Djonggi M. Simorangkir, SH, MH


Djonggi Simorangkir, 54 tahun, adalah pengacara yang selalu sesuai ucapan dengan tindakan. Pria kelahiran 11

Djonggi M Simorangkir

November 1957 ini memang sudah lama mengeluti dunia pengacara. Sebagai pengacara Djonggi dikenal garang, tanpa rasa takut menghadapi siapa pun.

Namun, dibalik kegarangannya, Djonggi juga selalu membela yang tertindas, termasuk menagani kasus sidang Provinsi Tapanuli (Protap). Dia tampil dengan tanpa dibayar membela orang-orang yang dipejarakan karena menuntut dirikannya Protap.

“Saya siap membela dengan sepenuh hati, tanpa dibayar kalau membela korban demo Protap,” ujarnya Ketua DPP Ikatan Advokasi Indonesia (IKADIN) Bidang Hak Asasi Manusia (HAM) periode 2007-2012, ini. Djonggi dipercaya bersama rekanya Rahmat Irawan SH, memimpin Bidan HAM.

Sebagai seorang advokasi, dia berteman dengan siapa saja. Satu musuh menurut dia terlalu banyak, seribu teman masih terlalu sedikit. Maka, tak mengherankan, dia berteman dengan berbagai kalangan. Salah satu rekannya yang sudah sepuh di dunia pengacara salah satunya O C Kaligis.

Karena pertemanan pula dia diundang khusus sebagai tamu kehormatan oleh Gubernur Sulawesi Utara, Sinyo Harry Sarundajang untuk menghadiri World Ocean Conference (WOC) atau Konferensi Kelautan Dunia yang digelar di Manado pada Mei 2009, lalu. Bersama istri tercinta Ida Rumindang boru Rajaguguk SH MA yang juga pengacara diundang. Keduanya diundang secara khusus oleh Gubernur Sulawesi Utara, itu juga karena pertemanan.

“Itulah pertemanan. Pertemanan itu link. Bila kita berbuat baik kepada sesama, di mana pun kita berada pasti ada saja teman yang ingat kepada kita walaupun dia berada di pulau lain,” ujarnya mengurai pentingnya pertemanan.
Djonggi memang, di setiap kesempatan dijadikannya momentum. Misalnya, kehadirannya sebagai undangan di Manado itu dia gunakan untuk kesempatan, pertemuan dengan Gubernur Sinyo Harry Sarundajang khusus membicarakan sharing budaya, kerjasama yang bisa saling membangun, kearifan lewat pertukaran budaya.
Sudah tentu, sebagai orang Batak, dia amat peduli dengan budayanya. Itu sebabnya dia meluangkan waktu hadir ke Menado untuk membicarakan kerja sama dua budaya agar bisa terealisasi secepatnya.

Membela Protap

Tak banyak seperti Djonggi. Kala orang alegir membicarakan Prota, pasca demo itu, Djonggi tanpa tendeng aling-aling berani membela orang yang dipenjara. Insiden yang kemudian memakan korban Azis Angkat meninggal pun, menurut dia jangan ditarik-tarik ke masalah politik.

Demo arnakis itu, oleh Pengadilan Negeri Medan menetapkan 67 tersangka yang kemudian menahan 48 tersangka. Djonggi dengan sigap menjawab, membela bersama teman-temannya, tanpa meminta bayaran. Pembelaan dilakukan semenjak pemeriksaan oleh pihak Kepolisian, tahap banding bahkan sampai kasasi.

Bagi Djonggi orang-orang demo untuk Protap ini untuk membela hajat orang Batak, maka tentunya harus juga dibela. Kemampuan yang mumpuni sebagai pengacara, segudang pengalaman sebagai advokad mapan.
Ketiak orang lain tidak banyak peduli tentang kasus Protap, bagi Djonggi itu merupakan momen untuk mengabdi. Maka, secara resmi menerima kuasa dari beberapa orang Panitia Pembentukan Propinsi Tapanuli (P3TS) dan Simpatisan, yang saat ini sedang menjalani proses persidangan di Medan.

”Mandat itu baru saya terima dan mereka kirim dari Medan melalui titipan kilat,” katanya. Isi surat kuasa No Ist/P3TS/ MDN tertanggal 29 Juli 2009 yang diterimanya merupakan kuasa hukum secara global, dan untuk itu dia akan melakukan berbagai audensi ke pihak pihak-terkait, terutama kepda Mahkamah Agung, Menteri Dalam Negeri, Kejaksaan, serta DPR.

