Douglas Manurung


Ir. Douglas Manurung, MSc MBA
Dari Sampah lahir Listrik dan Tempat Wisata

Ir. Douglas Manurung, MSc MBA

Tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi setiap harinya menerima sekitar 6.000 ton sampah dari Jakarta. TPA hanya dijadikan tempat penampungan, tak heran terkesan jorok dan bau. Dulu, sampah di TPA ini tidak tertangani dengan baik. Itu dulu. Sekarang? TPA Bantar Gebang menjadi tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST). Karena sampahnya sudah dikelola dengan baik.

Kesembrautan sampah di TPA Bantar Gebang, sempat menjadi masalah itu membuat pemerintah DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Kebersihan diputuskan dikelola secara professional. Pada 5 Desember 2008, Pemerintah Daerah DKI Jakarta dalam hal ini Dinas Kebersihan mengelar tender bagi perusahaan-perusahaan yang berkomitmen membantu menangani sampah. Beberapa perusahaan ikut tender, tender lalu dimenangkan PT Godang Tua Jaya.

Sejak ada MoU kesepakatan menjadi mitra pemerintah, PT Godang Tua Jaya yang dulunya hanyalah perusahaan pembuat kompos, dipercayakan untuk mengelola. Lalu, bergegas membuat berbagai terobosan. Godang Tua Jaya lalu mengandeng PT Navigat Organic Energy Indonesia untuk menciptakan listrik. Dari kerjasama itu lahir listrik. Listrik berbahan bakar sampah. Listrik di TPA Bantar Gebang sudah mulai memproduksi listrik, diharapkan dapat menambah pasokan listrik di Kota Bekasi, paling tidak. Listrik yang dihasilkan dari sampah ini rencananya akan dijual ke Perusahan Listrik Negara (PLN).

“Kita targetkan 26 megawatt pada tahun 2013, saat ini kita baru menghasilkan 2 megawatt,” ujar Ir Douglas Manurung MM MBA. Sosok dibalik sukses PT Godang Tua Jaya bermitra dengan Dinas Kebersihan Jakarta.

Dia menambahkan, sistem kerja mesin pembangkit listrik dari PT Sindicatum rekanan PT Godang Tua Jaya adalah pirolisis. Sampah dibakar dalam wadah khusus dengan suhu panas 3.000 derajat Celsius. Lalu, gas yang muncul dari proses itu ditampung dalam tabung dan selanjutnya diubah menjadi energi listrik. Saat ini mesin pembangkit listrik yang disiapkan, ada tiga. Masing-masing memiliki kapasitas produksi 300 ton sampah per hari. Baru menjadi listrik yang siap dialirkan.

Sementara sampah yang tidak bisa digunakan untuk melahirkan energi listrik nantinya akan dimusnahkan dengan sistem sanitary landfill dan anaerobic digestion. Sisanya dimasukkan ke wadah tertutup, lalu dipanaskan sampai benar-benar musnah, kata Magister Bisnis dan Magister Lingkungan dari Universitas Pertanian Bogor (IPB) ini. Douglas saat ini sedang menempuh jejang doktoral di bidang lingkungan, dengan harapan, berbekal itu akan mendirikan sekolah persampahan.

Di tangan Douglas, perusahaan ini maju pesat namun punya beban. Selain karena sudah dipercayakan pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai mitra kerja, “Kami punya beban, ini harus menjadi contoh pengelolaan sampah. Kita tidak mau menyiayiakan kesempatan tersebut. Kalau sekarang pemerintah DKI Jakarta mempercayakan kita untuk mengelola TPST. Bagi kami ini kesempatan sekaligus peluang besar untuk menunjukkan bahwa sampah adalah sesuatu yang bernilai jika dikelola dengan baik. Tetapi, menjadi masalah bila tidak dikelola dengan baik.”

Visinya jelas. PT Godang Tua Jaya harus menjadi model dari pengelolaan sampah di Indonesia. “Bukan hanya besar, tetapi juga bermamfaat untuk orang lain. Mengelola sampah ingat PT Godang Tua Jaya.” Douglas berharap kelak menjadi perusahan besutannya yang berbasis lingkungan ini menjadi percontohan.

Mengelola SDM? “Saya kira, kita juga harus melakukan pendekatan dengan batin dengan sesama yang lain. Kalau kita melakukan yang terbaik di TPST Bantar Gebang ini tentu orang-orangnya, dalam hal ini sumber daya manusianya juga harus ditangani dengan baik.”

