Mika Panjaitan


Biodata:
Nama: Ir Mika Panjaitan
Tempat/tanggal lahir: Pematang Siantar, 2 Januari 1967
Nama Istri: Christine boru Siagian
Anak: 3 orang
Ayah: B Panjaitan (almarhum).
Ibu: E boru Siagian
Pendidikan: SD HKBP Pematangsiantar (1979). SMP Negeri 5 Pematangsiantar (1982). SMA Negeri 5 Medan (1985). Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (1990).
Pengalaman Kerja: BT/BVS Nukleus Medan (1986). BT.BVS Mitra Medan (1988). BT/BS Bioteknik Medan (1992). Bimbel Teknos Jakarta (1992-1994). Bimbel SSC Jakarta (1994-1999). Mitsubishi Motor Corporation (1995-1997). Lab Schooll Rawamangun (1995-2000). Pendiri Quantum Institut (QUIN)- (2000-sekarang).

Mika Panjaitan
SANG PIONER QUANTUM INSTITUTE
Jika kegagalan menghampiri Anda bukan berarti Anda harus menyerah, tetapi cari jalan lain, kemudian kerjakan lagi. Sekali lagi, jangan cepat menyerah. Jangan lupakan kegagalan, tetapi ambilah hikmahnya.

Kata-kata itu dikutif dari beranda maya lembaga bimbingan belajar bernama QUIN. Kata-kata yang mengairahkan para siswi di QUIN. Apa itu QUIN? Adalah Quantum Institute, didirikannya tahun 2000. Lembaga ini bergerak dalam bidang bimbingan belajar dan In House Training. Penggagasnya orang Batak, Ir Mika Panjaitan.

Sejak Mika mendirikan bimbel QUIN, lembaga ini muncul sebagai fenomena baru di dunia bimbingan belajar di Indonesia. Sebagai seorang pioner, pendiri dan penggagas, Mika melakukan terobosan melalui pembaharuan dalam proses belajar-mengajar di kelas. Menurut Mika, permasalahan belajar siswa adalah motivasi belajar yang kurang, serta minimnya informasi yang mereka terima mengenai teknik-teknik belajar yang baik dan efektif.

“Kami meninggalkan konsep lama yang konvensional, di mana siswa lebih giat dalam belajar, lebih cerdas, dan lebih percaya diri melalui metode belajar yang adaptif terhadap perubahan dan tuntutan zaman, kami sebut Quantum Method,” ujar Direktur Utama QUIN.

Sekarang ini QUIN berkembang pesat, sudah ada 23 cabang di Indonesia. Apa yang membuatnya maju pesat? “Sebagai bimbingan belajar, tugas kami adalah membantu siswa meningkatkan kecerdasan dan prestasi akademik, khususunya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Dan, sebagai pengelola In House Training, tugas kami adalah melakukan pelatihan kepada masyarakat luas, khusus mengenai cara-cara belajar yang sangat efektif,” ujar mantan guru di Lab School Rawamangun, ini.

Awalnya, Mika bersama-sama dengan beberapa rekannya “memburu” sumber-sumber pengetahuan mengenai pembelajaran terbaru dan menemukan sejumlah buku-buku, termasuk temuan-temuan terkini mengenai otak dan kecerdasan manusia- tentang cara-cara terbaik untuk belajar efektif dengan hasil yang menakjubkan.

“Intisari dari sejumlah sumber pengetahuan itulah yang dikombinasikan dalam kurikulum terpadu dengan teknik pengajaran,” ujar suami dari Christine boru Siagian, dan ayah dari tiga anak ini. Bagi dia menyadari sukses yang sebenarnya adalah keseimbangan. Kesimbang karier dan keluarga. Bagi Mika, keluarga adalah spirit dalam bekerja. Itu sebabnya sesibuk apapun dia, selalu menyempatkan keluarga.