“Kita bukan untuk mencampuri proses atau putusan peradilan tetapi akan bicara dari hati ke hati. Untuk mempertanyakan apakah kasus demo Protap murni pidana atau memang sudah diboncengi kasus politik. Saya berharap kasus ini murni kasus hukum dan bukan kasus yang diboncengi politik,” katanya.
Pemberi mandat dan kuasa hukum kepada Djonggi Simorangkir dari P3TS antara lain Drs Burhanuddin Radjagukguk (Wakil Ketua), Djumongkas Hutagaol (Wakil Ketua), Ir Hasudungan Butar-Butar, M.Si. (Sekretaris Umum), Nurdin P. Manurung (Bendahara Umum).

Menjadi pengacara sudah menjadi cita-cita Djonggi sejak kecil. Baginya jika ingin menaklukkan dunia tentu harus mengerti hukum. “Memahami hukum tentu harus sekolah hukum.” Maka anak ke tujuh dari sebelas bersaudara ini begitu lulus sekolah lanjutan tingkat atas, langsung kuliah di Universitas Sumatera Utara (USU) jurusan hukum dan tamat tahun 1984. Masa itu USU sebagai ikon sarjana hukum Indonesia.

Djonggi dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan. Maklum orangtuanya pengusaha di Paranginan, Humbang-Hasundutan. Tapi hal itu tidak membuatnya sombong, bahkan semakin membuatnya terpacu untuk bekerja lebih maju. “Saya bersyukur bisa seperti sekarang ini,” katanya.

Meskipun sudah terkenal, pria yang penghoby membaca ini tidak pernah besar kepala. Setiap hari ia selalu mendoakan orang-orang dekatnya, tanpa diketahui oleh yang bersangkutan. Tidak heran jika dia menyebut doanya itu sangat bermamfaat.

Djonggi punya filosofi ‘tidak ada persoalan yang tidak terselesaikan’ ini selalu berpikiran positif terhadap semua orang. Termasuk kepada calon legislative dari kalangan artis yang saat ini akan menghuni Senayan. Sebagai pengacara yang disebut-sebut harus pintar berbicara dan mengerti hukum yang dalam. Djonggi terus mengisi tangkinya, dengan melanjutkan kuliah ke tingkat strata dua.

Baginya kesuksesan harus berimbang; keluarga, karier, dan masalah spiritualitas juga tetap dianggapnya sebagai penyokong setiap kennerjanya. Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) yang sebenatar lagi merayakan jubileum 150 tahun. Panitia jubileum punya banyak program, termasuk gerakan penanam pohon. Djonggi tanpa diminta panitia menawarkan diri untuk memberikan sumbangan sejumlah pohon untuk ditanam. Baginya, dengan keseimbangan itu, hidup ini berarti dan bermakna.***Hotman J Lumban Gaol

Biodata
Nama: Djonggi Simorangkir
Lahir: 11 November 1957
Nama istri: Ida Rumindang boru Rajaguguk, SH, MA

Pekerjaan:
Advokat, Pengacara, Penasehat Hukum
Jabatan Ketua BIdang Hak Asasi Manusia IKADIN

Pendidikan:
S1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
S2 Fakultas Hukum Universitas Parayangan Bandung

Alamat Kantor
Gedung Arva
Lantai 3
Jalan RP Soeroso No. 40 Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat

Iklan

5 Comments

  1. rasanya penayangannya terlambat ya…kebanyakan dishoot tahun 2009, sementara sekarang kan sudah 2011, terus aku appreciate dengan beliau, tapi numpang tanya nih
    kenapa beliau jarang ya tampil di koran dan tv semisal ruhut sitompul, hotman paris hutapea, juan felix tampubolon, ricardo simanjuntak dan pengacara batak kondang lainnya…apakah beliau tidak mau dipublikasikan atau belum masuk nominasi untuk kelas nasional atau what?

  2. Bukannya tidak pernah masuk, tapi lae Rekson Sihombing aja yang kurang banyak pengetahuan, sudah banyak perkara penting yang beliau pegang, Kasus Bulog (Hamdani Amin), Kasus Sammy Kerispatih, Kasus Depsos yang berkaitan dengan Mentri Sosial

  3. Perkara hukum yang terus di bela tidak hanya ” membela yang bayar tapi membela yang benar ” contoh sidang Provinsi Tapanuli (Protap)…

    dukung Pengacara Tanah Batak yang Takut akan Tuhan dan membela pencari keadilan yang Miskin dan teraniaya (Slogan salah satau LBH Mawar Saron).

    ALIANSI PENGACARA TOBA SAMOSIR ( APTS JAKARTA )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s