“Mengelola perusahaan itu perlu pendekatan personal. Pendelegasian tugas di bawah, tetapi kita berikan tanggung-jawab, termasuk seluruh pimpinan sampai level pegawas diberikan kepercayaan. Hanya saya sistimnya juga harus diciptakan. Tetapi kita tidak bisa katakan dengan sistim seluruhnya selesai,” ujar direktur PT Godang Tua Jaya, perusahaan yang telah mendapat pengakuan internasional (ISO) khusus manajemen.

“Kita berharap ke depan perusahaan ini menjadi perusahaan yang di segani, karena mampu dan berkualitas, itu harapan kita. Seluruh staf stakeholder kita libatkan untuk kemajuan perusahan ke depan,” tambahnya.
Douglas menambahkan, sukses perlu disiplin. Mengapa Singapura baik? Karena mereka disiplin “Orang Singapura itu berdisiplin, tetapi saat datang ke Batam misalnya, mereka sembarangan meludah dan mengangkat kaki. Mereka lakukan itu karena di Batam tidak berjalan hukum. Tetapi ketika mereka kembali ke Singapura mereka taat. Artinya apa? Perlu hukum yang berjalan.” Bagi Douglas, seorang pemimpin itu harus menjadi tauladan bagi seluruh karyawan. Dan harus menebarkan benih yang baik. Menyebarkan virus yang baik mengubah pradigma.

Wisata Sampah
Listrik dari sampah sudah bisa dikelola dengan baik. Sampah menjadi pupuk juga sudah menjadi produk unggulan PT Godang Tua Jaya. Lalu, kemudian Douglas juga memikirkan perlu dipikirkan ke depan adalah membangun TPST Bantar Gebang menjadi tempat wisata.

Satu obsesinya ke depan perusahaan ini memiliki lembaga penelitian sampah dan kelak menjadi sekolah. “Saya bermimpin di TPA ini nantinya ada sekolah persampahan, dan gelarnya pun S Sam alias Sarjana Sampah,” ujarnya tertawa.

Tetapi kelihatannya Douglas serius. Ini memang niat mulia. “Ke depan sampah akan makin banyak. Maka, harus disiapkan manajemen yang baku untuk mengelola sampah. Kita tidak hendak bermain main, kita sudah menemui BPPT. Saya kuliah untuk mempersiapkan program ini. Dasarnya di Indonesia ini ada 500 Dinas Kebersihan,” Douglas memberi alasan atas niatnya mendirikan sekolah persampahan.

Menurut lagi, kalau sampah tidak dikelola dengan baik, sampah merusak air, tanah dan udara. Kalau sudah demikian akan menimbulkan penyakit. “Artinya kalau ada pendidikan khusus mempelajari konsep bagaimana mengelola sampah dan ini kan kaitannya dengan membangun bumi. Artinya, kalau sekolah itu lahir pegawai dinas kebersihan sebelumnya harus tahu bagaimana mengelola TPA-TPA masing-masing. Kuburan saja bisa menjadi tempat wisata, kenapa sampah juga tidak kita mamfaatkan menjadi tempat wisata,” katanya.

Dia menambahkan, kalau kita buat TPST ini nyaman, tidak bau, lalu pohon-pohon rindang. Tentu tidak sulit menjadikan menjadi tempat wisata. “Tidak sulit menjadikan ini menjadi tujuan wisata. Selain itu juga diharapkan akan menjadi pusat penelitian sampah. Kita akan tunjukkan yang terbaik,” terangnya.

Bekerja untuk Tuhan
Begitu masuk ke ruangannya di kantor pengelola TPST Bantar Gebang, Pangkalan Lima. Di pojok meja kerjanya terlihat Alkitab. Pria kelahiran 29 Desember 1967 memang sosok panutan. Seorang anak Tuhan yang taat. Acuan hidupnya Kolose tiga ayat duapuluh tiga: Apapun yang kamu perbuatlah, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Bekerja untuk Tuhan itu menjadi mottonya.

“Manusia sebenarnya yang mendikotomikan semua pekerjaan itu terkotak-kotak. Padahal, sesungguhnya semua pekerjaan itu adalah pelayanan untuk Tuhan. Jadi tidak ada pelayanan Rohani. Kalau kita kembali ke bahasa aslinya, dari Septuaginta, bahasa Yunani mengartikan seluruh pekerjaan itu adalah ‘Diakonia’ Paulus yang mempunyai talenta membuat tenda itu juga Diakonia, menginjili juga diakoni, artinya manusialah yang sering membeda-bedakan pekerjaan itu. Jadi apa yang kita kerjakan sekarang untuk Tuhan. Bekerjalah seolah-olah untuk Tuhan,” ujarnya takzim.