Kesuksesan QUIN dalam menerapkan pembaharuan dalam belajar-mengajar merupakan suatu kebanggaan yang akan terus dijadikan sebagai pemacu semangat tim dalam beraktualisasi. Bagaimanapun, kepedulian QUIN terhadap pengembangan potensi anak-anak bangsa merupakan pengabdian tanpa batas?

“Sebagai bimbingan belajar, tugas kami adalah membantu siswa meningkatkan kecerdasan dan prestasi akademik, khususunya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Dan, sebagai pengelola In House Training, tugas kami adalah melakukan pelatihan kepada masyarakat luas, khusus mengenai cara-cara belajar yang sangat efektif,” tambahnya.

Lalu, bagaimana mengombinasikan nilai dari intisari sumber pengetahuan itu dalam kurikulum QUIN? “Kami melayani siswa dengan sepenuh hati, lalu progresif, proaktif dan selalu berpikir positif. Karena, pelayanan pengajaran sebagai tanggung jawab pengabdian.

Maka, kami melakukan hal yang benar dengan benar dilandasi kesadaran yang tinggi terhadap integritas dan kerjasama tim. Dan bagi kami, guru adalah profesi terhormat yang menuntut tanggung jawab yang hebat. Dengan demikian lewat proses belajar-mengajar, kami percaya potensi siswa luar biasa akan lahir,” ujar pria kelahiran Pematangsiantar, 2 Januari 1967.

Sebagaimana visinya, QUIN menciptakan kualitas dengan berpedoman pada Quantum Business, Total Quality Control, dan Total Quality Management yang meliputi: Kemampuan memberikan keandalan (realibility), Kemampuan melakukan perbaikan (serviceability), Menampung dan menindaklanjuti keluhan.

Profesionalisme dan keahlian melakukan pengukuran kualitas secara berkesinambungan. Program jasa yang dilaksanakan QUIN berpedoman pada Business Process pada setiap lini. QUIN menyadari bahwa kualitas dan pelayanan diperoleh berdasarkan kemampuan setiap lini meletakkan tujuan pribadi, komitmen, dan paradigma baru dalam bekerja yang selalu mengacu pada tujuan, misi, visi, komitmen, dan nilai-nilai yang dianut QUIN. Itulah keistimewaannya.

Lalu apa yang membuat bimbingan belajar ini berbeda dengan yang lain. Tentu guru berperan besar dalam proses belajar-mengajar? “ Guru harus profesional, motivator, pelayan, dan sangat ahli. Para guru rata-rata lulusan S1,S2 dan S3 lulusan perguruan tinggi negeri ternama dengan pengalaman minimal 5 tahun. Sangat menguasai bidangnya dan mampu menyederhanakan pelajaran sulit menjadi mudah. Mampu memotivasi dan memiliki budaya melayani sepenuh hati.”

Lalu bagaiman mengusuk semangat yang mengebu itu terus terjaga? “Kami punya visi, QUIN sebagai lembaga pendidikan non formal dengan reputasi terbaik di Indonesia dan menjangkau manca negara. Lalu, misi kami, membuka semua potensi bakat, ketrampilan dan kecerdasan siswa agar mereka dapat menjadi yang terbaik, pada bidang apa saja yang mereka inginkan. Komitmen kami, siswa dapat mewujudkan kesuksesan dalam pendidikan yang dicita-citakan. Karena itu harus ada pelayanan terbaik untuk memenuhi kebutuhan, harapan, dan kepuasan siswa dan orang tua. Kalau sudah demikian, penerapan metode belajar-mengajar yang efektif dan dikelola, otomatis akan mendapat pengakuan luas dari masyarakat dan pemerintah.”

Metode pelayanan apa yang dibuat agar QUIN dikenal publik? “Model pelayanan jasa yang diselengarakan QUIN adalah Pelayanan Sepenuh, berdaya tanggap, keteladanan, dan empati untuk melakukan tanggung jawab besar melebihi harapan siswa dan orangtua. Memenuhi segala permintaan, harapan, dan kebutuhan belajar siswa.”

