Jugia boru Marpaung


Pendiri Art@ Batik, Pengusaha Batik Pertama Orang Batak

Kain tenun Indonesia yang telah mendapat pengakuan internasional adalah kain tenun batik. Hal itu ditetapkan sejak pemerintah Indonesia mendaftarkan kain tenun batik asal dari Jawa ini di Perserikatan Bangsa-Bangsa mendapat tempat yang layak, menjadi miliki Indonesia. Batik kini menjadi pakaian nasional. Pegawai Negeri misalnya wajid mengenakan batik setiap Jumat. Artinya terbuka peluang besar di sektor ini.

“Dulunya kain batik diklaim milik produk dari Jawa, sekarang sudah ada batik Lampung, batik Sunda. Yang belum ada batik Batak,” kata Jugia boru Marpaung, memulai perbicangan dengan wartawan BATAKPOS beberapa waktu lalu. Barangkali Jugialah pertama, mungkin satu-satunya orang Batak yang memproduksi batik. Padahal, menurutnya, sama sekali belum pernah membatik, tetapi kenyataannya bisa eksis di bisnis ini.

Awal ketertarikan pada batik Batak? “Saya tertarik karena pasarnya masih terbuka lebar, tak pernah luntur. Saya pikir bisnis seperti ini bisa bertahan hingga turun-temurun, bisnis yang menjanjikan ke depan,” jawabnya saat ditemui di pameran batik di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, beberapa waktu lalu.

Apa bedanya dengan batik lain? “Berbedalah. Batik yang kita buat dari gambar alam, motif-motif batak seperti gorga, itu bedanya. Maka kita sebut batik Batak, karena motifnya pun dari ornamen-ornamen Batak, seperti gambar dari gorga,” ujarnya.

Jenis batik yang di kembangkan Jugia adalah batik dengan motif Batak, seperti ornamen gorga. Dan harganya pun berpariasi dari harga 3 juta hingga empat juta rupiah. Meski masih menggunakan peralatan tradisional. Tetapi, meski masih mengunakan pengerjaan tradisional, produktivitasnya tetap banyak. Setiap bulan Jugia dan rekan-rekan pekerja di tempatnya menghasilkan rata-rata 100-an potong batik.

Jugia yang memimpin Art@ Batik di Pekalongan. Saat ini pengerjaannya dilakukan para ahli batik pilihan. Praktis pengerjaanya dipercayakan pada 60 orang karyawan.

Siapa sebenarnya Jugia? Dia hanyalah seorang ibu rumah tangga. Dengan niat mulai untuk mengembangkan diri dan dan bisa membantu suami tak menyurutkan perjuangan Jugia untuk memiliki usaha.

Keinginannya itu seperti gayung bersambut, suami Albiner Panjaitan seorang kontraktor sangat menudukung niat istrinya. Oleh dorongan itu juga membuatnya bersemangat terus mengembangkan usahanya. Walau bukan pengusaha batik nomor satu, nyatanya dia bisa eksis mengeluti bisnisnya.

Tak heran, sebagai pengusaha untuk melebarkan sayap bisnisnya, Jugia terus mengikuti berbagai pameran di dalam dan di luar negeri sekaligus untuk memperkenalkan Art@ Batik.

Nama Art@ diambil dari kata “Art@” merasal dari kata artha dalam bahasa Sangsekerta yang berarti uang atau harta. Arta pun dalam bahasa Batak disebut harta, atau kekayaan. Demikianlah pula Jugia memberikan pelabelan pada usahanya arta yang sesungguh tempat menghasilkan uang.

Sementara untuk memperkenalkan kain hasil produksinya, selain dalam pameran juga memajang di mal-mal. Dia juga tidak segan-segan memperkenalkan di acara-acara adat Batak, di pesta-pesta pernikahan.

Counter Art@ Batik pernah hampiri presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat pameran di JCC Senayan. Saat itu presiden kagum dengan apa yang dikerjakan Jugia. Saat ditanya presiden apa kendala yang dihadapi, Jugia bilang “hanya kekurangan modal pak presiden,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi Nommensen, tahun 1985 ini.

Jugia menceritakan, presiden berbahasa Jawa. Presiden SBY tanya, “nindi Jawane,” maksudnya Jawanya dari mana. Lalu, Jugia jawab, “saya orang Sumatera Utara bapak.” Presiden pun kagek dan berkata, salut orang Batak, bisa juga rupanya berbisnis batik, “tetapi itu bagus, untuk memberikan motivasi pada orang Jawa sendiri, kalau orang Batak bisa, masa orang Jawa ngga bisa,” kata presiden SBY cerita perempuan kelahiran Medan 28 Juni 1963. Ibu tiga anak dari Juniver Alexanto Panjaitan, Martin Herold Dogor Panjaitan, dan Yulfrida Silvana Panjaitan.