Bekerja untuk Tuhan? “Melayani Tuhan itu tidak boleh kita kotak-katik, bahwa selama ini ada yang menyebut hanya di lingkungan gereja disebut melayani Tuhan. Saya katakan, kita harus menjadi pelayani di mana pun kita bekerja. ‘Bekerja seolah-olah untuk Tuhan,” demikian jelasnya.

Douglas memang tidak hanya saja berkotbah. “Hidup kita ini adalah khotbah” demikian Douglas merinci. Dia anak pendeta, tentu tertular nilai-nilai yang baik dari sang ayah Sekertaris Jenderal Gereja Pentakosta Indonesia. Douglas tak jarang juga memberikan siraman rohani pada karyawan dan stafnya di kantor, juga di gereja yang didirikan untuk karyawan.

Peran keluarga? “Saya pikir, ukurannya adalah keluarga, kalau kita berbicara juga akan dilihat orang dari keluarganya. Kalau keluarga kita berantakan, mana tepat kita menjadi teladan,” ujarnya suami dari Tiurmauli boru Sitorus.

Beberapa bulan lalu istrinya sakit. Douglas harus pulang balik Singapura untuk mencurahkan seluruh cintanya pada istrinya. Tuhan memang baik. Kini Tiurma, istrinya sudah sembuh. Itulah Douglas. Di tengah-tegah masalah seperti itu dia harus memprioritaskan pekerjaan utama, dan itulah yang membuat pekerjaanya berhasil. Bekerja untuk Tuhan itu jawabannya.***Hotman J Lumban Gaol

Wawancara Tokoh

Kembali Pemupukan Organik, Tinggalkan Pemupukan Kimia

Pemakaian pupuk kimia yang terlalu sering ternyata berdampak negatif pada tanah. Oleh PT Godang Tua Jaya melihat ini sebagai hal yang harus dicari solusinya. Lewat produksi pupuk organik bernama Green Botane perusahaan ini juga berjuang untuk menunjukkan hal ini pada pemerintah bahwa lewat pemupukan organik, petani akan dua kali libih beruntung; tanah tidak rusak, dan produksi meningkat.

“Kita harus kembali kepemupukan alami. Karena dengan seringnya pemakaian pupuk kimia, tanaman dan tanah akan jenuh,” ujar Ir Douglas Manurung MBA MSi, Direktur PT Godang Tua Jaya pada wartawan BATAKPOS Hotman J Lumban Gaol, Senin (18/5) di kantor Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi. Demikian petikannya:

Saat itu pemerintah lagi gencar-gencarnya menganjurkan penggunaan pupuk organik, apa pasalnya?

Pemakaian pupuk kimia yang terlalu sering; dampaknya semakin hari efek residual pupuk kimia, tingkat endapannya di dalam tanah. Residu kimia yang berada di dalam tanah semakin tinggi. Sementara kondisi unsur hara mikro yang juga dibutuhkan oleh tanaman dalam proses pertumbuhannya, semakin menipis tingkat ketersediaannya di dalam tanah akibat serapan yang dilakukan oleh tanaman, dan semakin sedikitnya populasi mikroorganisme tanah yang mati. Ini akibat keracunan residu kimia yang berada di dalam tanah.

Artinya, tanpa disadari, pupuk kimia adalah perusak struktur tanah?

Penggunaan pupuk kimia terus-menerus akan berpengaruh rusaknya struktur tanah. Luncunya petani kita, melihat produksi yang rendah, bagi mereka, karena kekurangan pupuk kimia. Pemikiran pemupukan kimia yang banyak malah itulah asal musabahnya. Rendahnya kualitas maupun kuantitas produk pertanian salah satunya adalah akibat sistem pemupukan yang bergantung pada pupuk kimia yang terus-menerus, bukan organik.

Kalau sudah demikian apa solusinya. Apakah solusi yang tepat kembali pada pemupukan organik?
Iya, sebab dengan pemupukan organik akan bisa mengembalikan kegemburan tanah.

Lalu apa yang ditawarkan Godang Tua Jaya dengan Green Botane-nya?

Green Botane, pupuk organik yang melihat permasalahan yang dihadapi petani Indonesia. Green Botane adalah pupuk yang diolah dari sampah pasar. Merek produksi dari perusahaan PT Godang Tua Jaya ini, kini menjadi salah satu produsen pupuk organik di Indonesia. Perusahaan ini telah memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan pertanian. Dari sampah, Godang Tua Jaya bisa menjadikannnya pupuk organik yang bermutu tinggi.

