan.

“Menjelang Oktober, sudah begitu banyak gerakan di luar. Saya pikir, saya harus konsolidasi dulu ke dalam kampus. Saya buat diskusi-diskusi,” ujar Hariman, yang saat itu baru berusia 23 tahun. Dengan dukungan konsep GDUI, Hariman berangkat ke berbagai kampus untuk menggalang massa. Akhirnya, Dema UI membuat kesepakatan dengan 10 kampus untuk bertemu Presiden Soeharto pada 26 Desember 1973. Mereka ingin menanyakan tentang strategi pembangunan RI yang dianggap timpang itu. Lusanya, Presiden ternyata bersedia menerima pimpinan mahasiswa dari berbagai kampus. Di luar dugaan, dalam pertemuan tertutup yang dihadiri Mensesneg Sudharmono, terlontar beberapa pertanyaan yang kasar dan menuding-nuding. “Saya jadi bingung,” kata Hariman.

Pak Harto, yang ketika itu tampak kalem, menutup pertemuan singkat itu dengan menyerahkan Buku RAPBN kepada mahasiswa. Tak berhenti sampai di situ, para mahasiswa pun ingin menyambut rencana kunjungan PM Tanaka dengan demonstrasi besar. Sebenarnya, ketika itu tuntutan DEMA UI untuk berdialog dengan PM Tanaka sudah diterima, dan dijadwalkan pada 15 Januari. Tapi, “Saya ditekan teman-teman dari seluruh Indonesia itu. Kalau datang, berarti pengkhianat. Akhirnya, dialog diganti demonstrasi jalanan,” cerita Hariman. Dia mengaku sangat bingung menerima desakan ini. “Saya stres,” kata Hariman. Pada pagi 15 Januari itu, dia sampai membuka bajunya yang dibasahi keringat. Dan, meledaklah malapetaka itu.

Demokrasi Dalam Pandangan Hariman Siregar
Bagi Hariman, demokrasi adalah bagaimana membangun partisipasi yang lebih luas dengan meruntuhkan oligarki dan feodalisme yang telah menginfiltrasi partai-partai politik sebagai instrumen pelanggeng kekuasaannya. Menurutnya, demokrasi jangan hanya sekedar prosedural seperti pemilu lima tahunan. dengan kata lain, Hariman ingin mengatakan bahwa demokrasi harus substansial. Dengan demikian, demokrasi memiliki dua tujuan. Pertama, menggerakkan partisiapasi yang lebih luas kepada rakyat untuk terlibat aktif dalam urusan bersama (publik).

Bukan saja berpartisipasi untuk memilih pemimpin, melainkan juga berpartisipasi untuk dipilih menjadi calon pemimpin. Kedua, adalah bagaimana memecahkan persoalan bersama (publik), termasuk suksesi kepemimpinan tanpa kekerasan. Beragam kepentingan yang ada dirembugkan, sejak rembug di tingkat kampung hingga ke level yang lebih tinggi. Jika rembugkan itu gagal mencapai konsensus baru dilakukan pemungutan suara. Lebih jauh lagi, Hariman ingin mengatakan bahwa demokrasi kita adalah musyawarah mufakat.

Gerakan Cabut Mandat SBY-JK
Pada 15 Januari 2007, tokoh peristiwa Malari 1974, Hariman Siregar menggalang massa turun ke jalan. Aksi yang bertajuk Pawai Rakyat Cabut Mandat ini merupakan simbol ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah. Aksi tersebut diikuti sejumlah tokoh yang tergabung dalam Indonesian Democracy Monitor (Indemo) (organisasi yang ia dirikan bersama kawan-kawannya) serta 52 elemen antara lain aktivis tahun 1974, aktivis mahasiswa, buruh, nelayan, etnis Tionghoa. 124 Mobil pick up ikut dalam pawai tersebut.

Hariman Siregar dalam jumpa pers di Hotel Harris, Tebet, Jakarta Selatan, Jumat, 12/1/2007, mengatakan, “Kita sengaja gelar dialog jalanan karena kami tetap memegang tradisi bahwa kalau saluran resmi kita anggap tidak berfungsi, masyarakat harus berani menyatakan keinginannya.” Menurutnya, pemerintah tidak bisa menjalankan mandat yang diberikan rakyat. “Kita merasa tidak puas dan kecewa. Maka mandat itu harus dicabut,” tegas dia. Hariman menjelaskan, “Poin yang paling penting pada Senin kita akan menambah kemacetan di Jakarta. Jika ada kekacauan saya yang bertanggung jawab,” tandas Hariman. “Kalau kita tidak begini keadaan kita tidak akan berubah hingga 2009,” jelas Hariman.

Gerakan Cabut Mandat ini didasari atas Kinerja pemerintahan SBY-JK yang dinilai kian memburuk. Jalannya pemerintahan pun dinilai sekadar menjadi prosedural belaka. Kondisi ini juga membuat gelisah sejumlah tokoh nasional. Mereka mendesak DPR memberi peringatan keras kepada pemerintahan SBY-JK. Mereka yang terlibat antara lain, budayawan WS Rendra, Try Sutrisno, Hariman Siregar, Adnan Buyung Nasution, KH Ali Yafie, Fadli Zon, Cholil Badawi, Lily Wahid, Muslim Abdurrahman, Bambang Wiwoho, dan Monang S. Mereka tergabung dalam gerakan yang diberi nama Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR). Gerakan ini tidak berorientasi pada kekuasaan.

Demikian menurut Hariman Siregar. Hariman berpendapat, keadaan bangsa ini sejak berjalannya pemerintahan SBY tak kunjung membaik. Dalam beberapa hal, bahkan, semakin memburuk. “Kita bicara situasinya memburuk terus sejak SBY-JK dipilih. Kinerja nggak berkembang. Masalah itu apakah kita pertahankan seperti ini terus,” tegas dia. Gerakan ini, timpal Hariman, tidak ingin berjalan seperti partai politik yang melulu berorientasi kekuasaan. Belajar dari terpilihnya Irwandi Yusuf sebagai gubernur di Aceh, membuktikan turunnya kepercayaan masyarakat kepada partai politik. “Ini gerakan rakyat. Kalau partai ini kan sudah jelas nggak bisa dipercaya, punya riwayat panjang. Tapi sekarang trennya bukan partai. Ini rakyat. Kita individu-individu,” pungkas dia.

Pangkal Pikiran Gerakan Cabut Mandat
Terkait pencabutan mandat rakyat kepada SBY-JK, Hariman mengatakan, hal tersebut sebagai sarana mengingatkan presiden bahwa kekuasaannya saat ini ada karena dukungan masyarakat. “Kami ingin memperingatkan presiden, bahwa mandat Anda itu dari rakyat dan kami berhak mengatakan untuk mencabut mandat itu,” tegasnya. Sebab, kita tahu perbaikan khususnya di bidang ekonomi dalam dua tahun jabatan pemerintahan SBY-JK hanya menyentuh sisi makro yakni pasar modal dan keuangan yang dampaknya kecil bagi masyarakat. Sementara, kemiskinan dan pengangguran yang berdampak besar di masyarakat malah semakin besar.

Maksud Hariman adalah kinerja jajaran perekonomian pemerintah hanya memikirkan stabilitas ekonomi makro tanpa memikirkan sektor riil. Stabilnya indikasi makro ekonomi tidak diikuti dengan menurunnya angka kemiskinan, pengangguran, harga beras, atau minimnya lapangan kerja. “Kita khawatir akan meledak seperti 1997, perekonomian kita kolaps,” tandasnya. Meski sebagian besar masyarakat masih percaya duet kepemimpinan SBY-JK sejauh ini akan memberikan penghidupan yang lebih baik. Seharusnya, dukungan yang besar dari masyarakat itu hendaknya ditindaklanjuti pemerintahan dengan melakukan aksi nyata mengurangi pengangguran dan kemiskinan,” ujarnya.

Gerakan Mahasiswa Sebagai Pilar Demokrasi Keempat
Benar, kita tidak akan lari dari demokrasi. Walau bagaiman pun, hanya pemerintahan demokratislah yang memungkinkan terjadinya partisipasi. Adanya pembatasan kekuasaan sehingga mungkin mencegah adanya praktik korupsi dan penyelahgunaan kekuasaan. Tapi proses demokrasi beserta segenap perangkatnya sudah dibajak Warlord yang terus melakukan patgulipat melindungi hak-hak istimewanya sebagai warga terhormat.

Oleh karenanya, demokrasi hanya sampai pada tingkat prosedural dan sebatas alat legitimasi pengusa untuk memenuhi kepentingan pribadi dan kelompoknya. Demokrasi prosedural hanya menciptakan sirkulasi elit di level kekuasaan, tanpa adanya partisipasi nyata dari rakyat. Akhirnya saluran komunikasi rakyat jadi tersumbat, karena tidak dapat berpartisipasi secara langsung di luar pemilu.

Maka pilar demokrasi ke empat bagi Hariman adalah gerakan mahasiswa. Menurutnya ada empat pilar demokrasi yaitu, partai politik, media massa, penyelenggara pemilu yang netral, dan mahasiswa. Sebagai middle class dan bagian dari civil society, mahasiswa memiliki ikatan emosional yang erat dengan masyarakat. Ia akan mampu membangun kesadaran kritis-transformatif di tengah masyarakatnya. Hariman percaya sekali kalau kekuatan gerakan mahasiswa akan sanggup mendobrak kekuasaan yang dzalim.

Oleh karena kesadarannya sebagai makhluk intelektual organik, dengan nalar kritis dan keberanian melawan regim. Dengan pola pikir dan pola gerak yang jauh melampaui alam pikir masyarakat biasa, mahasiswa mampu membangun dan mendorong suatu gerakan perubahan bersama rakyat. Itulah mengapa sebabnya Hariman menaruh perhatian yang sangat besar terhadap gerakan mahasiswa. Selain karena mahasiswa selalu menempatkan dirinya sebagai benteng moral force, dan selalu hadir di kala negara sedang mengalami dekadensi moral para penguasanya. Hariman juga sudah tidak terlalu banyak berharap dari pilar demokrasi lainnya.

Sang Legenda Hidup Yang Menyempal
Sebagai tokoh aktivis yang sangat terkenal dan disegani baik oleh kalangan aktivis pergerakan maupun di kalangan penguasa, di masa lalu maupun masa sekarang, Hariman tidak cepat bangga hati. Apalagi sampai lupa diri dan melupakan perjuangannya. Di kala banyak aktivis mulai surut semangat perlawanannya, ketika perjuangan dianggap usai. Ketika godaan kekuaasaan menyeringai mereka, lalu masuk ke dalam labirin lingkaran sistem kekuasaan, maka tokoh aktivis satu ini tidak tergoda. Ia tetap mimilih konsisten menegakkan demokrasi yang ”terbajak” itu. Meski harus berjuang di luar kekuasaan.

Meski usianya sudah tidak lagi muda, namun semangatnya tetap membara dan menyala. Gerakan Cabut Mandat adalah salah satu buktinya. Ketika orang-orang seusianya sudah banyak yang duduk di kursi pemerintahan baik di eksekutif, legislatif dan yudikatif, Hariman masih terus saja berjuang. Pilihannya berjuang meski tanpa harus masuk lingkaran sistem kekuasaan. Itu dilakukan bukan karena ia tidak pantas duduk di situ. Sebab, ia sempat mendapat tawaran untuk duduk di lingkaran kekuasaan. Banyak tawaran untuk masuk ke situ, mulai dari posisi menteri sampai menjadi orang yang bebas ”mondar-mandir” istana tanpa harus disulitkan urusan protokoler. Namun, ia menolaknya. Itulah yang membuat saya merasa bingung sekaligus kagum. Mengapa? Sebab, di bangsa-bangsa yang pernah dijajah (postkolonial), sikap Hariman adalah ”penyimpangan.” Ia menyempal keluar dari vicious circle kekuasaan. Ia muak dengan itu!

Secara psiko-politik, problem bangsa-bangsa yang pernah dijajah adalah melahirkan tabiat orang-orang yang bersikap ambtenar dan pro status quo. Tapi itu tidak terjadi pada Hariman. Kecintaannya terhadap rakyat kecil tertindas adalah jawaban dari pilihannya. Saya berharap, keteguhan bang Hariman tidak tergoyahkan. Sebab, sangat sedikit sekali orang-orang yang menyempal dan memiliki nurani sekaligus pemberani sepertinya. Telurkanlah terus generasi-generasi selanjutnya dengan semangat perjuanganmu. Hanya orang-orang pemberani dan berbudi nurani serta mau menyempallah yang akan terkena ”virus” mu!

Iklan

Rudolf Naibaho


Rudolf Naibaho, 37 tahun, pengusaha muda, pendiri gedung mewah Toton Baho di Jalan Pekayon, Bekasi. Bertemu sang pengusaha

Rudolf Naibaho

muda ini, memberikan kesan tersendiri. Umur bisa muda, tetapi konsep dan cara dia mengelola usahanya akan membuat decak kagum para pembaca. Jangan tanya apa yang sudah dicapainya. Di umur semuda itu, Rudolf sudah memiliki enam bidang usaha yang tergabung dalam induk Toton Group.

Orang yang melihat gedung Toton Baho yang baru dibangun ini pasti menyebut pemiliknya pengusaha besar, dan umurnya pasti sudah berumur tua. Nyatanya bukan demikian. Bidang usaha yang saat ini tengah berkembang adalah: bisnis kontraktor yang bernaung dalam PT Toton Cita Abadi bergerak dalam bidang kontraktor, supplier dan trading. Di bidang hiburan ada New Hunter terdiri dari café dan pub.

Lalu, Taton Mobilindo di bidang jual-beli mobil, showroom saat ini berada persis di depan Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta. Kemudian Toton Production di bidang rekaman. Selain itu, usaha perkebunan di Krintang, Riau. Dan yang baru gedung pertemuan termegah Toton Baho yang bisa menampung tempat duduk hingga 2000 kursi.

Wah, masih muda, bagaimana mengelola bisnis yang demikian banyak? “Ah, itu belum apa-apa lae,” katanya. Rudolf, sosok yang satu ini dalam memimpinnya memang tidak bisa dianggap remeh, dengan ratusan karyawan. “Saya memulai dari bahwa. Saya tidak dapatkan dengan instant tetapi dengan kerja keras dan terus belajar, tentu dengan bantuan orang lain tentunya. Jadi ini belum apa-apa, lah.”

Bagaimana rahasiannya membangun usaha? “Rahasia sesungguhnya ketika kita mampu membahagiakan orang lain. Rezeki akan mengalir. Seluruhnya mengalir saja, itu kunci,” ujarnya.

Ketika diminta ceritanya awal membangun usahanya yang saat ini sudah mulai mengurita, dengan rendah hati menyebut “Saya bukan pebisnis visioner, atau orang yang pintar dalam berbisnis.” Tetapi faktanya dia telah meraih banyak hal, dia mampu membuat sensasi, bisnis terukur. Jawabnya, “mengalir begitu saja,” itu rahasianya.

“Mengelola usaha ini saya telah berikan kepercayaan ke masing-masing orang bisa mengerti bidang tersebut, jadi saya tidak perlu turun tangan lagi. Biasa saja, saya berkunjung baru setelah berminggu-minggu. Praktis yang saya lakukan hanya memberikan kepercayaan bagi para pengelola. Saya katakan, ini milik kita, maka rawatlah seperti milikmu, itulah yang saya selalu lakukan pada mereka,” ujarnya simple. Sederhana, tetapi itu juga menjadi kekuatannya dalam berusaha.

Praktis, Rudolf menyerahkan kepemimpinan operasional perusahaan ke pada seluruh orang-orang kepercayaanya. Pria lulusan fakultas ekonomi Universitas Borobudur, awalnya memulai bisnisnya jual-beli mobil. “Sebelum jual-beli mobil pun saya dulunya pernah menganggur, tetapi saat itu seluruh pekerjaan kita kerjakan, kernek, sopir, menjadi ojek payung, pegamen, jocky tri in one. Semuanya pernah nah saya lakoni,” ceritanya.