Agar proses belajar bisa mengena QUIN menerapkan sikap belajar: SLANT dan menjangkau Keadaan Alfa yang terbukti efektif dalam pengajaran. Memperdengarkan musik klasik saat belajar, ini dipercaya untuk merangsang otak untuk terbuka dan reseptif pada informasi, menyeimbangkan otak kanan dan kiri serta membuka kunci emosional.

Proses belajar mengajar juga akan terlihat bimbel dirancang sedemikian rupa untuk merangcan imaji-imaji dari para siswa. Misalnya dengaan memajang gambar poster- poster tokoh dunia yang dirancang untuk membangkitkan semangat belajar. Dan ruang belajarnya juga merupakan ruang kelas full AC, bersih, dengan kapasitas terbatas mulai dari 10 siswa.

QUIN tidak saja konsisten dan personal untuk mengarahkan siswa agar memiliki tujuan yang jelas dan membangun kebiasaan yang positif dan efektif. Tetapi juga menuntun siswa untuk percaya pada diri sendiri dan yakin untuk sukses. Dan yang terpenting adalah QUIN yang didirikan Mika ini memdorong semua siswa punya pengetahuan yang luar dan punya moral yang tinggi.

QUIN sekarang sudah dikenal sebagai bimbel yang mengatarkan 90 persen muridnya tembus ke perguruan tinggi negeri ternama seperti UI, ITB, dan Gajah Mada. Tetapi perjalan menbangun lembaga ini bukan tanpa halangan. Di tahun awal berdirinya sempat terseok-seok, dan hampir tutup. Jatuh tetapi bangkit kembali. Mika memang tak mau kalah, pengalaman pahit itu dia jadikan cambuk.***Hotman J Lumban Gaol

‘Entrepreneur Sejati’ harus Tahan dan Sabar

Menjadi seorang entrepreneur  tidaklah susah. Tetapi yang susah itu menjadi entrepreneur sejati dan tangguh. Menjadi entrepreneursejati tidak-bisa-tidak harus dimiliki ketahanan dan kesabaran. “Hal yang harus dimiliki seorang entrepreneur sejati adalah hanya dua; sabar dan tahan. Sabar berarti sabar melakukan sesuatu dengan fokus. Lalu, tahan berarti kemampuan bertahan dalam sebuah perjuangan, itu saja,” ujar Mika Panjaitan, pendiri Quantum Institut (QUIN) memulai perbincangan dengan Narwastu Pembaruan.

Apa itu QUIN? Adalah lembaga bimbingan belajar disingkat bimbel. Kini, QUIN berkembang pesat. Sudah ada 23 cabang di seluruh penjuru nusantara. Awalnya, Mika bersama-sama dengan beberapa rekannya “memburu” sumber-sumber pengetahuan mengenai pembelajaran terbaru dan menemukan sejumlah buku-buku, termasuk temuan-temuan terkini mengenai otak dan kecerdasan manusia. Tentang cara-cara terbaik untuk belajar efektif dengan hasil yang menakjubkan.

Sebagai seorang pioner, Mika dan teman-temannya kemudian mewujudkannya menjadi sebuah program itu menjadi bimbingan belajar disebut QUIN. Mika tidak berlama-lama membuat eksen. “Begitu program ini dirancang, langsung tancap gas,” kata pengagum Jusuf, ayah Tuhan Yesus. “Saya sangat simpati dengan apa yang dikerjakan Yusuf. Apa yang dia dengar, disuruh lewat mimpi, seluruhnya dia kerjakan. Dengar lalu laksanakan, tanpa membantah. Bagi saya, jika melakukan terobosan perlu hati yang mendegar lalu laksanakan. Itu proses pembelajaran yang baik, dan itu juga yang saya terapkan dalam bekerja,” katanya.