“Jujur saja, saya tidak tahu berbahasa Jawa, tetapi bisa bekerja dengan orang Jawab. Tetapi kita terus belajar, apa yang mereka omongi saya kira saya bisa tangkap, apa yang diucapkan. Jadi kalau ada orang Jawa yang beli, lalu berbahasa Jawa, terus terang saya tidak bisa berbahasa Jawa, dengan demikian mereka simpatik.

Kalau sudah rezeki memang tidak ke mana. Jugia tidak berpengalaman di batik, tetapi nyatanya, walau awalnya karena hobby koleksi batik. Kini hobbynya memberikan keuntungan baginya.

Lalu, siapa saja pelangganya? “Saya mempunyai pelanggan banyak tokoh-tokoh orang Batak, salah satunya istri dari bapak Luhut B Panjaitan. Beliau pernah katakan, hebat kau satu-satunya orang Batak yang terjun sebagai pembatik.”
Saat ini Art@ Batik mempunyai tempat penjualan di Sarinah Thamrin Lt.IV, Jakarta Pusat. Di Pasar Raya Lt II Blok M Jakarta Selatan. Kelapa Gading Mall 5 Lt 1 Jakarta Utara. Emporium Mall Lantai I Pluit Jakarta Barat. Sogo Departemen Store. Anjungan Sumatera Batik Smesco gedung UKM.

“Ke depan bahwa orang Batak juga harus percaya diri memiliki kain batik bermotif Batak. Apa yang salah? Karena batik sekarang adalah produk nasional yang sudah diakui dunia internasional,” terangnya.***Hotman J. Lumban Gaol

Iklan

HP Panggabean


DR., Henry Pandapotan Panggabean, S.H, M.S.

DR. Henry Pandapotan Panggabean, S.H, M.S.

Pendidikan
Fakultas Hukum, Universitas Gajah Mada, Indonesia (SH, 1964), Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Gajah Mada dan Universitas Sumatera Utara, Indonesia (MS, 1992), Program Doktor Hukum, Universitas Gajah Mada, Indonesia (DR, 2005 ).

Pengalaman Kerja
Ketua Pengadilan Negeri Tarakan, Kalimantan Timur (1965-1972), Anggota Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat (1972-1981), Ketua Pengadilan Negeri Jambi, Jambi (1981-1984), Ketua Pengadilan Negeri Palembang, Sumatera Selatan (1984-1986), Hakim Pengadilan Tinggi Medan, Sumatera Utara (1986-1992), Ketua Pengadilan Tinggi Manado, Sulawesi Utara Keadilan (1992-1996), Pengadilan Tinggi Palembang, Sumatera Selatan (1996-1997), Kehakiman Mahkamah Agung Republik Indonesia Giro Profesi: Mitra Pendiri HP Panggabean Law Firm (2002-sekarang).

Karya buku
1. Konsep Mengefektifkan dan Mengefisienkan Pesta Perkawinan Adat Dalihan Na Tolu
2. Kekristenan dan Adat Budaya Batak dalam Perbincangan
3. Hukum Acara Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

Wawancara:

Kemiskinan Akar Radikalisme di Indonesia

Apa akar pokok radikalisme di Indonesia?Jauh sebelum muncul gerakan-gerakan radikal belakang ini, Indonesia pasca proklamasi tidak pernah sepi dari konflik-konflik domestic yang cukup banyak menguras energy bangsa ini.  Menurut DR Henry Pandapotan SH mantan hakim agung mengatakan, radikalisme mucul merasa tidak puas dengan tatanan yang ada, dan ingin mengubahnya secara radikal pula. “Sekalipun cukup melelahkan, Republik Pancasila akhirnya berhasil mematahkan semua perlawanan itu, sekalipun penyebab utamanya masih terabaikan sampai hari ini. Beberapa waktu lalu wartawan BATAKPOS Hotman J Lumban Gaol mewawancari pendiri HP Panggabean Law Firm (2002-sekarang). Demikian petikannya:

Apakah radikalisme mucul karena kurang meratanya pembangunan?

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” yang menjadi  sila pengunci pancasila yang telah kita sepakati itu, tetapi nyatanya tidak demikian. Kita harus jujur terhadap Bangsa ini, politik pemerintah dan partai-partai sejak tahun 1945,hampir tidak ada yang benar-benar mengacu kepada sila kelima ini, kecuali dalam retorika politik, terutama saat kampanye pemilu. Peradapan politik kita baru sampai pada taraf ini, kita belum serius mengurus bangsa dan Negara ini.