Pria tujuh bersaudara ini, awalnya, begitu lulus SMA di Pematang Siantar tahun 1992 langsung datang ke Jakarta. Awalnya, menumpang di rumah pamannya, lalu ngontrak bersama abangnya di bilangan Mampang Prapatan. Di Jakarta dia sempat menganggur, lalu memulai kerja serabutan. Masih jernih dalam ingatannya setiap hari Sabtu, tatkala menyiasati hidup, hanya untuk makan, masuk ke gedung Restu di Jalan Tandean, Jakarta Selatan.

Tetapi itu hanya sebagai bahan diingat, dia tidak larut dalam kehidupan yang memprihatinkan itu. Rudolf Naibaho kelahiran Pematang Siantar, 23 Februari 1974 itu terus mensiasati hidup dengan terus mencari cela-cela yang bisa dijadikan peluang. Menikah tahun 2000 dengan SM boru Sitohang. Anak kelima dari tujuh bersaudara. Anak dari almarhum MP Naibaho dan ibu St MS boru Ritonga. Bapak dari Stepani Putri Toton boru Naibaho, 10 tahun, dan Stepano Recuelo Toton Naibaho, 8 tahun.

Walau sudah lahir di Pematang Siantar, Rudolf berkata “saya putera Pangururan kelahiran Siantar.” Rudolf adalah orang yang sangat beruntung bila dibanding orang seusianya. Soal kemampuan bisnisnya sudah terasah semenjak sekolah menengah hingga sekolah SMA di Pematang Siantar, Rudolf sudah biasa mencari uang sendiri, memiliki usaha.

Motto hidupnya, hidup dijalani mengalir saja. “Saya tidak muluk-muluk, tidak punya ambisius untuk mengejar sesuatu. Tetapi, yang namanya kerja keras, kita bekerja sesuai porsi kita. Tuhan yang memberikan itu semuanya. Maka, tidak perlu lagi stress atau putus asa jika seluruh yang aku miliki.”

Sempat bekerja sebagai staf kantor di satu bank swasta, tetapi hanya dua tahun bertahan. Melihat sulitnya hidup di Jakarta, apalagi hanya lulus sekolah menengah atas, lalu Rudolf memberanikan diri sambil kerja kuliah di Universitas Borobudur jurusan ekonomi. Sekarang tidak hanya sukses dalam bisnis. Sukses baginya adalah seimbang.
Meski sudah tergolong pengusaha besar, tetapi tidak serta-merta terlihat dalam penampilannya. Orang supel, mengenakan pakaian pun tidak formal seperti pengusaha yang selalu parlente dalam penampilan. Disinilah keunikkannya, berbaur dengan karyawan.

Ketika usaha berkembang, pendapatan menanjak, maka dalam hidup ini perlu keseimbangan, perlu juga memikirkan keluarga dan dunia sosial, itu niatnya. Untuk menyeimbangkan hidup ini Rudolf menjadi pengurus pemuda di punguan Naibaho Siahaan dohot Boruna. Selain itu, sebagai pengusaha dia tahu betul tidak-bisa-eksis jika tidak ditopang orang lain dan organisasi.

Selain itu, dia menjadi Pengurus Badan Pengurus Daerah Gapensi DKI Jakarta masa kepengurusan 2006-2010 menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan. Selain itu dia juga tercatat sebagai seorang anggota Kadin sebagai organisasi pengusaha.

William Satar Naibaho salah satu managernya yang mengelola New Hunter Pub menyebut Rudolf adalah orang sangat peduli pada karyawannya. Satu hal membuat usahanya terus menanjak tak lepas orang-orang yang bekerja dengan Rudolf adalah orang-orang yang loyal. Itu semuanya tak lepas dari kepedulian pada orang lain, lean ahu hulehon ho, marsipaleanan. Hidup ini saling memberi.

“Intinya kepeduliannya itu membuat kita betah bekerja. Sebagai pengusaha, dia professional menempatkan seluruh karyawannya sebagai mitra. Salah hal yang banyak saya tiru dari pak Rudolf adalah kemampuannya sebagai seorang masih muda, lebih muda dari saya, tetapi lebih tua dari umurnya dia bisa pimpin, tanpa merasa kita di bahwanya,” ungkap personil Labarata Trio ini.

Rudolf memang menjadi panutan bagi karyawannya. “Kita merasa nyaman bermitra dengan Rudolf. Dia tidak pernah membeda-bedakan orang lain, apalagi karyawan. Sebagai pemilik New Hunter karyawan dibuatnya semua bekerja dengan nyaman. Saya sebagai manager di New Hunter Pub diberikan keleluasaan untuk memajukan usaha ini. Satu lagi, memberikan kepercayaan pada orang setiap orang, sesuai dengan kemampunnya,” ujar Dewan Pendiri LSM PHAKSI-Pembela Hak Intelektual dan anggota Panitia LCLB-Lomba Cipta Lagu Batak.

Kehidupan manusia, sukses dan gagal, ibarat buku yang bisa dibaca siapa saja. Kesuksesan hanyalah yang tampak, tetapi dibalik seluruh proses menjadi berhasil itu tentu membutuhkan perjalanan panjang. Ini ditunjukkan Rudolf “Toton” Naibaho, 37 tahun sebagai pengusaha sukses. Kesuksesannya bisa menjadi pelajaran yang berharga, pelajaran menarik bagi generasi muda. Dan, tentunya banyak sosok muda yang seperti Rudolf mencuak, memperoleh semuanya tentu dengan kerja keras. Sebagai orang Batak perlu diacungi jempol.***Hotman J. Lumban Gaol

tulisan ke-2

Rudolf Naibaho, SE
PENGUSAHA MUDA SUKSES
MEMILIKI SIFAT RENDAH HATI
Pengusaha muda masih sangat langka ditemukan hingga saat ini, apalagi hasil jerih payah yang dirintis dirinya sendiri. Kalau pun ada pengusaha muda, kebanyakan menjalankan usaha warisan yang sudah dirintis orang tua, kakek atau leluhur sebelumnya.
Berbeda dengan Rudolf  Naibaho SE, 37 tahun, pendiri gedung mewah Toton Baho di Jalan Pekayon Raya, Bekasi Selatan, Kotamadya Bekasi. Dia merupakan pengusaha muda yang bekerja keras merintis usaha sendiri sejak dari awal.

Bertemu sang pengusaha muda ini, memberikan kesan tersendiri. Walau memiliki umur masih tergolong muda, tetapi konsep dan cara mengelola usahanya akan membuat decak kagum bagi yang mengenalnya. Jangan tanya apa yang sudah dicapainya, karena di umur semuda itu, dia sudah memiliki 6 (enam) bidang usaha yang tergabung dalam induk “Toton Group”.

Orang yang melihat gedung Toton Baho yang baru dibangunnya itu, umumnya menyebut pemiliknya pengusaha besar dan pasti sudah berumur tua. Nyatanya bukan demikian, karena ternyata pemiliknya masih berumur relatif sangat muda untuk ukuran seorang pengusaha.

Bidang usaha yang dimilikinya saat ini tengah berkembang adalah bisnis kontraktor yang bernaung dalam PT Toton Cita Abadi. Selain bergerak dalam bidang kontraktor, dia juga menjalankan usaha dalam bidang supplier dan trading.
Lalu, dia menjalankan usaha Toton Mobilindo yang bergerak di bidang jual-beli mobil. Showroom yang dimilikinya berada persis di depan Universitas Borobudur, Kalimalang, Jakarta.

Kemudian dia memiliki Toton Production yang bergerak di bidang industri rekaman. Selain itu, dia menjalankan usaha perkebunan di Krintang, Riau. Untuk memenuhi hobbynya dalam mendengar lagu, dia menjalankan bisnis hiburan, dengan mendirikan New Hunter yang terdiri dari café dan pub.

Usaha yang terakhir dirintisnya adalah mendirikan gedung Toton Baho, Grand Ball Room. Tempat ini merupakan gedung megah multi fungsi ber-arsitektur Batak. Gedung yang bisa menampung tempat duduk hingga 2000 kursi itu, diperuntukkan bagi pesta pernikahan adat daerah/nasional, resepsi pernikahan/acara perpisahan, pesta hari ulang tahun, perayaan hari raya (Idul Fitri, Natal, Waisak), khitanan, seminar, wisuda, acara rapat, dan pertemuan/perayaan lainnya.

Dalam bincang-bincang dengan DALIHAN NA TOLU baru-baru ini, Rudolf Naibaho SE menyatakan diperkirakan pada bulan Mei 2011 mendatang, gedung Toton Baho akan diresmikan. Dimana dalam peresmian nanti, penguntingan pita akan dilakukan ibu kandungnya boru Ritonga. “Dalam peresmian ini, nantinya yang menggunting pita akan saya serahkan kepada ibu saya,” ujarnya.

Orang yang mengenal Rudolf Naibaho SE, mungkin akan bertanya-tanya dalam hati. Wah, masih muda, bagaimana mengelola bisnis yang demikian banyak? Ketika hal ini ditanyakan kepadanya, dia menjawab dengan singkat “Ah, itu belum apa-apa lae.”
Dari jawabnya itu tersirat, bahwa dia merupakan sosok pengusaha muda sukses yang memiliki sifat rendah hati. Dia juga merupakan pengusaha yang memimpin tidak bisa dianggap remeh dengan ratusan karyawan.

“Saya memulai usaha dari bawah. Saya tidak dapatkan dengan instant, tetapi dengan kerja keras dan terus belajar, tentu dengan bantuan orang lain. Jadi ini belum apa-apalah,” katanya dengan rendah hati.
Diungkapkannya, rahasia membangun usaha sesungguhnya adalah ketika mampu membahagiakan orang lain, rezeki akan mengalir. Jadi dalam perjalanan hidupnya, seluruhnya dijalani dengan apa adanya.

MENGALIR BEGITU SAJA
Ketika Rudolf Naibaho SE diminta bercerita tentang awal membangun usaha yang saat ini sudah mulai menggurita, dia menyebut bahwa dirinya bukanlah pebisnis visioner, atau orang yang pintar dalam berbisnis.
Tetapi fakta dalam perjalanan hidupnya, dia telah meraih banyak hal. Dia mampu membuat sensasi usaha dengan bisnis terukur. Kata kunci yang menjadi rahasia dalam mengelola bisnis baginya adalah “mengalir begitu saja”.
Dalam mengelola kegiatan usaha, dia telah memberikan kepercayaan (delegating) kepada masing-masing orang yang bisa mengerti bidang bisnis tersebut.

“Jadi saya tidak perlu turun tangan lagi. Biasa saja, saya berkunjung baru setelah berminggu-minggu. Praktis yang saya lakukan hanya memberikan kepercayaan bagi para pengelola. Saya katakan, ini milik kita, maka rawatlah seperti milikmu. Itulah yang saya selalu sampaikan kepada mereka,” ujarnya.

Walau pola pikir bisnisnya simple (sederhana), tetapi justru hal ini menjadi kekuatan (strength) dalam menjalankan usaha. Sehingga dia bisa melihat peluang (opportunity) dalam bisnis lainnya. Praktis dia menyerahkan kepemimpinan operasional perusahaan kepada seluruh orang-orang kepercayaanya.

Pada awal menjalankan bisnis, pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur ini, memulai usaha jual-beli mobil. Sebelum jual-beli mobil pun, dia tidak memiliki kegiatan alias menganggur. Tetapi dengan semangat dan kemauan untuk maju, dia pun akhirnya melakoni pekerjaan serabutan sebagai kernek, sopir, menjadi ojek payung, pengamen, jocky three in one. Semuanya ini dijalankannya tanpa suatu beban, sehingga memacunya untuk selalu berjuang meraih kesuksesan.
Rudolf Naibaho SE merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara, putra MP Naibaho (almarhum) dan ibu St MS boru Ritonga. Dia lahir di Pematang Siantar 23 Februari 1974. Ketika lulus SMA di tempat kelahirannya tahun 1992, dia langsung merantau ke Jakarta. Awalnya, dia menumpang di rumah pamannya, lalu ngontrak bersama abangnya di bilangan Mampang Prapatan.
Dia menikah dengan SM boru Sitohang tahun 2000. Saat ini dia dikaruniai Tuhan dua orang anak yakni Stepani Putri Toton boru Naibaho berusia 10 tahun, dan Stepano Recuelo Toton Naibaho berusia 8 tahun.

Walau dia lahir di Pematang Siantar, tetapi terhadap teman-teman dan relasinya dia selalu memperkenalkan dirinya “Putera Pangururan kelahiran Siantar”. Dia merupakan manusia yang masuk kategari sangat beruntung, bila dibandingkan dengan orang seusianya. Kemampuan bisnisnya sudah terasah semenjak sekolah menengah hingga menempuh pendidikan SMA di Pematang Siantar. Karena sejak muda, dirinya sudah terbiasa mencari uang sendiri dengan memiliki usaha kecil-kecilan.

Satu hal yang tidak dapat dilupakannya dalam hidup, ketika sudah berdomisili di Jakarta dan tidak memiliki pekerjaan, maka hari setiap Jumat dan Sabtu untuk menyiasati hidup, dia masuk ke gedung pertemuan Restu di Jalan Tandean, Jakarta Selatan, untuk makan siang sekedar mengisi perut.
Tetapi itu hanya sebagai nostalgia bahan ingatan, karena dia sendiri tidak larut dalam kehidupan yang memprihatinkan itu. Dia terus mensiasati hidup dengan mencari celah-celah yang bisa dijadikan peluang.

SUKSES SEIMBANG
Rudolf Naibaho SE memiliki motto hidup yang sederhana yakni hidup dijalani mengalir saja. Dia tidak muluk-muluk dalam menghadapi hidup. Tidak memiliki sifat ambisius untuk mengejar sesuatu. Tetapi, yang namanya kerja keras, dijalaninya sesuai porsi. “Tuhan yang memberikan itu semuanya. Maka, tidak perlu lagi stress atau putus asa, terhadap seluruh yang kita miliki,” ujar dengan religius.
Sebelum menjalankan usaha sendiri, dia sempat bekerja sebagai staf kantor di salah satu bank swasta. Akan tetapi, dia hanya dapat bertahan selama dua tahun. Melihat sulitnya hidup di Jakarta apalagi dengan hanya mengandalkan lulusan sekolah menengah atas, lalu dia memberanikan diri sambil kerja kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Borobudur. Sekarang dia tidak hanya sukses dalam bisnis, tetapi juga dapat menyelesaikan pendidikan hingga tingkat strata satu (S1) dengan meraih gelar Sarjana Ekonomi (SE). Sukses baginya adalah seimbang.
Meski sudah tergolong pengusaha besar, tetapi tidak serta-merta terlihat dalam penampilannya. Orang supel, low profile dengan mengenakan pakaian pun tidak formal seperti pengusaha yang selalu parlente dalam penampilan. Di sinilah keunikan pengusaha muda ini, karena memiliki sifat yang selalu berbaur dengan karyawannya.
Menurutnya, ketika usaha sudah berkembang dan pendapatan menanjak, maka dalam hidup ini perlu keseimbangan. Selain itu, dia juga memiliki niat memikirkan keluarga dan kegiatan sosial. Untuk menyeimbangkan hidup ini, dia menjadi pengurus pemuda di Punguan Naibaho Siahaan dohot Boruna. Sebagai pengusaha, dia tahu betul bahwa tidak akan bisa eksis, jika tidak ditopang orang lain dan organisasi.
Dia aktif sebagai anggota Dewan Pertimbangan pada Badan Pengurus Daerah Gapensi DKI Jakarta masa kepengurusan 2006-2010. Selain itu dia juga tercatat sebagai anggota pada organisasi pengusaha Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta.
William Satar Naibaho salah satu managernya yang mengelola “New Hunter Pub” menyebut Rudolf Naibaho SE sebagai figur orang yang sangat peduli pada karyawannya. Satu hal membuat usahanya terus menanjak, tidak lepas dari orang-orang yang loyal bekerja dengannya. Itu semua tidak lepas dari kepedulian pada orang lain “Lean tu ahu, hulean tu ho. Marsipaleanan”. Hidup ini memang harus saling memberi.
Personil Labarata Trio ini menyatakan intinya kepedulian itu membuat dirinya betah bekerja. Sebagai pengusaha, dikatakannya, Rudolf seorang professional yang selalu menempatkan seluruh karyawannya sebagai mitra. Diakuinya, salah satu hal yang banyak ditiru dari Rudolf adalah kemampuannya sebagai seorang masih muda. Walau usianya lebih muda, tetapi orang lebih tua dari umurnya pun bisa dipimpin, tanpa merasa dijadikan di bawahnya.
Sebagai manager di New Hunter Pub, William Satar diberikan keleluasaan untuk memajukan usaha itu. “Satu lagi yang membedakan Rudolf dari pengusaha lain, selalu memberikan kepercayaan pada setiap orang, sesuai dengan kemampuannya,” ujarnya Dewan Pendiri LSM Pembela Hak Intelektual (PHAKSI) dan anggota panitia Lomba Cipta Lagu Batak (LCLB) ini.