Apa mamfaat pupuk organik Green Botane?
Mengembalikan sifat alami tanah, menjaga kelestarian tanah dengan memperbaiki struktur tanah. Meningkatkan kemampuan tanah memegang hara dan air. Lalu, menghidupkan mikroorganisme tanah yang kemudian menghadirkan hormon enzim yang dibutuhkan tanah dan tanaman.

Apa keuntungan pupuk organik Green Botane?
Mengunakan Green Botane, pemupukan pada tanaman, terutama kelapa sawit, akan semakin baik. Bisa dipastikan pemupukan organik menjadi solusi yang tepat untuk meningkatkan efektifitas pemupukan tanaman, kelapa sawit. Karena Green Botane dipercaya bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia 25-50 persen, dan bisa menghemat biaya pemupukan 20-35 persen.

Selain itu, Green Botane telah terbukti meningkatkan produksi pertanian. Kehadirannya juga untuk mendukung pemerintah dalam menghijaukan kembali alam yang telah rusak. Sekaligus untuk mengurangi keterbebanan Anda dalam penggunaan pupuk kimia yang mahal.

Lalu, bagaimana pemasarannya?

Pupuk ‘Green Botane’ yang diproduksi Godang Tua Jaya telah didistribusikan ke perkebunan Kelapa Sawit di Sumatera. Lalu, di PT. Panca Kokoh untuk Tanaman Jati. Di PT. Biozyme untuk tambak udang dan kelapa sawit di Kalimantan. Dan PT. PERTANI. Untuk suplai pada program bantuan langsung pupuk (BLP) dari kementerian Pertanian Republik Indonesia.***

Iklan

6 Comments

  1. informasinya sangat bermanfaat Pak Douglas, saya ingin banyak belajar tentang ini.
    Sementara ini saya mengolah sampah masih menggunakan model lama dan memanfaatkan sampah sebagai kompos dan pupuk cair dan sisanya di buang, saat ini sedang membuat bioreaktor sederhana dari drum plastik untuk bio-gas untuk kompor sedangkan untuk mengubahnya menjadi energi listrik belum pernah saya coba.
    saya tertarik dan ingin belajar tentang itu, apakah memungkinkan untuk share tentang itu.
    terima kasih

  2. bravo pak douglas..sangat inspiratif, bangganya punya putra bangsa yg innovative, yg merupakan skill esential di era ini. orang melihat sampah secara jijik, pak douglas malah melihat peluang disitu. dan salut buat blog ini, tiap pagi jadi inspirasi saya sebelum melakukan aktifitas, bahwa di tiap diri org batak punya peluang yg besar untuk menjadi sukses. Gb

  3. Wow, Luar biasa Tuhan Yesus itu!
    Salam kenal dulu Amang Pendeta Douglas Manurung sekaligus Tulang aku (Inongku Br. Manurung)

    Saya sangat apresiasif tinggi untuk apa yang telah Beliau kerjakan, SAMPAH menjadi sumber energi listrik dan kunjungan wisata. jika dilihat dari proses konversi energinya menggunakan pemanasan sehingga menghasilkan gas (energi listrik) akan tetapi apakah hal tersebut juga menghabiskan energi energi yang jukup besar dalam prosesnya dengan pemansan diatas 3000^0 C, ada alternatif yang biasanya menggunakn FERMENTASI menggunakan BAKTERI penghancur kemudian akan menghasilkan gas METANA (CH4) mungkin itu juga bisa membantu proses produksi yang lebih efesien.

    Sebagai Wisata Sampah -> wah saya rasa ini akan menjadi tempat yang akan banyak dikunjungi orang2 khususnya mahasiswa-mahasiswa yang sedang melaksanakan penelitian, bila TPS ini penuh dengan kajian2 ilmu yang perlu di perdalamin saya rasa akan memunculkan simbiosis mutualisme dimana banyak mahasiswa yang melakukan penelitian disini dan mereka merasa terbantu dengan data2 penelitian yang mereka dapat dan perusahan juga bisa mendapatkan penemuan2 terbaru dan pemsukn2 baik lainnya.

    S.Sam. hahhaahha 😀 seandainya ada orang yang bergelar demikiian sungguh akan memeberikan warna yang berbeda dalm dunia pendidikan 😀
    akan tetapi, hal itu tidak dapat dipungiri, bisa saja terjadi, Semgat terus dan terus berjuang Tulang utnuk rencana kedpnnya.

    Indonesia butuh perubahan yang konkrit! dan saya melihat kesejahteraan besar untuk kota bekasi juga ada bersumber dari ini.
    Terpujilah Tuhan untuk setiap pekerjaanya yang Ia lakukan pada Amang Pendeta Douglas Manurung.

    Tuhan memberkati kita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s