Lalu apa penyebab maraknya gerakan-gerakan teroris belakangan ini?

Ada dimensi global berupa ketidakadilan. Tetapi Factor domestic tampaknya lebih dominan sehingga mereka masih saja berhasil mencari pengikut untuk dijadikan barisan depan. Para pengikut ini telah dicuci otaknya sedemikian rupa, sehingga lahirlah “Pasukan” tahan banting untuk mencapai tujuan.

Apa memang radikalisme itu tumbuh karena kemiskinan?

Tahun 2007 angkanya 42 juta orang miskin dari 225 juta rakyat Indonesia. Ini ibarat rumput kering yang rentan bagi ledakan-ledakan sosial politik pada masa-masa yang akan datang. Artinya selama lautan kemiskinan itu tetap menganga, maka upaya untuk membasmi radikalisme akan menjadi sangat sulit, jika bukan akan menemui jalan buntu. Saya sulit memahami mengapa para elit bangsa ini belum juga menyadari betapa dalamnya jurang sosial ini di sebuah bangsa yang kaya dengan sumber alam, tetapi ternyata lebih banyak dinikmati oleh lapisan kecil orang Indonesia. Kongkalingkong antara penguasa dan pengusaha sudah menjadi rahasi umum selama ini, sementara proses law enforcement  demikan lemahnya.

Gerakan radikal tersebut sudah telah banyak mengambil korban akibat Praktik Bom bunuh diri. Tindakan represif aparat Hukum di Indonesia kurang mampu secara penuh mengambil tindakan keras?

Kelompok radikal yang paling ekstrem adalah mereka yang terlibat dalam praktik bom bunuh diri sambil membunuh orang lain dalam jumlah besar. Praktik ini dipincu oleh situasi Palestina, Afganistan, dan belakangan ini Iraq. Ini yang saya maksud dengan dimensi internasional atau global. Yang sama sekali di luar nalar adalah praktik busuk itu mereka lakukan di Indonesia, di Bali dan Jakarta.

Apa pula dosa Indonesia gerangan sehingga harus dihukum melalui cara-cara seperti ini? Warga Malaysia memilih bertualang disini, karena di negaranya pasti sudah lama dibekuk secara Hukum. Cara semacam inilah yang saya rumuskan dalam format Teologi maut mereka: ”berani mati karena tak berani hidup”. Saya bisa memahami betapa pedihnya orang hidup diburitan peradapan: labil, reaktif, mudah tersinggung, nalar kurang berfungsi, dan nekat. Karena politik luar negeri Amerika yang imperialistic, khususnya di era Presiden Bush, budaya nekat ini semakin marak dan berkembang dan tidak mudah dibendung, sekalipun barangkali dihantam ledakan nuklir.

Apa yang harus dilakukan untuk tetap menjaga Pancasila?

Etika Pancasila sudah sudah saatnya di revitalisasi melalui pendidikan di sekolah-sekolah formal dan non formal. Kemampuan mengembangkan kebijakan oleh para pejabat penyelenggara Negara, kiranya dimulai dari tahap memahami berbagai fenomena sosial terhadap penerapan nilai-nilai Etika Pancasila yang isinya mencakup 4 Pilar pembangunan Nasional secara obyektif dalam pelaksanaan tanggung jawab etika profesi. Pemerintah pusat dan  pemerintah otonomi daerah (OTDA)  sudah saatnya mendukung pemberdayaan Masyarakat Hukum Adat (MAHUDAT). Dengan cara itu perekonomian desa sudah dapat direalisasikan sesuai dengan perekonomian dalam UUD 1945, yakni sistim ekonomi kerakyatan.

Apa saran bapak untuk tegaknya pancasila dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia?

Diperlukan adanya payung hukum bagi aparat penegak hukum, untuk mengawal Etika Pancasila secara preventif dan represif khususnya menghadapi gerakan Radikalisme, Anarkisme dan Terorisme (R.A.T) terhadap persatuan Indonesia. Tahun 2014 diperlukan suatu instrumen untuk memotivasi pelaksanaan berupa buku pelajaran Etika Pancasila  (Model P4 tahun 1975), agar dengan buku tersebut semua Warga Negara mampu secara wisememilih calon-calon pemimpin pemerintahan/birokrat di pusat maupun di daerah. Bagi saya diperlukan  adanya sistim evaluasi kinerja para penyelengara Negara yang dilakukan suatu badan resmi yang dipilih dan ditunjuk MPR-RI, Legislatif agar setiap masa periode pemerintahan 5 tahunan dapat dimunculkan Figur Insan Pancasilais.