PEDULI SESAMA
Dengan melihat aktifitas Rudolf Naibaho SE dalam keseharian, tak ayal memang menjadi panutan bagi karyawannya. Setiap orang merasa senang dan nyaman bermitra bisnis dengannya.
Dia memiliki sifat yang sangat peduli terhadap sesama. Dia menganggap setiap orang yang berhubungan dengannya, sebagai orang yang sangat diperlukan. Sehingga tidak pernah membeda-bedakan orang, apalagi karyawan sendiri. Sebagai pemilik “New Hunter Pub” semua karyawan dibuatnya bekerja dengan nyaman.
Memang kehidupan manusia baik sukses maupun gagal, ibarat buku yang bisa dibaca siapa saja. Kesuksesan hanyalah yang tampak, tetapi di balik seluruh proses menjadi berhasil itu, tentu membutuhkan perjalanan panjang. Ini ditunjukkan Rudolf Naibaho SE sebagai pengusaha sukses. Kesuksesannya bisa menjadi pelajaran yang berharga, pelajaran menarik bagi generasi muda.
Tentunya diharapkan kelak makin banyak sosok muda putra Batak yang mencuat seperti Rudolf Naibaho SE yang memiliki kepedulian. Sebagai orang Batak dia perlu diacungi jempol, karena memperoleh semuanya dengan kerja keras dalam hidup.
Hal ini terlihat dari sifat dan setiap ucapannya yang selalu terlontar dengan rendah hati. Selalu mengaku tidak terlalu hebat memimpin anak buahnya, dan mengelola bisnis juga semata-mata karena faktor nasib.
Berbincang-bincang dengan sang pengusaha muda ini, sangat menyenangkan hati. Karena setiap melontarkan kalimat, selalu disampaikan dengan santun, lugas, dan rendah hati. “Saya merasa tidak terlalu hebat dalam memimpin usaha. Itu semua karena Tuhan memberikan, dan kebetulan faktor nasib,” pungkasnya dengan merendah.
Hotman J. Lumban Gaol

keteranga; tulisan ini pernah dimuat di majalah Dalihan Na Tolu

Berita tentang Toton Baho

http://totonbaho.blogspot.com/2011/09/fasilitas-toton-baho-ballroom.html

Djonggi M. Simorangkir, SH, MH


Djonggi Simorangkir, 54 tahun, adalah pengacara yang selalu sesuai ucapan dengan tindakan. Pria kelahiran 11

Djonggi M Simorangkir

November 1957 ini memang sudah lama mengeluti dunia pengacara. Sebagai pengacara Djonggi dikenal garang, tanpa rasa takut menghadapi siapa pun.

Namun, dibalik kegarangannya, Djonggi juga selalu membela yang tertindas, termasuk menagani kasus sidang Provinsi Tapanuli (Protap). Dia tampil dengan tanpa dibayar membela orang-orang yang dipejarakan karena menuntut dirikannya Protap.

“Saya siap membela dengan sepenuh hati, tanpa dibayar kalau membela korban demo Protap,” ujarnya Ketua DPP Ikatan Advokasi Indonesia (IKADIN) Bidang Hak Asasi Manusia (HAM) periode 2007-2012, ini. Djonggi dipercaya bersama rekanya Rahmat Irawan SH, memimpin Bidan HAM.

Sebagai seorang advokasi, dia berteman dengan siapa saja. Satu musuh menurut dia terlalu banyak, seribu teman masih terlalu sedikit. Maka, tak mengherankan, dia berteman dengan berbagai kalangan. Salah satu rekannya yang sudah sepuh di dunia pengacara salah satunya O C Kaligis.

Karena pertemanan pula dia diundang khusus sebagai tamu kehormatan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang untuk menghadiri World Ocean Conference (WOC) atau Konferensi Kelautan Dunia yang digelar di Manado pada Mei 2009, lalu. Bersama istri tercinta Ida Rumindang boru Rajaguguk SH MA yang juga pengacara diundang. Keduanya diundang secara khusus oleh Gubernur Sulawesi Utara, itu juga karena pertemanan.

“Itulah pertemanan. Pertemanan itu link. Bila kita berbuat baik kepada sesama, di mana pun kita berada pasti ada saja teman yang ingat kepada kita walaupun dia berada di pulau lain,” ujarnya mengurai pentingnya pertemanan.
Djonggi memang, di setiap kesempatan dijadikannya momentum. Misalnya, kehadirannya sebagai undangan di Manado itu dia gunakan untuk kesempatan, pertemuan dengan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang khusus membicarakan sharing budaya, kerjasama yang bisa saling membangun, kearifan lewat pertukaran budaya.
Sudah tentu, sebagai orang Batak, dia amat peduli dengan budayanya. Itu sebabnya dia meluangkan waktu hadir ke Menado untuk membicarakan kerja sama dua budaya agar bisa terealisasi secepatnya.

Membela Protap

Tak banyak seperti Djonggi. Kala orang alegir membicarakan Prota, pasca demo itu, Djonggi tanpa tendeng aling-aling berani membela orang yang dipenjara. Insiden yang kemudian memakan korban Azis Angkat meninggal pun, menurut dia jangan ditarik-tarik ke masalah politik.

Demo arnakis itu, oleh Pengadilan Negeri Medan menetapkan 67 tersangka yang kemudian menahan 48 tersangka. Djonggi dengan sigap menjawab, membela bersama teman-temannya, tanpa meminta bayaran. Pembelaan dilakukan semenjak pemeriksaan oleh pihak Kepolisian, tahap banding bahkan sampai kasasi.

Bagi Djonggi orang-orang demo untuk Protap ini untuk membela hajat orang Batak, maka tentunya harus juga dibela. Kemampuan yang mumpuni sebagai pengacara, segudang pengalaman sebagai advokad mapan.
Ketiak orang lain tidak banyak peduli tentang kasus Protap, bagi Djonggi itu merupakan momen untuk mengabdi. Maka, secara resmi menerima kuasa dari beberapa orang Panitia Pembentukan Propinsi Tapanuli (P3TS) dan Simpatisan, yang saat ini sedang menjalani proses persidangan di Medan.

”Mandat itu baru saya terima dan mereka kirim dari Medan melalui titipan kilat,” katanya. Isi surat kuasa No Ist/P3TS/ MDN tertanggal 29 Juli 2009 yang diterimanya merupakan kuasa hukum secara global, dan untuk itu dia akan melakukan berbagai audensi ke pihak pihak-terkait, terutama kepda Mahkamah Agung, Menteri Dalam Negeri, Kejaksaan, serta DPR.

“Kita bukan untuk mencampuri proses atau putusan peradilan tetapi akan bicara dari hati ke hati. Untuk mempertanyakan apakah kasus demo Protap murni pidana atau memang sudah diboncengi kasus politik. Saya berharap kasus ini murni kasus hukum dan bukan kasus yang diboncengi politik,” katanya.
Pemberi mandat dan kuasa hukum kepada Djonggi Simorangkir dari P3TS antara lain Drs Burhanuddin Radjagukguk (Wakil Ketua), Djumongkas Hutagaol (Wakil Ketua), Ir Hasudungan Butar-Butar, M.Si. (Sekretaris Umum), Nurdin P. Manurung (Bendahara Umum).

Menjadi pengacara sudah menjadi cita-cita Djonggi sejak kecil. Baginya jika ingin menaklukkan dunia tentu harus mengerti hukum. “Memahami hukum tentu harus sekolah hukum.” Maka anak ke tujuh dari sebelas bersaudara ini begitu lulus sekolah lanjutan tingkat atas, langsung kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan hukum dan tamat tahun 1984. Masa itu USU sebagai ikon sarjana hukum Indonesia.

Djonggi dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan. Maklum orangtuanya pengusaha di Paranginan, Humbang-Hasundutan. Tapi hal itu tidak membuatnya sombong, bahkan semakin membuatnya terpacu untuk bekerja lebih maju. “Saya bersyukur bisa seperti sekarang ini,” katanya.

Meskipun sudah terkenal, pria yang penghoby membaca ini tidak pernah besar kepala. Setiap hari ia selalu mendoakan orang-orang dekatnya, tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Tidak heran jika dia menyebut doanya itu sangat bermamfaat.

Djonggi punya filosofi ‘tidak ada persoalan yang tidak terselesaikan’ ini selalu berpikiran positif terhadap semua orang. Termasuk kepada calon legislative dari kalangan artis yang saat ini akan menghuni Senayan. Sebagai pengacara yang disebut-sebut harus pintar berbicara dan mengerti hukum yang dalam. Djonggi terus mengisi tangkinya, dengan melanjutkan kuliah ke tingkat strata dua.

Baginya kesuksesan harus berimbang; keluarga, karier, dan masalah spiritualitas juga tetap dianggapnya sebagai penyokong setiap kennerjanya. Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang sebenatar lagi merayakan jubileum 150 tahun. Panitia jubileum punya banyak program, termasuk gerakan penanam pohon. Djonggi tanpa diminta panitia menawarkan diri untuk memberikan sumbangan sejumlah pohon untuk ditanam. Baginya, dengan keseimbangan itu, hidup ini berarti dan bermakna.***Hotman J Lumban Gaol

Biodata
Nama: Djonggi Simorangkir
Lahir: 11 November 1957
Nama istri: Ida Rumindang boru Rajaguguk, SH, MA

Pekerjaan:
Advokat, Pengacara, Penasehat Hukum
Jabatan Ketua BIdang Hak Asasi Manusia IKADIN

Pendidikan:
S1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
S2 Fakultas Hukum Universitas Parayangan Bandung

Alamat Kantor
Gedung Arva
Lantai 3
Jalan RP Soeroso No. 40 Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat

GM Panggabean


GM Panggabean, bernama lengkap Gerhard Mulia Panggaben, lahir di Sibolga, 8 Juni 1929 dan meninggal di Singapura, 20 Januari 2011. Tokoh pers dan pendiri (Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi) Harian Sinar Indonesia Baru (SIB), koran nasional terbitan Medan, ini seorang tokoh dan pejuang masyarakat Batak berintegritas tinggi dan berjiwa kebangsaan. Dia seorang nasionalis sejati yang berakar kuat pada identitas dirinya sebagai warga masyarakat adat Batak. Sebagai seorang jurnalis, dia punya prinsip teguh, visioner dan pejuang. Bahkan, dia bukanlah jurnalis biasa, yang hanya pandai merangkai kata, tetapi dia adalah seorang tokoh pejuang yang mengakar pada masyarakat pembacanya.

Tidak banyak tokoh pers yang memiliki kharisma yang sedemikian kuat di mata masyarakatnya (pembacanya). Dia jurnalis yang pemimpin, tokoh masyarakat Batak kharismatik, yang sangat gelisah melihat ketidakadilan, fanatisme sempit dan kekerdilan berpikir. Dia seorang tokoh pejuang yang meyakini bahwa keberagaman adalah keniscayaan! Bagi dia, nilai-nilai dasar Pancasila, adalah asas yang harus dipegang teguh dan diimplementasikan secara konkrit dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka dia sangat gelisah, bila melihat penyimpangan atau pengaburan atas nilai-nilai dasar bernegara tersebut.

Dia berani bersuara, bersikap dan bertindak untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan yang diyakininya. Maka, tak heran bila dia sangat dikagumi masyarakatnya (terutama pembacanya), sekaligus sangat disegani orang-orang yang berbeda pandangan dengannya. Dia seorang pemimpin kharismatik yang kontroversial. Dalam pengaruh politik, dia tokoh yang sangat disegani di Sumatera Utara. Sangat banyak tokoh yang ingin menjadi pemimpin (Gubernur, Bupati dan Walikota serta jabatan-jabatan pelayan publik lainnya) merasa memiliki keyakinan bila telah menemui GM Panggabean lebih dulu. Bahkan, ketika masa kampanye Pemilu Presiden pun, selalu ada Calon Presiden menemuinya. Bukan hanya calon pejabat, bahkan calon pimpinan gereja pun di Sumatera Utara juga menemuinya lebih dulu. Dan, biasanya pertemuan seperti itu selalu diekspose di Koran Sinar Indonesia Baru (SIB) yang dipimpinnya, lengkap dengan foto-fotonya.

Tak jarang penampilan seperti ini dikritik beberapa (bahkan banyak) orang. Tetapi, suka atau tidak, diakui atau tidak, mereka merasakan kehebatannya. Dia memang bukanlah jurnalis biasa-biasa. Yang hanya bisa menulis berita, opini, tajuk atau catatan-catatan pojok, sekilas, pinggir atau semacamnya. Melainkan, dia seorang jurnalis yang secara total, termasuk bahasa tubuhnya, memberi pengaruh pada lingkungannya. Dia tokoh pers sekaligus tokoh masyarakat fenomenal di Sumatera Utara. Dia pemimpin informal yang amat berpengaruh.

Semangat juang untuk menegakkan keadilan sudah terpatri dan terasah dalam dirinya sejak masih muda. Tatkala masih berusia sembilan belas tahun, dia ikut berjuang dalam PRRI yang menuntut pemerataan pembangunan. Dia menjadi Walikota Sibolga dan kemudian menjadi Menteri Penerangan PRRI di Tapanuli. Sesudah itu, dia menjadi wartawan Harian Waspada di Tapanuli yang beberapa saat kemudian ditarik ke Medan. Di Harian Waspada dia sempat menjadi kepercayaan H. Mohammad Said (HMS) dan Hj. Ani Idrus (kedua tokoh ini sudah almarhum), pendiri dan pemimpin Harian Waspada. Bahkan GM Panggabean sempat menjabat Kuasa Usaha Harian Waspada. Maka, bagi dia, kedua tokoh pers itu adalah sebagai guru, terutama H. Mohammad Said (HMS) sangat dihormatinya sebagai orang tua, guru dan sesepuh.

Kemudian, bersama rekan-rekannya, Pak GM (panggilan akrabnya) mengelola Harian Sinar Harapan Edisi Sumatera Utara. Koran ini pun berkembang pesat. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 9 Mei 1970, bersama MD Wakkary dan teman-temannya mendirikan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB). Pertama kali dan kemudian selama tiga tahun, koran ini dicetak di percetakan Harian Waspada. Koran ini seperti bayi yang cepat besar. Hanya dalam tiga tahun, koran ini sudah menguasai pasar di Sumatera Utara, Aceh dan Riau. Dalam tiga tahun usia Harian SIB, koran Sinar Harapan pun berhenti terbit, pangsa pasarnya sudah beralih ke Koran SIB. Koran ini pun menjadi pesaing serius bagi Koran Waspada dan Mimbar Umum yang kala itu terbilang berpengaruh di Sumatera Utara. Bahkan dalam usia lima tahun hingga akhir tahun 1980-an, Koran SIB menyatakan diri sebagai koran terbesar di Sumatera dengan mencantumkan kata itu di banner depan. Memang, harus diakui, dari segi oplah dan pengaruh, kala itu, koran inilah yang terbesar

Kala itu, pengaruh koran ini sangat kuat, terutama di Sumatera Utara. Konprensi pers yang dilakukan sebuah instansi bisa ditunda beberapa saat hanya karena wartawan koran ini belum tiba di tempat. Bahasanya lugas dan tidak banyak basa-basi. Tegas dan jelas! Kritiknya membuat orang yang tipis kuping, tersingung. Komitmennya tentang pembangunan daerah sangat tinggi, walaupun pada masa sentralisasi kekuasaan pusat. Terutama pembangunan Tapanuli. Kendati kata ‘Tapanuli Peta Kemiskinan” pertama kali dirilis Harian Sinar Harapan Jakarta, tetapi koran SIB-lah yang selalu gigih, di barisan terdepan, memperjuangkan pembangunan Tapanuli. Sehingga di kalangan tertentu di Jakarta, koran ini dijuluki sebagai Koran Batak.Kala itu, pengaruh koran ini sangat kuat, terutama di Sumatera Utara. Konprensi pers yang dilakukan sebuah instansi bisa ditunda beberapa saat hanya karena wartawan koran ini belum tiba di tempat. Bahasanya lugas dan tidak banyak basa-basi. Tegas dan jelas! Kritiknya membuat orang yang tipis kuping, tersingung. Komitmennya tentang pembangunan daerah sangat tinggi, walaupun pada masa sentralisasi kekuasaan pusat amat kuat. Terutama pembangunan Tapanuli yang jauh tertinggal dibanding daerah lain. Kendati kata ‘Tapanuli Peta Kemiskinan” pertama kali dirilis Harian Sinar Harapan Jakarta, tetapi koran SIB-lah yang selalu gigih, di barisan terdepan, memperjuangkan pembangunan Tapanuli. Sehingga di kalangan tertentu di Jakarta, koran ini dijuluki sebagai Koran Batak.