Sebagaimana visinya, QUIN menciptakan kualitas dengan berpedoman pada Quantum Business, Total Quality Control, dan Total Quality Management yang meliputi: Kemampuan memberikan keandalan, Kemampuan melakukan perbaikan (serviceability), Menampung dan menindaklanjuti keluhan. Profesionalisme dan keahlian.

Model bisnis yang diterapkan adalah pelayanan jasa yang diselengarakan QUIN adalah pelayanan sepenuh; berdaya tanggap, keteladanan, dan empati untuk melakukan tanggung jawab besar melebihi harapan siswa dan orangtua. Memenuhi segala permintaan, harapan, dan kebutuhan belajar siswa. Maka, tak heran dari bisnis ini meraup banyak pulus.

Memadukan bisnis dengan pelayanan lewat proses belajar mengajar, hal itu terlihat di bimbel QUIN. Dirancang sedemikian rupa untuk merangcang imajinasi para siswa. Misalnya dengaan memajang gambar poster- poster tokoh dunia yang dirancang untuk membangkitkan semangat belajar.

Keistimewaan lembagai ini. Menyadari bahwa kualitas dan pelayanan diperoleh berdasarkan kemampuan setiap lini meletakkan tujuan pribadi, komitmen, dan paradigma baru dalam bekerja yang selalu mengacu pada tujuan, misi, visi, komitmen, dan nilai-nilai yang dianut QUIN.

Bimbel QUIN melayani siswa dengan sepenuh hati, lalu progresif, proaktif dan selalu berpikir positif. Karena, pelayanan pengajaran sebagai tanggung jawab pengabdian. “Kami melakukan hal yang benar dilandasi kesadaran yang tinggi terhadap integritas dan kerjasama tim. Dan bagi kami, guru adalah profesi terhormat yang menuntut tanggung jawab yang hebat. Dengan demikian lewat proses belajar-mengajar, kami percaya potensi siswa luar biasa akan lahir,” terang pria kelahiran Pematangsiantar, 2 Januari 1967.

“Sebagai bimbingan belajar, tugas kami adalah membantu siswa meningkatkan kecerdasan dan prestasi akademik, khususunya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Dan, sebagai pengelola in house training, tugas kami adalah melakukan pelatihan kepada masyarakat luas, khusus mengenai cara-cara belajar yang sangat efektif,” tambahnya.

Mikhayehu

Nama Mika atau Mikha sendiri diperpendek dari Mikhayehu yang artinya siapakah seperti Tuhan (Yahweh)? Dalam kitab Perjanjian Lama nama ini juga disebut-sebut sebagai nama seorang nabi. Bagi Mika nama itu dipilih sang kakek seorang guru zending bernama Guru Gerhard Panjaitan. Konon, ketika masih dalam kandungan, ibu Mika, meminta pada mertuanya nama untuk anaknya kelak. Konon ibunya berharap anak ini kelak menjadi pendeta.

Lulus Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (1990), tidak menjadi pendeta yang melayani jemaat memang tidak menang jalan hidupnya. Tetapi, menjadi pendeta di jalur bimbingan belajar QUIN. Apa yang sudah diniatkan ibunya, bila melihat usaha bimbingan belajar yang digeluti Mika, serasa menemukan kebenarannya. “Pendeta itu melayani, memberikan pendidikan untuk orang banyak. Pendeta tidak harus berkotbah di altar, tetapi lewat tugas dan panggilan kita bisa menjadi pendeta,” ujar tim pengarah di HKBP Jalan Asem, Kebayoran Lama ini.

Bagi dia menyadari sukses yang sebenarnya adalah keseimbangan. Kesimbang karier dan keluarga. “Keluarga nomor satu. Itu sebabnya, saya buat kantor pusat di rumah. Kantor adalah rumah-rumah adalah kantor, itu bagi saya. Karena dengan demikian saya bisa memantau anak-anak. Saya ingin dekat dengan anak-anak, saya ingin menjadi telanda bagi anak-anak saya. Saya pingin menjadi idola mereka,” ujar ayah tiga anak (Hana, Nicholas, Grimonia), dan suami dari Christine boru Siagian, ini.