Koran ini pernah dibredel akibat pemberitaan nasional. Beberapa kali juga pernah diusulkan agar dibredel oleh pejabat-pejabat penting di Sumut dan kelompok masyarakat tertentu. Suatu ketika pejabat penting Sumut pernah mengusulkan ke Pusat agar koran ini ditutup karena dianggap membuat berita sara terkait Rektor USU AP Parlindungan. Tetapi di lain kesempatan, bahkan Sinode HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) pernah pula mengusulkan agar ‘Koran Batak’ ini ditutup. Tetapi koran ini tetap eksis dengan jati dirinya yang teguh. Bahkan julukan ‘Koran Batak’ justru menyelamatkannya dari tindakan pemberangusan. Karena, Koran SIB dengan pemberitaan-pemberitaannya yang kritis, dinilai (dan sekaligus membela diri) sedang mencubit dirinya sendiri. Hal mana, kritik yang diberikan kepada instansi, lembaga, pejabat, tokoh dan/atau kelompak masyarakat di Sumatera Utara dinilai tidak hanya dirasa sakit oleh orang yang dikritik tetapi sesungguhnya juga dirasa sakit oleh para pengelola koran ini sendiri. Bukankah Koran SIB dijuluki Koran Batak?

Kontroversi, atau lebih tepat disebut sebagai dinamika, tentang isi pemberitaan (kritik) koran ini. Nama koran ini (SIB), saat suatu ketika pernah diusulkan pihak tertentu di Sumut agar dibredel, melahirkan dua plesetan. Kata SIB yang sebenarnya adalah kependekan (akronim) dari Sinar Indonesia Baru, diplesetkan oleh orang yang merasa tidak senang dengan Semua Isinya Bohong (SIB). Tetapi bagi pihak yang menyenangi, apalagi para pelanggan setianya, menyebut sebaliknya, Semua Isinya Benar (SIB). Itulah gambaran dinamika koran ini yang merupakan personifikasi dari GM Panggabean, Sang Pemimpin.

Dinamika itu semakin intens tatkala GM Panggabean mendirikan sekaligus memimpin (menjabat Ketua Umum) Lembaga Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, disingkat Lembaga Sisingamangaraja XII berpusat di Medan. Lembaga ini dideklarasikan dalam Rapat Umum di Stadion teladan Medan dalam rangka peringatan 9 Windu Wafatnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII, 17 Juni 1979, yang dihadiri puluhan ribu warga masyarakat adat Batak (Toba, Simalungun, Angkola, Mandailing, Karo, Pakpak -Dairi, dan Pesisir Barat dan Timur) yang datang dari berbagai daerah.

Lembaga ini mendapat dukungan luas dari masyarakat Sumatera Utara. Tidak hanya yang tinggal di Sumatera Utara, tetapi juga di seluruh Nusantara. Kala itu, hampir di seluruh Provinsi di Indonesia berdiri Cabang Lembaga Sisingamangaraja. Kharisma kepemimpinnya semakin menyala. Melalui lembaga ini, dia menggalang partisipasi masyarakat untuk membangun daerahnya, melakukan gotong-royong. Antara lain, jalan dari Doloksanggul menuju Bakkara yang amat terjal dan sama sekali tidak bisa dilalui kenderaan, dibuka dengan gotong royong oleh masyarakat dari dua kecamatan (Doloksanggul dan Muara). Begitu juga di Parlilitan dan Parmonangan, dan daerah-daerah yang masih terisolasi lainnya, dibuka dengan bergotong-royong. Spirit untuk membangun bangkit. Sehingga kemudian Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mengikut meluncurkan gerakan pembangunan Marsipature Hutana Be (Martabe).

Melalui Lembaga ini, Pak GM pun berhasil menghimpun partisipasi masyarakat dengan membuka ‘dompet’ di Harian SIB, untuk membangun tugu Pahlawan Nasional Sisirangaraja XII di Jalan Sisingamangaraja, Medan, persis di depan Stadion Teladan. Pada kesempatan inilah juga dia mendirikan Universitas Sisingamangaraja di Medan dan Siborongborong, Tapanuli. Kedua universitas ini lahir atas usulan tokoh-tokoh masyarakat adat Batak yang terhimpun di Lembaga Sisingamangaraja. Maka, sangat pantas, pada kesempatan inilah dia diberi kehormatan menjadi Anggota MPR-RI, dua periode, mewakili daerah dan golongan masyarakat adat Sumatera Utara.

Kala itu, selain berbagai dukungan dan apresiasi diberikan kepadanya, juga ada tudingan dan spekulasi kecurigaan dialamatkan kepadanya. Dengan menggalang perhimpunan di Lembaga Sisingamangaraja, dia dikira (dituding) berambisi menjadikan dirinya untuk dinobatkan menjadi Sisingamangaraja XIII. Tudingan ini tidak beralasan, karena Pak GM sangat memahami siapa Sisingamangaraja (Dinasti Sisingamangaraja) lebih dari orang yang menudingnya. Namun, dia tidak mau surut, dengan tudingan miring itu, sebab dia hanya melihat Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja sebagai sebuah nama yang amat berpengaruh mempersatukan masyarakat Sumatera Utara, bukan hanya suku Batak.

Kekuatiran juga muncul di sebagian pemimpin gereja: Jangan-jangan kehadiran Lembaga Sisingamangaraja berpengaruh menghidupkan kembali faham animisme.[1] Kekuatiran ini hanyalah karena sebagian pendeta kurang mau memahami visi dan misi Lembaga Sisingamangaraja yang mengusung gerakan moral dan kebersamaan dari sisi adat-budaya. Hal ini bisa pula dimaklumi, jangankan Lembaga Sisingamangaraja, bahkan sampai saat ini masih ada kalangan pendeta yang membakar ulos karena kuatir ulos dan adat itu animisme.

GM Panggabean telah mendobrak kekuatiran ini. Diskursus mengenai agama dan kebudayaan menjadi amat intens kala itu. Penggunaan alat musik tradisional Gondang Batak dan ulos yang kala itu masih belum terbiasa (bahkan dilarang) di Gereja, hari ini telah menjadi bahagian dari upacara ritual kebaktian di banyak gereja, khususnya gereja-gereja Batak. Pemahaman perihal proses pengudusan kebudayaan semakin meluas dan memasyarakat.

Namun, tidak ada gading yang tidak retak. GM Panggabean bukanlah malaikat. Ketika para pendeta HKBP ‘bertikai’, Pak GM terasa (dianggap) keberpihakannya kepada salah satu pihak. Walaupun anggapan ini tidak seluruhnya benar bila dicermati sejak awal terjadinya ‘pertikaian pendeta HKBP’ itu. Awalnya, beberapa pendeta melakukan protes atas kepemimpinan Ephorus HKBP Dr. SAE Nababan, setelah melakukan retreat di Parapat, 16 Maret 1988. Mereka menerbitkan buku surat terbuka kepada ephorus berjudul “Parmaraan di HKBP’ Subjudul ‘Qua Vadis HKBP’ dengan gambar sampul Salib Retak-Patah. Dalam buku itu dibeberkan berbagai ‘penyimpangan iman’ HKBP yang mereka simpulkan sebagai ancaman bahaya dan ajaran sesat masuk ke tubuh HKBP yang dilakukan Ephorus SAE Nababan, yang kala itu belum satu tahun terpilih dan membawa Tim Evangelisasi Nehemia dari Jakarta (melayani dengan tidak sesuai Konfessi HKBP).[2]

Kala itu, Pak GM dan Harian SIB ‘masih’ obyektif. Tetapi pendeta yang memprotes menuding SIB berpihak pada Ephorus SAE Nababan. Hal ini dinyatakan dalam beberapa publikasi yang mereka buat, termasuk dalam buku Qua Vadis HKBP dan buku ‘Nunga Lam Patar Angka Poda Na Lipe na Bongot tu HKBP’ yang diterbikan kemudian. Maklum, sebab SAE Nababan adalah Ephorus HKBP yang pertama mau menghadiri acara yang diselenggarakan Lembaga Sisingamanagaraja, yakni di Universitas Sisingamangarja Tapanuli di Siborongborong.

Lalu, dalam perkembangan berikutnya, ketika Ephorus Nababan mengultimatum dan kemudian memecat 22 pendeta, 10 sintua, 2 bibelvrow dan 1 karyawati yang memprotes (peserta Retreat di Parapat dan tak mau minta maaf), Pak GM dan Harian SIB mengambil sikap menolak tindakan pemecatan tersebut. Pemberitaan SIB secara simultan mengkritisi Ephorus Nababan dan pendukungnya. Kemudian, para pendeta yang dipecat tersebut, yang semula menyebut SIB berpihak kepada Ephorus Nababan, merapat ke Pak GM (SIB). Begitu pula beberapa tokoh anggota jemaat HKBP di Jakarta dan Medan melakukan hal yang sama dengan membentuk Forum Komunikasi Ruas HKBP di Jakarta dan Sekber Kemurnian HKBP di Medan yang mengkritisi kepemimpinan Ephorus Nababan, menuntutnya mundur. Dalam konkeks inilah Harian SIB mengambil sebuah sikap, yang bagi mereka yang dikritisi terasa tidak obyektif.

Di samping itu, berbagai spekulasi juga dilontarkan, bernaliknya keberpihakan Pak GM (Harian SIB) kepada pendeta yang dipecat, bukan semata-mata karena tindakan pemecatan itu, tetapi juga soal rencana pendirian Universitas Nehemia berdekatan dengan Universitas Sisingamangaraja di Silangit, Siborongborong, Tapanuli, yang diprakarsai beberapa tokoh termasuk Ephorus SAE Nababan. Spekulasi ini tidaklah sepenuhnya benar. Sebab akan berbeda halnya jika rencana pendirian Universitas Nehemia yang membawa-bawa nama Ephorus HKBP itu untuk menggalang dana mempunyai hubungan organisatoris dengan HKBP.

Kemudian, ketika reformasi bergulir, berbagai daerah telah menjadi provinsi baru. Beberapa tokoh masyarakat Tapanuli memandang sudah selayaknya Tapanuli juga menjadi provinsi. Tapanuli yang tetap setia kepada Republik Indonesia, tatkala berbagai daerah telah memisahkan diri sebagai Negara, dalam Negara Republik Indonesia Serikat, terasa semakin tertinggal dari daerah lain. Pak GM pun ikut mendukung perjuangan ini dengan duduk sebagai penasehat. Puteranya GM Chandra Panggabean, yang sudah menjadi Anggota DPRD dari Partai Golkar, kemudian pindah ke Partai PPRN, lebih banyak berperan dalam perjuangan pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) tersebut. Perjuangan politik ini, ternoda oleh tangan-tangan yang diduga tidak setuju pembentukan Protap. Demo ke kantor DPRD Sumut, 3 Februari 2009, berakibat meninggalnya Ketua DPRD Sumut. Puteranya, GM Chandra dianggap bertanggungjawab dan dihukum. Hukuman yang dianggap berbau politik.

GM Panggabean pun dipanggil sebagai saksi. Namun, Pak GM yang kesehatannya sudah terganggu sudah dalam perawatan di Singapura. Sampai akhirnya, beberapa saat setelah menjalani operasi jantung, Pak GM menghembuskan nafas terakhir di RS Mounth Elisabeth Singapura, dalam usia 82 tahun, Kamis 20 Januari 2011 sekitar pukul 22.00 WIB, meninggalkan seorang isteri, delapan anak dan 13 cucu. Perjuangan yang diusungnya sampai akhir tanpa kenal lelah, telah makin mengukuhkannya sebagai pejuang yang patut dikenang sebagai pahlawan sejati pembangunan daerah, khususnya Sumatera Utara dan lebih khusus lagi Tapanuli, Tona Batak, daerah leluhur (Bonapasogit) yang amat dicintainya. Selamat Jalan Pak GM! Bio TokohIndonesia.com | Ch. Robin Simanullang

Sumber: http://www.tokohindonesia.com

Saur Hasugian



Dr. Saur Hasugian, MTh
Kepemimpinan Inspirasional

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol

Apa yang membuat seseorang bisa disebut inspirator? Prestasinya? Pengaruhnya? Kekuasaanya? Adakah seseorang otomatis disebut sebagai pemimpin inspirator, ketika namanya bercokol pada struktur organisasi? Seorang pemimpin harus menjadi inspirasi bagi bawahannya. Kepemimpinan yang inspirasional saat ini adalah model, dibutuhkan setiap bidang apapun. Pemimpin yang inspirator tentu mengerti pembangunan yang berkeadilan sebagaimana diamanatkan Pancasila dan UUD 1945.
“Pemimpin harus menjadi inspirator,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama, Drs Saur Hasugian MTh. “Pemimpin mesti dapat menginspirasi dan memotivasi seluruh tim, dengan menjadikan dirinya sebagai model, panutan. Memulai sesuatu hal dengan memberikan teladan,” ujarnya memulai perbincangan dengan wartawan BATAKPOS belum lama ini.
“Kepemimpinan bukan soal teori, tetapi soal pengaruh apa yang diberikan pada lingkungan, di mana dia memimpin. Keberhasilan seorang pemimpin akan terlihat dari dampak yang ia timbulkan. Kehadirannya memberikan perubahan. Dan jika dia tidak lagi memimpin karyanya akan terus diingat.”
Sadar akan penting “kepemimpinan ispirasional,” di lingkungan Ditjen Bimas Kristen, Saur menunjukkan kepemimpinan itu lewat bimbingan, menyampaikan arah dengan lemah-lembut. Tak heran, artikulasi kata-kata dan kalimatnya runut, mudah ditangkap, memberikan semangat bagi pendengarnya. Artikulasi itu, sering kali terkesan pendek tetapi bermakna dalam. Pun susunan kata dalam pesannya singkat bening.
Selain memotivasi personal, memberi bimbingan pada para staf, dengan demikian tercipta lingkungan kerja yang nyaman. Menempatkan stafnya sebagai mitra kerja. “Dalam mendelegasikan tugas kita mesti memotivasi pegawai dengan mengolaborasikan secara tepat antara penggunaan kekuasaan, dan penggunaan kata-kata yang menyentuh. Ini tentu memenangkan hati para bawahan, dengan semikian mereka bekerja dengan rasa nyaman,” tambahnya.
Bagaimana pemimpin yang berhasil itu? “Pemimpin harus mampu memahami seluruh permasalahan yang ada di lembaga yang ia pimpin. Menghadapi ancaman dan tantangan ke depan. Kita mengajak agar stakeholder, segenap pihak yang terkait ikut terlibat dalam setiap tugas untuk mensuksekan program negara. Pemimpin harus bisa memberikan solusi,” ujar mantan Kepala Kantor Departemen Agama di Kabupaten Toba Samosir dan Tapanuli Utara, ini.
Mengubah paradigma
Seringkali ada kesan stereotif bagi para pamong negara. Pegawai Negeri Sipil (PNS) dianggap memiliki etos yang rendah. “Kita harus ubah paradigma demikian. Itu tidak semuanya benar. Paradigma yang salah harus dirubah. Kerja keras kita sering kali tidak terlihat, dan memang tidak perlu kita menyebut-nyebut apa keberhasilan kita.”
Lalu, bagaimana agar paradigma itu memberi nilai? “Paradigma adalah suatu spirit dari prinsip-prinsip yang dianut dalam suatu sistem. Karena itu, model atau pola pikir menghadapi suatu hal, dalam konteks kekinian harus terlihat ada perbaikan kearah lebih baik. Yang dulu kurang sekarang labih bagus. Maka, jelas tergantung cara pandang dan kedalaman informasi yang dimiliki seseorang. Misalnya, upaya konsisten dilakukan lewat interaksi dan komunikasi yang dialogis hingga memberikan penerangan pada cara pandangnya.”
Untuk itu, Saur menawarkan semangat belajar yang terus menerus. Merivew kembali pemahaman yang usang, dan menyesuaikan diri pada pemikiran yang baru. “Banyak hal yang dilakukan untuk membangun pemimpin yang menginspirasi. Misalnya, melalui pelaksanaan program diklat, dialog, seminar diskusi, dan penerapan sistim reward dan punishment. Artinya, yang membuat prestasi mendapat hadiah, dan yang melakukan kesalahan diberi peringatan.
Apa yang dikatakan Saur bersesuaian dengan apa yang dikatakan pakar kepemimpinan Stephen Covey, “If you want small changes, work on your behavior. But if you want quantum-leap changes, work on your paradigm.” Kalau Anda menginginkan perubahan kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda. Tapi jika Anda menginginkan perubahan besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda.
“Ada cita-cita luhur dalam bekerja sebagai pamong negara. Bahwa bekerja sebagai abdi negara berarti melayani masyakat.” Tentu semangat pembelajaraan itu penting. Penerapan dan upaya tersebut akan melahirkan nilai kepemimpinan. Lewat mengasah diri, belajar terus-menerus, lewat pendidikan, dengan sendirinya pikiran akan terasah. Maka dari sana muncul imaji-imaji yang segar menjadi inspirasi.
Paling tidak bagi penulis lima buku ini, melihat bahwa dimensi belajar itu akan membawa; kecerdasan, kreatifitas, terampil, disiplin, dan etos kerja. Itu semua dihasilkan oleh ketekunan yang produktif mesti bersesuaian dalam karya kerja. “Pendidikan, agama, pergaulan, media massa, televisi, dan membaca buku harus bisa memberikan pemahaman baru,” ujar penyuka bacaan buku kepemimpinan ini. Untuk yang satu ini, buku-buku kepemimpinan terlihat bertumpuk rapi di atas meja kerjanya di gedung Kementerian Agama di Jalan M H Thamrin, Jakarta Pusat.
Keteladanan Pemimpin
Bekali-kali dia menyebut pemimpin harus bisa memberikan keteladanan. Dengan keteladanan akan memberikan dampak. ”Kemajuan satu lembaga tidak lepas dari sebuah keteladanan seorang pemimpinnya yang memiliki karakter inspirasional. Banyak lembaga sudah membuktikan hal ini. Melalui kepemimpinan yang inspiratif itu, mereka mengubah diri dari sebuah tim lemah yang diremehkan menjadi tim yang memberikan pengaruh,” ujar suami dari Kesina Berutu, ayah dari Nurcahaya Ethaliana dan Hotmaida Octania.
Sebagai pemimpin di Direktorat Jenderal Bimas Kristen Saur selalu teliti dalam segala hal. Termasuk membuat keputusan yang sifatnya menyakut harkat orang banyak. “Bukan birokratif, tetapi seluruhnya harus kita kerjakan seteliti mungkin, karena tugas yang kita emban adalah amanah dari negara. Ada etos di sana. Ketelitian juga adalah bagian dari etos,” ujarnya.
Dia seringkali menyebutkan jargon-jargon akan visi lembaga yang dipimpinnya. Hal ini dirasa penting untuk menimbulkan pemahaman mendalam, dan agar mudah diwujudkan dalam bentuk nyata oleh seluruh pegawai. Hal-hal seperti ini selalu ditanamkan pada benak seluruh pegawai di lingkungan Ditjen Bimas Kristen dan jajarannya.
”Kadang-kala ada saja masalah yang bisa membawa emosi. Berbagai hal yang yang harus dihadapinya dengan pikiran yang jernih. Seluruhnya terukur dan terencana, harus diselesaikan dengan baik. Sebagai pemimpin, jika marah, tak boleh mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Bukan berarti pemimpin itu tidak boleh marah.”
Dia adalah sosok pekerja keras. Sepagi mungkin sebelum para staf hadir di kantor, pukul 6.00 WIB, dia sudah hadir lebih dahulu. Hal ini sudah menjadi kebiasaannya semenjak menjadi pegawai negeri, bukan setelah menjadi eselon satu saja. “Keteladanan yang diperlihatkan pemimpin akan menjadi bahasa yang tak tersirat, yang lebih berpengaruh menjadi model. Banyak pemimpin sudah membuktikan hal ini. Melalui keteladanan, kepemimpinan yang inspiratif itu, mereka mengubah diri ke arah yang lebih baik.”
Baginya, menjadi pejabat harus mampu menjadi inspirasi minimal di lingkungan yang dipimpin. “Kita harus mampu mengugah setiap orang di lingkungan kita. Dengan demikian, mereka akan antusias menunjukkan kinerja, dari sana akan lahir kesadaran untuk memberikan karya terbaik untuk bangsa.”
Inspirasional
Ketika seseorang sudah menjadi inspirasi bagi orang lain, maka sejatinya telah terjadi kepemimpinan. Dalam mengembangkan semangat inspirasional, baginya hanyalah persoalan kemauan saja. “Kalau kita mau pasti bisa. Pemimpin sudah seharusnya mau menunjukkan kinerja yang baik, kualitas kerja yang baik. Maka akan menjadi inspirasi bagi orang lain. Pemimpin yang demikian disebut pemimpin yang menginspirasi,” ujarnya.
Dia mencontohkan, para inspirator, pemikir besar di dunia ini, selain punya impian, mereka juga punya moment of the truth yang mampu menginspirasi orang lain. Mereka menjadi orang-orang besar karena terinspirasi oleh hal besar pula. “Inspirator itu kadang dimulai dengan hal-hal sepele, tetapi dengan ketekunan akan lahir keberhasilan; misalnya Thomas Alfa Edison telah membuktikannya. Bukankah Edison sebelumnya berkali-kali mengalami kegagagalan?”
Sebelum menemukan listrik, Edison dengan kesabaran dan ketekunan yang konsisten melakukan pekerjaannya. Niat baik itu akhirnya berbuah pada penemuan yang tidak mungkin dilupakan dunia, itulah listrik yang menerangi kita sekarang. Jadi, pemimpin bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi dari kegagalan itu dia banyak belajar untuk tidak terjerembah pada kesalahan yang sama.
Konkritnya, dalam memimpin Ditjen Bimas Kristen, Saur optimis dan bersemangat, menjaga nuraninya tetap bersih, dan memiliki disiplin diri. Yakin akan panggilan dan tanggung-jawabnyaitu, sebagai pejabat. “Inti kepemimpinan itu pelayanan. Memimpin dan melatih para pelayan yang lain; jadi jabatan adalah ladang pelayanan menjadi sekolah yang tidak putus-putusnya. Belajar pada kehidupan, akhirnya seorang pemimpin menguatkan dan memberdayakan orang lain lewat teladan hidupnya.”

Menunjukkan Kualitas Seorang Pemimpin

Saur Hasugian, pria kelahiran Parlilitan, Sumatera Utara, 10 Oktober 1953 akhirnya menjadi Pgs. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen menggantikan seniornya Jason Lase. Serah terima jabatan dilaksanakan di gedung Sasana Amal Bakti, Kementerian Agama RI, Jakarta, pada hari Senin, (2/8/10) oleh Menteri Agama Surya Darma Ali.

Acara serah terima sekaligus pelepasan tugas DR Jason Lase sebagai dirjen sebelumnya.
Suami dari Kesina Berutu, dan ayah dua puteri, Nurcahaya Ethaliana , 28 tahun dan Hotmaida Octania, 25 tahun, ini. Besar di Kecamatan Parlilitan, Kabupaten Humbang-Hasundutan, Provinsi Sumatera Utara. Tetapi lewat Pengalaman dan kemampuannya dia telah dipercayakan memimpin berbagai jabatan.

Karier menjadi Pegawai Negeri Sipil dijejakinya mulai Guru Agama di Sekolah Teknologi Menengah Pematangsiantar. Kemudian menjadi Kepala Bidang (Kabid) Bimas Kristen Departemen Agama Sumatera Utara, tahun 1979. Berturut-turut mengisi berbagai posisi seperti Kepala Seksi, Kepala Bidang Pendidikan Agama Kristen Kantor Wilayah Departemen Agama- Sumatera Utara, lalu, Kepala Kantor Depag Kabupaten Toba Samosir, Kepala Kantor Depag Kab Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

Sebelum menjadi Pgs. Dirjen Bimas Kristen, Saur Hasugian adalah Sekretaris Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama RI. Pernah menjadi Plt Dirjen Bimas Kristen sebanyak 6 (enam) kali dalam rentang tahun 2005 – 2009.

Pendidikan Tinggi Teologia ditempuhnya di Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar dengan menyelesaikan program BA (Sarjana Muda PAK), Sarjana PAK, FKIP Universitas HKBP Nommensen dan Master Teologia dari STII Medan. Saur Hasugian, bersyukur atas dipercayakan jabatan tertinggi di Ditjen Bimas Kristen kepadanya. “Ini memang suatu kepercayaan sebagai amanat,” ujarnya.

Sebagai pejabat di lingkungan Kementerian Agama yang berkeinginan mengunjungi negara ke luar negeri untuk melihat negara luar mengelola agama. Beberapa negara yang dia kunjungi seperti ke Vietnam dalam rangka kunjungan balasan Pimpinan-pimpinan Keagamaan Vietnam Juli 2007. Bringham Young University UTAH Amerika Serikat, dalam rangka menghadiri undangan Acara Simposium International tentang Hukum dan Studi Agama, dengan ceramah Religion, Identity and Stability Viewed from The Christian Faith Conseption.

Sejak bertugas di Medan, Saur Hasugian telah menunjukkan kualitas seorang pemimpin yang handal. Dia pintar bergaul dan terbuka untuk semua pemimpin gereja aras nasional. “Kita harus sepakat untuk mendukungnya, dalam setiap doa. Agar tugas yang diembannya, tugas mulia itu dapat dijalankan dengan baik,” ujar pendeta Chris Marantika. Pendeta Chris sendiri dianggap Saur sebagai orangtua dan Dosennya yang senior itu.***Hotman J Lumban Gaol
Biodata
Nama : Drs. Saur Hasugian, M.Th.
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat/tgl. Lahir : Parlillitan, 10 Oktober 1953
Nama istri : Kesina Berutu, BA
Pemberkatan nikah : Gereja HKBP Serbelawan pada hari Minggu, 3 Mei 1981
Anak : Nurcahaya Ethaliana , 28 tahun dan Hotmaida Octania, 25 tahun

Pendidikan formal:
SD Negeri Parlilitan tahun 1966
SMP Negeri Parlilitan tahun 1969
SMA Negeri Sidikalang tahun 1972
S-1 FKIP Universitas HKBP Nommensen Pematang Siantar, Jurusan Pendidikan Agama Kristen (PAK) tahun 1982
S-2 Misiologi tahun 2005

Piagam Penghargaan:
Pembinaan Penataran Guru Agama KristenTingkat Kabupaten Simalungun :Tahun1980
Penataran P-4 Tipe A: Tahun 1980
Penataran Guru Agama K/P TK. SD, SLTP/SLTA: Tahun 1982
Pembinaan Guru Agama K/P TK. SD, SLTP/SLTA: Tahun 1983
Pembinaan Guru Agama K/P TK. SD, SLTP/SLTA: Tahun 1999
Pembina Tenaga Teknis Penyuluh Agama Utama Prov. Sumut: Tahun 1994
Pembinaan Tenaga Teknis Kanwil Depag Sumut: Tahun 1998
(Kelompok Keja PKHB)
Musyawarah Kerukunan Umat Beragama Prov. Sumut:Tahun 1998
Musyawarah Kerukunan Umat Beragama Prov. Sumut:Tahun 1999
Pembina Tenaga Fungsional Kanwil Depag Prov. Sumut, Medan: Tahun 1999
Kelompok Kerja Team Penyusun Buku TK, SD, :Tahun 2000 SLTP/SMU/SMK Provinsi Sumatera Utara
Pembina Tenaga Teknis Guru Sekolah Minggu Kab. Toba Samosir :Tahun 2001
Pembina Tenaga Teknis Penyuluh Agama Utama Kabupaten : Tahun 2001
Toba Samosir
Pembina Tenaga Teknis Penyuluh Agama Utama Kabupaten : Tahun 2001
Toba Samosir
Pembina Tenaga Teknis Musik Gereja LPPD Sumatera Utara : Tahun 2001
Kepanitiaan/Kegiatan Pusat yang dilaksanakan di daerah Provinsi Sumatera Utara
Tahun 1984 s/d 19-10-1993 sebagai Sekretaris Panitia Penataran TK. SD, SMP, SMA dan Dosen PTT/STT Pendidikan Agama Kristen.
Tahun 1994 s/d Oktober 2000, sebagai Ketua Panitia Penataran, Pertemuan, Konsultasi di Provinsi Sumatera Utara.
Pengalaman Jabatan Fungsional
Pembantu Rektor II Institut Teologi Abdi Sabda (ITAS) Medan Tahun 1984 s.d. 1988
Pembantu Rektor I Institut Agama Kristen Medan (IAKM) Tahun 1989 s.d. 1992
Dekan Fakultas PAK Institut Agama Kristen (IAKM) Tahun 1992 s.d 1994
Rektor Institut Agama Kristen Medan (IAKM) Tahun 1994 s.d Desember 1997
Dekan Fakultas PAK Institut Agama Kristen Medan (IAKM) Tahun 1997 s.d Desember 2000
Dosen pada Institut Teologi Abdi Sabda (ITAS) Medan Tahun 1983 s.d. 2000
Dosen pada Institut Agama Kristen Medan (IAKM) Tahun 1989 s.d Desember 2001
Dosen pada Institut Agama Kristen Protestan Sumatera Utara (IAKPSU) Tahun 1984 s.d 1999
Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi Siloam (STTS) Medan, 1984 s.d 1988.
Dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Pendidikan (STIKP) Riama Medan, 1988 s.d. 1992
Dosen pada Institut Teologi Keguruan Parulian (ITKP) Medan, 1989 s.d 1995
Dosen pada Sekolah Tinggi Teologi Oikumene (STTO) Medan, 1992 s.d 1994
Dosen/Honorarium pada Sekolah Tinggi Agama Kristen Protestan Negeri (STAKPN) Tarutung Tahun 2001 s.d. 2004
Anggota Badan Konsorsium Ilmu Teologi Kristen (BKITK) sejak Tahun 2005 s.d. sekarang.
Team Visitasi/Asesor pada Sekolah-sekolah Tinggi Teologi/PTAK sejak Tahun 2005 s.d sekarang.
Team Koordinasi penjamin mutu Perguruan Tinggi Agama Kristen (TKPMPTAK) sejak 2008 s.d sekarang.

Pendidikan dan Pengajaran
Memperoleh Ijazah S1 PAK dan S2 Misiologi
Memberi Kuliah/Tutorial/Menguji pada Institut/Fakultas:
Institut Agama Kristen Protestan Sumatera Utara (IAKPSU) Medan, 15 Tahun
Institut Teologi Abdi Sabda (ITAS) Medan, 17 Tahun
Sekolah Tinggi Teologi Siloam (STTS) Medan, 4 Tahun
Institut Teologi Keguruan Parulian (ITKP) Medan 6 Tahun
Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) Riama Medan, 4 Tahun
Institut Agama kristen Medan (IAKM) Medan, 12 Tahun
Sekolah Tinggi Teologi Oikumene (STTO) Medan, 2 Tahun

Edwin Pamimpin Situmorang


Dia Membuat Jubileum Lebih Besar

Oleh: Hotman J. Lumban Gaol, S.Th.