Sementara dalam etos bekerja di QUIN, Mika banyak belajar dari etos Jepang. “Jepang salah satu negara dengan etos yang tinggi dalam berkerja. Kita boleh belajar banyak dari Jepang mereka tinggi semangat kerja. Saya banyak belajar dari orang-orang Jepang dalam bekerja. Kalau kita lihat, mereka meninggalkan konsep lama yang konvensional, di mana karyawan bergiat dalam bekerja,” ujar mantan karyawanMitsubishi Motor Corporation (1995-1997).

Dia mengimani, dengan memberikan secara tulus, menanam dengan baik akan memanen kemudian. Karena dengan demikianlah kita dapat membangun apa yang kita dapat. “Saya tahu untuk menjadi sukses itu sangat sulit. Perlu proses. Sangat amat sulit, tetapi bisa kalau kita memulai. Apalagi dilandasi dengan tujuan yang jelas. Saya kira, dengan kita mau keluar dari zona nyaman, maka kita bisa keluar melewati kesulitan. Dengan demikian kita bisa menjadi manusia luar biasa.”

“Kalau kita sudah putuskan menjadi pengusaha, dua hal yang harus dipegang, mau dan mampu. Kalau kita mampu tetapi tidak mau itu tidak bakal terwujud, dan juga sebaliknya. Kalau kita tidak mampu tetapi mau juga tidak juga terwujud. Selanjutnya, sebagai orang Kristen harus kita harus mempunyai harapan (cita-cita) kasih dan iman,” ujar penikmat musik klasik ini.

Menjadikan lembaga ini terus naik, bukan tanpa hambatan. Satu waktu, di Bogor QUIN ini diisukan pemiliknya orang Kristen. Apa pasal? Ternyata isu itu disebarkan oleh bimbel yang merasa gerah atas kehadiran QUIN di Bogor. “Sempat ditolak, karena isu itu. Tetapi bagi kita itu bukan hambatan, tetapi peluang untuk terus menata diri. Saya sebut tantangan untuk menguji iman saya sebagai pengikut Kristus,” jawabnya mantap.

Kini, QUIN bukan hanya maju secara bisnis. Tetapi lebih dari itu, sekarang dikenal sebagai bimbel yang sukses mengatarkan 90 persen muridnya tembus ke perguruan tinggi negeri ternama seperti UI, ITB, dan Gajah Mada. Padahal, dulu membangun lembaga ini bukan tanpa halangan. Di tahun awal berdirinya sempat terseok-seok, dan hampir tutup. Jatuh tetapi bangkit kembali.

Sebelum menjadi menirikan QUIN sudah banyak melanglang buana di berbagai pekerjaan kerja: di  BT/BVS Nukleus Medan (1986), di BT.BVS Mitra Medan (1988). BT/BS Bioteknik Medan (1992), Bimbel Teknos Jakarta (1992-1994), Bimbel SSC Jakarta (1994-1999). Mitsubishi Motor Corporation (1995-1997). Lab Schooll Rawamangun (1995-2000). Lalu, kemudian tahun 2000 mendirikan Quantum Institut hingga sekarang.

Itulah  Mika “Mikhayehu” memang tak mau kalah. Pengalaman pahit dia jadikan cambuk. Tahan banting dan sabar menanggu seluruh proses yang sedang berjalan. Menjadi seorang entrepreneur sejati harus mampu bertahan dan mampu bersama, itu kiatnya.***Hotman J. Lumban Gaol

One thought on “Mika Panjaitan

  1. Uli nai denggan nai molo QUANTUM INSTITUTE on dibukka cabangna di Bonapasogit, unang holan di kota sogon gabe dalan ni jolma na di huta boi marsaing dohot na di kota.. Mauliate di lae, pasahat hamu jo tona on

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s