Membahana sorak-sorai pernyataan suka-cita, ketika Presiden Republik Indonesia Dr. Susilo Bambang Yudhoyono menutup kata-kata pujian dalam sambutannya di depan para undangan dan jemaat yang datang dari berbagai pelosok untuk merayakan Jubileum 150 Tahun Huria Kristen Batak Protestan dengan seuntai pantun berbahasa Batak: “Sian Edwin P SitumorangTarutung tu Sihumalape mangalaosi huta jala harangan, molo tutu do huria ni HKBP da ingkon do marsihaholongan.” Kalau diterjemahkan dengan bebas lebih-kurang berarti, “Dari Tarutung ke Sihumalape melewati kampung, kalau memang benar-benar jemaat HKBP maka haruslah menunjukkan kasih.”

Di lapangan hijau yang menghampar di bawah, diiringi tepuk-tangan dari pelataran tribun dan bangku-bangku kehormatan, kemudian menghambur 1.000 Remaja/Naposo Bulung HKBP memperagakan tor-tor dan membentuk konfigurasi sebagai pernyataan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerah dan karunia yang diberikan-Nya kepada gereja yang sedang merayakan hari lahir yang ke-150 bertempat di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, hari Minggu, 4 Desembar 2011.

​Dalam kesempatan yang terasa diagungkan dengan perasaan puji syukur yang tulus itu, sosok dalam posisi tertinggi dalam herarki gereja di seluruh Indonesia, Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu, M.Th. memberikan sambutan yang meneduhkan hati tidak hanya untuk sekitar 100.000 undangan dan jemaat yang memadati kursi-kursi Stadion Utama. Gaung makna dari kata-katanya tentu juga menyentuh pikiran dan hati masyarakat cinta damai dan kasih yang berada di luar tempat upacara, di pantai, di gunung-gunung, ketika dia menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia. “Khususnya saudara-saudara saya dari Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah atas semua kerjasama dan bantuannya kepada HKBP…. Kiranya Tuhan memberkati kita semua.”

Sebelum Presiden dan Ephorus, dengan mengenakan setelan jas hitam, menyelempangkan selendang bertuliskan Panitia Nasional yang melingkar di lehernya, tampil Edwin Pamimpin Situmorang, S.H., M.H., untuk menyampaikan laporan dan sambutannya selaku Ketua Umum Panitia Nasional Jubileum 150 Tahun HKBP. Berkacamata minus dengan gagang hitam, tinggi 165 cm, Edwin terbilang berperawakan kecil dibandingkan dengan dua tokoh di atas, tetapi dialah yang telah membuat perhelatan keagamaan itu menjadi terasa lebih besar. Setelah selesainya acara yang semarak tersebut ada di antara koleganya yang mengatakan, “Walau bukan hasil kerjanya sendiri, pesta Jubileum 150 Tahun HKBP itu adalah sebuah sukses. Sejarah HKBP akan mencatatnya, mengenang nama Edwin.” Dengan keberhasilan pelaksanaan Jubileum tersebut majalah “Narwastu” memberikan penghargaan kepada Edwin Pamimpin Situmorang sebagai salah seorang tokoh Kristiani tahun 2011.

Sambil berjalan menuju podium Edwin kelihatan tersenyum sumringah. Dia membungkuk sebagai isyarakat permintaan izin dan hormat kepada Presiden Republik Indonesia dan Ephorus sebelum melangkah maju, berdiri di belakang podium, dan dengan tenang mengarahkan ucapannya kepada seluruh hadirin yang memenuhi stadion berbentuk temu-gelang yang dibangun setengah abad yang lalu itu. “Perayaan Jubileum 150 Tahun HKBP ini memiliki arti yang sangat besar dan berbeda dengan peringatan jubileum di masa lalu, karena Jubileum 150 Tahun HKBP tidak hanya diperuntukkan bagi warga HKBP, akan tetapi juga kita persembahkan untuk bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini,” katanya dengan wajah cerah yang mencerminkan keterbukaan hatinya, yang disambut sorak kebahagiaan oleh hadirin.   ​

​Pada kesempatan itu Edwin mengajak semua pihak untuk coba merefleksikan kembali makna perayaan Jubileum 150 Tahun HKBP. Pertama, katanya menguraikan, Jubileum 150 Tahun mengandung makna akan iman di mana kita harus bersyukur dan bersukacita, karena begitu besar kasih-Nya, maka Tuhan telah memanggil nenek-moyang kita untuk menjadi milik Kristus. Tuhan telah mengutus gembala-Nya, misionaris dari Inggris, pada tahun 1824 untuk mengabarkan Injil Kabar Baik di Tanah Tapanuli. Pekabaran Injil di Tanah Tapanuli tidaklah mudah, karena nenek-moyang kita pada awalnya adalah para penyembah berhala. Namun, karena “Rencana Tuhan tetap selama-lamanya,” maka pada tahun 1857 kedatangan van Asselt telah mampu menaklukkan hati orang Batak, dan akhirnya empat tahun kemudian, yaitu 31 Maret 1861, Main Tampubolon dan Pagar Siregar menjadi orang Batak pertama yang menerima Kristus sebagai Juru Selamat. Iman itu, semakin lama semakin bertumbuh, di mana pada tanggal 7 Oktober 1861, lahirlah Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Dan iman itu, saat ini telah bertumbuh menjadi HKBP na bolon dengan 4,1 juta anggota jemaat HKBP yang tersebar dalam 26 distrik, 641 resort, 16 persiapan resort, 3.226 huria, 41 pos pelayanan, 25 pos pekabaran Injil, dan telah tersebar di seluruh pelosok Nusantara dan mancanegara.

Kedua, Jubileum 150 Tahun HKBP mengandung makna akan pengharapan, di mana perjalanan kehidupan HKBP beserta jemaatnya tidak luput dari setiap badai persoalan, percobaan, dan bahkan hampir mengarah pada kehancuran. Namun, ketekunan telah menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan kepada Kristus. Tuhan Allah tidak membiarkan umat-Nya hilang. HKBP akhirnya mampu melewati setiap badai yang ingin menghancurkan Rencana Tuhan.

Ketiga, Jubileum 150 Tahun HKBP mengandung makna akan kasih, di mana dengan kedatangan Injil di Tanah Batak, telah membebaskan orang Batak dari kegelapan dan dengan Kasih Tuhan Allah, telah menjadikan orang Batak menjadi salah satu di Nusantara ini yang mengalami perubahan dan kemajuan yang cukup cepat dalam peradaban dan kehidupannya. Generasi suku Batak telah berkembang menjadi manusia yang memiliki kemampuan intelektual serta perekonomian yang baik, bahkan menjadi salah satu suku yang harus diperhitungkan di setiap sektor kehidupan.

Melalui Jubileum 150 Tahun HKBP ini, katanya menegaskan, kita diajak untuk menguji apakah iman, pengharapan, dan kasih telah kita implementasikan baik dalam kehidupan kita masing-masing maupun di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara? Untuk itu, saya mengajak kita semua untuk bersatu-padu dan berpartisipasi aktif memikirkan HKBP, untuk menjadikan Huria ini menjadi Huria Na Bolon. Tidak saja besar secara kuantitas, tetapi juga harus besar dari sudut kualitas iman dan pelayanannya. Sebagai Gereja, HKBP harus mampu membangun jemaatnya menjadi jemaat yang beriman, handal, dan tangguh, sedangkan sebagai organisasi, HKBP harus mampu pula berperan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, menjadi garam dan terang dunia.

Seruan Edwin Pamimpin Situmorang itu menjadi sebuah ajakan yang dibawa pulang oleh jemaat untuk direnungkan. Untuk digapai. Ajakan itu agaknya bertambah bobotnya kalau diingat yang mengucapkan itu, selain seorang ketua panitia nasional jubileum, dalam kehidupan keseharian dia adalah Jaksa Agung Muda Intelijen, jabatan puncak di Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Edwin Pamimpin Situmorang lahir di Laguboti, Kecamatan Toba Samosir, Sumatera Utara, 6 Oktober 1952. Sejumlah tokoh di bidang hukum yang mengenalnya dari dekat, menyebutkannya sebagai seorang “Penegak hukum yang tidak diskriminatif, konsisten, tuntas, dan tegas. Seorang abdi Negara yang tak kurang keyakinan religiusnya.” Di dalam komunikasi sehari-hari dia selalu mengingatkan akan kebesaran Tuhan, yang tampil dalam profil BlackBerry-nya, dan berbunyi, “Terima kasih, Tuhan…”

Ketika dia masih menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan, yang berkedudukan di Palembang, Edwin berhasil mengungkap 28 kasus korupsi yang menyeret orang-orang pemerintah, swasta, dan pejabat badan usaha milik negara, yang diproses sampai ke pengadilan. Namun, tak selamanya tekad dan niat yang baik mencapai tujuan. Di kota tersebut pula Edwin sempat merasa seperti sendirian dalam upaya menegakkan keadilan, dalam memberantas korupsi yang merugikan negara dan menyengsarakan rakyat. Ketika itu, dia mengeluarkan surat penahanan terhadap seorang pejabat tinggi pemerintah di bidang pertanahan di daerah Sumatera Selatan, karena diduga terlibat dalam tindak pidana korupsi bernilai milyaran rupiah. Tetapi, langkahnya itu tersandung karena oleh pengacara tersangka, dan pemberitaan yang negatif oleh sebagian media massa lokal, yang menuduh dia telah melanggar hak-hak asasi seseorang karena melakukan penahanan secara tidak syah. Karena di dalam surat perintah penahanan tidak tercantum kata-kata “Jaksa Penyidik.” Masalah yang sebenarnya masih “debatable.” Ketika permohonan Pra Peradilan atas penahanan tersebut digelar di Pengadilan Negeri Palembang, Edwin Pamimpin Situmorang dikalahkan.

Sewaktu Edwin tiba di Palembang untuk melaksanakan tugas sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi, beliau melihat masyarakat Sumatera Selatan begitu mendambakan adanya penegakan hukum yang tegas terhadap para pelaku korupsi. Hal ini dia terjemahkan sebagai harapan akan adanya tindakan hukum yang kongkrit yang dilakukukan oleh aparat penegak hukum terhadap pelaku korupsi, seperti melakukan penahan sejak tahap penyidikan. Kemudian beliau memberikan instruksi kepada jajaran Kejaksaan di Sumatera Selatan untuk melakukan penahanan terhadap setiap tersangka tindak pidana korupsi, apabila dalam tahap penyidikan sudah ditemukan bukti yang kuat. Inilah yang kemudian menjadi dasar pengusutan korupsi di bidang pertanahan pada saat mana Edwin melakukan penahanan terhadap tersangkanya. Melalui penasihat hukumnya, tersangka mengajukan permohonan untuk mem-Pra Peradilankan surat penahanan tersebut. Hakim Pra Peradilan mengabulkan permohanan tersebut dan menyatakan surat perintah penahanan tadi tidak syah, kerena penandatanganan surat perintah hanya mencantumkan jabatan struktural, tidak mencantumkan kedudukan sebagai Jaksa Penyidik. Edwin dengan segera melaporkan masalah yang dia hadapi ke Kejaksaan Agung di Jakarta, dan menyarankan penajaman dalam setiap surat perintah penahanan yang dikeluarkan Kejaksaan untuk mencantumkan sebutan “Jaksa Penyidik.”

Edwin tidak melaksanakan putusan Pra Peradilan tadi. Dia tidak melepaskan tersangka dari tahanan. Bukan karena beliau tidak taat hukum atau tidak menghormati putusan pengadilan. Di tengah kedongkolannya, dia menemukan adanya peluang hukum yang bisa memberikan alsan kepadanya untuk tidak melaksanakan keputusan tadi. Putusan Pra Peradilan tersebut dikeluarkan sesudah selesainya masa berlakunya penahanan yang 20 hari. Dengan surat perintah penahanan yang baru dan lengkap, pejabat pemerintah di bidang pertanahan yang menjadi tersangka itu kemudian diproses dan berkasnya dilimpahkan ke pengadilan. Namun, upaya Edwin untuk menjerat tersangka dikandaskan oleh lembaga hukum yang lain. Terdakwa dibebaskan oleh pengadilan…

Pengalaman memberikan Edwin pelajaran untuk sampai pada satu kesimpulan bahwa tiadanya kesamaan sikap dan langkah dari aparat penegak hukum menjadi kendala dalam memerangi korupsi. Menurut dia, ada dua kemungkinan penyebab mengapa para pejabat yang menduduki posisi tinggi dalam pengelolaan negara tidak terjamah dalam kasus dugaan korupsi. Pertama, secara hukum pejabat tinggi yang bersangkutan tidak terbukti terlibat. Kemungkinan kedua, pejabat tersebut terlibat korupsi, tetapi belum ditemukan alat buktinya.

​Tentang perjalanan karier Edwin, Antonius Sujata, mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, yang kemudian memangku jabatan Ketua Komisi Ombudsman Nasional, mengatakan: “Yang saya lihat pada Edwin adalah bahwa dia mengerjakan lebih dari yang diminta pimpinannya. Saya pikir ini syarat bagi seseorang yang ingin berhasil. Kalau mau berhasil dalam karier, dalam apa pun, kiatnya adalah mengerjakan lebih dari yang semestinya. Orang yang punya karakter seperti inilah yang punya modal untuk sukses. Itulah Edwin.” Ketika Antonius Sujata duduk sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Papua, Edwin Pamimpin Situmorang adalah Asisten Intelijennya.

Antonius Sujata gemar bersenda-gurau. Kalau ada petemuan di Kejaksaan, dia selalu mengatakan Edwin itu kelak akan menjadi pemimpin, “Karena memang namanya Pamimpin. Saya kira kerinduan akan menjadi pemimpin itu sudah ada sejak kedua orangtuanya memberikan nama Edwin Pamimpin Situmorang kepadanya.”

Nama yang terdengar seperti sebuah keinginan yang kuat untuk mengejar sebuah cita-cita yang tinggi itu telah menempuh jalan hidupnya sendiri. Mencari nama bagi sepasang suami-istri yang sedang menunggu lahirnya seorang bayi, agaknya lebih sulit daripada menemukan jarum dalam timbunan sekam. Banyak nama yang kedengarannya indah dan mengandung makna yang kuat, namun memerlukan kebijaksanaan, nilai kepatutan, bahkan keberanian mental untuk memilihnya. Apalagi nama itu menyiratkan tentang seseorang yang akan menjadi penunjuk jalan menuju kebenaran kepada para pengikutnya. Mungkin dia seorang yang jadi idola. Tetapi, sebuah nama tidak hanya sebagai pembeda antara seseorang dengan yang lain. Dia sesungguhnya adalah doa dan harapan. Dengan kesadaran seperti itulah pedagang kain yang sedang menanjak bisnisnya dari Laguboti, Misaraem Alfred Situmorang dan istrinya, Paulina boru Pangaribuan,  memberikan nama Pamimpin kepada anak mereka yang kesebelas. Anak laki-laki. Nama itu selengkapnya berbunyi: Pamimpin Parluhutan Hasudungan. Kalau diterjemahkan dengan bebas ke dalam Bahasa Indonesia, maka ketiga rangkaian kata dalam Bahasa Batak itu berarti Pemimpin Yang Istimewa. Anak kesebelas yang didoakan dan diharapkan ketika dewasa, dan selama menempuh jalan hidupnya, akan membawa berkah untuk keluarga dan orang banyak.

​Orangtua hanya bisa berharap dan berdoa akan hari depan yang baik bagi anaknya. Namun, apa daya. Ketika sudah beranjak akil balig, sang anak yang harus menyandang nama itu bukannya merasa seperti sedang memikul beban harapan, tetapi malah merasa risih. Sejujurnya, dia tidak menyukai nama itu. Buat dia nama besar itu justeru kedengarannya “kampungan,” sebagaimana yang dia akui sendiri. Di dalam lingkungan keluarga dan teman-teman dia memang dikenal dengan nama Pamimpin. Tetapi, dalam bersenda-gurau, sering pula teman-temannya mengolok-olok dia dengan mengatakan, “Ah, Pamimpin apa kau…?”Mereka memanggilnya dengan sebutan “Itpin” atau “Pippin.” Sama seperti semua remaja yang ingin disebut dengan panggilan yang sedap didengar dan serasi dengan selera seorang anak yang sedang mekar, maka diam-diam, dengan siasatnya sendiri, dia mengubah dan mempercantik nama panggilan Ippin, yang diberikan teman-temannya itu, menjadi Eppin. Nama inilah yang menjadi panggilannya ketika dia masuk sekolah menengah atas di Balige, sebuah kota kecil yang menengger di tepi Danau Toba, di Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Dia menempuh sekolah menengah pertama di kota kelahirannya, Laguboti. Prestasinya menonjol dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya. Edwin kecil terutama unggul dalam mata pelajaran kewarganegaraan, berkat kegemarannya menyimak bahan bacaan yang tersedia dengan cukup di rumah orangtuanya yang berusaha di bidang penerbitan. Karena merasa gelisah melihat gadis-gadis teman sepermainannya yang sudah duduk di kelas yang lebih tinggi, Edwin yang mulai beranjak remaja, sengaja tidak naik ke kelas tiga SMP, tetapi langsung melompat ke kelas satu di SMA HKBP di Balige. Untuk menutupi kekurangan karena tidak meliki ijazah sekolah menengah pertama, maka bersamaan dengan ujian naik kelas dua SMA, dia mengikuti ujian ekstra atau ujian persamaan SMP, dan dia lulus. Kemajuan yang dia raih ketika duduk di kelas dua sekolah menengah atas tidak sebagaimana yang diharapkan. Oleh ibunya dia dipindahkan ke Bandung. Dia dititipkan pada abangnya yang bertempattinggal di kota itu. “Pembuangan” itu membuka kesempatan baginya untuk melakukan pergeseran terhadap nama yang dia rasa terus mengganjal di hati. “P” pada Edpin, yang membuat nama itu kedengaran murahan, kemudian dia gantikan dengan “V” yang terasa lebih berwibawa. Maka lahirlah sebuah nama baru, EDVIN. Lantas, kekacauan administratif di Sekolah Menengah Atas Badan Usaha Rakyat (BUR) di Bandung menyempurnakan cita-citanya untuk memperoleh nama yang sesuai dengan kemauannya. Ketika dia menerima surat tanda lulus sekolah menengah atas, entah bagaimana, di ijazah itu namanya malahan menjadi lebih membahagiakan hatinya: Edwin Pamimpin Situmorang. Sementara kata-kata dalam nama Parluhutan dan Hasudungan, yang menjadi bagian dari doa dan harapan yang tertumpang pada nama yang diberikan kedua orangtuanya tempo hari, sudah tersingkir.

Sekarang, ketika dia sudah mencapai kedudukan tertinggi, yang untuk pertama kali bisa digapai seorang jaksa karier berdarah Batak dan Kristen, di Kejaksaan Agung Republik Indonesia, yaitu sebagai Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara dan kemudian dimutasi menjadi Jaksa Agung Muda Intelijen, kalau bercerita tentang riwayat hidupnya, terutama kisah tentang namanya itu, Edwin Pamimpin Situmorang kelihatan menahan nafas sesaat. Dia seperti sedang menyesali diri, mengenang muslihat yang telah dia lakukan untuk mengubah nama yang diberikan orangtuanya, dulu. Dia memang merasa, nama yang diciptakannya sendiri itu sudah menjadi jodoh dalam perjalanan hidupnya yang getir sampai bisa menapak di jalan emas. “Namun, saya merasa bersalah pada orangtua saya, karena telah mengaburkan nama yang telah mereka berikan kepada saya waktu saya kecil dulu. Saya harus akui nama Pamimpin yang diberikan orangtua saya telah banyak memberikan keberuntungan. Saya sadar, Tuhanlah yang telah memberikan nama itu kepada orangtua saya. Berkat merekalah saya bisa mencapai apa yang telah saya miliki sekarang,” katanya dengan tatapan mata yang jauh, di ruangan kantornya yang tenang di lantai III gedung Kejaksaan Agung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pusat perbelanjaan Blok M dan terminal bus dalam kota yang selalu riuh-rendah hanya sepelemparan batu jauhnya. Dia duduk menghadap meja kerja yang terletak di sudut ruangan yang sejuk, seluas 100m2. Dari situlah dia mengendalikan jalannya tugas sehari-hari dengan bantuan sejumlah staf yang menempati beberapa ruangan terpisah. Di sebelah kirinya berdiri seperangkat televisi 32 inci yang acapkali menayangkan acara pertandingan golf internasional, yang memberikan kesempatan baginya untuk mengendurkan tekanan dari pekerjaan yang harus dia pikul. Melalui seperangkat kamera khusus, dari tempat duduknya itu dia juga bisa mengamati gerak-gerik mereka yang lalu-lalang di sekitarnya.

“Pujangga Inggris William Shakespeare mempertanyakan apalah arti sebuah nama. Memang, kalau kita hanya melihat sepenggal nama, maka seolah-olah nama itu tidaklah penting. Tetapi, pada akhir perjalanan karier saya, saya menyadari bahwa sesungguhnya nama telah mendatangkan banyak berkah kepada saya. Saya bersyukur kepada kedua orangtua saya yang telah memberikan sebuah nama kepada saya. Dan saya yakini bahwa nama itu adalah nama yang diberkati oleh Tuhan. Nama itu adalah rencana Tuhan untuk hidup saya,” ucapnya dengan takzim.

​Edwin adalah seorang yang mudah bergaul. Dan Pamimpin yang menjadi suku kata kedua dari namanya itu membuat dia mudah dikenang. Kalau ada pertemuan, koleganya akan merasa kehilangan kalau dia belum terlihat. “Mana Pemimpin kita?” tanya mereka sambil memandang berkeliling mencari yang punya nama. “Karena nama itu khas, seluruh jajaran Kejaksaan di seluruh Indonesia mengenal nama saya itu. Kalau saya mengikuti berbagai kursus dan pelatihan yang diselenggarakan oleh Kejaksaan, nama itu semakin booming. Ketika saya mengikuti pendidikan di luar Kejaksaan, seperti Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) dan Sekolah Khusus Pendidikan Administrasi Nasional (Sespanas) saya selalu diingat teman-teman saya, karena nama saya itu. Waktu kecil saya amat membenci nama itu, tetapi sekarang saya sadari bahwa orangtua tidak sembarangan memberikan nama untuk anaknya,” katanya mengenang kebesaran jasa kedua orangtuanya yang telah memberikan pelita untuk menerangi perjalanan hidupnya melalui sebuah nama.

Dari gedung yang berdiri kokoh di Jalan Sisingamangaraja, Jakarta itu, tumpah darahnya, sebuah kota kecil yang bernama Laguboti jauh di mata, namun tetap dekat di hati Edwin Pamimpin Situmorang, sekalipun dia sudah terbang memikul tugasnya sebagai Jaksa mulai dari Jakarta, ke Kupang, Semarang, Pekalongan, Makale, Pontianak, Palembang, sampai Jayapura. Di Laguboti gondang kehidupannya mula pertama ditabuh. Dia anak kesebelas dari dua belas bersaudara. Kuasa Tuhan yang menentukan jalan hidup seseorang, sebuah keluarga. Dari selusin putra-putri Misaraem Alfred Situmorang dan istrinya Paulina boru Pangaribuan, hanya sepuluh orang yang terus tumbuh mencapai usia dewasa. Manisnya senda-gurau dengan dua orang kakak perempuannya hanya berlangsung sekejap. Keduanya meninggal ketika dia masih kecil.“ Kalau memperkenalkan keluarga, yang sepuluh yang hidup itu sajalah yang kami sebutkan. Jarang kami menyebutkan nama dua almarhum saudara yang telah mendahului kami itu,” kenang Edwin.

​Kakaknya yang tertua adalah perempuan, bernama Lince Elfrida. Adik Lince, seorang lelaki, Saut Pardamean. Kakaknya yang ketiga juga perempuan: Nurmala. Yang keempat meninggal sebelum mencapai usia lima tahun. Kakaknya yang kelima adalah Tiurma Halomoan. Keenam, abang lelaki: Rusman Timbul. Ketujuh, Patar Souaon. Kedelapan, kakak perempuannya yang bernama Tianna. Kesembilan perempuan lagi, namanya Riama. “Lalu, di bawah kakak perempuan saya Riama ini, jadi anak yang kesepuluh, ada lagi perempuan yang  bernama Rusti, yang meninggal waktu dia masih bayi. Kesebelas barulah saya. Di bawah saya, sebagai anak kedua belas, adalah Netty Evelina.”

​Kesedihan karena kehilangan saudara kandung yang dia sayangi mewarnai perjalanan hidup Edwin.“Praktis, sekarang kami kakak-beradik yang hidup tinggal enam orang. Enam dari dua belas,” katanya. Rusman Timbul Situmorang meninggal dalam kecelakaan pesawat Garuda, September 1997.  Jauh di dalam hatinya, dia menginginkan kebahagiaan, yang dia yakini hanya bisa diraih dengan susah-payah berkat bimbingan tangan Tuhan, bisa pula dinikmati, paling tidak disaksikan, oleh kesebelas saudara kandungnya, tetapi nasib berkata lain.

Edwin selalu menjaga hubungan baik dengan saudara-saudara sekandungnya sampai pun ketika dia sudah berada dalam puncak karier. Acara keluarga, sekecil apa pun, selalu dia hadiri. Kalau acara bertabrakan dengan waktu dinasnya, dia akan bertanya apakah ada kemungkinan waktunya diundur atau dimajukan, supaya dia bisa hadir. Dia mengenal suami atau istri saudara-saudaranya dengan baik. Lince Elfrida, kakaknya yang sulung, menikah dengan pria bermarga Simanjuntak; Saut Pardamean menikah dengan boru Harahap; Nurmala menikah dengan pria bermarga Aruan; Tiurma Halomoan menikah dengan pria bermarga Saragih; Rusman Timbul menikah dengan boru Sianturi; Patar Souaon menikah dengan boru Pangaribuan; Tianna menikah dengan pria bermarga Manurung; Riama menikah dengan pria bermarga Hutapea; dan Netty Evelina menikah dengan pria bermarga Sibarani.

Perhatiannya yang besar tidak hanya tertumpah pada keluarganya sendiri, tetapi juga keluarga dari pihak istri, Rumondang Linda Astuty br. Pasaribu. Nama mertua lelakinya Marisi Marulitua Pasaribu, mantan pejabat di PTP IV, sementara mertua perempuannya Lijah br. Siahaan. Dan dengan mudah dia mengingat pasangan dari abang-abang serta adik istrinya itu. Dohar Pasaribu menikah dengan boru Hutabarat; Bobby Pasaribu dengan boru Simanjuntak; Jimmy Pasaribu dengan boru Tambunan; Hendri Pasaribu dengan boru Hasibuan; Anto Pasaribu dengan boru Sihombing; Golfrid Pasaribu dengan boru Sinaga; Timbul Pasaribu dengan boru Siahaan; dan Ellen Pasaribu dengan Sitorus.***

22

Biodata

Edwin Pamimpin Situmorang, SH, MH​

Tempat/tanggal lahir:      : Laguboti, 6 Oktober 1952

Pendidikan:                       : Strata 1 Hukum, Universitas Negeri Padjajaran, 1977

Strata 2 Hukum, Universitas Negeri Tanjungpura, 2004

Pendidikan Kedinasan:

PendidikanPembentukan Jaksa                      : 1980

Kursus Penyuluhan Hukum                            : 1983

Sussar Intelijen ( BAIS ABRI)                          :1985

Kursus Perdata dan Tata Usaha Negara    : 1992

SekolahPimpinanMadya (Sepadya): 1993

SekolahStafdanPimpinanNasional (Sespanas): 1995

LEMHANNAS, KursusRegulerAngkatanXXXII (KRA32):1999

Riwayat Jabatan:

Kasi Hukum & Perundang-Undangan Kejaksaan Agung : 1979

Kasi Sosbud pada Asisten intelijen Kejati NusaTenggaraTimur: 1982

Kasi Khusus pada Asisten Intelijen Kejati Nusa Tenggara Timur: 1984

Kasi Administrasi Intelijen pada Asisten Intelijen Kejati Jawa Tengah         : 1986

Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Pekalongan: 1990

Kepala Kejaksaan Negeri Makale: 1993

Asisten Intelijen Kejati Irian Jaya: 1995

Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati Sumatera Selatan: 1996

Wakil Kepala Kejati Sulawesi Utara: 1998

Asisten Umum Jaksa Agung RI: 2000

Kepala Kejati Kalimantan Barat: 2001

Direktur Ekonomi & Keuangan pada Jaksa Agung Muda Intelijen: 2003

Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan: 2005

Sekretaris Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara : 2007

Deputi  Menko Polhukam Bidang Koordinasi Hukum dan HAM  : 2008

Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara : 2008

Jaksa Agung Muda Intelijen Kamis, 27 Mei 2010 – Rabu, 31 Oktober 2012

Penugasan Khusus:

KetuaUmumKonferensi ke-7 PersatuanJaksa (International Association of Prosecutors) se-Asia PasifikdanTimur Tengah, 16-19 Maret 2011

Ketua Tim JaksaPengacara Negara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden RI/Wakil Presiden RI periode 2009-2014 di Mahkamah Konstitusi

Sekretaris Jenderal Tim Gabungan Pemberantasan Korupsi (TGPK) tahun 2000

Organisasi:

KetuaUmumGerakan Moral Anti KorupsiMasyarakat Sumatera Selatan, 2005-2007

KetuaUmum Pengurus Pusat PersatuanJaksa Indonesia, 2009-2012

KetuaUmum Panitia Nasional Jubileum 150 Tahun HKBP, 2009-2011

Ketua Umum Badan Pengelola Sopo Marpingkir

Purna Jabatan Rabu, 31 Oktober 2012

 

BERITA:

Jakarta, BPC

Penegakan hukum masih sangat memprihatinkan. Hal ini sangat mempengaruhi kemajuan dan perkembangan segala bidang di Indonesia. Lebih memprihatinkan lagi adalah, masyarakat semakin tidak peduli dengan kondisi bangsa dan Negara.

    kondisi lembaga penegak hukum di Indonesia saat ini  memprihatinkan dalam rangka penegakkan hukum dan pemberantasan korupsi. Bahkan, sistem hukum banyak sekali mengandung kelemahan. Demikian dikatakan mantan Jaksa Agung Muda Intelejen, Edwin Pamimpin Situmorang baru-baru ini saat membuka kantor baru pengacara di Ratu Plaza, Jakarta Selatan.

Lebih jauh dijelaskan,  pelaksanaan hukum sampai saat ini belum menggembirakan bahkan cenderung memprihatinkan termasuk bermuara pada tuntutan rasa keadilan untuk masyarakat dan sistem hukum belum mendukung penyelenggaraan pemerintahan dan ketatanegaraan yang baik.

Menurutnya,  sistem hukum yang ada saat ini banyak sekali mengandung titik kelemahan sehingga dalam berbagai hal selalu berpotensi melanggar hukum seperti , seseorang yang akan berkecimpung  dalam kancah partai politik harus mengeluarkan uang dalam jumlah banyak sebagai titik kelemahan hukum.  “Inilah yang mungkin akan menimbulkan korupsi,” katanya.

Pada hal katanya, kepastian dan penegakan hukum merupakan kunci penentu di segala hal seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Sebab dalam ekonomi,  memerlukan kepastian dan penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Walaupun program lain sudah mempunyai  konsep-konsep dan  sudah lengkap, namun penegakan hukum belum seperti yang diharapkan, menyebabkan konsep-konsep itu tidak bias berjalan semestinya dengan baik.

Yang pasti dikatakan, korupsi merajalela di Indonesia karena hukum tidak ditegakkan dengan baik. Bila hukum ditegakkan dengan baik, tidak akan seorang pun yang berani korupsi. “Karena itu, 2013 adalah tahun politik, semoga tidak ada lagi penegakan hukum yang kendur, justru harus bisa menata sistem hukum yang baik,” katanya.

Dijelaskan, dari kemajuan-kemajuan dalam bidang penegakan hukum akhir-akhir ini, tetap terjadi ketidakpuasan di masyarakat. “Pada titik tertentu memang ada kemajuan, tetapi pekerjaan rumah masih banyak dan itu tidak akan habis selama pemerintahan masih berjalan,” katanya.

Itulah yang diupayakannya melalui kantor pengacara yang dibangunnya bersama, Galumbang Simanjuntak dan Patuan Siahaan. “Jadi saya bukan mencari uang atau menghabiskan waktu melalui EPS Law & Firm, tetapi ingin membantu masyarakat yang tertindas,” tegasnya.

Melalui kantor barunya ini dikatakan, bukan hanya sekedar melakukan pembelaan dalam upaya penegakan hukum, tetapi juga melakukan pengkajian hukum dengan mengajak para pakar hukum ikut bergabung di kantornya. Batakpos.com

Sumber: http://batakmedia.com/news/politik-nusantara/item/91-penegakan-hukum-untuk-perubahan.html

 

Douglas Manurung


Ir. Douglas Manurung, MSc MBA
Dari Sampah lahir Listrik dan Tempat Wisata

Ir. Douglas Manurung, MSc MBA

Tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi setiap harinya menerima sekitar 6.000 ton sampah dari Jakarta. TPA hanya dijadikan tempat penampungan, tak heran terkesan jorok dan bau. Dulu, sampah di TPA ini tidak tertangani dengan baik. Itu dulu. Sekarang? TPA Bantar Gebang menjadi tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST). Karena sampahnya sudah dikelola dengan baik.

Kesembrautan sampah di TPA Bantar Gebang, sempat menjadi masalah itu membuat pemerintah DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Kebersihan diputuskan dikelola secara professional. Pada 5 Desember 2008, Pemerintah Daerah DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Kebersihan mengelar tender bagi perusahaan-perusahaan yang berkomitmen membantu menangani sampah. Beberapa perusahaan ikut tender, tender lalu dimenangkan PT Godang Tua Jaya.

Sejak ada MoU kesepakatan menjadi mitra pemerintah, PT Godang Tua Jaya yang dulunya hanyalah perusahaan pembuat kompos, dipercayakan untuk mengelola. Lalu, bergegas membuat berbagai terobosan. Godang Tua Jaya lalu mengandeng PT Navigat Organic Energy Indonesia untuk menciptakan listrik. Dari kerjasama itu lahir listrik. Listrik berbahan bakar sampah. Listrik di TPA Bantar Gebang sudah mulai memproduksi listrik, diharapkan dapat menambah pasokan listrik di Kota Bekasi, paling tidak. Listrik yang dihasilkan dari sampah ini rencananya akan dijual ke Perusahan Listrik Negara (PLN).

“Kita targetkan 26 megawatt pada tahun 2013, saat ini kita baru menghasilkan 2 megawatt,” ujar Ir Douglas Manurung MM MBA. Sosok dibalik sukses PT Godang Tua Jaya bermitra dengan Dinas Kebersihan Jakarta.

Dia menambahkan, sistem kerja mesin pembangkit listrik dari PT Sindicatum rekanan PT Godang Tua Jaya adalah pirolisis. Sampah dibakar dalam wadah khusus dengan suhu panas 3.000 derajat Celsius. Lalu, gas yang muncul dari proses itu ditampung dalam tabung dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik. Saat ini mesin pembangkit listrik yang disiapkan, ada tiga. Masing-masing memiliki kapasitas produksi 300 ton sampah per hari. Baru menjadi listrik yang siap dialirkan.

Sementara sampah yang tidak bisa digunakan untuk melahirkan energi listrik nantinya akan dimusnahkan dengan sistem sanitary landfill dan anaerobic digestion. Sisanya dimasukkan ke wadah tertutup, lalu dipanaskan sampai benar-benar musnah, kata Magister Bisnis dan Magister Lingkungan dari Universitas Pertanian Bogor (IPB) ini. Douglas saat ini sedang menempuh jejang doktoral di bidang lingkungan, dengan harapan, berbekal itu akan mendirikan sekolah persampahan.

Di tangan Douglas, perusahaan ini maju pesat namun punya beban. Selain karena sudah dipercayakan pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai mitra kerja, “Kami punya beban, ini harus menjadi contoh pengelolaan sampah. Kita tidak mau menyiayiakan kesempatan tersebut. Kalau sekarang pemerintah DKI Jakarta mempercayakan kita untuk mengelola TPST. Bagi kami ini kesempatan sekaligus peluang besar untuk menunjukkan bahwa sampah adalah sesuatu yang bernilai jika dikelola dengan baik. Tetapi, menjadi masalah bila tidak dikelola dengan baik.”

Visinya jelas. PT Godang Tua Jaya harus menjadi model dari pengelolaan sampah di Indonesia. “Bukan hanya besar, tetapi juga bermamfaat untuk orang lain. Mengelola sampah ingat PT Godang Tua Jaya.” Douglas berharap kelak menjadi perusahan besutannya yang berbasis lingkungan ini menjadi percontohan.

Mengelola SDM? “Saya kira, kita juga harus melakukan pendekatan dengan batin dengan sesama yang lain. Kalau kita melakukan yang terbaik di TPST Bantar Gebang ini tentu orang-orangnya, dalam hal ini sumber daya manusianya juga harus ditangani dengan baik.”

“Mengelola perusahaan itu perlu pendekatan personal. Pendelegasian tugas di bawah, tetapi kita berikan tanggung-jawab, termasuk seluruh pimpinan sampai level pegawas diberikan kepercayaan. Hanya saya sistimnya juga harus diciptakan. Tetapi kita tidak bisa katakan dengan sistim seluruhnya selesai,” ujar direktur PT Godang Tua Jaya, perusahaan yang telah mendapat pengakuan internasional (ISO) khusus manajemen.

“Kita berharap ke depan perusahaan ini menjadi perusahaan yang di segani, karena mampu dan berkualitas, itu harapan kita. Seluruh staf stakeholder kita libatkan untuk kemajuan perusahan ke depan,” tambahnya.
Douglas menambahkan, sukses perlu disiplin. Mengapa Singapura baik? Karena mereka disiplin “Orang Singapura itu berdisiplin, tetapi saat datang ke Batam misalnya, mereka sembarangan meludah dan mengangkat kaki. Mereka lakukan itu karena di Batam tidak berjalan hukum. Tetapi ketika mereka kembali ke Singapura mereka taat. Artinya apa? Perlu hukum yang berjalan.” Bagi Douglas, seorang pemimpin itu harus menjadi tauladan bagi seluruh karyawan. Dan harus menebarkan benih yang baik. Menyebarkan virus yang baik mengubah pradigma.

Wisata Sampah
Listrik dari sampah sudah bisa dikelola dengan baik. Sampah menjadi pupuk juga sudah menjadi produk unggulan PT Godang Tua Jaya. Lalu, kemudian Douglas juga memikirkan perlu dipikirkan ke depan adalah membangun TPST Bantar Gebang menjadi tempat wisata.

Satu obsesinya ke depan perusahaan ini memiliki lembaga penelitian sampah dan kelak menjadi sekolah. “Saya bermimpin di TPA ini nantinya ada sekolah persampahan, dan gelarnya pun S Sam alias Sarjana Sampah,” ujarnya tertawa.

Tetapi kelihatannya Douglas serius. Ini memang niat mulia. “Ke depan sampah akan makin banyak. Maka, harus disiapkan manajemen yang baku untuk mengelola sampah. Kita tidak hendak bermain main, kita sudah menemui BPPT. Saya kuliah untuk mempersiapkan program ini. Dasarnya di Indonesia ini ada 500 Dinas Kebersihan,” Douglas memberi alasan atas niatnya mendirikan sekolah persampahan.

Menurut lagi, kalau sampah tidak dikelola dengan baik, sampah merusak air, tanah dan udara. Kalau sudah demikian akan menimbulkan penyakit. “Artinya kalau ada pendidikan khusus mempelajari konsep bagaimana mengelola sampah dan ini kan kaitannya dengan membangun bumi. Artinya, kalau sekolah itu lahir pegawai dinas kebersihan sebelumnya harus tahu bagaimana mengelola TPA-TPA masing-masing. Kuburan saja bisa menjadi tempat wisata, kenapa sampah juga tidak kita mamfaatkan menjadi tempat wisata,” katanya.

Dia menambahkan, kalau kita buat TPST ini nyaman, tidak bau, lalu pohon-pohon rindang. Tentu tidak sulit menjadikan menjadi tempat wisata. “Tidak sulit menjadikan ini menjadi tujuan wisata. Selain itu juga diharapkan akan menjadi pusat penelitian sampah. Kita akan tunjukkan yang terbaik,” terangnya.

Bekerja untuk Tuhan
Begitu masuk ke ruangannya di kantor pengelola TPST Bantar Gebang, Pangkalan Lima. Di pojok meja kerjanya terlihat Alkitab. Pria kelahiran 29 Desember 1967 memang sosok panutan. Seorang anak Tuhan yang taat. Acuan hidupnya Kolose tiga ayat duapuluh tiga: Apapun yang kamu perbuatlah, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bekerja untuk Tuhan itu menjadi mottonya.

“Manusia sebenarnya yang mendikotomikan semua pekerjaan itu terkotak-kotak. Padahal, sesungguhnya semua pekerjaan itu adalah pelayanan untuk Tuhan. Jadi tidak ada pelayanan Rohani. Kalau kita kembali ke bahasa aslinya, dari Septuaginta, bahasa Yunani mengartikan seluruh pekerjaan itu adalah ‘Diakonia’ Paulus yang mempunyai talenta membuat tenda itu juga Diakonia, menginjili juga diakoni, artinya manusialah yang sering membeda-bedakan pekerjaan itu. Jadi apa yang kita kerjakan sekarang untuk Tuhan. Bekerjalah seolah-olah untuk Tuhan,” ujarnya takzim.

Bekerja untuk Tuhan? “Melayani Tuhan itu tidak boleh kita kotak-katik, bahwa selama ini ada yang menyebut hanya di lingkungan gereja disebut melayani Tuhan. Saya katakan, kita harus menjadi pelayani di mana pun kita bekerja. ‘Bekerja seolah-olah untuk Tuhan,” demikian jelasnya.

Douglas memang tidak hanya saja berkotbah. “Hidup kita ini adalah khotbah” demikian Douglas merinci. Dia anak pendeta, tentu tertular nilai-nilai yang baik dari sang ayah Sekertaris Jenderal Gereja Pentakosta Indonesia. Douglas tak jarang juga memberikan siraman rohani pada karyawan dan stafnya di kantor, juga di gereja yang didirikan untuk karyawan.

Peran keluarga? “Saya pikir, ukurannya adalah keluarga, kalau kita berbicara juga akan dilihat orang dari keluarganya. Kalau keluarga kita berantakan, mana tepat kita menjadi teladan,” ujarnya suami dari Tiurmauli boru Sitorus.

Beberapa bulan lalu istrinya sakit. Douglas harus pulang balik Singapura untuk mencurahkan seluruh cintanya pada istrinya. Tuhan memang baik. Kini Tiurma, istrinya sudah sembuh. Itulah Douglas. Di tengah-tegah masalah seperti itu dia harus memprioritaskan pekerjaan utama, dan itulah yang membuat pekerjaanya berhasil. Bekerja untuk Tuhan itu jawabannya.***Hotman J Lumban Gaol

Wawancara Tokoh

Kembali Pemupukan Organik, Tinggalkan Pemupukan Kimia

Pemakaian pupuk kimia yang terlalu sering ternyata berdampak negatif pada tanah. Oleh PT Godang Tua Jaya melihat ini sebagai hal yang harus dicari solusinya. Lewat produksi pupuk organik bernama Green Botane perusahaan ini juga berjuang untuk menunjukkan hal ini pada pemerintah bahwa lewat pemupukan organik, petani akan dua kali libih beruntung; tanah tidak rusak, dan produksi meningkat.

“Kita harus kembali kepemupukan alami. Karena dengan seringnya pemakaian pupuk kimia, tanaman dan tanah akan jenuh,” ujar Ir Douglas Manurung MBA MSi, Direktur PT Godang Tua Jaya pada wartawan BATAKPOS Hotman J Lumban Gaol, Senin (18/5) di kantor Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Demikian petikannya:

Saat itu pemerintah lagi gencar-gencarnya menganjurkan penggunaan pupuk organik, apa pasalnya?

Pemakaian pupuk kimia yang terlalu sering; dampaknya semakin hari efek residual pupuk kimia, tingkat endapannya di dalam tanah. Residu kimia yang berada di dalam tanah semakin tinggi. Sementara kondisi unsur hara mikro yang juga dibutuhkan oleh tanaman dalam proses pertumbuhannya, semakin menipis tingkat ketersediaannya di dalam tanah akibat serapan yang dilakukan oleh tanaman, dan semakin sedikitnya populasi mikroorganisme tanah yang mati. Ini akibat keracunan residu kimia yang berada di dalam tanah.

Artinya, tanpa disadari, pupuk kimia adalah perusak struktur tanah?

Penggunaan pupuk kimia terus-menerus akan berpengaruh rusaknya struktur tanah. Luncunya petani kita, melihat produksi yang rendah, bagi mereka, karena kekurangan pupuk kimia. Pemikiran pemupukan kimia yang banyak malah itulah asal musabahnya. Rendahnya kualitas maupun kuantitas produk pertanian salah satunya adalah akibat sistem pemupukan yang bergantung pada pupuk kimia yang terus-menerus, bukan organik.

Kalau sudah demikian apa solusinya. Apakah solusi yang tepat kembali pada pemupukan organik?
Iya, sebab dengan pemupukan organik akan bisa mengembalikan kegemburan tanah.

Lalu apa yang ditawarkan Godang Tua Jaya dengan Green Botane-nya?

Green Botane, pupuk organik yang melihat permasalahan yang dihadapi petani Indonesia. Green Botane adalah pupuk yang diolah dari sampah pasar. Merek produksi dari perusahaan PT Godang Tua Jaya ini, kini menjadi salah satu produsen pupuk organik di Indonesia. Perusahaan ini telah memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan pertanian. Dari sampah, Godang Tua Jaya bisa menjadikannnya pupuk organik yang bermutu tinggi.

Apa mamfaat pupuk organik Green Botane?
Mengembalikan sifat alami tanah, menjaga kelestarian tanah dengan memperbaiki struktur tanah. Meningkatkan kemampuan tanah memegang hara dan air. Lalu, menghidupkan mikroorganisme tanah yang kemudian menghadirkan hormon enzim yang dibutuhkan tanah dan tanaman.

Apa keuntungan pupuk organik Green Botane?
Mengunakan Green Botane, pemupukan pada tanaman, terutama kelapa sawit, akan semakin baik. Bisa dipastikan pemupukan organik menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan efektifitas pemupukan tanaman, kelapa sawit. Karena Green Botane dipercaya bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia 25-50 persen, dan bisa menghemat biaya pemupukan 20-35 persen.

Selain itu, Green Botane telah terbukti meningkatkan produksi pertanian. Kehadirannya juga untuk mendukung pemerintah dalam menghijaukan kembali alam yang telah rusak. Sekaligus untuk mengurangi keterbebanan Anda dalam penggunaan pupuk kimia yang mahal.

Lalu, bagaimana pemasarannya?

Pupuk ‘Green Botane’ yang diproduksi Godang Tua Jaya telah didistribusikan ke perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera. Lalu, di PT. Panca Kokoh untuk Tanaman Jati. Di PT. Biozyme untuk tambak udang dan kelapa sawit di Kalimantan. Dan PT. PERTANI. Untuk suplai pada program bantuan langsung pupuk (BLP) dari kementerian Pertanian Republik Indonesia.***